TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Cerita mengenai kejadian


__ADS_3

Sore Itu, saat Rani dan Richard pergi untuk menemui Faaz di rumah Sakit, Rayna sepertinya menunggu kepergiaan Rani. Rayna menemui Rido yang baru saja menunaikan ibadah nya di kamar, Rido terkejut mengenai kedatangan Rayna karena tak biasanya Rayna mau menemui Rido.


"Papa, " Panggil Rayna.


"Rayna, bagaimana keadaan mu?, " Tanya Rido sembari melipatkan sajadah yang ia pakai, Rido mendekati Rayna yang tengah duduk di atas kursi roda tepat di depan pintu kamar Rido.


"Aku baik-baik saja Papa, hanya aku.. " Ucapan nya tersela seperti ada ucapan yang membuatnya risau.


"Kita bicara di teras iya" Rido mendorong kursi yang Rayna duduki, walaupun sebenarnya ia tahu jika Rayna berbohong mengenai keadaan nya.


"Bicaralah!, apa yang sedang kau pikirkan?, Mengapa dengan wajahmu, kau terlihat seperti sedang tertekan." Tanya Rido.


"Aku merasa bingung Papa, Aku takut jika Faaz mengira aku bersalah" Ungkap Rayna, Rido tersenyum mencoba menanggapi kerisauan Rayna.


"Papa tidak ingin menyalahkan mu, karena sebelum kejadian itu kau dan Alea memang sedang berusaha berdebat!," Ujar Rido, "Rayna, jujurlah siapa lelaki yang sedang menjadi petugas dekor itu? apakah itu Aidil yang menyamar?, " Tanya Rido.


"Mengapa lelaki itu dengan sengaja menjatuhkan balok besar yang sebenarnya kami tidak tau mengenai fungsinya, dan Rayna di dalam rekaman CCTV itu kau dan dia sempat berbincang sebentar? " Tanya Rido., "Bahkan, di dalam rekaman itu, mata mu terlihat menyoroti lelaki itu! " Ucap Rido.


"A.. a... Aku tidak mengenal nya Papa, Aku berani bersumpah! " Ucap Rayna seraya terbata-bata, "dia menanyakan sebuah tangga kepada ku, hanya itu" Ucap nya kembali, sorot mata Rayna terlihat seperti sedang menutupi sesuatu.


"Mengapa menyudutkan ku Pah?," Keluh Rayna sembari meneteskan air matanya, "Aku merasa selalu saja kalian curigai!! " Keluh Rayna kembali.


"Tidak sayang, Papa tidak menyudutkan mu. Papa juga tidak mau mencurigai mu. kau sendiri lihat kan bagaimana kondisi di dalam rekaman pengintai di rumah ini!, bahkan lelaki itu seperti mengetahui seluk beluk rumah ini" Ucap Rido.


"Aku mohon Papa, jangan berikan rekaman itu!, Aku mohon Papa bilang kepada Kepala polisi agar tak melanjutkan kasus ini!, " Pinta nya seraya memohon kepada Rido,


"Papa tidak bisa, karena Papa bukanlah seorang pelapor. dan kepolisian sudah mulai mengerahkan pasukannya untuk mencari tahu lelaki yang menutupi wajahnya dengan masker itu siapa! " Gumam Rido, Rayna terlihat sangat frustasi. wajahnya pun terlihat terkulai lemas, Rido juga tak menyangka jika permasalah dirumahnya semakin rumit dan melebar bahkan hingga memunculkan korban.


"Rayna!," Ucap Rido memanggil namanya, ia berusaha menyadarkan Rayna.


Rayna tersadar dari lamunan nya, "Jika kau tak bersalah, kau tak usah takut!, " Ucap Rido sembari meninggalkan Rayna. Rayna mengangguk pelan, wajahnya tetap pucat.


"Aku tahu siapa kau!, Aku bertekad akan melindungi anak-anak ku dari orang-orang yang membuatnya lemah!. " Gumam Rido di dalam hatinya, Rayna menatap kembali langit-langit sore yang terlihat memuntahkan kegundahan nya.


.


.


.


