TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Nasib Mael yang lucu


__ADS_3

Seminggu kemudian...


Alea sedang sendiri di dalam kamar, ia sendiri karena Noni sedang melakukan perawatan di rumah sakit. Mungkin karena kelelahan dan kurangnya istirahat hingga akhirnya Noni pun dirawat di rumah sakit, Alea ingin menemaninya. Namun, Faaz tidak mengijinkan nya dirinya untuk menemani Noni dan akhirnya Noni ditemani oleh Maliq.


"Rasanya sangat bosan sekali...." Keluh Alea, "Apa aku masuk lagi ke kamar Kak Natasha?" Tanya Alea sendiri.


"Nanti malah aku menganggu lagi mereka, kalau aku ke kamar Mael dan Ayana. mereka pasti sedang merasakan kamar pengntin baru, kalau ke kak Fizzy, Aku merasa canggung dengan kak Aliq" Gerutu Alea sembari mengusap lembut perutnya.


"Kayanya Aku harus menonton drama korea kesukaan Noni," Ia segera menyalakan DVD player yang sering Noni pakai, "Ahh tidak, lebih baik aku nonton serial turkey kesukaan Qabil" Ucapnya seorang diri, Anaknya menendang tanda menyetujui apa yang ingin Alea lakukan.


"Hah, kau juga ingin menonton Film kesukaan papa mu dulu Nak?" Tanya Alea kegirangan, "Baiklah, "


"Hahhhhhh, coba aja kalau ada Noni dan Mael disini," Ucapnya kembali, Ia merasa rindu dengan sosok Noni dan Mael yang setiap hari selalu menemaninya.


"Be My Self... I want to be My self "  Suara dering ponsel Alea memecah kesendirian nya, ternyata Noni melakukan panggilan Video untuk mengetahui kabar Alea. "Noni, " Alea segera menerima panggilan pada ponselnya, "Hallo!!, Noni.. Bagaimana kabarmu? " Tanya Alea.


"Baik!!," Jawab Noni seraya tersenyum, "Kau sendiri bagaimana?" Tanya Noni balik.


"Ah, Syukurlah. Aku tidak di ijinkan keluar oleh Kaka. Maafkan aku iya" Ucap Alea, "Dan Aku sendiri dalam keadsaan baik, namun keponakan mu selalu membuatku kewalahan." Ucap Alea.


"Tidak apa-apa, Adik mu mengurusku dengan baik! " Sahut Noni tersenyum, terlihat sekali Noni menunjukkan rona wajah yang sangat bahagia.


Noni terkejut mendengar kalimat terakhir Alea, "Loh dia kenapa emang?' Tanya Noni.


"Dia sangat lincah, tapi aku bahagia merasakan tendangannya itu" Ucap Alea, "Bahagia sekali kelihatannya?" Sambung Alea diiringi kedipan matanya.


"Jelas lah, Aku bahagia sekali. Maliq sudah memintaku untuk menjadi pasangannya" Ucap Noni memberitahu Alea.


"Iya Kah?, ya ampun akhirnya kau benar-benar menjadi calon adik iparku" Alea merasa bahagia dengan kabar itu walaupun sebenarnya ia merasa sangat kesepian.


"Alea, esok aku sudah boleh pulang. Namun rencananya, Aku akan pulang dan memulihkan kondisiku di rumah ku"


"Mengapa tidak disini? " Tanya Alea.


"Aku gak enak, aku kan belum resmi menjadi istri Maliq" Jawab Noni.


"Maliq kemana?, ya gak apa-apa dong. Kamu Sama Maliq kan gak tidur satu kamar, kamu kan tidurnya sama aku" Ujar Alea.


"Gak sih sebenernya, Aku mau beresin rumah. Udah 3 bulan kan gak aku beresin, Maliq nemenin aku kok" Ucap Noni.


"Aku boleh ikut? " Tanya Alea.


"Boleh asal Kak Faaz ijinin kamu! " Ucap Noni kembali.


"Ya udah Nanti aku minta ijin dulu, eh tadi si Maliq kemana? " Tanya Alea.


"Oh dia lagi ketemu temennya, katanya sih dirawat disini juga" Jawab Noni, "Ya udah deh, syukur kalau Alea baik-baik saja. Nanti sambung lagi iya, Bye" Noni pun mematikan ponselnya.


