
2 Minggu kemudian....
Sore hari itu Aidil tiba-tiba datang menemui Alea, saat itu kebetulan Aidil bertemu Rido di halaman depan rumahnya dan setelah Aidil berbincang sebentar bersama Rido, Rido pun mengarahkan Aidil ke taman, karena Alea sedang berada di Taman bersama anaknya.
Dari kejauhan Aidil melihat Alea sedang mengajak bayi nya yang baru berusia satu bulan itu bermain, Aidil tersenyum saat melihat kebahagiaan Alea.
Aidil menghampirinya, "Halo Alea, Apa kabar? " Tanya Aidil, Alea menjawab dengan senyuman lalu, "Baik Kak, Kakak sendiri gimana? " Tanya Alea, Alea terlihat sangat cantik saat memakai hijab.
Alea memang memutuskan untuk berhijab sesaat setelah melahirkan anaknya, Rido dan keluarga ikut senang saat melihat perubahan Alea yang sangat positif. aura kecantikannya sangatlah sempura, apalagi Alea kini sudah sangat merasa bahagia karena kehadiran buah hatinya.
"Syukurlah, Kak Aidil ikut senang" Ucap Aidil, "Oh iya, ini hadiah untuk Tessa. isi Sosial media Alea semua dipenuhi oleh Tessa iya, Uncle sangat senang saat melihatnya" Gumam Aidil.
"Iya Kak, dia benar-benar sumber kebahagiaan ku" Ucap Alea.
"Oh Iya Alea, gimana perkembangan Tessa? " Tanya Aidil.
"Qadarullah, baik Kak. ia sangat pintar sekali, Oh iya kakak mau ketemu Kak Faaz? " Tanya Alea sembari berbincang bersama Aidil, Alea terlihat menggendong anaknya.
"Oh tidak, aku tahu Faaz sedang berada di Brisbane, Ucap Aidil, "Oh iya Maaf jika Kak Aidil baru bisa hari ini menjenguk kamu dan Tessa", kemarin juga sempet ketemu Fizzy dan Aliq disini, katanya kamu lagi ke makam Qabil." Ucap Aidil kembali dengan nada yang sangat ramah.
"Oh iya, kemarin Noni mengantarku." Jawab Alea.
"Dengan ku? " tanya Alea keheranan.
"Mmm, Iya Alea" nada bicara Aidil terlihat sangat kaku, Ia pun melanjutkan pembicaraannya bersama Alea.
"Begini, selama 6 bulan ini. Aku selalu bermimpi akan satu hal, Aku pun sempat mengenal dua orang gadis seusia diriku namun rasanya Aku merasa tidak memiliki kecocokan? " Ucap Aidil,
"Apalagi saat Aku tahu kau mengandung tanpa adanya Qabil, batinku menderita. Aku menyesali perbuatan ku saat itu, dan aku memiliki harapan baru terhadap mu"
"Dan aku selalu memikirkan kisah mu, aku selalu memikirkan hal tentang mu! dan Aku sempat menceritakan hal ini kepada Faaz dan juga Papa Rido"
"Lalu? " Tanya Alea.
"Mereka menjawab, semua dipasrahkan atas kehendak mu dan aku hanya ingin bertanya kepada mu, " Aidil terlihat memejamkan matanya, "Aku ingin menikah denganmu, menjadi sosok orang tua untuk Tessa dan menjadi pelindung untuk mu dan Tessa." Alea merasa terkejut dengan pengakuan Aidil.
"Aku ingin menembus semua kesalahanku kepada mu, aku rela menanggung semua beban mu itu Alea! " Aidil menatap penuh wajah Alea, "berikan aku kesempatan itu Alea" Ucap Aidil kembali.
"Maaf sebelumnya Aku sudah sangat lancang kepadamu, " Sambung Aidil.
"Maaf Kak Aidil, semua sudah aku maafkan. termasuk kesalahan Kak Rayna, aku sudah melupakannya. bagiku kalian berdua bagai kertas kosong tanpa tinta, sudah tidak ada lagi kesalahan atas kalian terhadap ku! " Ungkap Alea penuh kelembutan, Ia memegang lengan bawah Aidil. menatapnya dengan senyuman, Alea benar-benar sudah tidak memiliki hati dendam terhadap Aidil ataupun Rayna.
