
Sesampainya di dalam rumah, Faaz segera menghampiri Natasha. Ia memeluk Natasha, mengecup keningnya dan memberikan sentuhan pada pipi kanan istrinya lalu berbisik, "Aku mencintaimu istriku," Ungkap Faaz, "Aku sangat mencintai mu, dengan seluruh jiwa dan raga ku!!' Ucapnya kembali.
Natasha mengalungkan kedua tangannya di leher Faaz, menempelkan pipinya pada dada bidang milik suaminya. Natasha tersenyum manis, "Aku juga sangat mencintaimu, bahkan setelah aku di dekat mu aku semakin mencintaimu Faaz," Balas Natasha.
"Terimakasih sudah mau menerima Aaleesya dan menyayanginya seperti anak mu sendiri, aku bangga dan sangat bangga kepada mu Nat," Ia mencium kilas bibir istrinya itu, Natasha memang wanita yang membuat Faaz merasa sangat sempurna. Ia memberikan cinta yang sangat penuh untuk Faaz.
"Bahkan aku yang seharusnya berterima kasih kepada mu, Sayang!" Sela Natasha, Faaz tersenyum.
"Untuk apa?" Tanya Faaz.
"Karena kamu sudah menjadi suami, Ayah, Anak, menantu yang sangat baik, bahkan kamu menjadi kakak yang sangat penyayang, Aku lah yang seharusnya bersyukur memiliki mu sayang" Ungkap Natasha.
"Kamu itu berlebihan dalam memuji ku, sudahlah aku malu" Ucap Faaz sembari mencubit hidung Natasha.
"Tidak sayang, tidak berlebihan itu memang kenyataan nya" Tambah Natasha.
"Aku tadi sengaja menemui Rayna," Faaz memberitahu Natasha, Faaz pikir Natasha akan marah. namun, Natasha tersenyum menanggapi kalimat itu, "Kamu gak marah?' Tanya Faaz, Natasha membalas dengan gelengan kepalanya.
"tidak sayang? benarkah?' Tanya Faaz.
"Tidak, untuk apa aku marah?' Balasnya kembali.
"Hmmm, " Deheman Faaz malah semakin membuat Natasha tertawa.
"Aku percaya sama kamu sayang dan aku sangat mempercayai sikap Rayna yang sudah mulai berubah, lagipula dia manusia dan Tuhan pasti sudah memberikan kebaikan di dalam hatinya," Tutur positif Natasha ada benar nya, malah Faaz merasa malu dengan sikap dan pemikiran yang Natasha tunjukkan padahal sebenarnya Natasha dan dirinya terpaut 5 tahun usianya.
"Hmm, Kamu benar-benar dewasa. Makasih iya sayang! " Ucapnya kembali.
"Rayna bilang, aku beruntung memiliki kamu dan dia sudah sepantasnya mengakui hal itu bahkan Rayna bilang kamu adalah wanita yang Tuhan kirimkan untuk mu, ke istimewaan mu membuat cahaya kehidupanku bersinar! "
"Oh iya, kamu pasti lagi gombal kan sayang? " Tanya Natasha kembali, "Sudah ah, aku mau bawa Esya sama Damar dulu, " Namun, Faaz menarik tangannya, mencoba menahan kepergiaan Natasha.
Natasha menggelengkan kepalanya, "Jangan sekarang, anak-anak masih bangun. Nanti kalau Aunty Rani kesini gimana? " Tanya Natasha.
"Sebentar saja, aku mohon" Pinta Faaz, wajahnya memelas. Natasha mengerutkan keningnya, menggelengkan kepalanya lalu mencium bibir Faaz dengam ciumaan kilas.
Mwuaaaah...
Suara kiss yang sangat panjang diberikan oleh Natasha untuk suaminya itu, "Sabar iya, Tuhan selalu sayang sama orang sabar! " Ledekan Natasha membuat Faaz gemas, Natasha pun melangkah meninggalkan suaminya itu.
