
"Faaz ada Apa?, " Tanya Fizzy.
"Aku harus segera ke rumah sakit, Natasha dalam keadaan kritis" Ujar Faaz sembari memakai Jas seraya memberitahu Fizzy, Fizzy terkejut.
"Aku ikut, "
"Tidak usah, client dari Rusia akan segera datang. tolong Pimpin meeting hari ini! " Ucap Faaz, Fizzy pun mengangguk pelan.
"Faaz kabari aku, kau hati-hati di dalam perjalanan nya" Ucap Fizzy, Faaz pun segera pergi untuk menghampiri Natasha di rumah sakit.
.
.
.
"Jim, Percayalah pada Tuhan Natasha akan baik-baik saja," Ucap Rido, Rido mencoba menenangkan Jimmy. Jimmy menangis tiada hentinya, memikirkan nasib Natasha.
"darah nya sangat banyak, Aku takut Natasha seperti Lira. aku takut Rido, Aku... " Ucap Jimmy terbata-bata.
"Tenanglah, tenanglah Jim. mereka akan baik-baik saja." Ucap Rido kembali, Jimmy menangis di dalam pelukan Rido.
"Kak Rido, bagaimana keadaan Natasha?," Tanya Rani yang baru saja datang, Rido memberikan kode mengenai kondisi Jimmy yang sedang mengkhawatirkan Natasha.
Rani duduk di hadapan Jimmy dan Rido, tak lama kemudian Richard datang lebih terlambat dari Rani mungkin karena baru saja memarkirnya mobilnya.
"Bagaimana keadaan mu Jim?, " Tanya Richard.
"dia terlihat sangat frustasi, namun seperti nya aku tak ingin dia menyusul ke rumah sakit untuk melihat Natasha! " Ucap Rido,
"Namun memang lebih baik seperti itu Do, "
"Jim, lihat aku. kau harus tenang, Natasha dan bayi nya akan selamat dan baik-baik saja. percayalah, kita berdoa untuk kebaikan mereka" Bujuk Richard, Jimmy mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan.
Ia mencoba menguatkan dirinya sendiri walaupun di dalam benaknya terlintas wajah Natasha.
"Kau pasti kuat sayang, Papa yakin kau kuat! " Gumam Jimmy, Rido dan Richard pun mengantarkan jimmy ke dalam kamarnya.
selesai mengantarkan Jimmy kedalam kamarnya, Rido, Richard dan Rani pun berbincang bersama.
"Keadaan Rayna bagaimana Kak?, " Tanya Rani ketus, "Yang aku aneh kan, bagaimana balok kayu berukuran besar itu bisa terjatuh tepat di bawah kepala Natasha?, " Tanya Rani kembali.
"Iya, Apa kau sudah mengintrogasi orang yang sedang mendekor itu?" Tanya Richard.
"Aku sudah serahkan semuanya kepada Polisi" Ucap Rido, "Karena ini bukan kecelakaan tunggal, dan Aku tak mengerti mengapa sebilah balok kayu itu bisa jatuh. tidak ada orang yang merasa menyimpannya" Ucap Rido kembali.
"Apa Faaz tahu?, " Tanya Rani.
"Belum," Jawab Rido singkat, wajahnya tetap memikirkan keadaan Natasha dan Qabil.
"Kaka, Kami akan menuju rumah sakit. setidaknya Alea harus pulang untuk beristirahat, Aku mengkhawatirkan kesehatannya." Ucap Rani
"Apa kau akan ikut?, " Tanya Richard menimpali ucapan Rani.
"Tidak, Aku harus menemani Jimmy disini" Jawab Rido.
"Yasudah, kami pergi dulu ke Rumah sakit" Pamit Rani, mereka pun segera pergi untuk menuju rumah sakit.
"Abrar, tolong jaga Kaka ku dan juga Jimmy" Pinta Rani, Abrar pun menganggukkan kepala nya pelan.
.
.
.
Fairfield Hospital,
Setelah mendapat kabar mengenai Natasha, Faaz pun langsung pergi untuk menemuinya di rumah sakit. Zain, Ayana, Alea dan Mael sudah menunggu di ruang tunggu pasien.
