TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Malam Pertama Ayana dan Mael


__ADS_3

"No, Maell...plis" Ucap Ayana di iringi tawa yang cukup keras.


"Mengapa kau mentertawakanku sayang?" Tangan Mael mengelitik bebas di atas perut Ayana, dan hal itu membuat Ayana merasa sangat geli.


"Cukup Mael, aku geli" Pintanya.


"Baiklah, Ayo ceritakan pada ku. ada apa dengan mu saat ini?" Tanya Mael.


"Aku...." Ayana kembali tertawa kali ini ritme tertawa Ayana terdengar cukup keras.


Mael menyunggingkan bibirnya, "Ayana, stop It" Ucapnya.


Selepas Ayana menghentikan tawanya, Ia pun bercerita mengenai kegundahan nya itu, hingga membuat suaminya melakukan hal lucu. Ayana menjelaskan dengan detail kepada Mael, Ayana menjelaskannya karena sebelumnya. Mael bertanya mengenai sikap Ayana yang tertawa saat Mael keluar dari dalam kamar mandi.


Ayana berucap, "Mael, Aku kan gak pernah pacaran, dan kemarin kita memutuskan untuk nikah muda di umur 24 tahun. dan rasanya Aku panik banget mikirin nanti gimana malam pertama dengan orang lain yang bukan saudara sendiri, atau lebih tepatnya tidur satu kamar dengan orang Asing," Ayana bercerita sembari tersenyum.


"Ekpetasi Ayana dulu, malam pertama itu sakit bahkan pasti nantinya Ayana bisa-bisa gak jalan. karena sempet denger dari temen-temen Ayana yang udah pernah melakukan hal itu" Titur Ayana kembali, Mael mendengarkan penjelasan Ayana.


Walaupun Ayana sedang menceritakan mengenai mengapa dia bisa tertawa seperti itu, Mael sendiri menanggapinya dengan wajah yang sangat riang.


"Terus banyak hal yang bikin Ayana takut Mael, Maaf tadi udah bikin Mael menunggu lama, terus bikin Mael jadi nahan... " Mael tak membiarkan Ayana melanjutkan pembicaraan nya.


Mael berucap, "Pelan-pelan saja, biar kita cari posisi yang nyaman dan juga waktu yang nyaman. Jadi anggap saja kalau ini pemanasan seperti kita melakukan olah raga ringan," Ayana menatap Mael, "Itu juga kalau Ayana mau, Mael gak mau Maksa" Ucap Mael kembali, Ayana menuruti keinginan suaminya, Mael hanya mencoba meyakinkan Ayana terlebih dahulu.


Mael tidak ingin memaksa Ayana jika memang belum siap melakukannya, Mael tidak ingin jika Ayana melakukan karena terpaksa lalu malam pertama mereka menjadi malam pertama yang tidak mengesankan.


Ia ingin melakukannya jika Ayana sudah ingin dan siap, Namun sebelumnya Mael meminta Ayana untuk melakulan pemanasan bersama. Bagi Ayana, sebuah kecupan di malam itu menjadi kenangan yang sangat hangat untuk Ayana dan Mael. pasangan muda itu benar-benar sedang merasakan indahnya cinta di malam pertama, Ayana sudah tidak terlalu takut walaupun hanya sebuah kecupan dan sebuah pelukan yang hanya menghangatkan suasana dan bagi Ayana Mael begitu lembut memperlakukan dirinya.


"Mael lelaki yang baik, dia tidak memaksaku dan juga tidak membuatku ketakutan" Ucap Ayana dalam hati, "Aku benar-benar merasa sangat nyaman berada didekatnya saat ini." Ucap nya kembali.


Mael mengecup kening Ayana dengan pelan, ia tersenyum dan menatap wajah Ayana dengan penuh cinta.


"Besok kamu Wisuda iya? " Tanya Mael, "Mau tidur?" Tanya Mael kembali.


"Iya," Jawabnya singkat, Ayana mengubah posisinya. Ia membelakangi Mael, dan Mael terlihat memeluknya dari belakang.


"Kamu gak marah, kita gak jadi gitu?" Tanya Ayana.


