
Roma, Italia
Yofie dan keluarga nya sedang merasa kesusahan, Ia merasa malu jika selalu meminta tolong kepada keluarga Rido.
"Mintalah bantuan kepada Kakak mu," Ucap Sherly kepada anak nya, "Kakak mu pasti akan selalu menolong mu." Ucapnya kembali.
"Tidak Mah, Aku merasa malu sekali." Tolak Yofie yang merasa tidak enak karena selalu meminta bantuan kakak atau keponakannya.
"setidaknya kau meminta nya untuk memperkerjakan mu, atau dengan Zain?, " Ucap Hendra menimpali pembicaraan mereka.
"Bantuan dari mereka sudah sangat cukup bagiku, setiap kali Kaka ataupun Zain memberi ku modal selalu saja aku merasa kurang" Gumamnya, "Aku janji aku akan mencari jalan terbaik dengan bekerja di tempat manapun, Aku tidak akan menyengsarakan kalian" Gumam Yofie kembali sembari menggenggam tangan hendra.
saat mereka sedang berbincang, Shaloom berteriak kegirangan...
"Sayang..... Papa... Mama... " Teriak Shaloom sembari berlari kegirangan, Ia memeluk tubuh suaminya dan mengecup pipi milik suaminya berulang-ulang.
"Kau kenapa?, " Tanya Yofie.
"Lihatlah.. " Shaloom memberikan satu buah bukti yang menunjukan seseorang memberi uang melalui Rekening ATM nya.
"Siapa yang mengirim sebesar itu?, " Tanya Yofie.
"Siapa?, " Tanya Sherly menimpali pertanyaan Yofie,.
"Kak Rido?, " Tanya Yofie, Shaloom tersenyum.
"Keponakan mu yang paling kau sayangi" jawab Shaloom.
"Fizzy?, " Tanya Hendra kepada menantunya.
"Iya Papa, Fizzy menghubungiku tadi. dia memintaku mengecek Rekening ku." Ucap Shaloom.
"Kau meminta tolong padanya? " Tanya Yofie sembari menajamkan kedua matanya.
"Tidak, aku berani bersumpah untuk itu! " Seru Shaloom.
"Lalu?, " Tanya Yofie,
"Yofie, sekarang kau lebih baik menghubungi Fizzy dan mengucapkan terimakasih." Ucap Sherly.
"Iya, mengapa kau marah padaku?." Timpal Shaloom.
"Lihat ponsel mu!, " Pinta Yofie, Shaloom segera memberikannya. Yofie membuka layar ponsel milik Shaloom, Ia tersenyum kala membaca pesan yang Fizzy sampaikan untuk Shaloom.
Assalamualaikum, Aunty Shaloom. Aku sudah mengirimkan uang untuk Opah, Omah dan keluarga di sana. dan ada sejumlah uang untuk membantu sekolah edward. tolong diterima ya Aunty, Terimakasih atas bantuan kemarin di pernikahan Fizzy. ~ Fizzy keponakanku.
"Ya Allah, Anak ku.. dia memang anak yang baik, semua anak-anak ku yang baik" Tutur Yofie sembari membendung air mata nya.
"Tak hanya Fizzy sayang, " ucap Shaloom memberitahu, Yofie pun terlihat sangat kaget.
"Lalu?, " Tanya Yofie kembali.
"Faaz, Alea, Dan Maliq juga memberikan sedikit uangnya untuk kita dan jumlah yang sangat banyak itu akumulasi dari ke empatnya. lalu Zain kemarin menghubungi ku ia juga memberikan sejumlah uang untuk sekolah edward, dan Kak Rido kemarin juga menghubungi ku.. "
"Lalu apa yang kakak ucapkan?, " sela Yofie disaat Shaloom mencoba menjelaskan.
