TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Alea tidak Gila, Maliq


__ADS_3

Keesokan harinya, Faaz terbangun dari tidurnya. Ia menatap wajah sang istri sembari berjalan mendekati ranjang milik Natasha, Faaz pun mengusap lembut pipi Natasha.


"Istriku sayang, Aku mencintai mu!" Gumam Faaz, "Terimakasih karena kamu mau berjuang melahirkan Damar!!, aku menyayangi mu sepenuh hati ku." Faaz menatap Natasha dengan penuh cinta, Ia benar-benar sangat jatuh cinta kepada Natasha.


"Kau akan selalu menjadi bagian di hidupku, terimakasih juga karena kau sudah mengubah kehidupan ku." Faaz mencium bibir Natasha dengan lembut hingga membuat Natasha menggeliat kegelian, Ia juga membuka matanya dan tersenyum saat melihat wajah Faaz yang berada tepat di hadapan nya.


"Selamat pagi suamiku." Ucap Natasha sembari tersenyum manis, Ia memberikan senyuman yang sangat indah.


Entah mengapa Faaz selalu bahagia jika melihat wajah Natasha, bagi Faaz istrinya itu adalah Sumber kebahagiaan nya.


"Selamat pagi juga bidadari ku." Sahut Faaz sembari tersenyum, Ia mengecup kening Natasha.


Natasha melihat senyuman Faaz, menatap wajahnya dengan penuh kelembutan. "Mimpi apa sih? pagi-pagi ko udah bahagia banget?." pertanyaan Natasha semakin membuat Faaz bahagia.


"Walaupun tidak bermimpi, aku akan merasa bahagia jika melihat wajah mu!, " Goda Faaz.


"Gombal, " Sahut Natasha, Faaz menarik tangan Natasha lalu mencium nya dengan penuh kelembutan.


"Aku bermimpi Mama datang dan memeluk ku, mama bilang kalau Damar pasti sehat dan kuat. Mama bilang kalau Damar terlahir dari wanita yang hebat seperti mu dan aku merasa jika kau memang mampu menjadi sosok ibu seperti Mama ku, karena mama itu adalah sosok ibu yang hebat dan kau banyak memiliki kesamaan dengan Mama" Ungkap Faaz, Natasha tersipu malu.


"Terimakasih sayang, sepagi ini kau memberikan semangat untuk ku yang sebesar ini dan aku merasa menjadi wanita yang paling sempurna" Ucap Natasha, Faaz memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat.


"Jika saja aku bisa sempat bertemu dengan Mama mu lagi, aku akan sangat merasa beruntung. Mama ku juga sempat bercerita jika Mama May sangatlah baik dan bijaksana, semoga aku bisa seperti mereka" Ucap Natasha.


"Pastilah sayang, " Faaz menyingkapkan rambut Natasha, "Jadi terus semangat untuk sembuh iya dan ingat, kamu harus yakin bahwa Damar adalah anak yang sangat hebat!! " Ujar Faaz kembali, Natasha mengangguk pelan.


"Selamat Pagi," Sapa Dokter sembari tersenyum sangat ramah, "Semoga malam Nyonya Natasha berlalu dengan mimpi yang sangat indah, kita periksa dulu iya." Ucap Dokter kembali, Faaz mempersilahkan sang Dokter untuk melakukan tugasnya.


"Silahkan Dokter," Ucap Faaz sembari memundurkan langkahnya.


Dokter sedang memeriksa keadaan Natasha, Ia juga memeriksa luka pasca operasi Natasha. Dokter berucap jika kesehatan Natasha cukup membaik, bahkan Natasha juga menunjukan kemajuan yang sangat pesat.


"Beruntunglah, Nyonya Natasha sangat memiliki kepulihan yang cepat sehingga membuat keadaan nya kembali dengan signifikan. mungkin esok sudah boleh pulang!" Tutur sang Dokter, Faaz tersenyum. Natasha juga terlihat sangat bahagia mendengarkan keterangan dari sang Dokter.


"Dokter apakah anak saya bisa juga ikut pulang?, " Tanya Natasha.


"Untuk itu nanti Nyonya atau Tuan bisa tanyakan sama Dokter spesialis anak, mudah-mudahan anaknya sudah kuat dan bisa diajak untuk pulang. namun seandainya belum bisa, nyonya harus bisa menerima." Jelas Dokter kembali, "karena kesehatan anak kita adalah yang paling utama, tetaplah yakin bahwa anak anda kuat seperti anda Nyonya" Jelasnya kembali membuat Natasha sedikit mengerti akan keadaan sang buah hati.