.Setelah beberapa Jam berlalu, dokter pun datang menghampiri Faaz. Ia menjelaskan mengenai kondisi Natasha, Operasi yang menempuh waktu yang sangat lama ini berhasil menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungan Natasha.


"Bagaimana Dokter?," Tanya Faaz.


"Kondisi Nyonya Natasha sangat memprihatinkan, kami harus memberikan 4 buah kantong darah lagi untuk nya. karena Nyonya Natasha kehabisan banyak darah, dan untuk bayinya sudah berhasil kami selamatkan" Tutur sang Dokter, Alea menangis mendengar apa yang Dokter bicarakan.


"Kakak, Alea mohon suruh dokternya menyelamatkan Kak Natasha." Ucap Alea seraya menangis, "Alea mohon Kak!,"


"Sayang tenanglah, sedari pagi tadi kamu menangis. Kakak antar kamu pulang iya! " Bujuk Faaz untuk Alea, Alea menggelengkan kepalanya pelan, Ia menolak ajakan Faaz untuk membawanya pulang.


"Kak Lea, Ayana sudah bawakan sup jagung kesukaan kak. Kakak makan iya?! " Pinta Ayana, Ia beberapa kali membujuk Alea.


"Iya Lea, kau harus makan!, " Timpal Mael, Alea pun tetap menggelengkan kepalanya. Alea menolak karena ia merasa tidak tenang, jangankan untuk makan, minum air putih pun Alea tidak mau.


"Sayang, Dengarkanlah. Kami semua tidak ingin kau sakit, apalagi Papa yang sedang menunggu kita semua di rumah. Tabah dan sabarlah untuk Papa, jika kau sakit itu akan menambah beban Papa" Gumam Faaz seraya menasihatinya, Alea pun menatap lurus pandangannya. jiwanya seakan sedang melayang bebas, Alea memang orang yang paling terpukul dan mau tidak mau pernikahan yang sudah ia idamkan akan batal, mengingat calon mempelai pria sedang berjuang di dalam sana.


"Kakak, mengapa malah aku yang berada di luar sini?, mengapa bukan nya Aku yang berada di dalam?, Aku lah yang pantas mati, aku lah yang pantas berada di sana!," Gerutu nya dengan kesal, "Kau tahu Aku pembawa sial, bahkan disaat hari-hari yang akan mendekati pernikahan ku!, " Gumam Alea, pandangan nya kosong. Ia berbicara tanpa menatap mata Faaz.


Faaz merasa iba dengan sikap adiknya itu, Faaz merasa jika batin dan jiwa Alea terguncang dan Faaz merasa jika Alea kembali seperti dahulu.


"sayang, sayang.. hentikan..hentikan Kakak mohon!! " Pinta Faaz kepada Alea, Faaz mendekap nya dengan erat. tak terasa air mata Ayana mengalir melihat kondisi kakak sepupunya itu, Ayana menatap wajah Faaz. Faaz mengedipkan kedua matanya seraya memberi kode agar Ayana lebih kuat daripada Alea, Ayana pun mengiyakan.


"Alea sayang, pulang lah bersama Mael dan Ayana. biarkan Uncle dan Kakak mu yang menjaga Natasha dan Qabil, kau percaya kan pada kami?" Tanya Zain, Alea mengangguk pelan kepalanya.


Rani sudah terlebih dahulu pulang, karena sebenarnya Rani harus menemani Rido untuk berbincang bersama kepala polisi, dan terpaksa Rani harus meninggalkan Alea yang sedang terlihat kacau.


Alea seperti itu karena ia mengetahui kondisi Qabil, walaupun mereka semua tidak memberitahu nya tapi jauh di dalam perasaannya Alea, Ia tahu jika Qabil sedang dalam keadaan yang tidak baik, Ia mengerti jika Qabil sedang bertaruh nyawa di dalam sana.


Zain berkali-kali membujuk Alea untuk ikut pulang bersama nya. setelah beberapa saat, Zain berhasil membujuk Alea. Zain menghubungi Rido dan Rido meminta Alea untuk menemani nya di rumah, Alea menuruti keinginan Rido.