Faaz berlari menghampiri mereka, "Bagaimana keadaan Natasha?," Tanya Faaz.
"Kakak" Alea memeluk dan menangis di dalam pelukan Faaz, "Kak Natasha masih di recovery di dalam Kak,"
"Mengapa ini semua terjadi Uncle?, " Tanya Faaz, Ia terlihat sangat frustasi karena mengkhawatirkan keadaan Natasha.
Zain menundukkan kepalanya, "Sabarlah, Natasha pasti baik-baik saja." Faaz menahan tangisnya, wajahnya pun terlihat sangat pucat.
"Ceritakan Lah, bagaimana hal ini bisa terjadi?, apakah Rayna penyebab nya?." Tangan Faaz mengepal, Ia sangat kesal karena tak seorang pun menjawab pertanyaan nya.
"Jawablah!!, Apa ini disebabkan oleh Rayna? Apa Rayna mencelakai Natasha?, "
"Tidak Faaz, justru Rayna lah yang menyelamatkan nya! " Ucap Zain memberitahu Faaz, Faaz merasa terkejut saat Ia mendengar bahwa Rayna lah yang menyelamatkan nya.
"Bagaimana mungkin Uncle?, " Tanya Faaz.
"Kak Rayna melihat Kak Natasha akan tertimpa kayu besar dari atas atap, dan saat itu Kak Rayna melihatnya. Kak Rayna mendorong Kak Natasha hingga terjatuh dan sebenarnya Qabil lah yang terlebih dahulu melihatnya lalu berlari untuk menyelamatkan Kak Natasha malah menyelamatkan Kak Rayna dan sekarang Qabil ada di dalam ruangan itu karena tertimpa kayu besar tersebut." Jelas Ayana.
"Apa kau melihatnya?, " Tanya Faaz.
"Aku memang sedang bersama Kak Natasha, Aku dan Papa sedang berbincang bersamanya. Dan kami terkejut atas kejadian itu, Papa juga merasa sangat Shock" Jelas nya kembali, wajahnya sangat kaku saat mendengar apa yang dijelaskan Ayana.
Dokter keluar dari dalam ruangan tersebut, Dokter memanggil keluarga dari Natasha.
__ADS_1
"Keluarga dari Nyonya Natasha?, "
"Saya suaminya Dok, " Sahut Faaz,
Dokter terlihat tak bersemangat, "Saya tunggu di dalam Ruangan saya Tuan, " Ucap Dokter muda bernama Ashley.
"Baik Dok." Faaz melirik kearah semuanya, tak lama kemudian Maliq pun datang.
"Bagaimana keadaan Natasha kak? " Tanya Maliq.
"Faaz, dengarkan. kau harus lebih kuat dari apapun. biarkan Qabil Uncle yang urus." Sela nya, "Uncle bagaimana keadaan Natasha?, " Tanya Maliq kembali.
"Antar kan aku ke ruangan dokter Maliq" Ajak Faaz, Maliq pun mengiyakan. suasana di sana tercipta sangatlah menegangkan, mereka tidak tahu bagaimana kondisi Natasha dan bayi nya maupun kondisi Qabil.
Yang mereka tahu hanyalah wajah serius dari sang dokter itu, Ayana menatap kearah Alea. Alea terlihat sangatlah terpukul karena permasalahan ini.
"Daddy bagaimana ini? " Tanya Ayana yang melihat Alea menangis tiada hentinya.
"Tenanglah, dan percayalah. Natasha akan baik-baik saja." Zain merangkul bahu Ayana dan Alea, Alea menangis di dalam pelukan Zain.
"Bagaimana dengan Qabil dan Kak Natasha," Alea merasa sangat frustasi memikirkan nasib keduanya.
"Aku benci perayaan Ulang tahun!, " Gumamnya, "Setiap kali Aku ingin merayakan nya, musibah itu selalu saja datang" Gumam Alea kembali, zain mencoba menenangkan Alea Ia mengecup kening keponakannya itu.
