
Siang hari itu Natasha sedang duduk menghadap jendela kamar Aleesya, karena ia selesai menidurkan Anak kesayangan nya itu. baginya tidur siang itu sangat wajib untuk anak seusia Aaleesya, dan Aaleesya selalu tidur nyenyak jika ditemani terlebih dahulu oleh Natasha.
Ia duduk dan membayangkan jika Damar sedang bersama dengan dirinya, ia begitu sangat menikmati menjadi sosok ibu untuk Aaleesya dan Damar.
Ia membayangkan sedang menggendong Bayi mungilnya itu, lalu Aaleesya menari-nari riang di hadapan nya.
tawa kecil menghiasai malam dingin itu, "Nikmat mana lagi yang harus aku dustai Tuhan, bahkan saat aku mengucapkan syukur padamu seumur hidupku rasanya tidak akan pernah cukup! " Ungkap nya sembari tersenyum.
Dingin nya malam karena turun nya Salju itu membuat kaca jendela terlihat berembun, ia mengukir nama Damar di sana.
Sembari memanggil nama Damar, ia pun menulis nya di iringi senyuman. "Damar" Ucapnya kembali.
"Mama dulu pernah bilang, mama jatuh cinta kepada ku walaupun aku masih dalam kandungan nya. dan ternyata Mama benar! " Ucapnya kembali, Faaz yang datang tanpa Natasha tahu, segera memeluk Natasha dan mencium nya dari belakang.
"I Love you" Bisik Faaz tepat di telinga kanan Natasha, Natasha merasa senang mendengar kalimat yang di katakan oleh suaminya itu.
Natasha membalikan badannya, mereka saling berhadapan. tangan Faaz masih melingkar di pinggang belakang Natasha dan mata mereka masih saling bersahutan.
memandang lekat satu sama lain, mereka tersenyum dan Faaz mencium kilas bibir Natasha.
"Harus berapa kali aku ucapin makasih sama kamu! " Ucap Faaz senada bertanya kepada Natasha, "Aku sangat-sangat beruntung memiliki istri seperti mu" Ucap Faaz kembali.
Natasha memeluk suaminya, ia menyenderkan kepalanya tepat di dada bidang milik suaminya itu. Natasha merasakan cinta yang sangat dalam yang diberikan oleh Faaz, "Aku hanya ingin kamu selalu bahagia, menjadi Faaz yang apa adanya, menerima aku apa adanya aku, dan menjadikan aku istri yang taat kepada Tuhan nya." Tutur Natasha, ia mengangkat kepalanya. menatap lekat mata suaminya, "Maaf jika aku belum sempurna sebagai istri mu, bimbing aku Faaz dan jangan pernah membuat aku berdosa kepadamu! " Tutur nya kembali.
"kamu gak usah meminta seperti itu, walaupun kamu gak minta hal itu. sebisa mungkin aku lakuin," Sahut Faaz, "Kamu yang udah mengubah hidup aku, kamu yang buka mata aku dan kasih kebahagiaan sama Aku." Sambung Faaz kembali.
Natasha memeluk kembali suaminya, "makasih sayang, makasih atas semuanya" Ucap Faaz kembali, Faaz pun mencium kepala Natasha.
"Aku punya kejutan buat kamu! " Natasha merasa senang saat mendengar Faaz akan memberikan sebuah kejutan kepadanya, wajahnya terlihat sumringah. ia tersenyum dan bersikap manja kepada suaminya.
"Kejutan apa? " Tanya Natasha.
"Ada deh pokoknya!, Tutup mata dulu kalau gitu!" Pinta Faaz, Natasha menuruti perintah dari Faaz. Natasha menutup matanya.
Faaz menarik tangan kanan Natasha, ia memakaikan sebuah cincin berlian. "Ini Cincin kan? " Natasha mencoba menebak apa yang sedang di pakaikan oleh suaminya, lalu Faaz pun memakaikan kalung berbentuk hati.
"Buka matanya! " Titah Faaz kembali, Natasha membuka matanya.
Kini Ia berdiri di hadapan kaca besar, Natasha melihat sebuah kalung yang sangat indah. kalung berbahan dasar berlian yang sangat mahal untuk nya, "Ini untuk ku? " Tanya Natasha.