"Kakak berucap, jika yofie tidak ingin memberitahu keadaannya pada kami. kau lah yang harus memberitahu kami, dan jika kamu tidak memberitahu kami, kami pun sudah pasti mengetahuinya" Ujar Rido saat menghubungi Shaloom, Shaloom mencoba menjelaskan kepada Yofie. Yofie meneteskan air matanya, begitu sangat banyak bantuan dari kakak dan adiknya untuk dirinya.
"Tak hanya itu sayang, Kakakmu meminta Edward untuk melanjutkan kuliahnya di manapun ia inginkan dan Kakak mu sudah mendaftarkan deposit atas nama anakmu" Ucap Shaloom.
"Ya Tuhan, Aku benar-benar sangat malu kepada Kakak! " Ucap Yofie, "Dia benar-benar kakak ku yang sangat baik dan bijaksana" Ucap Yofie kembali.
"Yang seharusnya merasa malu adalah Papa, Nak" Hendra memeluk Yofie, "Sungguh Papa sangat malu kepadanya, dia tidak pernah menyimpan dendam kepada Papa." Ujar Hendra kembali.
"Gusti sudah sangat baik mendidiknya, hutang ku sudah pasti numpuk kepadanya." Timpal Hendra kembali, Ia menatap foto Rido. dan sepertinya jika saja Rido ada di hadapannya kini, Ia ingin memeluk tubuh anak tertuanya dengan sangat erat.
"Mama bangga sama kakak mu, dia juga mampu mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak baik dan saling membantu" Ucap nya.
"Mama, Shaloom benar-benar sangat merindukan sosok May." Ucapnya.
"Siapa yang tidak merindukannya, dia benar-benar membuat semua orang disekitarnya gila" Ucap Yofie.
"Semalam Mama May datang kepadaku, Ia memeluk ku dan berucap kepadaku untuk menjadi anak yang dibanggakan Mama dan Papa" Tutur Edward.
__ADS_1
"Senangnya, Mama ingin sekali memimpikan dia. sayangnya dia tidak pernah mampir kepada mama." Ucap Shaloom, "Yasudah, kamu hubungi semuanya ucapkan rasa terimakasih kami kepada semua" Titah Shaloom, Yofie pun segera menghubungi Keponakannya semua, Adik dan juga Kakaknya. mereka berbincang melalui panggilan video, terlihat Yofie membendung air mata kebahagiaannya.
.
.
.
.
.
******
(Back To Australia)
Rayna memondar-mandirkan langkahnya menggunakan kursi roda, Ia sedang memutar otaknya kembali. Faaz datang menghampirinya, "Rayna." panggilnya.
"emm, Iya Faaz? "
"Maafkan adik ku, Aku sudah memarahinya dan Untuk Natasha juga Aku meminta maaf atasnya" Ucap Faaz.
"Iya Faaz, Aku sudah tidak memikirkannya" Ucap Rayna sendu, Ia mencari muka atas kejadian tadi siang.
"Faaz, kau sudah melihat kan bagaimana Natasha membuat Alea, Ayana dan yang lainnya membuat fitnah untuk ku" Ucap Rayna, "Aku ingin kau melindungi ku Faaz, Aku takut dengan marahnya Alea" Ucap Rayna kembali, Faaz sedikit menunjukan rasa kesalnya.
"Iya sudah, kau harus tetap bersabar. Aku akan melihat dulu bagaimana mereka kedepannya. " Gumam Faaz.
"Baiklah Faaz, " Ia berlaku manja kepada Faaz, dia pun menyandarkan kepalanya di bahu Faaz.
Dalam hati Rayna, "Lihatlah, Aku lah pemenangnya." Rayna tersenyum dan matanya mendelik seraya merasakan kemenangan.
Faaz pun berkata dalam hatinya, "Rayna Aku tidak akan lagi mempercayaimu, Aku tidak akan lagi termakan rayuan mu! " Faaz mengusap lembut pipi milik Rayna.
