
Seminggu sudah berlalu, hari-hari yang Alea lalui sangatlah berat. Ia tak mau berbicara dengan siapapun, ia juga sangat sulit untuk makan.
Noni selalu setia mendampinginya. tak hanya Noni bahkan Natasha pun selalu setia memberikan semangat untuknya, Dokter Hans sedang memeriksa keadaan nya.
Sebelum Dokter Hans, Faaz juga meminta Richard untuk memeriksa keadaan kesehatan tubuh Alea.
"Tuan Rido, Alea memang masih sangat Shock. Kepergian calon suaminya mungkin menjadi hal yang semakin berat karena ia sedang berusaha untuk menormalkan hidupnya"
"Sejauh ini, Qabil selalu bertanya dan bertanya kepada saya mengenai keadaan Alea. Sungguh sangat besar cinta nya pada Alea" Ungkap Dokter Hans.
"Saya juga yakin, karena masalah ini adalah masalah terberat dalam kehidupannya. Dan saya sudah sangat ikhlas menerima keadaan Alea Dokter" Ucap Rido,
"Daddy, Apa yang harus Noni lakukan? " Tanya Noni kepada Dokter Hans.
"Untuk saat ini, kau harus memperhatikan nya saja. Apa muncul gejala aneh lainnya? " Tanya Dokter Hans, Noni mengerti mengenai pertanyaan Ayah nya itu.
"Belum dan semoga saja tidak akan terjadi, ia hanya selalu berbicara saat tertidur." Jawaban Noni membuat Rido kebingungan.
"Daddy harus kembali memberikan nya obat! " Sela Hans.
"Apapun yang Daddy berikan pasti yang terbaik untuk Alea" Ucap Noni,
Hans tersenyum, kalimat Noni memang selalu menyejukkan hati nya. Hans merasa sangat berdosa kepada Noni, namun rada gengsinya sangatlah besar hingga ia malu untuk menunjukkan rasa kagum pada anaknya itu.
"Maksudnya gejala apa Noni? " tanya Rido.
"Gejala ingin mengakhiri hidup karena merasa sangat depresi, seperti yang pernah Alea lakukan dulu Papa" jawab Noni, Hans begitu terkejut saat mendengar Noni memanggil Rido dengan sebutan Papa.
"Ah, semoga saja tidak terjadi. Papa harap kamu selalu menjaga nya Noni, Papa tidak ingin hal itu terjadi kembali" Ucap Rido.
"Semoga saja tidak dan aku yakin tidak akan terjadi!!, " Sambung Noni kembali, Ia juga terlihat tak segan menggenggam tangan Rido.
"Papa, jangan terlalu banyak pikiran iya. Ingat Noni kan sudah janji akan terus menerus menjaga Alea, dan Noni janji akan membuat Alea menjadi putri kecil Papa yang sangat manis! " Ungkap Noni, Rido merangkul Noni dan mengucapkan rasa terimakasih nya.
Pemandangan itu menjadi tamparan keras untuk Dokter Hans, Rido sadar dengan keadaan itu.
Rido berucap, "Dokter maaf, saya memaksa Noni agar memanggil saya Papa. itu saya lakukan agar Noni tidak merasa canggung tinggal disini dan saya harap Dokter Hans tidak merasa keberatan"
"Tidak Tuan Rido, terimakasih jika Noni bisa di ijinkan tinggal untuk merawat Alea. Saya juga sangat senang" ucap Hans.
Noni tersenyum karena membalas senyuman yang Hans berikan, walaupun hatinya merasa bersedih karena Hans masih merasa canggung untuk menganggapnya seorang anak kembali.
"Baiklah Tuan, resepnya sudah saya titipkan kepada Noni. Dan nanti kabari saja saya untuk pemeriksaan selanjutnya" ucap Hans,
"Saya ucapkan terimakasih Dokter, semoga saja Alea semakin membaik" Sahut Rido.
