
Aku masih terdiam saat mereka dengan Asyiknya bercanda dan berbincang, Aku melihat Adeeva sosok yang Asyik saat berbicara dengan Zain dan Rido Namun, tidak saat berbicara denganku. Aku merasa dia memiliki sisi Negatif saat memandangku apalagi dengan pengakuannya sebelum Rido datang kerumah.
"Sayang, Kamu kok diem aja" Tanya Rido, Aku hanya tersenyum, "Kamu sakit apa gak enak badan?" Tanya Rido kembali, Aku menggelengkan kepalaku. berharap Rido tidak terus bertanya mengenai wajah musamku.
(' Aku ingin sekali berbicara Namun, kesannya Nanti malah Aku gibahin orang dan Rido paling gak suka denger cerita orang tanpa bukti - gumamku dalam hati)
"Eh. Kamu kan tinggal di Inggris nih. emang gak ada apa cewe Inggris yang nyantol sama kamu?" Tanya nya kala itu. Zain terdiam dan hanya tersenyum dengan sangat terpaksa.
"Kalah dong sama Kakak mu, dia masih banyak loh yang Nyantol" Tuturnya
"Dia tuh iya masih banyak yang Antri loh. Dari Gadis, Janda, sampe nenek-nenek pun masih Nunggu dia" Ucapnya di temani dengan tawa nya yang sangat keras. kembali lagi Aku tersenyum dan menatapnya dengan lembut. Marah, kesal, Gundah itu pasti terjadi padaku tapi, untuk Apa aku menunjukannya dihadapannya. menurut ku hanya membuang-buang waktu ku saja.
"Pokonya Hati-hati deh May, laki-laki yang pendiem itu malah yang berbahaya" Tutunya kembali membuat kami seketika itu hening tanpa mengeluarkan suara.
"Eh Napa pada diem!!!" Tanya nya, Aku hanya merunduk kesal dan tak mampu berbicara hanya senyuman seringai yang aku berikan padanya.
"Maaf Dev, ercandanya kelewatan deh!!!" Ucap Rido sembari menatap ku, Aku juga memberikannya senyuman ku untuknya, Aku menghela nafasku dan Rio terlihat menyadari itu.
"Maaf May,Do gw bercanda" Serunya, Aku melihat tatapan Zain yang kini terlihat tidak menyukai gaya bahasa dan berceritanya Adeeva. Aku tahu betul tatapan itu adalah tatapan ketidaksukaannya.
"Aku bercanda ko, beneran deh" Ucapnya kembali sembari tertawa menggelitik, Zain Hanya tersenyum menyeringai tanda ia sangat tidak menyukai candaan yang Adeeva berikan.
"Eh iya, Kapan-kapan liburan bareng Yuk", Dia menatap kesekeliling kami, sembari mengangakan mulutnya, tangannya melebar seraya mengajak kami bersama agar ikut dengannya< "Gimana, mau kan?" Tanyanya kembali.
"Rido, Kamu mau kan liburan bareng Aku dan Ajak anak-anak juga istrimu. kita buat rumah dan kerajaan menggunakan Pasir sama kaya dulu bareng Risa!!!" tangannya seperti sengaja menepuk Paha Rido, Aku menatap nya heran hingga Dahi ku berkerut.
"Maaf Dev, tolong jaga sikap kamu!!!" Ucap Rido.
"ouPS!!, MAAF Do, Aku gak sengaja!!" serunya sembari mengatupkan kedua tangannya. Zain menatap nya heran, Zain seperti menelan ludahnya saat melihat tingkahnya yang tidak sopan.
"Aku minta Maaf do, Aduh jadi gak enak nih" Ungkap Adeeva, dia pun mengalihkan pandangannya kearah ku.
"May, Aku minta maaf iya, sungguh Aku tidak sengaja." Ia menggenggam tanganku, wajahnya terlihat memelas. Aku tersenyum dan menjawabnya, "Sudahlah, lupakan. lain kali jangan kau lakukan lagi iya". dia tersenyum kilas, wajahnya nampak canggung saat melihat Zain menatapya.
