TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Athalla Damar anak ku!


__ADS_3

Malam itu, Fizzy sedang menunggu kedatangan Aliq. Ia sengaja menjemput Aliq di Airport, Fizzy begitu sangat mengkhawatirkan nasib yang sedang menimpa saudara kembar nya.


Apalagi Fizzy mendengar jika Rayna terlibat kembali permasalahan itu, dan Fizzy tidak ingin jika Kadar kebencian Aliq terhadap kakak nya itu bertambah banyak.


“Aliq, kau lama sekali” Gumamnya di dalam hati.


“Fizzy,” Panggil Aliq, Fizzy menoleh ke arah suara suami nya. ia pun berlari dan segera meneluk tubuh suami nya, Ia menangis tersedu-sedu. Fizzy sengaja belum menceritakan permasalahan ini kepada Aliq, walaupun sedari siang tadi komunikasi mereka sangat lah lancar.


“Mengapa kau menangis?, Apa terjadi sesuatu?, dan mengapa kau meminta ku pulang lebih awal?” Cerocos pertanyaan yang Aliq berikan, tak manpu sama sekali Fizzy menjawab nya.


“Aliq,” Tangis Fizzy kembali seraya memeluk tubuh kekar suami nya, “Natasha!” ucap Fizzy menyebutkan nama Natasha, Ia kembali menangis di dalam dekapan Aliq.


Aliq tak mengerti sama sekali dengan apa yang sedang Fizzy rasakan, Aliq mengangkat wajah istrinya itu dan menatap wajah istrinya dengan lelat lalu, menyimpan kedua tangan nya tepat di lengan atas Fizzy.


“Apa yang sedang terjadi Fizzy?” Tanya Aliq, “Ayo kita duduk dulu disana,” ajak Aliq kepada istri nya itu.


Mereka pun duduk, “Ceritakanlah mengenai kegundahan mu, mengapa dengan Natasha?”


“iya sedang dalam keadaan kritis, Begitupun dengan Qabil” Ucap nya


“Qabil?, ada apa Fizzy? Mengapa Faaz tak memberitahu ku!,” Tutur Aliq, “Ada apa ini?” Tanya nya penasaran.


“Aku pun sedang berada di kantor, Saat itu Uncle menghubungi Faaz dan memberitahu keadaanya. Bahkan hari ini aku belum menemui Faaz di Rumah sakit, Karena kesibukan kantor yang tidak bisa aku tinggalkan” Gumam Fizzy.


“Cerita nya panjang sekali,” Ucap Fizzy, Ia menceritakan detail kejadian tersebut kepada Aliq, Tak hanya itu Fizzy pun menceritakan mengenai rekaman CCTV yang menunjukkan Rayna saling bersahut pagut bersama lelaki yang di duga adalah Aidil.


“aku belum sempat menemui mereka di rumah, hanya saja Uncle yang menjelaskan dan menceritakannya!” seru Fizzy, “Bahkan Alea merasa sangat terpukul!,” Ucap Fizzy kembali.


Aliq mengepalkan tangannya, “Apa Rayna benar-benar terlibat?,” Tanya Aliq, “Memalukan sekali dia!,”


“Entahlah semua bukti mengarah padanya, bahkan sebelumnya dia dan Alea saling bersitegang. Alea mendengar kan setiap Amcaman yang Rayna utarakan” Ucap Fizzy kembali.


“MEMALUKAN Sekali !!! Aku akan membuat nya jera jika ia terbukti bersalah!,” Ancam Aliq seraya meluruskan pandangan nya, Aliq merasa kesal kepada kakaknya itu. Tak berselang lama Aliq mengajak Fizzy untuk datang menemui Faaz kerumah sakit tempat Natasha dan Qabil di rawat.


Di dalam perjalanan, Aliq tak sekali menggenggam tangan Fizzy. Ia mencoba menenangkan hati istrinya itu, “Berdoalah, semua akan baik-baik saja. Percayalah pada Tuhan!!” ungkap nya.


“Aku takut Aliq, yang aku pikirkan bukan hanya keselamatan Qabil dan Natasha saja melainkan calon keponakan ku!!, dan Aku sangat takut jika Alea kembali depresi bagaimana kondisi Papa nanti” keluh Fizzy kepada suaminya itu, “ Aku takut Aliq, Aku takut!!!” Ungkap nya kembali.


Aliq menghentikan laju mobilnya, “Tatap Aku, kuatkan diri mu!, Aku janji akan melindungi kalian!!” Ucap Aliq, Ia mengecup kening Fizzy dan Fizzy menyenderkan kepala nya di bahu Aliq, Aliq pun kembali melajukan mobilnya.


