TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Kegelisahan dan kembali terancam


__ADS_3

"Gimana ini cara pakainya?" Tanya Natasha seraya kebingungan, ia membolakbalikan bungkusan berisi test alat kehamilan sembari mengerutkan dahinya dan menatap lekat bungkusan itu.


"Ini kan ada petunjuk pemakaiannya Kak" Jawab Alea, Faaz tertawa melihat tingkah polos keduannya. Faaz menghampiri Natasha dan memberikan Cup plastik untuk menampung air seni milik Natasha.


"Kamu keluarin air pipis dan tampung disini lalu, Nanti kamu celupin alat ini tunggu beberapa menit dan Nanti akan keluar hasilnya. jika Garis tersebut ada dua itu tandanya kamu hamil dan jika Garis tersebut ada satu itu tandanya kamu tidak hamil. ayo semangat!!! " Jelas Faaz sembari memegang wajah Natasha memakai kedua tangannya.


"Tapi nanti jika aku salah bagaimana?" Tanya Natasha dengan polos kembali.


"Natasha, ayo aku antar kedalam" Ujar Fizzy yang datang menghampiri Mereka dikamar, Natasha mengganggukan kepalannya dan segera masuk kedalam kamar mandi.


tlak..tluk..tlak..tluk (suara Jarum Jam dinding menambah suasana kecemasan)


"Kaka, semalam aku bermimpi. Kak Rayna datang memeluk ku dan mengusap lembut dahiku. Tetapi mengapa aku tidak senang saat bermimpi seperti itu" Tanya Alea, Faaz menatap ragu kearah Alea. Matanya terlihat kosong saat Alea menceritakan dan menyinggung Nama Rayna.


"emmhh, mungkin kamu sekarang sudah merasa dekat dengan Natasha dan mungkin sudah melupakan Rayna. sudahlah tak perlu di pikirkan lagipula Rayna sudah tidak ada" Ucapnya berbohong kepada Alea, Alea menatap lekat mata Faaz. Alea tahu jika kaka nya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Kakak. " Panggil Alea pelan.


"kenapa? " Jawab Faaz.


"kakak tidak sedang dalam masalah kan?" Tanya Alea, Alea mendekatkan wajahnya menghadap kearah wajah Faaz. keraguan ada dalam wajah Faaz.


Suara bising Natasha yang membuka pintu membuyarkan pertanyaan Alea, Alea mendudukan tubuhnya dan seolah-olah melupakan pertanyaan yang ditujukan kepada kakaknya. Namun, berbeda dengan Faaz, raut wajah terkejut terkumpul di wajah tampannya. Entahlah Faaz merasa jika saat ini Ia memang sedang mengkhawatirkan pertanyaan yang sedang dilontarkan oleh Alea.


('Tatapannya mengisyaratkan jika Alea tahu sesuatu, Ia tahu aku sedang menutupi sesuatu ' - Batin Faaz)


"Bagaimana Hasilnya Kak? " Tanya Alea sembari menghampiri Natasha dan Fizzy.


"Hasilnya masih bayangan, tapi tadi aku telepon Gabby katanya itu positive hanya saja hormon HCG dalam tubuh Natasha sedang rendah. wajar saja sih ini kan sudah malam " Jawab Fizzy.


"Tapi dulu Rayna malam dan hasilnya sangat jelas" Seru Faaz, Natasha menelan ludahnya seakan merasakan cemburu saat mendengar kalimat itu. Dan Faaz tak menyadari bahwa apa yang ia katakan membuat Natasha sakit hati.


"Kakak!." Panggil Alea sembari menajamkan matanya.


"Maaf aku tak bermaksud membandingkanmu dengan istriku" Faaz tersadar jika apa yang ia katakan sangatlah salah.


"Maksudku mantan istriku, Maafkan aku sayang"


"Tidak apa-apa aku mengerti kok" Serunya, Natasha tak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"kalian tidak perlu mengkhawatirkanku, besok Ulang tahun Aaleesya. aku ingin Ia mendapatkan kebahagiaan di hari ulang tahunnya " Seru Natasha kembali, Natasha menyeret langkahnya dengan pelan menuju tempat tidurnya. Alea dan Fizzy sangat merasa iba kala melihat raut wajah sedih kaka iparnya.