"Sekali lagi Aku minta maaf Kak Aidil, sebenarnya aku tidak bisa menerima pernikahan ini, Aku akan membesarkan Tessa seorang diri. masih ada Kak Faaz, Kak Fizzy dan Maliq yang membantuku membesarkan Tessa, apalagi Kak Natasha, Kak Aliq dan Noni sangat menyayangi mereka." ucap Alea yang saat itu menolak keinginan Aidil, "Maafkan Aku Kak Aidil," Ia berbicara sembari mengatupkan kedua tangannya, Aidil mengerti kalimat penolakan yang Alea berikan.
Aidil menundukkan kepalanya, "Baiklah, Aku mengerti Alea. terimakasih kau sudah memaafkan kesalahan ku, aku harap kau tak akan pernah sungkan saat meminta bantuan kepada ku dan aku harap kau selalu menjadi Alea yang kuat" Ungkap Aidil, Alea tersenyum sangat hangat.
"Aku juga berharap kau selalu di dalam lindungan Tuhan Kak, semoga Tuhan memberikan mu jodoh yang baik, cantik dan memiliki budi pekerti yang baik"
"Mmmph, Amiin Alea, terimakasih karena kau sudah mau berbincang dengan ku" Sahut Aidil, Alea pun meminta ijin untuk masuk karena Tessa sudah tidak sabar untuk meminum susu.
"Aku tahu Alea, cinta mu untuk Qabil tak akan hilang begitu saja. namun, harus kau tahu. aku akan selalu memperhatikan dirimu dan anakmu itu satu-satu nya cara untuk aku menebus semua kesalahan mu, kau terlahir sempurna Alea bahkan hati mu sama mulianya dengan Ayahmu" Ucap Aidil di dalam hatinya.
"Tessa, sini Uncle gendong." Aidil mencoba menggendong Tessa, Alea pun tersenyum sembari memberikan Tessa.
"Oh Iya, Kak Rayna dimana sekarang?" Tanya Alea.
"Satu bulan yang lalu aku sempat bertemu dengannya, tetapi sudah dua minggu ini dia tidak bisa di hubungi" Jawab Alea.
"Kak Aliq bilang sih, katanya Kak Rayna akan menetap di Negara Belanda" Ucap Alea sembari berjalan bersama Aidil.
"Oh gitu dia gak cerita sih sama aku, " Sahut Aidil
"Kak Aliq juga gak tau kapan Kak Rayna pergi, cuma katanya Kak Ray ingin menenangkan dirinya sendiri" Ucap Alea.
"Iya biarlah, mudah-mudahan Rayna benar-benar berubah." Aidil mengembalikan Tessa kedalam pelukan Alea, Aidil tersenyum dan segera berpamitan.
"Aku pamit iya, maaf udah ganggu waktu kamu" Ucapnya.
"Gak ganggu kok Kak, " Sahut Alea, "Eh ini makasih iya kadonya, Kak Aidil semoga sehat terus dan jangan pernah lupa pulang kesini iya" Ucap nya kembali.
"Pasti Lea, disini tempatku di besarkan." Sahut Aidil, Ia tersenyum lalu melangkahkan kakinya.
"Kak Aidil, " Panggil Alea, Aidil menoleh.
__ADS_1
"Makasih Kak Aidil udah mengerti keadaan Lea" Aidil mengangguk pelan di iringi senyuman yang sangat manis, Alea menghela nafasnya dengan ringan. ia pun berjalan dan masuk kedalam rumah.
Ia melihat jika Rido dan Maliq sedang melakukan panggilan Video bersama Ayana dan Mael, mereka akan pulang 2 bulan lagi. Ayana pun masih dalam masa transisi kerja di suatu rumah sakit dan ia akan memulai pekerjaannya 3 bulan ke depan, jadi Ayana menghabiskan waktu untuk mengurus semua permasalahan di dalam perusahaan milik Letycia itu.