Faaz mengangguk, "Ini sangat mahal sayang, dan aku tidak pantas mendapatkan nya! " Ujar Natasha, Faaz tersenyum. ia berdiri di belakang Natasha, Faaz mencoba menatap Natasha melalui kaca yang berada di hadapannya.
"Kau sangat cantik memakai ini, dan kalung ini tidak semahal perjuangan mu saat melahirkan anak lelaki ku! " Ucap Faaz, "Lihat, ini ada inisial huruf kita FN. Faaz dan Natasha" Natasha tersenyum, ia melihat jari manisnya. sudah tersimpan sebuah cincin yang sangat indah di sana, Natasha merasa terharu dengan apa yang Faaz berikan.
Faaz menatap kembali wajah Natasha, ia mengangkat dagu Natasha lalu mencium bibir Natasha kilas kembali .
"Tak hanya itu, ada kejutan lain di sana" Ucap Faaz.
"Dimana? " Tanya Natasha, wajah nya terlihat lebih segar. ia merasa bermimpi mendapatkan apa yang tak pernah dibayangkan oleh nya, selama menikah dengan Faaz Natasha tidak pernah menuntut apa-apa. bahkan uang belanja yang selalu Faaz kirimkan melalui rekening nya, masih sangat utuh. kadang Natasha merasa bingung dengan uang-uang yang berada di dompet milik pribadinya.
Natasha memang sosok wanita yang sangat sederhana, pakaian-pakaian yang di kenakan nya saja tidak pernah semewah Rayna. bahkan Natasha merasa berhutang atas apa yang sudah Faaz lakukan, Faaz membawa Ayahnya dan mengijinkan Jimmy untuk tinggal bersama nya. dan selama ini kesehatan Jimmy selalu dijamin oleh nya, dan semua keperluan Jimmy selaku diutamakan oleh Faaz dan Rido.
"Faaz" Lirih Natasha memanggil nama suaminya, Faaz menoleh.
"Aku rasa kamu telah berlebihan memberiku kejutan ini! " Ucap Natasha, "Dan aku merasa.. "
Telunjuk pada tangan Faaz menghentikan Natasha yang sedang berbicara, "Sssshhhhh!, Mengapa kau berucap seperti itu istriku, Rezeki yang aku dapatkan adalah Hak mu. bahkan Tuhan memberikan rezeki seorang suami berlipat-lipat jika mengutamakan kebahagiaan istrinya." Ucap Faaz, "Selagi aku mampu, dan rezeki nya ada untuk kamu. untuk apa aku memendam sendirian, kamu istri ku dan ini adalah hak kamu"
"Papa Rido bilang, seorang suami wajib mencari Nafkah dan seorang istri wajib meminta nafkah! dan aku wajib memberimu ini dan kau wajib menerimanya bahkan lebih dari yang aku kasih"
"Ingat Rezeki yang aku cari itu, untuk kesejahteraan kalian!, dan aku ikhlas mengucurkan keringat untuk kalian semua, aku ingin kau bahagia" Ucapnya sembari menatap lekat wajah istrinya,
"Dan Papa Rido bilang, kalau istri masih suka minta nafkah itu artinya istri kita pinter dan Normal" Jelasnya kembali, Natasha tertawa kecil mendengar penjelasan yang di berikan oleh suaminya.
"Jadi kamu wajib banget minta apapun yang kamu mau! " Ucap Faaz kembali.
"Aku malu, karena kamu udah baik banget dan mau ngurusin Papa jimmy. karena Papa Jim.. "
Faaz menyela kalimat yang sedang dikatakan oleh Natasha kembali, "Papa Jimmy dan Kamu itu adalah kewajiban aku, Papa Jimmy bukan orang lain. dia ayah ku sama seperti Papa Rido, dan aku bangga bisa urus Papa kamu seperti Papa aku sendiri. kata Papa Rido, Surga kita itu adalah orang tua. jika orang tua kamu dan aku meridhoi kita, Insha Allah Tuhan akan berikan segalanya kelancaran! " Jelas nya kembali, kalimat itu membuat Natasha semakin merasa bersyukur. Natasha merasa senang mendengar kalimat yang di berikan oleh suaminya.