__ADS_1


"Kak Faaz, Ponselku tidak akan pernah mati!, Aku mohon beritahu aku mengenai kabar keduanya. jangan pernah menutupi apapun dari ku, karena Aku akan tahu apapun yang sedang terjadi" Pinta Alea kepada Kakaknya itu, "Baiklah, berdzikir lah mintalah pada Allah supaya beliau menyelamatkan mereka" Faaz memeluk tubuh Alea dan mengecup keningnya.


Mael memilih menemani Faaz di rumah sakit, begitupun dengan Maliq. Dokter pun memberitahu jika Qabil harus segera melakukan Operasi karena pendarahan di otaknya semakin melebar, Faaz pun segera menandatangani surat persetujuan tindakan operasi.


Maliq dan Mael menunggu di depan ruangan operasi tersebut, Faaz pun ikut duduk di tengah-tengah mereka.


"Operasi nya berapa jam kak?, " Tanya Maliq.


"Entahlah, pasti membutuhkan waktu yang cukup lama." Jawabnya, "Kasihan Qabil, jika saja dia tak menyelamatkan Natasha. mungkin Natasha akan lebih parah, Qabil memang orang yang baik." Ucapnya


"Aku memikirkan Alea, Faaz! " Ucap Mael, "Pernikahannya pasti akan di undur hingga Qabil pulih!, pernikahan ini sangatlah di idamkan oleh Nya" Gumam Mael.


"Mael, jelaskan mengenai kejadian itu!, " Pinta Maliq yang terlihat sangat penasaran, "Apakah inu murni kecelakaan?, " Mael terdiam menundukkan kepalanya, Faaz yang mencurigai sikap Mael mulai bertanya inti pada kejadian tersebut.


"Mael?, apa kau menutupi sesuatu? " Tanya Faaz kepada Mael, Mael mengangkat bahunya secara bersamaan. bahkan Faaz sempat bertanya kepada Zain namun, Zain terlihat sekali tak ingin membahasnya.


"Mengapa kalian tidak mau menceritakannya?, " Tanya Faaz,


"Faaz kita bicarakan nanti di rumah, setelah kau merasa tenang!," Jawab Mael.


"Aku harus tahu yang sangat jelas!, " Ucap Faaz penuh penekanan, Mael memeluk Faaz dan mencoba menenangkan nya.


"Baiklah.. Aku akan menceritakan nya! " Ucap Mael


FlashBack di Mulai...


Pagi setelah Faaz dan yang lainnya melakukan sarapan, Mael datang karena ingin menghampiri Ayana. Mael, Rani dan Richard memang memilih bertempat tinggal sementara di Apartemen miliknya yang Ia beli dari tangan Faaz.


Mael sudah menaruh curiga kepada Rayna, karena ia sempat bertemu dengan nya di teras rumah. bahkan ada seorang kurir yang mengantarkan pesanan yang sempat Rayna pesan di toko Online.


tak berselang lama Rayna dan Alea beradu mulut, Alea bilang jika Rayna sedang merencanakan sesuatu untuk membuat Alea dan Qabil batal menikah, Lalu Alea bilang jika Ia memergoki Rayna sedang berbincang kembali melalui pesan suara bersama seseorang.


Namun,...


saat itu Rayna mencoba menyanggah semua dugaan Alea, dan saat datanglah W.o yang mengurusi pernikahan Alea untuk mendekor tempat-tempat yang akan digunakan.


Tim dari W.o tersebut mulai mendekor semua tempat yang ditunjukkan oleh Qabil dan Alea, dan di saat bersamaan Natasha sedang berbincang bersama Rido juga Ayana di teras yang menghubungkannya dengan Taman besar itu.


Alea memanggil Natasha karena ingin meminta sarannya mengenai pelaminan yang akan di pakai oleh Alea, namun saat itu Natasha menunjukkan sesuatu. Ia menunjukkan tempat untuk di jadikan nya pelaminan, di sana sudah tersimpan hiasan-hiasan besar berupa tiang-tiang penyanggah.