"Hmmm Natasha, entah mengapa aku selalu terbuai saat melihat wajah mu. AKu mencintai mu sayang sangat mencintai mu. bahkan setiap hembusan nafas mu selalu ingin aku rasakan, kau membuat hari ku bahagia," Ucap Faaz sembari melihat istrinya melangkah meninggalkan nya.
Faaz mengusap layar ponselnya, satu pesan dikirim oleh Aidil dan Faaz membacanya.
"Faaz, apa kau tahu dimana Rayna? Aku ingin sekali bertemu dengannya, aku bertanya pada Aliq namun tidak ada jawaban." ~ Aidil.
Faaz membalas, "Tidak, ada apa memangnya? Dua hari lagi ulang tahun Aaleesya, apakah kau bisa datang untuk sekedar memberinya ucapan? "
"Bisa, aku sangat ingin bertemu dengannya. Terimakasih Faaz karena sudah menjaganya, aku berhutang budi padamu" ~
Faaz membalas, "Sudah seharusnya, dia anak mu dan juga anak ku. Namun aku harap kau mau menjenguk Aaleesya dan mencoba mendekatinya, bagaimanapun Aalesya adalah anak mu! "
"Siap Faaz, aku sangat senang mendengarnya. Sampaikan salam kasih ku untuknya, aku akan memberikan hadian untuk Aaleesya dan aku pasti datang" ~ Aidil.
Faaz kembali membalas, "Aku yang seharusnya berterimakasih karena kau sudah menerima Aaleesya, terimakasih Aidil semoga secepatnya kita bertemu"
Pesan terakhir yang menjadi balasan untuk Aidil, tak di balas kembali oleh Aidil. Faaz merasa tenang karena sudah melakukan kesepakatan bersama dengan Aidil maupun dengan Rayna, selama Rayna di dalam penjara hak asuh atas Aaleesya sepenuhnya ada pada Faaz dan mengenai kesepakatan Aidil dengan Faaz yaitu, Aidil sudah merelakan Aaleesya tumbuh kembang di dalam asuhan Natasha dan Faaz bahkan Aidil sangat mempercayai Faaz sebagai Ayah Aalesya.
Faaz merasa merindukan sosok anaknya itu, Faaz pun segera menghampirinya. Aaleesya terlihat sedang berjongkok di hadapan Aquarium kecil yang di berikan oleh Neni dan Ezri. Faaz menatap punggung Aaleesya dari belakang, ia seakan menatap punggung Rayna.
Ia merasa sedih, lalu Faaz pun mendekatinya. Faaz melihat jika Aaleesya sedang menatap ikan hias yang memiliki ekor indah warna warni, Faaz mengingat betul jika May senang dengan ikan hias tersebut. Saat ia berada di Indonesia, May selalu membeli ikan hias tersebut dan menjadikannya koleksi di rumahnya.
"Mama, Aaleesya bukan cucu mu. Tapi dia seperti dirimu, aku tak mengerti mengapa hal ini terjadi. Yang aku percayai, Tuhan mengirimkan Aaleesya untuk menjadikanku seorang Ayah yang kuat dan menjadikanku sebagai cinta pertamanya" Gumam Faaz dalam hati, Aaleesya menoleh, melirikkan matanya ke arah Faaz.
"Papa, " Panggil Aaleesya yang sedikit berteriak riang, wajah sendunya terlihat memberikan senyuman kecil. Aaleesya berlari dan memeluk Papanya, "Papa, Esya ingin bertemu Uncle Maliq" Ucapnya.
"Baiklah, Papa akan mengantar mu! "
"Uncle bilang mau kasih ikan hias yang sangat banyak!, " Ucapnya kembali, Faaz tersenyum saat mendengar kalimat yang sedang Aleesya ucapkan.
