
“kau mengenalnya?” Tanya Mael Polos.
"Tidak, yang ku tahu dia wanita keras kepala yang pernah aku kenal! " Gumam nya,
"Apa kau bilang? " Tanya Noni, "Kau lelaki childies yang pernah Aku kenal, cuma karena Saus kau bergumam hingga pergi meninggalkan pesta!!!. " Jawab Noni membuat tengkuk leher Maliq mengeras.
Mata Maliq mendongkrak tajam, "Aku meninggalkan pesta karena Ulah mu!!!" Seru Maliq penuh penekanan, Noni pun memilih untuk pergi meninggalkan keduanya.
Noni memang wanita tangguh, dia tak seperti wanita lain yang mengejar-ngejar lelaki seperti Maliq. baginya lelaki yang baik lah yang akan membuat nya nyaman, bahkan Noni tak menghiraukan ketampanan Maliq.
Maliq dan Noni di pertemukan pada saat hari pertunangan Shawn dan kekasihnya, saat itu Shawn memang ingin menjodohkan Maliq dengan Noni namun, pertemuan mereka yang tidak lazim membuat Shawn mengurungkan niat nya itu.
saat itu, semua tamu sedang menikmati acara makan malam yang telah disajikan. Maliq sedang berbincang bersama teman satu kampus nya, Noni yang sedang menyantap makanan itu tak sengaja tersikut oleh teman lainnya dan menyebabkan piring yang sedang di pegang nya terlempar tepat mengenai pakaian Maliq. Noni pun segera meminta maaf kepada Maliq namun,saat itu Maliq yang terlihat kesal tak mau menggubris permintaan maaf dari Noni.
"Kau kenapa malah pergi? " Tanya Mael.
"Aku kesal!, saat itu kondisi ku sedang Tempramen karena permasalahan ku dengan Kak Faaz mengenai Natasha! " Ucap Maliq
"Lalu?, " Tanya Mael, "Apakah Shawn membicarakan tentang hal ini?" Timpal Mael kembali.
"Iya, namun aku tak ingin membahasnya. dan ternyata aku malah bertemu dengannya disini, dan dia memberiku bantuan lagi!! " Keluh Maliq, "Ah sial sekali aku" Umpat nya kembali, Maliq mendengus kesal merasa kesal karena telah bertemu di waktu yang salah kembali.
"Sudahlah, lagipula tidak baik jika kau terlalu keras kepada wanita. mana Maliq yang dulu aku kenal, kau tak pernah seperti itu!! " Ucap Mael,
"Ah Aku tidak peduli, " pekik nya membuat Mael menggelengkan kepala nya dengan pelan.
Faaz datang membawa senyuman, "Tuh Kak Faaz datang, lihatlah dia bersama siapa? " Tanya Mael.
"Papa dan Om jimmy! " Ucap Maliq.
"Bagaimana keadaan Natasha?, " Tanya Jimmy kepada Mael dan Maliq, "Apa om bisa menemuinya? " Tanya nya kembali.
"Belum Om, Dokter belum memberikan Aba-aba kepada kami." Ucap Mael,
"Tadi kita juga sudah bertanya " Timpal Maliq berucap, Jimmy menganggukkan kepalanya.
"Aaleesya bersama siapa di sana?, " Tanya Maliq seraya mengkhawatirkan keponakan nya.
"Aku menitipkannya kepada Aunty Rani, Ayana dan Uncle Zain menjaga Alea di rumah." Jawab Faaz, "Kami terpaksa mengurung Alea sementara, dia mengamuk dan mengamuk terus-menerus." Ucap Faaz
"Dan Papa sudah merasa kewalahan menjaga Kakak mu Maliq, " Gumam Rido, "Namun Papa, merasa tak tega jika mengurung nya di kamar sendirian"
"Kita tidak mengurung nya lama, hanya hingha Dokter Hans datang Papa! " Sela Faaz,
Tak lama kemudian Dokter pun menghampiri mereka untuk memberitahu mengenai kondisi Natasha, Dokter berucap jika Natasha masih dalam kondisi kritis dan sementara waktu dia belum dapat dipindahkan ke ruang rawat biasa.
