
Pemakaman Jimmy pun berlangsung sangat lancar, meski diselimuti tangisan dari semua Anggota keluarga, Natasha terlihat lebih tegar serta menerima.
Usai pemakaman, Jimmy Baharudin. Rido selaku perwakilan dari keluarga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, kepada semua pihak yang telah membantu prosesi pemakaman Jimmy. Jimmy sendiri tak memberikan tanda-tanda apapun, beberapa hari yang lalu Jimmy benar-benar dalam keadaan sehat.
Ia selalu meminta untuk memang ku Damar, ia juga selalu berusaha untuk berjalan. Ia selalu berusaha untuk sehat karena ingin melihat Damar dewasa, namun Tuhan berkata lain. ia harus menghembuskan nafas terakhir tanpa diketahui siapapun, Natasha sudah terlihat mengikhlaskan.
"Alhamdulillah prosesi pemakaman Papa berjalan dengan lancar, saya mewakili keluarga besar mengucapkan banyak terimakasih, kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran prosesi pemakaman Papa saya." Natasha berbicara sembari terisak, banyak sekali kerabat hingga rekan kerja Faaz dan Rido yang menghadiri pemakaman Jimmy.
Flashback masa kecil kembali terlintas di dalam benak Natasha, "Kalau Natasha sudah besar, Natasha mau jadi apa?" Tanya Jimmy kepada dirinya saat itu,
Natasha kecil itu menjawab, "Mau jadi anak yang berbakti sama Papa dan Mama" Jimmy merasa sangat beruntung mendengar jawaban polos namun penuh makna dari gadis berusi 7 tahun.
setelah itu pertanyaan itu kembali di tanyakan oleh Jimmy saat Natasha kehilangan sosok ibunya, "Naira nanti udah besar mau jadi apa?' Tanya Jimmy kembali sembari menyeka air mata Natasha.
Natasha pun menjawab, "Mau jadi anak yang selalu mendoakan Papa dan Mama," Jawaban Natasha semakin membuatnya merasa tersentuh.
Dan satu minggu yang lalu, sebelum kematian merenggut nyawanya. Jimmy kembali bertanya kepada Natasha, "Natasha sudah menjadi ibu yang baik dan juga anak yang baik untuk Papa, Papa rasa itu sudah sangat cukup bahkan lebih dari cukup." Jimmy berbicara dengan nada yang sangat pelan, "Lalu, sekarang Natasha mau jadi apa?' Jimmy sangat aneh, entah mengapa ia kembali bertanya mengenai hal itu.
Natasha memberikan jawaban yang membuatnya semakin terharu, "Natasha ingin berhijab dan hijab ini dipakaikan oleh Papa, Natasha ingin menjadi anak yang Cinta sama Papa dan Mama selalu, selamanya. menjadi istri yang baik dan menantu yang baik. dan Natasha ingin menjadi ibu yang baik, doakan Natasha ya Papa, semoga Natasha selalu bisa menjadi orang yang pandai bersyukur.
Ia menyeka air matanya, tersenyum dan menatap langit biru. langit itu seakan menyimpan sebuah senyuman dari LIra dan Jimmy untuk Natasha. Natasha kembali memberikan senyuman, "Semoga kalian bahagia di sana, Natasha merindukan kalian"
Natasha tersenyum lagi, lalu berjalan dan mendekati Rido, Ia memeluk tubuh Papa mertuanya. ia teringat kalimat yang diucapkan oleh Jimmy kepadanya, "Kau harus menyayangi Papa mertua mu, dia adalah malaikat di dunia yang di kirimkan untuk Papa oleh Tuhan. Papa sangat beruntung karena sempat mengenalnya dan biarkan Papa menebus seluruh dosa Papa melalui bakti mu untuk nya, tolong urus Papa mertua mu dengan baik! " Ujar Jimmy saat itu.
Natasha mengingat betul kalimat yang diucapkan oleh Jimmy kepadanya, Natasha memeluk erat tubuh Rido. di dalam dekapan Papa mertua nya, ia menangis mengeluarkan air mata yang sedari tadi ia tahan. Rido mengusap ujung kepala Natasha, "Sayang, ikhlaskan lah Papa mu. beliau sudah merasa tenang, doakan selalu langkahnya." Ucap Rido sembari menetes kan air mata, Rido memang sangat menyayangi Jimmy. apalagi setahun ke belakang, Rido baru saja ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat ia sayangi.
