TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Ayana kah Biangnya?


__ADS_3

Malam pun sudah berganti menjadi Pagi. Fizzy, Faaz, Qabil dan juga Aliq masih terjaga tanpa memejamkan matanya. Berpikir mengenai keadaan Rayna dan Aaleesya yang menghilang, padahal sebenarnya Hari ini adalah hari pernikahan Fizzy juga Aliq.


Fizzy mendecih kesal karena tidak ada sama sekali petunjuk mengenai keberadaan Rayna, "Iya Ampun, kemana mereka?" Aliq mendekat kearah Fizzy, sepertinya Aliq sudah mau menerima Fizzy sebagai istrinya. Semenjak Fizzy membersihkan luka Aliq karena melakukan adu Jotos bersama Aidil, Aliq merasakan ketulusan Wanita yang akan menjadi istrinya itu.


"Tenanglah, Kita harus jujur kepada Papa. Biarkan acara ini tetap berlangsung." Ujar Aliq, Fizzy menatap kearah tangan Aliq yang menggenggam tangan Fizzy dengan erat.


"Ya, Ampun kenapa denganku." Batin Fizzy, "mengapa jantungku berdegup dengan sangat kencang." Batin Fizzy kembali.


"Dengarlah, Kita akan menemukan mereka." Ujar Qabil, Alea datang menghampiri mereka yang sedang kebingungan. Alea seperti sedang berpikir sesuatu, "Sayang, Kau sudah bangun." Tanya Qabil, Alea menyandarkan kepala nya dibahu Qabil, Alea menatap wajah Faaz. Wajah yang terlihat sangat frustasi.


"Arghhhh!!!" Teriak Faaz, "Alea, Apa Natasha sudah bangun?." Tanya Faaz sembari mengusek-ngusek wajahnya kasar.


"Belum, Kaka belum cek gudang bawah tanah?." Tanya Alea, "Siapa tau Maliq menyimpan mereka disana?, Maliq kan sekarang tidak waras." Gerutu Alea, ia mengelikan matanya keatas, Bibirnya tersungging sebal mengingat sikap Maliq akhir-akhir ini.


"Apakah gudang bawah tanah dikunci?." Tanya Qabil, "Tidak!, " Jawab Fizzy, Qabil terlihat berlari di ikuti oleh Faaz dan Aliq. Fizzy dan Alea mencoba melihat Rido ke kamarnya, berharap Papanya belum terbangun dari tidurnya. Namun salah, Rido sudah bangun lebih Awal karena melakukan Aktifitas sembahyangnya.


"Papa sudah bangun?, ini kan baru mau masuk Adzan subuh." Tanya Alea. wajahnya kikuk berusaha menyembunyikan permasalahan yang sedang terjadi, "Kalian kenapa sudah Bangun?." Tanya Rido, Alea dan Fizzy mencoba mencari alasan.


"Fizzy gak bisa tidur semalaman, Mungkin karena akan menikah."


"Alea diganggu Kak Fizzy Pah," Keluh Alea dengan sengaja berbohong kepada Rido, Rido mengernyitkan dahinya. Rido tahu ada sesuatu yang sedang mereka tutupi.


"Yasudah, kita sembahyang bersama iya." Ajak Rido, mereka pun menganggukan kepalannya. Adzan Subuh berkumandang, Rido segera menuju Mushola kecil yang ada di dalam rumahnya. Tak lama kemudian, Faaz, Aliq dan Qabil pun ikut bersembahyabg bersama.


Beberapa saat kemudian, Faaz dan yang lainnya telah selesai menunaikan ibadah Subuhnya. Faaz menoleh kearah Papanya yang sedang berdoa dengan sangat Khusyuk, Faaz seperti sedang menunggu Rido yang sedang menengadahkan tangannya. Rido pun telah selesai berdoa, Faaz mendekat dan mulai mengajak Papanya berbicara.


"Papa, Apa Faaz boleh bercerita?" Tanya Faaz.


"Ceritakanlah, Apa kau sedang gusar karena sesuatu?." Tanya Rido.