Dan malam harinya, Zain sedang bersama dengan Ayana dan Faaz. Faaz sengaja mengajak Ayana dan Zain berbincang di Taman dekat rumah, Zain menuturkan rencana yang sudah Zain pikirkan.
karena sebelumnya, Zain dan Faaz sudah bertukar pikiran mengenai masalah keduanya. Zain memang selalu mempercayakan apapun mengenai Ayana kepada Kakak sepupu yang sangat menyayanginya.
"Daddy Ayana gak habis pikir mengapa Kak Rayna bersifat seperti itu, lagipula Daddy selalu benar apapun yang Daddy lihat pasti benar adanya" Gumam Ayana dengan manja,
"Sudah, sudah.. tidak usah selalu dipikirkan!," Seru Zain, "semua sudah menjadi rencana Tuhan." Ucap nya kembali.
"Yasudah ke intinya saja, " Ucap Zain.
"Silahkan Uncle, biar Uncle saja yang menyampaikan kepada Ayana"
"Tunggu-Tunggu ada apa ini?, " Tanya Ayana penasaran, Ia terlihat mengerutkan dahinya.
"Senyum lah untuk Daddy sebelum Daddy menjelaskan maksud dari pembicaraan ini" Pinta Zain kepada Ayana seraya memohon, "Daddy" senyum Ayana sembari memanggil nama daddy nya, Ayana memang sangat manja di hadapan sang Daddy.
"Begini Sayang, Daddy ingin sekali melihat mu menikah dengan seseorang yang mungkin untuk Daddy dia baik untuk mu! " Tutur Zain, Ayana sedang mendengarkan Zain dengan seksama.
"Lalu, apakah kau sudah berniat menikah?, " Tanya Zain dengan sangat hati-hati.
"Maksud Daddy?, " Tanya Ayana, wajahnya terlihat malu-malu.
"Daddy ingin sekali kau menikah sayang, " Ujar Zain, Ayana terdiam menunduk malu.
"Menikah?, " Tanya Ayana, "Jangankan menikah Daddy, untuk memiliki kekasih saja. Aku tidak punya" Gumam Ayana.
"Daddy mu kan sudah bilang, beliau sudah memiliki calon yang menurutnya baik untuk mu! " Seru Faaz memberitahu Ayana.
"Sebenarnya ada seorang lelaki yang siap menjadi suami mu, dengan gentle nya dia meminta mu pada Daddy tanpa memberi tahu mu! " Jelas Zain, Ayana tak mengerti dengan apa yang Zain jelaskan.
"lelaki?, Siapa Daddy?, Aku tak mengerti maksud Daddy" wajah nya terlihat sangat keheranan.
"Sayang, Ada seorang lelaki yang berbicara ingin menikahi mu" Ucap Faaz, Ayana seakan tak mempercayainya. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Kaka, Aku tak mengerti, siapa lelaki itu" Tanya Ayana kembali.
"Aku, Ayana!" Ucap seseorang yang sudah berdiri di belakang Ayana. Ayana berdiri, dia menoleh ke belakang dan menatap wajah lelaki itu.
Ia tak menyangka bahwa orang itu adalah Mael, Mael yang selalu memberinya perhatian. Mael lelaki yang tak pernah membuat Ayana kecewa dan Mael selalu mencoba melindungi Ayana sedari kecil.
__ADS_1
"Mael, " Ayana memanggil namanya dengan suara yang terbata-bata, matanya pun berbinar seolah tak percaya bahwa Mael memintanya kepada Zain.
"Mmmmh... Mael, mengapa kau seperti ini?. " Tanya Ayana, Richard dan Rani pun datang menghampiri, "Mael selalu bercerita tentang mu sedari dulu." Ungkap Rani.
"Ia selalu bilang sama Uncle bahwa kelak ia dewasa akan melamar kamu!" Ungkap Richard kembali, Ayana terlihat malu-malu. kepalanya merunduk, Mael pun terdiam saat orang tua nya berbicara seperti itu di depannya.