"Baiklah Tuan, Nyonya selamat pagi. tetap jaga kesehatan, besok saya kembali untuk memeriksa kesehatan anda"


"Terimakasih Dokter, " Ucap Natasha dan Faaz bersamaan, Dokter tersenyum dan segera berpamitan.


"Lihatlah kesehatan mu sangat baik bukan?," Tanya Faaz, Natasha tersenyum kecil mendengar apa yang Faaz tanyakan.


"Terimakasih sudah mau berjuang untuk sembuh!, Aku akan selalu mencintai mu!!." bisik Faaz seraya mengecup bibir mungil istrinya.


"Faaz jangan nakal, nanti ada suster atau dokter yang melihat dan Aku malu" Gumam natasha, Ia merasa geli karena Faaz mencoba menciumi tengkuk lehernya.


"Antar kan aku untuk melihat Damar!," Pinta Natasha dengan nada yang sangat manja, "Please!, ku mohon!!" Ia mengatupkan kedua tangan nya, mengedipkan mata nya dengan sangat nakal.


Faaz tersenyum serta menganggukkan kepalanya, "Baiklah, tunggu sebentar aku akan membawa kursi roda untuk membawa mu melihat Damar" Faaz pun keluar kamar dan segera membawa kursi roda setelah ia berhasil membawakan kursi roda, Faaz pun membawa Natasha untuk menemui Damar anaknya.


sesampainya di depan Ruangan Damar, Natasha seakan tak kuasa melihat Damar. tangan nya meronta, "Sayang, Apa Damar baik-baik saja?" Tanya Natasha.


"Lihat mataku, dia akan lebih baik jika kau menggendong nya. dan percayalah Damar anak yang kuat! " Ujar nya.


"Aku yakin dia anak yang kuat!, " Ucap Natasha, mereka pun masuk kedalam ruangan Damar.


"Selamat datang Tuan, Nyonya." Sapa perawat yang menjaga dan mengurus Damar.


"Terimakasih suster, "

__ADS_1


"Mari Tuan, nyonya pakai pakaian ini dulu. karena Damar harus mendapat perawatan yang steril" Ucapnya, Faaz dan Natasha segera memakai pakaian.


Kini di hadapan Natasha terlihat bayi mungil yang berukuran kecil yang sedang mendapatkan perawatan intensif, Natasha tak kuasa melihatnya hingga membuat nya meneteskan air mata nya.


"Damar!, " Ucap Natasha, Faaz menyeka air mata Natasha dan mencoba menguatkannya.


"Suster, apa boleh saya menggendong Damar? " Tanya Natasha.


"Baik Nyonya, namun Nyonya dapat menggendongnya hanya dengan waktu sebentar" Jawab suster, Natasha menyetujui apa yang perawat itu katakan.


Perawat pun menggendong Damar dan memberikannya kepada Natasha, "Anak ku, jiwa ku" Ucap Natasha, Ia pun membisik kan doa di telinga Damar.


"Apa aku boleh memberikan asi langsung kepada Damar?, karena selama ini mereka hanya meminta ku memompa nya saja" Tanya Natasha.


"Tidak bisa Nyonya, Damar ada permasalah di tenggorokan nya. ia belum mampu untuk menelan dengan baik maka dari itu kami melakukan perawatan intensif untuk nya" Jawab nya, Natasha mencoba mengerti dengan keadaan anaknya itu


Natasha dan Faaz mencoba mengerti akan Kelahiran Damar di usia 6 bulan saat ia di dalam kandungan dan memang sangatlah rentan, dan sebenarnya keajaiban Tuhan lah yang membuat Damar tetap hidup sampai kini.


"Anak ku sayang, kuat iya. mama, Papa, kakak mu juga semua nya sangat menantikan mu. mereka sangat bahagia atas kehadiran mu dan Mama percaya kau akan menjadi penerang di saat keadaan apapun, kau kuat dan Mama yakin Tuhan akan selalu memberikan kekuatan untuk kita" Gumam Natasha, Faaz mencium ujung kepala Natasha dan mengusap kembali air mata Natasha dan Perawat meminta Damar untuk kembali di masukan kedalam alat inkubator yang kini menjadi tempat nya di rawat.