Beralih ke posisi Maliq, sebenarnya teman Maliq itu adalah Shahila. Shahila adalah Mantan kekasih dari Maliq, yang sebelumnya sudah dekat dengan keluarga dari Maliq sendiri. Namun sikap manja dan kekanak-kanakannya membuat Maliq tidak respect, lalu Maliq mulai menyukai Natasha dan saat itu Maliq semakin kekeuh untuk memutuskan hubungannya bersama Shahila.


Sore itu Maliq sedang menuju ruangan Noni, namun, Ia tak sengaja berpapasan dengan orang tua dari Shahila. Lalu, orang tua Shahila berucap jika Shahila sedang melakukan perawatan bahkan Shahila akan melakukan operasi. Orang tua Shahila meminta Maliq untuk bertemu dengannya sebelum Shahila melakukan operasi.


Shahila sendiri akan melakukan operasi pada matanya, dan orang tua nya berucap jika Shahila selalu ingin bertemu dengan Maliq.


"Kamu udah punya pengganti aku? Soalnya denger-denger sih Kak Rayna bilang katanya kamu udah ada calon istri? " Tanya Shahila dengan nada suara yang sangat manja.


"Kak Rayna bilang begitu? "


"Iya, waktu itu. Aku ketemu dia di salon Kak Azri" Jawab Shahila.


"Mmpphhh, Iya. Tapi dia tahu darimana? " Tanya Maliq.


"Entahlahh!!, kalau ia siapa dia? " Tanya nya, wajahnya terlihat cemberut.


"Dia Nonia, dia seorang psikolog hebat bagiku! Nanti aku kenalin kamu sama dia iya" Ucap Maliq.


"Kenalin? Ogah ah!! " Sahutnya ketus, Seorang pelayan rumah sakit datang dan memberikan pasien makan siang. Maliq Mengingat Noni, dan Maliq akhirnya Maliq mencoba berpamitan kepada Shahila namun Shahila tidak ingin Maliq meninggalkannya dengan Alasan ibu dari Shahila sedang tidak berada di dalam kamar.


Ponsel Maliq berdering, Maliq takut jika dia menerima panggilan dari Noni, terdengar suara Shahila disana dan Maliq takut jika nanti Noni bersedih dan berpikir macam-macam saat mendengar suara wanita lain.


"Siapa? kok gak diangkat?" Tanya Shahila.


"Dia, Tunangan aku! " Jawab Maliq.


"Oh, " Jawabnya singkat.


"Eh iya, kamu OP Kapan? " Tanya Maliq yang sedang mencoba mengalihkan.


"Dua hari lagi sih, soalnya masih tahap Observasi. " Jawab Shahila.


Ting ~ suara pesan masuk..


Maliq menggeser layar kunci pada ponsel, "Maliq kau dimana? " Tanya Noni di dalam pesan.


"Tunggu sebentar iya, " Jawab Maliq, setelah beberapa jam kemudian. Maliq merasa cukup sudah menemani Shahila, Ia pun terdengar mencari alasan untuk keluar dari dalam ruangan Shahila.

__ADS_1


"Eh Shil, Aku keluar dulu iya" Ucap Maliq.


"Tapi nanti balik lagi iya? " Tanya Shahila.


"Mmmpph, Good Luck iya Op nya. Salam buat Tante" Ucap Maliq sebelum meninggalkan Shahila Sendirian, hati Maliq merasa takut. Takut jika Noni mengetahui bahwa Maliq menemui mantan kekasihnya, selain itu Maliq takut jika Shahila mulai mengganggunya lagi.


Saat Maliq menghampiri Noni kedalam ruangannya, Maliq menatap wajah Noni yang sedang tertidu. Maliq tersenyum dan menghampiri Noni Lalu mencium keningnya, Lalu Noni terbangun dan membuka matanya. Menatap Maliq, yang terlihat tersenyum padanya. Seketika iya hendak berusaha untuk bangun dan berniat untuk duduk tiba tiba di tahan oleh Maliq.


"Eeh,, Eh...  gak usah bangun sayang," Ucap Maliq, "Tiduran aja, kamu kan masih lemes?" Ujar Maliq, di sisi lain Maliq merasa ada yang mengganjal di dalam hatinya, Maliq ingin sekali menceritakannya namun rasa takut Maliq karena akan mengecewakan Noni lebih besar.