Mael dan Ayana sedang saling berhadapan, semua Anggota keluarga pun datang untuk melihat dan menghadiri acara kejutan yang sudah di buat oleh Faaz dan Qabil.
"Ya ampun, " Ucap Ayana menatap ke sekelilingnya, Ia tak menyangka bahwa malam ini kejutan untuknya datang. Alea pun menggodanya, "Cieee.... " Ucap Alea, Ayana tersenyum malu melihatnya.
"Ayana... " Matanya terlihat lekat saat menatap wajah Mael yang memanggilnya.
"Maukah kau menikah dengan ku?, " Tanya Mael dihadapan semuanya, Ia memejamkan matanya.
"Hmmmm.. Mael" Mael masih berlutut dihadapan Ayana, Ia membukakan kotak berisikan cincin indah untuk Ayana. Maliq tersenyum melihatnya, Maliq sangat bahagia melihat Ayana tersenyum seperti itu.
"Terima dong Ayana!," teriak Alea,
"Iya terima dong! " Teriak Maliq menimpali ucapan Alea,
"Ayo kasih jawaban nya, Kasihan kan Mael sudah lama membungkuk seperti itu" Ucap Rido, Ayana merasa gugup saat melihat Rido datang bersama Jimmy.
"Aku... " Kalimat Ayana tersela sedikit, dan Mael membuka mata nya sedikit, "Aku belum mau menikah" Ucap Ayana, Mael merasa kecewa saat mendengar ucapan yang keluar dari bibir Ayana. Ia pun terlihat menundukkan kepalanya.
"Tapi Aku tidak bisa menolak mu Mael!, " Ungkap Ayana, Mael yang terkejut mendengarnya langsung Mengucapkan kata "Yes" sembari meluapkan ekspresi senangnya.
"Mael, Ih Mael" Ayana menarik pakaian yang sedang Mael pakai, "Kau malah seperti itu, pakaikan cincinnya! " Dengan polosnya Ayana menyadarkan Mael, meminta nya untuk segera memakaikan cincin tersebut.
"Maaf Ayana, Aku merasa sangat senang!. hingga lupa memasangkan cincin nya." Ucap Mael membuat semua tertawa melihat kepolosan kedua nya.
"Tidak apa-apa Mael!, " Mael pun segera memasangkan cincin tersebut di jari manis Ayana, Ia tersenyum dan memeluk daddy
nya.
"Selamat Iya sayang, " Ucap Zain sembari memeluk keduanya, begitupun dengan Richard dan Rani yang juga memeluk Ayana dan Mael. mereka semua sangat merasakan kebahagiaan nya, "Papa, " Ayana dan Mael memanggil Rido berbarengan, mereka memeluk Rido dengan erat.
Ayana menangis, "Papa, Ini pasti juga doa Papa dan Mama." Ucapnya, "Makasih ya Pah, Mael sama Ayana sangat bahagia karena Papa mau menyaksikan kejutan ini" Timpal Mael, Rido memeluk keduanya dengan pelukan yang sangat erat.
Semua anggota keluarga mengucapkan selamat kepada keduanya, Alea dan Qabil pun merasa bahagia karena melihat kebahagiaan Ayana karena bagaimanapun Alea merasa akhir-akhir selalu timbul rasa bersalah nya terhadap Ayana.
Selesai Acara tersebut, semua orang tua sengaja berkumpul bersama menikmati jamuan sembari mengingat-ingat masa lalu yang sangat berharga itu.
Faaz memilih menemani Rayna karena tidak ingin membuat Rayna curiga bahwa Faaz memang sedang berpura-pura bermasalah dengan istri keduanya, maka Natasha yang hanya di temani Qabil dan Alea pun memilih untuk tidak menunjukan rasa cemburu nya.
Mael berbincang berdua bersama Ayana, Mael menatap nya penuh cinta dan Ayana terlihat bahagia melihat Mael menatap nya seperti itu.