Namun, Anggota keluarga bisa melihat nya lebih dekat walau hanya 1 orang saja yang masuk. itupun bergantian, dan orang lain nya bisa menatap wajah Natasha melalui layar kaca yang terbuka.
"Papa ingin melihatnya. " Pinta Jimmy, "Bolehkah Faaz?, "
Faaz tersenyum, "Boleh Papa," Faaz menoleh dan berucap, "Dokter biar mertua saya yang terlebih dahulu masuk." Ucap Dokter.
"Baiklah Tuan mari saya antar, untuk sisanya bisa melihat di sana. Tirai akan di buka" Ucap Dokter
Mereka pun menganggukkan kepalanya pelan, menandakan mereka mengerti dengan apa yang di ucapkan dokter.
Jimmy, Masuk dan Tirai pun dibuka lebar. mereka mulai melihat kondisi dari Natasha. beberapa alat terpasang namun, ada hal berbeda. wajahnya tersenyum tak biasa, wajah cantik nya bercahaya.
"Istriku!, " Gumam Faaz, Ia meneteskan air matanya.
Rido menepuk pelan bahu Faaz, dan mengusap nya lembut. Faaz bersandar di bahu sang Papa, "Dia begitu sangat cantik, dia wanita pujaan ku" Gumam Faaz, Mael dan Maliq pun ikut meneteskan air matanya.
Mael berucap, "Sepertinya Aku tak tega melihat keadaan Qabil." Dia menundukkan kepalanya, Rido juga mengusap punggung Mael serta Maliq.
di dalam batin Maliq, "Aku sudah belajar untuk berhenti melupakan cintaku pada mu Nat, Namun aku tidak bisa. Aku hanya mencoba menghargai Kakak serta keluarga kita, dan mungkin jika nanti aku berjodoh dengan seorang gadis, aku harap ia memiliki jiwa sebaik kamu dan satu lagi harapanku, Kau tetap harus bahagia hingga kapanpun! bersama kelurga kecil mu, bersama Kaka sebagai suamimu!!" Maliq meneteskan air matanya, "Kau benar-benar cantik walaupun di dalam keadaan seperti itu, "
"Faaz bagaimana keadaan Athalla?" Tanya Rido
__ADS_1
"Dia Tampan seperti Papa namun, kata Dokter Athalla harus tetap berada di dalam inkubator hingga waktu yang ditentukan Dokter! " Ucap nya penuh dengan prihatin, Rido membendung air matanya.
"Apa Papa boleh melihatnya!, " Tanya Rido, "Papa ingin sekali melihatnya, Papa tidak akan menggendongnya nak. hanya melihatnya" Tutur Rido mencoba memohon kepada Faaz.
"Nanti Faaz antar kan Papa iya!, "
"Terimakasih Nak, "
**
Di dalam Ruangan Natasha, Jimmy menatap lekat wajah anaknya. Jimmy ingin sekali memeluk Natasha, "Sayang, terimakasih sudah mau berjuang untuk anak mu. kata Faaz kamu bilang sama Dokter, selamatkan anak saya dok!, itulah yang saat ini Papa juga berkata demikian"
"Dan sayang, andai kau tahu. Patah hati terbesar bagi orang tua adalah kala melihat anaknya terbaring lemah dan sakit, hati Papa sakit nak. Papa menderita tidak melihat senyuman manis di bibir mu selama beberapa hari ini."
"Sayang, lekas sembuh lah!, Papa mohon. Lihatlah orang-orang di sana menunggu kesembuhan mu, Orang-orang di sana sangat menyayangi mu!!, apalagi Papa mertua mu, dia orang yang berpura-pura untuk kuat di hadapanku namun, sebenarnya dia orang yang paling mengkhawatirkan keadaan mu setelah ku!!, kau beruntung memiliki nya, memiliki keluarga yang sangat mencintaimu!! Sembuh lah sayang, Papa mohon." Gumam Jimmy kembali,.