Natasha duduk di tepi Ranjang miliknya, Matanya menatap langit-langit kamar miliknya. Tatapannya kosong seakan sedang melamunkan Hal yang sangat menyedihkan. dia memang sedang sangat rindu kepada orangtua nya. Apalagi sudah dua minggu lamanya Natasha tak mendapatkan kabar dari keluarga Tirinya mengenai Papa kesayangannya itu. Faaz dan adik-adiknya seakan terpaku, melihat apa yang sedang dilakukan oleh Natasha.


(' Papa,Mama. Aku rindu. aku ingin bertemu dan memeluk mu, Esok adalah hari dimana aku pun berulang tahun. dan lagi-lagi kalian tak disisiku. Mama,Papa Namun aku senang! aku memiliki Peri kecil yang secara bersamaan akan merayakan ulang tahunku. Aku harap Mama selalu bahagia melihatku dan ku harap aku bisa bertemu kembali dengan Papaku - Batin Natasha )


"Fizzy,Alea bisakah tinggalkan kami sebentar"


"Kalian istirahat aja, lagian aku juga ingin merebahkan tubuhku " Jawab Fizzy, "Ayo Lea " Ajak Fizzy sembari menarik lengan adiknya, Alea menatap mata Faaz dengan penuh harap.


****


Di dalam keheningan Malam Rido sedang berada didalam kamarnya, Ia menatap lembut lukisan yang terdapat Wajah May. Ia sangat merindukan Istri Cantiknya itu, bahkan Rido selalu menghabiskan curahan hatinya yang kala ini sedang merasakan kegalauan kepada lukisan itu.


"Istriku, surgaku, belahan jiwaku, Cintaku, kau bidadariku. Aku sangat merindukanmu sayang"


"Sayang, Aku tak tahu harus bagaimana lagi menyadarkan MaliQ. membuat Faaz dan MaliQ akur kembali, hidup layaknya Kaka dan Adik. Ini semua salahku" Sembari menangis Rido mencurahkan isi Hatinya.


"Akulah penyebab utamanya kehancuran keluarga kita, Aku mohon Maafkan Aku sayang".


"Istriku, bantu aku untuk mendamaikan mereka. bagaimanapun caranya, Ku mohon!" Serunya kembali.


"Ingatkah, kita akan selalu mendidik mereka bersama dan benar sayang. Aku tanpamu tak bisa mendidik anak kita dengan baik! aku bersalah"


"Maafkan Aku!!" Tangisnya kembali pecah, Rido merubuhkan seluruh badannya dihadapan lukisan besar itu. Lutut lemahnya kini menumpu beban tubuhnya, Ia menangis tersedu-sedu kala mengingat perseteruan Kaka beradik.


"Sayang, Aku berjanji akan menjaga keutuhan ini sampai aku tak bernyawa. Tapi aku lah penyebab keruntuhan itu! aku menyerah. Tuhan Bawa aku tuk menemui istriku, Aku haus dekapannya. Aku haus akan kasih sayangnya! " Tuturnya Kembali sembari terbata-bata.


"Papa, Papa mengapa seperti ini" Tanya Fizzy, Fizzy memang paling telaten setelah Faaz. biasanya jika tidak Faaz yang mengecek keadaan Papanya, Fizzy lah yang bertugas melihat dan mengetahui keadaan Papanya itu.


"Papa ingin bertemu Mama Nak!" Seru Rido.


"Papa, Jangan begitu! Fizzy gak mau Papa bilang seperti itu lagi" Imbuh Fizzy, Fizzy menangis memeluk Papanya.


"Papa, ku mohon tenanglah."


"Kami sangat menyayangimu, dan Kami tidak bisa hidup tanpamu. sudah cukup Mama meninggalkan kami seperti ini, kumohon Bertahanlah untuk kami dan cucu Papa."


"Natasha sedang mengandung, Apa Papa senang?. Papa akan memiliki cucu kembali dan mungkin setelah aku menikah, akupun akan segera memberikan Papa cucu. begitupun dengan Alea" Bujuk Fizzy, Fizzy ingin Papa nya kembali bersemangat.

__ADS_1


"Ingatkah Apa yang pernah Mama katakan? " Tanya Fizzy, Fizzy membantu Papa kesayangannya untuk membaringkan tubuhnya di tempat tidur milik Papanya itu.


"Mama selalu bilang, Jika Papa sehat dan selaly tersenyum saat mengingat Mama. Mama Akan selalu senang dan selalu membalas senyuman Papa." Ujar Fizzy seraya memberikan semangat kepada Papanya.