"Apa Esya merindukan Uncle Maliq? "
"Esya merindukan Uncle Maliq, Uncle Mael dan Uncle Qabil. " Esya menutup bibirnya menggunakan tangan mungilnya. Lalu, "Oups! " Ia seperti itu karena melihat kedantangan Alea.
Faaz terlihat senang melihat tingkah Esya..
"Kalau sama Uncle aja kangen, kalau sama Aunty dari tadi gak bilang kangen? " Ucap Alea yang terlihat syirik karena sedari tadi Aaleesya meminta untuk menemui Maliq, Esya tersenyum kecil dan memonyongkan bibir mungilnya. Lalu, Alea mendekatkan pipi miliknya untuk meminta Aleesya menciumnya dan Aaleesya memberikan ciuuman kecil di pipi Alea.
"Anak cantik, Aunty Lea sayang banget sama Esya! " Ucapnya kembali
"Esya ke mamah dulu iya, Papa sama aunty Lea mau berbincang sebentar" Pinta Alea kepada Esya.
Faaz menurunkan tubuh Esya dan Esya segera berlari menghampiri Natasha, Faaz dan Alea berjalan menuju taman. Sepertinya ada sesuatu hal yang ingin Alea bicarakan kepada Faaz, "Lea mau minta ijin Kak? " Ucap nya.
"Minta ijin apa toh? " Tanya Faaz sembari menatap wajah Alea.
"Lea mau gantiin Kak Fizzy di kantor, Lea gak merasa khawatir meninggalkan Tessa karena Tessa sangat nyaman saat bersama Kak Fizzy! " Ucapnya, "lagian biar Lea aja yang kerja di kantor temenin Kaka" Tambahnya, hal itu membuat Faaz melebarkan senyuman.
Faaz membelai ujung kepala Alea, "biar saja Kakak yang kerja, kalian temenin Papa aja. Lagian kakak gak sendiri, Aliq bantu Kakak disana. Kakak juga udah gak ijinin Fizzy untuk kerja" Ucap Faaz.
"Beneran Kak, Lea ingin cari kesibukan. Kalau jadi model lagi, Lea gak mau. Lea kan udah berhijab! " Sahutnya sembari mengernyitkan sebelah alisnya.
"Lagian Kakak dan Papa gak suka liat Lea jalan di Catwalk gitu!," Sambungnya kembali.
"Nah baru sadar ternyata!," Ucap Faaz.
"Iya Kak, makanya dulu gak Lea lanjutin." Balasnya, "Lagipula, Kakak itu butuh uang yang banyak kan buat urus Lea, Papa, anak Lea, anak dan istri kakak dan juga Maliq. Apalagi Maliq.. " Air matanya berderai.
"No, No.. Gak boleh Nangis, Maliq pasti sembuh." Ujar Faaz, Alea segera menyeka air matanya.
Drrt... Drrt.
Ponsel Faaz berbunyi, ia melihat layar ponsel.
Noni Is Calling..
Ia pun segera menerima panggilan tersebut.
"Halo, " Sapa Faaz untuk Noni,
Noni menyahutinya, "Halo, Kak. Bisakah kakak datang ke rumah sakit? " Tanya Noni, suara nya terdengar mencekam.
"Kenapa sayang? Apa hal buruk sedang terjadi kepada adik ku? " Faaz merasa sangat khawatir.
"Mmmm, Ti.. tidak Kak.. Dokter ingin menemui kakak! " Ucapnya.
__ADS_1
"Baiklah, kakak akan segera kesana"
Faaz pun segera menutup panggilan tersebut dan berniat untuk segera pergi ke Rumah sakit, "Kakak akan segera ke rumah sakit! " Ucap Faaz.
"Ada apa? Apa sesuatu hal terjadi kepada Maliq? " Tanya nya.
"Tidak tahu, Noni bilang kalau Dokter ingin bertemu dengan Kakak." Jawab Faaz.
"Aku ikut kak, " Pinta Alea.
