TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Kabar dari Fizzy dan ungkapan Maliq


__ADS_3

Fizzy masih terdiam tanpa suara dan tetap berdiri di hadapan Rido dan suaminya, wajah nya lesu sekali. Rido dan Aliq terlihat penasaran dengan hasil tes kehamilan yang di pegang ditangan nya itu.


"Sayang, mengapa kau berteriak? " Tanya Aliq sembari memegang pipi Fizzy, Fizzy juga terlihat menyembunyikan hasil dari tes kehamilan nya.


"A.. Aku.. " Jawab Fizzy, Nafasnya terlihat tersengal. Fizzy memeluk Rido dan Aliq secara bersamaan, "Aku... " Sambungnya kembali.


Wajahnya berubah 180 derajat, yang sedari tadi ia menatap kosong lalu tersenyum dan berteriak kegirangan. "Lihatlah Papa, Aku akan menjadi seorang ibu!! " Ucap Fizzy sembari memeluk dan mencium kening Ayah nya tanpa rasa malu.


"Ini semua karena Doa Papa!!, Terimakasih Papa sayang" Ucap Fizzy kembali.


Aliq merasa sangat senang, Ia pun memeluk Fizzy serta ayah mertuanya. "Benarkah aku akan menjadi seorang ayah? " Tanya nya kembali.


"Iya sayang, " Fizzy menunjukkan hasil dari tes kehamilan nya, dua garis terlihat sangat tebal dan itu menunjukkan kehamilan telah terjadi.


Fizzy melepaskan pelukan nya terhadap Rido, lalu ia memeluk suaminya kembali. Rido yang tak mampu berkata-kata hanya meneteskan air mata nya, seakan segala kenangan bersama May itu terulang. kenangan bersama istrinya saat mengetahui kehamilan pada istrinya, Rido segera menyeka air matanya.


Dalam benak Rido, "Sayang, kau akan mendapatkan cucu kembali. Aku mengingat kala kau mengetahui kehamilan ku saat itu, kita senang seperti mereka dan kini perasaan ku lebih dari itu. setidaknya walau kita sudah tidak bersama, aku masih merasa bangga. karena aku masih sempat melihat cucu-cucu ku dan dengarlah sayang, Aku harap kau bisa merasakan kebahagiaan ini"


"Papa, mengapa menangis? " Tanya Fizzy sembari menatap wajah Papa nya.


"Papa senang sekali sayang, ini air mata kebahagiaan" Ungkap nya sembari mengusap lembut wajah anak perempuan nya itu.


"Papa, " Fizzy kembali tenggelam dalam pelukan sang Ayah, ia pun merasakan jika bahagia Papa nya pun terselip rasa duka karena mengingat istri tercinta nya.


"Papa, Fizzy tahu. Papa pasti sedang mengingat memori bersama Mama" Ucap Fizzy, Rido tersenyum karena tahu Fizzy dapat membaca perasaan nya.


"Bolehkah Papa membayangkan memori itu? " Tanya Rido.


Fizzy menganggukkan kepalanya, "Boleh saja, tapi jangan sampai Papa terlarut dalam kesedihan" Ucap Fizzy kembali.


"Papa boleh bersedih sayang, karena sejati nya lelaki yang baik adalah lelaki yang selalu mengingat cinta serta apapun yang dilakukan bersama istri. walaupun maut sudah memisahkan, aku ingin kita seperti Papa dan Mama. saling mencintai, mengagumi dan memiliki hingga akhir hayat" Ucap Aliq sembari merangkul bahu istrinya, Aliq menimpali ucapan Fizzy, dan ucapan Aliq itu membuat Rido sangat beruntung memiliki seorang menantu lelaki seperti Aliq.


"Dengar sayang, Aku berjanji di hadapan Papa, Aku akan menjadi Ayah dan suami yang baik untuk kamu dan calon anak kita!. Aku akan menjaga kalian dalam keadaan apapun" Ucap Aliq sembari menunjukkan wajah seriusnya tak hanya itu, Ia juga menatap tulus wajah istrinya itu, "Berjanjilah dihadapan Papa jika kita tidak akan pernah berpisah, berjanjilah kau akan menjadi ibu dan istri yang baik untuk ku dan calon bayi ini" Ungkap Aliq sembari menatap wajah Fizzy, Fizzy merasa sangat terharu mendengar serta melihat tatapan Aliq kepada nya. Aliq begitu sangat tulus saat berbicara kepada istrinya dan itu membuat Rido semakin yakin jika Aliq adalah pemimpin yang baik untuk anaknya.