Natasha memegang pipi kanan Faaz sembari berucap, "Gak ada lagi yang harus aku keluhkan sama Tuhan, Tuhan udah kasih kamu buat bikin hidup aku terasa sempurna. makasih Iya sayang" Gumam nya kembali, Faaz mengangguk pelan.
"Ya sudah, ayo lihat kejutan lain nya lagi" Ajak Faaz, Ia pun segera mengikuti langkah suaminya itu, saat keluar dari kamar Aaleesya, Natasha teringat sosok Rayna.
"Sayang, apa kabar Kak Ray? " Tanya Natasha.
"Baik, sudahlah jangan selalu memikirkan nya! " Ucap Faaz.
"Dia kan juga istri kamu!, " Ucap Natasha, Faaz menghentikan langkahnya.
Ia menatap wajah polos Natasha, Natasha memang selalu mengingat Rayna. bagi Natasha kejahatan Rayna hanyalah sebuah ujian, dan Natasha sangat yakin jika suatu saat Rayna akan berubah.
sembari menatap mata Natasha dan menggenggam tangan nya, "Aku sudah menceraikan nya sebelum kejadian kemarin itu terjadi, maaf aku baru memberitahu mu! " Ucap Faaz, Natasha terkejut mendengar pengakuan Faaz.
Ia sedikit menggelengkan kepalanya dengan pelan, "Tidak mungkin Faaz!, mengapa kau melakukan itu? " Tanya Natasha.
"Karena aku mencintai mu, aku mencintai adik-adik ku serta keluarga ku. karena keluargaku merasa banyak sekali rasa kecewa terhadap nya, dan aku tidak ingin membuat Papa dan adik-adik ku menderita. apalagi mereka tahu siapa Aaleesya! " Natasha masih menatap wajah suaminya, ia masih merasa terkejut atas sebuah keputusan yang telah Faaz buat.
"Kau tenang saja, aku memberikan hak Rayna sebagai mantan istriku. ia berhak atas harta yang akan menjadi penopang hidupnya. tak hanya itu, aku akan tetap membiarkan nya menjadi sosok seorang ibu untuk Aaleesya dan aku hanya berdoa semoga Rayna bisa menerimanya dan berlapang hati" Ungkap Faaz kembali.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Aaleesya? " Tanya Natasha.
"Dia akan tumbuh menjadi gadis yang baik, gadis dewasa seperti mu walaupun kita sama sekali tidak menghilangkan sosok Rayna! " Jawab Faaz, "Aku tidak akan membuatnya merasa bingung, aku akan tetap menjelaskan siapa Rayna, siapa Aidil dan siapa kita. tapi dengan catatan, Aaleesya sudah mengerti dan dewasa menyikapinya"
Natasha sedikit merasa mengerti dengan apa yang sedang Faaz jelaskan kepadanya, "Baiklah, jika seperti itu" Ucap Natasha.
"Maka dari itu, aku membutuhkan mu untuk membimbing Aaleesya! " Ucap Faaz kembali diiringi senyuman manis menghiasi wajahnya, Natasha mengangguk pelan tanda mengerti apa yang sudah dijelaskan oleh suaminya.
Mereka kembali melangkahkan kaki bersama menuju kejutan yang sudah Faaz siapkan untuk istrinya itu, dalam langkah nya Faaz menyanyikan sebuah lagu yang memiliki lirik romantis.
Tak tanggung-tanggung Faaz seakan memberikan gombalan kepada Natasha, Natasha tersipu malu mendengar apa yang Faaz nyanyikan oleh nya.
Mereka sudah berdiri tepat di depan sebuah kamar, Natasha ingin sekali membuka kamar tersebut. namun Faaz menghentikan nya, "Bentar dong, pakai ini dulu! " Ucap Faaz.
"Kenapa harus tutup mata, di dalam sana pasti ada balon dan hiasan-hiasan untuk Damar nanti pulangkan? " Tanya Natasha.
"Tidak!, " jawab Faaz singkat sembari menggelengkan kepalanya.
Natasha mengangkat kedua bahunya, "Lalu? " Tanya Natasha singkat.
"Makanya nurut aja deh, " Pinta Faaz kembali, Natasha pun menganggukkan kepalanya.
"Ya udah, " Natasha menutup matanya, Faaz memakaikan sebuah kain penutup mata untuk membuat Natasha tak melihat apa-apa.
