
“Aku hanya ingin kau memaafkan ku.” Batin Natasha bergumam, Ayana berceloteh pun Natasha seperti tidak mendengarnya. Beban di hati Natasha sungguh lah berat, Ia merasa sangat menyakiti hati sesama perempuan.
“Aku bahagia sekali, karena kalian mau memaafkan semua kesalahan ku kemarin.” Ayana berbicara sembari menggenggam tangan Natasha, “Kau tahu betapa frustrasinya aku saat itu, Namun Aku mendengar kalimat darimu. Kau berbicara pada Daddy dan semuanya kalau Aku sedang merasa gundah dan kalian harus memaafkan dan membimbing ku lebih banyak...” Ayana menatap langit yang cerah, senyumannya sangat lekat. Ia terus berbicara dan berbicara kepada Natasha.
”Sayang banget sih sama kamu, Kak Nat itu memang wanit super baik, Aku sangat menyayangi Kaka... dan...”
”kak Nat, sepertinya Aku harus merelakan cintaku kepada Qabil. Mungkin karena Aku melihat Qabil benar-benar mencintai Kak Lea” Tutur Ayana, “Dan kebahagiaan di hatiku datang saat mereka benar-benar merangkul ku dan juga memaafkan ku” Ayana menatap mata Natasha yang terlihat kosong itu. Ayana meneteskan Setetes air mata dari matanya, Ia melihat wajah Natasha penuh dengan rasa iba.
”Kak Natasha, Aku tahu sedari tadi kau sama sekali tak mendengar semua keluh kesah ku.” Batin Ayana bergumam, Ia merasa sedih saat menatap Natasha dengan Tatapan kosong. Natasha seperti merasa tertekan, “Aku tahu kau sangat tertekan, Kak Natashaaaaaaa......” Batin Ayana kembali, Ia memeluk Natasha dengan sangat erat.
”Aa...a.ayana..” Lirih Natasha saat menyadari pelukan erat yang Ayana berikan.
”Kau kenapa menangis?” Natasha memegang kedua Pipi Ayana dan menghapus air mata Ayana yang sudah mengalir dengan deras, Mata mereka saling tertuju. Ayana menangis dan kembali memeluk tubuh Natasha.
”Apa kau merasa gundah Ayana?, Ceritakanlah.” Ucap Natasha, Ayana menggelengkan kepalanya.
”Lalu?” Tanya Natasha kembali, “Kau sedang menutupi sesuatu Ayana!” Ujar Natasha sembari mengusap pelan punggung Ayana.
”Kau yang sedang merasa gelisah, Kau sedang memikirkan banyak masalah. Kau malah memperhatikan ku. Sungguh mulia hati mu Kak Natasha, Aku iri akan kesabaran mu?” Gumam Ayana.
”Ayana, kau berbicara apa?” Natasha mencoba menutupi kegelisahan dirinya atas permintaan maaf yang tertolak oleh Rayna, “Aku tidak gelisah, Aku baik-baik saja sayang” Ucap Natasha kembali.
”Aku bukan anak kecil kak, Aku tahu apa yang sedang Kaka Pikirkan. Sedari tadi Aku bercerita dan kau malah melamunkan permasalahan itu.” Gerutu Ayana dengan sangat manja membuat Natasha tersenyum kala melihatnya, “Kau malah tersenyum, Kau seperti bidadari yang jatuh dari langit. Senyum mu sungguh cantik di saat kau sendiri sedang merasa sukar.” Ayana mengerucutkan setengah bibirnya, Seolah ia kecewa karena Natasha tak ingin bercerita mengenai kegundahannya. Natasha memang sosok wanita pendiam dan sedikit tertutup namun, sebenarnya Ia tak ingin menceritakan apa yang ia alami walaupun ia mengalami hal pahit sendirian. Dan yang paling utama ia tak ingin seolah menjelaskan Rayna kepada Ayana ataupun yang lainnya.
