
Seminggu kemudian....
Banyak Hari yang Aku lalui bersama mereka, Kabar demi kabar tentang Om jose sudah terhembus oleh Aku dan Yang lainnya. Papa dan Rido juga sudah menceritakan siapa Tuan Hang itu, ternyata benar Tuan Hang adalah salah satu Anggota Mapia besar.
Sebenarnya kabar itu sudah Aku ketahui saat Lira masih bekerja bersamaku, kabarnya Mantan suami Lira pernah bekerja menjadi mata-mata Tuan Hang. Namun, saat itu aku tidak terlalu memikirkannya.
Shaloom dan Yofie memilih untuk berpamitan karena harus menjemput Sahila, Richard dan Rani juga Mael, sudah terlebih dahulu berpamitan 3 hari pasca pemulihannya. Zain juga pulang Namun aku dan Rido meminta Ayana untuk tetap bersama ku, bahkan Kami dan Zain sepakat menjadikan Ayana menjadi Anggota keluarga kami.
"Sayang, Apa Zain tidak merasa tersinggung dengan permintaan mu?." Tanya ku.
"Tidak, itu keinginan Zain." Jawab Rido, Rido memeluk ku dari belakang dan mencium pipiku dengan kilas.
"Aku harus pergi ke kantor, hari ini juga Dhan sudah mulai masuk kembali" Ucapnya, Aku menganggukan kepalaku. Rido kembali memeluk ku dengan hangatnya, "Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Dan selamanya akan terus mencintaimu" Bisik kecilnya ditelingaku.
"Udah dong, jangan bikin baper terus. Dasar gombal" Gumamku, Rido menggigit kecil daun Telingaku.
"Ouch!, sakit sayang" Rido tertawa kecil mendengar rintihan ku.
"Aku juga sangat mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu." Seruku sembari mengecup bibirnya.
"Kamu kok tatap Akunya kaya gitu sih" Aku menggerutu kecil sembari mengernyitkan dahiku.
"Kamu gak inget ini Hari Apa?" Tanya Rido, Aku pun menggelengkan kepalaku dengan pelan.
"Ya sudah Lupakan saja" Ucap Rido, Wajahnya muram dan terlihat sangat kecewa.
"Suamiku, memangnya ini Hari apa?" Tanyaku kembali.
"Tidak ada, ini hari sabtu. Malamnya untuk para muda mudi melepas penat, dan ini Hari sabtu seharusnya aku gak ke kantor aku lupa" Rido menjawab pertanyaan ku dengan wajah ketusnya, Namun aku tahu jika ini ada hari spesial baginya. Iya ini adalah hari Ulang tahun nya, sebenarnya Aku sudah menyiapkan surprise kecil untuknya. Hanya saja aku ingin sekali melihat Rido memasang wajah cemberutnya karena, selama kami menikah Rido tidak pernah sekalipun menatap wajahku dengan wajah kecewanya.
"Oh, gitu yaudah kenapa mesti ke kantor?, tapi kamu kan emang udah mau ke kantor iya. Udah rapih pula." Timpalku dengan pertanyaan dan kalimat yang akan membuatnya gemas. Rido membuka kembali jas nya, Rido menghubungi Staff kantor untuk memberitahunya bahwa Rido tidak bisa pergi ke kantor.
"Baiklah, batalkan meeting bersama semua Staff dan karyawan. Jika Tuan Dhan datang tolong segera berikan Laporan kemarin."
"Baiklah, Terimakasih." Ucapnya mengakhiri panggilan tersebut.
"Maiq sayang, Alea Sayang. Papa kalian sepertinya sedang kesal dengan Mama" Gumamku sembari duduk dan menggendong Maiq, Alea pun tak lepas dari pangkuanku.
"Alea, sini gendong sama Papa. Kasian Mama mu kan sedang menggendong Maliq" Ucap Rido mengambil Alih Alea yang duduk di atas pangkuan ku.
"Ma..ma" Panggil Faaz dan Fizzy yang berlari kearah kami.
"Kenapa selalu Mama yang mereka Panggil" Gerutu Rido.