"Sayang, ini hanya saja kebetulan. kau tak usah selalu menyalahkan dirimu"
"Uncle dengarlah, Aku ini anak sial!!!, setiap kali aku meminta Papa membuat perayaan selalu saja mendapat musibah. dan sepertinya aku membuat sial orang lain!, " Gumam Alea.
"Tidak sayang!, Aku mohon jangan selalu menyalahkan dirimu." Ucap Zain penuh penekanan.
"Qabil..." Ucap Alea penuh dengan penekanan,
"Qabil, Aku yakin kau kuat" Gumam Ayana di dalam hatinya.
**
Di depan Ruangan dokter Ashley. Faaz yang sedang duduk itu menunggu sembari menggoyangkan kakinya, Maliq merangkul bahu kakak nya sembari mengusap lembut punggung kakak nya.
"Kak, Tenanglah. Aku yakin kakak pasti kuat" Ucap Maliq.
"Bagaimana aku bisa tenang Maliq, Istriku di dalam dan aku tak tahu bagaimana keadaannya. anak ku di dalam kandungan istriku, aku benar-benar frustasi." Ungkap Faaz, "Apalagi, ini juga melibatkan Qabil yang 3 hari lagi akan menikah dengan Alea. Aku benar-benar bingung Maliq" Ungkap Faaz kembali.
"Aku tahu yang kau rasakan, kita semua ikut merasakan Kak." Seru Maliq, "Kita pasrahkan saja kepada Tuhan." Seru Maliq kembali.
Tak lama kemudian, Dokter Ashley datang dan meminta Faaz untuk masuk.
"Silahkan duduk Tuan, " Ucap Dokter Ashley dengan sangat Ramah.
"Bagaimana keadaan istri saya dok? " Tanya Faaz.
"saya akan menjelaskan kondisi Nyonya Natasha terlebih dahulu Tuan, " Ucap Dokter, Faaz berusaha mendengarkan apa yang akan dokter katakan.
"kemungkinan jatuh yang merugikan Nyonya Natasha dan bayi itu meningkat. Nyonya Natasha terjatuh cukup parah, kerusakan akan terjadi paling mungkin terjadi di plasenta. Trauma pada perut meningkatkan kemungkinan plasenta tertarik menjauh dari dinding rahim." Ucap Dokter Ashley.
"Bagaimana dok?, " Tanya Faaz, "Apa istri saya baik-baik saja? " Tanya Faaz kembali.
"Nyonya mengalami ruptured plasenta. " Jawab Dokter Ashley.
"Apa itu dok?, Apa bayi saya meninggal? " Tanya Faaz kembali, Ia terlihat sudah sangat pasrah.
"Tidak Tuan, syukurlah saat ini Anak anda terbilang cukup kuat. saya akan memberikan surat persetujuan tindakan operasi untuk segera mengeluarkan bayi Anda, namun kelahirannya terbilang lahir Prematur." Jelas dokter, Ia mengeluarkan selembar kertas yang harus Faaz tanda tangani. Maliq sepertinya sudah mengerti akan keadaan Natasha, karena Maliq sendiri adalah Dokter yang sedang belajar menjadi dokter spesialis Kandungan.
Faaz pun menandatanganinya, "Sudah dok" Ucap Faaz, Dokter Ashley memberikan surat tersebut kepada Seorang Assisten nya. dan sepertinya Natasha akan segera melakukan operasi.
"Apa itu ruptured plasenta?." Tanya Faaz.
"ruptured plasenta itu lepasnya plasenta janin, dan itu bisa menyebabkan kematian mendadak pada Bayi bahkan bisa saja pada ibunya sang jabang bayi. "
*Penjelasan Dokter Ashley...
"Plasenta lepas seringkali tidak menunjukkan gejala berarti. Ruptured plasenta atau plasenta lepas merupakan kejadian yang sangat mendadak, bisa terjadi tanpa gejala, atau malah hanya salah satu atau keseluruhan tanda-tanda ruptus."