Perusahaan itu akan di kelola oleh Yofie dan Ayana sedang menunggu kepindahan keluarga Yofie dari Italia ke Inggris, awalnya perusahaan itu akan mendapat bantuan dari Faaz dan Aliq namun, Rido berkata lain. Rido ingin amanah itu diberikan kepada Yofie dan awalnya Yofie menolak namun, Rido mencoba meyakinkan yofie untuk tetap percaya diri dan akhirnya Yofie mau mengurus semua yang berhubungan dengan perusahaan milik Zain dan Letycia.
"Halo, keponakan Aunty! " Ucap Ayana.
"Halo, Aunty. cepat pulang dong! " Rengekan Alea membuat Ayana merasa sedih, ia meneteskan air matanya. rasa rindu itu sudah sangat menggunung, apalagi saat ini Ayana selalu merasa gundah saat mengingat sosok Zain dan Rido.
Apalagi Ayana tahu jika kakek kesayangannya sekarang dalam keadaan sakit, rasa rindu itu selalu muncul. maka dari itu Ayana selalu melakukan sambungan Video bersama Rido dan anggota keluarga lainnya.
"Aunty Rindu aku kan? " Tanya Alea, "Jangan menangis Aunty" Ucap Alea kembali, namun Alea pun merasakan hal yang sama. ia membendung air matanya, seakan air mata itu sudah ingin jatuh membasahi pipi.
"Iya Tessa, doain Aunty ia.. agar Aunty bisa secepatnya pulang dan menggendong Tessa" Sahut Ayana.
"Kasih Tessa temen juga ya Aunty" celetuk Maliq.
"Iya Uncle Maliq, Uncle juga cepat nikah iya" Balasan celetuk Ayana membuat Alea dan Rido tertawa keras, mereka melihat raut wajah Maliq yang merasa terpekik karena kalimat Ayana.
"Iya, Iya sayang ku. adik ku sayang! " Pekik Maliq.
Ayana tertawa dan merasa terhibur karena melihat wajah Maliq yang terlihat memerah, sebenarnya Maliq dan Noni sudah merencanakan pernikahan mereka namun, Maliq baru saja akan menggelar acara wisudanya.
"Maliq, kau membuatku terhibur. rasa rindu ku sedikit berkurang," Ujar Ayana di iringi tawa kecilnya.
"Terimakasih Ayana, " Sahut Maliq sembari tersenyum lebar, Ayana semakin tertawa di buatnya. padahal sebenarnya tidak ada yang lucu dalam diri Maliq, entahlah semenjak Ayana menikahi Mael. rasa bahagia itu selalu ia pancarkan, mungkin karena sikap Mael yang lucu dan selalu mencairkan suasana Ayana.
"Sayang, Papa doakan agar secepatnya kamu dan Mael diberikan keturunan. jangan merasa lelah dan berhenti berdoa iya! " Ayana tersenyum mendengar kalimat yang di berikan Rido, "Sehat terus iya." Ayana kembali tersenyum dan memberikan kecupan manis melalui telapak tangannya, tak lama kemudian mereka mengakhiri sesi pembicaraannya itu
"Alea berdoa semoga Ayana dan Mael segera mendapatkan anak" Ucap Alea.
"Iya Papa pun begitu, "
"Alea juga berdoa semoga Maliq dan Noni segera menikah, " Celetuk Alea kembali membuat Maliq kembali merasa terpekik.
"Aminnnn" Ucap Maliq sembari beranjak dari duduknya, Maliq berjalan meninggalkan Rido dan Alea.
.
.
Enam Bulan kemudian,,,
Pada malam harinya, Rayna sudah terdiam di dalam ruangan sempit dan gelap berukuran 2X3 meter persegi selama 5 bulan lebih lamanya. Kini, Rayna merasakan dinginnya penjara itu, sesekali air matanya menetes tak karuan bahkan Rayna terlihat menyesali perbuatannya.