Faaz menarik tangan Natasha, menggenggam nya dan menjadikan dirinya sebagai pengarah langkah Natasha, pintu kamar itu di buka olehnya, Natasha masuk.
"Boleh buka sekarang? " Tanya Natasha.
Semua orang sudah berada di sana kecuali Alea dan Noni, Mereka menjadi saksi kebahagiaan Natasha. Faaz terdiam tanpa suara, "Sayang, boleh buka sekarang? " Tanya Natasha kembali, Faaz pun membukakan kain tersebut agar Natasha bisa melihat melalui sorot matanya.
Natasha merasa tidak percaya dengan kejutan yang diberikan oleh Faaz, Ia menoleh kearah Faaz lalu memeluk suaminya dan mengucapkan rasa terimakasih nya.
"Damar! " Ia pun menghampiri anaknya.
Iya, Faaz membawa Damar serta alat inkubator dan dua perawat pilihan nya untuk membantu Natasha merawat Damar.
"sayang, Terimakasih."
"Kamu seneng? " Tanya Faaz.
"Jelas sekali, aku sangat senang! " Jawab Natasha sembari tersenyum manis.
"Tapi mengapa Dokter mengijinkan nya? " Tanya Natasha, "Apa kau yang meminta nya? " Tanya Natasha kembali.
"keduanya adalah alasan, Aku memintanya dan Dokter mengijinkannya. Dokter spesialis Damar akan datang jam 8 pagi dan 3 sore, jadi nikmatilah peran mu dari sekarang sayang" Ucap Faaz kembali, Natasha menghampiri suaminya dan memeluk tubuh Faaz kembali.
Sedikit Flashback ke belakang, tepatnya kemarin saat Natasha ingin menemui Damar di temani oleh Ayana dan Mael. Rayna mengikutinya dari Rumah hingga rumah sakit, lalu Rayna melihat semua yang dilakukan oleh Natasha di sana.
Lalu, kedua perawat itu tidak mengijinkan. karena Faaz sudah terlebih dahulu memberitahu foto Rayna dan Faaz juga sudah mengira hal ini akan terjadi, Faaz sudah terlebih dahulu berhati-hati dengan keadaan ini.
Namun, Faaz masih menutupi kejadian kemarin dari Natasha. Faaz tidak ingin Natasha merasa cemas, Dan Faaz memutuskan untuk merawat anaknya di rumah saja. apalagi musim salju sudah turun, mau tidak mau Natasha dibatasi dalam bepergian karena cuaca yang tidak mendukung.
Faaz memang sudah mempersiapkan semuanya, Faaz merasa harus belajar dari keadaan-keadaan sebelumnya dan Faaz akan lebih hati-hati dalam melindungi anak tercintanya.
"Terimakasih aku ucapin sekali lagi sayang, kamu lagi dan lagi buat aku bahagia, sehat terus iya kamu, Aku mencintai mu! " Ungkap Natasha sembari memeluk suaminya, ia kembali duduk dihadapan mesin inkubator itu. terlihat dengan jelas jika Damar sangat sehat, Damar juga terlihat lebih gemuk.
"Sayang, Suster Alice sama Suster Gwen akan membantu kamu. dia juga temen nya Maliq, iya kan Sus? " Tanya Faaz.
Suster Gwen menjawab, "Iya Tuan, " Ia tersenyum dengan sangat manis.
"Mereka orang-orang kepercayaan aku, dan mereka akan selalu merawat Damar dengan baik! " Ucap Faaz, Natasha menganggu di iringi senyuman.
"Sus, Makasih iya. maaf kalau kami selalu merepotkan suster. " Ucap Natasha dengan ramah.
Suster Alice, "Ini sudah menjadi tugas kami Nyonya, kami harap anda tidak sungkan saat meminta bantuan kami" Ucapnya di iringi senyuman cantik.
****
Malam sebelumnya di kamar Alea, ia melihat rintik salju menghiasai sisi jendela kamarnya. lagi dan lagi ia menangis meratapi kepergian Qabil, ia menangis terisak. wajah Qabil selalu terlintas di dalam benaknya, ia mencoba mengingat satu persatu kenangan indah bersama calon suami nya itu.
Banyak sekali kenangan indah yang mereka lalui sedari kecil, bahkan masa-masa kecil Qabil teringat sangat jelas di pelupuk matanya.