"Papa, Natasha minta maaf jika selama Papa hidup, Papa Jimmy pernah melukai hati dan perasaan Papa" Nada tangisannya terisak, Faaz begitu sangat iba saat melihat wajah Natasha.
"Sayang, Papa sudah memaafkan apapun. Papa pun manusia biasa yang pernah melakukan dosa, mungkin saja Papa juga pernah melakukan hal yang sama, menyakiti hati dan perasaan Papa mu" Sahut Rido.
"Terimakasih Papa, terimakasih karena sudah berpikir dengan bijak. Natasha sangat beruntung memiliki mertua seperti Papa," Rido kembali memeluknya, Rido mengajaknya berjalan sembari merangkul bahu Natasha. Natasha memang sangat dekat dengan Rido, kini apapun yang di butuhkan oleh Rido, Natasha lah yang selalu memperhatikannya.
"Natasha, " Panggil seseorang yang begitu membuat Natasha terkejut.
Seseorang itu menghampiri Natasha, raut wajah Natasha terlihat sangat terkejut saat melihat kedatangan Adeeva begitupun dengan Rido.
"Natasha, Maafkan Mama nak, bagaimana kabarmu?" Tanya Adeeva, wajahnya terlihat fokus menatap wajah Natasha dan Natasha terlihat seperti kebingungan lalu, ia menoleh menatap wajah Rido.
"Hai Rido, apa kabar? " Tanya Adeeva, Ia pun menoleh kembali kearah Natasha. "Mama diberitahu oleh Faaz" Ucap Adeeva.
"Alhamdulilah baik, kamu sendiri bagaimana kabar nya?" Tanya Rido balik.
"Alhamdulilah, saya juga baik. saya tidak menyangka jika Jimmy pergi secepat ini," Ucapnya .
"Kami pun begitu, " Jawab Rido singkat.
"Bisakah kita berbicara Nat? " Tanya Adeeva.
"Bicara saja disini!, " Sahut Rido sembari menatap lurus wajah Adeva, Adeva merasa kaget dengan apa yang di ucapkan oleh Rido.
"Ada hal yang harus saya sampaikan Rido, dan ini harus kami bicarakan hanya berdua"
"Maaf Nyonya, saya memberitahu anda karena saya merasa anda berhak mengetahui kematian mantan suami anda." Sela Faaz, "Jika ada yang harus anda bicarakan, bicarakan saja disini" Ucap Faaz kembali.
"Kami ini keluarga dari Natasha dan kami berhak mengetahui keadaan Natasha, kami harap anda mengerti Nyonya" Ucap Faaz dengan sopan.
"Begini Tuan Faaz, Saya hanya ingin memberikan ini" Ia memberikan satu kotak yang tertutup dengan rapat. lalu, Faaz mengambilnya dan juga membukanya. beberapa surat di dalam amplop itu di lihat olehnya, surat tanah, rumah dan beberapa aset yang sempat diberikan oleh Faaz kepadanya sudah beralih atas nama Natasha.
Adeeva sudah bertaubat, ia mengembalikan semua harta yang sempat ia peras kepada Faaz itu. ia merasa menyesal karena sudah menjadikan Jimmy alat untuk memeras Natasha, dan sekarang Adeeva berniat untuk mengembalikan semuanya. ia pun meminta maaf kepada Natasha, Rido merasa bahagia saat melihat pengakuan yang di berikan Adeeva
Adeeva menangis sembari menatap wajah Natasha, "Maafkan Mama Nat, maaf jika Mama selalu membuat kamu kesusahan selama hidup bersama mama" Ucapnya.
"Wajar jika kamu memiliki perasaan dendam kepada Mama, dan Mama akan menerima hal itu."
"Tidak Mama, Natasha tidak memiliki dendam apapun kepada Mama." Ucap Natasha, Ia memeluk Adeeva dan Adeeva membalas pelukan Natasha. Adeeva menangis terisak, ia terlihat sangat tulus meminta maaf kepada Natasha.
"Mama sudah sangat salah," Ucap nya kembali.
Sudah beberapa bulan ke belakang, ia memaksa Faaz untuk mempertemukan nya bersama Natasha. namun saat itu, Faaz tidak mengijinkan nya untuk menemui Natasha.