Sewaktu polisi mengintrogasi dirinya, ia menuturkan semua kejadian yang telah ia lakukan. mungkin, kalimat yang Faaz berikan membuatnya sedikit membuka mata. Rayna pun menjelaskan kronologis kejadian itu dari mulai sebuah niat yang dia atur hingga hal itu terjadi, Ia pun memberitahu alamat yang sempat ia berikan kepada Remy dan Ary.
Usut punya usut, polisi sudah mengerahkan semua pasukannya bahkan beberapa polisi pun mencari tahu dan membuat pemblokadean jalan. semua kepolisian pun dikerahkan, Faaz dan Aliq maupun Rayna berharap agar Remy dan Ary belum menghilangkan nyawa anaknya.
Rayna membungkukkan kepalanya, hingga kepala itu menyatu bersama lutut dan dadanya. ia menangis terisak, menangis karena telah menyesali perbuatannya bahkan jika Alea ada dihadapannya, ia ingin sekali berlutut memohon ampun kepada Alea.
Namun, Aliq sudah menjelaskan jika keluarga Faaz sama sekali tidak mengetahui hal ini dan mereka meminta agar Rayna tak memberitahu hal ini jikalau pun ia sudah merasakan kebebasan nanti.
Satu bulan, dua bulan pun hingga kini 6 bulan sudah berlalu, kasus Rayna kini sudah ditangani oleh kejaksaan dan Bayi Alea tidak pernah terdengar kembali, bahkan Remy dan Ary pun bak di telan bumi. jangankan raga nya, bayangan nya saja tidak diketahui oleh polisi.
Polisi hanya berucap jika seorang saksi mata berbicara bahwa seseorang menjemput Remy dan Ary memakai mobil dan mereka bilang jika Remy sama sekali tidak membawa seorang bayi.
Kini, Rayna masih menjalankan sidang. dan ini adalah sidang kedua untuk Rayna, entah berapa lama Rayna harus mendekam di dalam penjara yang jelas Faaz dan Aliq tidak mau mengurasi masa remisi nya.
Dan kabarnya, Rayna akan menjalani proses hukum selama 15 Tahun. namun, Rayna mencoba mengikhlaskan keadaan dirinya. Rayna merasa legowo bagaimanapun keputusan yang hakim dan Jaksa buat untuk nya.
"Ya Tuhan, Aku tahu aku bersalah. tiada dendam lagi untuk mereka dariku! Namun, Aku mohon buatlah hati mereka tak membenci diriku." Ucap Rayna yang selalu berdoa, sudah 6 bulan lamanya ia mendekam di balik jeruji besi tak ada sanak saudara bahkan mantan suaminya menjenguk dirinya. kasusnya memang ditutup rapat-rapat pihak media menganggap sosok model itu hilang bak ditelan bumi, keluarga Rido pun sudah mengikhlaskan kepergiaan Anak Alea tanpa Alea ketahui.
Rayna menangis terisak, "Lea, Maafkan aku. Qabil maafkan aku, seharusnya aku melihat kebaikan mu sebelum melakukan hal jahat kepada Anak mu itu, Maafkan aku Qabil.. maafkan Aku!! " Lirih Rayna kembali.
suara Gembok terbuka, Grerkkkkk..... kreeeek
"Saudara Rayna," Panggil Seorang petugas tahanan, Rayna memang memiliki sel pribadi.
"Iya Tuan, "
"Ada seseorang yang ingin menemui mu! " Ucap petugas Sembari melenggangkan kepalanya, ia mengajak Rayna untuk bertemu seseorang. Rayna ikut bersamanya, ia melangkah dengan kaki yang sangat berat.
__ADS_1
Rayna sangat berharap jika Papa ataupun Adiknya itu menjenguknya, saat ia melihat sosok orang tersebut, ia terkejut.
Ia tak menyangka jika Natasha lah yang menemui dirinya itu, mereka berbicara melalui telepon namun, Rayna dapat melihat wajah Natasha melalui kaca.
"Halo Kak Ray, Apa kabar? " Tanya Natasha, Natasha melihat tubuh Rayna yang jauh lebih kurus.
"Natasha, " Ucap Rayna yang sama sekali tidak menyangka.