Ia duduk dengan menekuk kan lututnya, membuat lutut itu menempel pada dadanya. Noni membiarkan nya menangis, bukan karena Noni telah lelah mengurus dan menyemangati nya.
Tapi bagi Noni, menangis adalah sebuah sekat agar kita merasa tenang. jika sudah menangis, hati akan merasa tenang.
Isak tangis itu semakin terdengar keras oleh Noni, "Noni, mengapa kehidupan kami begitu sangat singkat." Hiks hiks.. tangisan nya membuat Noni merasa iba.
Noni masih membiarkannya, air mata Noni pun terlihat menetes saat melihat kegalauan yang di tunjukan Alea.
"Ia adalah lelaki yang sangat baik yang pernah aku kenal, umurnya beda 3 tahun dengan ku. dia lebih muda namun lebih dewasa dari ku."
"Dulu aku ingat betul bagaimana ia bangkit dari keterpurukan, merasa sendiri saat ibu dan ayahnya meninggalkan dirinya secara bersamaan"
"Masa kecil yang seharusnya menjadi masa-masa indah itu tidak dapat dirasakan olehnya" Ucap Alea, Ia menceritakan masa-masa kecil Qabil. Noni mendengarkan apa yang sedang di ceritakan oleh Alea.
Noni duduk di samping Alea, Alea menghela nafasnya. sembari tersenyum ia melanjutkan ceritanya itu.
"Dia tidak pernah mengeluh Noni, dia anak yang kuat! walaupun sebenarnya ia menangis di belakang kami."
__ADS_1
"Apa kau mau menceritakan nya padaku Lea? " Tanya Noni, Alea terlihat sangat senang. ia mengangguk dan segera melanjutkan ceritanya itu.
"Dari dulu kami tinggal terpisah, Papa dan Mama ku selalu menjenguk Qabil saat libur sekolah dan menjemputnya untuk ikut berlibur disini." Ucap Alea.
"Aku selalu senang jika berkunjung ke rumah neneknya, nenek begitu sangat baik kepada ku."
"kenapa Qabil gak menetap saja di Australia bersama kalian semua, bersama kamu, Papa, dan mama mu? " Tanya Noni.
"Aku ingin sekali, tapi Nenek tidak mengijinkannya. Mama Fahriye adalah anak satu-satu nya, dan sepeninggalan Mama Fahriye hanya ada Qabil seorang dan kata Nenek jika dia rindu sosok Mama Fahriye, dia akan melihat Qabil" Tutur Alea, "Dan mama memaklumi itu semua"
"Lalu saat itu Mama tidak bisa menjemput Qabil, maksud ku mama tidak bisa datang bersamaan dengan ku dan juga Papa. aku datang sendiri ditemani oleh Abrar dan Kak Aidil" Ucap Alea.
"Aku ingin menjemputnya, namun Nenek bilang Qabil sedang berada di makam Mama Fahriye dan Papa Dhan"
"Dulu aku memanggilnya Om Papa dan Tante Mama, lucu kan? " Tanya Alea sembari tersenyum, matanya sembab. namun Noni senang jika Alea terus mengingat masa-masa indahnya.
"Setelah itu, Aku mencarinya. ditemani oleh Abrar, di sana aku melihat sosok lelaki mungil yang sedang menangis terisak di depan nisan kedua orang tua nya" Air mata nya mulai jatuh kembali, "Ia berdiri dengan nafas yang tersengal, mungkin karena dirinya berjalan kaki saat menghampiri makam orang tua nya." Ucap Alea kembali.
"kau menghampirinya dan duduk bersama nya di sana? " Tanya Noni.
"Tidak, aku mendekatinya namun tidak menghampirinya. aku ingin mendengar apa yang ia katakan, karena aku melihat dia seakan sedang merasakan kesedihan" Alea menyeka air matanya yang sedari tadi jatuh menyeluruh, "Karena, jika dia tahu akan kehadiranku, dia tidak akan meluapkan apa yang ada di dalam hatinya. maka dari itu, Aku hanya menguping apa yang dikatakan olehnya! " Ujar Alea.
"Apa yang dikatakan olehnya? " Tanya Noni kembali.
^Flashback On..
