TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Aku Wanita, Dia Wanita.


__ADS_3

“Rayna “ semua Ikut memanggil setelah mendengar Fizzy memanggilnya.


”Rayna seperti sedang kebingungan” Bisik Rani kepada suaminya, "Aku juga bingung dengan Masalah ini, Kasihan sekali Rido." Bisik Richard di telinga Rani.


”Faaz “ Panggil Rayna dengan suara yang sangat lemah, matanya sayu walaupun iya terlihat tersenyum, ia seakan sedang berpikir keras dengan orang-orang yang berada Dihadapannya.


”Tuan, saya Pamit sebentar. Untuk mengajak Tuan Jimmy ke Kamarnya.” Ucap Natasha seraya mendorong kursi roda yang diduduki oleh ayahnya itu.


”Na.tha.sa “ panggil Rayna, Natasha menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Rayna.


”Iya, Nyonya! “ sahutnya. Semua terdiam membisu saat Mendengar Natasha menyahutnya dengan panggilan Nyonya.


”te.ri.ma kas.ih “ Ucapnya sembari terbata-bata, Natasha menganggukkan kepalanya saat itu. Iya kembali melanjutkan langkah nya sembari mendorong kursi roda yang diduduki Ayah kandungnya. Natasha menangis, Jimmy memegang Tangan Anaknya yang berada di atas pegangan Kursi rodanya.


”Natasha, kita pulang saja. Biarkan Faaz bahagia bersama istrinya! “ Ajak Jimmy kepada Anaknya itu, Natasha membuka kamar tamu yang Akan dipakai oleh Ayahnya.


”Papa, Anak didalam kandunganku membutuhkan sosok Ayah seperti Faaz. ini Anak Faaz dan aku akan berdosa jika menjauhkannya.”


”Tasya mohon Papa mengerti dengan keadaan Tasya” ucapnya sembari berjongkok dihadapkan Ayahnya.


”Tapi Papa tidak ingin kau menyakiti dirimu sendiri.” Ucap Papanya.


”Aku akan lebih sakit jika kembali hidup bersama Ibu dan adik tiriku, Papa mengerti maksudku” Seru Natasha, Natasha berusaha menyembunyikan Air matanya.


”Mama Peri, Kau ke mana saja! “ Tanya Aaleesya. Saat mendengar suara Natasha sedang berbincang bersama Jimmy, Aleesya yang melihat pintu yang terbuka seketika itu masuk dan mencari keberadaan Natasha.


”Mael, Ayana. Biarkan esya disini bersama ku.” Pinta Natasha, Ayana dan Mael segera menutup kembali pintunya.


”Mama Peri”


”Iya sayang?”


“jangan pernah tinggalkan aku!” ucapnya sembari berbicara sedikit tidak jelas.


”Mama sayang Aaleesya, tapi mulai hari ini Panggil Ibu peri seperti Esya dahulu Memanggilku.” Aaleesya menggelengkan kepalanya tanda ia tidak ingin menuruti permintaan ibu kesayangannya itu.


”sini Ibu peluk” Seru Natasha sembari menggendong Natasha dan memeluknya diatas pangkuannya. Natasha meneteskan air matanya dan Jimmy tak kuasa melihat kesedihan Anaknya.


****


Didalam Ruangan keluarga, mereka masih mencoba berpikir dengan apa yang sudah terjadi. Faaz menatap Mata istrinya itu, Rasa iba kembali muncul di benaknya namun disisi lain ada wanita yang akan merasakan sakit hati yaitu Natasha, Apalagi Natasha dalam keadaan mengandung.


”Alea, Qabil bawa Kakakmu ke kamarku. Aku akan segera menyusul. “ pinta Faaz kepada kedua Adiknya.


”Fa,az a.ku i.ngi.n be.r.sama.mu” Ucap Rayna, Rayna memang kesulitan untuk berbicara. kata dokter Ambar ada saraf Rayna yang terganggu saat Ia dalam keadaan koma.


”pergilah, dan Nanti aku menyusul. Aku harus berbicara dulu dengan semuanya” Ujar Faaz seraya berbicara dengan nada yang sangat dingin. Mereka membawa Rayna ke kamar miliknya.


*****


sesampainya didalam kamar yang sempat Faaz tempati bersama Natasha, Rayna Terkejut saat melihat Fotonya bersama Faaz yang masih menempel di dinding kamar itu. Memang, Natasha tak pernah menuntut untuk Faaz melepasnya. Bahkan Natasha tak pernah mengajari Anak tirinya untuk melupakan ibu kandungnya.


”Fa,az TI.dak me.lu pakan.ku “ Ucap Rayna dengan Terbata-bata.