"Aku berjanji akan itu Aliq, jauh dari hari ini terjadi. aku sudah berjanji akan itu! " Jawab Fizzy kembali.


"Papa sangat bahagia melihat kalian, Doa Papa akan selalu hadir di tengah-tengah kalian dan Papa akan selalu bahagia jika kalian selalu seperti ini" Ungkap Rido di iringi tangis kecilnya, tangisan itu terlihat sebagai tanda tangisan bahagia nya. Aliq dan Fizzy memeluk Rido bersamaan, Rido merasa sangat hangat mendapat pelukan dari anak dan menantunya.


"Ada apa ini?, kalian terlihat sangat bahagia" Tanya Ayana yang saat itu tak sengaja melewati kamar Fizzy, dan Ayana merasa sangat penasaran karena melihat mereka semua berpelukan bersama.


"Kau akan memiliki keponakan baru! " Ucap Aliq seraya tersenyum.


Ayana melebarkan mulutnya, ia terkejut dan sangat bahagia. "Benarkah? " Tanya Ayana sembari melangkahkan kakinya dan mendekat, Fizzy mengangguk dan matanya berkaca-kaca.


"Kakak, selamat" Ayana memeluk Fizzy dan juga Aliq, "Aku sangat senang, sekali lagi semangat iya" Ucap Ayana.


"Terimakasih Ayana, doain Kakak mu ini sehat sampai nanti lahiran iya" Ucap Aliq.


"Iya Kak pastilah aku akan selalu mendoakan kakak! " jawab nya kembali, "Kakak harus selalu sehat dan jaga diri baik-baik" Ucapnya.


Ayana masih terbayang keadaan kehamilan Natasha yang saat itu terancam berbahaya karena satu rumah dengan Rayna, dan sekarang Fizzy juga Aliq diam satu rumah bersama Rayna.


Ayana menyeletuk kesal dan itu membuat Aliq berpikir akan keadaanya, "Jaga diri karena kakak kali ini satu rumah bersama Rayna, aku tidak ingin kakak menjadi korban seperti Kak Nat! " Celetuk nya sembari mendecih kesal.


Ayana menatap wajah Aliq yang terlihat langsung menundukkan kepalanya kala mendengar celetukan Ayana, "Oups, Maaf Kak Aliq" Ucapnya kembali sembari menutup mulutnya.


Rido merasa tidak enak mendengar apa yang diucapkan Ayana, namun Rido juga sangat mengkhawatirkan keadaan anak perempuannya yang kini sedang mengandung.


"Maafin Ayana ya Aliq" Ucap Rido sembari mengusap bahu Aliq.


Aliq menggelengkan kepalanya dengan pelan, "Ayana benar Papa, Aliq tidak merasa tersinggung. justru Aliq juga berpikir seperti itu, Aliq takut jika terjadi sesuatu kepada Fizzy dan calon bayi nya. jadi Aliq memutuskan untuk pindah sementara ke rumah Papa ini" Ucap Aliq.


"Ah" Nafasnya Ayana terdengar lega mendengar apa yang Aliq bicarakan.


"Syukurlah jika Aliq tidak merasa tersinggung! " Seru Rido seraya tersenyum manis, "Ya sudah, Kalian istirahat iya. Papa akan menemui Aaleesya dan Damar dahulu" Ucap nya.


"Iya Papa, " Jawab Fizzy dan Aliq.


"Ayo Ayana sayang, biarkan Kakak mu ini beristirahat" Ajak Rido, Ayana mengangguk dan kembali mencium kilas pipi kakak sepupunya itu. Fizzy merasa bahagia karena telah memberikan kebahagiaan kepada Papa dan suaminya.