"Ada baiknya setiap ibu hamil mengetahui risiko plasenta lepas atau ruptured placenta."
"Meskipun begitu, dokter bisa saja mendeteksi kemungkinan terjadinya risiko plasenta lepas ini dengan melihat tanda-tanda kesehatan atau kondisi ibu saat pemeriksaan rutin."
"Tapi ini kan kondisi Nyonya Natasha terjatuh dan terbentur dengan keras, maka dari itu bisa dipastikan penyebabnya adalah benturan"
"Sebelumnya Saya sudah melakukan Pemeriksaan USG, pemeriksaan itu dilakukan untuk memastikan apakah ada gumpalan darah di dalam uterus dan menyebabkan plasenta previa yang biasanya juga menjadi penyebab pendarahan."
"Saya juga sudah memeriksa Nyonya Natasha dan ternyata Nyonya Natasha memiliki rhesus darah negatif dan mengalami pendarahan ****** pada trimester kedua, maka ibu membutuhkan suntikan anti-D-immunoglobin." Jelas kembali Dokter Ashley, Faaz mencoba memahami penjelasannya.
"Tapi detak jantung anak saya bagaimana?,"
"Itulah yang saya heran kan, saat saya memonitor detak jantung anak anda, anak anda begitu sangat aktif di dalam usia nya sekarang. sepertinya Ia begitu sangat menginginkan kelahirannya, denyut Jantungnya yang menguatkan Nyonya Natasha."
"Tapi dia masih 7 bulan dok!, " Tukas Faaz
"Tidak masalah Tuan Faaz, jika kami tidak segera mengeluarkannya. saya sangat takut kehilangan diantara mereka, bahkan saya sangat takut juga kehilangan keduanya. " Terang dokter Ashley kembali.
"Lalu bagaimana keadaan istri saya dokter?, Apakah dia akan mengalami koma?, " Tanya Faaz yang merasa trauma dengan kondisi yang menunjukkan gejala koma, Faaz tak ingin hal yang terjadi kepada Rayna juga terjadi kepada Natasha.
"Sejauh ini Nyonya Natasha tidak sadarkan diri karena kehilangan banyak sekali darah, Namun kami sudah memberikan transfusi darah untuknya" Ucap Dokter Ashley, "Baiklah Tuan Faaz, Apa sudah jelas mengenai kondisi Nyonya Natasha? " Tanya Dokter kepada Faaz.
__ADS_1
Faaz menganggukkan kepala nya dengan pelan, "Saya berharap yang terbaik untuk istri saya dokter" Jawab Faaz.
"Baiklah sekarang saya akan menjelaskan mengenai kondisi Tuan Qabil, "
"Bagaimana kondisi Qabil Dok? " Tanya Maliq dengan pelan, "Apa dia baik-baik saja" Tanya Maliq kembali.
"Ini yang sangat saya sesalkan Tuan-Tuan" Jawab Dokter Ashley sembari menatap wajah kedua nya.
"Bagaimana Dok?, " Tanya Maliq, "Iya Dok kami ingin mengetahui nya" Timpal Faaz.
"beliai mengalami cedera berat pada kepala nya!" Seru Dokter Ashley.
"Bagaimana mungkin dok? " Tanya Maliq, Jelas saja jika Qabil mengalami cedera yang sangat
berat. dia tertimpa balok kayu berukuran besar apalagi kayu tersebut adalah kayu Jati dan itu cukup berat.
Dokter Ashley menekan tombol sesuatu, Ia menampakan bentuk kepala milik Qabil. Ia pun mulai menunjukkan hasil pemeriksaan nya, terlihat beberapa gambar rontgen kepala milik Qabil itu.
"Gegar otak adalah cedera kepala yang berdampak kepada fungsi otak. Selain karena benturan dan guncangan pada kepala, gegar otak umumnya terjadi karena guncangan keras pada tubuh bagian atas. Otak terlindungi dari guncangan oleh cairan otak dalam kepala. Oleh karenanya guncangan dan benturan keras pada kepala atau tubuh bagian atas dapat membuat otak ikut terguncang membentur dinding kepala bagian dalam. Kondisi ini dapat bersifat ringan, tapi juga bisa berisiko fatal jika sampai mengakibatkan pendarahan di dalam atau di sekitar otak."