”Kak Rayna, Jangan banyak dulu berbicara!, Ayo rebahkan badannya diatas ranjang.”


”biarkan aku yang membantu Kak Rayna berpindah tempat” seru Qabil, mereka mencoba memposisikan Rayna dengan sangat nyaman.


”Aku pamit dulu iya sayang, kamu jaga Kak Rayna sampai kak Faaz kembali” ucap Qabil, Alea menganggukkan kepalanya.


(‘Natasha pasti sedang sangat bersedih, Tuhan mengapa jadi serumit ini - batin Alea)


"Kak Ray, Kaka tidur iya. Aku akan panggilkan Kak Faaz untuk segera Menemuimu disini” Pamit Alea, Rayna memberi kode pada Matanya.


Tok..


Tokk..


TOkkk..


”Alea” Sapa Natasha saat membukakan pintu kamar Papanya.


”kamu disini, Kak Nat! Maafkan Aku!” Ucap Alea sembari memeluk erat tubuh Natasha.


”Mengapa, Kau harus meminta maaf kepadaku. Sungguh aku tidak apa-apa Alea” Natasha membalas pelukan Adik iparnya. Natasha mengusap air mata yang akan jatuh saat memeluk Alea.


”Maafkan Aku Kak Nat, Dulu aku yang menginginkan ini terjadi. namun sekarang aku tak kuasa melihat mu tersakiti”


“Sudahlah, Aku yakin sehabis matahari tenggelam esok pagi akan ada matahari yang bersinar “


“Percayalah Alea, Aku sangat Menyayangimu! “


“Aku juga!” Balas Alea, Ia memeluk kembali Kakak iparnya itu dan segera berpamitan untuk menemui Kaka tertuanya yaitu Faaz.


“Natasha, Lihatlah peri kecil ini mengeluarkan air mata saat sedang tertidur”


”Mama, Mama, “ Gigo Aaleesya, Natasha kembali memeluknya.

__ADS_1


”sayang, Anak mama!” Panggil Natasha pelan sembari menepuk-nepuk kembali Aaleesya yang sedang tertidur dengan harapan Aleesya kembali tertidur dengan tenang.


”Anak ku, Natasha” Panggil Jimmy.


”Papa, jangan menangis dihadapanku. aku tidak apa-apa Papa”


“Papa yakin, kebahagiaanmu akan datang dengan sangat sempurna.”


“Pa...Paaa “ Tangis Natasha pecah saat memeluk Ayahnya itu, Natasha tak kuasa menahannya lagi. Mereka menangis kembali bersama setelah sekian lama Natasha mencoba tegar dihadapan ayahnya walaupun ia sering sekali mendapatkan perlakuan kasar dari Ibu dan Adik tirinya.


”Maaf Papa, membuatmu susah Anak ku” Ucap Jimmy lirih ditelinga Anaknya.


”Maaf, aku mengganggu waktu kalian “ Seru Faaz saat datang tanpa mengetuk pintu, Faaz melihat sisa air mata yang masih membasahi pipi Jimmy dan Natasha.


”Om Jimmy, Faaz minta Maaf. Saat itu Faaz kebingungan” Ungkap Faaz, Daaz bersimpuh dan memeluk lutut Jimmy yang sedang duduk diatas kursi Roda.


”sudahlah Nak, Lupakan Om tahu kau tak ingin membantah keinginan Ayahmu. Begitupun dengan Natasha yang sudah menyayangi Rido. Mungkin karena kebaikan Rido kepadanya “ Natasha menundukkan kepalanya, dan segera mengusap Air matanya.


”Natasha sudah menceritakannya?” Tanya Faaz.


“Tetapi Om, Faaz benar-benar sangat menyayangi Natasha. Apalagi sekarang Natasha sedang mengandung.”


”kita bisa berbicara kepada Rayna yang sesungguhnya, aku pun sudah meminta ijin kepada AliQ juga Papa”


“Tidak Faaz, Rayna Baru tersadar dari tidur panjangnya. Aku tak ingin memberinya beban yang sangat berat” Natasha menolak apa yang akan Faaz lakukan.


”Aku takut terjadi sesuatu dengan Kandunganmu” Ucap Faaz, Faaz menggenggam Tangan Natasha.


”Jalani saja Apa adanya dulu, kita bisa pikirkan hal ini Nanti.” pinta Natasha. Faaz menatap lekat Natasha sembari memegang wajah cantiknya menggunakan kedua tangannya.


”Faaz, berhenti di awal langkah atau melanjutkan karena sudah setengah jalan? Itu semua pilihan dan aku memilih untuk melanjutkannya” ucap Natasha.