”Ayana sungguh, kau tak perlu mengkhawatirkan diriku. Aku baik-baik saja.” Ucap Natasha, “Terimakasih kau selalu menjadi garda terdepan dalam kesedihan ku, Aku bahagia mengenal dirimu Ayana” Ucap Natasha kembali.
”Apa yang selalu Kak Natasha makan?” Pertanyaan konyol Ayana muncul dan membuat senyuman di bibir Natasha semakin melebar, “Kaka malah tersenyum, Ayo jawab?” Tanya Ayana kembali.
”Aku selalu makan apa yang kau makan?” Jawab Natasha sembari tertawa kecil, Natasha senan saat berbincang bersama Ayana karena baginya Natasha dapat mengenang masa-masa indah nya bersama Adik tirinya itu. Walaupun saat ini Sang Adik tiri berubah menjadi adik yang jahat, namun bagi Natasha dia tetap Adik nya yang sangat manis.
”Tapi tingkat kesabaran Kaka dan Aku berbeda!!!!” Ayana berdecih, Natasha malah tersenyum melihat wajah polos Ayana, “Dan lihatlah, apa Kak Natasha gak pegel setiap detik selalu tersenyum seperti ini.” Gumam Ayana kembali membuat Natasha tersenyum.
”Kak Nat, Kak Aidil pernah bilang sesekali kita jangan jadi orang baik, karena kalau jadi orang baik itu malah selalu dimanfaatkan.” Ujar Ayana, “Tapi kemarin Aku berbuat Jahat juga di manfaatin sama Kak Aidil!!” Ujar Ayana sembari menunjukan tingkah polos nya.
”Nah Itu kamu sadar!!,” Jawab Natasha sembari mencubit pipi kanan Ayana.
”Ayana, Ingatlah. Berbuat baik itu tidak perlu kau memikirkan akan di manfaatkan atau tidak. Berbuat baik itu adalah keharusan.” Natasha sedikit memberi wejangan kepada Ayana, “Dan senyuman, Senyuman itu sudah seharusnya kita berikan. Senyum itu salah satu ibadah. Ayana senang kan kalau ada orang ya g senyum sama Ayana. Dan membuat orang senang itu ibadah yang paling mulia.” Tutur Natasha kembali.
”Kalau definisi kesabaran menurut Ayana Apa?” Tanya Natasha.
”Sabar itu, kalau kita dijahatin ya harus sabar tapi kan kita bukan manusia yang selalu dapat sabar. Nah kak Natasha kenapa selalu sabar?” Ayana menatap lurus kearah Natasha.
”Aku juga gak sesabar itu Ayana, Aku juga manusia sama kaya kamu. Tapi mencoba sabar itu penting loh, biar awet muda dan disayang sama Tuhan juga,” Jawab Natasha.
”Kalau menurut Kak Natasha, Sabar itu definisi nya apa?”
”Sabar adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh. sabar merupakan kemampuan mengendalikan diri yang juga dipandang sebagai sikap yang mempunyai nilai tinggi dan mencerminkan kekokohan jiwa orang yang memilikinya.” jawab Natasha,
“Waw..... Seneng banget deh kalau udah ngobrol sama Kak Natasha, Ayana seneng kalau Kak Natasha terus-terusan sama Kak Faaz. Soalnya kalau Kak Rayna....oupps” Ayana membekap setengah mulutnya menggunakan satu tangannya.
”Sudah, sudah. Kak Rayna juga baik. Aku malah berharap mereka bisa hidup bahagia lagi tanpa aku.” Tutur Natasha, “Eh, Bantuin Aku bikin puding yuk. Papa Rido pasti seneng banget deh di bikinan puding.” Ajak Natasha kepada Ayana, Ayana menganggukan kepalanya dan segera beranjak ke dapur mengikuti Natasha.
.
.
.
.
Sesampainya di dapur, Natasha dikagetkan oleh keberadaan sang pengantin di dapur. Fizzy sedang membuat makanan untuk nya dan juga AliQ. Karena Fizzy dan AliQ tidak sempat untuk sarapan bersama, Natasha memiliki ide untuk menggoda sang pengantin wanita tersebut sepertinya Natasha ingin membalas Fizzy yang kala itu meledeki Faaz dan juga dirinya.
