
Setelah Alea meminta Rido untuk segera menutup wajah Qabil, mereka pun menutup wajah Qabil dan segera mengantarkan Qabil ke tempat peristirahatan terakhirnya. sepanjang perjalanan Alea memeluk tubuh Papa nya, dalam dekapan Rido ia menangis tanpa henti, Rido sengaja membiarkan tangisan nya itu, mata Alea sudah terlihat sangat bengkak, air mata itu seakan terus menerus ingin keluar tanpa ia minta.
Acara pemakaman akan segera di mulai, saat ini mereka sudah menurunkan peti jenazah Qabil dan mengankatnya menuju tempat yang akan memakamkan Qabil. Alea sangat lemah, namun ia sangat memaksa untuk ikut melewati proses pemakaman itu.
Kini, di hadapan mereka sudah terlihat satu liang lahat kosong yang sudah di persiapkan untuk Qabil. cuaca sangat cerah terlihat, bahkan suasana nya terasa sangat sejuk, makam Qabil berdampingan dengan makam May dan juga Letycia. di atas makam mereka tertanam pohon besar yang membuat makam itu terasa sangat sejuk.
Alea melihat nisan bertuliskan nama May, "Mama... Qabil pasti senang bisa berdampingan dengan Mama dan tante Cia" Rido meminta Alea untuk duduk tepat di hadapan Makam May, sebelum Qabil benar-benar di masukan kedalam liang itu, Alea meminta ijin kepada Rido agar Alea bisa mengusap lagi wajah Qabil.
"Papa bolehkah peti itu Alea buka sebentar?" Tanya Alea, "Alea mohon pah!" pintanya kembali seraya memohon kepada sang Papa.
Rido menjawab, "Sayang, Wajah Qabil sudah tertutup kain kafan dan kau sudah tidak dapat melihat wajahnya." Alea terdiam, "Baiklah, tapi kau tidak boleh membuka wajahnya apalagi air mata mu sampai menetes." Ucap Rido kembali.
Alea mendekat, Ia terlihat membendung air mata nya itu. Alea terlihat mencoba tegar, "Tuhan, aku ikhlas jika ini memang kehendak Mu. Aku mohon berikan dia tempat yang paling indah di surga mu, dia lelaki yang sangat baik untuk ku, dia lelaki yang selalu melindungi diriku, dia lelaki yang sangat menghormati ku sebagai perempuan. temui dia dengan orang tua nya, Aku mohon" Ungkap Alea, semua menangis mendengan ungkapan Alea untuk calon suaminya itu.
Noni segera mengajak nya untuk menjauh sedikit karena sudah waktunya Qabil harus di Makamkan, "Alea, ayo berdiri. kasihan dia, kau kuat iya!" Ucap Noni, Alea mengangguk pelan. walaupun sebenarnya ia sedang mencoba untuk lebih tegar.
Faaz, Maliq, Mael dan Aliq turun ke bawah liang lahat, karena sebelumnya Rido menolak Qabil di makamkan bersama dengan peti itu. Faaz seakan membendung air mata nya, Ia tak ingin melihat kelemahan dirinya.
Rido memejamkan matanya, "Papa akan sangat merindukan Qabil, Sungguh nak, Papa sangat mencintai mu.kau bukan hanya anak angkat Papa, tapi kau segalanya bagi papa." Selama hidup, sedari kecil. Qabil sangatlah dekat dengan Rido dan May, jika Qabil sedang bersama orangtua nya di Turkey, dia selalu saja merindukan sosok orang tua angkatnya, apalagi pelukan May, yang selalu menjadi penyemangat bagi nya.
Petugas membantu mereka untuk memasukan Qabil, Alea tak kuasa melihatnya. Ia membenamkan wajahnya kedalam dada Noni, ia berteriak, berteriak dengan sangat kencang. "Qabil..." Teriak nya saat memanggil nama Qabil, tangisan nya pecah. pecah dan pecah.
Ia meronta, merintih lirih memanggil namanya, walaupun ia berucap sudah ikhlas. Namun, nyatanya kesakitannya saat benar-benar menyadari bahwa Qabil memang sudah tiada, sudah tidak bisa bersama nya lebih terasa kala mereka bena-benar memasukan jasad Qabil dan mulai menjatuhkan tanah-tanah untuk menutupi nya.