”Aku wanita, Dia Wanita!! Aku mengerti akan perasaannya. Dan sejatinya wanita yang baik itu adalah wanita yang mampu memposisikan dirinya walaupun sedang dalam kesulitan. Dan aku minta doakan Aku agar mampu menjadi wanita yang seperti itu” Ucap Natasha kembali.


”Natasha, Aku semakin mencintaimu! Kau harus berjanji akan menjaga calon anak kita dengan baik” ucap Faaz, Faaz kembali memeluknya dan semakin mengeratkan pelukannya.


(TUHAN, Aku menyadari aku masih jauh dalam kata sempurna. Maka tuntunlah aku di jalan yang engkau ridhoi - batin Natasha didalam dekapan Faaz)


.


.


.


.


Keesokan harinya Natasha yang terbangun dan akan membersihkan dirinya, teringat jika pakaian-pakaian miliknya berada dikamar milik Faaz yang saat ini ditempati oleh Rayna. Natasha berjalan melangkahkan kakinya untuk segera menghampiri kamar tesebut. Namun saat itu ia sama sekali merasa takut. jika, ia melihat  Faaz dan Rayna sedang bermesraan.


"Aku tak ingin mengganggunya!"


"Tapi pintunya terbuka, seperti nya Faaz dan Rayna tidak sedang berbuat macam-macam" Gumamnya kembali.


"Aku bukan saja takut mengganggunya, Namun Aku takut merasa sakit hati" Gumamnya kembali.


"Fa,Az" Panggil Rayna, Ia terlihat sangat kesusahan saat memanggil Nama Faaz.


Prankkkk....(Suara gelas terjatuh)


"Nyonya, Apa ada yang bisa saya Bantu?" Tanya Natasha, yang begitu kaget saat mendengar suara gelas terjatuh.


"Pa. ang.gil Fa,az" Ucapnya, Natasha terlihat Iba melihat keadaan Rayna.


"Baik Nyonya, tunggu sebentar" Seru Natasha.


"Na,ta.sa' Panggilnya dengan sangat kesusahan.


"Iya" Jawab Natasha, seraya melirik kearah Rayna.


"Te ri m " Nafasnya tersengal. Natasha segera memasangkan Oksigennya yang sempat Rayna lepas.


"Nyonya Pakai ini iya, Alat ini membantu nafas nyonya agar lebih membaik" Ungkap Natasha, sembari berlari keluar kamar. Natasha segera mencoba mencari suaminya itu, Tak sengaja Natasha berpapasan dengan suaminya sendiri. dan sebenarnya Faaz juga sedang mencari Natasha.


"Faaz, Kamu darimana?" Tanya Natasha.


"Dari Taman, Aku pusing berada terus dikamar untuk menjaga Rayna!" Jawabnya


"Dia tidak ingin aku melepaskan tangannya!, Kau darimana sayang? Aku mencarimu sedari tadi" Keluhnya kepada Natasha.


"Untuk Apa mencariku?" Jawab Natasha.


"Aku merasa bahagia saat melihatmu Nat" gombalnya kembali.


"Faaz untuk saat ini, Rayna sangat membutuhkanmu. Ku mohon jangan buat ia merasa kesepian" Sahut Natasha, Faaz mencium kilas Bibir Natasha, Namun Natasha seperti ingin menolaknya.


"Temui saja dahulu istrimu, kasihan dia lebih membutuhkanmu"


"Tapi aku lebih membutuhkanmu Nat" Seru Faaz.

__ADS_1


"Suamiku yang sangat ku sayang, Aku sangat mencintaimu" Natasha mencium Pipi Faaz dengan Kilas, dan segera pergi meninggalkan suaminya. Faaz menatap Natasha yang sedang berjalan meninggalkannya.


"Nat, Maafkan Aku!" Gumamnya, Faaz segera menghampiri Rayna yang sedari tadi mencarinya.


Didalam langkahnya, batinnya bergejolak. Ia seakan ingin menangis dan berteriak dengan kencang. Ia menghentikan langkahnya dan bersandar di dinding lorong yang berada didalam rumah tersebut.


"Faaz " Tangisannya terhentak kala itu.


"Aku mencintaimu Faaz, Tetapi aku tak bisa menjadi orang yang serakah. Aku iba melihat Rayna seperti itu" Gumamnya saat itu.


"Hatiku sakit, Aku pun cemburu Faaz namun, harus kau tahu aku sangat mencintaimu" Gerutunya kembali.


"Aku harus terbiasa tanpamu, sampai akhirnya kau benar-benar pergi meninggalkanku Faaz"


"Benar apa kata Fizzy, Jatuh cinta Adalah patah hati yang disengaja"


"Natasha " Panggil Rido, Natasha segera berlari dan memeluk Papa mertuannya.