"Mama juga bilang, Pejamkan Mata dan ingatlah senyuman yang sering Mama berikan. Mama akan melambaikan tangannya sembari tersenyum." Ungkapnya, Papa nya menggenggam erat Tangan Fizzy. Ia seakan tak ingin melewati kalimat yang Fizzy lontarkan mengenai istrinya itu.


"Ayo kita lakukan, Apa yang sering Mamamu katakan" - Ucap Rido.


Mereka memejamkan Mata, mereka tersenyum dan bayangan wajah May muncul saat itu di dalam benak mereka berdua. May terlihat tersenyum dan melambaikan satu tangannya dan satu tangan lainnya mendekap dadanya membentuk setengah love. May memberikan kecupan didalam tangannya dan memberikannya kepada Fizzy juga Rido.


"Mama sangat menyayangi Kalian" Bisikan itu menyadarkan mereka, "Papa, dengarkah? " Tanya Fizzy.


"Papa akan selalu semangat untuk melanjutkan hidup, dan tak akan lupa berdoa agar tuhan menyatukan Papa dan Mamamu kembali" Ungkapnya, Fizzy tersenyum dan mengecup kening Papanya.


"Kalau begitu, Tidurlah Papa sayang" Seru Fizzy.


"Baiklah Anak ku yang manis" Ucapnya sembari tersenyum.


('Dia mewarisi sebagian sifatmu Istriku, wanita lembut yang memiliki beribu cara untuk memberikan semangat untuk siapapun. Terimakasih sudah memberiku bidadari seperti Ia - Batin Rido )


*****


"Sayang, Maafkan aku jika kalimat tadi membuatmu bersedih!." Ucap Faaz. Natasha masih dalam lamunannya, Ia benar-benar merasa sangat bersedih karena mengingat satu persatu kenangan indah bersama Orang tuanya saat Natasha kecil.


"Sayang.. " Panggil Faaz sembari melambaikan Tangannya, Mata Natasha berkedip dan seketika menangis memeluk Faaz.


"Aku Rindu Mama dan Papa, Aku ingin sekali bertemu Papa. Ku mohon ijinkan aku untuk bertemu Papa" Pintanya, Tangisan yang sesenggukan menambah rasa khawatir akan mood Istrinya itu.


"Sayang, kau sedang mengandung. ku mohon janganlah bersedih seperti ini" pinta Faaz.


"Tidak Faaz, entahlah aku tak tahu mengapa rasa sedih ini menyelimuti ku. dan bukankah seharusnya aku bahagia saat mengetahui jika aku hamil. aku takut Faaz!"


"Aku takut Nasib anak ku sama dengan Diriku juga Aaleesya." Tegasnya.


"Tidak, Kau pasti akan selamat melahirkan bayi kita. kita akan hidup bahagia." Ucap Faaz.


"Apa yang bisa kau jaminkan, Aku sangat takut Faaz" Tangisannya semakin kencang, ia sangat takut jika tidak bisa memberikan yang terbaik untuk suami dan Anaknya kelak. Ia takut apa yang terjadi kepada Rayna terjadi kepadanya.


"Faaz Mamaku meninggal karena luka didalam Rahimnya, 10 tahun ia menderita seperti itu. saat kehamilan ketiganya, saat ia mengandung calon Adik ku. ia mengeluh sakit pada dadanya dan seketika adik ku meninggal. Aku tak ingin seperti itu" Faaz memeluk istrinya dan mencoba menenangkannya.


"Kau Pasti bisa, Kau wanita kuat! ku mohon jangan menyerah. untuk Anak kita dan Untuk Aaleesya yang akan menjadi Kaka"


"dekat denganmu aku merasa Nyaman " Ungkapnya kembali.


('Aku berniat akan berkata jujur akan keberadaan Rayna, Namun kondisi Natasha begitu sangat memprihatinkan. Bagaimana mungkin aku menceritakannya. - Batin Faaz bergumam)


Malam yang panjang yang Faaz lalui seakan menjadi malam yang Panjang, kegalauan dan kegundahan menghampiri Faaz. kelopak matanya terkulai lemas kala ia tampak menatap langit-langit dikamarnya, Faaz merasakan jika akan terjadi badai yang amat besar didalam Rumahnya.