”Eh Ayana, ada pengantin baru nih.” ucap Natasha, wajah Fizzy berubah menjadi merah, “Sampe gak bisa sarapan, katanya....”
”Natasha udah deh, jangan buat aku malu.” Ucap Fizzy, “Kamu mau bikin apa Nat?” Tanya Fizzy.
”Udah dapat berapa ronde Kak Fizz?” Ayana bertanya sangat polos, “Ha-ha-Ha” sembari tertawa Ayana bertanya.
”Aduh apasih ini, Nat liat dong tuh anak bawang itu.” Ucap Fizzy, Natasha malah tersenyum saat mendengar Fizzy mengadu karena mendapat ledekan dari Ayana.
”Hayoooo loh Kak Fizzy, jawab dong.”
”Udah-Udah kalian Fizzy wajahnya merah tuh.” Ucap Rido yang datang dan duduk di meja makan sembari membawa koran di tangannya.
__ADS_1
”Papa mau Natasha bikinan Lemon tea?” Tanya Natasha sembari tersenyum manis,
”Boleh,” Jawab Rido, Natasha segera membuatkan Lemon tea kesukaan Papa mertua nya.
”Anak Papa lagi apa?, sini duduk.” Pinta Rido kepada Ayana, Ayana menghampiri dan duduk di samping Papa kesayangannya.
“Fizzy kok malah bengong, Ayo lanjutin masaknya. AliQ pasti udah Nunggu.” Fizzy tersenyum dan sepertinya salah tingkah.
”Mmmh, Iya Pah.” Wajah Fizzy seakan seperti kebingungan. Rido tersenyum saat melihat wajah Anaknya itu. Rasa bahagia pun muncul kembali.
(“Ini hari pertama dia menjadi seorang istri sesungguhnya, Papa sangat bahagia melihatnya. Semoga keluarga kalian pun selalu mendapatkan kebahagiaannya.” - batin Rido sembari tersenyum)
“Nat,,” Bisik Fizzy memanggilnya.
(“Malu gak sih, umur lebih tua masak malah gak bisa. Hmmmm Papa gak pernah salah, andai aja dulu aku ambil kelas masak juga. - batin Fizzy bergumam.)
”Nat... heyyy” Panggil Fizzy kembali sembari berbisik.
”Apa?” Fizzy mendekat kearah Natasha.
”Aku bikin Omelet, terus mau bikin Stick potato cheesee” ucap Fizzy.
”Lalu?, Itu kamu udah bikin omlet nya kan?”
“Stick potato cheesee nya aku gak bisa, gimana caranya?” Tanya Fizzy seraya kebingungan.
”Bentar Aku kelarin dulu bikin Lemon tea hangat untuk Papa iya.” Fizzy pun menunggu Natasha selesai membuatkan minuman kesukaan Papanya, setelah beberapa menit Natasha membantu Fizzy untuk membuatkan Makanan Favorite Faaz yang juga makanan Favorite AliQ.
”Papa ditaman iya, Mau ngobrol santai sama Ayana. Dan MaliQ sepertinya sedang latihan kebugaran juga disana.” Ucap Rido, mereka segera pergi dan meninggalkan kesibukan memasak Fizzy dan juga Natasha.
Fizzy senang sekali mendapat bantuan dari Natasha, sedikitnya Fizzy mendapatkan ilmu dan bagi Fizzy ilmu memasak dari Natasha itu sangatlah besar mengingat Masakan Natasha selalu sangat lezat di lidah semua anggota keluarga.
”Kamu jadi Guru aku aja deh Nat,” Ujar Fizzy, “Mau iya Please” Fizzy memohon kepada Natasha, Natasha pun tersenyum.
”Baiklah, bayar nya pake senyuman aja iya.” Mereka seperti layaknya adik dan Kaka sesungguhnya, Fizzy memang sangat menyayangi Natasha begitupun sebaliknya, “Jadi ingat Faaz deh, dia suka banget makanan ini.” ucap Natasha.
