TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Duka yang mendalam


__ADS_3

Sebelum nya Noni berpamitan kepada mereka karena Zain meminta nya untuk tetap berada di dekat Alea.


Maliq kembali memondar-mandirkan langkahnya, Fizzy pun menghampiri dan memeluk Maliq dengan erat.


“Semua akan baik-baik saja, apapun yang terjadi pada Qabil itu sudah ditentukan oleh Tuhan” Ucap Zain yang juga memeluk kedua keponakannya, Aliq merasa sangat iba dengan keadaan yang menimpa keluarga sang istri.


Aliq merasa sangat bersalah serta menyayangkan kejadian ini bisa terjadi karena ulah kakak nya, Aliq merasa proses hukum untuk kakak nya seakan ditunda-tunda oleh keluarga Rido.


Jelas, mereka masih mempertimbangkan proses hukum itu. Bahkan Rido dan Natasha memiliki satu pemikiran yang sama, mereka berpikir jika Rayna masuk kedalam penjara, bagaimana dengan nasib Aaleesya ketika mengetahui kejahatan ibu kandungnya. Maka itu lah alasan Faaz tidak menjebloskan Rayna kedalam penjara, karena mau tidak mau Aaleesya harus tahu siapa ini serta ayahnua.


“Uncle sudah memberitahu Uncle Richard dan juga Ayana, mereka sedang berusaha memberitahu Papa mu!” Ucap Zain.


30 menit sudah Faaz berada di dalam, entah sedang apa Faaz berada disana. Mereka dengan setia serta merasakan perasaan yang sangat mencekam menunggu kedatangan Faaz dari dalam, segala doa sudah mereka panjatkan kepada Tuhan dan kali ini semua yang berada di luar sudah mengikhlaskan apapun ketentuan yang Tuhan berikan untuk Qabil.


Di dalam ruangan itu Faaz sedang menggenggam tangan Qabil, ke lima Dokter yang telah menangangani nya sudah mengangkat tangan akan kesembuhan Qabil, mereka sudah berbicara ketidakmampuan nya untuk menyembuhkan Qabil.


“Tuan Faaz, kami menunggu keputusan Anda” Ucap salah satu Dokter senior disana.


“Apa sudah tidak ada cara lagi Dok?, kasihan adik saya! Dia sudah sangat memimpikan pernikahan bersama Qabil” Ujar Faaz.


“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, dan hasilnya kami tidak mampu menyelamatkan Tuan Qabil, kami sudah tidak bisa memberi janji untu membuat nya sadar karena kondisi Tuan Qabil yang terlihat terus menerus menurun” sahut Dokter, Faaz menundukan kepalanya. Tak terasa air mata itu menetes membasahi pipi nya.


“Dokter Aku mohon , jangan dulu mencabut alat-alat nya. Tunggu Papa saya datang terlebih dahulu, karena saya belum bisa memberikan keputusan apapun tanpa bertanya kepada Papa saya” ucap Faaz kembali.


Faaz mengingat kondisi Rayna beberapa tahun lalu, Dokter pun sudah menyatakan kondisi darurat kepada Rayna. Namun saat itu Faaz meminta untuk mempertahankannya, dan Faaz sudah merasakan bagaimana hampa nya kehidupan saat menunggu keajaiban itu datang, Faaz tak ingin Alea merasa seperti dirinya, hidup dengan bayangan sosok orang tercinta dalam keadaan koma.


Dalam benak Faaz, Ia seakan sudah merelakan kepergiaan Qabil. Namun, ia tetap tidak bisa memberikan keputusan dari dirnya sendiri.


Dokter mempersilahkan nya untuk keluar, wajah Qabil terlihat terlintas di dalam benaknya. Faaz sendiri ingin sekali berteriak seakan melepaskan beban di dalam hidupnya, namun rasanya ia tak mampu menunjukan dirinya lemah saat berada di hadapan keluarga terkasihnya.


Walau kesedihan di dalam benaknya sudah menggunung, ia tak ingin melepaskan begitu saja. Langkahnya semakin lemah, hingga saat ia berdiri di depan pintu keluar yang masih tertutup itu, lututnya semakin lemas, ia membubuhkan tubuhnya disana. Mencoba menangis tanpa suara, meluapakan emosinya tanpa berteriak.


“Kau sudah kuanaggap seperti adik ku, aku selalu bangga memiliki adik seperti mu Qabil. Kuatlah berikan keajaiban untuk nya Tuhan, aku tak mampu jika harus melihat adik ku menderita karena kehilangannya!” Gumam nya dengan pelan.


