TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Rasa Cemas Natasha


__ADS_3

Mobil yang sedang Alea dan Natasha tumpangi itu pun kembali melaju, di dalam mobil Natasha terlihat seperti memikirkan hal yang telah ia lalui tadi dengan sangat keras. Alea merasa aneh melihat wajah Natasha yang terlihat sangat ketakutan, "Kakak gak kenapa-kenapa kan?' Tanya Alea, "Kak Nat, melamunkan sesuatu hal di dalam mobil itu tidak baik." Ucap Natasha kembali.


"Tidak, hanya saja aku merasa khawatir Lea." Natasha beberapa kali melihat kearah belakang mobil.


"Baiklah tarik nafas pelan-pelan kak, kakak bisa ceritakan kepada ku siapa dia!" Ujar Alea, Natasha pun melakukan apa yang Alea perintahkan. Alea menepikan mobil tersebut, Ia memberikan sebotol air minum kepada Natasha. Natasha pun segera meneguk air tersebut dengan sarkasnya.


'"Baiklah sekarang kakak bisa menceritakannya, siapa dia? dan mengapa kak Natasha terlihat sangat ketakutan?" Tanya Alea, Alea sangat mengkhawatirkan Natasha, terlihat sekali saat Ia menanyakan hal yang membuat Natasha merasa takut.


"Dia ibu tiri ku yang pernah aku ceritakan, dan Aku sangat takut ia memiliki reancana buruk terhadap Papaku dan juga keluarga yang sekarang ini sangat Aku sayani."


"Lantas, mengapa dia ada disini kak?" Tanya Alea, wajahnya terlihat menatap heran.


"Aku tak mengerti Lea, Aku pun tak tahu. bahkan, Pertemuan tadi pun seperti tidak disengaja." gumam Natasha.


"Baiklah, Kakak tenang saja. kita langsung pulang aja iya." ucap Alea, Alea memegang tangan Natasha.


"Kamu kan sudah berjanji akan bertemu Kak Azri, bahkan kita belum sampai kesana Alea." Tutur Natasha.


"Sudah, kita pulang saja. Aku akan menghubungi Kak Azri dan mengatur ulang pertemuannya/" Alea segera memutar balikan mobil yang ia kendarai, sepanjang perjalanan Natasha bercerita sembari menahan tangisnya mengenai apa yang selalu ibu tirinya itu lakukan terhadap dia dan Papa nya. Alea merasa sangat kesal saat mendengar cerita itu.


"Dengarkan Aku Kak Nat, Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti kaka lagi dan Aku tidak akan membiarkan dia menemui Kakak!!!" tangan Alea mengepal kesal, Ia mencoba menenangkan Kakak ipar tersayangnya itu. Alea memang sangat menyayangi Natasha, Alea pun merasa kesal kepada Rayna karena selalu mencoba membuat Natasha menangis dan selalu menolak keberadaan Natasha.


 


.


.


.


Aliq dan Fizzy sedang berpamitan kepada Rido, mereka memutuskan pergi lebih awal. karena Aliiq harus menemui orang tuanya terlebih dahulu sebelum mereka kembali ke Turkey.


"Papa, Aliq dan Fizzy pamit dulu." Ucap Aliq, Aliq mendapat sebuah pelukan dari Rido.


"Nak, Ingat pesan Papa. jagalah anak perempuan Papa ini. bahagiakanlah dia, berikan contoh kepadanya agar menjadi istri dan Ibu yang baik kelak. Papa percaya kepadamu." Tutur Rido sembari memeluk menantu barunya itu, "Jangan buat dia menangis iya, Tolong jaga amanat Papa ini." Bisik Rido di telinga Aliq, "Iya Papa, tolong percayalah kepada Aliq Pah." Jawab Aliq.


 


"Papa, jaga kesehatan iya. Fizzy gak mau loh Papa sakit." Ucap Fizzy, "Inget obat Papa minum, terus makanan harus tetep diatur dan yang terpenting kalau kangen telpon Fizzy jangan sungkan-sungkan" Ucapnya kembali, Rido tersenyum dan memeluk anak nya itu.


"kita Pindah bukan beda Negara loh" Ucap Aliq disertai tawa kecilnya, Fizzy menoleh kearah suaminya. wajahnya terlihat memerah.


"Lagian Aku kan gak biaa tinggal diluar rumah berjauhan sama Papa." keluh Fizzy, Rido mengusap ujung kepalla anaknya, Ia tersenyum dengan sangat manis.