”Alhamdulilah, Ini Udah selesai.” ucap Natasha, “AliQ seneng brokoli Ijo gak?” tanya Natasha.
”Seneng juga, Yaudah pakai aja.” Ujar Fizzy,
”Kalau Faaz minumnya suka lemon tea hangat atau jeruk manis hangat.” Ucap Natasha, “Aku juga mau bikin Puding kesukaan Faaz dan Papa Rido, kamu juga pasti mau” Fizzy tertawa kecil saat mendengar celotehan Natasha.
”Haaaahhh bahagianya punya saudara ipar kaya kamu.” gumam Fizzy,
”Udah berapa lama kamu jadi Istri dari suami Saya?” Tanya Rayna yang datang mengagetkan Natasha, dengan wajah yang sangat ketus Rayna memandang penuh wajah Natasha.
Natasha menunduk, tangannya pun bergetar. Bulir air mata pun sudah terbendung di dalam kelopak mata indah miliknya, “Gak usah Nangis, Gak perlu bikin drama disini.” Ucap Rayna, Fizzy seakan geram mendengar kalimat yang Rayna berikan untuk Natasha.
”Kamu masih megang nampan, mau buat adik saya Nunggu lama?” Ucap Rayna kepada Fizzy.
”kamu kenapa Ray?” Tanya Fizzy, “Oke kamu belum bisa terima, tapi tolong berusahalah menerima keadaan ini.” Gumam Fizzy.
”menerima?, Gampang sih kalau ngomong. Coba posisi gW dibalik jadi posisi elo?” Ucap Rayna, “GW perempuan, dia perempuan. Seharusnya sesama perempuan gak akan saling Menyakiti.” Ucap Rayna kembali.
”Atau jangan-jangan emang jadi Istri Faaz adalah salah satu rencana dia biar hidup berkecukupan.” Gumam Rayna
”Stop Rayna!,,” Tandas Fizzy, “Kamu perempuan, Natasha juga perempuan oke memang iya. Tapi Natasha juga gak tau akan jadinya seperti ini.”
“Biarkan anak itu lahir tanpa dilibatkan permasalahan orang tuannya, Aku mohon bersikaplah dewasa Ray” Ucap Fizzy membuat geram Rayna, Rayna berpikir seolah Fizzy membela pernikahan Natasha dan Faaz.
“GW gak akan pernah terima Anak itu,” Ucap Sarkas Rayna.
”Saya akan pergi setelah anak saya lahir Kak Rayna.” Ucap Natasha di sela pembicaraan antara Fizzy dan Rayna, “Saya Mohon, inginkan anak ini lahir ditemani oleh Ayah nya. Setelah itu saya akan meninggalkan kalian semua, Saya janji.” Ucap Natasha, “Saya mohon Maafkan saya Kak Rayna.” Ucap Natasha kembali.
“Kakak?, Stop panggil Gw kakak.” Tukas Rayna, “GW, Gak sudi dipanggil kakak sama Elo”
”Oh iya, Kenapa gak pergi sekarang aja?”, Tanya Rayna, “Apa takut gak dapat pengakuan dari Faaz, Apa elo takut gak dapat harta nya Faaz?.” Ucap Rayna.
”Kamu harus banyak berdoa agar anak itu lahir dengan sempurna, biasanya kalau pernikahan gak direstui yang tua kelahiran anak nya....”
“Stop Rayna!,, Stop..” AliQ datang dan mendengar ucapan Rayna, AliQ merasa iba saat melihat wajah Natasha.
”Kau harusnya berterima kasih Rayna, karena nya lah Anak mu sehat.” Ucap AliQ, “dan mengenai pernikahan Faaz dan Natasha saat itu bukanlah kesalahan Natasha, mereka menikah pun bukan keinginan Natasha.” Ucap AliQ kembali.