"Amin, itu juga yang sangat saya harapkan Tuan. Baiklah saya harus menemui pasien yang lainnya, saya pamit Tuan" Ucap Dokter Hans kembali, Noni pun meminta ijin agar mengantarkan Daddy nya sampai ke halaman rumah tempat Hans menyimpan mobil miliknya.
Saat melangkah bersama, hati Noni sangat berdebar dengan kencang. Hatinya begitu merasa sangat berdegup, ia juga terlihat gugup.
"Daddy, apa yang harus aku lakukan agar Daddy mau memberikan rasa sayang Daddy untuk ku! " dalam hati Noni, ia bergumam lirih.
Hans sudah berada di depan mobil miliknya, "Hati-hati iya Daddy! " Ucap Noni, Hans menganggukkan kepalanya.
Hans membuka pintu mobil dan hendak masuk, ia pun terlihat terdiam sejenak. Ia menoleh dan menatap wajah Noni, "Daddy bangga sama kamu, terimakasih sudah mau membantu pasien dengan sangat tulus dan dari hati mu!" Ungkap Hans, Noni begitu sangat terkejut dengan apa yang Hans katakan.
"Daddy tak tahu mengapa kau selalu bersikap tulus seperti ini, hingga saat ini kau selalu bersikap baik kepada Daddy" Hans terlihat merasa sangat berdosa kepada Noni, "Maaf jika dulu Daddy selalu menolak jika kau memanggil ku Daddy! "
Matanya terlihat berkaca-kaca, bibirnya pun terlihat bergetar. Ia tak mampu berbicara apapun, lalu Hans memeluk Noni. Hans meneteskan air matanya, "Maaf jika selama ini Daddy selalu merendahkan dirimu, maaf jika selama ini Daddy selalu tidak menganggap mu dirimu anak Daddy. maafkan Daddy, Noni" Ungkap Hans kembali, Noni merasa sangat senang mendengar apa yang di ucapkan oleh Hans.
"Daddy merasa sangat banyak sekali berdosa kepada mu!, maafkan Daddy Nak! "
"Kau putri kecilku, walau darah ku tidak mengalir di dalam tubuhmu. namun kini, kau segalanya untuk ku"
"Maafkan Daddy yang dahulu Nak! maafkan Daddy" Ucapnya sembari memeluk Noni dengan erat, Noni melepaskan pelukan itu. Ia pun menatap wajah lelaki berparas tampan itu.
"Daddy bagaimanapun keadaan dulu, Aku tetap menganggap Daddy adalah orang tua ku! bagaimanapun kita, siapapun Aku, dan apapun keadaan nya. Daddy adalah orang yang paling berjasa di dalam hidupku, Aku akan semakin merasa beruntung di saat Daddy hadir di sampingku dan Daddy aku minta, jangan pernah Daddy mengucapkan kata maaf kepadaku. aku lah yang seharusnya meminta maaf kepada Daddy, aku merasa banyak sekali mengecewakan Daddy" Ucap Noni tanpa jeda, Hans menutup bibir Noni menggunakan jari tangannya itu.
"Maafkan Daddy Nak, Maaf jika selama ini mata Daddy tertutup. Daddy seakan tak melihat ketulusan hatimu dan kau mampu membuat Daddy sadar akan itu"
"Daddy berharap kau mau memaafkan Daddy! "
Noni menggelengkan kepalanya, "Tidak Daddy, Daddy tidak memiliki kesalahan apapun kepadaku. Daddy lah yang membuatku berjalan, membuatku mampu berlari dan membuat ku mampu menjadi Noni yang kuat"
"Daddy lah pemacu agar aku mendapat apa yang aku ingin kan! aku bahagia karena telah menjadi anak Daddy"
"Aku, Nonia.. anak perempuan yang sangat beruntung"
Noni menangis tersedu-sedu, air mata ketulusan itu muncul dari sela-sela matanya.