Sesampainya di Rumah sakit,


Aliq dan Fizzy segera menghampiri Faaz, Aliq memeluk tubuh Faaz dan mengucapkan maaf atas nama Rayna kepadanya.


Faaz menyambut pelukan hangat Aliq itu dengan senyuman, Aliq dan Faaz pun berbincang.


“Aku tak menyangka akan ada hal seperti ini, Maafkan Rayna jika memang ia terbukti bersalah” Ucap Aliq, Faaz menganggukkan kepala nya.


“Sudah banyak sekali kesalahan yang Ia perbuat Liq, Hingga aku lupa mana saja kesalahan itu dan kali ini Aku tidak bisa membiarkannya. Maafkan Aku!” ucap Faaz, Aliq menepuk pelan bahu nya.


“Ketentuan hukum yang berlaku itu berikan saja Faaz, sesekali memang Rayna harus dihukum! Jika kita selalu membiarkannya, dia akan selalu bersikap seenaknya!” Ujar Aliq, Ia menyetujui apapun yang akan mereka lakukan untuk kakaknya jika terbukti bersalah.


“Faaz, Apakah aku bisa melihat Natasha dan bayimu!” tanya Fizzy.


“Aku juga belum bisa melihatnya, Dokter juga belum memberitahu anak ku perempuan atau lelaki. Aku berharap Natasha dan Anak ku selamat” ungkap Faaz.


“Bagaimana keadaan Qabil?” Tanya Aliq.


“Aliq banyak sekali kehilangan darag, untunglah ada seseorang yang bisa mendonorkan darahnya.” Ujar Faaz.


“Kami sempat bingung mencari pendonor untuk Qabil karena ternyata Qabil memiliki golongan darah yang sangat langka” Timpal Maliq.


“Aku tak sabar ingin melihat keadaan Natasha!” Gumam Fizzy, “Faaz esok aku akan membawa Alea ke psikiater, Aku sudah menyimpan janji bersama dokter Hans” Ucap Fizzy meminta ijin kepada Faaz.


“Iya, ajaklah. Aku harap Alea masih bisa mengontrol dirinya!” Gumam Faaz.


“Kami pamit iya, hari sudah malam sekali. Aliq juga belum sempat istirahat, dia baru saja datang dari Inggris!”


“Iya, maaf jika Fizzy membuat mu terburu-buru pulang,”


“tidak apa-apa, Aku juga merasa tidak betah jika berjauhan dengan istriku” Gumam Aliq membuat Fizzy terpanah.


“Baiklah, Pulanglah. Terimakasih kalian sudah menemui ku disini” Ucap Faaz sembari memeluk Aliq dan Fizzy bergantian, merekapun pamit untuk pulang.


.


.

__ADS_1


.


Alea berteriak dengan keras, “Rayna, Kau akan mati di tanganku jika terjadi sesuatu kepada Qabil ataupun Natasha! Kau wanita pecundang, Aku membenci dirimu”


Rayna mendengar setiap teriakan Alea, Rayna merasa merinding mendengar ancaman tersebut.


“Ya Tuhan!!,” Rayna mengunci kamarnya dari dalam, terdengar jika Abrar dan Rido mencoba menenangkan Alea. Karena sebelumnya, Alea mencoba menerobos kamar Rayna dengan menendang-nendang pintunya.


“Aku harus apa?” tanya Rayna.


Rayna berjalan mencoba meraih ponselnya, Ia mencoba menghubungi Aidil.


Tut


Tut


Panggilan tersambung..


Aidil menerima panggilan tersebut,


“Halo!” sapa Aidil jauh disana, Rayna menghirup nafas nya dengan kasar.


“Kau dimana?” Tanya Rayna, “ Siapa lelaki itu dan mengapa kau mengirim nya untuk mencelakai Natasha!!” ucap Rayna.


“Maafkan Aku!” ungkap Aidil, “Aku menyuruh nya untuk mencelakai Alea bukan dia!” Ungkap Aidil kembali.


“Kau!” Teriak Rayna namun segera menghentikannya, Rayna takut jika suara itu terdengar oleh orang yang berada di luar kamarnya.


“Kau mengapa mencelaki orang-orang dirumah ku, Aku sudah bilang semua batal!!” Bisik Rayna, Ia pun menyayangkan apa yang sudah Aidil lakukan.


“Aidil, Aku tak mau terlibat lebih jauh!! Hentikan semua ini atau aku yang akan membuat mu berhenti melakukan kejahatan seumur hidupmu!” Ancam Rayna.


“Ray, Aku tidak akan berhenti melakukan itu jika kau tetap mengadukan banyak hal yang menyakitimu padaku!!” Gumam Aidil,


“Sudahlah, Kau yang bersalah disini! Bukan Aku” tandas Rayna membuat Aidil kesal, Rayna pun mematikan sambungan pada ponselnya.