Semenjak Adeeva kehilangan sosok anak kandungnya yaitu adik tiri Natasha, ia seratus persen berubah. ia benar-benar menjadi sosok pribadi yang sangat hangat, selama beberapa bulan ini Adeeva berharap jika Natasha mencari dirinya. terkadang ia memaksa dirinya untuk menemui Natasha, namun Abrar menghalanginya karena perintah yang di berikan oleh Faaz.
Dan kini, Adeeva sudah merasa lebih tenang karena Natasha sudah memaafkan dirinya. Adeeva kembali memeluk Natasha, ia mengucapkan beribu-ribu terimakasih.
Adeeva menceritakan kisah kematian adik tiri Natasha, kematiannya sangatlah tragis. ia meninggal dalam keadaan mengandung, ia hamil tanpa mendapat tanggung jawab dari lelaki yang menghamilinya. lalu saat itu, Reysa terlihat sangat frustasi. dia berlari sangat kencang dengan tujuan mencari sosok lelaki yang menghamili dirinya, sebuah mobil melaju kencang dan setelah itu Reysa tertabrak dengan sangat keras. tubuhnya terpental jauh dan Reysa meninggal seketika.
__ADS_1
"Aku tak menyangka jika Reysa sudah pergi meninggalkan kita, " Ucap Natasha.
"Sebelum Reysa meninggal, dia sempat meminta Mama membelikan tiket dan ingin menemui mu. Reysa meminta mama untuk meminta maaf bersamanya, bagaimanapun kau sangat baik kepadanya" Ujar Adeeva, ia kembali menumpahkan sisa-sisa air matanya.
"Sungguh malang sekali nasib mu Rey, " Ucap Natasha sembari menangis terisak, bagaimanapun sikap Reysa kepadanya, Natasha selalu menyayangi adiknya itu. baginya Reysa adalah teman serta sahabat kecilnya, dulu Reysa sangat memperlakukan Natasha dengan baik.
Namun,
"Mama, " Faaz memanggil Adeeva dengan sebutan Mama, ia mengatupkan kedua tangannya. Adeeva menoleh, air mata nya kembali tumpah saat mendengar Faaz memanggilnya dengan sebutan Mama.
Faaz mengatupkan kedua tangannya, "Maaf jika Faaz sempat menghalangi Mama untuk meminta maaf kepada Natasha, Faaz hanya ingin... "
"Mama mengerti, kau hanya ingin melindungi istrimu. Mama sadar jika saat itu, Mama sangatlah jahat" Sela Adeeva di iringi senyuman.
"Aku tidak memahami apa yang ingin Mama sampaikan, " Ucap Faaz, "Aku benar-benar menyesal, maafkan aku" Ucap Faaz kembali.
Adeeva pun memeluk Faaz dan mengusap lembut punggungnya, "Terimakasih karena sudah memaafkan Mama, dan terimakasih karena sudah menganggap mama, mertua mu juga" semua anggota keluarga sudah terlebih dahulu pulang, karena hari sudah terlihat gelap, Rido pun berpamitan untuk segera pulang bersama Faaz dan Natasha.
"Mama, jangan sungkan jika ingin bertemu Damar" Ucap Natasha.
"Iya sayang, mungkin minggu depan Mama pulang ke Indonesia" Sahut Adeeva.
"Loh mengapa seperti itu Mah? "
"Mama gak punya kerjaan jika tinggal disini, lagipula di Indonesia mama kan sudah buka lagi kedai" Lanjutnya menjawab pertanyaan Natasha, Faaz mengembalikan seluruh isi di dalam kotak tersebut.
"Rumah serta uang deposito ini milik Mama semua, Faaz akan memberikannya mutlak kepada Mama. semoga bermanfaat, " Tutur Faaz, Adeeva menolak. ia tidak ingin menerimanya, menurutnya lebih baik tinggal di Kedai bersama beberapa karyawan nya. Namun, Faaz meyakinkan Adeva jika semua ini benar-benar Faaz berikan dengan tulus. Adeeva tetap menolak, "Mama pasti hubungi Faaz jika ada kesulitan, " Ucap Adeeva kembali.
Mereka berpamitan kepada Adeeva, Adeeva ingin berdoa terlebih dahulu di depan pusara Jimmy dan Natasha mengijinkannya.
Di hadapan pusara Jimmy, Adeeva menangis lirih. ia mengingat perbuatan nya terhadap suami, apalagi Adeva dan Jimmy belum resmi berpisah. walaupun talak dari Jimmy sudah dijatuhkan namun, saat itu Jimmy mengucapkannya dengan nada yang sangat marah.