"Loh, itu makanan nya kok belum dimakan?" Tanya Maliq, "Mau aku suapin?" Tanya Maliq kemblai.


"enggak, enggak usah. tadinya mau makan sendiri tapi malah ketiduran!" hehe, Ucap Noni diiringi senyuman di bibirnya, Maliq benar-benar merasa jika Noni sangatlah berbeda dari wanita lain. Noni sosok wanita yang sangat mandiri.


"ayo, duduk dulu," Ujar Maliq yang segera membantu Noni untuk berduduk disandaran bantalnya, Maliq tetap saja ingin menyuapi Noni. Maliq pun  segera mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh rumah sakit tadi lalu menyuapi Noni sembari memberikan tatapan yang penuh kelembutan.


"Aaaaaaa." titah Maliq agar Noni membuka mulutnya dengan lebar, Namun Noni menggelengkan kepalanya tanda tidak mau.


"Habisin iya, Plis. kamu gak kangen sama Papa dan Alea, Om Hans juga tadi telepon." Ucap Maliq.


"Daddy telepon?" Tanya nya, "Iya kangen lah masa enggak, aku tadi berbohong loh sama Alea" Ucapnya.


"Iya, Om Hans bilang. besok dia pulang dari belanda."  Ucap Maliq, yang masih saja memberikan sesuap makanan untuk Noni, "Bohong Apa?" Tanya Maliq.


"Aku bilang sama Alea, kalau aku pulang besok?, Aku gak tega kalau dia tahu aku harus operasi Usus" Jawab Maliq.


"Ya ampun, gimana jadinya nanti kalau dia mengkhawatirkan aku" Ucap Noni kembali.


Dalam hati Maliq bergumam, "Dia berbohong lalu jujur padaku, lalu mengapa aku malah menutupi kebohongan ku" Ujarnya.


"Itu dikit lagi kan? Udah iya?" Pinta Noni kepada Maliq, menyadarkan Maliq yang sedang larut dalam lamunan.


"Enggak pokoknya habisin" Ucap Maliq kembali.


Noni pun membuka mulutnya dan Maliq kembali memasukkan makanan itu ke dalam mulut Noni dan Noni dengan sigap menelannya,


"Ayo, sekali lagi nih aaaaa" titah Maliq kembali, Noni menjadi gadis penurut untuk Maliq dan Maliq sangat senang


Sedikit demi sedikit akhirnya bubur itu habis juga, setelah itu Maliq pun memberikan susu ke pada Noni dan meminum susu itu satu tegukan. Seusai meminum susunya, Noni berkata. "Kalau soal Susu Noni jagonya" Maliq sangat senang melihat sisi ceria Noni.


Maliq menarik tangan Noni, "Aku mau ngomong Jujur sama kamu?" Ucap Maliq.


Noni melihat jika Maliq akan mengatakan hal serius, "Ada apa?" tanya Noni.


"Kok malah senyum?" Tanya Maliq, "kamu marah?'


"Ya gak apa-apa, senyum aja" Jawab Noni, "Masa ada senyum marah?' Ucap Noni kembali.


"Iya awalnya, aku gak mau. tapi Mama nya maksa gitu. dia sakit katarak katanya karena pemakaian Softlens yang berlebihan jadi infeksi, tapi emang karena sebelumnya dia punya keluhan di mata sih" Ujar Maliq.


"Awalnya aku gak mau ngomong gini, tapi aku gak mau kamu mikir aneh" Ucap Maliq kembali.


"Tapi dia tau loh tentang kita, katanya tahu dari kak Rayna" Susul Maliq


Noni menatap lekat wajah kekasinya itu, Ia pun tersenyum lalu berkata, "Makasih iya kamu udah jujur sama aku," Jawab Noni.


"Hmmm, maksud kamu? kamu gak marah?' Tanya Maliq.


Noni menggelengkan kepalanya, "Enggak, lagian aku hargain kejujuran kamu. terus kamu juga udah bersikap sopan sama orang tuan, lagian Noni percaya hati Maliq buat Noni aja." Tutur Noni, Maliq bahagia mendengarnya.


"Makasih iya sayang," Maliq mendekatkan wajahnya, Maliq pun mencium kilas bibir Noni.