“Dan mengapa hal ini harus terjadi di saat hari yang sangat bahagia untuk mereka, Qabil aku harap kau mendengar! Bahwa kakak mu ini berharap kau tetap hidup, membangun rumah tangga bersama Alea hingga ke surga!”


“Namun, jika kematian mu adalah terbaik untuk mu kakak akan berusaha Ikhlas walau hati kakak belum merasa mampu untuk itu. Kakak berharap kau bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang sangat kau sayangi” Gumam Faaz kembali, ia mencoba berdiri dan menunjukan ketegaran nya kembali. Ia membuka pintu ruangan itu, terlihat dengan jelas oleh matanya. Keluarga yang sedang bersedih menanti nya keluar dengan membawa kabar baik, namun kabar baik yang ingin ia sampaikan seakan sirna dari bibirnya.


Fizzy melangkah dan memeluk tubuh Faaz, begitupun dengan Maliq. Faaz berusaha untuk tegar, namun tetap tidak bisa.


“Keadaan nya semakin menurun!” Ucap Faaz.


“Ya Tuhan” Ucap Fizzy seakan tak mempercayai bahwa kabar baik memanglah tidak ada dari Qabil.


“Uncle bagaimana Papa?” Tanya Faaz.


“Alea sudah mengetahuinya, dia berusaha tegar namun tetap tak sadarkan diri. Papa mu sedang berada di perjalanan, ia ingin melihat sendiri keadaan Qabil” Sahut Zain menjawab pertanyaan Faaz


***FLASHBACK KEADAAN ALEA***


Siang itu Rido sedang duduk di kursi taman tempat yang menjadi favorit nya bersama May, jika sudah seperti ini senyuman istrinya selalu terbayang di dalam benak nya.


Rido meneteskan air mata, "Aku lelah sayang, lelah dengan semua permasalahan yang ada di dalam keluarga kita. Aku rindu kepada Mama, Papa, ibu juga Ayah, rindu saat-saat mereka menyemangati ku. rindu saat kita berjuang menyelesaikan masalah bersama" Ungkap nya di dalam hati.


"Aku rindu bercengkrama, menghabiskan waktu hingga bercanda gurau bersama kalian."


"May, istri ku.. cinta ku.. aku merindukan sosok seperti mu, sosok istri yang tidak pernah mengeluh! " Ia menangis, sembari melihat ke atas langit dan berharap senyuman istrinya yang terlintas di dalam pikirnya itu nyata. namun sayang, senyuman itu hanyalah bayangan yang semu.


"Papa... " Ayana memanggil Rido, Rido pun menoleh ke arah suara Ayana.


“Iya Nak,” Ayana yang masih terdiam, ia hanya menggetarkan bibirnya seakan ingin menangis.


Rido pun segera menghampiri dan bertanya, “Apa yang membuat mu menangis?” Lalu Ayana juga berjalan setengah cepat untuk menghampiri langkah Rido hingga memeluk Rido dengan erat dan menangis, “Mengapa dengan mu?, masalah mu dengan Kakak mu kan sudah beres. Lalu apa yang membuat mu menangis sayang?” Tanya Rido kembali karena mendengar tangisan yang terisak dari bibir Ayana.


“Papa, ikutlah dengan Mael ke rumah sakit” ucap Ayana, “biar Kak Lea bersama dengan ku disini, Noni juga sedang berada di dalam perjalanan” Sambung Ayana kembali.


“Apa terjadi sesuatu dengan Natasha?” Ayana menggelengkan kepalanya dengan pelan, “Damar?” Ayana masih menggelengkan kepalanya dengan Pelan, Rido semakin aneh melihat Ayana yang terus menerus berderai air mata.


“Apa sesuatu telah terjadi pada Qabil!” Tanya Rido, Ia pun memastikan Kembali jawaban Ayana dengan tatapan yang sangat lekat.


Ayana mengangguk pelan, “Qabil....” Ayana tak mampu melanjutkan kalimat yang telah Zain berikan.


“Ada apa dengan Qabil?” Tanya Rido.


Mael datang di ikuti oleh Rani dan Richard, mereka pun terlihat sangat bersedih.


“Dokter sudah tidak mampu menyelamatkan Qabil, Qabil di diagnosa Mati batang otak! Dan kesempatan untuk hidupnya sangat lah tipis” ucap Richard, ia memberi penjelasan dengan perasaan penuh was-was. Ia takut jika kondisi Rido malah menurun.