"bagaimana mungkin ini akan terjadi, Tuhan aku harus bagaimana? aku tidak bisa menyakiti keduanya. - batin faaz bergumam"


Faaz memilih untuk menenangkan dirinya dengan beranjak dan segera menghampiri balkon. dimana tempat itu adalah tempat yang paling bersejarah untuk ibunya, Faaz menikmati malam yang dingin. sejak dulu spot favorite dikala mengalami kegundahan bagi Faaz adalah tepi kolam dan Balkon untuk melihat bintang-bintang.


"Mama, aku bisa melihat senyuman Mama pada bintang itu." Ucapnya seraya menunjukan jari telunjuknya ke atas langit.


'PROK PROK '  (suara tepuk tangan)


"MaliQ... " Sapanya sembari menoleh dan melihat MaliQ yang sedang menepuk tangannya.


"Bagaimana Kaka, sedang bingung? apa memang akan selamanya merasa kebingungan!" Seru MaliQh.


"sekedar mengingatkan, Lepaskan Natasha atau aku akan membuat Kaka selalu kebingungan" Ancam maliQ.


"MaliQ, aku tak bisa melepaskan dia, dia sedang mengandung Anakku dan kau pasti tahu bagaimana rasa sayangku kepada calon anak-anak ku" Ungkapnya.


"Aku sama sekali tidak perduli, Hubungi ZasQ dan tanyakan bagaimana kabar istri pertamamu? " Titahnya kepada kaka tertuanya, Rasa sayang serta hormat kepada Faaz sepertinya sudah MaliQ buang sangat jauh.


"MaliQh... MaliQh...." Panggilnya geram, Namun MaliQh meninggalkannya dengan senyuman sinis dan berlalu pergi tanpa menyauti panggilan Faaz.


"Aaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhh" TERIAKNYA SEAKAN FRUSTASI>


"MaliQh, kau benar-benar ingin berperang denganku. Kau bukan hanya menginginkan Natasha, kau pun ingin menghancurkanku. Dengar MaliQh kau salah jika menilaiku hanya Kaka yang seperti biasa, yang biasa memaafkan kesalahan adik-adiknya dan kali ini kau memang ingin melihat Amarahku" Gerutunya.


***


Keesokan Harinya, semua sedang sibuk menyiapkan pesta ulang tahun Aaleesya. semua terlihat memiliki kesibukan masing-masing Namun berbeda dengan Faaz, Faaz tak henti memegangi ponsel miliknya. Ia terlihat sangat cemas. Ia berkali-kali mencoba menghubungi AliQ dan ZasQ (orang kepercayaan Faaz).


"MOHON MAAF, TELEPON YANG ANDA TUJU SEDANG MENGALAMI GANGGUAN> HARAP MENUNGGU BEBERAPA SAAT LAGI"  -


"Mengapa telepon Rumah Canbeera sama sekali tidak dapat dihubungi, dan AliQ pun susah sekali untuk aku hubungi" Gerutunya kembali. Alea menghampiri kakanya dan mencoba menenangkan Faaz karena, Alea tahu jika Faaz sedang dalam masalah.

__ADS_1


"Kakak, tenangkan dirimu. Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Alea sembari mengusap lembut punggung kakaknya.


"Tidak ada Lea, Maafkan kakak ia. Kakak belum bisa menceritakan sekarang" Faaz menghela nafasnya dengan berat, matanya seakan tersirat beban yang sangat dalam. Ia ingin sekali pergi untuk sekedar mengecek keadaan Rayna namun disatu sisi Faaz tidak bisa meninggalkan pesta ulang tahun Aleesya anaknya, Apalagi Faaz tahu jika hari ini juga hari yang spesial untuk istrinya itu.


"Apa ini mengenai Kak Rayna?" Tanya Alea.


"Alea " Jawabnya Heran sembari menoleh kearah Alea.


"Aku tahu, Aku tahu semuanya sebelum MaliQh mengetahuinya. Maafkan Aku, akulah yang bersalah." Ucapnya.


"Akulah yang memberitahukan MaliQ mengenai ini, Maafkan Aku.. " Ucapnya kembali sembari memeluk tubuh kakaknya.


"Tapi mengapa? "


"Mengapa kau tega, kau Tahu akan akibatnya? " Tanya nya sembari menatap sendu wajah adiknya.


"Awalnya Aku hanya ingin Natasha sakit hati saat mengetahui ini semua, Namun pada akhirnya akupun tak tega untuk memberitahu Natasha. Aku menyayanginya sebagai saudara dan aku tak mengerti jika MaliQh malah ingin memperkeruh masalah ini "


"Kumohon Maafkan Aku kakak" Ucapnya kembali, Ia menangis tersedu-sedu seraya menyesali apa yang telah ia lakukan.