Saat itu Mael memperhatikan seseorang yang ia curigai karena sedari tadi terlihat sangat mencurigai, Mael tak mengerti siapa yang lalaki itu incar.


lelaki itu menjatuhkan kayu besar penyangga hiasan pelaminan tepat di dekat kepala Natasha dan Alea namun saat itu Alea yang kehausan berlari, bermaksud ingin meminum air yang disajikan di atas meja, baru beberapa langkah Alea mendengar jika Rayna berteriak dan mendorong keras tubuh Natasha lalu saat itu tiang penyanggah itu akan menimpa Rayna dan Qabil mencoba menyelamatkan Rayna..


seorang lelaki yang sempat di curigai oleh Mael itu, sebelumnya berpindah tempat tanpa disuruh oleh Panitia W.o itu. Ia mendekati Alea dan Natasha.


Qabil tertimpa tumpuan Kayu besar yang bisa mereka pakai untuk hiasan dekor pelaminan, Darah segar keluar dari kepala belakang Qabil bahkan, telinganya pun mengeluarkan banyak sekali darah.


dan Natasha masih dalam keadaan sadar, Natasha pun merasa sangat terkejut dengan kejadian tersebut. Ia memegang perutnya dan berteriak kesakitan, saat itu Aku dan Uncle zain segera membawa Natasha ke rumah sakit. karena yang kami pikirkan adalah nyawa yang berada di dalam kandungan nya.


kami tak sempat menolong Qabil, bahkan Qabil lah yang ternyata sangat parah kondisinya. Aku menyayangkan hal itu dapat terjadi, bahkan saat kami melihat Rekaman CCTV terlihat dengan jelas mata Rayna dan mata lelaki itu saling bersahutan.


Pihak kepolisian sedang mencari tahu siapa lelaki itu, karena saat kami tanyakan kepada mereka. mereka tak mengenal siapa lelaki itu, mereka pun menyangka jika lelaki itu adalah karyawan nya.


Flashback berakhir.


"Rayna!!!! " Sorot mata kejam terlihat dari balik mata Faaz, Ia sudah meyakini dari awal bahwa kondisi ini adalah campur tangan Rayna.


"Bagaimana hasil pemeriksaan di tempat?, " Tanya Maliq.


"Aku belum mengetahui hasilnya, Uncle zain dan Papa esok akan menemui kepala polisi di sana" Jawab Mael.


Faaz terdiam dalam lamunan nya, "Kau harus menanggung semua akibatnya Ray, Aku membuat mu bertahan hidup bukan untuk membuat mu menjadi seorang penjahat!!?, Kau memang wanita Gila, Kau memang wanita serakah!! Sudah seharusnya Aku menceraikan mu!!" Di dalam benaknya Faaz bergumam kesal, Ia pun mendengus kesal seolah tak ada ampun lagi untuk Rayna.


"Kak Faaz, Kau baik-baik saja kan?, " Tanya Maliq.


"Aku baik baik saja Maliq." Jawab nya sembari tetap memalingkan pandangan nya, Faaz benar-benar sudah merasa hilang kesabaran.


"Aku akan membalas semua yang pernah Kak Rayna lakukan kepadamu!," Batin Maliq.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian Dokter telah selesai menjalani operasi untuk kesembuhan Qabil, Faaz begitu segera beranjak dan menghampiri Dokter yang menangani Qabil.


"Bagaimana operasi nya dok?, " Tanya Faaz, Maliq dan Mael pun mengikuti langkah Faaz.


Wajah sang Dokter terlihat sangat layu, "Operasi tadi ada beberapa sedikit kendala, namun kami masih mampu mengatasinya. Tuan Qabil sangat membutuhkan banyak darah, Namun saat ini persediaan darah yang cocok untuk nya tinggal Satu kantong lagi. " Jelas Dokter, "Dan satu kantong tersebut sudah kami pakai, Kami takut jika darah tersebut habis. dan kami belum menemukan nya" Jelas dokter kembali, Maliq berucap, "Ambil saja darah ku Dok! "


"Kami harus mengecek terlebih dahulu, karena sepertinya golongan darah Tuan Qabil terbilang sangat langka" Jawab Dokter.


"Memangnya apa golongan darahnya Dok? " Tanya Mael, "Iya dok, siapa tau cocok dengan ku! " Timpal Maliq.