__ADS_1
”Aku kakak mu, Aku lah korbannya disini. Mengapa kau malah membela Natasha?” Tanya Rayna, Mungkin jika saja saat itu Rayna berdiri dengan tegap. ia sudah membuat kekerasan kepada Natasha, Tangan dan kakinya seperti meronta saat duduk dan menatap ke arah Natasha.
”Kau memang kakak ku, tetapi kau selalu membenciku.” Ucap AliQ, “Rayna, Aku harus meluruskan ini semua.” ucap AliQ kembali.
”Natasha wanita yang baik, Ia ingin sekali merawat mu hingga kau sembuh.” Tutur Aliq,
”Tidak, dia wanita penghancur Rumah tangga ku.” Tolak Rayna, “Aku membencimu karena kau lahir seperti anak itu.” Sembari menunjukan jari telunjuknya kearah perut Natasha.
”Stop Rayna, Buang jauh-jauh ego mu. Dia sangat menyayangi mu, Ibu ku sangat Menyayangimu. Kau malah yang tak ingin menerimanya.” Ucap AliQ, Rayna seperti tidak bisa mengatur emosinya, Natasha hanya menunduk sedih saat mendengar setiap umpatan yang Rayna tujukan kepadanya.
”Aku membencimu Natasha, Dan Aku membencimu AliQ. Kau dan yang lainnya memang menginginkan kematian ku. Aku tidak akan memaafkan diri kalian semua.” Gumam Rayna, Rayna membalikkan kursi roda bermaksud untuk pergi ke kamarnya. AliQ dan Fizzy hanya terdiam saat mendengar Rayna berbicara seperti itu, AliQ menatap Natasha yang memohon kepadanya agar menyelesaikan perdebatan itu.
”Abrar,, Abrar...” Panggilnya dengan lantang, Mael yang datang menghampirinya saat itu.
“Ray, Mau ke atas?” Tanya Mael, “Mari Mael bantu.” Ucap Mael.
”Panggilkan Abrar!!!” Ucap Rayna yang masih terlihat marah, “Kau sama saja seperti mereka,” ucap Rayna kembali.
”Baiklah, Tunggu sebentar.” Mael segera memanggil Abrar, Rayna terlihat gusar saat menunggu Abrar datang.
”Jika ingin meluapkan emosi, luapkan lah pada Papa. Papa lah yang bersalah disini Rayna.” Rayna mendengar suara dari belakang. Ia sangat yakin suara itu adalah Suara Papa mertuanya yang selama ini baik dan sangat ia sayangi.
”Maafkan Papa, Hukumlah Papa Rayna.” Ucap Rido kembali, “Papa bersalah kepadamu, Papa menerima apapun hukuman yang kau berikan.” tutur Rido membuat Rayna terdiam, Ia mengehela nafasnya dengan sangat berat.
”Kau boleh membenci Papa, tapi jangan kau hukum anak mu dan yang lainnya. Mereka tidak bersalah, Papa lah yang bersalah disini.” Langkahnya semakin mendekat saat itu, “Tatap mata Papa Rayna, Luapkan lah emosi mu pada Papa. Berikan semua Umpatan itu pada Papa, Papa Mohon jangan buat diri Papa mati karena berdosa kepadamu. papa menerima semua cacian yang akan kau berikan.” Gumam Rido, Rayna terdiam seakan tak ingin berbicara kepada Papa mertuanya.
.
.
.
.
Quote dari Kak Mariska Lubis..
Untuk selalu memberikan cahayanya bagi alam semesta dan seisinya. Memberikan kehangatan yang menjadikan kehidupan terus ada. Tanpa pernah meminta balasan, tanpa pernah juga berhenti berpijar. Matahari memang tak pernah ingkar janji untuk senantiasa memberikan terang dalam gelap dan menjadikan di dalam gelap pun selalu ada terang.
Saat fajar menyingsing di ufuk timur, langit yang tadinya gelap berubah menjadi merah keemasan. Kehidupan berbaris menyaksikan keindahannya dan menantikan kehangatan sinar dan cahaya di tengah kumandang sabda yang terdengar dan terasa di dalam hati. Burung-burung pun turut bernyanyi dan bunga-bunga pun membuka kelopaknya. Manusia pun terjaga dan memulai hari yang baru.