"Tuan, Maaf waktunya sudah habis." Ucap Perawat yang berjaga di dalam ruangan Natasha,
Jimmy pun tersenyum kepada perawat itu, "Terimakasih Sus, " Ucapnya, Ia pun segera membuka jubah yang harus ia pakai kala masuk kedalam ruangan Natasha.
Faaz yang sadar akan mertuanya yang sudah selesai, Ia langsung menghampirinya dan Mendorong kursi roda tersebut agar Jimmy tidak merasa kesusahan.
"Siapa yang akan masuk lagi Tuan, hanya 3 kali dalam sehari yang dapat melihat Pasien! " Seru Perawat itu.
"Biar Papa saya terlebih dahulu Sus, " Ucap Faaz, "Papa silahkan, "
"Kenapa bukan kamu terlebih dahulu Faaz" Ucap Rido, "Biar Papa disini saja!, " Ucapnya kembali.
"Tidak Papa, biar Papa saja. Siapa tahu jika kedua orang tua nya menemui Natasha, dia akan segera sadar." Ucap Faaz.
Faaz selalu bernasib sama, hanya satu perbedaan dengan Rayna ia sempat sadar selama seminggu lalu Koma. Namun, kini kondisi Natasha pun sama. Ia berjuang untuk cepat tersadar dari keadaan pahitnya.
Rido pun masuk, perawat itu memberikan jubah yang sama yang akan di kenakan olehnya. Rido berjalan mendekati Natasha lalu, Ia berdiri dan menatap lekat menantunya itu.
Rido memberikan lantunan Ayat-ayat suci tepat di telinga Natasha, respon Natasha saat itu ia menggeser kan kornea matanya ke kanan dan ke kiri dan walaupun kornea itu terhalang oleh kelopak matanya, Rido tahu jika Natasha merespon nya.
"Ia akan berucap!!, Aku selalu mencintai mu Mama. karena kau memang malaikat baginya, Natasha.. Papa mohon sadarlah Nak, jangan buat kami khawatir!, jangan buat kami bersedih dengan kondisi mu dan kondisi Qabil serta Athalla. "
"Papa mohon Nak, sadarlah sayang! " Ucap Rido, "Papa yakin kau wanita kuat, wanita yang super, wanita yang sabar dan selalu berjuang untuk hal apapun" Gumam Rido kembali, tak terasa air matanya keluar dengan deras. Ia menyeka air matanya beberapa kali dan ternyata benar apa yang Jimmy ucapkan, Rido tak sekuat yang mereka bayangkan. Rido selalu mencoba kuat namun jauh di dalam lubuk hatinya, Rido lemah. Rido tak mampu menahan gejolak kesedihannya karena ia sangat menyayangi Natasha, baginya Natasha adalah calon ibu dan Istri seperti May.
ketabahan nya, kesabaran nya dan suasana hangat nya hampir sama seperti May, dan bagi Rido Natasha adalah pelita hati nya, karena sikap Natasha yang selalu ramah kepada orang tua dan menjunjung tinggi nilai kesopanan lah yang membuat sosok Rido Kagum!!.
Rido pun telah selesai, ia keluar dari dalam ruangan perawatan Natasha. Rido memeluk Jimmy, "Sabarlah, Tuhan memberikan Ujian dengan kesanggupan nya. Kita harus lebih kuat, sesekali menangis adalah hal yang wajar!, " Gumam Rido sembari memeluk Jimmy dengan erat.
"Kakak, masuklah. berilah kekuatan untuk Natasha" Ucap Maliq, "Iya, Masuklah bisikan kalimat cinta untuknya." Timpal Rido, Faaz melangkahkan kakinya, langkah nya terlihat berat karena merasa tidak kuat melihat kondisi istrinya.