Qabil duduk, ia seakan membubuhkan tubuhnya seakan ambruk dalam kesedihan. Qabil yang malang, dia harus menelan pahitnya kehidupan. dia harus menerima kenyataan jika dirinya sudah kehilangan sosok orang tua yang sangat mencintainya.
Qabil menangis, menyeka air matanya hanya menggunakan tangan lusuh nya. keringat bercucuran membasahi kaus yang dipakai olehnya, "Assallamualaikum Mama, Papa" Ucap Qabil bernada pelan seakan merendahkan dirinya dihadapan makam orang tuanya, sembari terisak Qabil menyeka air mata yang sedari tadi mengalir membasahi pipi nya.
"Maaf ... Qabil baru sempat jenguk, Mama” lirihnya kembali, terdengar Napasnya tersengal, dan tangisnya pun akhirnya pecah.
"Mama apa kabar? Qabil mau kasih kabar baik buat Mama sama Papa" Setengah tawa itu bercampur tangis lirihnya, matanya yang sayu mulai berembun kembali. itu semua karena rasa rindunya pada sosok malaikat tak bersayap yang kini telah tiada disisi nya.
Qabil merasa sendu pilu sembari memeluk kedua lututnya. Ia kembali merendahkan nada bicaranya "Maaf .., " lirihnya tertahan kembali, sembari menyelaraskan nada yang terisak dan air matanya yang kian berlinang.
"Qa ... Qabil" Ia merasakan sesak tepat di dadanya yang kian bergemuruh, "Qabul puasanya lancar, Mama,Papa" Hiks ... hiks
"Semua teman Qabil di kasih hadiah, Mam" lirihnya kembali berucap, di iringi dengan tangan yang mengusap wajahnya.
"Kata Nenek, Qabil itu istimewa ya, Mam? begitupun Papa Rido dan Mama May bilang kalau Qabil sosok anak yang sangat spesial di mata Allah." Ia mencurahkan semua dihadapan makam orang tuannya, Entah sang ibu dan ayahnya mendengar atau tidak, ia terus menerus bercerita mengenai keseharian nya dan saat-saat yang ia lalui tanpa sosok orang tuannya.
"Mama tahu, Papa dan Mama May selalu mengabari Qabil, mereka menyayangi Qabil dan selalu memberikan pakaian-pakaian yang bagus untuk Qabil" Ucap nya kembali, "Tapi Qabil selalu bilang kalau pakaian Qabil masih bagus-bagus, semua mainan Qabil bagus. itu Qabil lakuin semata-mata tak ingin merepotkan Mama May dan Papa Ido"
"Kalau Mama dan Papa bagaimana? Apakah Tuhan memberikan pakaian yang baru dan bagus? apakah Tuhan memberikan kasih sayang nya? seperti Mama May dan Papa Ido berikan pada Qabil? " Tanya Qabil sendirian.
Tak ada tisu atau kain yang dapat digunakan untuk mengusap. Yang ada, hanya tangan kumal yang setia menghapus air matanya.
"Papa" Lirihnya memanggil sang Ayah, Ia membersihkan rerumputan yang mulai tumbuh di nisan ayah nya.
"Maafkan Qabil, Papa. Qabil belum bisa menjalankan amanat yang Papa berikan untuk Qabil. Qabil masih saja cengeng dan terus mengeluh. Padahal dulu Papa selalu melarang itu semua kepada Qabil"
"Lelaki harus kuat, lelaki harus bisa menjadi seorang panutan!, Papa selalu bilang, lelaki baik harus bisa menjaga wanita!
"Qabil, menyukai Alea Papa. tapi Qabil malu untuk mengutarakan nya, Qabil malu Pah!"
"Karena dulu Papa dan Mama Fahriye bilang, jika mereka adalah saudara Qabil yang seharusnya Qabil jaga" Qabul hanya bisa menangis! Untuk berhenti pun ia merasa tak mampu.
"Tapi Qabil Janji akan selalu menjaga dan melindungi Alea, kak Fizzy, dan Ayana sebagai saudara perempuan Qabil"
"Qabil rindu Papa dan Mama, Rindu bermain bersama Papa!".