"Jika dihadapan ku kini terdapat 1000 ayah yang ingin mengadopsi ku, aku akan tetap bersama Daddy"
"Kau Daddy ku dan bagaimanapun kondisi Daddy, aku akan selalu menghargai" Gumam nya tanpa jeda, tangisan lirih itu terlihat berdengung ditelinga Hans, sembari menatap lekat wajah nya Noni juga tak malu menghapus air mata Hans.
"Aku mohon jangan menangis karena aku, air mata Daddy sangatlah berharga untuk ku."
Hans pun memeluk anak nya itu dengan pelukan yang sangat erat, Maliq melihat pemandangan penuh haru itu. air matanya tak terasa menetes, Ia seakan hanyut melihat keadaan itu.
__ADS_1
Maliq menatap haru terus menerus hingga akhirnya Noni mengetahui keberadaan Maliq yang sedang melihat kebahagiaan nya, Noni tersenyum saat melihat keberadaan Maliq dan Maliq menyambut senyuman itu dengan kedipan mata.
Noni melepaskan pelukan nya itu, Maliq berjalan menghampiri Noni dan Hans. Hans menyeka air mata itu, "Halo Dokter Hans!, Apa kabar? " Tanya Maliq.
"Baik, Tuan Maliq bagaimana? " Tanya Dokter Hans.
"Ah Iya, Panggil Maliq saja Dokter. Aku baik" Sembari menjabat tangan Hans ia tersenyum dan wajahnya menunjukan rona bahagia.
"Dokter muda Maliq saja bagaimana? " Tanya Hans, Maliq tersipu malu.
"Aku belum dapet gelar Dok! ehe! " Ketawa Maliq terlihat melebar, wajah nya terlihat memerah.
Noni menepuk lengan Maliq, "Bentar lagi kan Lulus! iya kan? " Goda Noni membuat Maliq makin merasa malu, Hans pun tersenyum saat melihat keakraban kedua nya. Hans melihat tatapan tidak biasa yang Maliq berikan kepada Noni, dan sebaliknya Noni pun memiliki tatapan yang tidak biasa kepada Maliq. Hans pun merasa sangat bahagia melihat keduanya itu.
"Ya sudah Daddy harus menemui pasien, ingat Noni hubungi Daddy jika terjadi sesuatu" Ucap Hans, Hans pun berbicara sembari tersenyum.
Ia melirik kearah Maliq, "Tuan Dokter muda, titip anak saya ya. kalau nakal cubit saja hidungnya seperti ini" Ucap Hans sembari memperagakan apa yang sedang ia ucapkan, Maliq pun tertawa kecil melihat tingkah Hans yang sebelumnya terlihat sangat tertutup dan memiliki tatanan bahasa yang sangat datar.
Hans masuk kedalam mobil, Ia membuka jendela nya dan tersenyum lalu Ia pun mulai mengemudikan mobil miliknya itu. beberapa detik berlalu, mobil milik Hans sudah jauh dari pandangan.
mereka berjalan bersama dari teras hingga ke taman belakang. saat berjalan bersama tanpa percakapan apapun, Noni dan Maliq secara bersamaan menghentikan langkahnya.
Maliq menatap wajah Noni, Maliq seakan menahan tawa nya. saat Noni menatap Maliq, Ia pun tertawa kecil dan mereka saling menatap satu sama lain.
Maliq pun tertawa, "Loh kamu kenapa tertawa coba? " Tanya Noni.
"habisnya kamu lucu! " Ucap Maliq.
"Nah loh, kok Lucu? " Tanya Noni lagi, "Dih, Aneh! " sembari mendelik kan matanya, noni masih menahan agar tawa nya tidak terlalu kencang.
"bentar kok kamu nahan tawa? " Tanya Maliq, "Jangan-jangan kamu juga lihat ada yang lucu di wajah aku iya? " sambung Maliq kembali.
Noni tersenyum sembari menatap wajah Maliq, "Apa nya yang lucu coba?, emang kamu ketawa kenapa tadi? " Tanya Noni.
