
"Faaz... Aku bahagia sekali.. " Ucap Natasha sembari tersenyum, "Dan dimana Qabil?, Apa dia baik-baik saja?!, " Namun kini pertanyaan Natasha membuat Faaz kebingungan.
"Bagaimana Ini?, " Tanya Faaz di dalam hati, Natasha menatap peluh Wajah suami nya. Ia seolah berpikir ada sesuatu hal buruk yang sedang Faaz tutupi, "Apakah sesuatu terjadi kepada Qabil?, " Tanya Natasha.
Belum sempat menjawab, seorang perawat pun menghampiri Faaz. Ia memberitahu jika Natasha akan menjalani observasi selama 8 jam ke depan dan bagi Faaz, Ia merasa terselamatkan oleh sang perawat itu.
"Sebentar sus 2 menit saja! " Pinta Faaz di balas anggukkan Suster yang menjaga Natasha.
"Sayang, Aku dan Papa menunggu mu di luar. kau harus segera pulih. setelah kau dipindahkan ke rawat inap, Aku janji akan mengantar mu untuk menemui Damar!, " Ucap Faaz, Natasha mengangguk pelan sembari tersenyum dengan cantik.
"Aku tahu sesuatu hal yang buruk sedang terjadi kepada Qabil, Aku melihat nya Qabil tak sadarkan diri saat menyelamatkan ku!!, bahkan Ia terlihat bercucuran darah dan terlihat kejang-kejang." Gumam Natasha dalam hati, "Ya Tuhan, aku mohon berikanlah perlindungan untuk saudara ku!!, Dia lelaki baik dan mungkin pernikahan Alea dan dia terancam batal!!, " Helaan nafas Natasha terdengar sangat lesu, wajar saja Natasha merasa sedih karena kegagalan dan permasalahan ini. karena Natasha lah yang sibuk membantu segala kekurangan dalam persiapan pernikahan Qabil dan Alea.
Faaz pergi meninggalkan Ruangan Natasha, saat ia berada tepat di hadapan pintu untuk keluar. Faaz melirik kembali, membalikan badannya dan tersenyum menatap wajah istrinya.
"Sayang, Aku mencintaimu kemarin, kini dan sampai kapanpun!!, Aku lebih suka berbagi seumur hidupku bersama mu di bandingkan harus menghadapi usiaku sendirian tanpa mu!!, Selamanya mencintai mu Natasha, bagiku adalah kebenaran." Gumam Faaz di dalam hatinya, Faaz pun keluar dari Ruangan itu. Rido dan Jimmy menyambut Faaz di hadapan Ruangan itu, Faaz segera memeluk kedua Papa kesayangan nya.
"Papa, " Panggil nya tersenyum lirih, kini air mata yang menetes adalah air mata kebahagiaan.
Rido merasa lega kala melihat wajah Faaz yang terlihat berbahagia, "Allah swt selalu mendengar doa hamba nya yang tulus, percayalah selagi mampu untuk memanjatkan doa maka panjatkan lah dengan ketulusan." Tutur Rido sembari memeluk anak tertuanya.
"Papa, terimakasih. terimakasih karena selalu membimbing ku. terimakasih karena Papa selalu mengajari ku artinya ketulusan." Ucap nya.
Ponsel Faaz bergetar dengan kuat, Faaz merogoh ponsel nya yang tersimpan di dalam saku nya.
terlihat Fizzy yang sedang berusaha menghubungi Faaz melalui ponsel nya itu, ia pun menerima telepon tersebut.
"Ha.. Halo.." Sapa Fizzy di sebrang sana.
"Assalamualaikum, Apa ada sesuatu?, " Tanya Faaz karena mendengar suara Fizzy yang terlihat gusar.
"Waalaaikumsalam," Jawab nya sembari menghela nafas nya yang berat, "Alea Faaz, " Gumamnya seraya ingin memberitahu apa yang sudah terjadi.
"kenapa dengan Alea?, " Tanya Faaz, wajah Faaz terlihat sangat mengkhawatirkan adik nya itu, "Fizzy, Halo!!, " Ucapnya kembali, Faaz hanya mendengar suara isak tangis dari saudara kembarnya itu.
"Fizzy mengapa kau malah menangis?, " Tanya Faaz, Rido dan yang lainnya merasa heran dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Faaz untuk Fizzy.
"Ada apa sayang?, " Tanya Rido, Faaz menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahu nya.
"Bisakah kalian pulang terlebih dahulu, ada hal yang sangat ingin aku sampaikan." Pinta Fizzy, "Aku mohon Faaz!, " Ucap Fizzy kembali.
