
Udara nya semakin dingin terasa, mereka pun memutuskan untuk masuk. Alea meminta Noni mengantarkannya ke kamar.
Faaz terlihat turun dari atas, "Adik kakak yang cantik, mau kemana?" Tanya Faaz kepada Alea, saat ia berpapasan dengan adiknya itu.
"Lea mau ke kamar Kak, Lea merasa pusing sekali." Jawab Alea menyahuti pertanyaan yang Faaz berikan, Alea kembali berjalan menyusuri tangga bersama Noni.
Ia pun segera menghampiri istrinya untuk mencium kilas kening Natasha. kecupan itu terdengar hingga mengeluarkan suara, "Sayang, ada apa dengan mu? semua mendengar, aku kan malu" bisik Natasha di telinga Faaz.
"Tidak apa-apa, kau kan istriku. lalu mengapa kau harus malu! " balas Faaz di telinga Natasha, Natasha tersenyum. semua menikmati kemesraan yang Faaz tunjukan, Maliq pun melihatnya, Maliq terlihat acuh saat melihatnya.
Faaz yang sengaja menunjukan kemesraan di hadapan Maliq itu merasa senang saat melihat respon yang Maliq tunjukan, "Maliq benar-benar sudah melupakan istriku, berarti benar Maliq menyukai Noni." Gumam Faaz di dalam hatinya.
Dalam hati Noni, "Maliq pasti merasa sangat sakit hati, kasihan sekali dia. dia kan baru saja merasa senang karena sudah berbincang bersama Kak Natasha, kasihan sekali Maliq"
"Sudah lepaskan pelukannya, Aku harus memasak untuk makan malam nanti" Ucap Natasha.
Alea datang dari kamarnya kembali, ia memilih untuk kembali ke bawah karena tidak ingin terus menerus memikirkan Qabil "Kak Nat, aku ingin membantu Kakak masak" Ucap Alea di iringi senyuman kilas nya.
"benarkah Alea, Ayo temani kakak masak" Sembari menarik lengan Alea, Natasha merasa bahagia melihat sikap positif yang Alea tunjukan di hadapannya.
"Alea mau makan sama apa? " Tanya Natasha.
"Makan pilav kak! " Jawab Alea, Natasha mengerutkan setengah dahinya. ia tak mengerti mengenai makanan apa yang di minta oleh adik iparnya itu, "Pilav kesukaan Qabil! " Ucap Alea sembari sedikit merengek.
Natasha merasa sedih saat melihat rengekan adik iparnya itu, "Apa itu Pilav? kakak gak tau Lea! " Jawab Natasha seraya sedikit takut membuat Alea merasa kecewa, maklum Natasha sama sekali tidak mengetahui makanan-makanan khas Turki.
"Qabil pasti senang kalau Alea makan makanan kesukaan Qabil, " Noni yang datang menghampiri Alea segera bertanya mengenai keinginan Alea
"Apa yang di inginkan Alea Kak Natasha? " Tanya Noni.
"Makanan sejenis Pilav" Jawab Natasha.
"Biar aku saja yang bikin Nat" Jawab Maliq, "Aku tahu kok cara bikin nya" Sela Maliq, Natasha pun mengangguk pelan.
"Aku bantu kamu iya" Ucap Noni menawarkan bantuan, entah mengapa Noni ingin sekali membantu Maliq. mungkin Noni tak ingin Natasha yang membantu Maliq karena Noni tak ingin merasa cemburu.
"Ya sudah aku diam saja, melihat dan memperhatikan cara nya kalian memasak agar nanti aku bisa membuatkan makanan tersebut untuk Alea." Ujar Natasha, ia pun duduk di samping Alea. Alea menyandarkan kepalanya tepat di bahu Natasha
"Baiklah, Kak Nat istirahat saja." Ucap Noni, ia melangkah mendekati Maliq dan bertanya kepadanya, "Apa yang bisa ku bantu? " Tanya Noni.
"Bawakan aku daging di kulkas, dan jika bisa kupas bawang nya" Ucap Maliq memerintah Noni, Noni pun mengiyakan perintah Maliq.
"Pilav itu apa? " Tanya Natasha kepada Maliq.
"Pilav itu makanan Khas turki, bahan dasar Makanan nya terbuat dari nasi yang dicampur dengan minyak zaitun dan kacang kuda."
"Emang ada kacang kuda? " Tanya Natasha kembali.