"Iya Pah, " Jawab Faaz dengan singkat, Fizzy dan yang lainnya ikut berbincang bersama Faaz dan Rido. Mereka tak mau menyelah saat Faaz berbicara, Rido menatap ke sekeliling mereka. Tampak raut wajah bingung dari semua wajah Anak-anaknya itu, "mengapa kalian malah terdiam, dan apa yang ingin kau ucapkan ?." Tanya Rido.


"Rayna dan Aaleesya hilang semalaman ini, Kami sudah mencoba mencarinya." Ungkap Faaz, "Papa, ku mohon tenanglah. Mereka pasti baik-baik saja." Ucap Faaz kembali.


"Siapa yang membawa mereka pergi?" Tanya Rido, "Dan apakah ini ada hubungannya dengan Maliq yang semalam bertengkar denganmu?" Tanya Rido kembali, Faaz menggelengkan kepalanya.


"Kami sudah mengikuti Maliq, Namun sepertinya Maliq tidak membawa Rayna dan Aaleesya." Ujar Qabil, "Awalnya kami mengira Maliq yang membawa Rayna dan esya Pah," Timpal Fizzy.


"Lalu, Siapa?." Tanya Alea.


"Sepertinya ada orang yang ingin menggagalkan acara kita, " Ujar Aliq, "Aku punya salah satu orang yang aku curigai." Ujar Aliq kembali.


"Iya Pah, Aku juga satu pemikiran dengan Kak Aliq." Timpal Qabil, "Semalam dia kemari ucap Abrar." Timpal Qabil kembali.


"Siapa?" Tanya Fizzy, "Faaz?" Fizzy melirik kearah Faaz, Seakan ingin sekali mengetahui orang tersebut.


"Coba liat rekaman CCTV didepan." Pinta Rido, Faaz keheranan setahu mereka CCTV itu sudah sangat Rusak dan Faaz tidak berpikir jika Mereka akan terekam CCTV yabg mereka pasang di depan Gerbang rumahnya.


"Kalian kenapa?, kok kaya lagi bingung" Tanya Zain yang datang untuk melakukan sembahyang, "Sembahyang saja dulu Uncle, Nanti kami ceritakan." Ucap Alea. Zain segera melakukan ibadah itu, Mereka menunggu Zain yang tak lama kemudian selesai melakukan sembahyang.


"Zain, Apa CCTV di depan sudah kau betulkan?" Tanya Rido, Zain menganggukan kepalanya dan duduk disamping Rido dengan posisi menyilangkan kedua kakinya.


"Begini Uncle ..." Fizzy dan yang lainnya mencoba menceritakan keadaan semalam, Karena setahu mereka Zain memang baru pulang subuh tadi. Dan Zain sama sekali tidak mengetahui kejadian Semalam.


"Kalian sudah menghubungi Maliq?" Tanya Zain, "Apa Maliq yang membawa Rayna pergi?" Tanya Zain kembali. Mereka menjawab jika Maliq sepertinya tak tahu jika Rayna tidak ada dirumah, karena saat Maliq bertengkar dan Pergi dari Rumah. Qabil dan Fizzy dengan sigap mengikuti Maliq.


"Lalu siapa yang kalian Curigai ?" Tanya Rido kepada Aliq, Faaz, Dan Qabil.


"Aidil." Jawab Aliq, "Abrar berkata, jika Aidil datang saat malam itu." Timpal Qabil.


"Ayo kita lihat saja CCTV nya, siapa tahu terekam semua." Pinta Alea, Mereka dengan sigap pergi kedalam ruangan yang tersimpan televisi berisikan Gambar CCTV. Zain duduk dan mulai memutar video tersebut, di dalam rekaman tersebut telihat Ayana datang dan Masuk kedalam Rumah. Lalu tak lama kemudian Ayana keluar dan mendorong kursi Roda tersebut, Ayana terlihat kesusahan kala mendorong kursi Roda tersebut dengan satu tangan yang menggendong Aaleesya. Zain terkejut saat melihat ulah putrinya itu, Dan tak lama kemudian sosok lelaki yang sering di panggil Abrar itu datang. namun sayang Abrar telat mengetahui kepergian Ayana dan seseorang yang disebut Misterius.