"Golden blood atau sering disebut RH-Null" Jawab dokter,


"Apa itu?, " Tanya Faaz penasaran


"Golden blood terdengar kayak hal baru dalam dunia medis. Tapi, golden blood adalah nama lain dari Rh-null, jenis golongan darah paling langka di dunia Kak! " Jawab Maliq,


"Betul sekali, Kau memang calon dokter hebat Tuan" Puji Dokter,


"Lalu bagaimana?, " Tanya Faaz kembali.


"Darah yang dikategorikan sebagai Rh-null jika tak memiliki 61 jenis antigen yang ada di sistem Rh dalam darah. Tak hanya membuatnya langka, namun jenis darah ini juga hanya bisa menerima transfusi darah dengan sistem Rh yang sama langkanya." Jelas seseorang di balik tubuh Faaz dan Maliq, mereka menoleh dan mendengarkan apa yang sedang wanita itu jelaskan!.


"darah tersusun atas komponen berupa sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), keping darah (trombosit), dan plasma."


"Dan Setiap komponen memiliki peran dalam fungsinya, tetapi sel darah merah lah yang bertanggung jawab atas perbedaan golongan darah."


"Sel-sel darah merah ini memiliki protein yang menutupi permukaannya, disebut antigen. Antigen menentukan golongan darah, tipe A hanya memiliki antigen A, tipe B memiliki antigen B, tipe AB memiliki keduanya, dan tipe O tidak memiliki keduanya." Maliq menyipitkan matanya, Ia sangat kagum mendengar penjelasan wanita itu.


"Sel darah merah mengandung antigen lain yang disebut protein RhD. Ketika ada, golongan darah dikatakan positif (Rh+), ketika tidak ada, dikatakan negatif (Rh-)." Jelasnya.


"Inilah sebabnya Rh-null dianggap sebagai 'golden blood'. Karena nilainya sama berharga dengan emas. Golden blood sangat penting untuk perkembangan dunia medis, namun pemilik golden blood juga bisa terancam nyawanya."


"Dan jika carrier Rh-null membutuhkan transfusi darah, akan sangat sulit untuk melacak donor yang sama-sama memiliki Rh-null. Itulah sebabnya banyak pemilik golden blood yang disarankan untuk berdonasi sekaligus sebagai asuransi mereka sendiri. " Jelasnya kembali,


"Aku Noni," Ucapnya sembari tersenyum, "Sebelumnya maaf Dokter jika penjelasan ku salah " Ia mengatupkan kedua tangan nya.


"Tidak ada kesalahan, malah 100% benar." Ucap Sang Dokter,


"Terimakasih Dok, " Ucapnya sembari tersenyum.


"Baiklah Ambil dan Cek milik ku dok! " Ucap seseorang itu lagi,


"mungkin aku juga bisa membantu pasien tersebut." Ucapnya kembali, mereka semua terkejut dengan kehadiran wanita berparas cantik tersebut.


"Terimakasih atas penjelasannya, jika memang bisa saya sangat berterima kasih sekali! " Ucap Faaz dengan sangat sopan,


"Cek dan ambilah seberapa kalian mau! Tuan, Aku juga pemilik Golden Blood" Ujarnya sembari tersenyum manis, Faaz pun tersenyum menatap dokter. Dokter senang karena bisa mendapatkan pendonor darah tersebut, "Silahkan Nona, anda bisa ikut dengan saya!" Dokter segera mengajak Noni untuk memeriksa kadar kesehatan darahnya


"Sebentar Dokter, " Ia menolehkan pandangannya tepat pada wajah Maliq, "Tuan, " Panggilnya.


"Maaf jika membuat mu kesal waktu itu!, " Gumam Noni membuat Maliq menatap heran.


"Waktu itu, " Ucapnya kembali, Ia tak mengerti sama sekali. Maliq pun duduk dan berpikir denfan keras berusaha mengingat wanita itu.


"Aku rasa, Aku pernah melihat wanita itu. Tapi dimana Iya!, " Gumam Maliq seraya berpikir mengenai wanita tersebut.


.


.


.


Hai Teman-teman.... Mau tau dong siapa yang udah Baca "Perempuan Surgawi! " Kalau ada, Tolong komentar di bawah ini iya...


Next time akan ada Give Away buat pembaca setia "Perempuan Surgawi"


Jangan Lupa baca Iya, tekan Love nya juga...


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2