"Aliq maafkan Ayana iya, "


"Sayang, aku kan sudah bilang tidak apa-apa karena semua itu memanglah kenyataan. apa yang di ucapkan Ayana adalah kebenaran, kita memang sudah seharusnya hati-hati kepada Rayna walaupun Rayna adalah kakak ku! " Ucap Aliq, "Ayo istirahat, nanti sore aku antar kamu untuk menemui Dokter" Ucap Aliq kembali, Fizzy mengangguk sembari tersenyum dan segera merebahkan dirinya di atas ranjang.


"Mama, Fizzy sedang mengandung Mah. Fizzy sangat senang, namun di satu sisi lain Fizzy merasa sangat sedih, karena Fizzy tidak bisa berbagi dengan Mama" Ungkap Fizzy di dalam hatinya.


***


Saat Ayana dan Rido sedang berjalan bersama untuk menghampiri Natasha dan cucu-cucunya itu, Rido dan Ayana berpapasan dengan Faaz dan Noni yang sedang menertawakan tingkah Rayna.


Sepertinya Faaz sangat senang dengan apa yang dilakukan Noni. menurut Faaz, Noni cukup berani saat menghadapi Rayna tadi.


"Ada apa? " Tanya Rido heran.

__ADS_1


"Mmmph, Papa" Faaz menghentikan langkahnya,


"Mengapa kalian tertawa seperti itu?, Apa yang sedang Kalian tertawa kan?" Tanya Ayana, sama seperti Rido wajah, Ayana pun seakan terlihat menyimpan seribu pertanyaan.


"Tadi kami bertemu dengan Rayna" Jawab Faaz.


"Lalu, mengapa kalian tertawa? " Tanya Ayana.


"Sepertinya Rayna akan berhenti mengganggu Natasha dan Damar! " Sahut Faaz.


"Memangnya Kak Rayna mencoba mengganggu bayi sekecil Damar? heran sekali, apa otak nya terganggu hingga bayi tak berdosa ia ganggu" Gumam Ayana.


"Iya mengapa begitu? " Tanya Rido.


Faaz pun menceritakan apa yang telah terjadi, hingga ia membawa Damar untuk melakukan perawatan di rumah. Faaz menceritakan Rayna yang mengikuti Natasha hingga ke dalam rumah sakit dan kedatangan Rayna yang di pergoki oleh Noni. hingga Rayna membuat gaduh dan meminta Noni untuk membawa Aaleesya ke luar rumah untuk dibawa oleh nya.


"Papa tidak mengerti mengapa dia seperti itu? " Tanya Rido, "Dulu Rayna baik sekali, untuk Papa sendiri" Sambungnya kembali.


"Entahlah, apa aku harus membuka semua kebusukan nya itu, dulu Faaz selalu menutupinya, itu karena aku tidak ingin menjelekan nya" Timpal Faaz saat itu.


"Kau harus berbesar hati memaafkan nya Nak! mau tidak mau dia pernah tertanam di dalam hati mu" Nasihat Rido untuk Faaz membuat Ayana terlihat tak menyukainya, Ayana memang selalu merasa gemas kepada Rayna.


"Memaafkan sih harus, tapi kakak harus ingat apa yang sudah dia lakukan kepada kita. khususnya kepada Kak Nat dan Damar! " Ayana menggerutu sebal, ia seakan tak ingin lagi membayangkan wajah mantan kakak iparnya itu.


Aidil sempat menghubungi Rido, Aidil meminta maaf kepada Rido dan Rido memaafkan Aidil dengan tangan yang terbuka. namun, Aidil meminta kepada Rido untuk tidak memberitahu Faaz.


Rido berucap dalam hatinya, "sebaiknya Aku tidak perlu berbicara terlebih dahulu mengenai pembicaraan ku bersama Aidil tadi pagi di telepon, Tuhan semoga engkau segera membereskan permasalahan ini"


Noni mencoba menghangatkan suasananya kembali, Noni pun berucap, "Kak Faaz, maaf jika tadi aku sedikit ikut campur. aku merasa sangat kesal dengan apa yang diperintahkan nya pada ku dan maaf tadi aku berbohong dan bilang jika aku adalah pengasuh Damar dan Aaleesya"


"Tidak apa-apa, aku malah malu mengapa kau berbicara seakan kau benar pengasuh Aaleesya" jawab Faaz, "Maafkan Rayna ya Noni, maaf jika Rayna sedikit kasar kepada mu" Timpalnya kembali.


