
Carry dan Mbak Ci kembali kekamar mereka masing-masing. Aku dan juga Rido sengaja meminta Dhan dan Fahriye untuk menginap semalam dirumah kami. karena, kebetulan sekali esok adalah Hari libur untuk mereka.
"Kak Rido, bolehkah kami meminjam Maliq sebentar?" Tanya Fahriye.
"Oh boleh silahkan, Nanti kami ambil jam 10 iya." Jawab Rido kala itu. Mereka berdua segera masuk kedalam kamar Tamu.
Aku membereskan makanan yang tersisa di atas piring kecil yang masih ada dihadapan ku. "Sayang.." Panggilnya, Aku melirik kearahnya, ia tersenyum dengan Ramah saat itu.
"Kenapa?" Tanya ku dengan sedikit menoleh kearahnya dan tetap mengunyah sisa makananku.
Rido tersenyum kembali, dan mulai berpindah tempat untuk duduk disampingku, "kamu cantik sekali, sepertinya Aura ibu Hamil melekat kembali diwajahmu" Ucapnya saat itu membuat jantungku tak berhenti berdegup dengan kencang.
Uhuk..uhuk (suara batuk karena tersedak makanan)
"Pelan dong sayang makannya" Gumamnya sembari melangkah mengambilkan segelas air untuk ku.
"Gak bisa, kamu sih banyak banget ngajak aku ngobrol" Jawabku sembari meneguk kembali air mineral yang sempat Rido berikan.
"Bentar, perasaan aku baru bicara 2 kalimat deh." Gumamnya kembali, ia mengangkat sebelah alisnya, dahinya mengernyit tanda ia sedang kesal dengan kalimat yang aku bicarakan.
"Udah deh Rido gausah bahas anak-anak mulu ah, Emangnya anak 4 gak cukup?" Gerutuku kesal kepadanya.
"Untuk sekarang, Aku masih takut punya anak lagi. Apalagi masa pemulihan pasca melahirkan kemarin cukyp sangat lama." Keluhku.
Rido menatapku kembali, Rido seperti menaruh rasa kecewa saat mendengar keluhan yang aku ucapkan kepadanya, ia mengambil segelas air dan duduk untuk meneguk air tersebut "Alhamdulilah Gak jadi panas, Haus banget ini" Gumamnya, sembari melengoskan badan tanpa berpamitan kepadaku.
"Kenapa sih, akhir-akhir ini aku dan Rido sering sekali beda pendapat" Gumamku dalam hati.
"Kak May, ini Maliq nangis kayanya ingin meminum Asi" Ucap Fahriye yang datang menghampiriku.
"Oh, yaudah kamu tidur aja Fahriye. Istirahat yang cukup, besok kan mau kedokter sama Dhan" Aku mengambil Alih Maliq yang sedang merengek karena kehausan, Fahriye pun kembali ke dalam kamarnya.
"Kamu gak akan ke kamar?" Tanya Rido.
"Mau Kok ini, aku beresini dulu bekas makan" Jawabku sembari membereskan bekas makanku menggunakan satu tanganku, Rido sama sekali tidak membantuku dan hanya menyaksikan aku yang sedang kerepotan.
("Kenapa sih sama dia?, kok akhir-akhir ini aneh banget - gerutu kecilku didalam hati, Aku sangat kesal melihat Rido yang terlihat cuek kepadaku)
"Aku duluan ke kamar, biarkan Aku membawa Maliq" Pintanya seraya mengambil Maliq yang sedang berada didalam gendonganku. Tanpa menjawab apapun aku memberikan Maliq kedalam gendongannya dan Rido berlalu pergi meninggalkanku.
"Emangnya kamu pikir Hamil gampang!!!. ya Tuhan, kenapa dengan Rido sih" Gerutuku kembali, entahlah akhir-akhir ini aku dan dia selalu saja berbeda pendapat.
Drtt...Drrttt...
(Satu pesan masuk, Adeeva)
~ terimakasih sudah menerima kontrak kerja sama bersama perusahaan miera grup, Semoga kerja sama ini terjalin dengan baik.
(Satu pesan masuk, Adeeva)
~ Aku seneng, udah bisa ketemu kamu lagi Do, Apalagi cita-cita kita buat bangun bisnis bersama udah terkabul. Salam hangat untuk anak dan Istrimu.
"Apa?, dia bilang seneng ketemu sama Rido, Cita-cita?." Gumamku, Aku segera menyentuh layar ponsel Rido dan menggesernya keatas. Aku membaca semua pesan dari Adeeva tersebut, jelas sekali jika Adeeva terlihat sangat berharap kerjasama ini terjalin.