"Gak ada sih, tapi bisa di ganti pakai kacang Mete atau apalah sejenisnya." Jelas Maliq kembali,
"Kamu kok bisa bikin? " Tanya Noni keanehan, Noni merasa aneh karena Maliq yang dianggapnya manja tapi bisa juga membuat makanan Khas negara lain.
"Mama May dan Aunty Fiye selalu membuatkan untuk kami dan selama itu, makanan ini menjadi makanan favorit kami." Terang Maliq, "Kak Faaz, Kak Fizzy, Ayana, Aku, Kak Lea dan Juga Qa.. " Maliq menatap wajah Alea, ia menunduk sedih.
"lanjutkan saja Maliq, kau pasti mau bilang kalau Qabil... sangat menyukai makanan itu kan?" Ucap Alea melanjutkan pembicaraan Maliq, air mata Alea kembali menetes namun, ia segera menyeka air mata itu dengan sendiri nya.
"I.. Iya Kak" jawab Maliq, ia melanjutkan pekerjaan nya dalam membuat Nasi pilav itu.
"Maliq, maaf aku bertanya lagi. itu bahan nya hanya itu saja? " Tanya Natasha, Natasha berniat untuk mencairkan suasana karena Natasha melihat tatapan kosong pada mata Alea.
"nanti di atas nya kita tambahin daging Ayam atau daging sapi cincang, sesuai selera aja. kalau kak Lea senengnya daging ayam cincang, iya kan Kak? " Tanya Maliq sembari memegang tangan Alea.
Alea menjawab dengan jawaban yang sangat datar, "Aku mau polos aja Maliq! " pandangan mata nya tetap kosong, dan kini matanya seakan membendung air mata.
"Ya udah aku juga mau polos aja! " Sela Noni, Natasha pun mengangguk seakan mengikuti keinginan Noni. "Baiklah, Aku juga Maliq"
Alea menatap sekelilingnya, lalu ia memeluk tubuh Natasha. ia menangis, "Sampai kapan aku harus merasakan kerinduan ini Kak! " Seru Alea sembari menangis terisak.
"Sayang, Aku mohon jangan menangis terus! " Ucap Natasha seraya berusaha menenangkan hati Alea, "Qabil pasti sudah bahagia di sana" Ucap Natasha kembali.
"Kak Lea, Maliq janji akan selalu menjaga serta membuat Kakak bahagia. Maliq janji kak! " Ucap Maliq sembari menarik tangan Alea, Ia menempelkan tangan Alea tepat di dada miliknya.
"Jika Maliq menyakiti Kakak dan tidak menjaga Kakak, Maliq bersumpah akan membuat diri Maliq sengsara!! Maliq mohon, jangan buat diri kakak menderita. Maliq gak bisa lihat kakak seperti ini" Ucap Maliq kembali, Maliq meneteskan air matanya. Alea melihat ketulusan hati Maliq, Ia melepaskan dirinya dari pelukan Natasha dan segera memeluk adik bungsu nya itu.
"Kau masih memiliki kami, dunia mu tidak mungkin mudah runtuh kak! Kami menyayangi mu dan kau harus tau itu" sembari menangis Maliq mengucapkan kalimat yang membuat hati Alea tersentuh, Faaz tahu dan mendengar apa yang adiknya bicarakan.
Fizzy dan Aliq pun mendekati Faaz, ia juga melihat apa yang sedang terjadi. hatinya terasa iba saat mengetahui ungkapan hati Maliq, "Faaz, aku merasa baru menyadari, bahwa aku beruntung memiliki kalian. khususnya mereka, Aku merasa belum bisa jadi kakak yang baik untuk mereka." Faaz merangkul bahu Fizzy, dan membawa nya berjalan menghampiri kedua adiknya.
Faaz dan Fizzy juga memeluk Alea dan Maliq dari belakang secara bersamaan, suasana begitu sangat hangat. tak terasa Noni menangis melihat pemandangan yang membuat nya haru itu, Noni merasa beruntung bisa masuk kedalam keluarga yang penuh kasih sayang.
"Noni kemari lah, " Natasha memberikan tangannya, Noni mendekat lalu Natasha merangkulnya.
"Kau juga sudah aku anggap seperti adik ku, terimakasih kau sudah mau mengurus dan menemani adik ku Alea dengan tulus. kau menjadi teman serta sahabat yang mau menemaninya di hari-hari tersulit nya" Ungkap Natasha, "Aku bangga sama kamu! " Ungkap Natasha kembali.