"Ya sudah Ayo,"
Rido melihat raut wajah kedua anaknya itu, "Ada apa? Kenapa kalian terlihat cemas? " Pertanyaan Rido seakan sama dengan semua anggota keluarga yang sedang berkumpul bersamanya di ruang keluarga, Faaz menarik kasar nafasnya karena merasa semakin cemas dengan pertanyaan yang di berikan Rido.
"Noni menghubungi Kak Faaz dan memberitahu bahwa Dokter ingin menemui kak Faaz, " Jawab Alea.
"Aku harus kesana pah? "
"Ini kan sudah larut sayang, " Jawab Rani.
"Apa papa boleh ikut? " Tanya Rido.
"Papa tunggu dirumah iya, papa cukup mendoakan Maliq. Faaz tidak mau Papa kenapa-kenapa. " Sahut Faaz sembari tersenyum.
"Baiklah, tolong kabari kami iya jika terjadi sesuatu." Ucap Rido.
"Iya Pap, pasti." Faaz mencium kening sang Ayah, "Papa jangan cemas, percayalah apapun yang terjadi itu semua kehendak Tuhan. Berapapun atau apapun ujiannya, kita harus lalui bersama-sama" Ucap Faaz sembari menggenggam tangan ayahnya, Rido sedikit merasa tenang karena mendengar kalimat yang Faaz lontarkan.
Faaz segera pergi, Faaz mendengar suara Natasha memanggilnya.
"Sayang, " Panggil Natasha.
Faaz menoleh, ia kira Natasha memanggilnya ternyata Natasha memberikan jacket untuk dipakai oleh Alea.
"Aku ingin ikut, tapi kasihan Damar dan Esya" Ucap Natasha.
"Aku juga titip Tessa ya kak Nat, " Pinta Alea kepada Natasha.
"Iya sayang, pakai jaket tebalnya. Cuaca lagi gak bersahabat" Ucap Natasha.
"Makasih kak, " Ucap Alea sembari mengecup pipi Natasha, Faaz juga tak lupa meminta kecupan kepada Natasha. Natasha mengecupnya, dan Faaz membalas kecupannya.
.
.
.
Sesampainya di Rumah sakit, Faaz melihat Noni sedang memondar-mandirkan langkah nya. Ia terlihat sangat cemas, "Kak Faaz, Alea" Panggilnya sembari melangkah dan memeluk kedua kakak iparnya.
"Ada apa dengan Maliq? " Tanya Noni.
"Maliq tadi sempat kejang, badannya juga sangat dingin tapi sekarang masih dalam penanganan." Ucap Noni sendu, ia terpaksa sedikit berbohong dengan mengatakan tidak terjadi sesuatu terhadap Maliq karena takut Faaz dan keluarga di rumah merasa cemas akan keadaan suaminya itu.
"Ya Tuhan, " Air mata Alea mengalir begitu saja, mulutnya menganga saat mendengar kalimat yang sedang Noni sampaikan.
"Noni takut Kak, " Faaz mengusap lembut punggung adik iparnya itu.
"Sabar sayang, InshAllah apapun yang terjadi itu yang terbaik untuk Tuhan. Kita pasrahkan saja kepadanya," Faaz mencoba untuk kuat. Karena, Faaz melihat semua anggota keluarga nya sangat lemah dengan kondisi Maliq saat ini.
"Aku takut kehilangan Maliq kak Faaz, " Ucap Noni kembali.
"Kita berdoa saja, semoga keajaiban datang! " Sahut Faaz, Faaz memeluk kedua adiknya itu dan mencoba kuat kembali dihadapan mereka padahal sebenarnya, hati dan jiwa Faaz pun rapuh. Ia sangat takut akan hal buruk terjadi kepada adik bungsunya, Faaz memejamkan matanya. Membayangkan wajah May dan wajah Rido begitupun wajah Maliq.
"Ya Tuhan, aku mohon berikanlah keajaiban untuk Maliq" Batin Faaz bergumam lirih, tak terasa air matanya terjatuh.