Noni memeluk nya erat, ia merasa tubuh nya sudah berat menopang Alea dan itu artinya diri Alea kini sudah setengah dalam kesadaran. "Lea," panggil Noni seraya menyadarkan Alea, Maliq melihat keadaan kakak nya itu, Ia segera meminta bantuan untuk naik dan setelah Maliq naik keatas pijakan mereka, Ia segera menggendong Alea dan membawa Alea kedalam mobil, Alea memang terlihat tak sadarkan diri.
Rido sangat mengkhawatirkan Alea, Walaupun pada sebenarnya Ia pun merasa sangat lemah. namun genggaman tangan Natasha dan Fizzy terlihat menguatkan sang Ayah.
Nisan itu sudah tertancap dengan benar, Nisan bertuliskan nama Qabil Muham Ozcivied Baharudin bin Whindhansyah Baharudin
Rido berbicara kalimat penutupan pada acara pemakaman itu, dengan wajah yang terlihat sangat bersedih, Rido masih mencoba berdiri dengan kuat, air mata menetes seakan menandakan rasa kesedihan yang masih melekat, bahkan saat itu mata itu terlihat tertuju pada Nisan Qabil.
"Kematian menurut Saya adalah sebuah kepastian. Hanya Allah yang mengetahui waktu dan cara nya. Sebab itu manusia diwajibkan bertaqwa dengan berbuat kebaikan sepanjang waktu dan mengingat serta menyebut asma Allah setiap detik di dalam kehidupannya sebab kematian bisa datang kapan saja tanpa mengenal usia, status sosial, ataupun kondisinya, baik sehat maupun sakit jika sudah takdir nya maka manusia tak memiliki kemampuan apapun untuk menghindari nya."
"Kematian nya begitu sangat menyisakan duka yang sangat dalam, karena seharusnya 3 hari yang lalu ia akan menikah dengan Anak perempuan saya, namun takdir berkata lain. Qabil harus pergi secepat ini, kami sangat terpukul dengan keadaan ini." Ucap Rido sembari menangis.
Rido kembali melanjutkan kalimat yang sedang diucapkannya, helaan nafas nya terdengar sangatlah berat. "Maka dari itu saya Rido, sebagai orang tua Asuh almarhum Qabil, meminta maaf sedalam-dalam nya apabila semasa hidupnya mengeluarkan ucapan berupa kalimat yang menyakiti, atau memberikan sikap yang membuat tidak senang di dalam hati, saya memohon maaf sedalam-dalam nya." Ucap Rido kembali, "Saya meminta agar kalian semua mau mendoakan nya, agar Qabil dapat tempat yang paling indah disisi Tuhan."
semua terlihat meneteskan Air mata dan mengucap, "Aminnn" bersama.
satu persatu kerabat yang ikut mengantarkan Qabil telah berpamitan untuk pulang, mereka memeluk Rido dan mencoba menguatkannya. Rido dan anak-anak nya ikut berdoa di depan pusara May, Ia masih menangis meratapi kepergian Qabil dan di hadapan nisan May, Rido berbicara dan mengungkapkan isi hatinya.
"Istriku, kau sering sekali berucap jika kau takut di tinggalkan olehku. kau pun berucap, kau pun takut jika meninggalkan ku. lalu kenyataan memang harus kita terima, kau meninggalkan kami dengan segudang cerita, kenangan indah bahkan kau meninggalkan anak-anak kita." Natasha ikut menangis mendengar ungkapan yang tulus yang di ucapkan oleh Papa mertuanya.
"Dulu kau menulis novel tentang kita, kau sering menangis saat menulis dan Aku selalu memeluk mu dan kau tersenyum. kau pernah bercerita, ingin sekali kisah hidup anak-anak kita kau tuangkan kedalam novel mu. kau penulis terhebat, namun kini jika itu terjadi, kau akan merasa sangat sedih melebihi kisah kita"
"Alea, anak perempuan mu. yang selalu kau khawatirkan, kini masalah nya lebih berat dari apa yang kau khawatirkan. kau bahkan tidak akan mampu menuliskan kisahnya, Tuhan memang menyayangi mu, Tuhan seakan tak ingin kau menjatuhkan air mata hanya untuk menangisi kisah anak mu!"