 


Mael menjawab, "Enggak! " Mael Memeluk Ayana dengan erat dan mengecup bahu Ayana, terdengar sekali kecupan itu.


 


Ayana melamun, mengingat Zain yang seharusnya dapat menghadiri acara wisuda dirinya. Mael menyadari jika istrinya sedang bersedih karena mengingat Daddy nya itu, Mael kembali mencium kilas bahu Ayana, Ia pun mengusap ujung kepala istrinya itu.


 


 


"Aku pasti temenin kok, Papi sama Mamih juga pasti dateng. Papa Rido juga dateng, kan udah janji sama kamu " air mata Ayana menetes membasahi lengan Mael, karena kepala Ayana terlihat berada diatas lengan nya.


 


 


"Kamu nangis? " Tanya Mael sembari memastikan keadaan Ayana.


 


 


Ayana menggelengkan kepalanya sembari menyeka sisa air mata yang membasahi pelupuk matanya, Mael tahu jika Ayana sedang menutupi kesedihannya.


 


 


"Aku merindukan Daddy kembali, seminggu yang lalu saat Daddy sudah pergi selama 7 hari aku dapat sedikit melupakan kepergiaannya," Keluh Ayana, "Namun, kini menjelang 2 minggu kepergian Daddy, Kenangan bersama Daddy selalu saja membayang di dalam pikirku."


 


 


Ayana meneteskan kembali air matanya, "Apalagi besok wisuda pertamaku, Daddy pasti datang kan? " Keluh Ayana, Mael merasakan jika bahu Ayana bergetar seakan menahan tangisnya, Mael tahu Ayana sedang tidak ingin menunjukkan rasa sedihnya.


 


"Baby, Lovely" Panggil Mael untuk Ayana.


"Menangislah, aku tidak akan melarang mu! " Ucapnya, "Aku tahu hatimu belum sembuh dengan total, kamu masih saja memikirkan Daddy. Aku mengerti sayang, dan itu memang tidak mudah!! " Sambung Mael kembali.

__ADS_1


"Apa aku menjadi anak yang tidak berguna, seharusnya aku sudah bisa mengikhlaskan kepergian Daddy. Tapi rasanya susah sekali Mael, Aku masih saja teringat sosok nya! " Keluh Ayana.


"Jika hanya mengingat, kau memang sudah seharusnya mengingat Daddy. Jika tidak mengingatnya, mungkin nanti kau malah tidak mendoakan Daddy mu dengan baik" Ujar Mael.


 


Mael mengusap lembut ujung kepala Ayana, "Namun kau harus bisa mengikhlaskan kepergian Daddy, aku yakin kamu bisa" Ucap Mael kembali.


 


"Ingat boleh tapi harus sudah mengikhlaskan nya Mael? " Tanya Ayana polos.


"Iya, betul sekali. Bisakan? " Tanya Mael.


"InshaAllah bisa, " Jawab Ayana tegas, Ayana berbicara sembari beranjak dari posisi sebelumnya lalu, ia duduk dihadapan Mael. Ia pun menatap ke arah Mael, Lalu tersenyum dengan sangat cantik.


"Ya sudah, itu artinya kau harus tersenyum seperti itu." Ucap Mael kembali.


Ayana berpikir, benar apa yang dikatakan Mael. Sudah bukan waktunya meratapi kembali kepergian sang Ayah, Ayana sudah seharusnya dapat melupakan sebuat takdir itu dan hanya mengingat sebuah Doa yang harus selalu ia panjatkan.


Karena, sebagai anak yang solehah adalah anak yang mampu memberikan doa untuk kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Ayana juga harus memikirkan masa depannya, masa depan bersama Mael dan mungkin kelak Ayana akan memiliki banyak anak. Bahkan masa depan mereka masih sangatlah panjang, Mael benar-benar menerangi kehidupan Ayana.


Sudah seharusnya Ayana lebih dapat menyikapi sebuah takdir dari sang ilahi, karena berbakti kepada orang tua bisa melalui sebuah doa. Ayana terdiam sejenak, ia menarik tangan Mael dan mengecup punggung tangan nya itu. Ayana merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Mael, setiap kalimat yang Mael ucapkan sangat menyejukan hatinya.