"Keluarga Tuan Maliq, " Panggil seorang perawat, mereka bertiga segera mendekat.
"Tuan Maliq sedang dalam keadaan kritis, Dokter sedang melakukan upaya untuk segera menyadarkannya. Saya harap kalian banyak berdoa untuk kesadarannya," Ia pun menjelaskan mengenai kondisi Maliq sebelumnya, Noni tak kuasa menahan rasa sedihnya. Ia juga tak hentu menangis, begitupun dengan Alea yang terus menerus menangis karena mendengar penjelasan mengenai kondisi Maliq yang sangat parah.
"Aku tidak mau kehilangannya Lea, Aku tidak mau! " Ucap Noni.
"Noni, banyaklah berdoa." Ucap Alea, "kita juga belum siap untuk kehilangan kembali," Tambahnya dalam isakan tangis.
Faaz sudah menghubungi pihak keluarga dirumah, semua terkejut mendengarnya. Apalagi Rido yang memaksa untuk menyusul Faaz ke rumah sakit, Faaz mengijinkan Rido untuk menyusulnya diantar oleh Aliq dan Mael. Ayana juga ingin ikut, namun Mael menolaknya karena kondisi Ayana saat ini sedang hamil tua. Mael takut terjadi sesuatu kepada janin nya, Ayana pun mengerti.
Semua merasakan harap-harap cemas, karena sedang menunggu kabar dari dalam ruangan ICCU itu. Faaz memondar-mandirkan langkahnya, wajah sedih terlihat sangat jelas. Bibirnya terlihat tak henti berdoa, tak lama kemudian Rido datang dan Faaz segera menyambutnya dengan pelukan. Noni dan Alea pun segera memeluk Papanya, "Papa, Noni... "
"Ssssh!, sudah sayang. Kita berdoa saja" Ucap Rido sembari menggelengkan kepalanya.
"Noni takut sekali Papa, "
"Semua akan baik-baik saja sayang, "
Mereka semua menunggu di depan Ruangan ICCU, duduk dengan secercah harapan akan keadaan Maliq yang sedang dalam kritis. Rido terus menerus berdzikir, walaupun matanya terpejam namun bibirnya tak berhenti berdzikir.
Wajah Maliq terlintas, ia tersenyum memakai pakaian putih lengkap menggunakan peci dan berdiri dihadapannya.
"Papa, " Maliq memanggilnya, "Aku sangat mencintai Papa, " Ucapnya kembali
"Iya Sayang, Papa juga sangat mencintai kamu! " Sahut Rido di dalam hati.
"Maliq ingin hidup lebih lama bersama kalian, namun apakah Maliq bisa? " Ungkapnya di selipi pertanyaan.
"Bisa sayang, bisa... " Ujar Rido, "Yakinlah Tuhan memberikan yang terbaik, dan Papa selalu percaya dengan takdir Tuhan, Tuhan maha baik. Apapun keadaan mu semua kehendak dari Tuhan" Ucap Rido.
"Terimakasih Papa, Maliq sangat mencintai Papa. Maliq akan berjuang untuk Papa dan Semuanya."
Bayangan wajah Maliq menghilang, air mata Rido mengalir dan Alea menghapus air matanya. Terlihat oleh Alea, Rido sedang tertidur dan mungkin apa yang di alami Rido tadi adalah sebuah mimpi.
"Tuan Faaz, " Panggil seorang Dokter, Faaz mendekat dan Rido terbangun karena mendengar suara ruangan Maliq terbuka.
"Tuan, percayalah sebuah keajaiban Tuhan itu nyata. Dan kami baru saja mendapat keajaiban itu" Rido seakan mendapat secercah sinar dan harapan dari keadaan Maliq.
"Maksud Dokter? " Tanya Faaz.