"Baiklah, Aku akan memberitahu Papa dulu. ada kabar baik mengenai Natasha, " Ucap Faaz
"Benarkah?, apa Natasha sudah tersadar?, " Tanya Fizzy yang terlihat sangat antusias mendengar Faaz mengucapkan kabar baik mengenai saudara iparnya.
"Iya dia sudah sadar, namun kami harus menunggu nya selama 8 jam ke depan karena harus melewati tahap observasi." Ucap Faaz.
"Haa syukurlah.. aku merasa sangat lega" Ucap Fizzy yang terdengar menghela nafas nya dengan sedikit ringan.
"Baiklah, Tunggu beberapa menit lagi aku akan segera pulang. aku harus menemui dokter terlebih dahulu, Mael dan Maliq juga kan harus pulang. kasihan mereka sudah menemani ku selama 2 hari ini" Ucap Faaz, Fizzy pun mengiyakan apa yang Faaz ucapkan. Faaz segera mengakhiri perbincangan itu, Faaz memikirkan apa yang akan Fizzy katakan mengenai Alea.
"Apa yang terjadi?, mengapa Fizzy seperti sedang tertekan." Gumam nya di dalam hati.
"Kenapa kak?, " Tanya Rido, "kenapa dengan Alea?, " Tanya Rido kembali
"Kakak belum tahu Pap, Fizzy meminta Kaka untuk segera pulang." jawab Faaz seraya menatap bingung karena pikirannya teradu, di satu sisi ia memikirkan Alea, di sisi lain ia memikirkan Natasha.
"Papa apa kita pulang saja terlebih dahulu?," Tanya Faaz, "Papa dan Papa jimmy bisa menemui Natasha esok pagi." Gumam Faaz.
"Iya Papa, lagipula setelah selesai observasi Natasha pasti akan selesai pada malam ini" Timpal Mael, "Lagi pula udara malam tidak baik untuk Papa." Timpal Maliq sembari memegang lengan Papa nya.
"Baiklah, kita pulang saja terlebih dahulu" Ajak Jimmy, "Besok kau janji akan mengantar Papa mertuamu ini menemui istri mu kan Nak?, " Tanya Jimmy penuh harap, Faaz tersenyum mendengar permintaan serta pertanyaan Papa mertua nya.
"Iya Papa, Aku janji!, " Ucap Faaz.
__ADS_1
"Ya sudah, Kaka temui dokter atau perawat setempat. agar mereka tahu jika kita pulang terlebih dahulu, " Ucap Rido, "Baiklah Papa, " Faaz pun segera pergi untuk menemui perawat, guna memberitahu dan menitipkan Istrinya itu. Faaz berharap semua membaik, walaupun pada kenyataan nya, Qabil membutuhkan 2 kali melakukan operasi kembali.
beberapa saat kemudian setelah Faaz selesai menemui perawat, Ia berjalan bersamaan dengan mereka untuk menuju mobil dan saat Faaz keluar dari pintu Lobby Rumah sakit, Noni memanggilnya dengan sangat keras, sembari melambaikan tangan Noni pun mendekat seraya berlari.
"Tuan Tampan... " Awalnya Faaz belum menyadari jika wanita yang memanggilnya adalah Noni.
"Tuan Tampan!!, " Panggil nya kembali seraya mendekat, ia tersenyum sembari terlihat nafasnya tersengal.
"Ya ampun, kau mau kemana?, " Tanya nya dengan lantang, Maliq menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Dasar tidak sopan!!, bisakah kau tidak berteriak saat memanggil kakak Ku!!, dia punya nama.. kau malah terus memanggilnya Tuan tampan" Gerutu Maliq dengan sedikit kasar dan itu membuat Rido sedikit menasihatinya.
"Maliq, mengapa kau berkata tidak baik kepada seorang perempuan. apa Papa mengajari mu seperti itu?, " Ucap Rido, "Tidak boleh Nak!, " Ucap nya kembali seraya menasihati Maliq.
"Maaf Tuan, jika Aku mengganggu kalian." Ujar Noni dengan wajah yang terlihat sedikit memelas, sembari mengatupkan kedua tangannya ia meminta maaf kepada Rido.
"Tidak apa-apa Nak, siapa nama mu?, " Tanya Rido.
"Nama Ku Noni Tuan, " jawab Noni sembari tersenyum.
"Baiklah Noni, ada apa memanggil ku?, Namaku Faaz, mungkin kau lebih baik memanggil ku dengan sebutan Kak Faaz!, " Tutur Faaz sembari tersenyum.
"sebelum nya Aku hanya ingin memberikan ini" sebuah amplop yang berisikan uang, "Sewaktu itu aku sudah menitipkan nya kepada dia" Ucapnya sembari melirik kan matanya kearah Maliq.