"dan di bagian ini terjadinya pendarahan" Ucap Dokter kembali," Dokter Ashley terlihat kecewa saat membacakan hasil tersebut.
"Dan sudah dapat di pastikan Tuan Qabil mengalami pendarahan otak atau lebih sering disebut Hematoma" Jelas Dokter kembali.
Dokter menghela nafas nya dengan berat, "Pendarahan otak adalah cedera yang tergolong serius karena bisa menyebabkan Tuan Qabil hilang kesadaran atau kerusakan otak permanen akibat tekanan berlebih di otak"Jelasnya kembali, " disini saya melihat ada penggumpalan darah di otak belakang Tuan Qabil! " Jelas Dokter sembari menunjukan gambar pada layar CT scan.
"apakah ada cara untuk mengobatinya? "
"Yang jelas kita harus banyak berdoa, karena untuk mengobati nya butuh waktu yang cukup lama" Tutur Dokter, "Keadaannya Tuan Qabil lebih memprihatinkan Tuan." Tutur Dokter kembali.
"Kita akan melihat tingkat kesadaran Tuan Qabil terlebih dahulu Tuan!", Ucapnya.
" Apa setelah ia sadar akan terjadi sesuatu padanya? apa dia akan lumpuh atau tidak mengingat kami? " Tanya Maliq,
"Apa dia akan normal Dokter?," Timpal Faaz.
"Pada keadaan pascacedera, kadar zat kimia dalam otak juga berubah dan memerlukan waktu beberapa lama untuk dapat kembali normal. kita harus memberikan banyak waktu untuk membuatnya Beristirahat, karena beristirahat adalah cara terbaik untuk memulihkan fisik dan mental akibat cedera kepala tersebut." Jelas dokter kembali,
"Apa perlu tindakan operasi?, " Tanya Maliq.
"Saya akan melihat terlebih dahulu gumpalan darah yang berada di dalam otak Tuan Qabil, Tuan! " Tutur Dokter Ashley.
"Baiklah lakukanlah yang terbaik Dokter, sebenarnya tiga hari lagi adalah hari pernikahan nya bersama Kakak saya! " Ucap Maliq sembari sendu, tak dapat di pungkiri Maliq merasa sedih atas kejadian ini.
"Ya Tuhan, malang sekali nasib Tuan Qabil. percayalah apapun yang terjadi ini kehendak Tuhan" Ucapnya, "baiklah Tuan, saya rasa saya sudah cukup menjelaskan kondisi keduanya.saya berharap Tuan Faaz dan keluarga tetap yakin dan berdoa akan keadaan Nyonya Natasha dan Tuan Qabil"
"Ya Dokter, terimakasih atas penjelasan nya" Ucap Maliq seraya berdiri, Maliq dan Faaz pun berpamitan.
Saat keduanya keluar dari dalam ruangan Dokter, "Bagaimana kita menjelaskan kondisi Qabil kepada Kak Alea Kakak? " Tanya Maliq kebingungan, mengingat kondisi Alea yang baru saja sembuh dari trauma yang membuat nya berurusan dengan dokter Psikolog.
"Aku takut kejiwaan Kak Alea terguncang kembali" Ujar Maliq.
"Kakak juga bingung Maliq, apalagi tiga hari lagi adalah pernikahan diantara nya. Kakak tidak mampu mengucapkan dia gagal menikah bersama Qabil" Faaz merunduk sedih, batinnya begitu bergejolak dengan permasalahan ini.
Sembari melangkahkan kakinya, terlihat kedua kakak beradik ini berjalan dengan lesu. Wajahnya tidak bersemangat sama sekali, Zain melihat tingkah kedua nya.
Faaz duduk di samping Alea yang tetap saja menangis, Faaz merangkul bahu adiknya itu. Faaz terlihat kuat, namun di dalam kenyataannya, dirinya dia rapuh dengan keadaan ini.