"Sudahlah Kakak, kau tak usah meminta maaf kepadaku. lagipula aku tidak selalu menganggap apapun yang dikatakan orang kepadaku, aku juga sudah mengerti bagaimana sikap mantan istri kak Faaz itu" Ucap Noni kembali.


Faaz berpamitan dan pergi menemui Natasha, begitupun dengan Rido yang ikut menemui Natasha bersama Faaz. Rido merasa sangat merindukan Damar dan ingin menggendong cucunya itu.


Saat Noni akan masuk kedalam kamar Alea, Maliq memanggilnya, "Noni" Panggil Maliq sembari melangkahkan kakinya ke arah Noni berdiri, dengan nada yang sangat pelan, wajah Maliq terlihat riang saat memanggil nama Noni.


"Ada apa Maliq? " Tanya Noni.


"Bisakah kita berbicara sebentar?" Tanya Maliq kepada Noni, wajah Maliq penuh harap saat memandang wajah Noni.


Noni melirik kan matanya keatas seakan berpikir, "Mmmmhhh" Noni sengaja menunjukkan wajahnya yang terlihat berpikir akan permintaan Noni.


"Please! "


"Baiklah, dimana kita berbicara? " Tanya Noni.


"Di Taman saja, " Jawab Maliq sembari tersenyum.


Noni sedikit melihat keadaan Alea, ia memastikan jika Alea baik-baik saja sebelum ia pergi untuk berbincang di taman bersama Maliq.


Saat dirasa olehnya bahwa Alea baik-baik saja, Noni pun mendahului langkah Maliq. Maliq masih terdiam tanpa berbicara, sepertinya Maliq sedang merasakan gugup. Noni menoleh dan melirik kearah Maliq, "Apa kau akan tetap di sana Tuan kejam? hehe" Ucap Noni sembari tertawa kecil.


Maliq semakin gugup saat Noni sedikit menggodanya, Ia memanggil Maliq dengan panggilan terdahulunya.


"Maaf maksud ku Maliq"


Mereka berjalan bersamaan, menuruni anak tangga tanpa berkata sepatah kata pun. Noni ataupun Maliq terlihat mencuri pandangan masing-masing, dalam langkah kakinya itu terdengar dengan jelas suara jantung yang berdegup kencang.


Ahh.. Entahlah itu jantung siapa, yang jelas keduanya sedang merasakan rasa gugup satu sama lain.


Kini mereka sudah sampai tepat di Taman belakang milik Rido, taman indah yang selalu dirawat dengan benar oleh Rido. Taman yang indah yang kini tertutupi salju tebal, salju itu sedikit menambah keindahan dari taman itu.


Pepohonan rindang pun tertanam di sana, bahkan Rido selalu mempercantik taman yang menjadi peninggalan istrinya itu. bagi Rido taman itu adalah salah satu tempat untuk melepas rindu kala ia merasakan rindu kepada istrinya, Maliq duduk di atas kursi taman. Noni yang masih berdiri pun segera duduk menghadap Maliq, Noni tersenyum dan menatap wajah Maliq.


Tatapan yang Noni berikan terlihat sekali membuat Maliq sangat gugup, Maliq membalas senyuman Noni.


Satu menit,


Dua menit,


hingga 5 menit pun berlalu, mereka masih saja terdiam satu sama lain.


Dalam hati Maliq, "Apa yang harus aku bicarakan? " Tanya Maliq.


"Maliq? " Tanya Noni, "Apa yang akan kau bicarakan? " Tanya Noni.


"Begini Noni, Aku ingin meminta saran mu!. itupun jika kamu mau memberiku saran" Ucap Maliq.


"Kau seperti kepada siapa saja Maliq! " Ucap Noni, "Katakanlah!, kau tidak usah merasa sungkan" Ucap Noni kembali.