__ADS_1


"Ayana?" Semua Memanggil Namanya, saat melihat tingkah Ayana yang terekam. Wajah Faaz kaget saat melihat Rayna dengan posisi tubuh yang lemah.


"Kak, Maafkan Anak ku." Ungkap Zain, Rido merangkul bahu adiknya.


"Tidak, Tidak mungkin Ayana melakukan itu atas keinginan sendiri. Pasti Maliq ada dibalik ini semua" Ucap Fizzy.


"Tidak, Tidak mungkin Kak!" Timpal Alea merasa tidak percaya dengan apa yang sudah Ayana lakukan.


"Apa mungkin lelaki itu Aidil?." Tanya Aliq, alis nya mengkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Qabil, Panggil Abrar!" Perintah Faaz kepada Aliq, Raut wajah marah terkuras di wajah tampannya. Zain pun terlihat merasa tidak enak kepada Faaz dan Anggota keluarga lainnya.


"Uncle tidak tau motif Ayana seperti itu atas dasar apa!." Ujar Zain seraya Frustasi, Fizzy memeluk Unclenya itu dan mencoba menenangkannya.


"Faaz jika kau ingin Marah, Marahlah pada Uncle. Biarkan Uncle yang menanggung semua ini." Tutur Zain seraya bersedih, "Uncle sangatlah Malu dengan keadaan ini." Tuturnya kembali membuat hati Faaz merasa iba. Ia menggenggam tangan Zain dan mencoba menenangkan Perasaan Unclenya itu.


"Uncle, Sudahlah. Yang penting Rayna baik-baik saja. Mungkin Ayana memiliki alasan tertentu untuk melakukan ini" Ucap Faaz, "Atau mungkin Kak Ray memang meminta Ayana untuk membawa nya pergi, bisa saja kan Uncle, Papa, Kaka" Ujar Alea menimpali ucapan Faaz.


"Iya bisa jadi itu, Kita berpikirlah dengan tenang." Timpal Rido, Zain terlihat lebih tenang. Mungkin Zain merasa Rido dan yang lainnya akan lebih mengerti keadaan Ayana.


"Kak, Maafkan Aku. Aku pastikan, Aku akan menghukum Anak ku." Ujar Zain, "Aku malu dan tidak mengerti dengan Apa yang Ayana Lakukan!." Ujar Zain kembali.


"Tidak Uncle, Jangan hukum Ayana. Kita harus tau alasan nya terlebih dahulu." Tutur Alea yang sadar akan keadaan Ayana, "Aku merasa bersalah saat ini, Ayana seperti itu karena kesalahan ku. Maafkan aku Uncle." Tutur Alea kembali, Zain menatap lekat dengan tatapan penuh haru. Zain terlihat sangat kesal kepada Ayana.


"Zain, Kita harus tanya dulu mengapa Ayana seperti itu." Ucap Rido, Ia menepuk bahu Zain dengan pelan. Wajahnya menatap Zain serata meyakinkan Adiknya itu, meyakinkan Zain agar semua baik-baik saja.


Zain mengatupkan kedua tangannya, ia menangis tersedu-sedu. Rido dan yang lainnya merasa iba saat menatap kearah Zain, "Maafkan Aku Kak, Maafkan Aku Faaz"


"Maaf Papa, Uncle. Sepertinya ini murni rencana Ayana." Ucap Aliq, "Aku menemukan ini." Ungkap Qabil, ia menunjukan sesuatu yang berkaitan dengan Rayna. Sebuah suntikan yang terjatuh di dekat kamar Rayna, Mereka juga melihat suntikan yang sama yang sempat mereka temukan di kamar Ayana.


"Apa ini?." Tanya Rido, "Ini suntikan untuk apa?".


"Baiklah, masukan kedalam plastik ini Qabil." Pinta Aliq, "Kita akan tetap adakan acara pernikahan ini," Ujar Aliq, Fizzy menatap kearah Aliq.


"Bagaimana dengan Rayna dan Keponakanku?." Tanya Fizzy, "Apa alasan kepada Natasha!." Tanya Fizzy kembali.


"Tenanglah, Aku yang akan mengaturnya." Ucap Faaz, "yang terpenting Papa sudah mengetahuinnya." Ucap Faaz kembali.