"Dia kenal juga dengan Shaloom, siapa Adeeva ini?" Gerutu ku kembali.
"Aku harus segera bertanya kepada Kak shaloom, Seharusnya Rido cerita denganku bahwa dia sedang menjalin kerjasama dengan perempuan"
__ADS_1
"Ah kesal sekali, dia tak memberitahuku"
Rido yang datang dan berniat ingin mencari ponsel miliknya, bertanya akan keberadaan ponsel itu kepadaku.
"Ada ponsel ido gak sayang?" Tanyanya, Aku memberikannya sembari mengerucutkan bibir ku.
"Makasih" Ucapnya kembali, "emm, tidur duluan aja, aku mau ngerjain berkas buat hari senin. Dhan juga sebentar lagi pasti keluar kamar" Tutur Rido sembari menoleh kearahku. Aku hanya mengangguk pelan dan berjalan menuju kamar milik ku.
Aku sedang mengayunkan MaliQ didalam gendonganku, MaliQ sangat susah sekali untuk ditidurkan.
”mengapa denganmu Nak?” Tanyaku sembari menatap wajah MaliQ. MaliQ tetap saja tak ingin memejamkan matanya. Aku berniat untuk menghampiri Rido yang sedang mengerjakan sesuatu di Laptopnya. Saat Aku sudah ada di dekatnya aku melihat Rido sedang menerima Telpon dari seseorang.
”Iya, Baiklah. Kami akan segera mengerjakan proyek itu”
“iya, siap. Salam untuk Bapak dan Ibu di sana dev”
”iya, wAalaikum salam nanti saya sampaikan”
”Tidak, tidak merasa terganggu. Lagipula besok kan KAMU sudah berada di Indonesia”
”iya, secepatnya saya berikan laporan tersebut, kabari juga Dhan as sistem pribadi ku.”
”baiklah, WAalaikum salam Dev.”
”Kamu, masih sibuk iya?” Tanyaku.
”iya, kenapa Sayang?” Jawab Rido sembari tetap fokus menatap layar laptopnya.
”Tuan, Apa ini sudah sesuai” ucap Dhan yang datang menghampiri kami.
”Coba lihat.” Ucap Rido, Dhan memberikan Laptop yang dipegangnya dan Rido mulai melihat hasil laporan yang telah di kerjakan oleh Dhan.
Aku meninggalkan mereka yang terlihat sedang sibuk, Aku berjalan sembari menggerutu kesal. Entahlah saat itu adalah momentum terburuk untuk ku. Rido yang selama ini aku puji tidak pernah memarahi ku sekarang aku merasakan perubahannya.
”Ahhh, perasaan Apa ini?” Ketuaku pada diri yang terlihat di kaca. Dahiku mengernyit kesal, Akujuga merasa jika sekarang perdebatanku dengannya semakin terlihat Asyik.
*****
Cambridge, Inggris.
”Shaloom, sudahlah jangan terlalu lama memikirkan masalah Daddy mu.” Ucap Mama Sherly.
”Mama, Aku masih tidak percaya. Aku tidak bisa melihat jasad terakhir Daddyku.” Jawab Shaloom.
”Daddy mu sangat membutuhkan banyak doa darimu,” mama Sherly mengusap kepala Shaloom dengan Sangat lembut. Shaloom pun meneteskan air matanya dan memeluk tubuh Mama Sherly. “Sudah, Nak. Lupakan masa lalu itu, Daddy mu pasti sudah tenang” ucap Mama Sherly kembali.
##Flashback 2 Bulan yang Lalu##
sejak kabar itu, Papa Hendra, Papa Gusti, Ayah, dan Yang lainnya mencoba mencari tahu kebenaran yang terjadi atas kematian Om Jose. Saat itu Om Jose memang benar memiliki masalah dengan Tuan Hang, Tetapi Tuang
Hang tidak berniat untuk membunuhnya, Om Jose meninggal karena penyakit yang ia derita. Sampai kabar kematiannya pun Om Jose tidak ingin Shaloom mengetahuinya.
“Shaloom, Papa Hendra hanya ingin menceritakan apa yang Papa cari tahu kebenarannya!” Ucap papa Hendra.
”Mengapa orang ini ada disini Papa, Aku tidak mau melihatnya. Dia sudah membunuh Daddyku” tutur Shaloom, Shaloom terlihat frustrasi saat melihat kehadiran Tuan Hang. Tuan Hang menatap wajah Shaloom dengan tatapan Iba.
”Tuan Hendra ini kan saya berbicara dengannya” pinta Tuan Hang, papa dan yang lainnya hanya menganggukan kepala.
__ADS_1
“Shaloom, jika saya berniat ingin membunuh Jose, saya akan membunuhnya dihadapan mu” ucap Tuan Hang.