__ADS_1
"Makasih Kak, aku merasa beruntung bisa bertemu dan menjadi bagian di dalam keluarga ini. terimakasih Kak sekali lagi" Balas Noni, Aliq merasakan kebahagiaan itu. namun, di dalam hatinya Aliq merasa kesal dengan keadaan Alea saat ini. jika saja Rayna tidak menjadi penyebab utama meninggalnya Qabil, mungkin masih ada kesempatan untuk dirinya disini.
Namun bagi Aliq, Nasi sudah menjadi bubur. kini Rayna harus tetap menanggung apa yang telah dilakukan nya.
"Kau memang harus menanggung apapun yang telah terjadi, Bukan maksud ku untuk berlaku tega kepada mu. walaupun kau kakak ku, apa yang telah kau lakukan adalah kesalahan. Rayna semoga kali ini kau benar-benar berubah" Gumam Aliq di dalam hatinya, Aliq memang ingin sekali membuat Rayna berubah. sedari kecil Rayna selalu saja membuat masalah dengannya, padahal Aliq dan ibunya sudah berbagai cara menerima dan mendekati Rayna.
Masakan Maliq sudah siap disajikan, di atas meja makan itu hanya tersimpan satu wadah nasi Pilav. mereka sudah duduk di kursi masing-masing, mereka sedang menunggu kedatangan Rido.
Tak lama kemudian Rido datang bersamaan dengan Jimmy dan Zain. Ayana dan Mael pun ikut bergabung bersama mereka, Rido melihat masakan yang telah disajikan.
"Nasi Pilav, ini kesukaan Papa" Ucapnya, "Siapa yang membuatnya? " Tanya Rido.
Maliq merasa bangga dengan dirinya, ia mengacungkan telunjuknya. "Aku! " Ucap Maliq di iringi senyuman.
"Tapi kok gak ada Ayam cincang? " Tanya Zain.
"kita sengaja Uncle, karena Kak Lea ingin makan Pilav polos! " Ucap Natasha memberitahu Zain.
"Baiklah, ini pasti enak sekali. ayo kita makan! " Ajak Rido serta Zain berbicara bersama.
Mereka semua sangat bersemangat sekali menyantap makanan yang dibuat oleh Maliq, mereka pun memakan makanan sembari berbincang santai. Alea yang mulai memakan satu suap itu terlihat meneteskan air matanya, mungkin bagi Alea ini sama sekali tidak mudah. wajar saja ia merasa sangat cengeng, karena ia benar-benar belum sanggup akan kehilangan sosok lelaki yang sangat dicintainya seumur hidup nya itu.
"Qabil lihatlah, mereka semua ikut memakan makanan yang selalu kau inginkan. Qabil andai saja kau ada disini bersama kami, kau pasti akan menghabiskan satu wadah penuh itu sendirian dan tak ingin membaginya selain dengan ku! Aku benar-benar sangat merindukan mu! " dalam hati Alea bergumam lirih.
"Aku juga sangat merindukan mu Alea, pengantinku! wanita yang selalu aku inginkan sedari dulu, hingga kini ku tak ada. Aku harap kau mampu menerimanya, Aku sangat mencintaimu" ~ Suara Qabil berbisik di telinga Alea dan sangat lembut terdengar, Alea tersenyum saat merasakan kehadiran Qabil.
"Aku tahu kamu hadir disini, merasakan kehangatan rumah ini. semoga kita bisa secepatnya bertemu Qabil."
Saat mereka semua sedang menyantap makanan, Fizzy merasakan ada sesuatu yang tidak biasa di dalam mulutnya, rasanya seperti sedang mengunyah logam.
Ia seakan tak menyukai masakan itu, padahal sebenarnya masakan itu salah satu masakan Favoritnya. Fizzy berbisik ditelinga Aliq, "Aku ingin muntah! " ucapnya.
"Maaf, Aku harus pergi ke belakang" Ucap Fizzy yang segera berlari ke dalam kamar mandi, Fizzy mulai memuntahkan isi dalam perutnya.
Ueeekk...
Uwekkk..
suara itu terdengar sangat kencang, "Uweeek" Lagi dan lagi Fizzy memuntahkan isi dalam perut nya.
Tok..
Tok..
Tok..
"Iya Sayang" Jawab Fizzy dari dalam kamar mandi.