"Jaga kehormatan mu sebagai Istri, berprilakulah yang baik, jadilah panutan untuk siapapun. dan Papa pesan satu cucu ataupun cucu kembar kepada kalian segera." celotehan Rido membuat Fizzy malu, "Iya Papa, doain iya semoga secepatnya Fizzy Isi." Ujar Aliq, tatapan Aliq terlihat sangat nakal.


"Cepat isi apa coba, bikin aja enggak." batin Fizzy bergumam kesal mengingat saat-saat menyebalkan bersama Aliq.


"Amiiin deh!!" seru Fizzy


"Nah loh kok Pake deh." tukas Aliq, Fizzy terlihat menajamkan kedua matanya.


"Sudah-sudah, kalian hati-hati iya." Ucap Rido, Ia kembali memeluk keduanya.


"Oh iya, Faaz lagi dikurung sama Natasha dikamar Rayna nanti Papa bukain iya, Aku lupa." Ucap Fizzy, Rido pun mengiyakan dengan anggukan dikepalanya yang terlihat pelan. Fizzy pun segera masuk kedalam mobil dan mulai mengatur perjalanannya.


 


"Hemmm, Papa gak nyangka kamu bakal nikah sama orang yang benar-benar kamu cintai." Gumam Rido,


"Aku juga gak nyangka bisa besanan sama kamu do," Jimmy datang menggunakan kursi roda miliknya.


"Jim, tadi kamu belum sarapan. ayo Aku temani kamu sarapan." Ajak Rido, Rido memang memiliki sifat yang sangat ramah kepada siapapun,


"Kita minum teh saja sembari ngobrol di belakang." ucap Jimmy. Rido tersenyum tanda mengiyakan permintaan Jimmy.


"Baiklah," Rido mendorong kursi roda yang Jimmy duduki dengan sangat pelan, mereka pun berbincang ditaman sembari menunggu dua gelas teh yang mereka pesan kepada Ester.

__ADS_1


Jimmy menceritakan bagaiman kronologis meninggalnya Lira, Jimmy terlihat terpukul saat menceritakan permaalahannya terdahulu. sosok Lira sangat berarti di dalam kehidupan Jimmy, karena Lira sangat mencintai dan menyayangi Jimmy sebagai suaminya. bahkan Lira lah yang membimbing Jimmy untuk mendalami ajaran agama islam. Jimmy pun bercerita mengenai masa kecil Natasha.


"Jadi Natasha memang sudah sangat mandiri dari usia 10 tahun, dia juga harus menerima ku menikah lagi." Ucap Jimmy, "Aku merasa sangat berdosa kepada Natasha, kesabarannya sama seperti Lira dan May" Ucap Jimmy kembali.


"Apa kau tahu jika May lah yang selalu bertemu Natasha di mesjid dekat rumah sakit?" Tanya Rido.


"Tidak, Aku mengetahuinya saat ia memberika sebuah foto. itu pun saat ia lulus sekolah sma." Jimmy menghela nafasnya dengan berat, "Saat itu Natasha ingin sekali menjadi seperti May, wanita shalihah yang juga pintar dalam berbisnis." senyuman Jimmy begitu sangat melekat, wajahnya pun terlihat senang saat menceritakan Natasha kecil yang penuh dengan kesabaran.


"Jim, mungkin jalan ceritanya harus seperti ini." ujar Rido, "Kita harus berpisah dulu beberapa tahu lamanya, dan bertemu kembali karena tangan Tuhan," Ungkap Rido, Ia menyeka air mata kesedihannya itu.


"Iya, Aku sangat beruntung sekali karena bisa bertemu denganmu. kau memang malaikat untuk ku" Puji Jimmy, Rido memegang tangan Jimmy, "Tidak, jangan berkata seperti itu JIm, Tuhan lah yang membuat cerita ini dan kisah ini harus kita kenang selamanya." Jawab Rido.


"Kau yang menyelamatkan Anak ku, kau juga menyelamatkan hidup ku" Ujar Jimmy.


"Ini rencana Tuhan, dan kita memang sudah seharusnya selalu bersyukur setiap harinya." Ucap Rido, "Jim, Aku ingin berbicara mengenai pernikahan Anak kita." Jimmy pun mendengarkan Rido yang sedang berbicara, Jimmy terlihat mendengarkan dengan seksama.


"Aku merasa kasihan dengan Natasha, ku harap kita sama-sama memberikan support untuknya." Ucap Rido, "Jimm, Aku sangat menyayangi Natasha, AKu tidak ingin Faaz berpisah dengan Natasha. Namun, Di sisi lain Aku pun tak ingin mengorbankan Rayna."