“Jadi Qabil sudah meninggal?” Tanya Ridi memastikan keadaan anak angkat kesanyangannya itu.


“Pihak rumah sakit sedang berusaha, namun ada dua opsi. Menunggu keajaiban atau memang melepaskan seluruh alat dan mengikhlaskan nya!” Ucap Richard kembali.


“Tidak! Mengapa menjadi seperti ini Qabil, Maafkan Papa”

__ADS_1


“Do, pergilah bersama Mael. Biar aku disini menemani Ayana dan Lea!” Ucap Richard.


“Bagaimana dengan? Alea dimana?” Tanya Rido, “Apa Lea sudah mengetahuinya!” Tanya Rido kembali.


“Bagaimana ia dapat melewatinya?” Rido menangis karena membayangkan kondisi kesehatan mental Alea yang mungkin akan terganggu kembali.


“Aku disini Papa!, aku sudah mengetahui nya dan Aku akan berusaha untuk ikhlas!” Mereka semua terkejut dengan kedatangan Alea, apalagi Alea berucap untuk Ikhlas.


“Lea sayang, semua akan baik-baik saja! Kakak mu sedang berada di dalam bersama Qabil”


“Aku ingin ikut Aunty, aku ingin melihat Qabil” wajahnya tak menunjukan air mata sedikit pun, ia seperti lebih tegar dari Rido saat kehilangan May.


“Tidak nak!, kau disini saja. Berdoalah terus bersama kami, Aunty yakin Qabil akan baik-baik saja”


“Tidak Aunty, Qabil sudah pamit kepada Lea!” Ucap Alea, Rido semakin tidak mengerti dengan jawaban Alea.


“Qabil datang membawa senyuman, Ia pamit dan mengecup keningku!, lalu Qabil berucap jaga dirimu sayang, jaga Papa dan semua keluarga kita dan aku akan menunggu mu disana”


“Akan aku sampaikan rindu mu pada Mama, Mama pasti senang bertemu dengan ku. dan ingatlah kau tetap pengantin ku!, begitulah kira-kira kalimat-kalimat yang Qabil ucapkan untuk ku!” Lirihnya sembari berbicara terbata-bata.


Kini, tanda hitam di pelupuk matanya terlihat sangat jelas, Mata yang membendung air mata pun kini terlihat jelas, bibir nya bergetar seakan tak mampu berbicara, raut wajah kesedihan pun muncul tak biasa, Entah apa yang Alea bicarakan. Mereka semua tidak mengerti dengan keadaan Alea saat ini, ia berubah begitu sangat cepat. Seakan ada penopang bagi lutut nya yang melemah karena kabar buruk dari kekasih nya itu.


Rido tersadar, melihat sosok Alea yang kini tengah memakai gaun pengantin nya. Alea terlihat sangat cantik, “sayang, mengapa kau memakai gaun ini?” Tanya Rido.


“Qabil meminta ku Papa, dua hari yang lalu seharusnya menjadi hari yang paling bahagia di hidupku.” Ia menahan air mata miliknya untuk tidak jatuh membasahi pipinya, “selain hari ulang tahun ku, hari itu akan menjadi hari yang mengubah hidupku! Seharusnya aku mendapat kan teman hidup dihari spesial itu”


“Namun lihat lah, lagi dan lagi aku kehilangan mereka dihari yang seharusnya menjadi hari bahagia ku!”


“Papa, tapi bukan berarti aku harus membuang gaun secantik ini bukan?. bukankah Papa dan Qabil sudah memilihnya untuk ku!”


“Qabil sangat ingin aku memakai ini!, Qabil pasti senang, dan Qabil bisa pergi dengan tenang!” Ucap Alea kembali.


“Aku ingin memberikan Qabil yang terbaik di hari terakhir nya, Papa tahu kan jika Alea sangat suka dengan pesta. tapi kini pesta itu untuk Alea adalah petaka, jadi bisakah Alea merayakan hari pernikahan di sana saja, tanpa adanya pesta, tanpa kesendirian Alea, dan tanpa air mata”


“Lea” ucap Rani, Alea memundurkan langkahnya seakan tak ingin Rani memeluk nya. Semua terdiam tanpa suara melihat serta mendengar cerocos Alea.


“Aunty kau tidak usah menangis, Lea tidak ingin ada orang yang menangisi kepergian Qabil!” Ucap nya seraya terbata-bata, Rido menghampirinya dan memeluk anak tercinta nya.