Mael menutup matanya menggunakan kedua tangannya, "Bentar... " Lalu membukanya kembali, Ayana merasa aneh dengan sikap Mael.


"Kenapa? " Tanya Ayana heran.


"Istriku cantik sekali, " Ucap Mael, Ayana tersipu malu mendengar kalimat yang diucapkan suaminya.


Ayana segera memeluk Mael, ia merasa sangat nyaman saat memeluk suaminya itu. perasaan takut akan malam pertama pun semakin hilang dari benaknya, mungkin karena sifat suaminya yang humoris, akhirnya membuat suasana mencair begitu saja.


Mata mereka saling berpandangan dengan lekat, "Aku mau sekarang melakukan itu?" Imbuh Ayana, matanya tersirat keyakinan akan hal yang sebelumnya membuat ia merasa takut.


"Sungguhkah? " Tanya Mael, wajah nya terlihat bahagia saat mendengar Ayana berbicara seperti itu.


Ayana mengangguk pelan, sembari tersenyum manis, matanya terlihat mencoba meyakinkan Mael. Mael terlihat begitu bersemangat, "Tunggu sebentar! " Ucap Mael.


Mael beranjak dari posisi sebelumnya, ia berjalan melangkah menuju meja rias di dalam kamar Ayana. Mael segera membawa satu botol sirup berwarna merah, ia meneguknya dengan satu tegukan kilat.


"Apa itu Mael?" Ayana bertanya dengan wajah yang terlihat polos.


"Minuman suplemen, membuat tubuh berdahaga dan kuat" Ucap Mael serius, walaupun ia berbicara serius, wajahnya selalu terlihat kocak dan itu membuat Ayana selalu ingin tertawa.


"Hmmmph Ayo!! " Ayana membuka piyama daster berkancing yang ia pakai, Mael terlihat membanggakan otot-otot lembut miliknya itu. Setelah itu, Ia mendekatkan tubuhnya dengan duduk di samping Ayana.


"Lihat... " Ia menunjukkan otot di dasar perutnya, namun sebenarnya Mael sama sekali tidak terlihat berotot.


"Kamu nanti bakalan bergairah!! " Ucapnya kembali.


Ayana merasa geli melihat tingkah suaminya, baginya Mael sangat aneh. Ayana menatap wajah suaminya, namun hal itu terjadi lagi. Seketika Ayana menutup bagian dadanya menggunakan kedua tangan nya, Mael memberi tatapan memelas.


Kejadian itu sangat lucu sekali, Ayana kembali tertawa melihat tingkah suaminya.


Entahlah, mungkin bagi sebagian pasangan baru menikah, malam pertama adalah hal yang sangat dinanti-nanti kan, mungkin akan terkesan romantis dengan diputarnya musik-musik klasik bahkan malam pertama bisa saja di indikasikan dengan sebuah Film berbau Fantasy agar tahu cara sukses melakukan hubungan itu.


Namun, berbeda dengan pasangan Ayana dan Mael. Hal lucu malah terjadi saat di malam pertama, Mael pun ikut tertawa melihat Ayana yang terlihat tidak berhenti tertawa.


"Baby, " Mael memanggil Ayana dengan nada yang terdengar erotis untuknya.


"Sayang, berhentilah tertawa..." Pinta Mael seraya memohon.


"Entahlah Mael, Aku tidak bisa berhenti saat melihat wajah mu. Aku teringat kembali saat-saat kau menahan hasrat buang air besar mu!! " Tutur Ayana kembali,


"Lalu, tadi kau kembali menunjukan otot-otot mu sehingga menahan nafas di perutmu dan wajah mu terlihay seakan menahan hasrat buang air besar kembali" Xixixi Ledek Ayana dengan suara tertawa nya yang terdengar cukup keras.


"Ya Tuhan aku tidak bisa berhenti tertawa" Ucap Ayana, Mael merasa kesal namun rasa kesalnya dapat tertutupi karena melihat Ayana yang terlihat bahagia.