"Sayang, Aku ingin bersama mu. rasanya aku memang tidak kuat jika kau tidak ada di sampingku" nada tangis pun terisak dari bibir anak-anak nya, "Aku ingin bersama mu!!!, kau yang selalu menguatkan ku saat anak-anak sedang merasa tantrum, kau selalu membuat suasana kita menjadi sejuk, kau..." Rido menangis tersedu-sedu, Fizzy tak kuasa melihat Papa nya menangis seperti itu, Ia pun memeluk Aliq dan menangis di dalam dekapan nya.
Faaz duduk di samping Ayana dan Zain, mungkin ia merasa lelah karena kesedihan ini.
"Aku ingin bersama dengan mu, Istriku" Ucap Rido kembali.
Rido menangis sembari menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, "Papa," Natasha ingin Rido menghentikan kalimat-kalimat itu, Rido menantap Natasha seakan tak ingin Natasha menghentikan keluhan yang sedang Rido ungkapkan.
Rido mengusap lembut nisan milik May, Ia teringat kembali masa-masa indah bersama May. sesaat sebelum ajal akan menjemput May. mereka sedang merencanakan ulang tahun Alea.
#FLASHBACK
Rido menunjukan kesehatan nya yang terlihat membaik karena saat itu keadaan May lah yang terlihat memburuk pasca Dokter mendiagnosa tersimpan Flek di dalam paru-paru May, saat itu May tertidur di dalam pelukan Rido.
"Aku merindukan Ayah" Ucap May,
"Doakan Ayah mu!" Rido berbicara sembari mencium kilas kening May, "Hanya doa lah yang Ayah butuhkan, Aku juga sangat merindukan mereka. andai saja mereka masih hidup" Ucap Rido.
Alea datang, Alea ingin sekali membuat pesta di atas kapal pesiar yang Rido dan keluarga nya miliki. dan setelah Alea memaksa Rido dan May, mereka pun menyetujui keinginan Alea. saat itu, MAy memeluk Rido dan mengucapkan terimakasih karena Rido sudah membuat Alea bahagia.
__ADS_1
"Terimakasih," Ucap may seraya mengecup pipi Rido.
"Aku bahagia memiliki mu, dan kau milik ku, milik ku selamanya" Ungkap May, Rido merasa aneh mengapa dengan May yang terlihat sangat agresif kepadanya.
"Aku juga sangat bahagia memiliki mu?" balas Rido,
"benarkah?" tanya May. "Walau kita di pisahkan dengan kematian?" Tanya May kembali.
"Sayang kau menanyakan hal yang membuat ku takut?" Ucap Rido.
"Aku selalu yang takut, mengapa kini kau yang takut"
"Mmmph.. entahlah." Jawab Rido.
"Rido ku, walaupun Aku mati tanpa dirimu, berjanjilah kau akan mengijinkan ku untuk hidup di dalam hatimu!!" Ucap May yang membuat Rido merasa sangat ketakutan, Ia memeluk May dari belakang. Ia mendekapnya, tak lama kemudian May tertidur menghadap Rido, mereka tertidur saling berpelukan.
#FLASHBACKOFF
"Ingatkah kau berucap, jika kau ingin hidup didalam hati ku setelah kematian mu. Aku menepati keinginanmu untuk membuat mu selalu hidup di dalam hatiku May" Ungkap Rido, "Kau akan selalu hidup di dalam hati ku hingga aku tak bernyawa"
"Bahkan setelah kematian cinta dari hatiku ini tidak akan pernah berkurang, Saat kenangan tentang dirimu menghampiriku, air mata ini akan selalu mengalir. Hanya cerita tentangmu yang ada di kehidupanku, dan aku ikhlas jika Seumur hidupku harus menanggung luka dari perpisahan ini" Ungkap Rido kembali, Faaz beranjak dan menghampiri Ayahnya. Ia memeluk Rido yang sedang membungkuk di hadapan Nisan May.
"Papa, Ayo kita pulang. kasihan Alea yang sedari tadi berada di dalam mobil" Ajak Faaz.
"Papa, Ayo." Ajak Fizzy menimpali ajakan Faaz.
Rido beranjak dan berdiri, Zain dan Faaz memapah jalan Rido. Natasha pun terlihat merangkul Ayana. Angin sore itu, bertiup dengan sangat kencang. kesejukan nya sangat terasa, bahkan Angin itu seakan membelai satu persatu wajah Rido dan anak-anak nya.