"Kenapa sayang?" Tanyaku, Anak kembar ku berebut ingin mendapat pelukan dari ku.
"Sebentar Nak, Mama akan menidurkan adik mu"
"Papa, Faaz mau es kim" Pinta Faaz kepada Rido. Fizzy dan Faaz dengan kompaknya memaksa Rido untuk mengizinkannya memakan Es krim. Fizzy dan Faaz saling berteriak meminta papanya untuk membawakan Eskrim.
"Jangan Makan es dulu iya Nak, udara nya sedang dingin. nanti Alea juga malah ingin makan Es krim." Rido mencoba membujuk Faaz untuk tidak meminta Es krim kepadanya.
"Sayang, berikanlah namun Hanya sedikit. Jangan buat mereka kecewa." Pintaku.
"Baiklah, jika ibu Negara yang meminta. aku bisa Apa?" Jawabnya, wajahnya tetap terlihat kecewa.
__ADS_1
Rido berjalan ke dapur dan Kami membuntutinnya, Tak lupa aku pun menggendong Maliq kembali dan anak-anak mengikuti langkahku dibelakang Rido. sebenarnya Aku sudah memiliki rencana bersama Orang tuaku juga mertuaku, Aku juga meminta Zain untuk membohongi Kakanya.
"Surprizzze....." Teriak Mama, Papa, Ibu, Ayah, dan Zain yang menggendong Ayana.
"Selamat ulang Tahun Sayang" Ucap mama memeluk dan mencium kening Rido.
"Terima kasih Mam" Jawabnya sembari membalas pelukan Mama.
"Selamat ulang tahun, semoga selalu diberikan kesehatan" Ucap Papa.
"Amin, makasih Pap" Rido juga membalas pelukan Papa dengan di iringi Air mata dipelupuk matanya.
"Selamat Ulang tahun menantu Ayah dan Ibu yang paling kami sayangi." Ucap Ayah, mereka memeluk Rido secara bersamaan. Aku pun terharu melihatnya.
"Kakak, selamat ulang Tahun. Zain berharap kaka sehat selalu, semakin sukses, dan semoga selalu allah berkahi hidupnya" Ucap Zain sembari memeluk Hangat tubuh Rido.
"Amin, Zain bukankah kamu pergi dan brrpamitan kemarin."
"Aku hanya pergi untuk mengecek lokasi, tapi lokasinya jelek. Besok aku pulang ke Inggris, papa juga tidak bisa kemari karena ada pekerjaan penting katanya" Seru Zain.
"Ya sudah tidak Apa-apa" Jawab Rido, Rido mengalihkan pandangannya untuk menatap wajahku. Aku tersenyum dan segera menghampirinya.
"Selamat ulang Tahun, semoga panjang umur. Dan selalu menjadi suami dan Ayah yang baik untuk kami" Doaku untuknya sembari mencium pipi kanan dan kirinya.
"Maafin Rido ya sayang, Tadi Rido memasang wajah ketus kepadamu. Kamu pasti kesal"
"Enggak, orang aku sengaja. Lagian kamu dari awal nikah gak pernah marahin aku."
"Bagaimana mungkin aku Marahin kamu, sedangkan kamu adalah istri yang shalihah buat Aku." Ucapnya, Selama aku menikah Ridi memang tak pernah lepas memujiku. Pujiannya selalu tersirat didalam kalimat yang ia ucapkan dari bibir manisnya.
"eh, Ayo Mama dan ibu sudah memasak banyak." Ucap Mama.
"Iya, Nanti keburu dingin makanannya" Timpal ibu, Kami segera menuju ruang Makan, Aku memberikan Maliq kedalam gendongan Carry dan Alea dan Ayana pun dibawa oleh Si mbak.
*** DI RUANG MAKAN ***
kami sedang Asik makan bersama, Papa dan Ayah mengajak kami berbincang mengenai permasalah om jose sembari fokus menghabiskan makanan yang sudah tersaji di piring.
"Kaka, sebenarnya Papa baru saja mendapatkan kabar mengenai keadaan om jose" Ucap Papa.
"Kabar apa itu Papa?" Tanya ku, Papa menatap kearah Ayah dan Zain juga Rido.