Haripun Sudah sangat pagi, Zain yang masih saja melamunkan kenyataan bahwa anaknya terlibat dalam hilangnya Rayna dan cucu kesayangannya itu. Zain tak kuasa menatap wajah Faaz dan juga Rido, Selama ini Zain lah yang selalu mengkhawatirkan kesehatan Kakanya itu Namun, Saat ini Ayana lah yang menjadi dalam keributan di rumah Kaka tercintanya.


"Apa yang kau lakukan Ayana?," Zain bergumam kecil, "Kenapa dengan mu Zain?." Tanya Jimmy, Jimmy yang memakai kursi roda mencoba mendekat dan menepuk bahu Zain.


"Rido sudah menceritakannya kepadaku tadi sesudah sarapan." Ucap Jimmy, "Tenanglah Anakmu memiliki alasan berbuat seperti itu.


" Apa Natasha mengetahuinnya?." Tanya Zain.


"Tidak, Tapi nanti Faaz akan memberitahunya."


"Ayolah makan, kau belum sarapan sedari tadi."


"Tidak ada selera untuk ku Makan Jimm, aku sedang menunggu Yofie." Jawab Zain.


"Yofie masih mengurus kedatangan Shaloom dan orang tua mu." Ujar Rido yang datang dan duduk disamping Zain.


"Kak, Aku minta Maaf!" Ucap Zain, "Maafkan Aku, Aku tidak percaya Ayana melakukan itu dan untuk Apa?, aku pun tak tahu!!." Ucap Zain kembali penuh penekanan, Zain memeluk erat tubuh Rido.


"Sudahlah, kau tak perlu menyesali semua ini Zain. Ingatlah Aku dan Faaz tidak merasa kau mengkhianati kami." Ujar Rido, "Ayana juga pasti memiliki alasan tersendiri Uncle." Timpal Faaz yang datang beriringan bersama Natasha.


"Apakah Natasha sudah mengetahuinya?" Tanya Rido, "Aku yang memberitahunya Pap." Ucap Alea. Faaz dan Natasah duduk berdampingan tepat di hadapan Rido dan Zain yang sedang duduk. Aliq dan Fizzy sedang beristirahat karena semalam mereka tidak tidur sama sekali, apalagi Acara pernikahan nya akan digelar pada malam ini juga. Semua orang yang terlibat sebagai W.o acara pernikahan pun sudah berdatangan dan sibuk dengan tugas masing-masing.


"Papa, kita bicara saja di ruangan ku." Ajak Faaz, "Uncle juga ikut iya, Aku akan merencanakan sesuatu." Ucap Faaz kembali.

__ADS_1


"Aku akan tidur dulu kak, Aunty Rani sedang berada diperjalanan bersama Kak Azri." Tutur Alea, Alea pun segera pergi ke kamarnya. Faaz dan yang lainnya menuju Ruang kerja yang berada dirumah megahnya untuk merencanakan sesuatu.


"Apa ada masalah?, " Gumam Maliq yang sedari tadi berdiam diri di balik tembok, ia sengaja tidak masuk kedalam rumah karena sebelumnya ia mencium gelagat Aneh dari pembicaraan Rido juga Zain.


"Mengapa mereka menyebut nama Ayana dan mengapa Uncle terlihat sedang frustasi." Gumam Maliq kembali, Ia memikirkan hal yang sedari ia dengar. Maliq mencoba menghubungi Ayana, Namun ponsel Ayana terdengar tidak aktif.


*****


Didalam Ruangan kosong Milik Aidil, Ayana sedang tertidur dengan pulas. Sembari menuangkan kopi kedalam secangkir gelas kecil, Aidil menatapnya dengan sangat lekat. Aidil tahu apa yang harus ia lakukan agar Ayana mau menjadi pengikutnya, "Gadis pintar namun, Ia sedikit ceroboh." Tawa nya terdengar menggelitik, Ia juga menyunggingkan sebelah bibirnya.


"Aliq, Fizzy kalian tidak akan menikah!!!" Serunya, "Aku lah yang akan menjadi suami Fizzy." Serunya kembali.