"Begini Tuan, saya baru saja mengalami hal yang tidak biasa. Tiga jam yang lalu, kami menyatakan Tuan Maliq dalam keadaan Koma dan baru saja tadi Tuan Maliq tersadar dari koma nya, wajahnya terlihat tidak sakit walaupun sedikit pucat" Ungkapan Dokter itu membuat semua terlihat tidak percaya, Rido merasa senang saat mendengar penjelasan Dokter.
Dokter pun menjelaskan, bahwa Maliq hampir saja kehilangan nyawanya dan Dokter begitupun dengan para perawat yang membantunya hampir saja merasa berserah akan keadaan pasien nya. Lalu, Dokter menyatakan bahwa Maliq dalam keadaan kritis dan sulit untuk mencari cara menolong keadaan Maliq.
Mungkin karena sel kanker yang telah menyebar, bahkan saat ini hampir 70 persen Maliq mengalami kelumpuhan. Dan mungkin saja seharusnya saat ini Maliq sudah mengalami lumpuh total tapi tadi Maloq tersadar dan memanggil nama Dokter, ia berucap akan sembuh dari sakitnya dan ingin bertemu dengan Papanya.
Kemudian Maliq dapat menggerakkan kakinya dengan lambat, dan bagi Dokter walaupun lambat itu hal yang sangat luar biasa.
Mereka semua menemui Maliq, percaya atau tidak Maliq bercerita jika baru saja dirinya melihat sebuah kematian melalui mimpi padahal sebenarnya, Maliq dinyatakan sedang mengalamu kondisi kritis. Maliq melihat tubuhnya sendiri sedang ditangisi oleh Seluruh keluarga, bahkan Zain ada di sana menggenggam tangan Maliq dan sebelah tangannya di gengam oleh Qabil.
Maliq tak mengerti mengapa dengan dirinya, namun saat itu ia bertanya. "Inikah sebuah kematian, " Ia menangis meratapi wajah-wajah seluruh anggota keluarganya, ia tahu betuk bahwa sebuah keluarga adalah segalanya.
__ADS_1
Noni merasa bernafas sangat lega saat melihat kondisi Maliq, begitupun dengah semua anggota keluarga lainnya yang sedang berada bersama Maliq dan Noni.
***
Beberapa hari kemudian, Dokter berbincang kembali bersama Faaz dan Rido dan juga Noni. Dokter mengatakan, "Ini benar-benar kasus yang sangat istimewa, saya tak mengerti mengapa hal ini terjadi" Dokter berucap sembari menunjukkan hasil CT SCAN terbaru di kepala Maliq.
"Maksud Dokter bagaimana? " Tanya Faaz yang merasa heran dengan kalimat yang di ucapkan oleh Dokter.
Layar di hadapan mereka menunjukkan beberapa batang tengkorak kepala Maliq, dan Dokter menjelaskan bahwa sel kanker yang tadinya sudah menyebar hilang seketika bahkan Dokter bilang hanya ada sebuah tumor kecil yang tersisa dan Maliq bisa menjalankan Operasi untuk mengambil tumor tersebut dan Dokter memberitahu bahwa kemungkinan besar Maliq tidak dapat berjalan dengan normal, walaupun sel kanker menghilang namun, otot serta syarafnya tidak bisa berfungsi dengan normal.
Plus minus selalu saja ada, namun hal yang terjadi di dalam kondisi Maliq adalah hal yang sangat istimewa, semua terjadi atas kehendak Tuhan. Semua sangat bahagia mendengarnya, Maliq pun segera melakukan operasi. Faaz menandatangani surat persetujuan operasi dan Dokter segera menindaklanjuti usaha untuk mengambil sisa Tumor di dalam otak Maliq.
"Terimakasih Tuhan, kau telah mendengar doa kami" Ucap Rido.
Noni menyela sembari tersenyum, "Yang lebih jelas doa Papa, makasih iya pah" Ia pun segera memeluk Rido, menenggelamkan wajahnya di dalam dekaoan ayah mertuanya.