"Sus, kesempatan Damar untuk pulang masih lama? "


"Mudah-mudahan secepatnya nyonya, saat kiloan badan Damar sudah membaik. kami akan menganalisis nya kembali, dan sejauh ini Damar sangat memberikan perkembangan yang sangat baik, bahkan Dokter yang merawat Damar sangat merasa aneh dengan keadaan Damar yang semakin membaik, karena sebenarnya usia kelahiran Damar sangat rentan dengan kematian. namun sejauh ini Damar menunjukan jika dirinya kuat" Mungkin saat ini kalimat ini membuat Natasha menjadi lebih semangat,


"Aku juga merasa Tuhan akan selalu memberikan kehidupan yang baik untuk anak ku Sus" Ujar Natasha.


"Kita berdoa terus saja Nyonya, dan yakin jika Tuhan akan selalu menjaga nya" Sambung perawat kembali, Faaz dan Natasha mengucapkan terimakasih dan segera berpamitan kepada suster.


"Dengarkan, Damar anak ku yang sangat kuat. sama seperti Aaleesya yang dapat sembuh karena kau yakin dengan Tuhan, dan kini kau juga harus yakin akan kesembuhan Damar sayang" ucap Faaz disambut senyuman Natasha, Natasha merasa sangat bahagia saat mendengar kabar kondisi anak nya yang semakin membaik.


***


Pagi itu Maliq terbangun dari tidurnya, ia bersandar tepat di atas bahu tempat tidur. sepertinya Maliq memikirkan mengenai cerita kelam yang Noni ceritakan kepadanya semalam, Maliq menggelengkan kepala nya.


"Tapi mengapa aku harus bermimpi seperti itu? sedangkan dulu aku merasa jika aku membenci dirimu!, " Ucap Maliq yang masih merasa tak percaya mengingat mimpinya yang begitu seperti nyata, Maliq beranjak dan membuka balkon kamarnya, Ia tak sengaja melihat Noni yang sedang mengajak Alea dan Rido untuk berolahraga.


"Apa yang Noni lakukan?, mengapa dia seperti Natasha?" Maliq mencoba mengingat mengenai apa yang pernah Natasha lakukan, Natasha selalu mengajak hingga membiasakan Rido untuk selalu berolahraga pagi.


Maliq mengingat semua doa-doa yang selalu ia panjatkan selepas bersembahyang, "Tuhan, Aku akan mengikhlaskan semua nya!, termasuk cinta ku kepada Natasha, Aku akan melupakan Natasha tapi aku mohon berikan jodoh yang seperti dirinya. wanita yang memiliki akhlak yang mulia serta menyayangi semua keluargaku" Maliq menghela nafas nya dengan ringan.


Maliq tersenyum kembali, "Tuhan mengabulkan doa-doa ku, mengapa aku sangat yakin dengan mimpi itu? seperti nya memang benar dia jodohku" Maliq terus menerus memperhatikan Noni dari kejauhan, Noni pun menyadari bahwa Maliq sedang memperhatikan nya dari atas balkon kamarnya.


"Maliq." Panggil Noni membuyarkan pikir Maliq, "Kemari lah, ikut olah raga bersama kami" Maliq tersenyum, Noni juga merasakan jika senyuman manis itu membuat perasaan nya sangat bahagia.


"Baiklah, Aku akan ke bawah. tunggu sebentar" Ucap Maliq seraya berteriak kecil, Noni tersenyum serta menganggukkan kepalanya.


"Dia tampan walaupun baru bangun tidur!, " Ujarnya di dalam hati.


"Noni, Aku capek!" Ucap Alea.


"Ya sudah, kita istirahat iya" Noni memberikan satu botol minuman, "Alea, kita hirup udara segar pagi ini lalu, buang perlahan! " Titah nya, Alea mengangguk seraya menyetujui apa yang di perintahkan Noni.


"Sebelum itu kau harus memejamkan mata mu, dan ini kakinya di tekuk. tahan sebentar di perut buat dirimu relaxs!!" Alea mengikuti apapun yang Noni perintahkan, Rido juga mengikuti apa yang di lakukan Alea. Maliq datang, Noni melihat kedatangan Maliq.


Ia tersenyum kepada Maliq dan Maliq menanggapi senyuman itu, Noni mengedipkan matanya. Maliq tersenyum sangat bahagia melihat Kakak dan Papa nya terlihat sangat relax.