"Ayana, sudahlah ku mohon" Mael merasa terpekik karena terus menerus melihat Ayana tertawa, kali ini Mael mulai mengerucutkan bibirnya.


"Mael, jangan cemberut dong. Aku kan bercanda" Ujar Ayana, ia mencoba membujuk Mael, nada bicara Ayana terkesan manja.


Mael menyimpan tangannya di atas dada, lengannya bertumpu satu sama lain, bibir nya mengerucut dan kepalanya tertunduk karena ia membungkukkan setengah badannya walaupun sebenarnya ia sedang membuat Ayana merasa bersalah karena telah mentertawakannya.


"Mael kau marah? " Tanya Ayana, Mael tak menjawab. Ia terus menerus menundukkan kepalanya, Ayana merasa menyesal karena telah meledek suaminya itu.


"Sayang, jangan marah dong!" Bujuk Ayana untuk Mael, "Mael, aku mohon maafkan Aku" Ucap Ayana kembali.


"Mael, aku tahu aku salah" Ujar Ayana yang mulai mengakui kesalahan, "kamu itu humoris dan aku suka, aku gak maksud loh bikin kamu merasa terhina." Ujar nya kembali, Ayana menundukkan kepalanya. Rasanya Ayana sangat menyesal karena telah membuat suaminya itu terlihat cemberut, Ayana menggoyahkan lengan Mael, Ayana bermaksud agar Mael menyahut kalimat Ayana.


Ayana beranjak untuk berdiri, dia berdiri tepat di hadapan Mael. Ayana memegang kedua pipi Mael, Ayana menatap wajah Mael yang masih merunduk. Ia pun segera mengangkat wajah suaminya itu, Ayana mendaratkan kecupan pada kedua pipi suaminya.

__ADS_1


Lalu dengan nada yang sangat manja Ayana mhlai menggoda suaminya, "Mael Sayang, " Ucap nya sembari mengecup pipi kanan Mael, Mael masih terdiam.


"Mael Cinta nya Ayana, " Lanjut Ayana sembari mengecup pipi kiri suaminya itu namun Mael masih terdiam dan merasa kesal dengan sikap Ayana.


Ayana terus menerus melakukan hal yang sama, Ia sedang berusaha menggoda Mael dengan mengajaknya bermesraan. Bahkan Ayana mecoba menghilangkan rasa malunya dengan duduk di atas pangkuan Mael, Ayana menatap jam dinding, Jam tersebut sudah menunjukkan pukul 3 pagi.


"Lihat tuh udah jam berapa?, Ayana ngantuk, maafin Ayana udah buat Mael marah! "


"Jangan marah dong Mael, Plis" Pinta Ayana seraya memohon kepada Mael.


Dan percobaan terakhir, Ayana mendaratkan sebuah kecupan pada bibir Mael. ia mengecup mesra suaminya, Mael pun membalas pagutan Ayana dan kini mereka saling memagut satu sama lain. terdengar nafas satu sama lain, wajah Ayana terlihat bersemu merah karena sadar akan apa yang telah dilakukan olehnya membangkitkan kembali gejolak suaminya.


Mael menggendong Ayana, ia merebahkan tubuh Ayana di atas ranjang romansa mereka. Wajah Ayana sudah tidak malu seperti sebelumnya, Ayana malah semakin agresif.


Mael mulai melancarkan aksinya, "Ouchhh, sakit Mael" Ucap Ayana, "Duh... " Keluhnya kembali.


"Aku buat sepelan mungkin kok sayang" Ujar Mael, Ayana merasa nyaman karena Mael sama sekali tidak bermain kasar. Ritme nya masih pelan, yang penting sampai puncak katanya.


 


30 menit kemudian, terdengar suara Mael dan Ayana seakan merasa lega walaupun nafasnya tersengal hebat.


"Nanti lagi iya? " Tanya Mael, Ayana masih meringis sakit karena ia merasakan kelu pada Miss Viii nya.


"Nanti iya, Aku merasa kelu" Ucapnya, "gak apa-apa kan Mael? " Tanya Ayana.