“Sudah cukup sayang!!!” Pinta Rido sembari memeluk Alea dengan erat.


“Bernyanyilah Papa, berikan kebahagiaan untuk Alea dan Qabil. Kau tak perlu menangis!” Ungkap Alea namun terdengar isakan kecil dari mulutnya yang mungkin sedang ia tutupi.


“Berhentilah berbicara nak! Papa mohon!” Seru Rido, “Papa ingin kau bahagia” ucap Rido.


“Kak Lea, aku tahu kesedihan mu. Bahkan jika aku yang mengalami nya, aku tak akan mampu menyembunyikan kesedihan itu, kau benar-benar sangat mencintai Qabil dan sekarang aku pun menyadari mengapa Qabil lebih memilih mu dibandingkan aku!” Tutur Ayana di dalam hatinya.


“Qabil.....” Alea memanggilnya, mungkin ia sudah tak mampu membendung air mata nya, ia kembali memanggil Qabil.


“Qabil... Qabil “ Teriaknya seakan tangisan itu terdengar pecah, lagi dan lagi ia memanggilnya. Hingga lutut yang ia miliki terasa sangat lemah, sampai ia terjatuh di dalam pelukan Rido. Alea tak sadarkan dirinya, Rido pun tak kuasa melihat raut wajah anaknya yang terlihat menyimpan beban yang sangat dalam.


“Biar aku Papa yang menggendong nya” ucap Mael, Mael segera menggendong dan membawa tubuh Alea kedalam kamarnya. Richard pun segera memeriksa keadaan Alea, Rido menangis dan terlihat ingin meluapkan kesedihannya, Ia memeluk Ayana juga Mael.


Duka yang menyelimuti nya kian hari kian terasa sangat besar, ia seakan tak mampu lagi menutupi luka yang teramat sangat dalam.


Bukan perihal kehilangan anak angkat yang sangat ia sayangi, ia mengingat sosok ayah dari Qabil yaitu Dhan. Ia mengingat janji nya yang akan selalu melindungi anak semata wayang Dhan, tak hanya sebuah luka seorang Papa kehilangan anaknya, Rido juga harus siap kembali menyembuhkan luka psikis Alea yang lagi dan lagi kehilangan sosok yang di cintainya. Apalagi Alea selalu mendapat duka itu saat melewati masa-masa indah ulang tahun nya, dan itu akan kembali mempengaruhi kesehatan jiwa Alea.


**Flashback berakhir**


Tak lama kemudian, Rido sudah sampai di Rumah sakit. Rido bergegas menghampiri Faaz dan yang lainnya, walaupun saat itu langkah kaki nya begitu sangat lemah karena mengetahui keadaan anak angkat tercinta nya sedang terbaring lemah.


Mael memapah jalan Rido, “Papa masih kuat?” Tanya Mael.


“Kuat Nak!, “


“Kalau memang tidak kuat berjalan, biar Mael pinjam kursi Roda!” Ucap Mael.


“Tidak, Papa kuat kok! Pegang saja tangan Papa seperti ini” pinta Rido kepada Mael.


“Baiklah, “ sahut Mael kembali, mereka pun berjalan hingga koridor rumah sakit yang menunjukan keberadaan anggota keluarganya.


Maliq menyadari kedatangan sang Papa kesayangannya, ia berlari dan segera menyambutnya dengan pelukan.


“Tenanglah sayang, siapapun akan kembali kepada Tuhan! Ikhlaskan lah Qabil. Insha Allah surga sedang menantinya” Tutur Rido penuh kelembutan.


Faaz pun menghampiri sang Papa, begitupun dengan Fizzy yang juga memeluk Papa nya itu.


“Duduklah dulu kak!” Sembari mengajaknya duduk, air mata Zain pun terlihat menetes. Semua sangat merasa kehilangan Qabil, karena Qabil selalu memberi sisi kebaikan kepada siapapun. Sikapnya yang penyabar serta penyayang membuat mereka sangat menyanyangi sosok Qabil, bahkan Qabil selalu menjadi orang pertama yang memberikan segala ide kebaikan di dalam kekuarga Rido.


Zain sangat mengingat betapa sigapnya Qabil menyelamatkan Ayana dari rerutuhan pohon yang akan menimpa anaknya, walaupun ia sedang meringis kesakitan, ia memastikan dengan pertanyaan nya kepada Ayana bahwa Ayana tidak merasakan apa-apa.