”dia mengalami penyakit Aneh, sekujur tubuhnya seperti mengeluarkan luka gatal, dan mengeluarkan bau tak sedap”
”Tidak, Tuan Hang mana mungkin!, mengapa kau tidak berbicara kepadaku?” Tanya Shaloom seraya membantah apa yang sedang tuan Hang ucapkan.
”putar saja kaset ini, kebenaran ada didalam nya” Tuan Hang memberikan 1 keping kaset yang akan diputar oleh Zain, Kami pun melihat semua yang telah terjadi. Kaset yang tadi diberikan sedang diputar didalam kaset tersebut terlihat jelas wajah Om Jose yang sedang meringis kesakitan. Om Jose pun terlihat sedang didalam Ruangan isolasi.
”putar saja Di menit 10, Jose berbicara dengan sangat jelas di sana”
”Sebentar, “ tukas Shaloom, ia menghampiri Tuan Hang yang berdiri mematung di dekat Rido.
”mengapa Daddy membuat video tersebut?” tanya Shaloom.
”untuk bukti dikemudian Hari, jika memang terjadi seperti ini.” Jawab tuan Hang tegas.
”mengapa dia menyembunyikannya?, aku anaknya Kan?, mengapa dia menutupi nya?” Tanya Shaloom sembari menangis.
”Putar saja dulu, Aku tidak ingin menyakiti mu Shaloom. Bagaimanapun kau dan Aku pernah menjalin hubungan yang sangat dekat!” Ucap Tuan Hang, Shaloom mendelik kesal.
”Putar saja Zain, agar tidak ada perasaan Suudzon” Seru Rido.
Memutar kaset Video
”Hay Shaloom, Hay Sahila. I really love you guys, believe me everything will be fine. Daddy ingin sekali bertemu dengan kalian, tapi maafkan Daddy. maafkan semua kekhilafan Daddy” Ungkapnya.
”Shaloom, saat itu Daddy ingin sekali bercerita semua keluh kesah Daddy. Tetapi Daddy tidak bisa. Kamu sedang dilema saat itu, ingatanmu sangat kacau. Maafkan Daddy sayang.”
”Daddy memiliki Penyakit yang sangat langka, Daddy sudah memakan banyak biaya. Daddy mengalami kebangkrutan Hingga Daddy tak mampu membuat perusahaan Daddy berdiri. syukurlah Daddy mendapat bantuan dari Tuan Hang, namun saat di tengah jalan. Daddy tertipu dengan seseorang yang mungkin kalian pun mengenalnya. Lagi dan lagi Daddy mendapat bantuan Dari Tuan Gusti dan Rido Namun, Karena Penyakit ini Daddy kembali mengalami kerugian besar. Dan membuat Daddy tidak mampu menutup hutang itu”
”Shaloom, percayalah. Tidak ada yang berbuat jahat. Disini Daddy lah yang jahat kepada kalian. Daddy yang ingin kau dan Tuan Hang menikah. Namun saat itu kau Hamil, dan Tuan Hang mengakhiri perjanjian bersama Daddy. namun, Tuan Hang yang tulus mencintaimu tetap ingin membantu Daddy”
”Daddy sangat Menyayangimu, Hanya itu yang mampu Daddy bicarakan. Daddy berharap kau mengerti”
”Untuk Hang, Bakar saja jasadku. Tanamkan Abu ku di tempat yang telah kau berikan untukku”
“Aku akan bertemu istri dan Gesya Anak ku” ucapnya mengakhiri video yang sedang diputar.
“Daddy.....” teriaknya, sembari menangis. Kami merasa sedih saat melihat Tangisan Shaloom.
*****
“Aku masih tidak percaya dengan apa yang telah di ucapkan Daddy.” Gumamnya.
”Sayang, lupakanlah. Jangan membuat dirimu hancur dengan dendam yang membekas didalam benakmu. Percayalah Daddy mu sudah merasa tenang di sana” nasihat Mama Sherly membuat Shaloom tersadar.
”Aku harus belajar dengan May dan Rido. Dia selalu memaafkan siapapun yang berbuat Salah”
”mama, Aku akan menghubungi Hang untuk meminta maaf kepadanya.” Gumamnya kembali.
”Itu baru Menantu Mama, Mama sangat sayang dengan mu, May dan Alm CIA. Kalian Anak Mama yang sangat Mama sayangi” Mama memeluk Shaloom dengan erat.
.
.
.
__ADS_1
Notes :
“Ketika Anda memaafkan, Anda sama sekali tidak merubah masa lalu tetapi Anda yakin bisa merubah masa depan.” – Bernard Meltzer