"Garing banget ah" Timpal Noni kembali.
"Aku ketawa karena lihat kamu itu kaya anak kecil yang lagi gelendotan sama bapaknya! " Ucap Maliq, "Wajah kamu itu kaya anak kecil dan kamu keliatan lucu banget!" Ucap Maliq kembali, Noni memilih diam saat mendengar apa yang Maliq bicarakan.
"Noni? " Panggil Maliq, "Maaf kalau kamu tersinggung! " ucap Maliq kembali.
"Enggak! siapa yang tersinggung coba? " Tanya Noni.
"terus kenapa diem? " Tanya Maliq.
Wajah Noni terlihat gugup, entahlah Maliq merasa aneh dengan tingkah Noni. Noni memainkan lidahnya di dalam mulutnya sendiri, matanya melirik keatas, ke samping hingga kebawah seakan ia sedang berpikir sendiri.
"Arrrrrhhhhhhhh! " Teriak Noni dengan sangat kencang sembari ia berlari dan memeluk Maliq dari belakang, Noni terlihat sangat kegirangan.
Ia memeluk Maliq tanpa rasa malu sedikit pun dan ia juga terlihat melompat-lompat kegirangan, Maliq yang merasa aneh pun akhirnya mengerti.
Sembari masih memeluk tubuh Maliq, Ia pun menghela nafasnya yang tersengal saat itu bahkan terdengar nafas yang sangat berat, mungkin ia merasa kelelahan karena telah mengekspresikan rasa bahagia nya.
Ia masih memeluk tubuh Maliq, "Apa wajar aku bahagia karena tadi Maliq? " Tanya Nya.
Maliq merasa malu saat ingin membalas pelukan Noni saat itu, ia hanya menganggukkan kepalanya. Noni masih merasa nyaman, ia memeluk Maliq lebih erat lagi.
"Maliq aku bahagia, rasanya ingin sekali aku terbang dan menikmati suasana di langit" Ucapnya, Maliq mendengarkan apapun yang Noni katakan.
"Inilah yang aku tunggu sedari aku kecil!, saat perceraian Mama dan Daddy ku. aku sudah tidak mendapatkan pelukan dari Daddy, jangankan memeluk ku. hanya untuk mengucapkan rasa bangga nya pada ku saja, aku tak mendengarnya"
"bahkan Daddy berucap jika Aku tidak boleh memanggilnya Daddy!, aku tidak boleh menemuinya! " Air mata menetes membasahi baju Maliq, "Maliq wajar kah jika aku bahagia? " Tanya nya kembali.
"I.. Iya Noni" Jawab Maliq sembari terbata-bata.
"Aku bahagia Maliq, sungguh aku sangat bahagia sekali" Ucap Noni kembali, "kini Aku memiliki hati Daddy selamanya Maliq, Aku merasa sangat bahagia! " Ia menangis terisak, tangan Maliq seakan ingin mendekap tubuh Noni. membalas pelukan nya itu serta menikmati kebahagiaan Noni bersama, Maliq pun seakan ragu saat akan mendekap Noni.
Tangan nya masih bergoyang seakan ingin namun malu untuk mendekap tubuh kecil Noni, dan seperti nya Noni merasakan keraguan Maliq.
"Peluk saja Maliq, Aku ingin kau juga merasakan kebahagiaan ku! " Ujar Noni, Maliq pun memeluk Noni, Noni seolah merasakan perasaan bahagia kedua kalinya saat Maliq membalas pelukan Noni.
"Noni, Mama ku pernah berucap setiap Permasalahan dalam hidup, Akan ada titik dimana kata selesai itu terucap. Namun bagaimana kata itu dapat terukir jika kita tidak mampu melewati setiap prosesnya" Tutur Maliq, "Kau sudah melewati setiap masa sulit mu dengan hati yang lapang, maka nikmatilah kebahagiaan ini Noni" Tutur Maliq kembali.