Ceklek.. Aliq terlihat membuka pintu kamar mandi itu dan masuk kedalam kamar mandi, wajah Fizzy terlihat sangat pucat.
"seperti nya Kamu masuk angin?" Tanya Aliq.
"Aku lupa cerita, dari kemarin setiap aku makan pasti aja kaya gini! " Adu Fizzy sembari mengelap bibirnya memakai tisu yang berada di dalam kamar mandi, "Rasanya mulut ku selalu tidak enak, " Ucap Fizzy kembali.
Aliq merasa kebingungan, "Ya sudah, besok kita periksa iya. takutnya asam lambung kamu naik! " Ujar Aliq, karena yang Aliq tahu Fizzy memiliki penyakit asam lambung akut. pernah suatu ketika Fizzy pingsan karena merasakan sakit pada lambungnya, saat itu Aliq lah yang membopong Fizzy dan membawa nya ke rumah sakit untuk melakukan perawatan.
"Iya udah besok periksa aja deh, soalnya dari kemarin juga kan aku gak bener banget pola makannya" Ucap Fizzy, Rido mengkhawatirkan anak perempuannya itu. ia mencari Fizzy dan berniat menghampirinya untuk mengetahui keadaan anak perempuan nya itu.
"Kamu kenapa Nak? " Tanya Rido yang datang karena ingin memastikan anak perempuannya baik-baik saja.
"Papa kan lagi makan, kok malah nyamperin Fizzy. Fizzy gak apa-apa kok Pah! " Ucap nya dengan nada yang sangat manja.
"Papa sudah selesai kok makan nya, Papa sangat mengkhawatirkan mu! " Ucap Rido, "Apa kamu membutuhkan dokter, biar Papa minta Uncle Richard memeriksa keadaan kamu! " Ucap Rido kembali.
"Iya sayang, biar Uncle tahu keadaan kamu! " Sela Aliq yang juga mengkhawatirkan Fizzy.
"Gak apa-apa besok aja bisa kok, aku gak sakit. cuma sedikit mual dan pusing aja! " jawab Fizzy santai.
Rido tersenyum, "Papa yakin kamu hamil Sayang!" Ucap Rido sembari mengusap keringat di dahi anak nya.
"Hamil? " Tanya Fizzy.
"Iya, Hamil! " Jawab Rido kembali, "Mama mu dulu seperti ini"
"Benarkah Papa?, Aliq sangat bahagia jika memang Fizzy hamil! " Ucap Aliq, rona wajah nya kini berubah. rasa senang terpancar dari wajah tampan Aliq, ia terlihat sangat berharap akan kehamilan istrinya itu.
Rido mengajak Fizzy duduk di sofa ruangan keluarga miliknya, Rido pun menceritakan bagaimana saat ia mengetahui kehamilan Ibunya. Rido merasakan jika Fizzy sama seperti May yang saat hamil bisa memuntahkan segala makanan yang di lahap oleh nya, Fizzy merasa senang saat mendengar cerita mengenai kehamilan May.
"Jadi saat Mama mengetahui bahwa Mama hamil kembar itu, mual nya semakin parah? " Tanya Fizzy.
"Iya, katanya kalau hamil anak kembar itu lebih berat. tapi Mama mu sangat berjuang demi kamu dan Faaz lahir dengan sempurna, ia tidak pernah memikirkan bagaimana jika berat badan nya naik atau terlalu memikirkan jika rasa makanan itu tidak enak" Jelas Rido, "Mama mu hanya ingin kalian sehat," Fizzy tersenyum saat mendengar cerita kehamilan May.
"Saat apapun yang di makan nya terasa seperti logam, ia terus menerus melawan nya agar kalian tetap sehat dan saat itu Papa selalu berdoa agar Papa lah yang merasakan itu semua, tapi Mama mu menikmati setiap apapun yang ia lalui" Jelas Rido kembali.
__ADS_1
"Ya mudah-mudahan aku bisa hamil seperti Mama dan juga Natasha, Natasha kan gak kaya ngidam orang nya Pah" Ucap Fizzy, "Dia juga terlihat santai aja gitu" Ujar Fizzy mengingat saat-saat kehamilan saudari ipar nya.
"Mudah-mudahan Fizzy bisa sehat terus, bisa kasih Papa cucu yang sangat banyak! " Ucap Rido kembali.