"Aku Akui AKu egois, tapi Anak yang sedang didalam kandungan Natasha sangat membutuhkan Faaz." Rido terlihat meneteskan air matanya kembali, "Aku harap kau tidak merasa dikecewakan olehku." Ucap Rido, Ia bangkit dari duduknya dan memeluk tubuh Jimmy yang merupakan sahabat nya.


"Rido, Aku tidak memiliki perasaan kecewa terhadapmu,. Aku pun sudah tahu bagaimana awal mulanya dan Aku harus bisa menerima itu semua. kasih sayang yang kau berikan untuk anak ku sudah sangat cukup apalagi Aku di ijinkan tinggal berdekatan dengan nya." Ungkap Jimmy, "Aku seharusnya berterima kasih kepadamu" Ungkap nya kembali.


"Terimakasih Do sudah memberikan kehidupan untuk Anak ku." Ucap Jimmy kembali.


"Papa, " Panggil Natasha, Ia terlihat senang saat memanggil kedua orang yang sedan berpelukan tersebut.


"Sayang kemarilah," pinta RIdo sembari mengayunkan sebelah tangannya, "Alea kemana?" Tanya Rido.


"Alea tadi pergi lagi sama Qabil," Jawab Alea.


"Ya ampun, " Natasha menepuk pelan kepalanya, "Apa kamar Faaz sudah dibuka?" Tanya Natasha.


"Belum," Jawab Rido, "Biar Papa buka dulu," Ucap Rido.


"tidak perlu Pah, Papa dan Papa jimmy lanjutin aja obrolannya" Sembari tersenyum Natasha melangkahkan kakinya, saat berjalan Ia mengingat kembali pertemuannya bersama Ibu tirinya itu.


Di depan kamar Faaz dan Rayna, langkah Natasha terhenti. Ia memegang dadanya yang terasa berdegup dengan kencang, Ia pun terlihat mengusap peluh keringat di dahinya, dan mengelus perut yang sudah membuncit.


"Aku buka, tapi takut mereka lagi mesra-mesraan." Gumam Natasha kembali, "Tapi yang Aku lebih takutkan, Kak Ray akan teriak histeris melihat ku." perasaan Natasha terasa terombang-ambing.


"Bismillahirahmanirahim..."


"Ceklek," suara pintu dibuka, Natasha melhat Rayna menoleh kearahnya.


"Natasha," Rayna memanggil Natasha, "Faaz lagi di dalam kamar mandi," Natasha tersenyum, namun hal yang tidak biasa terlihat. Natasha melihat kasur yang berantakan bahkan jas Faaz terlihat berada diatas penyangga dipan kasur Rayna. dan Rayna terlihat tersenyum manis, keringatnya pun terlihat mengucur di dahi nya. Apalagi Rayna terlihat memakai baju bertalikan satu dan lekuk tubuh terlihat sexy walaupun ia sedang duduk selonjoran diatas sofa.


"Maaf mengganggu," Ucap Natasha, Ia kembali membalikan badan berencana untuk kembali meninggalkan kamar Rayna dan Faaz.


"Natasha, Sayang." Panggil Faaz, Natasha menoleh mendengar suaminya memanggil dirinya.


"Iya, " Jawab Natasha singkat, "Apa kalian membutuhkan sesuatu?" Tanya Natasha.


"Tidak\, Temani Aku meminum teh di balkon." Ajak Faaz kepada Natasha\, "Aku pamit sebentar\,"| Ucap Faaz kepada Rayna. Rayna tersenyum sangat manis dan itu membuat Natasha keheranan.


"Mari Kak, " Ucap Natasha sembari mengangguk sopan.


 


FLASHBACK SEBELUMNYA


 


Faaz dan Rayna sedang berbincang mengenai permasalahan mereka, dan mereka merasa permasalahan diantaranya telah selesai. bahkan Rayna sudah mengakui semua kesalahannya dan saat itu Rayna mengajukan sebuah permintaan kepada Faaz. sebuah permintaan mengenai hubungannya bersama Natasha.


"Apa aku boleh meminta sesuatu?" Tanya Rayna, Faaz menatap lekat wajah Rayna.


"Aku akan menerima dengan baik Natasha dan anak mu itu, tapi Aku mohon jangan tinggalkan Aku." Rayna memohon kepada Faaz.