"Alea." Panggil Noni pelan, "Kau hanya cukup mengiyakan saja apa yang aku tanyakan." Alea menganggukkan kepalanya dengan pelan, senyuman Alea sangat terlihat manis.


"Bayangkan kebahagiaan apa yang ada di dalam pikir mu sekarang?" Pinta Noni, "Apa kau sudah melihat nya?, " Alea menganggukkan kepala nya.


Rido membuka matanya, air matanya menetes saat melihat wajah polos Alea yang sedang memejamkan matanya.

__ADS_1


"Aku melihat senyuman Mama dan Papa, mereka bersama ku setiap saat lalu aku merasa bahagia jika melihat kemesraan diantara mereka!, " Jawab Alea.


Alea tersenyum, "Mama memanggil kami, mama menyiapkan makanan kesukaan kami! " Ujarnya lagi.


"Apa itu membuat mu bahagia?," Tanya Noni.


"Iya jelas, tapi Mama meninggalkan kami dan itu kesalahan ku!, " Ucap Alea dengan sadar.


"Apa kau melihat itu kesalahan mu? " Tanya Noni kembali, Alea menggelengkan kepala nya dengan pelan.


"Lalu mengapa kau menganggapnya seperti itu?" Tanya Noni sembari mengusap lembut punggung Alea, Alea terdiam.


"Alea, sekarang dan hingga nanti. kau harus melupakan permasalahan ini, meninggalnya seseorang adalah takdir dan ketentuan dari Tuhan!" Alea berderai air mata, "Mama mu sudah menjadi perempuan surga, ia sedang menunggu kalian untuk hidup kekal di sana bersama nya. kau hanya cukup berdoa saja, mendoakan nya dengan sepenuh hati." Ucap Noni kembali.


"Apa kau mendengar ku?, " Tanya Noni, Alea mengangguk pelan, "Jadi aku ingin bertanya mengapa dengan meninggalnya seseorang?, " Tanya Noni kembali.


Alea pun menjawab, "Karena takdir dan ketentuan Tuhan.", Ia meneteskan air mata, " Tapi Maliq berucap kalau aku lah penyebab itu semua!" Air matanya kembali menetes, Maliq merasa sangat bersalah.


Karena, menurutnya berasal dari lisan nya lah kejiwaan Alea semakin menjadi. tak hanya itu Maliq pun mengingat, jika dirinya selalu mencoba menyakiti Alea jika Alea sedang merasa tantrum.


"Adik macam apa aku ini!!, maafkan Aku kak Alea!" Ungkap Maliq di dalam hati, Noni menatap kearah Maliq yang sedang merunduk merasa bersalah. Noni pun melangkahkan kaki pelan, Ia menarik tangan Maliq. mencoba mengajak Maliq untuk duduk berhadapan dengan Alea, awalnya Maliq menolak namun Noni meyakinkan Maliq jika hari ini adalah hari terakhir Alea memikirkan hal itu.


Maliq pun mengiyakan permintaan Noni, ia duduk tepat di hadapan Alea.


"Noni.. " Alea memanggilnya, "Iya Alea, aku masih disini. hirup udara segar kembali Alea, lalu buang perlahan." Sahutnya, Alea mengangguk pelan. ia juga menghirup udara nya pelan, Lalu membuangnya perlahan.


Rido tersenyum, Ia merasa jika hal baik akan segera datang menghampiri anaknya. Rido berharap Alea sembuh, dan terakhir kalinya Rido berbincang dengan Dokter Hans. memang ia sudah mengalami depresi kronis, namun penyakit Skizofrenia yang Alea alami hanya baru gejala dan Dokter Hans berucap Alea dapat pulih kembali, hanya saja jika Alea merasa tertekan. Depresi itu akan kambuh.


"Alea jika dihadapan mu ada Maliq, apa yang ingin kau katakan padanya? " Tanya Noni.


"Aku.. " Alea terdiam, mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu.


"Aku menyayangi mu Maliq, tapi kau tak menyayangi ku. selama kita kecil, kau selalu membela Ayana dibandingkan Aku kakak mu! semua sangat menyayangi Ayana, tidak dengan ku! hanya Kak Faaz lah yang berlaku adil. tidak dengan mu!" Alea menangis seakan terisak, air mata nya menyeluruh jatuh membasahi pipi nya.