"Kapan Hal itu bisa diulang lagi? Qabil tidak Ingin mainan apapun, Qabil rela memberikan mainan kepada anak yang lebih membutuhkan sesuai yang di perintahkan Papa dahulu. karena yang Qabil mau hanyalah pundak pundak serta pelukan Papa, Qabil hanya ingin canda Papa yang bisa membuat Qabil tertawa terus." Ucapnya diakhiri dengan tangisan yang cukup keras, Ia menangis terisak terus menerus.
Rintik hujan mulai terasa. Awan hitam mulai terlihat. Qabil masih setia duduk di hadapan kedua nisan itu, "Mama, Papa Tak ada kata yang mewakili rasa selain doa. Qabil hanya berharap Semoga Mama dan Papa bahagia di surga nya Tuhan" Ucapnya berakhir dengan tangisan yang kembali terisak, ia menumpukan kepalanya di atas lututnya.
Alea juga menangis mendengar ungkapan Hati dari seorang lelaki yang selalu membuatnya merasa nyaman, Alea dan Qabil sudah cukup dekat sedari kecil. bagi Alea, Qabil adalah lelaki yang sangat baik.
Alea cukup senang mendengar jika Qabil menyukainya, Alea mendekati Qabil dan memeluknya dari belakang. bahkan Abrar dan Aidil yang melihat dari kejauhan merasa aneh dengan sikap mereka, Semenjak saat itu mereka semakin dekat bahkan Qabil dan Alea saling mengakui perasaan masing-masing.
^Flashback Off
Alea menangis mengingat awal mula mengetahui perasaan Qabil kepada nya "Qabil, Datang lah kemari. walaupun aku tahu kini, jarak diantara kita sudah sangatlah jauh! "
Hiks, Hiks "Satu kisah ini memang lah tidak akan pernah lengkap, seperti langit yang tidak lagi membutuhkan bumi! "
lirih nya pelan menunjukan rasa kehilangan yang tak mampu terobati, "Qabil, aku sudah mencoba merelakan kepergian mu, tapi rasanya jantung ku seakan berhenti berdetak. aku tak mampu mengingat jika kau tak lagi di sisi ku, Aku mohon datanglah kemari Qabil" Ia menekuk kan kepalanya, menangis terisak di dalam dekapan pada lututnya.
"Dalam mimpi ku, kita akan melakukan berbagai hal yang sudah kita rencanakan. tapi saat aku bangun, aku harus mengerti jika itu hanyalah mimpi. Qabil aku mohon kembalilah! " Hiks hiks
"Aku tak bisa hidup tanpa dirimu dan rasanya sangatlah berat" keluh Alea kembali, tangisan nya semakin membuat nafasnya tersengal. Noni mendekat dan segera memeluk nya, "Lea, tenanglah aku mohon"
"Aku tidak bisa melupakan nya Noni!, tidak bisa! " Gumam nya. "Tanpa dirinya, aku merasakan kegelisahan dan aku merasa tidak kuat Noni." Ia menangis di dalam pelukan Noni, Noni mengusap lembut kepala belakang Alea.
"Alea, ada saat nya kau menangis. meluapkan segala emosi mu, melupakan kesedihan mu. namun ada kalanya kamu harus bangkit, dan berdiri kembali. tersenyum walau mungkin rasa nya akan sakit! " Nasihat Noni, "Dulu, aku sempat merasakan semua ini.
"Tapi Noni, aku benar-benar belum bisa melupakan kepergiaannya! " Ucap Alea bersedih, "Entah sampai kapan aku harus menahan pedih ini Noni! " Ucap Alea kembali.
"Alea, semua akan baik-baik saja. meskipun kau akan merasa sangat sulit melewati setiap harinya, itu hanya masalah waktu saja!, aku yakin kau akan bisa melewati nya" Ucap Noni.
__ADS_1
"Percayalah, kau akan mampu melewati semua nya!" Noni mencoba menenangkan Alea, Ia memeluk nya dan mencoba mengusap lembut punggung Alea.
"Sampai kapan aku menahan rindu ini Noni, apa bisa aku kuat untuk menahan nya? " Tanya Alea seiring menangis sesenggukan, luka itu seakan membekas dan tersisa banyak di dalam hatinya. rasanya Alea sudah tidak bisa lagi berharap akan kehidupan nya ke depan, namun Noni terus mengingatkan nya akan semua yang sudah terjadi adalah kehendak Tuhan dan Alea sedikit mengerti akan apa yang Noni sampaikan.