"Aku bahagia Maliq, hanya itu yang mampu aku ucapkan." Ucap Noni.
"Selama ini mimpi ku hanya 1, Daddy memeluk ku dan menganggap ku sebagai anaknya. tapi Tuhan sangatlah baik, ia tidak hanya memberikan apa yang aku minta, tapi keseluruhan yang membuat aku bahagia" Ucap Noni sembari menangis terisak, Maliq merasa sangat bahagia mendengar apa yang Noni bicarakan.
Jantung mereka berdegup dengan sangat kencang, dan mereka merasakan getaran yang tidak biasa itu. Dalam hati Noni, "Lelaki yang dulu aku anggap adalah lelaki jahat, bahkan untuk memberikan aku kata maaf saja susah. tapi kini rasanya aku sangat nyaman berbincang dengan nya, dan kini ia memberiku rasa nyaman saat di dalam pelukan nya"
"Saat ini aku merasakan hal yang tidak biasa Noni, dulu aku tidak percaya dengan cinta karena pertemuan singkat. namun kini, Aku mempercayai hal itu dan sepertinya hal yang tidak biasa ini adalah cinta! " Ucap Maliq di dalam hatinya, Ia memejamkan matanya, memeluk Noni dan merasakan getaran yang ada di dalam hatinya.
Angin pun menderu dengan kencang, terasa menusuk Qolbu dua insan yang sedang berpelukan. mungkin karena rasa nyaman itu, mereka tak merasakan jika saat ini angin itu di bumbui butiran salju yang sudah turun.
Mereka masih berpelukan dengan erat, salju yang masih sangat tipis itu pun tak mereka hiraukan, bahkan saat ini Faaz dan Natasha yang sedang menatap nya dari kejauhan merasa sangat bahagia melihat keadaan mereka, Maliq dan Noni pun memang tidak mengetahui jika sepasang suami istri itu sedang melihat tingkah kedua nya.
"Faaz Aku bahagia melihat mereka! " Ucap Natasha sembari tersenyum dengan sangat manis, matanya terlihat berkaca-kaca.
Natasha selalu mendoakan yang terbaik untuk Maliq, sebab Natasha selalu merasa bersalah atas pernikahannya dengan Faaz yang membuat Maliq merasa kecewa.
__ADS_1
Faaz pun tersenyum, "Tuhan, mengabulkan doa kita. aku juga merasa bahagia melihat mereka!" Ujar Faaz,
"Apa kau melihat mereka berpelukan dengan sangat erat, sepertinya mereka memang sudah merasakan getaran rasa cinta." Ucap Natasha sembari menatap wajah Faaz.
"Aku merasa mereka memang sudah merasakan getaran itu, aku melihat saat kemarin Noni menatap Maliq dengan tatapan yang sangat lekat." Sahut Faaz, "Dan sebaliknya, Maliq pun seakan sudah menyimpan rasa cinta" Faaz tersenyum.
"Aku berharap seperti itu, " Ucap Natasha kembali.
mereka sangat bahagia melihat keakraban diantara Noni dan Maliq, Faaz juga memeluk Natasha dan mencium nya.
tak lama kemudian, Abrar mengetuk pintu kamar milik Faaz itu. Faaz membuka pintu kamar tersebut, "Ada apa Abrar? " Tanya Faaz.
"Tuan, Tuan pengacara ada di bawah dan sedang menunggu anda." Abrar berbicara dan berdiri tegap di depan Faaz, Ia memberitahu kedatangan pengacara yang mungkin sudah memiliki janji bersama Faaz. Faaz mengerti dengan kedatangan pengacara tersebut, namun sepertinya ia tak ingin Natasha tahu jika dia akan berbincang dengan pengacaranya tersebut.
"Ajak dia ke ruangan ku, sebentar lagi aku menyusul ke sana" Abrar menganggukkan kepalanya, Ia pun segera pergi dari hadapan Faaz.