"Aduh malah jadi canggung gini Ini" Ungkapnya, Aku tersenyum dan menepuk tanganku yang masih ia genggam.
"Sudahlah Nona Adeeva, Lupakan. Aku gak Apa-apa ko" Tuturku, Aku menatap kearah Rido. "Sayang, Ayo ngobrol lagi, kenapa kalian malah diem Aja. kasian Tamu kita jadi canggung gini" Ucaku sembari tersenyum kearah Rido dan juga Zain.
"Iya dong, tadi Aku becanda Sumpah!!" seru nya kembali.
('Tuhan Maha Baik, tadi sebelum Rido datang Ia sudah berniat tidak baik dengan mengungkapkan perasaannya, Aku bingung karena hatiku berkata jika dia berniat buruk namun, Aku tidak tahu bagaimana memberitahu Rido ataupun Zain, Dan lihat lah Nona Adeeva, Tuhanku yang maha Baik membukakan nya sekarang juga, Ia mendengar doaku sedari tadi - gumam ku dalam hati)
Mereka berbincang kembali walaupun seperti ada jarak yang Rido berikan begitupun dengan Zain, sebenarnya Aku merasa tidak tega dengan keadaannya. Ia pun terlihat menahan Rasa malu nya.
"Eh do, May maaf gak bisa terlalu lama lagi!" Ucapnya sembari memasukan ponselnya kedalam tas mini yang ia pakai, "Aku masih harus ketemu Rudolf, oh iya besok kita ketemu dikantor aja iya, sekalian Aku lihat laporan minggu kemarin" Ucapnya kembali.
"Maaf gak bisa nganterin lu dev" Ucap Zain, Adeeva menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Gak Apa-apa kalem aja zain, seneng bisa ketemu elu" Ucapnya sembari menepuk bahu Zain, Ia juga berpamitan kepadaku dan juga Rido.
"Makasih iya May udah nerima Aku main disini" Ucapnya kembali.
"Iya, makasih udah Mampir ya Nona Adeeva" Ucapku.
"Panggil aja gw deva, Napasih pake nama Nona segala" Ia segera pergi melangkahkan kakinya keluar dari rumahku, Aku pun mengantarkannya sampai Ia masuk Kedalam mobil milik nya.
"Sayang" Panggil Rido, Aku menoleh kearahnya.
"Maaf Iya dia udah berusaha bikin perasaan kamu kacau" Ucap Rido, Aku hanya menganggukan kepalu dan membalas pelukan Rido.
"Kita ngobrol nya di dalem aja" Ajak ku, kami segera melangkahkan kami bersama.
"Gimana udah pulang tuh orang?" Tanya Zain dengan gemas.
"Udah Zain, " Jawabku singkat.
"Kak May masih aja bisa anter dia pulang sampe dia masuk mobil nya" Gerutu Zain.
"Itu yang buat Aku selalu sayang sama dia Zain" Aku terdiam dalam lamunan mengingat ucapan dia yang meminta ku untuk tidak bercerita tentang pengakuannya saat itu.
"Kamu kok malah diem aja sih sayang" Gumam Rido.
"Aku bingung!!!' Aku menghela nafasku, Rido terlihat menatapku.
Drrrt drrrt (satu pesan masuk - Nomor tak dikenal)
"Hai May, Makasih udah mau nerima Aku bertamu disana. Maaf jika aku terlalu terbuka akan perasaan ku terhada Rido. Aku berharap kamu tidak menceritakannya mengenai pengakuan ku tadi siang, Terima kasih' ~ Adeeva.
"dia minta Nomer ponsel kamu sayang?" Tanya Rido, Aku menganggukan kepalaku.
"Lalu Apa yang dia Akui tentang Aku?" Tanya Rido kembali.