"Namun, Aku ambil kembali dan berpikir lebih baik memberikan langsung kepada Kak Faaz" Ucap Noni.
"Ya Tuhan, Ini adalah hak mu Noni. kau telah membantu kami dan kau berhak mendapatkan nya!, " Ucap Faaz,
"Tidak Tuan, ehm maaf Kaka maksudku" Sembari membekap bibirnya menggunakan satu tangan nya ia terlihat sangat sungkan, "Aku tidak menjual darah ku!, Aku ikhlas membantu Kak Faaz" Ujarnya kembali.
"Noni tapi aku akan merasa sedih jika kau tak menerimanya, Aku mohon terima Iya." Ucap Faaz.
"Terima saja Noni, kami akan merasa berhutang kepada mu dan kami harap kau mengerti." Timpal Mael.
"Dasar Aneh!!, " Ujar Noni pelan namun sudah pasti terdengar jelas oleh Faaz dan Rido.
"Siapa anak ini, anak gadis ini terlihat baik dan pintar namun, mengapa Maliq bersikap seperti itu!, " Ucap Rido di dalam hatinya.
"Baiklah Kak Faaz, Aku akan menerimanya tapi Kak Faaz janji iya, jika kakak membutuhkan darah ku lagi Kakak akan menghubungi ku" Ucap Noni.
Faaz mengangguk pelan sembari berucap, "Baiklah, Anak manis. kalau begitu anggap saja aku kakak mu. nanti aku kenalkan kau dengan istri ku" Ucap Faaz.
"Dengan senang hati Kak Faaz, istri mu pasti orang yang sangat baik. karena telah memilih orang yang baik juga seperti mu!, " Ucap Noni Maliq sudah memarkirkan mobilnya di hadapan mereka, Mael terlebih dahulu mengangkat tubuh Jimmy dan memasukannya kedalam mobil tersebut. setelah itu, Maliq keluar karena Maliq berbeda mobil dengan Faaz.
"kau mau kemana Nak?, " Tanya Rido kepada Noni.
"Aku mau pulang Om, " Ucap Noni,
"Bagaimana kalau kamu ikut kami ke rumah, Untuk sekedar makan malam. di sana ada anak perempuan kami yang juga saudara kembar Faaz, dan sepupu Faaz juga seorang perempuan." Ajakan Rido membuat Maliq mengerutkan dahinya, Nafas yang dikeluarkannya terdengar kasar seolah tak menyetujui ajakan Sang Papa kepada Noni.
"Tidak Tuan, aku tidak ingin merepotkan mu" Ucap Nya,
"Tidak Noni, justru kami senang." Seru Faaz seraya tersenyum manis.
"emmmmh" Noni terlihat berpikir mengenai ajakan Faaz dan Rido, "Baiklah, jika tidak merepotkan aky akan ikut dengan kalian." Ucap Noni sembari tersenyum.
"Ya sudah kau ikut dengan mobil Maliq iya, " Ucap Mael, senyum nya tersirat niat lain. Mael mengedipkan matanya kepada Faaz dan Faaz mengerti akan kode kedipan yang Mael berikan.
"Iya, Maliq kau ajak Noni ke rumah kita iya" Ucap Faaz.
"Apa?, Apa kakak baik-baik saja?, " Tanya Maliq kesal, "Kau saja yang membawa mobil, Aku ikut kakak." Ucap Maliq seraya menolak permintaan kakak nya.
"Maliq, jika aku satu mobil dan hanya berdua saat aku sampai ke rumah Ayana akan merasa kecewa dan bisa-bisa dia menggorok leher ku" Gumam Mael berbisik di telinga Maliq.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Kak Faaz, Aku bisa pakai Taxi." Ucap Noni, "Tidak baik jika seseorang menolak dan kita memaksa" Sindiran halus Noni membuat Maliq semakin mengerutkan dahinya.
"Tidak, tidak boleh naik Taxi nak. Maliq mau kok hanya mungkin Maliq malu-malu" Gumam Rido, Maliq melirik kearah Papa nya.
"Iya kan MaiQ?, " Tanya Faaz bersamaan dengan Rido. Faaz, dan Mael pun segera masuk ke dalam mobil, mereka segera berpamitan dan meninggalkan Noni bersama dengan Maliq.
"Noni, kau harus datang dan ikut Maliq jika tidak kau sudah mengecewakan aku sebagai kakak mu!, " Ancam Faaz membuat Noni mau tidak mau ikut satu mobil bersama Maliq, "Dan kau Maliq jangan lupa membawa nya ke rumah, Papa dan Aku sangat berterimakasih jika kau mau mengajak nya ke rumah" Titah Faaz membuat Maliq tersenyum sembari menyunggingkan setengah bibirnya.