"Sayang aku gak sabar deh, pengen cepat-cepat periksa ke Dokter! " Gumam Aliq.
"Tapi aku kan baru telat 2 hari." Keluh Fizzy dengan wajah yang tak yakin akan kehamilan nya.
"Loh, Mama mu dulu sewaktu hamil Maliq. belum sama sekali telat haid, malah Papa yang sangat merasa yakin jika Mama mu sedang mengandung! " Ucap Rido kembali.
"Papa, rasanya aku berharap akan kehamilan itu." Rengek Fizzy seakan meminta sebuah mainan kepada Papa nya, Rido mengusap lembut kepala sang Anak.
Rido tersenyum, "Papa doakan apapun yang terbaik untuk mu! " Ucap Rido, Rido pun memeluk anak dan menantunya. Aliq merasa sangat beruntung memiliki mertua seperti Rido, Rido memang selalu memperlakukan siapapun sebaik mungkin.
"Terimakasih banyak Papa, Doa Papa lah yang selalu Fizzy dan Aliq tunggu" Sahut Fizzy sembari tersenyum manis.
"Aliq juga mau ucapin terimakasih buat Papa, karena Papa selalu ada untuk kami" Ucap Aliq "Aliq harap Papa sehat terus iya, biar bisa dampingi kami terus" Ucap Aliq kembali.
***
Setelah makan malam selesai, Mael dan Ayana sedang duduk dan berbincang berdua di atas Sofa. Mael berbicara mengenai acara pernikahan yang akan mereka langsungkan 2 bulan ke depan, Mael dan Ayana masih menutupi kebahagiaan mereka.
mereka berdua seakan tidak ingin membuat Alea merasa sangat sakit hati, karena kejadian yang menimpanya.
"Mael, aku belum bisa memberitahu niat baik kita kepada mereka? " Ucap Ayana.
"Aku pun begitu Ayana, " Mael terdengar menghela nafasnya, "Rasanya keluarga kita memang sedang di uji oleh Tuhan, dan ujian nya cukup berat! " Mael menatap langit-langit atap rumah, Mael memang sangat menyayangi semua nya.
"Rasanya aku merasa tidak tega kepada Kak Lea" Ungkap Ayana, Ia menyandarkan kepalanya di bahu Mael.
"Siapa yang bisa tega Ayana, jika aku ada di posisinya, entahlah.. aku tidak bisa membayangkan nya! " Sahut Mael kembali.
"Kalian belum tidur? " Tanya Maliq, Maliq duduk dihadapan Mael dan Ayana. ia juga menyenderkan kepala nya tepat di bahu sofa.
"Belum, oh Iya Noni kemana? " Sahut Ayana.
"Noni menemani Kak Lea hingga Kak Lea tertidur, " Jawab Maliq, "Kenapa?, kok kalian kaya yang bingung sih? " Tanya Maliq seraya menatap wajah Ayana dan Mael yang terlihat kebingungan.
"Kita lagi bingung Maliq, masalah acara pertunangan kita kan tadinya mau di gelar minggu depan. tapi kondisinya lagi kaya gini" Keluh Ayana.
"Kalian merasa takut membuat Kak Lea bersedih? " Tanya Maliq.
"Iya, Kita gak mau buat dia Down! " Jawab Mael
Maliq terdiam, ia sepertinya sedang memikirkan sesuatu. ia tahu mengenai kondisi Alea yang sedang merasa kalut, karena tak hanya batalnya pernikahan mereka melainkan meninggalnya sosok Qabil.
"Maliq, " Panggil Ayana, "Kami sudah memutuskan untuk tidak ada acara pertunangan,"
"Dan sepertinya, memang baiknya seperti itu" Timpal Mael, Maliq menganggukkan kepalanya.
"Maaf jika keadaan kakak ku, membuat kalian tak nyaman! " Gumam Maliq.
Mael pun menukas nya, "Tidak, tidak Maliq. jangan berpikir seperti itu. kita tidak merasa seperti itu, Iya kan Ayana? "
"Iya, tidak seperti kok Maliq. dari Awal memang pernikahan kita itu di rangkai sesederhana mungkin, jadi gak usah merasa tidak enak seperti itu Maliq. ku mohon! " Ucap Ayana.
"Aku merasa iba dengan kondisi kakak ku Mael, Ayana. rasanya, rasa sedih selalu menyelimuti ku jika aku melihat kesedihannya." Ungkap Maliq yang sadar akan perasaannya itu.