"Mael?, apa alasan yang membuat mu menyukai ku? " Tanya Ayana.
"Tidak ada alasan apapun, Aku merasa tenang jika melihat senyuman mu! " Ucap Mael, "Dan kau adalah wanita tipikal ku!, " Ucap Mael kembali.
"Apa tidak ada jawaban lain lagi Mael?, " Tanya Ayana, Ia merasa penasaran dengan apa yang akan Mael utarakan.
"Hmmm sepertinya tidak ada!, " Jawab Mael berseru tegas, Ayana mengerutkan dahinya.
"benar Mael?, " Tanya Ayana sembari menunjukan wajah kikuknya.
"benar, " Mael menyipit kan sebelah mata nya, Mael tersenyum apik saat melihat bibir Ayana yang terlihat cemberut.
"Padahal Aku ingin sekali kau bilang kalau kau mencintaiku karena Aku cantik seperti Mama May! " Gerutunya, "Kau harusnya bilang seperti itu Mael" Protes Ayana membuat Mael merasa gemas.
"Bahkan kau lebih cantik dari yang aku katakan Ayana!," seru Mael, Ayana tersenyum mendengar Mael mengatakan itu.
"Aku sudah lama mencintai mu, dan kau sering bertanya kepada ku mengapa aku selalu ingin bersama-sama dengan mu hingga cita-cita dan karirku sama denganmu" Ucap Mael, " itu karena Aku tak ingin kita berjauhan, dan saat kau mencurahkan kegalauan mu kepadaku. Aku tidak merasa cemburu ataupun terluka, Aku hanya berdoa semoga kau mencapai bahagia mu. " Tutur Mael kembali.
"Dan ternyata bahagia ku bersama mu Mael" Gumam Ayana, "Aku sadar kau memang lelaki yang baik untuk ku" Gumam Ayana kembali sembari menatap mata Mael penuh cinta.
"Ayana, Terimakasih" Mael menarik tangan Ayana sembari menggenggam nya, "Untuk apa?, " Jawab Ayana.
"Karena kau telah menerima ku!, " Ungkap Mael, "Kau mau memberiku kesempatan untuk menjaga, memperhatikan, mencintai mu lebih lama. dan itu suatu kebanggaan untuk ku" Ungkap Mael kembali, Ayana meneteskan air matanya dan Mael mengusap air mata itu.
"Sekarang, kau tak boleh menangis bahkan untuk hal kebahagiaan pun! " Ucap Mael, "Kau hanya boleh menangis saat berdoa kepada Tuhan untuk kebahagiaan orang-orang yang kita sayang!, kau boleh menangis ketika kau mengingat Mama mu dan juga Mama May." Ucap Mael kembali.
"Dan dengar Ayana, Mami ku adalah Mami mu juga!, " Mael memeluk Ayana, seketika Zain yang melihat nya tersenyum. Zain sangat senang kala melihat kebahagiaan Anak nya itu.
__ADS_1
Mael membawa gitar, Mael pun menyanyikan sebuah lagu cinta berjudul "Its You ~ Ali Gatie" semua bernyanyi bersama, bahkan Maliq dan Qabil ikut memainkan alat musiknya.
Setelah bernyanyi, Mael menatap wajah Ayana dan mengatakan.. “Aku jatuh cinta kepada mu, dan aku tidak ada waktu untuk menghalangi diriku dari kesenangan sederhana dalam mengatakan sesuatu yang benar. Aku jatuh cinta kepada mu, dan aku tahu cinta hanya lah teriakan hampa, dan ketiadaan tidak dapat dihindarkan, dan kita sedang sial dan akan tiba hari semua kerja keras kita akan kembali menjadi abu, dan aku tahu matahari akan menelan satu-satu nya bumi yang kita tinggali dan aku jatuh cinta kepada mu.” Ucap Mael kepada Ayana.