"Iya gak apa-apa sayang" Jawab Mael sembari tersenyum, Mael pun memeluk Ayana dari belakang.


Satu jam kemudian, Mael melakukan hal itu lagi dan Ayana menikmati segala permainan Mael. Mereka benar-benar merasakan indahnya malam pertama, Mael dan Ayana semakin merasakan panas adegan itu.


Namun, Tok.. Tok.. Suara ketukan keras terdengar oleh mereka.


 


"Sayang, siapa yang mengetuk kamar kita malam-malam? " Tanya Mael.


"Entahlah, lanjutkan saja Mael. Paling juga suara angin menembus pintu" Celetuk Ayana membuat Mael tertawa.


 


"Ayana... Mael... " Suara Alea terdengar jelas.


"Alea... " Ucap Mael.


"Iya Kak Lea, bagaimana ini? " Tanya Ayana,


Alea memaksa untuk membangunkan Alea karena kondisinya yang sedang mengeluh sakit pada perut bagian bawahnya, sebelumnya ia ke kamar Natasha. Namun, ia berpikir takut mengganggu kedua keponakannya yang sedang tidur bersama Natasha dan Faaz.


"Ayana... " Alea terus menerus mengetuk pintu kamar pengantin baru itu, Ayana membukakan pintu kamar nya segera.


"Kak Lea, kenapa? " Ayana melihat Alea meringis kesakitan, "sebentar, Mael tolong ambil air putih untuk Kak Lea" Titahnya pada Mael, Mael pun segera mengambil air putih sembari membangunkan Faaz.


"Ini minum Lea" Sembari menyodorkan segelas air putih.


"Mael, Ayana tidak usah membangunkan Kak Faaz" Pinta Alea saat itu.


"Aku sudah terlanjur membangunkannya, Faaz juga belum tidur dia lagi diatas, di ruangan kerja"


Natasha dan Faaz datang, Natasha merasa sangat khawatir dengan keadaan Alea. Faaz ingin membawanya ke rumah sakit namun, Alea menolaknya. karena Alea sudah merasa baikan.


FLASHBACK keadaan Alea sebelumnya, Alea sedang tidur. majinasi Alea kembali bangun, suara-suara itu kembali membuat Alea ketakutan. Namun Alea tak menghiraukan nya, dan suara-suara itu semakin terdengar olehnya. Alea bingung dengan keadaannya, Ia seakan ingin berlari namun Alea terjatuh dengan posisi tengkurap. Alea ingin bangun namun susah sekali membangunkan tubuhnya yang sekarang sudah mulai merasa gemuk,


Setelah berusaha lebih giat, Alea mampu membawa tubuhnya dan anak dari dalam kandungannya itu pergi dri dalam kamarnya, Jiwa Alea memang masih terguncang makadari itu Noni selalu meminta siapapun untuk menemani Alea.


"Apa yang terjadi sayang?" Tanya Faaz kepada adiknya.


"Tidak ada kak, tadi hanya sakit saja. mungkin karena dede bayi nya udah mulai membesar" Jawab Alea seraya menutupi keadaan sebenarnya.


"Besok Kakak antar kerumah sakit iya," Ucap Faaz.


"Iya Kak," Sahut Alea.


"Ya sudah, sekarang Alea tidur sama Kak Natasha ya." Ajak Natasha.


"Enggak usah Kak, biar Alea tidur sendiri aja" Jawabnya.


"Enggak, enggak kamu tidur sama Kakak ipar mu biar Kakak tidur di kamar kamu sama Aaleesya" Alea pun menuruti keinginan kakaknya, entahlah mengapa, jika Alea sedang sendirian. bayangan-bayangan serta suara kelam itu selalu menghampiri nya.


"Beneran kamu gak kenapa-kenapa?' Tanya Faaz yang memastikan keadaan adiknya itu, Faaz menatap lembut wajah adiknya itu.


Alea tersenyum, "Sungguh Kak, aku tidak apa-apa" Alea berhasil menutupi wajah kesakitannya, Ia menahan ringisan sakit yang berada di bawah perutnya.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu tidur sama Natasha iya" Ucap Faaz.


__ADS_2