"Pakai dulu alat pelindungnya Tuan" Ucap perawat memberikan pakaian jubah yang sama dengan Rido dan Jimmy. Faaz pun memakainya, Ia segera berjalan menghampiri Natasha.
"Hai Sayang, " Ucap nya sembari terbata-bata,
"Aku sudah menamainya Athalla Damar Ridolohi," Ucap Faaz, "Aku mencintaimu Nat, selamanya... " Ucap Faaz kembali.
"Sembuh lah, Aku mohon.. buka mata mu dan tersenyum lah. kami sangat membutuhkan dirimu!! Athalla tampan seperti ku, namun aku berharap dia memiliki jiwa damai seperti Damar yang menerangi seperti dirimu! ;, "
"Kau Tahu?, aku bahagia karena kau memberi ku anak kuat seperti nya." Faaz melihat Natasha meneteskan air mata, "Perawat, lihatlah. istriku meneteskan air mata nya, Ia mendengar ku" perawat itu tersenyum, terlihat dari matanya walaupun wajah nya tertutup masker.
"Natasha kau mendengar ku?," Tanya Faaz kegirangan, "Aku akan selalu mencintai mu, kau lah yang mengubah hidupku Nat. Kau teman hidup yang mengubah seluruh hidupku, kau bagaikan cahaya di dalam kegelapan ku!! " Gumam nya.
"Natasha, Alea sedang merasa kalut. hanya kau lah yang mampu menguatkan nya, hanya kau yang bisa membuatnya hidup normal." Tangan Natasha bergerak, perawat pun senang dengan apa yang di lihat oleh nya.
"Kau harus sembuh, tersenyum dan memberi kedamaian pada kehidupan kami!!, aku yakin kau kuat sayang, aku yakin cinta mu lah pada kami yang menguatkan jiwa mu!!, sembuh lah matahari ku!!! " Ucap Faaz sembari menangis tersedu-sedu. rasanya Natasha memang mendengar setiap kalimat penyejuk itu,
Jauh di alam sana, Natasha sedang duduk dan termenung. suara-suara itu terdengar jelas oleh nya, namun Ia merasa bingung mengapa ia tak mampu melihat wajah-wajah dari suara itu.
"Kemana mereka?, Mengapa hanya suara yang dapat ku dengar" Ia mencoba mengusap perutnya, "Kemana anak ku, dimana dia? " hatinya terus bertanya-tanya kala perut yang berisikan anak itu kini tak teraba oleh nya.
"Natasha... " Panggil seseorang dari belakang tubuhnya, "Natasha sayang!!! " Panggil nya kembali.
__ADS_1
Natasha menoleh ke kiri dan ke kanan, Mencoba mencari suara indah nan merdu itu...
"Siapa di sana?, " Tanya Natasha, "Apa kau seorang peri?? " Tanya Natasha kembali, desiran angin sejuk pun menusuk setiap jengkal kulitnya hingga membuat bulu-bulu halusnya berdiri.
"Saayang... " Panggilnya kembali, Natasha tetap mencari sumber suara itu. suara berbeda-beda dan kini suaranya semakin lembut layaknya seorang perempuan.
"Aku May!! Apa kah kau ingat?, "
"Ibu bidadari yang pernah menolong ku?, kau kah itu?, " Tanya Natasha seolah tak percaya, "kau ibu mertua ku saat ini!!, Aku menikah dengan Anak tertua mu!, " Ungkap nya, May tersenyum sungguh manis nan cantik. wajahnya yang bercahaya, tertutup kain Niqob.
"Kemari lah peluklah aku!, " Pinta May sembari melebarkan sayap lengan nya.
Natasha memeluk, "Mama... bolehkah aku memanggil mu Mama?, " Tanya Natasha, May pun mengangguk pelan serta mengusap kepala belakang hingga punggung Natasha, terasa sekali kelembutan dari setiap sentuhan nya.