Jauh di tempat yang berbeda, Zain berhasil merekam semua aktifitas yang sedang Rayna lakukan. Rekaman mengenai Rayna sedang beranjak dari kursi rodanya dan berjalan mondar mandir tak karuan hingga perbincangan bersama Aidil di dalam ponselnya.


Zain melekatkan pandangannya, “Bukti sudah sangat kuat!” Ucap Zain, “Kau salah karena telah memainkan keluarga ku! Dan kau akan berhadapan dengan ku Rayna!!” ucap Zain kembali.


Keesokan harinya.......


“Allahuakbar,Allahuakbar..” Faaz mengadzani anaknya sembari meneteskan air mata, Ia membisikan suara Adzan itu melalui celah kecil inkubator yang di pakai anaknya.


Tangisan nya pecah kala ia menatap wajah mungil itu, Anak lelaki tampan darah dagingnya sendiri. Harus lahir dengan berat yang belum mencukupi, bahkan kelahiran nya sangat rentan dengan kematian. Selesai mengadzani nya, Ia membisikan nama nya “Athala damar RidoLohi” Nama sederhana namun penuh Makna,


“Nama mu Athala damar Ridolohi, Papa berharap kau menjadi lelaki taat yang Allah karuniai dan menjadi penerang di dalam Rido Allah” Gumam nya, Ia menyeka air matanya. Melihat kondisi sang anak yang memprihatinkan namun dirasa anak tersebut cukup kuat, Faaz sangat bersyukur karena bayi mungilnya diberi kekuatan besar oleh Allah Swt.


“Tuan, waktunya sudah habis” ucap seorang perawat, Faaz pun segera bergegas melangkahkan kaki nya keluar dan sebelum keluar dari dalam ruangan. ia menoleh kembali anak nya itu, “Sebentar sus, 2 menit saja” Ucapnya, suster pun mengijinkan nya.


“Nak doakan Mama mu, dia sedang berjuang di dalam masa kritis nya. Doakan agar dia cepat pulih dan kita hidup bersama-sama, maafkan Papa tidak bisa menjaga mu dan juga Mama mu” Air mata itu kembali berderas, perawat pun memperingati kembali dan Faaz akhirnya keluar meninggalkan ruangan anaknya.


“Apa dia tampan seperti kami?” Tanya Mael, Faaz tak kuasa menjawab nya. ia memeluk Maliq dan juga Mael dan menangis di dalam pelukan nya.


“Begitu banyak alat yang menempel di tubuh anak ku, Aku tak tega melihat nya!” Ungkap Faaz, “Mengapa bayi sekecil itu yang mengalami hal ini, mengapa bukan nya aku saja. Kasihan dia!” ungkap Faaz kembali.


“Faaz, yakinlah keponakan kita akan sehat dan hidup dengan kita. Dia akan menjadi jagoan kita semua!!” Ucap Mael,


“Iya, Dia akan jagoan seperti kita!!” ucap Maliq menimpali ucapan Mael.


“Kakak harus kuat dan tabah!!” Seru Maliq, merekapun berpelukan kembali.


“Siapa namanya? Apakah kakak sudah memberi nama kepada nya?” Tanya Maliq.


“Sudah, Namanya Athala damar Ridolohi” Ucap Faaz, “Papa yang memberikan nya, aku menambahkan nama Papa dibelakang” Ucap Faaz kembali.


“Nama yang mengandung penuh makna!,” Ucap Mael, “Iya, nama yang sangat indah” Timpal Maliq.


“Ngomong-ngomong bagaimana keadaan wanita itu?” Tanya Mael.


“Wanita siapa?” Jawab Maliq membalikkan pertanyaan Mael.


“Wanita si pendonor darah itu, apakah dokter sudah memberikan hasil tesnya?” Tanya Mael kembali.


“Sudah, syukurlah hasilnya baik dan dia sudah memberikan 2Kantong darah untuk Qabil” Ucap Faaz, “Namanya Noni, kita harus mengucapkan terima kasih kepadanya” Ucap Faaz kembali.


“Katanya, dia pernah ketemu kamu Maliq? Dimana?” tanya Mael.

__ADS_1


“Aku saja lupa, mungkin wajah ku terlalu pasaran hingga dia berpikir pernah bertemu dengan ku!” Gerutu Maliq, Mael pun tertawa.


“Aku akan pulang sebentar, Aku harus melihat keadaan Aaleesya. Sedari tadi Ia selalu menghubungi melalui Panggilan Video, kasihan dia” Ucap Faaz.


“Faaz, kau tak boleh membahas masalah ini kepada Rayna dulu!” Ucap Mael.