__ADS_1


"Aku janji akan bersikap Akur dengan Natasha, Aku mohon Faaz"


"Apa kau bisa memegang janji mu itu?" Tanya Faaz.


"Iya, Aku mohon." ucap Rayna, Faaz mengusap dahi Rayna.


"baiklah, Aku akan mengijinkanmu tinggal bersama ku. namun, untuk melakukan hubungan layaknya suami istri Aku tidak bisa, " Ungkap Faaz.


"Baiklah, Aku mengerti Faaz." jawab Rayna lesu.


"Ayo, belajarlah jalan. otot kaki mu harus kau gerakan." Faaz menarik lengan Rayna, Ia membantunya berjalan. bahkan tangan Faaz menopang tubuh Rayna. Rayna pun memegang dengan sekuat tenaga.


beberapa menit kemudian, "Baiklah, sudah selsai. duduklah diatas sofa. Aku ingin ke kamar mandi sebentar." Faaz menggendong tubuh Rayna, Ia mendudukan tubuhnya diatas sofa besar. Rayna pun mengucapkan terimakasih.


"Faaz, terimakasih"


"Its Okay"


tak lama kemudian Natasha datang membukakan pintu kamar milik Faaz itu.


 


FLASHBACKoFF


 


"Suamiku, ada apa dengan kak Ray?, mengapa Ia terlihat ramah sekali." Tanya Natasha heran.


"Tidak ada apa-apa, dia sudah sadar jika kau sangat baik." Ucap Faaz, Faaz sengaja berbohong untuk menutupi pembicaraan nya bersama Rayna, Faaz tidak ingin jika kejelekan Rayna terdengar oleh Natasha, karena bagaimanapun Rayna pernah menjadi wanita yang sangat Ia cintai.


"Sayangh, mengapa kau pucat sekali?, Anak ku tidak merepotkanmu kan?" Tanya Faaz.


"Tidak, Dia sangat baik dan Aktif sekali. Aku senang jika mengelus perutku sendiri dan dia bergerak dengan sangat cepat." jawab Natasha, "Sini coba Papanya yang pegang." Natasha menarik tangan Faaz dan meletakan tangan suaminya itu di atas perutnya, Ia mengusap lembut perut Natasha yang terlihat sudah membuncit.


"Anak Pintar, Papa tidak sabar sekali melihat mu kedunia." Ucap Faaz, Ia menunggingkan tubuhnya dan mencium perut Natasha berkali-kali dan selesai itu Faaz menatap lekat wajah Natasha, Ia mencium kening Natasha.


"Baiklah, Aku mencintai mu!!!" Ungkap Faaz seraya berbisik ditelinga Natasha.


"Aku juga, Aku harap kau selalu bersikap Adil kepadaku dan Kak Rayna." Ucap Natasha,


"I..Iya sayang" jawab Faaz dengan gugup.


"Maaf Tuan, Nyonya.. dibawah ada tamu yang ingin bertemu dengan Nyonya Natasha." Bibi Ester memberitahu jika ada seorang tamu yang ingin bertemu Natasha, batin Natasha bergejolak dengan sangat kencang. wajahnya pun terlihat pucat.


"Tamu siapa Bi?" Tanya Faaz, Ia menoleh ke arah Ester dan kearah Natasha bergantian, Faaz menatap heran wajah Natasha.


"Seorang perempuan Tuan, katanya mau bertemu nyonya Natasha." Jawab Ester.


"Baiklah, suruh saja dia menunggu. kami akan segera menemuinya." Ucap Faaz, Ia kembali menata Istrinya yang terdiam tanpa berkata apapun, tangannya pun terasa dingin dan gemetar.


"Sayang, Apa kau baik-baik saja?" Tanya Faaz. Natasha hanya terdiam sepi.


"Kau terlihat cemas sayang," Natasha masih terdiam menatap kosong, "Sayang, Rasa cemas itu tidak baik untuk janin mu, Apalagi rasa cemas yang muncul secara berlebihan atau sering. Bisa jadi itu merupakan tanda gangguan kecemasan. Cemas atau anxiety adalah perasaan gugup atau gelisah. ... Kondisi ini disebut sebagai gangguan kecemasan dan itu tidak boleh terjadi padamu, kau sedang hamil." Lagi dan Lagi Natasha hanya terdiam, tatapan nya kosong.


"Natasha, Sayangku?"


"Aku Takut sayang" Jawab Natasha singkat sembari memeluk tubuh Faaz.


.


.


.


 


 

__ADS_1


__ADS_2