"Terimakasih sudah berjuang untuk melahirkan penerus kami, Kau Wanita yang sangat hebat dan Aku bangga! " Ucap May, Natasha menatap lekat wajahnya.
"Mama, andai saja Mama masih hidup." Ucapnya.
"Iya semua seandainya, namun saat ini Aku bahagia berada di alam ku. semua orang yang aku sayangi pun masih mengingat dan mendoakan ku, untuk itu ucapkan rasa terima kasih ku Nak! " Tutur May kembali.
"Aku tidak ingin pulang Mama, Aku ingin bersama mu dan mencari Mama ku." Ucap Natasha.
"Lira baik-baik saja, karena doa anak shalihah seperti mu lah yang menjadi penolong nya. suatu saat kau dan Lira akan bertemu dan apakah kau tau, dia sangat bangga kepada mu! " Ujar nya, "Dia bangga karena telah melahirkan jiwa wanita kuat seperti mu, dia bangga karena telah memiliki anak yang sangat memiliki jiwa yang sabar seperti mu" Ujar nya kembali, Natasha menangis.
"Mama, Salam kan cinta serta rindu ku padanya"
"Berikan selalu doa untuk nya dan untuk ku, karena itu yang selalu kami butuh kan, serta jaga dan berilah cinta untuk semua yang menyayangi mu" May melepaskan pelukan itu, "Natasha, kau harus pulang dan sampaikan rasa rindu ini untuk mereka" Ucap May.
"Pulanglah, berilah cinta yang tulus kembali untuk mereka!!, " Gumamnya kembali, May memundurkan langkahnya sembari tersenyum. wajahnya pun terlihat sangat bercahaya, semakin jauh dan semakin jauh. Tubuh itu telah menghilang dari pandangan Natasha, Natasha memanggil dan memanggil terus menerus nama May.
Hingga saat itu wajah Faaz, Rido, Jimmy dan keluarga lainnya lah yang terlintas di dalam benaknya.
"Papa, Papa mertuaku dan kau suamiku mengapa kalian menangis" Gumam Natasha, "Apa itu anak ku?, " Gumamnya kembali.
Saat ia merasa aneh dengan ini semua, seseorang menarik lengan nya dan membawa nya kembali ke dalam jiwanya.
dan saat ini Faaz masih menatap wajah Natasha, tak dapat di duga Natasha menggoyangkan tubuhnya hingga ranjang itu terlihat jelas bergerak, nafasnya tersengal seolah ia sedang merasakan sesak di dalam nya.
"Sus, tolong panggil dokter!! " Pinta Faaz, mereka yang sedang melihat di balik kaca merasa khawatir melihat kondisi Natasha.
"Do, mengapa dengan Natasha?," Tanya Jimmy dengan cemas,
"Berdoalah Jim, Aku yakin Natasha kuat dan akan baik-baik saja;! " Ujar Rido.
"Iya om Natasha akan sembuh sediakala! " Timpal Mael bermaksud menenangkan nya, berbeda dengan Maliq yang terlihat sangat mencemaskan Natasha.
"Kau harus kuat Nat, kau harus kuat" Gumamnya di dalam hati.
beberapa Dokter berlarian menuju kamar Natasha, Tirai pun di tutup sementara. Faaz di minta untuk keluar dari dalam ruangan itu, Faaz terkulai lemas.
Maliq menghampirinya, memeluknya dan memberikan semangat untuk nya.
"Aku takut kehilangan Natasha!!, " Ucap Faaz.
"Aku bukan suami yang baik Maliq, benar apa kata mu!! Aku suami yang jahat untuk nya!! " cerocos Faaz, Maliq menukas nya.
"Tidak kak, Aku salah karena telah berpikir seperti itu, bahkan kau lelaki yang baik untuk nya.".
Lampu di atas pintu ruangan itu menyala!!!
.
.
.
Bagaimana nasib Natasha? Thorrr mau tau dong Komentarnya??? ;;; di tunggu di kolom komentar iyaaa....
__ADS_1