“Aku mengerti itu, Uncle sudah memberitahu ku!” jawab Faaz, “Tolong beritahu Aku jika terjadi sesuatu, Aku tidak akan lama!” ucap nya kembali, Ia pun segera pergi untuk pulang sebentar ke rumah nya.


“Tuan, Maaf. Apa kalian lihat Tuan Tampan yang memberikan ini” Ucap Noni kepada Mael,


“Apa itu?” Tanya Mael.


“Aku tidak membutuhkan ini, Aku menolong pasien Golden Blood karena dia satu nasib dengan ku. Tolong beritahu aku dimana tuan itu!” ucap Noni, tatapannya menjadi tatapan maut untuk mael. Cantiknya noni melebihi Kecantikan Ayana, Mael begitu terkesima hingga tak mampu menjawab pertanyaan nya.


Berbeda dengan Maliq, Ia terlihat lebih santai saat wanita itu menggunakan bibir mungilnya untuk berbicara tanpa jeda.


“Cantik sekali!!” Gumam Mael di dalam hatinya.


Noni menghela nafasnya, “Halo!!!” sembari melambaikan tangannya, Noni berusaha menyadarkan lamunan Mael.


“aah Iya, memangnya apa yang kakak ku berikan?” tanya Mael.


“Oh itu kakak mu, kirain aku bos kamu!” cerocos nya membuat Mael menelan ludahnya sendiri.


“Maaf Tuan, aku bercanda!” tutur nya kembali, “Tuan siapa tadi namanya?” Tanya nya sembari tersenyum manis.


“Mael!” Sembari mengulurkan tangan nya.


“Bukan Anda!, tapi Tuan tampan tadi” Ucap Noni seraya menyembunyikan tawa kecilnya, Ia sebenarnya ingin sekali tertawa melihat wajah Mael yang terlihat polos.


“Oh, Dia namanya Faaz.” ucap Mael memberitahu nama Faaz kepada Noni.


“Apa dia akan datang lagi?” Tanya Noni, “Aku harus mengembalikan ini ke atas tangan nya itu, Aku menolongnya dengan ikhlas. Dia tak perlu membayarku!” Ujarnya kembali.


“Terima saja, Tak usah menolaknya!” Ungkap Maliq yang duduk di atas kursi tunggu, Noni menatap nya dengan tatapan kesal.


“Menerimanya?,” tanya Noni, “Hadeuh” Matanya mendelik kesal.


“Apa kau tak mengerti jika Aku tak ingin menerimanya!, Dasar Orang kaya!, Apa-apa pake duit!!” ucapnya.


“Nona Noni...” Noni menyela kala Maliq memanggilnya dengan sebutan Nona, “Noni saja Tuan” Ucapnya.


“Maaf Noni!, Maksud ku!” Maliq berdiri dan mengajaknya bicara.


“Kami ikhlas memberikan uang itu, Anggap saja uang itu hasil kerja keras mu!” ucap Maliq


“sebanyak ini?” Tanya Noni, Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Tidak bisa!!, Aku tidak merasa susah jadi untuk apa aku memakan uang ini” Ujar Noni, Mael tertawa kecil melihat tingkah wanita itu.


“Lagipula Aku tidak menjual Darah ku!,” Ucap Noni, “Aku titipkan uang ini kepada mu, berikanlah pada Tuan tampan itu” Ucap Noni kembali seraya memberikan Amplop yang berisikan sejumlah uang.


Ia pergi tanpa berpamitan kepada Mael dan Maliq, Mael pun terlihat kagum melihat sikap dingin wanita itu.


Maliq memanggilnya, “Nona Noni” Noni menoleh, “Noni saja” Jawabnya sembari mengelikkan matanya.


“maaf Noni!,” Ucap Maliq, Ia berjalan menghampiri Noni.


“Jika kau memang tak mau menerima ini, Apa kau mau menerima ku untuk mengantar mu pulang?” Tanya Maliq,


Noni terlihat berpikir, “Hmnmm”


“Jika tidak mau ya sudah!” Ucap Maliq sarkas, membuat Noni mengerutkan dahi nya.


“Kau mau memberi tawaran kepadaku atau mau mengajak ku untuk ribut Tuan?” Tanya Noni, Maliq pun mengingat jelas pertemuan nya dulu bersama Wanita keras ini. Maliq menyipitkan kedua matanya, memicingkan nya seraya menatap lekat wajah Noni.


“Aku ingat sekali siapa dirimu!” Ucap Maliq


“Kau!, wanita yang menumpahkan saus di acara pertunangan Shawn! Hah sudah kuduga kau wanita keras kepala itu!!” Ungkap Maliq, Noni mengerucutkan bibirnya seakan ia kesal menerima umpatan Maliq.


“kau mengenalnya?” Tanya Mael Polos.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2