Adeeva mengingat satu persatu apa yang di lakukan olehnya, Adeeva merasa sangat menyesal karena sudah melakukan hal itu. Bahkan, kejahatan Adeeva sudah sangat banyak kepada Jimmy dan Natasha.
"Jimmy, suamiku. maafkan Aku, maafkan semua kesalahan ku. maaf jika aku banyak bersalah kepadamu.
"Aku menyesal, aku benar-benar sangat menyesal Jim, " Ia menangis sesenggukkan, melepaskan semua beban dihatinya. Adeeva benar-benar sudah berubah namun, ia menyesal karena tidak sempat menemui Jimmy dan meminta maaf langsung kepadanya.
Ia memeluk pusara itu, menciumnya dan mengusapnya.Adeeva menyadari bahwa sosok jimmy adalah sosok yang selalu membuatnya bahagia, Jimmy adalah sosok suami yang sangat mencintai dan menghargai seorang istri. namun, semua sudah terlambat. Adeeva hanya mampu menyesali perbuatan terdahulu nya dan berharap jika Jimmy sudah memaafkan dirinya.
^^^^
Cambridge, Inggris.
Ayana sedang melakukan Packing pakaiannya, Ayana akan segera pulang ke Australia. dia sangat merindukan seluruh anggota keluarganya, sudah 3 bulan ia tidak pulang. bahkan Ayana tidak mengetahui permasalahan anak Alea, yang dia tahu hanyalah kematian anak perempuan Fizzy.
Perusahaan Zain sudah resmi di kelola oleh Yofie, kini Shaloom dan Yofie sudah pindah dan akan mengurus surat kepindahannya untuk menetap di Inggris. Yofie akan membagi hasil setiap bulannya kepada Ayana, walaupun Mael dan Ayana sempat menolak namun tetap saja tidak bisa, perusahaan tersebut peninggalan dari Letycia dan itu adalah hak mutlak Ayana sebagai pewaris tunggal nya.
Sudah beberapa hari ini, Ayana merasa mual bahkan nafsu makannya berkurang sekali dan Mael sudah mengira jika istrinya sedang berbadan dua.
Ia pun segera membelikan istrinya itu sebuah Tes Pack, Ayana pun segera mencoba alat tes kehamilan tersebut.
(Flashback 3 bulan sebelum mengetahui hamilnya Ayana)
Ia keluar dari dalam kamar mandi, ia mengerutkan dahinya. lalu, mengajak Mael bermanja-manja ria.
"Dokter Mael, " Ayana memanggilnya dengan nada yang sangat manja.
"Iya Dokter Ayana, Kenapa? " Tanya Mael.
Ayana duduk di atas pangkuan Mael, "Aku merindukan mereka, namun rasanya aku enggan memakai pesawat untuk pulang"
"Lah, terus mau pakai apa? " Tanya Mael.
"Entahlah, aku pun merasa bingung"
"Eh, gimana hasilnya? " Tanya Maek sembari menciumi pipi istrinya itu.
"Ini, " Ia menunjukkan hasil tes kehamilan yang negatif.
"Ya sudah gak apa-apa, mungkin belum waktunya saja" Ucap Mael.
Ayana mengangguk dan tersenyum, "Oh iya ini ada kotak di depan, entahlah siapa yang mengirim! " Ucap Ayana. Mael segera membukanya, ia membuka satu persatu plastik yang membungkus kotak tersebut.
__ADS_1
"Ini Tes siapa? " Tanya Mael karena merasa kebingungan.
"Hasil Tes aku lah!, " jawab Ayana.
"Loh, kamu hamil? " Tanya Mael dengan mata yang terlihat terkejut, "Ya Tuhan, Lalu ini tes kehamilan siapa yang negatif? " Tanya nya kembali.
"Aku juga, tapi itu tes saat dua minggu yang lalu. entahlah hasilnya negatif dan kemarin aku tes lagi kan yang di beliin sama kamu" Jawab Ayana.
"Ya Tuhan, aku akan menjadi seorang Ayah? " Tanya Mael kegirangan, ia terus menerus mencium Ayana.
"Please jangan diteken gini, sakit pipi ku" Keluh Ayana dengan nada yang sangat manja.
"Aku senang, Aku senang. Aku harus memberitahu Mami dan Papi, dan memberitahu juga semuanya" Ucap Mael.