"Sayang, Aku memikirkanmu di setiap napas yang ku hembuskan, bahkan saat itu Aku melewati jalur di hatimu setiap hari. Aku berjalan seperti angin dan aku terbang seperti pasir dan aku sadar tidak akan ada yang mencintai ku seperti dirimu." Bisik May ditelinga Rido, "Saat itu setiap perjalananku dan tatapanku hanya berakhir padamu,
Tidak ada lagi yang harus di katakan, aku sudah mengatakan semua yang aku inginkan" Bisiknya lagi, langkah Rido terhenti, Ia yakin bisikan itu adalah suara Istrinya yang sangat ia cintai.
Rido memejamkan matanya, "Mataku milikmu, tapi kau tak menyadari itu dan saat kau tak menyadari nya Aku selalu mencoba membaca matamu secara diam-diam" Bisiknya kembali membuat Rido tersenyum bahagia.
Dalam hati Rido, "Sayang, terimakasih. terimakasih karena kau mendengar semua yang aku ungkapkan, seperti yang selalu aku katakan. Aku selalu merasa bahagia karena telah memilikimu, dan kau akan selalu hadir di dalam hatiku, senyuman mu, wajah cantik mu, dan juga belaian mu tidak pernah aku lupakan walau sedikitpun. dan Sayang Qabil mungkin telah bahagia, aku berharap dia bertemu dengan mu, Dhan dan juga Fahriye." mereka pun melanjutkan langkah kaki yang telah diukir nya untuk menghampiri Alea dan membawa nya untuk pulang.
***
"Aku merasa banyak sekali berhutang kepada nya, Aku selalu membuat Alea menderita. Noni," Ungkap Maliq.
"Sudahlah Maliq, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya." Tandas Noni, Noni mencoba untuk menenangkan hati Maliq.
Maliq menangis di dalam pelukan Noni, Ia seakan tenggelam di dalam kesedihannya.
"Qabil....." Lirih Alea yang berbicara saat matanya terpejam, Noni dan Maliq melihat wajah Alea seketika.
^Di dalam Mimpi Alea yang sangat jauh....^
ia terlihat sedang sendiri di dalam kegelapan, entah tak tahu dimana ia berada. namun, Ia sangat ingin mencari Qabil. cahaya itu terlihat menunjukan bahwa ada seseorang lelaki berbaju putih sedang duduk seakan ia sedang melakukan sembahyang.
Alea berjalan, menyeret langkahnya dengan pelan. seakan ia ingin memastikan bahwa lelaki itu adalah lelaki yang sedang ia cari. saat Alea sudah mendekat, Ia duduk tepat dibelakang lelaki itu.
lelaki itu telah selesai bersembahyang, ia menoleh dan menatap wajah Alea. ternyata benar lelaki itu adalah Qabil, lelaki yang sangat tampan, ia memakai peci dan jubah berwarna putih.
"Berhentilah menangis Alea ku!" Ucap nya seraya tersenyum manis, Alea ingin sekali memeluknya. namun, saat itu Alea seperti tidak bisa menggapainya.
Alea berteriak, "Aaaaaarrrgggg" Teriakan nya sangat kencang, "Mengapa aku tidak bisa memeluk mu?" Ucap Alea.
"Alea, aku sudah ikhlas akan kepergian ku. jangan memberatkan ku. kau akan menemukan kebahagiaan mu jika kau mau mengikhlaskan diriku" Ucap Qabil kembali.
Alea terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Qabil, "Tidak, Aku ingin ikut dengan mu Qabil" rengek Alea kembali.
"Lupakan aku Alea, kau harus memulai hidup mu dengan baik. maaf aku tak mampu mengubah kehidupan mu, walaupun Aku selalu berjuang memberikan cintaku tapi Tuhan mengatakan hal lain. Aku haruis meninggalkan mu!" Ucap Qabil, "Maaf jika Aku tak menepati janji ku untuk terus bersama mu, menjaga mu, bahkan untuk memberikan mu cinta."
"Seperti apa yang pernah Mama May tuliskan, Kau akan hidup dihatiku walaupun setelah kematian" Ucap Qabil, Alea menangis mendengar apa yang Qabil katakan.