Bagi Noni, sebuah kepercayaan adalah salah satu penguat sebuah hubungan. dengan Noni mendengar Maliq jujur saja, Ia sudah sangat bersyukur. karena kejujuran adalah yang paling utama, Noni benar-benar memiliki sikap yang sangat dewasa, Ia mampu menempatkan permasalahan apapun dan Maliq merasa beruntung karena mendapatkan cinta Noni.


Maliq bergumam dalam hati, "Kau mengubah kehidupanku, jalan pikirku, pola pikir dan semuanya, Aku beruntung memiliki mu Non. sampai kapanpun aku akan menjaga cinta kita, Aku bahagia Nonia, Aku bahagia sekali"


Noni pun bergumam dalam hatinya, "Aku hargai kejujuran kamu, makasih Maliq. Loveyou!! "


"Aku tidur lagi iya, mungkin karena obat yang diberikan dokter. rasanya sangat ngantuk sekali." keluh Noni, Maliq pun mengusap lebut kening Noni, Noni tertidur sangat pulas.


Ting!!, suara pesan masuk kedalam ponsel Maliq, Maliq segera membuka pesan tersebut dan ternyata pesan tersebut dari Shahila, Mael pun segera membacanya.


SHahila  ~ Ternyata yang sakit itu pacar kamu?, Maliq kau benar-benar setia. Aku bangga!!!


Maliq ~ Terimakasih, nanti aku kenalkan kamu sama dia. dia orangnya baik banget.


Shahila ~ Baiklah, Salam untuknya iya Maliq. Maaf kalau tadi aku ngebuang waktu kamu.


Maliq kembali bergumam, "Ternyata Shahila sudah sedikit berubah. Hmmmp Syukurlah"


 ^^^


Malam-malam pun berlalu dengan sendirian, Saat duka masih menyelimuti Ayana, Ayana meminta Mael tidak tidur bersamanya dan setelah duka itu sudah berlalu dengan sendirinya, Mael harus bersabar kembali karena Ayana mengalami kedatangan tamu bulanan.


Saat itu, Ayana hanya ingin melewati malam bersama rasa rindu kepada Zain, dan kini Ayana sudah tidur satu kamar bersama Mael. sebelumnya Ayana meminta Mael untuk bersabar, meminta Mael untuk membiarkannya sendiri di kamar.

__ADS_1


"Kamu mau kemana? " Tanya Mael.


"Mau ke kamar mandi bentar, " jawab Ayana singkat, Ayana merasa gugup dengan keadaan ini.


"Baiklah, Aku tunggu. " Ucap Mael dengan tatapan datar nya.


"Hmmm Iya.." sembari melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi, Ayana merasakan jantungnya berdegup dengan sangat kencang.


Dag.. Dug.. Dag.. dug..


Sesampainya di dalam kamar mandi, "Fyuuuhhh" Ayana menghela nafasnya dan suara helaan nafasnya terdengar sangat berat.


Ia pun  memondar mandirkan langkahnya, "Gimana nanti?, Duh!!! " berulang kali ia berucap seperti itu, ia sering mendengar cerita malam pertama itu menakutkan. bahkan, sampai **** * robek atau lebih parah sampai merasakan sakit yang tak tertahan.


"Ahhhhh... bagaimana ini? " tanya nya kembali, seluruh badannya bergetar hebat.


Tok.. satu ketukan..


Tok.. Dua ketukan..


Tok.. tiga ketukan..


Jantung Ayana semakin berdegup kencang, ia pun menutup telinga lebih dalam lagi. Mungkin jika Mael melihat wajah Ayana yang sedang merasa ketakutan, ia akan tertawa terbahak-bahak.


"Sayang" Panggil Mael dengan nada yang sangat pelan.


"Ayana, kau masih lama? buka sebentar!! " Pinta Mael,


"Aku lagi buang air besar! " jawab Ayana singkat, "Tunggu sebentar" Ia terpaksa berbohong.


Tok Tok Dor... suara pintu diketuk oleh Mael semakin keras terdengar, Ayana duduk berjongkok seakan ada bom atom yang akan memborbardir tubuhnya.


"Ayana, Apa kau masih lama?'