Dan tak hanya itu, Mael pun mengingat sosok Qabil yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Saat itu Mael yang selalu merasa tidak kenyang, ia masih melihat isi piring Qabil yang terlihat masih penuh dan Qabil menyadari bahwa Mael masih menginginkan nya, lalu Qabil memberikan setengah isi piring tersebut kepada Mael.


Semua kebaikan yang tertuang dari dirinya menunjukan bahwa sosok Qabil adalah sosok panutan, walaupun Qabil terbilang anak yang paling muda diantara semuanya namun ia sangat memiliki sikap dewasa.

__ADS_1


“Papa, Dokter memberikan....” Rido memejamkan matanya, Faaz seakan tak ingin melanjutkan penjelasan saat melihat Papa nya seperti itu.


Rido berjalan, dan meminta untuk Zain dan Faaz menemani nya masuk. Mereka pun meminta ijin pada seorang perawat untuk menemui Qabil di dalam.


Mereka sudah masuk, terlihat Qabil yang terbujur kaku dengan beberapa alat yang menempel di sekujur tubuhnya.


Tut.. tut..


Alat itu terdengar melemah,


“Anak ku, ini Papa. Apakah Qabil bisa mendengar Papa?” Tanya Rido.


Qabil tidak merespon apapun, bahkan air mata itu mengering dengan sempurna di pelupuk matanya. Tidak ada air mata, tidak ada kedipan ataupun gerakan yang menandakan kehidupan menyertai nya.


Rido mengingat betul saat masa-masa Ia kehilangan sosok Nenek nya. 27tahun yang lalu, saat proses kelahiran anak kembarnya yang juga harus menelan pahit kehilangan sosok nenek tercinta nya.


Dan kini kondisi Qabil tersebut, tak jauh seperti kondisi Nenek sally, tak ada kehidupan yang terlihat kuat untuk diyakini. Mungkin kata “Ikhlas” memang sudah harus terucap dari bibirnya untuk anak angkat yang seharusnya sudah menjadi menantunya.


“Qabil, Alea sangat mencintaimu. Begitupun dengan papa, kakak-kakak mu dan yang lainnya.”


“Tapi kini, kami harus benar-benar merelakan mu!, Papa harap kau membuatkan rumah di surga sana, bertemu dengan Papa dan Mama mu!” Ungkap Nya.


“Papa harapa kau akan tersenyum saat kami melepas kepergiaan mu!, Qabil anak ku, maaf jika selama kita bersama, Papa belum mampu menjadi pengganti Papa mu, mencintaimu dengan keterbatasan Papa, membagi rasa sayang papa dan mungkin kau hanya terbagi sedikit”


“Tapi ingatlah, Papa selalu bangga memiliki anak seperti Qabil. Papa belajar arti keikhlasan dari sosok anak kecil yang di tinggalkan oleh ayah dan ibunya, Papa belajar arti pentingnya sebuah keluarga dari anak kecil seperti mu!”


“Kau memang anak yang baik, calon suami yang baik pula untuk putri kesayangan ku, kau mampu menjaga amanat kami, kau terbaik dari segala yang terbaik, papa Mencintai mu!”


“Lepaskan saja, Papa ikhlas!” Ucap nya. Faaz pun segera meminta kepada Dokter untuk melepaskan semua alat itu, Dokter melepaskan semuanya.


Dan...


Tut................ suara itu serta garis monitor yang terlihat memanjang, membuktikan bahwa Qabil memang sudahlah tiada...


Rido memeluk Zain dan menangis di dalam dekapan adiknya, rasanya ia benar-benar sudah kehilangan sosok sahabat seperti Dhan...


“Dhan.... Maafkan Aku!” Ungkapnya penuh dengan tangisan yang terisak di dalam bibirnya.


Bayangan saat-saat bersama dengan Dhan itu terlintas kembali di dalam benaknya, bayangan saat ia menghabiskan waktu kebahagiaannya, kesedihannya serta saat-saat terakhir Dhan akan menghembuskan nafas terakhirnya itu terlintas.


Dhan memang harus meregang nyawa sesaat kecelakaan yang menimpanya nya dan saat kecelakaan itu ia berada di dalam Mobil bersama Fahriye dan juga Qabil, bahkan saat itu Fahriye sedang mengandung adik dari Qabil.


Namun naas, Fahriye harus meninggal di dalam mobil tersebut dan saat Dhan dibawa ke sebuah Rumah sakit, Dhan seakan menunggu kedatangan Rido. Tak lama kemudian Rido datang karena kebetulan sebelumnya mereka sudah menghabiskan waktu bersama dengan membawa keluarga masing-masing untuk makan bersama.