Semua sangat bersyukur dengan keadaan Maliq dan disaat yang sama Mael memberitahu bahwa Ayana akan segera melahirkan, diketahui oleh mereka saat ini usia kandungan Ayana baru saja memasuki usia 8 bulan dan artinya bayi itu lahir dalam usia yang masih sangat muda.
Mael menuturkan bahwa Ayana terjatuh di dalam kamar mandi, ia terpeleset dikarenakan lantai yang sangat licin. Dan terpaksa Ayana harus melakukan operasi cesar untuk menyelamatkan anaknya, Rido kembali merasa harap-harap cemas dan kali ini Rido mencemaskan kedua anaknya apalagi, Ayana yang akan segera melahirkan anaknya dan Rido sangat mengkhawatirkan Ayana.
Tak Tuk Tak Tuk...
Operasi Maliq lebih dari 12 Jam, Rido dan yang lainnya terpaksa menemui Ayana terlebih dahulu.
Di sana, Rani dan Richard terlihat sangat cemas apalagi ini adalah cucu pertama mereka.
"Kecemasan ku melebihi disaat Maek lahir!, " Celetuk Richard, walaupun wajahnya serius namun tetao saja wajahnya selalu terlihat seperti seorang komedian handal.
"Apalagi aku Pah, aku sangat takut dengan keadaan Ayana" Timpal Mael.
"Keluarga Nyonya Ayana, " Panggil seorang Assisten dokter.
Semua mendekat, menghampiri Assisten dokter tersebut.
"Selamat Tuan, anak anda lahir dalam keadaan sempurna. Walaupun lahir dalam keadaan prematur namun kondisinya sangat baik,"
"Bayinya laki-laki apa perempuan? " Tanya Alea.
"Bayinya laki-laki, beratnya 2,2 ons. Kita sedang menunggu ibunya tersadar" Ucap Dokter.
"Tapi istri saya baik-baik saja kan? " Tanya Mael.
"Baik Tuan, sangat baik." Mereka semua tak henti mengucap syukur, apalagi Richard dan Rani yang tak henti mengucap rasa syukur karena kehadiran member baru yang sudah sangat dinantikan itu.
"Selamat iya sayang, " Ucap Rani sembari mengecup kening Mael, semua juga memberikan semangat. Saat Mael menatap wajah Rido, ia seakan menatap wajah Zain. Lalu Mael tak kuasa menahan tangisnya dan segera memeluk Rido, "Papa, Daddy pasti sangat bahagia" Ucap Mael.
"Iya Daddy mertua mu sangat bahagia, sama seperti kita. Terimakasih Tuhan, apapun yang kami rasakan kemarin-kemarin kau balas dengan kebahagiaan
Saat ini, kami sangat mengucap syukur kepadamu" Ucap Rido.
Sesaat sudah mengetahui keadaan Ayana, Rido dan yang lainnya kembali menunggu selesainya operasi Maliq.
12 Jam pun berlalu, Rido enggan pulang hanya Alea dan Aliq yang pulang karena Alea merasa merindukan Tessa. Dokter pun sudah memberitahu Faaz bahwa operasi berjalan dengan lancar, mereka semua mengucap syukur.
"Terimakasih Tuhan, " Ucap Noni.
Sehari setelahnya, Maliq masih dalam pemulihan berbeda dengan Ayana. Ayana sudah dalam keadaan sehat, bahkan ia terlihat bahagia memangku bayi mungil nya.
"Dia tampan sekali, " Ucap Ayana.
"Iya tapi matanya seperti mu, mata nya sangat indah sekali." Timpal Mael.
"Kau akan menamainya apa?" Tanya Ayana.
"Bintang, atau pelangi atau langit." Ucap Mael.
"Sekalian saja Matahari berawan, " Celetuk Ayana.
Maliq tertawa saat melihat wajah Ayana yang sangat lucu dan membuat Mael sangat gemas.
"Lalu kau mau menamainya apa?, " Tanya Ayana kembali.