"Kakak bagaimana keadaan Kaka Natasha dan Qabil?, " Tanya Alea, "Tadi dokter bilang Kak Natasha akan menjalani operasi, bagaimana mungkin keponakan ku masih kecil di dalam kandungannya! " Gumam Alea
"Maliq, bagaimana mungkin Maliq? " Tanya Alea kembali, Alea terlihat sangat terguncang.
Maliq membungkuk memegang tangan kakaknya bermaksud menguatkan Kakak tersayangnya, "Mereka akan baik-baik saja! " Jawab Maliq, Faaz hanya terdiam mendekap tubuh adik perempuan nya yang bernasib sangat malang.
"Kakak, Qabil mencoba menyelamatkan Kak Natasha. Maliq Qabil menyelamatkan sepupunya, dan Kakak, Maliq semalam mimpiku jadi kenyataan! " Gumam Alea yang sudah hampir berbicara tidak jelas.
"Sayang, kita pulang saja iya! " Ajak Zain kepada Alea, Alea menggelengkan kepala nya.
"Tidak Uncle, tidak mau. aku ingin bersama Kak Natasha dan Qabil, Aku mau memeluk mereka" Ungkap Alea sembari menangis, Ia terlihat sangat tertekan. Faaz pun memeluk nya dengan erat, Faaz tak kuasa menahan tangisnya kala melihat keadaan Alea begitupun dengan Ayana yang menangis di dalam dekapan Mael.
"Aku mohon! aku ingin memeluknya" Ucap Alea kembali, Faaz mencoba menenangkan Alea Ia memeluk Alea dan memintanya berhenti untuk menangis.
"Usapkan tanganmu di atas dada, Ucapkan kalimat Istighfar Alea.. Ingatkah Mama selalu meminta kita seperti ini jika kita merasa kesal, gundah, ataupun bersedih" Ucap Faaz.
"Kakak, mengapa Qabil yang berada di sana?mengapa tidak aku saja!, " Ucapnya kembali.
Richard dan Rani sudah sampai di Rumah sakit, Rani segera memeluk Alea ia mengecup kening keponakan nya itu.
Faaz memilih untuk berbincang bersama Richard dan Zain mengenai kondisi Qabil dan Natasha, mereka berbincang lebih jauh dari Alea karena Faaz takut Alea lebih shock saat mendengar kondisi Qabil.
"Aunty" Lirih Alea menangis di dalam pelukan Rani.
"Sayang, bersabarlah.. "
"Mama mu pernah merasakan ini, Ia menunggu di luar sedangkan Papa mu berjuang di dalam. Ia sangat tegar, bahkan aku saja nyaris tak kuat. ia selalu berdzikir di dalam hatinya, bahkan sampai air mata mengering ia tetap melantunkan doa di dalam hatinya. Sayang, Berdoalah dan bersikaplah tegar. kau harus kuat, doa mu pasti Tuhan dengar!! " Tutur Rani, Alea mengangguk pelan.
"Aunty, apa Mama selalu setia menunggu Papa diluar? " Tanya Alea.
"Lebih dari itu, pikiran serta tenaga yang terkuras sudah tidak terhitung. apalagi saat itu, Mama mu baru saja melahirkan dan harus memberi asi kepada Faaz dan Fizzy. Mama mu sampai mondar mandir untuk melihat keadaan Papa mu juga keadaan bayi nya" Ucap Rani menceritakan masa-masa sulit May dan Rido, "Tapi kau harus tahu, Mama mu tidak pernah mengeluh apalagi menyalahkan dirinya sendiri. Ia selalu berjuang dan berdoa untuk setiap kesulitan nya, Ia yakin bahwa Papa mu akan sembuh pada waktu nya! " Ucap Rani kembali.
"Aunty, Aku takut terjadi sesuatu kepada Qabil ataupun Kak Natasha apalagi Kak Natasha sedang mengandung" Ucap Alea,
"Mereka akan baik-baik saja!, " Ucap Rani, "Percaya lah sayang! " Ucap Rani kembali.
__ADS_1