'Kau perjalananku, kau tujuanku Qabil, dan menjalani hidup tanpamu, hati ini akan terasa Mustahil!" Ungkap Alea seraya menatap wajah Qabil penuh kesedihan. "Ketidakadaan dirimu telah mengujiku, Kau membuat segala sesuatu dalam hidupku lengkap, Qabil." Ungkap Alea kembali.
__ADS_1
"Qabil, Jika tak ada tempat di bumi, maka datang dan temui aku di langit nanti. karena saat menjalani hidup tanpamu, Aku merasa itu semua sangat mustahil" Qabil meneteskan air matanya.
"Aku akan selalu merasa bahwa hidupku hampa tanpa kehadiranmu dan sepertinya Hatiku tidak tahu caranya untuk hidup lagi" Sambung Alea, "Aku mohon ajak Aku Qabil, Aku mohon" Seketika tubuh Alea ambruk, Ia menahan derita kehilangan sang kekasih.
"Maafkan Aku Alea, Aku sangat mencintaimu!" Bayangan Qabil seakan sirna begitu saja, Alea meyadari bahwa Qabil sudah tidak ada di hadapannya. ia meronta kembali, menangis dan memanggil nama Qabil.
"Qabil kau jahat, kau meninggalkan ku!!!" lirih Alea seraya menangis terisak.
dalam mata yang terpejam, Ia masih menangis dan berteriak memanggil nama Qabil. Rido dan yang lainnya pun sedang memperhatikan dan mencoba menyadarkan Alea.
"untuk cinta seperti ini waktu berabad-abad pun rasanya tak cukup, Qabil kau jahat!!" Ucap Alea, Fizzy, Ayana, dan Natasha membekap mulutnya masing-masing dan menangis melihat keadaan Alea.
"Qabil, Barkan aku meminta kepada Tuhan sebuah perpanjangan waktu yang baru. Aku ingin kau hidup kembali bersama ku!!" celotehnya dengan mata yang masih terpejam, "Kau jahat!!!" Ucapnya kembali, Rido kembali meminta Noni agar membuatnya tersadar, namun, Noni menolaknya.
"Biarkan saja Papa, biar Alea mengeluarkan segala unek-unek nya" Ucap Noni.
Alea menghela nafasnya, Ia bergumam kembali "Aku tak ingin kau pergi jauh dariku!! Qabil, sebab kau adalah temanku saat berbagi derita" Ungkap nya, "bahkan setiap deritaku, setiap kkegilaan ku terasa sangat menyenangkan jika kau tetap di sisiku, Qanil" Ucap Alea kembali.
"Kau bilang senyuman ku adalah kekuatan mu, dan bagiku hanya karena mu lah aku dapatkan harapan, meskipun waktu itu aku merasa dunia ku sangatlah kejam, Aku mohon Qabil kembalilah." Cetus nya kembali, Ia berteriak seakan merasa ia sedang sendiri, "Qabil, Aku mohon kembalilah, AKu tidak membutuhkan seribu lelaki baik, Aku hanya membutuhkan mu!"
"Bagaimana aku melewati hari-hari ku jika kau tidak ada disampingku!" keluhnya.
"Bagaimana jika aku mati karena merindukan mu, kau sama seperti Mama ku. kau meninggalkan duka dihatiku."
"Kau berucap ingin membuatku sembuh dari trauma ini, tapi kini kau lah yang membuatnya Qabil"
"Sayang ku, Alea ku. tolong sadarlah, Ini papa nak." Rido masuk kedalam mobil dan duduk di samping Anaknya itu, Ia memeluk Alea, menangis melihat keadaan anaknya ini.
"Noni, Papa mohon bagaimana ini?" Tanya Rido, Rido melihat segala tindakan frustasi Alea. semua keluhannya terdengan sangat menyedihkan semua nya.
"Sebentar Papa, biarkan Alea merasa tenang karfena mengeluarkan segala apa yang sedang ia rasakan." Jawab Noni di tengah-tengan celotehan Alea yang terdengar sedikit melemah.
"Aku mohon Qabil, kembalilah" Teriaknya lagi dan lagi.
"Aku memiliki hubungan yang baik dengan kegelapan, kau memberiku cahaya Qabil. lalu kini aku harus kembali kedalam kegelapan dan kau tidak bisa memberiku cahaya itu" Keluhnya kembali,
"Aku mohon Qabil, kembalilah" Teriaknya lagi dan lagi.