Membayangkan kehidupan yang dimulai saat pagi tiba seperti melihat semut yang sibuk hilir mudik ke sana ke mari mencari makanan untuk dibawa pulang ke dalam sarangnya dan kembali lagi ke luar untuk mencari lagi dan terus saja dan terus. Betapa bersyukurnya semut bila matahari bersinar. Mereka bisa bekerja dan makanan pun menjadi berlimpah. Tidak perlu khawatir sarang akan tergenang dan hancur oleh air yang menggenang. Tidak perlu juga takut harus hanyut dan tenggelam. Bagaimana dengan manusia?!
Matahari terus bersinar sepanjang hari. Dalam badai dan hujan pun matahari tetap terus berusaha untuk memberikan sinarnya. Mencoba menghalau semua kegelapan yang menyelimuti dengan kehangatan yang diberikannya. Meskipun seringkalu membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan semuanya, namun matahari pantang untuk menyerah. Dia pasti akan datang kembali dan kembali lagi untuk membuat semuanya menjadi lebih baik lagi.
Menjadi matahari tidaklah mudah. Diperlukan cinta dan ketulusan yang sangat luar biasa dan komitmen serta kerja keras yang sangat keras. Tidak bisa setengah-setengah atau separuh-separuh. Mengabdikan diri kepada yang telah menjadikan dan memberikannya semua berkat dan rahmat yang diterimanya itu untuk kemudian diberikan kembali kepada semuanya agar menjadi sesuatu yang bermanfaat dan berarti dalam kehidupan.
Angin yang bertiup dengan sangat kencang tidak menjadikannya alasan untuk berhenti bersinar. Meskipun berat namun ini tidak menghalanginya untuk terus mundur dan menyerah. Justru semua ini menambah semangatnya untuk bisa memberikan lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi. Matahari tak pernah ingkar janji. Dia selalu ingin memberikan yang terbaik yang bisa diberikan olehnya.
Bahkan saat matahari harus kembali ke peraduannya, dia telah menitipkan cahaya dan sinarnya pada rembulan. Membuat malam yang gelap tetap menjadi ada terang. Dingin pun masih ada kehangatan. Keindahan malam pun menjadi semakin terasa saat rembulan menampakkan seluruh dirinya. Matahari memberikannya cahaya yang penuh agar rembulan bisa semakin cantik dan benderang.
Saat semua mata tertutup dan hati pun kacau balau tak karuan, matahari selalu berusaha memberikan jalan untuk mengembalikan semua keadaan menjadi lebih baik lagi. Selalu saja ada cara yang diambil dan ditempuhnya untuk menyelesaikan segala masalah yang ada. Dia tidak ingin yang lain susah dan bersedih serta larut dalam duka. Matahari selalu ingin semuanya menjadi tersenyum dan senantiasa bahagia. Dia ingin matahari-matahari lain juga tumbuh dan bisa bersinar dengan terang.
Matahari menyediakan banyak sekali untuk kehidupan. Lihatlah dedaunan dan rumput yang hijau. Bunga-bunga yang bermekaran di taman. Mereka bisa menjadi indah karena matahari membantu mereka untuk bisa tetap bertahan hidup. Tanpa matahari, semuanya menjadi layu dan mati. Tak ada yang bisa hidup ataupun berkembang. Tulang-tulang pun menjadi mudah hancur dan keropos. Berdiri dengan tegak pun tak ada yang mampu. Sakit dan susah selalu akan hinggap bila matahari tak pernah ada.