"Dia bilang, kalau dia sangat menyukai kamu. dan itu udah berlangsung sangat lama!" Ucapku memberitahu nya.
"Gila!!!, Cewe gila!!!" ucap Zain, Aku terdiam terkejut menden gar apa yang dikatakan oleh Zain.,
"Udah deh Kak, pikirin lagi kaka mau kerjasama sama dia" Ucap Zain kembali, Wajahnya terlihat muram.
"Kamu pikir aja deh dulu, kalau memang merugikan kamu karena harus membatalkan kerjasama itu. kamu lanjut aja. Aku percaya kok kamu gak akan nyakitin Aku!" seruku.
"Enggak, wanita gitu berbahaya!! Aku aja ogah dijodohin sama dia. mulutnya lemes gitu" Tutur Zain kembali.
"Aku mohon pikirin lagi dengan baik Kak!!' seru Zain kembali.
"Iyaudah, Aku bakal pikirin dulu dan minta saran juga sama Dhan" Ucap Rido, Aku tersenyum saat melihat senyuman Rido dan terlihat mata yang penuh kejujuran terlintas di matanya.
__ADS_1
.
.
.
****
LONDON, INGGRIS.
"Sayang, Lihatlah Maliq, Alea, Fizzy, Faaz, dan Ayana" Rani menunjukan foto yang Aku kirimkan, Rani sangat merindukan kami. Rani sering sekali menangis saat melakukan panggilan Viedo bersama kami.
"Ya, Tuhan Mael, Lihatlah saudara-saudara mu sangat menggemaskan" Seru Richard. Mael mencoba merebut ponsel yang sedang dipegang Richard.
"Faaz, izzy, lea, ana, Aiq" sembari menunjuk satu persatu Anggota di poto tersebut.
"Sayang, kapan kita kesana?" Tanya Rani dengan Manja, Rani memeluk tubuh Richard dari samping. Rani menggoyang-goyangkan Jarinya di dada bidang milik Richard.
"Aku belum bisa Cuti sayang, mengertlah." Ucap Richard, Rani terlihat cemberut. Mael yang ikut-ikutan Mamanya terlihat menarik-narik celana yang dipakai oleh Richard.
"Papi, el mau ke faaz"
"Papi, el kangen mama May' ucapnya dengan Risau, Richard menggendongnya.
"Sabar iya Anak Papa yang ganteng, Anak Papa yang baik. nanti kita main kesana"
"Kapan, Ah lama?, Aku pergi sendiri gak di bolehin" Gerutu Rani dengan kesal.
"Nanti kita kesana kok, lagipula 2 bulan lagi kan Rido dan May mau Ajak kita ketemuan di Indo, kenapa gak sekalian aja" Bujuk Richar untuk Rani, Rani tetap dengan bibir yang mengerucutnya.
"dua bulan waktu yang sangat lama Richard!!!" Ucap Rani penuh dengan penekanan, Richard mengusap ujung kepala Rani.
"Sayang, sabar iya. Aku lagi banyak kerjaan. Apalagi Aku sekarang sekaligus jadi pengawas koas" Serunya, membujuk Rani. Richard mengecup kilas bibir Rani, dan memeluk tubuhnya sembari menggendong Mael.
"Kamu cantik kalau kamu senyum, Aku seneng deh kalau kamu senyum gitu" Ungkapnya, Rani tersenyum dengan Ramah.
"Tapi janji iya, jangan nunggu dua bulan lagi, Aku pengen banget menghadiri grand opening perusahaan Kak Rido yang baru" Ucap Rani.
"Iya, Aku ngasih surat cuti dulu dari sekarang. biar secepatnya di terima, kamu banyak berdoa juga sabar iya sayang" Richard mencium kening Rani dengan kilas kembali.
"Entahlah, Aku selalu merasa Aman jika berbicara dan dipeluk dirimu sayang!!" Puji Rani membuat Richard tersipu malu.
.
.
__ADS_1
.