"Iya Kak, ini aku! " Ucap Natasha kembali.
"Bagaimana mungkin kau dapat menemui ku?" Tanya Rayna.
"Karena Faaz yang mengantar ku!, aku memaksanya untuk bisa mengantarkan ku kesini" Ucap Natasha, "Kak, aku sangat menyesali keadaan ini. jujur aku kesini karena ingin bertemu dengan mu! " Ucap Natasha kembali.
"Terimakasih Natasha, terimakasih atas perhatian yang kamu berikan" Sahut Rayna.
"Aku meminta maaf atas kesalahan ku, entah kepada mu, ataupun kepada semuanya. Aku benar-benar menyesal" Ucap Rayna sembari menundukkan kepalanya, Rayna menangis terisak di hadapan Natasha.
Awalnya Natasha sama sekali tidak mengetahui permasalahan ini, bahkan Natasha juga tidak tau akan terjadi hal seperti ini. semenjak Rayna meminta maaf di hadapan semua keluarganya, semenjak itu pula Rayna selalu bersikap baik terhadap Natasha dan itu membuat Natasha berpikiran positif kepada Rayna..
Lalu, permasalahan ini muncul kembali dan Natasha masih saja berpikiran positif kepada Rayna. harapan untuk Rayna berubah selalu ada di dalam benak Natasha, bahkan saat ini Natasha ingin sekali memberikan sebuah pelukan dan mencoba menenangkan perasaan Rayna.
Natasha membuka ponsel nya, ia memutarkan suara Aaleesya dan memberikan sebuah kalimat yang sangat menyentuh hati Rayna.
Rekaman suara pun di putar dan di dengarkan di dekat gagang telepon yang sedang dipegang oleh Natasha dan Rayna.
"Halo Mama Ray, Aku merindukan mu. kata Mama Natasha, kau perempuan yang sangat hebat dan aku bangga karena telah dilahirkan dari rahim mu! ku harap Mama bahagia saat berada di manapun peluk cium dari Esya untuk Mama"
"Esya kangen Mama Ray? " Tanya Natasha terdengar.
"Iya, aku merindukan nya Mama" Sahut Aaleesya.
Rayna menangis, ia seakan mengeluarkan tangisannya hingga kembali terisak. Rayna tak mampu berbicara apapun, ia benar-benar merindukan sosok anaknya.
Bagi Rayna, Bagaimana mungkin seorang anak berusia 6 tahun bisa berbicara seperti itu dan esok adalah hari ulang tahun Aaleesya. hari dimana ia akan merasa bahagia, Natasha sengaja meminta Faaz mengantarkannya untuk menemui Rayna.
Natasha sempat mendengar percakapan diantara Faaz dan Aliq, Natasha pun diam-diam mencari tahu. Natasha mengajak Faaz pergi dan saat di tengah perjalanan, Ia terus menerus memaksa Faaz menceritakannya.
Dan Faaz segera menceritakan detail permasalahan ini, Natasha begitu sangat terpukul akan permasalahan ini. dan sebelumnya Natasha sendiri memiliki firasat buruk mengenai kejadian ini, namun Natasha enggan menuduhkan apa yang akan menjadi tuduhan untuk Rayna karena Natasha selalu mencoba berpikiran positif kepada Rayna.
"Kak Ray!, sedari dulu Aku meyakini satu hal? " Ucap Natasha, "Kau orang yang baik, kau gak mungkin membuat anak mu kesusahan. dia sangat merindukan mu, hanya 3 bulan dia bisa dekat dengan mu dan kini dia harus kembali berpisah, Aaleesya sudah besar sekarang" Natasha menangis dan menjatuhkan air matanya.
"Aku berbohong, Aku bilang jika Kak Ray sedang berada di Belanda. aku bilang jika dia sangat merindukanmu, kini Aku hanya minta berucap lah jika dirimu sangat merindukan Aaleesya. sebagai hadiahnya, aku akan mengirimkan sebuah boneka besar dan akan ku berikan atas nama dirimu" Rayna merasa sangat terharu melihat rasa empati yang di berikan wanita yang dulu sangat ia benci, karena buktinya Natasha tidak ingin merebut Alessya darinya. Justru Natasha ingin membuatnya semakin dekat, dan Rayna baru saja menyadari akan hal itu.