"Andai saja kau tahu, setiap kali kau memarahiku. aku merasa diriku tak berguna! Aku merasa sendiri, kau selalu mengajak Ayana bermain, Kau dan Kak Fizzy memperhatikan Ayana tapi tidak dengan ku!, semua seakan membenci ku! "


"Aku terisak sendiri dikamar, lalu Kak Faaz datang ia memeluk ku, mengusap air mata ku sama seperti yang Mama dan papa lakukan kepada ku setelah itu pertengkaran aku dan Ayana terulang, kau malah mendorong tubuh ku hingga aku terjatuh, lalu kau mengumpat keras dan berucap jika Aku bukan kakak yang baik untuk kau dan Ayana. tapi tahukah kau, bagaimana aku akan menjadi kakak yang baik saat aku menerima perlakuan tak baik dari adik ku sendiri, Ayana sepupu mu tapi aku adalah kakak mu. bisakah kau membuat ku menjadi bagian di hidup mu?"


"Kau selalu mengumpat aku gila sedari kecil, sadarkah dirimu bahwa itu menyerupai sumpah serapah untuk ku?, Apa aku segila itu Maliq?" Maliq terdiam menangis mendengar jeritan dari isi hati Alea, Maliq menundukkan kepala nya.


dengan mata yang masih terpejam," Aku tidak gila Maliq, Aku hanya merasa kesepian. Aku merasa kau dan Kak Fizzy sering sekali remehkan aku, aku tidak gila" Alea berucap seraya menggelengkan kepalanya dengan pelan, tangisan yang masih terisak itu terdengar seakan sakit dari dalam hatinya.


"Alea apa masih ada yang mengganjal hati mu?, " Tanya Noni, "Apa ada yang ingin kau sampaikan lagi selain kepada Maliq?," Tanya Noni kembali.


"Tidak, mereka pasti sudah tau mengenai isi hati ku." Jawab Alea.


"Maafkan Aku kak, " Alea mendengar apa yang Maliq katakan, "Hukum aku jika kau mau!, aku ingin menebus apapun yang telah aku katakan dan lakukan kepada mu!" Gumam Nya, Alea membuka matanya. ia melihat Maliq yang sedang menangis dihadapan nya, Maliq bersimpuh meminta maaf kepada nya.


"Aku sadar akan kesalahan ku!, aku minta maaf. seharusnya Aku sebagai adik lelaki mu melindungi mu ataupun Ayana, aku mohon maafkan Aku!" Ucap Maliq, Alea terkejut dengan permohonan maaf yang Maliq katakan kepada nya.


Alea terdiam, "Kakak, Aku janji kali ini. aku akan melindungi mu!!" Nafasnya terbuang dengan berat, hentakan tangis dari bibir nya terdengar sangat menyesali apa yang telah terjadi. "melindungi mu, dari apapun! beri aku waktu Kak!, Aku mohon! " Alea memeluk Maliq,


"Hukum Aku kak, Aku akan menerima apapun yang kau lakukan asal kan kau mau memaafkan ku! Aku mohon Kak" Gumam Maliq kembali.


"Kau adik ku, kau yang aku sayang. Kakak sudah memaafkan mu! " Mereka berpelukan dengan erat, Rido menangis merangkul Noni. "Maliq, Aku ingin selalu mendapat pelukan mu! " Ucap Noni kembali.


"Kak Alea, aku ingin tahu apapun yang kau rasakan. ceritakan lah semampu mu dan aku berjanji akan mendengarkan apapun yang kau keluhkan padaku!!" Ungkap Maliq, Alea menangis di dalam dekapan Maliq.


"Aku akan selalu menyayangi mu Maliq, terimakasih sudah mau menjadi adik ku, memeluk ku dan memberiku semangat untuk menjalani kehidupan kembali" Tutur Alea kembali.


mereka berdua saling melekatkan pelukan, Rido merasa sangat bahagia melihat hal positif yang Noni berikan.

__ADS_1


"Terimakasih Noni, Papa sangat bangga kepada mu. terimakasih sekali lagi" Rido memeluk Noni, Noni pun merasa sangat bahagia kala mendengar apa yang Rido ucapkan.


"Papa, Aku lah yang harus berterimakasih kepada mu karena aku mendapatkan keluarga baru seperti kalian. dan Aku bahagia" mereka tak tahu bahwa sepasang mata sedang memperhatikan mereka, mata yang berlinang air mata, mata yang menunjukan penyesalan. mata yang juga saat ini sedang menatap keadaan mereka dengan penuh haru...


__ADS_2