Dhan berbicara sembari merasa kesakitan, “kau selalu menganggap ku adik mu, kasih sayang mu tidak akan pernah aku lupakan!! Maaf aku harus menitipkan Qabil kepadamu, Tolong sayangi dia Tuan, “ Rido mengangguk pelan, air mata nya pun menetes tak bertauran saat mendengar kalimat yang saat itu dhan sampaikan, sembari menahan sakit ia berucap. “Tuan Muda terimakasih, maaf jika aku merepotkan mu selalu” Ucap Dhan saat-saat terakhir ia akan menghembuskan nafasnya itu teringat hingga terdengar jelas di dalam pikir Rido.


Dan tak lama kemudian Dhan mengucapkan kalimat Syahadat dibantu oleh Rido, akhirnya Dhan menghembuskan nafasnya tepat di dalam pelukan Rido.


“Aku berjanji akan selalu menyayangi nya seperti anak ku sendiri, kau tak perlu khawatir Dhan! Kau akan selalu menjadi sahabat terbaik ku, aku menyayangi mu!”


Kini, Rido harus melepas kepergiaan Qabil dan menerima kenyataan jika nyawa Qabil sudah tidak dapat tertolong. Bahkan Rido harus mempersiapkan diri untuk memulihkan kembali kesehatan mental Alea, Faaz menangis. Lututnya kembali merasa lemas.


Tak disangka Alea berlari dan masuk kedalam ruangan Qabil. Rido Zain dan Faaz tak menyangka dengan kedatangan Alea, Alea menangis memeluk jasad Qabil.


Gaun pengantin masih melekat di tubuhnya, bahkan ia terlihat cantik memakai gaun tersebut. Dokter hingga perawat tak kuasa menahan air matanya, melihat Alea memohon dan menggoyahkan tubuh Qabil yang terlihat sudah kaku.


“Kau janji kan akan menikah dengan ku, bukalah mata mu Qabil!”


“Apa kau tak mencintaiku!, kau tega meninggalkan ku! Dengar Qabil, kau memilih nuansa putih di dalam pernikahan ku. Apakah ini pembuktian mu!” Celoteh Alea sengaja tidak dihalangi oleh mereka, Fizzy dan yang lainnya, yang juga ikut masuk ikut menyaksikan kesedihan Alea.


“Qabil, Jas mu bagus! Kau ingin sekali memakainya bukan? Lalu mengapa kau tidak memakainya!”


“Kau malah tertidur!” Alea menangis, terus menerus menggoyangkan jasad Qabil.


“Kau dan aku akan memiliki banyak anak bukan? Kau dan aku akan memiliki rumah dan mengurus papa bersama!”


“Kau menyetujui aku tinggal bersama Papa, mengurus Papa dan memberikannya kebahagiaan. Lalu mengapa kau pergi meninggalkan ku Qabil”


“Kau jahat!, kau jahat Qabil” sembari menepuk-nepuk badan Qabil, Alea terlihat melemah. Noni menghampiri Alea, ia memeluk Alea dan mendekapnya.


“Kau tak menepati janji mu, Qabil” Lirihnya, “Kau meninggalkan ku seperti mereka!”


“Kau janji akan kuat kan Lea, aku sudah mengajak mu kesini. Ikhlaskan dia!!” Ucap Noni.


“Dia tak menepati janji nya Noni!” Ucap Alea, tangisannya pecah kembali. Namun sepertinya, Alea tak mampu untuk berdiri.


Mael kembali memapah tubuh Alea, ia memeluk kakak sepupunya itu dan mendekap tubuh mungilnya serta mencoba menguatkannya.


Tubuh Qabil kini sudah tertutup kain putih rumah sakit, Semua Dokter memberikan penghormatan terakhirnya kepada Qabil. Mereka juga menangis melihat semua Anggota keluarga meratapi kepergiaan pasien mereka.


“Dokter jangan menutupnya seperti itu, Qabil ku pasti akan hidup kembali” pinta Alea seraya meronta dan memohon.


“Sudah cukup Lea, sudah cukup!!” Teriak fizzy, Fizzy memeluk adiknya, tak hanya Fizzy, Ayana pun terlihat mencoba menguatkan Alea dan dirinya sendiri.

__ADS_1


“Q a b i l” panggil Alea sebelum ia kehilangan kesadaran, karena Alea lagi dan lagi tak sadarkan diri hingga membuat dokter membawa nya untuk melakukan perawatan.


__ADS_2