Faaz masuk kedalam kamar kembali, Natasha yang sedang terdiam di depan kaca tersebut seketika menoleh dan menatap suaminya.
"Apakah aku boleh pergi ke rumah sakit?" Tanya Natasha penuh harap, Ia berjalan menghampiri Faaz dan segera memeluk nya.
"Kau ingin menemui Damar? " Tanya Faaz.
"Iya, Aku sangat merindukan nya" Jawab Natasha.
"Aku akan meminta Ayana dan Mael untuk menemani mu, karena ada tamu yang sedang menunggu ku" Ucap Faaz, Natasha tersenyum sangat senang mendengar apa yang Faaz katakan.
"Baiklah, Terimakasih sayang" Ucap nya sembari mengecup pipi suaminya itu.
Matanya terlihat senang saat mendapatkan kecupan hangat dari Natasha, "Bisakah kau setiap detik mengecup ku seperti itu?, Aku merasa bahagia sekali saat mendapatkan itu" Natasha tersipu saat Faaz menggoda nya, wajahnya kini sudah merah merona.
"beristirahatlah dulu, Aku harus menemui tamu ku, jika ada sesuatu hubungi aku." Sembari mengusap lembut wajah istrinya ia kembali mengecup bibirnya, ia pun pergi meninggalkan istrinya untuk segera menemui Pengacara nya.
Dalam langkahnya itu, terlintas wajah Rayna yang kala itu sangat ia cintai. ia rela memberikan cinta nya untuk Rayna, karena selama hidupnya Faaz hanya Rayna gadis yang dekat dengan nya.
#FlashBack..
"Ray apa kau sungguh-sungguh mencintaiku?" Tanya Faaz, "Aku ingin memiliki wanita sekali saja dalam usiaku, aku mohon jangan pernah mengkhianati ku! " Ucap Faaz kala itu, Rayna tersenyum seolah membalas apa yang Faaz katakan.
Faaz memegang kedua tangan Rayna dengan menggunakan kedua tangannya, tangan Rayna di cium kilas oleh Faaz dan Rayna tersenyum saat melihat melakukan itu. sebenarnya hatinya sangat sejuk jika berada di dekat Faaz, namun Rayna sudah terlanjur memiliki hubungan yang manis dengan Aidil.
Rayna ingin sekali memutuskan hubungan nya bersama Faaz, namun Rayna melihat ketulusan cintanya itu. dan di saat itu Rayna tidak mampu memilih diantara keduanya, Rayna sadar jika Faaz mampu memberikan segalanya kepada Rayna namun Rayna juga tidak bisa melepaskan Aidil karena Aidil merupakan cinta pertama nya.
Tatapan lekat itu tertuju untuk wajah Rayna yanh terlihat menahan rasa bingung, "Mengapa kau tak menjawab pertanyaan ku? " Tanya Faaz.
"Aku sungguh-sungguh mencintai mu Faaz, tapi aku ingin bertanya Apakah kau mau menerima segala kekurangan ku? " Tanya Rayna. tanpa bertanya apapun, Faaz mengiyakan apa yang Rayna tanyakan.
"Aku akan menerima apapun kekurangan mu, karena aku pun pasti memiliki kekurangan yang sama!, tapi jika kau mengkhianati cinta ku. aku tidak akan segan meninggalkan mu! " Ujar Faaz, Rayna pun memeluk Faaz tanpa ia merasa bersalah akan pengkhianatan yang telah ia lakukan.
#Flashback off.
Langkah Faaz terhenti saat itu, Faaz terdiam. matanya terlihat sangat kosong, Ia mengingat setiap detik yang ia lalui saat bersama Rayna.
Tangannya mengepal tanda ia merasa sangat kesal, "Jika saja kau tak mengkhianati ku, ini tidak akan terjadi. terlalu banyak kesalahan mu padaku, dan aku selalu memaafkan mu Rayna. tapi kini aku sudah tidak mampu memaafkan mu, Aku juga tak mampu memaafkan Aidil! " Gumam Faaz kesal, tangannya yang sedari tadi di kepal olehnya itu semakin mengepal keras.