"Terimakasih Nat, Terimakasih sekali lagi. Maafkan aku yang sudah terlambat menyadari kebaikan mu" Ucap Rayna.
"Tidak apa-apa Kak Ray, aku berdoa semoga semua selesai pada waktu nya" Ucap Natasha di iringi senyuman.
Natasha berpamitan kepada Rayna, karena waktu berkunjung sudah habis. Namun, Rayna enggan merekam suaranya untuk Aaleesya
Di tengah ruangan rumah, Rido dan keluarga nya sedang menikmati hari siangnya. Damar sudah dapat berjalan, Hardin dan Tessa kini sudah bisa merangkak bebas. Alea bahagia melihat perkembangan anaknya itu, Ia selalu meneteskan air mata kebahagiaan saat melihat sosok Tessa yang dia anggap sebagai anak satu-satunya dari Qabil.
"Papa, Kak Natasha dan Kak Faaz mengapa lama sekali perginya? " Tanya Natasha.
Noni menyahuti pertanyaan Alea, "Mereka sedang berada di jalan,"
"Biarkan mereka menghabiskan waktu berdua, " Timpal Fizzy.
"Mmph, Aku hanya mengkhawatirkannya saja Kak" Sela Alea.
mereka kembali bermain bersama Anak-anak mereka, Damar begitu sangat cerdas. ia terlihat memiliki sifat seperti Rido dan Faaz, sifat pemimpin ada padanya.
Aaleesya semakin pintar dan Aaleesya sudah mengerti jika Natasha hanyalah ibu sambung. Tetapi, bagi Aaleesya Natasha ibu sambung yang sangat baik untuknya.
Maliq datang membawa sebuah kejutan, ia sudah lulus dan akhirnya ia akan melaksanakan wisuda. wisudanya akan dilaksanakan 2 minggu lagi, Maliq begitu kegirangan.
Ia beberapa kali memeluk Papanya, menciumnya dan berulang kali pula mengatakan kalimat terimakasihnya. Rido merasakan kembali kebahagiaan, namun seorang pelayan berlari menghampirinya. dia mengatakan jika Jimmy tertidur dan tak sadarkan diri, mereka semua berbondong-bondong berlari untuk melihat keadaan Jimmy.
Saat Rido menghampirinya, Rido pun mencari urat nadi yang di miliki oleh Jimmy namun sayang, Jimmy sudah tiada. sebelumnya Maliq menghubungi dokter, tak lama kemudian Dokter datang dan mengiyakan yang dikatakan Rido mengenai kondisi Jimmy.
Jimmy sudah meninggal beberapa jam yang lalu, Natasha begitu sangat terkejut saat sampai di dalam rumah. Natasha menangis memeluk Jimmy, suasana begitu sangat haru terasa.
"Papa, Maafkan Natasha Pah." Ucapnya di iringi tangisan, Natasha mencium kening dan mencoba mengikhlaskan kepergiaan Jimmy.
__ADS_1
"Natasha sudah ikhlas Pah, semoga Papa bahagia di sana dan semoga Papa bisa bertemu dengan Mama" Ucap Natasha kembali, semua merasa sedih karena kepergiaan Jimmy. karena bagaimanapun Jimmy adalah orang yang baik, dia juga cukup dekat dengan Aaleesya dan cucu-cucu Rido lainnya. Rido yang baik itu, mengurus semua kebutuhan Jimmy sebagai besannya karena menurut Rido, Jimmy bukan hanya seorang besan tetapi Jimmy juga sudah dianggap saudara yang sangat Rido sayangi.
Satu persatu orang yang sangat Rido sayangi itu meninggalkan Rido, umur tidak pernah ada yang tahu. Rido melakukan Flashback mengenai kesehatannya dulu yang selalu memburuk tetapi Tuhan memberikan dirinya kesehatan hingga sekarang dan Rido sangat bersyukur akan itu.