"Aku takut kehilangan Kak Lea! " Ucap Maliq kembali.
"Kami juga sangat menyayangi nya Maliq, Alea sangat berarti di dalam kehidupan kami. Apalagi kita tubuh besar bersama-sama, saat kecil dia selalu mengeluhkan kesedihannya padaku atau pada Qabil" Sela Mael, Mael mencoba mengungkapkan perasaan sayangnya pada Alea.
"Aku yakin Kak Alea akan mampu melewati ini semua" Timpal Ayana,
"Aku sih yakin sekali!!" Ucap Maliq yang mencoba optimis.
Rido mendengarkan setiap percakapan anak-anak yang sangat ia cintai, Rido merasa beruntung memiliki mereka semua. Dan Rido merasa bangga karena rasa kasih sayang yang Rido dan May tuangkan tertular kepada mereka, hingga mereka dapat memberikan kasih sayang dan cinta satu sama lain.
"Istriku, teman hidup ku yang mengubah seluruh hidup ku. lihatlah aku sangat bangga kepada mereka, mereka adalah bukti rasa cinta dari mu dan juga dari ku. kau lah yang selalu memberikan kedamaian kepada mereka hingga kini rasa sayang yang kau berikan pada mereka, tertuang kembali. aku sangat beruntung memiliki istri seperti mu May, kau akan selalu aku cintai selamanya" Ucap Rido lirih dalam hatinya, lagi dan lagi wajah May terbayang seakan tersenyum melihat kasih sayang yang diberikan anaknya untuk anak lainnya.
Semilir angin menusuk hingga membuat bulu kuduk Rido berdiri, wangi itu menusuk indra penciuman Rido. ia memejamkan mata nya, berharap sekali wajah May ada di hadapan nya.
"Kau kah itu sayang? " Tanya Rido lirih bernada pelan, "Aku harap kau mendengarkan setiap keluhan ku, " sambungnya kembali.
"Aku disini sayang! " Suara May membisik ditelinga Rido, entahlah mengapa Rido bisa merasakan kehadiran May.
"Aku pernah menulis cerita mengenai kehidupan kita, dan aku merasa bahagia. aku memberikan judul Teman hidupku yang mengubah hidupku, itu adalah sebuah harapan untuk ku dan terselip harapan pula untuk anak-anak ku" Ucap May sembari memeluk tubuh Rido, Rido merasa senang dan tak ingin membuka matanya. merasakan dekapan dan wangi surga dari tubuh istrinya adalah keharusan.
May melanjutkan kembali kalimat ucapan nya, "Kau benar sayang, Tuhan lebih sayang padaku. Tuhan tak ingin aku menuliskan kisah perjalanan anak-anak ku. karena mungkin terlalu rumit dan membuat sakit batin ku, sayang Aku menitipkan rasa cinta untuk mereka. aku harap mereka selalu merasakan rasa cinta itu, rasa kasih sayang serta rasa ikhlas." Ucap May kembali.
"Dan Aku percaya, Anak ku Alea akan menjadi sosok wanita yang kuat melebihi Aku. hati nya akan menerima bagaimana sebuah Takdir yang sudah di dapatkan nya! dan mungkin Alea akan memiliki cinta lebih dari kita. Aku percaya suatu hari dia akan tersenyum dan berkata, Aku bahagia Mama dan Aku bahagia Papa, sama dengan harapan yang selalu aku ucapkan padamu"
Semilir angin kembali menderu dengan sangat kencang, wangi itu semakin menusuk, punggung Rido terasa lebih hangat walaupun angin itu terasa menusuk hingga masuk kedalam tulang Rido.
__ADS_1
"Selamat hari kasih sayang suamiku" Bisik May ditelinga Rido membuat air matanya menetes, ia merasakan kehadiran istrinya itu. walaupun ia selalu menekankan dirinya bahwa sesuatu yang telah tiada tidak akan mungkin hadir begitu saja, "Aku akan selalu mencintaimu, sayang biarkan aku membayangkan setiap perkataan mu. aku bahagia bisa merasakan kehadiran mu, walaupun aku tahu ini hanyalah bayangan ku saja" Ungkap Rido sembari mengusap air matanya, matanya sudah terbuka lebar. ia berjalan dengan menyeret langkahnya pelan menuju kamar pribadinya, seiring melangkahkan kakinya itu, wajah May selalu terlihat membayang dalam pikirnya.