Suara pelan namun Menggema terdengar mengagetkan Aidil, "Tidak Mama, Tidak. Maafkan Aku!!" Celoteh Ayana yang sepertinya sedang memimpikan sesuatu.


"Maafkan Ayana Mama, Ayana hanya ingin bertemu Mama." Celoteh nya kembali, Ia mengigau dengan sangat kencang.


"Ayana, Ayana!!" Panggil Aidil sembari menggoyangkan tubuh Ayana.


"Hei, bangun. Kau ini merepotkan sekali." Ujar Aidil, Ayana memeluk erat Aidil. Aidil terlihat diam saat Ayana memeluknya dengan pelukan erat, "Aku tidak akan melakukannya lagi, Aku janji." Tutur Ayana setengah sadarnya.


"Ayana, Hello!" Aidil membantingkan tubuh Ayana dengan pelan diatas ranjang yanh sedang Ayana Pakai untuk tidur.


"Ouuuchhh sakit." Ucap Ayana, "kamu kenapa bersikap seperti itu Kak Aidil." Tanya Ayana seraya mengerucutkan bibir mungilnya.


"Kau sangat berisik sekali, " Ujar Aidil, "Kau sudah mengganggu pagi ku." Ujarnya kembali membuat Ayana terdiam, "Sana ke kamar mandi, Cuci muka mu yang asam itu." Ayana terlihat beranjak dan pergi kedalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi Ayana melamunkan mimpi nya yang sedang menari didalam ingatan. Di dalam mimpinya itu, Ayana yang ingin mengakhiri hidupnya karena permasalahan cintanya bersama Qabil, Ayana terlihat memegang seutas tali yang sudah ia ikat di atas penopang tangga yang berada di dalam sebuah Rumah.


"Qabil, Kita Akhiri saja kisah cinta ini." Haluan Ayana saat di dalam mimpi, "Kau lebih memilih wanita ****** itu dibandingkan Aku!!!".


"Tidak Nak, Kau tak boleh melakukan itu" Suara May terdengar memcoba mencegah apa yang sedang Ayana lakukan.


"Jika Alea tidak Mati, Aku lah yang akan mati Mama." Ucap Ayana.


"Tidak!!, hentikan Nak. Jangan kau memperkeruh seisi keluarga ini. Kasihan Papa juga Daddy mu."


"Kembalilah, dan hiduplah sebagai Ayana putri kecil Mama." Tutur May, "Kau tak perlu bersikap seperti ini hanya karena seorang lelaki yang tidak pernah mencintaimu." Tutur May kembali. Ayana terlihat tak ingin menggubris keinginan Mama kesayangannya itu, "Tidak Mama!, Aku hanya ingin bertemu Mama." Ucap Ayana saat May terlihat mengambil Alih tali yanh dipegang oleh Ayana.


"Bohong, Kau bohong. Dengarkanlah hati kecilmu Nak. Apa yang kau lakukan ini adalah kebaikan. Mama mohon Nak, hentikan" Ucap May kembali.


Kembali dalam lamunan Ayana, kali ini Ia tersadar akan apa yang menjadi perdebatan diantara mereka di dalam mimpi tersebut. Ia mengambil air dari dalam kran dan mengusapnya dengan sarkas didasar wajahnya, "Bodoh sekali Aku ini." Ujar nya kembali sembari membasuh wajahnya dengan air yang ia ambil diatas telapak tangannya.


"Mama May berbicara seperti itu pasti karena ulahku ini." Ucap Ayana, "bagaimana aku harus menghubungi Daddy." Ucapnya kebingungan.


Dor...


Dorr...


"Ayana, lama sekali kau" Panggil Aidil


"Jangan kau bunuh dirimu sendiri ditempat ini, nanti Aku malah repot." Tutur Aidil sembari tertawa dengan sangat lepas.


"Ayana, Aku ingin ke kamar mandi mengapa kau sangat lama." Ucap Aidil kembali, Ayana tersenyum dan "baiklah Aku akan mengirim pesan saat Aidil sedang berada di kamar mandi ini." Gumam Ayana sembari tersenyum.


"Sebentar lagi kelar kok Kak Aidil, Tunggu iya." Ucap Ayana setengah berteriak.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2