"No jangan dulu, biar nanti kita memberitahunya di sana." Ucap Ayana.
"Baiklah sayang, " Mael tersenyum dan mengusap lembut perut Ayana.
"Anak Daddy yang baik, sehat terus iya Nak. semoga kamu menjadi Anak yang shalih dan Shalihah, Daddy menunggu mu" Ucap nya kembali.
(FLashback Off)
"Kamu yakin mau pulang hari ini? " Tanya Mael, "Gak mual kan? " Tanya Mael.
"Enggak, lagian aku udah rindu banget. terus pengen cepat-cepat kasih kabar, aku udah menutupi kehamilan aku selama 3 bulan loh." Gumamnya.
"Iya soalnya kamu kan pengennya ngasih tau langsung kan? " Tanya Mael kembali, Ayana mengangguk pelan sembari tersenyum.
Keesokan harinya, Ayana sudah sampai di Australia. ia segera memberitahu kabar kehamilannya tersebut kepada seluruh Anggota keluarganya, riuh kebahagiaan terpancar dari semua yang mendengarkan kabar tersebut.
Apalagi Rido yang terlihat sangat bahagia, "Semoga kehamilan Ayana lancar iya, ingat jangan cape-cape dulu" Ucap Rido sembari mencium kilas kening Ayana.
"Ayana selamat sayang, " Rani bergantian memeluk menantunya, "Mami bahagia sayang, mami harap Ayana selalu sehat. ingat Mami gak mau Ayana kecapean, " Rani menoleh dan menatap wajah anak semata wayang nya.
"Kenapa gak ngabarin Mami si El? " Tanya Rani kepada Mael, "Udah hamil 4 bulan loh," Ucap Rani, karena Rani pun belum sempat bertemu dengan mereka selama 3 bulan ini.
"Jadi waktu terakhir gendong Hardin sama Tessa itu, kamu lagi hamil? " Tanya Rani kembali, "Mael, Ingat ia apapun yang di inginkan oleh Ayana kamu harus mengabulkannya! " Mael tertawa kecil, Rani memang sangat menyayangi Ayana. Rani dan Richard sangat terlihat bahagia, begitupun dengan semua anggota keluarga. mereka semua bergantian memberikan ucapan selamat untuk Ayana dan kini giliran Maliq yang memberitahu kabar gembira untuk keluarga semua.
"Teng Teng, " Maliq mengetuk gelas menggunakan sendok, "Pengumuman, pengumuman! " Ucap Maliq, semua memperhatikan Maliq.
"Aku mau kasih kabar gembira juga, " Ucap Maliq.
"Apa? " Tanya Ayana.
"Apa Maliq? " Timpal Alea, Maliq tersenyum dan mencoba menarik tangan Noni.
"Aku dan Noni akan menikah, aku sudah memutuskan 3 bulan lagi akan melangsungkan pernikahan' Ucap Maliq, Noni terlihat tersipu malu.
"Benarkah? " Tanya Alea.
"Iya, Papa dan Om Hans sudah melakukan pembicaraan mengenai ini. begitupun dengan Kak Faaz, "
"Loh Kak Faaz kok gak cerita, " Keluh Alea,
"Iya Faaz jahat banget, " Timpal Fizzy.
"Ini semua kejutan untuk kalian semua, " Ucap Faaz.
"tapi kok harus nunggu 3 bulan? " Tanya Alea
"Karena aku harus nunggu Daddy ku pulang dari Negara Belanda dan Maliq juga harus mengurus dulu acara wisudanya kan." Jawab Noni.
"Terus, kita juga kan harus membuat gaun yang bagus untuk acara pernikahan Maliq" Timpal Rido,
"Iya sih, " Jawab Ayana.
"Ya sudah pokoknya doakan saja yang terbaik" Timpal Faaz.
"Ah aku sudah tidak sabar melihat hari bahagia itu" Ucap Ayana.
"Kami pun tidak sabar Ayana, " Celetuk Noni membuat seluruh keluarga tertawa, Noni dan Maliq memang sudah menjadi pasangan yang sangat serasi. apalagi Noni selalu memberikan support kepada Maliq dan Noni merasa bahagia ketika bersama Maliq.
.
.
Halo temen-temen, Maaf iya ceritanya aku kemas sesingkat mungkin namun berusaha jelas juga. soalnya S2 akan segera tamat dan aku mau rilis S3, Pantengin terus ia jangan lupa Like sama Komentar nya.
__ADS_1