"Kau tahu, setelah acara pertunanganmu. Aku mendapati kabar yang baik dari AMBAR.. "


"Aku bingung Alea, Aku harus bagaimana? " Ucapnya.


"Tidak kak, aku sudah meminta AliQ untuk menyuntikan cairan bius agar Rayna tertidur kembali" Ungkapnya.


"Tidak Alea, kau tak boleh seperti itu." Tandas Faaz, wajahnya seketika berubah menjadi wajah yang sangat kesal saat mengetahui apa yang Alea minta kepada AliQ.


"Aku bingung Kak, Aku merasa sangat bersalah kepadamu. makadari itu aku meminta AliQ melakukan itu." Ucapnya kembali.


"Faaz,Alea. Kalian kenapa?" Tanya Fizzy yang sangat kebingungan saat melihat tingkah kakak beradik itu.


"Tidak, Kami sedang mengingat kenangan bersama Mama saja. Iya kan Alea?" pekik nya.


"emph, Iya kak. Apa persiapannya sudah selesai " Tanya Alea, Fizzy merasa ada hal yang aneh dengan Faaz dan Alea.. Fizzy menganggukan kepalanya dan segera meninggalkan Mereka kembali.


Semua sudah berkumpul untuk memberikan kejutan kepada Aaleesya, semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Aleesya sangat senang saat melihat kue yang sangat besar yang berada dihadapannya.


"Papa,Mama terima kasih. " Aleesya mengecup kedua pipi Faaz dan Natasha. Tak lama kemudian Bibi ester, Abrar dan seluruh pelayan yang berada dirumah membawakan kue kedua untuk Natasha dengan diiringi nyanyian selamat ulang tahun menambah perasaan kebahagiaannya.


"Faaz " panggilnya dan memeluk suaminya itu, kue yang berada ditangan Bibi ester diberikan kepada Fizzy. Fizzy meminta Natasha untuk memanjatkan doanya sebelum meniup Lilin yang berada diatas kue tersebut.


"Ayo, berdoa dulu " Seru Fizzy, Natasa memejamkan matanya.


('semoga kamu sehat calon bayik ku, dan semoga Mamamu bisa bertemu dengan kakek mu. Aminn - doa dalam batinya)


"Papa, Suamiku, dan kalian semua terimakasih sudah memberiku kejutan seperti ini " Ucap Natasha.


"Selamat iya sayang, selamat juga Atas kehamilanmu. Papa berharap kau selalu sehat. terimakasih sudah memberikan Papa cucu kedua" Ungkap Papa sembari mencium kening Natasha, Natasha menangis didalam pelukan Papa mertuanya.


"SELAMAT ULANG TAHUN, SELAMAT ULANG TAHUN. SELAMAT ULANG TAHUN TASHA, SEMOGA PANJANG UMUR " suara itu sangat ia kenal, suara itu membuat senyuman diwajahnya berbinar.


"Papa, Papa Jim " Panggil Natasha, Natasha melirikan matanya kesekelilingnya itu.


"Faaz, itu suara Papa ku" Ucapnya, matanya berkaca-kaca seakan ingin mengeluarkan air mata yang sedari tadi sempat ia bendung.


"Iya, itu suara Papa jimmy" Ucap Rido sembari tersenyum.


"Papa.... " Teriaknya...begitu sangat Antusias saat melihat Papanya yang duduk dikursi roda, Aidil mendorong kursi roda itu dan mendorongnya untuk menghampiri Natasha.


"Papa, Tasha Rindu. " Ungkapnya sembari memeluk tubuh Papanya.


"Papa bagaimana Papa bisa berada disini " Tanyanya sembari melirik keArah suaminya dan kearah Papa mertuanya secara bergantian.


"Papa juga merindukanmu Nak" Ungkap JImmy, dia menatap lembut kearah Rido.


"Selamat datang sahabat ku, senang sekali bisa bertemu denganmu" Ucap Rido sembari memeluk tubuh Jimmy.


"Aku sangat merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu"  Ucap Rido, mereka saling mengeratkan pelukan satu sama lain, sudah 20 tahun lamanya Papa tak bertemu dengan JImmy.


.


.


.


.


"Apa kalian juga merindukanku? " Tanya seseorang dibalik pintu.

__ADS_1


__ADS_2