"Maaf sepertinya sudah tidak maaf lagi bagi mu Ray! " Ucapnya kembali.
"Karena bagiku setiap permasalahan harus selalu diselesaikan!!, bahkan setiap kesalahan akan selalu termaafkan namun, bagiku bagaimana pun kesalahan tetaplah kesalahan.. semua orang yang berbuat kesalahan akan selalu dan harus mendapatkan sebuah hukuman hingga ia mengakui penyesalan. " Tutur Faaz dalam hati sembari melanjutkan langkahnya, "Bahkan ketidak-baikan dan ketidakjujuran yang kau lakukan membuat ku sadar akan jati dirimu Rayna! " Tutur Faaz kembali, dan di depan ruangan Kerja miliknya Abrar sudah berdiri menunggu kehadiran Faaz.
Abrar membukakan pintu, Terlihat seorang pengacara dan Aliq sudah duduk di sana.
Mereka berdiri saat melihat kehadiran Faaz, Faaz pun menjabat tangan seorang pengacara pribadinya itu, "Maaf Saya sudah membuat kalian menunggu lama, " Ucap Faaz sembari tersenyum.
Faaz pun duduk di samping Aliq, Ia mempersilahkan pengacara nya untuk duduk di hadapannya.
"Bagaimana Tuan Faaz, berkas nya sudah terkumpul semua. saya akan segera mengajukan gugatan perceraian jika Anda meminta saya unyuk segera memberikannya pada pengadilan! " Ucap Pengacara Kendra.
"Boleh saya melihat dulu surat untuk gugatan nya Tuan? " Tanya Faaz, Aliq hanya terdiam saat melihat kakak iparnya sedang mempersiapkan gugatan perceraian.
Faaz membaca setiap detail, surat yang di berikan oleh Pengacaranya itu. Ia membaca dengan penuh keyakinan.
"Saya ingin Hak asuh Aaleesya ada pada saya!, dan saya ingin setelah kami bercerai, kehidupan Rayna akan tetap membaik maka cantumkan uang yang akan saya berikan setiap bulannya untuk Rayna disini" Ucap Faaz.
"Dan mengenai Rumah yang berada di Canbeera, serta anak perusahaan yang selama ini Papa mertua saya kelola sudah sepenuhnya milik Rayna dan jangan lupa Uang masa idah untuk nya harus diberikan terhitung dari bulan kemarin. saya tidaj ingin memiliki hutang apapun kepadanya" ucap Faaz kembali, Pengacara Ken sangat takjub melihat ketangguhan serta rasa tanggung jawab yang diberikan Faaz.
"Baik Tuan, akan saya urus semua dengan baik." Ucapnya kembali.
"Dan satu lagi Tuan Ken, selama persidangan cerai saya dan Mantan istri saya berlangsung. saya minta di rahasiakan dari istri saya, saya juga minta agar semua hak Rayna terpenuhi tanpa terkecuali"
"Baik Tuan, apa ini sudah cukup? " Tanya nya kembali.
"Sudah, saya rasa sudah semua saya penuhi Tuan Ken, " Sahut Faaz.
"Apa saksi nya Tuan Aliq? " Tanya pengacara Ken.
"Iya saya akan menjadi saksi dari Faaz, Saya tahu betul bagaimana perjalanan rumah tangga Faaz dan kakak saya sendiri" Ucap Aliq.
"Baik Tuan," Pengacara Ken pun mengiyakan apapun yang Faaz dan Aliq inginkan.
__ADS_1
"Maaf jika keputusan ini membuatmu sakit, karena aku sudah terlalu lama kau khianati!, Aku harap kau bahagia Rayna" Ucap Faaz di dalam hatinya, Faaz terdiam dan hanya membayangkan wajah Aidil dan Rayna.