Kita sering sekali melupakan bahwa semua pencapaian yang kita peroleh bukanlah berarti itu sepenuhnya dilakukan oleh diri sendiri. Kita cenderung meremehkan yang lain yang justru membuat kita menjadi kerdil. Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Tidak perlu membayangkan orang lain yang telah banyak membantu kita dalam mencapai posisi dan kedudukan, bayangkan saja bila tidak ada tukang sampah, tidak ada tukang sayur, tidak ada tukang sapu jalan. Apa yang akan terjadi?! Apakah kita bisa melakukan semuanya benar-benar sendiri?! Bahkan untuk tinggal di dalam hutan pun kita tidak bisa sendiri. Ada pepohonan dan binatang yang membantu kita tetap bisa bertahan hidup. Bukankah ini semua sepatutnya selalu kita ingat dan kita syukuri?!
Bila saja manusia mau memanfaatkan matahari dengan cara yang baik, bumi ini tidak perlu harus menjadi kotor dan rusak. Energi yang diberikannya secara percuma, bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk menjalankan kehidupan dalam keseharian. Tidak perlu ada yang harus dirusak ataupun dihancurkan. Cukup dengan menyimpan apa yang diberikan oleh matahari dan kemudian digunakan kembali. Udara pun tetap menjadi bersih dan terjaga, tenaga manusia untuk mencari nafkah untuk membayar dan membeli pun bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang lebih dibutuhkan.
Matahari tidak pernah meminta balasan namun matahari selalu menyediakan dirinya untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Apapun yang bisa diberikannya pasti akan diberikan selama itu memang bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi kehidupan dan masa depan. Justru malah kita yang seringkali tidak berterima kasih dan selalu merasa yang ”paling”. Lupa bahwa semua itu berawal dari cinta dan kasih sayang. Kita malah justru sibuk untuk benar-benar memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi dan untuk memuaskan hasrat dan nafsu sendiri. Bukan untuk kepentingan bersama meskipun mengatasnamakan kepentingan bersama. Bukankah begitu?!
Matahari terkadang begitu menyengat dan membakar dengan sebegitu ganasnya. Apakah itu semua karena memang dia sedang marah dan murka?! Matahari tidak pernah marah dan murka. Semua yang dilakukannya adalah yang terbaik yang bisa diberikannya. Siklus di dalam perputaran dunia memang ada masa dan waktunya. Ditambah lagi dengan segala kerusakan yang dilakukan oleh manusia membuat siklus di dalam perputaran waktu ini semakin cepat. Bumi dan dunia ini harus terus menerus mengobati dan menyembuhkan diri. Tidak lain dan tidak bukan, demi dan untuk kelangsungan kehidupan di masa mendatang. Agar semuanya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Marah dan kesal adalah sesuatu yang wajar bila memang ada sesuatu yang tidak baik dan tidak benar. Tidak berarti juga marah dan kesal itu harus menjadi sesuatu yang negatif bila mau dimaknai sebagai sebuah introspeksi terhadap apa yang telah dipikirkan dan diperbuat sebelumnya. Sama-sama mau mencoba melihat kembali semuanya dari awal dan selama proses serta perjalanan agar kemudian bisa dipikirkan bersama apa yang sebaiknya dilakukan. Itu bila memang ingin ada perbaikan dan bila memang menginginkan yang lebih baik. Kalau terus saja berkutat pada ego dan keinginan pribadi, semua masalah tidak akan pernah bisa diselesaikan dengan baik.
Matahari tidak pernah ingkar janji. Matahari selalu ada dan selalu memberikan sinar dan cahayanya. Sekarang semua tergantung kepada kita semua, bagaimana kita mau mensyukuri semua ini dan membantu membuat kehidupan kita kini dan di masa depan menjadi lebih baik lagi. Benarkah kita memang sudah menjadi matahari atau kita memang hanyalah bayangan yang ingin menjadi matahari?!
Jadilah matahari dan janganlah pernah ingkar janji. Selalulah bersinar dan memberikan cahaya. Terangilah kegelapan dan berikanlah terang dalam gelap.
Semoga bermanfaat!!!
Terimakasih Kak Mariska Lubis..
"Matahari tak pernah Ingkar janji, Bahkan Matahari selalu Adil dalam membagikan sinarnya."
__ADS_1