"Kelland Aury darmawan." Jawab Mael.
"Apa artinya?," Tanya Ayana.
"Kelland itu artinya pemberani dan bisa juga sebagai pelopor atau pemimpin , Aury artinya percaya diri. Dan Darmawan nama belakang Papi, dan aku. Dan kau tahu, Aury itu nama yang diberikan Daddy saat berbincang dengan ku sebelum kita menikah," Ucap Mael.
"Iyakah? " Ayana terlihat membendung air matanya.
"Iya, awalnya dulu Daddy dan Papa Rido akan memberi nama mu Ayana Aury hendrawan, tapi Daddy lebih mendengar nama yang diberikan Papa Rido dan Mama May. Jadi gak ada salahnya aku memberikannya pada anak ku"
Ayana menangis, air matanya menetes.
"Sssshhh; jangan menangis ku mohon. " Ucap Mael.
"Jadi nama nya itu saja iya, itu kayanya cocok buat bayi mungil ini." Ucap Ayana.
"Iya sayang, filosofi dari nama itu adalah kelak, Ia cenderung memiliki rahasia dan pemalu, walaupun ia seorang yang kuat sekaligus emosional, Ia akan percaya diri dan mengendalikan situasi. Harapan ku untuk Kellan, ia akan gemar melakukan sesuatu yang bermakna dalam hidup dan sangat penyayang kepada orang-orang tedekatnya."
"Harapan yang baik Mael, " Ucap Faaz sembari menepuk pelan kedua tangannya.
Mael tersenyum, "Iya Paman Faaz, " Jawab Mael.
"Aku bahagia kalian sudah memiliki anak, selamat iya" Ucap Faaz, Natasha berjalan dibelakang bersama Damar dan Esya..
"Aku ingin melihat bayi nya Aunty Papa, " Pinta Esya, Mael pun segera menggendong dan mendudukkan Esya di samping Ayana. Esya sangat senang saat melihat bayi mungil itu, "Esya akan mengajak main adik Esya, "
"Iya, Esya harus jadi kakak yang baik untuk adik-adik Esya iya" Sahut Natasha, Esya membalasnya dengan senyuman.
"Selamat iya Ayana, " Natasha memberikan psebuah pelukan dan kecupan di pipi kanan serta pipi kiri Natasha, Ayana terlihat sangat bahagia saat mengetahui kedatangan Faaz dan Natasha.
"Makasih Kak Faaz, Kak Natasha.".
"Iya Nat, Faaz. Makasih iya" Tambah Mael.
"Sini biar aku yang gendong Damar, " Pinta Mael, Natasha memberikan Damar kepada Mael dan Natasha segera menggendong Kellan, wajah Kellan sangat tampan sekali. Mirip sekali dengan Mael dan Zain sewaktu muda, "Tampan sekali anak ini, " Ucap Natasha.
"Senyuman nya mirip Uncle Zain, " Ucap Natasha.
"Ia, tapi bentuk muka nya mirip Uncle Richard." Timpal Faaz yang sama-sama sedang memperhatikan wajah Kellan.
"Ya Tuhan, rasanya aku tidak percaya. aku sudah melahirkan seorang anak, aku bahagia sekali." Ucap Ayana, "Oh iya, gimana keadaan Maliq? " Tanya Ayana.
"Maliq masih dalam masa pemulihan, kami saja belum bisa bertemu dengan nya." Sahut Faaz
"tapi aku merasa lega, Maliq benar-benar diberikan keajaiban." Ucap Mael.
__ADS_1
"Iya Tuhan masih sangat sayang kepada Maliq dan juga kita sebagai keluarganya, apalagi Maliq dan Noni pasangan suami istri yang masih hangat. malam-malam yang mereka lalui pasti sangatlah berat disini, " gumam Ayana.
"Iya, semua memiliki cerita masing-masing. dan aku sangat berharap, Noni kuat!," Ucap Faaz.