Dalam hati Ayana, "Gak tahu harus ngapain? Harus gimana? Awkward banget gak sih?" Ia terus menerus merasa gugup, "Harus gimana mulainya? Harus ngapain aja? Ya Tuha Ayana, Galau banget" Gerutunya kembali.


Krik krik tak ada jawaban apapun dari dalam, Mael kembali mengetuk pintu kamar mandi.


"Ayana, Kau pingsan iya?' Tanya Mael.


"Iya," Ayana menjawab.


"Hah?" Mael terkejut, "Emang pingsan bisa jawab iya?" Tanya Mael kembali.


"Enggak." Jawab Ayana kembali dengan singkat.


"Lalu mengapa lama sekali, Aku sudah tidak kuat ini" Ucap Mael, Ayana semakin merasa tidak nyaman.


Dalam hatinya bergumam, "Ya Tuhan, Aku takut" Ayana benar-benar merasa gugup, apalagi Mael semakin kencang saat mengetuk pintu kamar mandi itu.


Dor... Dor .. Tok


"Ayana... " Panggil Mael Lagi,


"Sayang Aku gak kuat!! " Ucap Mael kembali, "Plis cepet buka pintunya!! "


Mael berteriak dengan nada yang sangat pelan, "Sayang, Aku mohon. cepatlah, Aku sudah.. Arghh" Suara Maliq terdengar jelas oleh Ayana.


"Hah.... YaTuhan mengapa dia Agresif sekali!! " Ucap Ayana, Ayana benar-benar merasa tidak mengerti dengan sikap Mael yang terkesan Agresif.


"Sayang..... Cepatlah... " Ucap Mael kembali.


"Ii... Iya.. Tunggu" Sahut Ayana terbata-bata.


"Ya sudah, cepat.. Mael gak kuat nih" Ucapnya kembali.


"Tunggu bentar, gak sabaran banget si El" Ucapnya sedikit teriak.


Ayana masih memondar mandirkan langkah nya dengan pelan, ia tak tahu harus bagaimana.


Ia memajukan langkahnya, lalu memundurkan langkahnya kembali. Sembari bibir Ayana berkomat-kamit, ia berdiri dan mematung di depan pintu. tangan nya seakan meraih gagang pintu tersebut namun, ia kembali menarik nya lalu kembali mendekatkan tangannya terus menerus begitu, sesekali Ayana menghela nafsnya, menariknya dan membuangnya dengan kasar.


Dalam hati Ayana, "Satu, Dua,... " ceklek suara pintu pun terbuka, wajah Mael sudah dipenuhi keringat besar dan wajahnya terlihat memerah serta terlihat menahan sakit. "Aku.... " Ayana menggigit bibir atas miliknya karena melihat wajah Mael yang terlihat sangat Aneh.


"Minggir Ayana, Aku gak kuat pengen buang air besar!! " apa yang di ucapkan oleh Mael malah membuat Ayana tertawa terbahak-bahak, Ia sudah membuat suaminya menahan hasrat buang air besar karena ketakutannya akan malam pertama.


"Mmmmmpphhhhh Oh! " Terdengar suara Mael diiringi air untuk membersihkan closet duduk kamar mandi tersebut, Ayana semakin tertawa terkekeuh-kekeuh  dan sepertinya kisah ini akan membuat seluruh keluarga nya ntak henti tertawa saat mengetahui tingkah mereka berdua.


"Ya tuhan.... " Ucap Ayana sembari duduk diatas ranjang, Ia kembali tersenyum karena mengingat  wajah Mael yang terlihat sangat Lucu baginya padahal sebenarnya dialah yang membuat lucu hal tersebut.


Mael terlihat keluar dari dalam kamar mandi, "Kamu pingsan? tapi bisa jawab... mana ada?" Gerutu Mael semakin membuat Ayana tertawa keras, Ayana tertawa hingga membuat perutnya merasa sakit dan Mael hanya menatap aneh wajah istrinya itu .


Mael bertanya, "Kenapa kau tertawa?" Dan Ayana menjawab, "Aku menertawakan Nasib klucu kamu" Polosnya wajah Ayana membuat Mael semakin terlihat gemas kepadanya, MAel mendekat lalu Ayana berteriak dengan kencang...


"No,,, Mael.... " Teriaknya dengan kencang.

__ADS_1


__ADS_2