"Alea, Alea sayang... sadarlah" Noni mencoba membuat nya tersadar, Ia sedikit membuka matanya, Alea seakan tiada lelah untuk mengucap kalimat terakhirnya dan hingga suara nya melemah, ia terus-menerus memanggil nama Qabil.
Matanya kini terbuka lebar, nada tangisannya masih terdengan terisak. "Aku ingin Qabil kembali,"
"bukankah kau sudah berucap untuk mengikhlaskan dirinya?" Tanya Faaz sembari mendekat dan memeluk adiknya.
"Aku tidak bisa berbohong kakak, Aku sangat mencintainya" Ucap Alea, "Aku hidup seperti makhluk yang tidak lengkap sekarang, Mama, Kakek, dan sekarang Qabil meninggal dihari bahagiaku. mereka malah melengkapi penderitaan ku"
"Mengapa jiwaku harus menderita dengan cara ini? Apa salah ku Kakak?" Ia menoleh menatap wajah Faaz, "Apa salah ku Papa?" Ia menoleh kembali, menatap wajah Rido.
"Tadi Qabil menghampiriku, Ia mengucapkan salam perpisahannya. Ia meminta untuk aku melupakan nya dan menjalani hidupku dan Aku merasa tidak sanggup menerima ini semua," Gerutunya kembali.
"Aku merasa Tuhan tidak adil dengan ku" Ucapnya seakan merasakan frustasi yang sangat dalam.
"Tidak, kau tidak boleh berbicara seperti itu Alea!" Sela Rido.
"Apa Tuhan adil kepadaku?, mengapa yang lain tidak menerima ini sedangkan Aku..." Faaz menutup mulut Alea menggunakan satu tangannya, Ia pun terlihat menggelengkan kepalanya.
"Sudah cukup, Kakak mohon Alea. hentikan kalimat itu. Tuhan sayang kepadamu, Tuhan malah menganggapmu berbeda karena Tuhan tau, sebenarnya kau lebih kuat dari kami!!" Ucap Faaz.
Faaz memutuskan untuk segera pulang, semua masuk kedalam mobil masing-masing. Alea tetap menangis di dalam pelukan Rido, "Papa, Aku ingin bersama Qabil"
Mobil satu persatu pergi meninggalkan tempat pemakaman. sepasang mata sedang melihat dan menyaksikan kesedihan Alea. sepasang masa itu berderai air mata, Ia tahu kesedihan yang sedang Alea luapkan. bahkan Ia mendengar setiap kalimat-kalimat yang Alea ucapkan.
"Maafkan Aku Alea, ini semua karena ulah ku" Ucap Rayna, Ia sengaja datang tanpa mereka ketahui, ia mendengar mengenai keadaan Qabil dari salah satu perawat yang merawat Natasha. saat itu Rayna ingin menemui Natasha, Rayna ingin bertanya mengenai pesan yang sempat Natasha kirim untuknya.
Namun, saat ia sampai di depan kamar milik Natasha. seorang perawat memberitahu bahwa Natasha sudah pulang bersama dengan Faaz dan keluarganya, dan saat itu Perawat itu bercerita jika saudaranya yang dalam waktu bersamaan mendapatkan perawatan telah meninggal.
Rayna tahu jika orang yang meninggal adalah Qabil, Rayna merasa sangat bersalah karena baginya Qabil adalah sosok orang baik. Qabil tidak hanya menyelamatkan Alea dan Natasha tetapi Qabil juga menyelamatkan Rayna saat kejadian naas itu menimpa mereka.
__ADS_1
Tak hanya itu, sosok Qabil terdengar sangat menyayangi Aaleeysa dan saat terjadi nya pendarahan karena Rayna akan melahirkan Aaleesya, Qabil lah yang menggendong nya dan membawa nya ke Rumah sakit walaupun pada saat itu Qabil yang masih sangat belia mencoba memberanikan diri untuk mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi.
"Maaf, karena Aku dan Aidil lah kau meregang nyawa mu. maaf jika Aku membuatmu batal menikahi Alea" Rayna menangis, Ia segera menyeret langkah kaki nya untuk mendekati pusara Qabil.