Maliq terlihat menggaruk-garuk kepalanya, "Aku pernah bilang kepada mu kan?, Aku sedang menyukai perempuan? " Tanya Maliq, Noni menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tetapi perempuan itu, baru saja aku kenal! " Ucap Maliq, "Aku merasa sungkan saat akan mengungkapkan perasaan ku padanya," Noni masih berusaha mengendalikan dirinya, hatinya berdegup sangat kencang.


"Gadis itu sangat baik, dia merubah semua pandanganku atas cinta. dia membuatku dapat melupakan sosok Natasha, dan aku melihat dirinya memiliki hati yang baik serta mulia"


"Dulu aku selalu berpikir jika tidak ada wanita sebaik Mama ku, lalu Natasha datang dan harapanku padanya sirna. namun kini, gadis ini mengubah pemikiran ku. "


"Dulu aku tak percaya dengan cinta saat pertemuan pertama, aku selalu menolak dan ingin mengenalnya lama lalu menjalin hubungan dengan nya tapi aku salah, cinta yang singkat itu ada. ternyata aku merasakan nya, aku merasakan indahnya perasaan ku" Cerocos Maliq membuat Noni tersenyum tipis, wajahnya mengeluarkan cahaya.


Noni merasa jika Maliq sedang berusaha membicarakan dirinya, Noni merasa jika Maliq sedang berusaha meluapkan perasaan nya.


Noni masih bersikap dengan tenang, "Apa kau sudah mencoba mengutarakan perasaan mu padanya? " Tanya Noni singkat.


"Belum, aku ingin mencoba nya. tapi aku belum tahu bagaimana perasaan nya kepada ku Noni" Ucap Maliq kembali.


"Rasanya kau harus mencoba nya Maliq! " Ucap Noni kembali, "Setidaknya kau akan tahu jawaban dari bibirnya! " Sambung Noni.


"Tuhan rasanya aku merasakan gugup, apa aku perempuan yang di maksud oleh Maliq." Ucap Noni di dalam hatinya, keringat dingin terlihat berbintik di dahinya. Noni mencoba menutupi rasa gugupnya


"Apa dia akan menerimaku Noni? " Tanya Maliq


"Kau pasti sudah merasakan getaran itu Maliq, rasakan lah bagaimana saat kau menatap wajahnya? jika dia tersipu malu, itu artinya dia memiliki perasaan yang sama terhadapmu! " Ucap Noni, ia berbicara tanpa melihat wajah Maliq.


"Aku merasakan nya Noni, Aku melihat dia seakan sama dengan ku. tapi aku tidak tahu apa ada lelaki lain yang sudah ada sebelum aku, atau memang gadis itu masih sendiri" Ungkap Maliq kembali.


"Maliq, " Noni memegang tangan Maliq, "Ada pepatah bilang, jangan takut sebelum berperang. seharusnya kau ungkapkan saja dulu perasaan mu, lalu saat dia memberikan jawaban kepadamu dan apapun jawaban itu, harus kau terima"


"Percayalah, jika memang Tuhan menjadikan dia yang terbaik untuk mu. Beliau akan mendekatkan dirimu dan dirinya, kau tak usah khawatir! " Sambung Noni kembali.


"Baiklah, Aku akan mencoba mengungkapkan nya! " Ucap Maliq sembari tersenyum, Noni pun terlihat membalas senyuman yang Maliq berikan untuk nya.


Maliq masih terdiam, tanpa bicara.


Ponsel Maliq berdering, "It's You.. "


Maliq melihat layar kaca ponselnya itu, Ia membaca nama dari orang yang menghubunginya itu. "Gwen" Ucap Nya.


"Dia kan sedang di atas bersama Kaka Natasha, lalu mengapa menghubungiku" gerutu Maliq terdengar oleh Noni, Suster Gwen yang menjadi perawat khusus Damar adalah teman dekat dari Maliq.


"Aku angkat sebentar iya" Ucap Maliq seraya meminta ijin kepada Noni.


Noni pun segera menganggukkan kepalanya, "aku sempat melihat kemarin Maliq banyak sekali berbincang dengan perawat itu, tapi Kaka Faaz tadi memperkenalkan ku sebagai calon istri Maliq! " Gumam Noni di dalam hatinya.