"Apa kak Shaloom sudah mengetahuinya?" Tanya ku kembali.
"Belum sayang, Papa baru saja mendapatkan kabar nya tadi pagi. itu juga Papa hendra yang memberitahukan Papa." Jawab Papa.
"kabar apa itu Papa?" Tanyaku penasaran, Papa menatap kearahku dengan wajah sembilunya. "Papa, Apa kabar ini buruk?" Tanyaku kembali. Aku mencium aroma tak sedap saat melihat tapapan Papa, Ayah, juga Zain.
"jelaskan saja sayang, May pasti sudah sangat penasaran" Seru Mama.
"Om jose sudah meninggal satu tahun Lalu, saat itu mereka memang menyekapnya" Aku terkejut saat mendengar kabar itu.
"Lalu apa penyebab om jose meninggal?, dan Apakah benar seseorang yang saat itu sedang bermasalah dengan om jose adalah Tuan Hang?" Tanyaku,
'Iya dan Apa benar Om jose melakukan berbagai macam kesalahan." Tanya Rido menimpali pertanyaanku.
__ADS_1
"Tuan Hang yang menceritakannya kepada Papa hendra. Esok Malam, Papa hendra dan Yofie akan bertemu dengan Tuan Huangyun dan Tuan Hang, Papa juga Ayah akan ikut." jelas Papa.
"Apa kau ikut Zain?" Tanya Rido.
"Tidak kak, Aku ada pekerjaan di Ingrris dan sudah lama sekali aku tidak menjumpai Makam letycia" jawab Zain.
"Apa Om jose meninggal karena dibunuh?" Tanyaku kembali, aku sangat penasaran dengan kematian Om jose.
"Jose, melakukan bunuh diri di dalam kamar. Tapi kami belum bisa menyimpulkannya karena, belum tahu kejelasannya. bahkan Papa hendra bilang, kita tidak boleh bertanya macam-macam biar Tuan Hang yang menjelaskannya."
"Baiklah Papa, Aku minta Maaf karena tidak bisa ikut untuk bertemu Tuan Hang. kasian May jika harus aku tinggalkan."
"Iya Kak, untuk itu Papa dan Ayah juga akan berbicara itu." seru Papa.
"Lagipula, Kaka kan harus mengurus perusahaan yang baru kaka dirikan disini" Ucap Ayah menimpali ucapan Papa.
"iya Ayah, Aku percaya dengan Papa, Ayah dan yang lainnya.dan jangan lupa kabari Aku" Seru Rido.
"Aku memikirkan bagaimana jika Kak Shaloom mengetahuinya" gumamku.
"iya, dia pasti akan sangat terpukul mendengar kabar sukar ini." timpal Mama.
"ibu yakin Shaloom sudah menjadi pribadi yang baik, dia akan berusaha untuk ikhlas" Seru Ibu.
"kita doakan saja yang terbaik untuk Shaloom, dia sudah menjadi Anggota keluarga kita." Ucap Papa.
"Besok Ibu dan Mama juga akan ikut pulang bersama Papa dan Ayahmu, kalian baik-baik iya disini"
"Iya, jangan lupa Video Call setiap hari sama kita, kita juga kan ingin tahu perkembangan Anak-anak" Timpal ibu.
"Iya Bu Boss, " Jawabku sembari tersenyum.
"Jadi Ayana tetep disini Kak?, Kakak gak akan merasa kerepotan" Tanya Zain.
"Tidak, lagipula pengasuh Ayana selalu berubah. Aku mengkhawatirkan itu." Jawabku.
"Iya, kalau disini kan setidaknya bisa diperhatikan Kaka iparmu Zain." Timpal Rido, Zain mengangguk pelan.
"Iya sudah, cari lagi Aja kak pengasuh khusus buat bantu Ayana. jadi kan kaka cuma memperhatikan aja" Zain memberikan saran kepada kami, kami pun mengiyakan saran yang diberikan oleh Zain.
"yasudah biar Nanti Aku juga meminta Fahriye mencarikan pengasuh khusus Ayana" timpalku kembali.
__ADS_1