"Maafkan Papa Nak, Papa tidak tahu ini akan terjadi" Ucap Rido.


"Tidak Pah, mengapa Papa minta maaf kepadaku?" Tanya Natasha.


"Jujur saja, kau pasti merasa terluka dengan keadaan ini" Ujar Rido yang masih memeluk Natasha.


"Papa, Aku memang sakit hati? namun, Apapun yang aku lakukan saat ini adalah murni dari rasa iba ku kepada Rayna. Aku perempuan dan jika posisiku seperti itu akupun akan merasakan kecewa dan aku tak ingin Rayna merasakannya setelah ia sadar dari koma yang sangat lama" Jelas Natasha kepada papa mertuanya.


"Natasha, Tahukah?. kau benar begitu sangat mirip dengan Mama mertuamu."


"kesabaranmu, mulianya hatimu benar-benar mirip dengan istriku. Aku merasa tidak kehilangan istriku apabila melihat senyumanmu" Gumam Rido sembari tersenyum manis kepada Natasha.


"Aku sedih tidak dapat mengenal Mama mertuaku, jika saja Mama Masih hidup Aku akan menjadi menantu yang sangat bahagia karena bisa mendapatkan kasih sayangnya" Sahut Natasha.


"Apa kasih sayang Papa tidak cukup besar untukmu?"


"Besar dan sangat besar namun, sepertinya akan sangat besar jika aku mendapatkan kasih sayang dari keduannya" Jawab Natasha, Rido tersenyum saat mendengar Jawaban Natasha.


"Papa sangat menyayangimu Anak ku, Maafkan semua kesalahan suamimu. Percayalah Papa benar-benar sangat menyayangimu!" Kalimat yang keluar dari mulut Papa Rido menjadi obat yang sangat mujarab untuk hati Natasha.


(' Papa, hari ini Aku baru merasakan kasih sayang yang sangat besar dari orang yang mungkin asing bagiku, aku harap kau selalu sehat hingga cucumu tumbuh sempurna - batin Natasha)


****


Di taman, Fizzy sedang berbincang bersama AliQ. dua hari kedepan adalah hari yang sangat membahagiakan untuk Fizzy namun, tidak untuk AliQ. AliQ terlihat tidak memfokuskan diri saat berbicara dengan Fizzy. mungkin karena AliQ melihat Alea yang sedang menemani Aleesya bermain.


"AliQ, Bisakah kita serius berbicara?" Tanya Fizzy.


"Emmhmm, Iya"


"Baiklah kalau begitu, puaskan saja dahulu memandang Alea. setelah kau puas kau bisa memberitahu ku untuk berbicara serius denganku!" Gerutu Fizzy,


"Fizzy, berhentilah marah seperti itu. kau seperti tidak tahu saja. kapan lagi aku memandang senyuman adik mu seperti itu" Jawab AliQ dengan polos.


"AliQ " Panggil Fizzy sembari menajamkan matanya.


"Aku bercanda, kau terlihat tua jika marah seperti ini " Ujar AliQ sembari mencubit hidung Fizzy.


("AliQ.... mengapa kau melakukan itu ?" - gumamnya dalam hati )


"Jadi bagaimana? Apa yang akan kau bicarakan?" Tanya Aliq, Fizzy menatap Aliq dengan lekat.


"Hei !!!" panggil Aliq menyadarkan Fizzy.


"emm iya, aku ingin setelah menikah kita tidak diam disini" Seru Fizzy


"Dimana? di bulan? Apa di matahari?" Tanya Aliq seraya menggodanya.


"bahagia sekali iya, sepertinya dengan melihat Alea saja bisa membuatmu sangat bahagia"


"Sudahlah, Kau membuatku malu" Tandas AliQ, sembari menatap kembali Alea.


(Kau membuatku sakit, namun aku bahagia melihatmu tersenyum - batin Fizzy kembali sembari menatap AliQ)


"Alea " Panggil Qabil. Alea berlari memeluk Qabil dan Aliq melihat pemandangan itu.


.


.


.


.


NOTES :


Dan terkadang Rasa Cinta, sering membuat seseorang rela tersakiti demi orang yang Ia cintai.


Dan Sangat Mudah bagi wanita menjatuhkan air matanya, bukan bertanda dia makhluk Tuhan yang lemah. Namun dibalik air mata itu, Tuhan menciptakan kelembutan di dalam hatinya.- NATASHA.

__ADS_1


"Dan Wanita muslimah yang baik akhlaknya Serta bijak pembawaannya laksana mutiara dilangit ketujuh, tak sembarang orang bisa melihat dan menyentuhnya" - Papa Rido.


-Chumeyoks


__ADS_2