"B.. baik kak Faaz" Jawab Noni, Mobil Faaz pun hilang dari pandangan mereka. Noni dan Maliq masih berdiam diri.
Alis nya terangkat sebelah, "Ayolah ikut dengan ku!, " Ajak Maliq dengan ketus.
"Aku tak ingin Ikut, apa seperti itu mengajak seorang perempuan!! " Ucap Noni penuh penekanan.
"Ya sudah, kalau tidak mau!, Tidak usah ikut. menyusahkan saja!!, " Gerutu Maliq membuat Noni semakin kesal kepada nya, Noni pun berusaha tak menggubris ataupun mengikuti langkah Maliq yang sudah meninggalkannya beberapa langkah ke depan dengan berdiam diri seperti patung.
"Dasar Wanita Aneh!," Umpat Maliq, "Kau tidak ingin ikut, kau tak mendengar amanah kakak ku barusan! " Bentak Maliq.
"Setidaknya aku memiliki alasan mengapa Aku tak ikut dengan mu, Aku akan memberitahu Kakak mu dan juga Om tadi jika dirimu mengajak ku dengan kasar dan membentak ku di depan Umum" Ancam Noni, membuat mata Maliq melebar.
"What, pinter sekali gadis itu!!!, " Ucap Maliq di dalam hati.
"Sudahlah, kau membuang-buang waktu ku! " Tandas Noni yang sembari melengos meninggalkan Maliq, Maliq pun segera berlari dan menarik lengannya.
"Ya Sudah, Ya sudah!!, Aku minta maaf!, " Ucap Maliq sembari menunjukkan wajah ketusnya kembali.
Noni melengos kembali saat mendengar Maliq meminta maaf kepadanya, "Heh Cewe aneh!! Aku kan sudah meminta maaf!!, lalu mengapa kau malah meninggalkan ku!!, " Tanya Maliq dengan kesal.
Noni tersenyum, "Itulah rasanya aku saat kau meninggalkan ku sewaktu aku meminta maaf di depan umum kepada mu, dan kalau malah berulah ketus kepadaku!, " Gerutu Noni, "Yasudah, Aku ikut" Ucap Noni
"Tunggu disini Aku akan membawa mobil terlebih dahulu, " Ucap Maliq, Noni menganggukkan kepalanya.
Sembari pergi meninggalkan Noni, Maliq menggerutu sebal karena harus satu mobil dengan wanita yang di anggap aneh olehnya.
"Kalau saja Kakak dan Papa tak memintaku, Aku mana sudi mengajaknya di dalam mobil ku. aku nobatkan Noni si perempuan Aneh itu!!! " ~ Gerutu kecil Maliq terdengar oleh Noni, karena sedari tadi Noni mengikuti langkah Maliq yang akan membawa mobilnya ke area parkiran.
"Kau juga lelaki kejam bagiku" Ucap Noni membuat Maliq terkejut, "Hmmm" Sembari mendelik kan matanya, Noni pun menatap Maliq
"Kau!!," Maliq menatap tajam, "Aku kan sudah bilang, kau tunggu di sana!," Ucap Maliq kembali.
"Tidak Mau!," Seru Noni, "Aku kan sudah disini, mengapa kau membuat ribet setiap masalah Tuan Muda kejam!, " umpat Noni membuat Maliq semakin di buat kesal olehnya.
"Yasudah, Terserah!!, " Pekik Maliq membuat Noni tertawa Riang,..
"Nah gitu dong, Tugas lelaki itu adalah mengalah kepada perempuan." Gumam nya, Maliq menggelengkan kepalanya pelan seolah tak percaya bahwa wanita yang dianggapnya sebagai wanita aneh itu memiliki jiwa yang tangguh.
"Masuklah" Ajak Maliq, Noni masih berdiam diri di hadapan pintu mobil tersebut, "Kau malah berdiam diri!!, kenapa?, " Tanya Maliq kembali.
"Emangnya begitu iya cara menyuruh masuk wanita?, ternyata ketampanan pria tidak menjadi tolak ukur dalam memperlakukan wanita!!, " Maliq merasa terpekik mendengar ocehan Noni, Maliq pun keluar dari dalam mobil miliknya itu. lalu Ia membukakan pintu agar Noni mau masuk kedalam mobil berkapasitas hanya untuk 2 oranf tersebut.
"Dasar Wanita hanya menyusahkan saja!, " Gerutu Maliq membuat Noni tertawa kecil.
"Aku kan hanya ingin membuat mu kesusahan Tuan Muda Tampan!!, " Ucap Noni di dalam hati.
.
.
.
.
.
__ADS_1