"Hahhh, " helaan nafas Noni terdengar sangat berat, Noni merasa cemburu saat melihat Maliq tertawa bebas dengan Gwen dan Noni merasa harapan nya sudah sangat pupus karena, Noni hanya tahu jika Gwen dan Maliq baru saja kenal di dalam rumah ini.


Terdengar celotehan Maliq bersama Gwen, "Baiklah, nanti aku ke atas menemani mu. Ingat jangan sampai ketiduran lagi, kasihanilah aku gwen aku sama sekali tidak bisa menggendong bayi" nada berbicara mereka sangatlah terlihat akrab, Noni terlihat mencoba menutupi rasa cemburunya itu.


"Baik, Baik. Natasha dan Kak Faaz sudah pergi? " Tanya Maliq, "Baiklah, ya sudah. Nanti ada hal yang harus aku bicarakan gwen, tunggu sebentar lagi aku ke sana iya" Ucap Maliq kembali.


Maliq menutup panggilan pada ponselnya, Maliq melihat Noni yang sudah berdiri dan akan berpamitan kepada Maliq.


"Aku takut Alea kenapa-kenapa, aku ijin ke kamar Alea iya" Ucap Noni, Maliq pun hanya menganggukkan kepalanya. perasaan Maliq begitu kacau karena baru saja Maliq ingin mengungkapkan perasaan nya kepada Noni, namun sepertinya Maliq merasa jika Noni tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Noni.


Noni menyeret langkahnya pelan, "Ternyata bukan akulah wanita yang dia maksud" Ucap Noni di dalam hatinya, Maliq memilih untuk mengungkapkan nya setelah ia bercerita kembali kepada Gwen.


Noni menoleh kembali, "Maliq, utarakan lah segera. siapa tahu wanita itu menerima mu, dan siapa tahu dia memang jodohmu! " Ucap Noni kembali, ia pun kembali melangkahkan kakinya dan meninggalkan Maliq seorang diri.


Maliq bergumam pelan, "Apa kau tak mengerti dengan gadis yang ku maksudkan Noni, andai saja kau tahu. Gadis itu adalah dirimu!, aku mulai menyukaimu Noni. Namun sepertinya, kau tidak memiliki perasaan yang sama terhadapku."


"Maliq, " Panggil Ayana.


"Iya kenapa? " Tanya Maliq kembali,


"Aku tadi menemui Gwen di atas, dia mencari mu!" Ucap Ayana memberitahu.


"Iya, dia ingin mendengarkan curhat ku dan juga mengajak ku berbincang mengenai Shawn itu"


"Maksudmu Shawn? bukan nya Gwen dan Shawn sudah lama berpisah? " Tanya Ayana, "Bahkan Shawn sudah bertunangan bukan? " Tanya Ayana penasaran.


"Entahlah dia tidak bisa melupakan Shawn, Oh iya kau mau kemana? " Tanya Maliq.


"Aku dan Mael harus mencari cincin, " Ucap Ayana, "Mami dan Papi nya sudah menunggu di sana" Ucap Ayana kembali.


Ayana kembali menatap wajah sepupunya itu, "Kau mau ikut? " Tanya Ayana, Maliq menggelengkan kepalanya.


"Tidak, " Jawab Maliq singkat.


"Ya sudah kalau tidak mau! " Sahut Ayana,


"Baiklah, tolong belikan aku satu cincin dengan ukuran lingkaran jari 6 atau 7 " celetuk Maliq diiringi senyum kecilnya, "Yang bagus, kau pasti tahu kan selera ku!! " Sambung Maliq, kalimat tadi membuat Ayana merasa terkejut.


"Untuk apa? " Tanya Ayana seraya memelototi Maliq, Ayana seakan tak percaya dengan apa yang Maliq bicarakan.


"Untuk melamar seorang Gadis!! " Celetuk Maliq kembali membuat Ayana semakin merasa aneh, apalagi akhir-akhir ini Maliq sering sekali bertingkah sangat aneh.

__ADS_1


"Gadis?, benarkah? " Tanya Ayana kembali Maliq tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah polos yang di berikan oleh adik sepupu nya itu.


__ADS_2