TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Ungkapan Hati Maliq untuk Faaz dan Natasha.


__ADS_3

Selesai menyempurnakan kisah perdamaian adik dan kakak itu, Noni terlihat sangat senang sekali. Ia merasa bahagia, kali ini ia sedang duduk sendirian di taman luas milik Rido, bahagia nya itu terpancar dari senyuman nya, sembari menata langit ia menumpahkan suka cita nya.


Dari kejauhan terlihat Maliq sedang berjalan menghampirinya, Maliq melangkahkan kaki dengan senyuman. Noni pun menyadari kehadiran Maliq, ia segera menyambut kedatangan Maliq dengan senyuman indah yang melekat di bibir mungilnya.


"Alea sedang apa?" Tanya Noni saat langkah kaki Maliq terlihat sudah dekat.


Maliq pun duduk di samping Noni, "Alea sedang bersama Papa dan Ayana kebetulan Aunty Rani baru saja datang membawa Aaleesya" Jawab Maliq seraya duduk, sembari menghirup udara luar yang terasa segar, Maliq kembali tersenyum sembari menatap wajah Noni.


"Kamu bahagia?" Tanya Noni,Maliq mengangguk pelan sembari tersenyum kembali.


"Syukurlah, aku merasa bahagia jika kau bahagia" Ujar Noni kembali.


"Terimakasih Nonia, sekali lagi Aku ucapkan terimakasih!" Maliq berbicara sembari menari tangan dan menggenggam tangan Noni, "Maaf jika dulu aku terlalu sombong, Aku terlalu naif saat kau meminta maaf atas kesalahan yang mungkin tak kau sengaja" Noni menatap mata Maliq, terlihat permintaan maaf yang tulus itu terucap dari bibir Maliq dan Noni merasa senang saat mendengarnya.


"Mengapa kau harus meminta maaf Maliq, aku melakukan ini bukan untuk membuatmu merasa bersalah lalu meminta maaf!" Tutur Noni, "Aku melakukan ini karena kesalahpahaman harus segera diluruskan" Tutur nya kembali.


"Aku melakukan ini tulus, kau tak usah meminta maaf. wajar saja jika saat itu kau marah dengan apa yang terjadi bersama ku. yang penting saat ini kita baik-baik saja bukan?" Tanya Noni, Maliq mengangguk pelan.


"Saat itu perasaan ku sedang kacau, namun Aku harus berusaha menghargai acara istimewa sahabatku" Gumam Maliq, "dan saat itu terjadi, aku benar-benar sangat marah sekali" Gumam nya kembali.


Noni tersenyum saat mendengar penjelasan Maliq, "Shawn selalu mengajak ku untuk bertemu dengan mu" Ucap Maliq, "Tapi aku selalu menolak nya, dia bilang jika kamu ingin meminta maaf atas kejadian itu" Ucap Maliq kembali.


"Iya, Aku selalu memaksanya." Timpal Noni, "Aku memaksanya karena selama aku belum meminta maaf dan kau tidak merasa kesal padaku, disitu lah ketenangan ku muncul." Sambung Noni diringi senyum cantiknya.


"Haaah, entahlah.. mungkin jalan ini yang membuat kau bertemu dengan ku dan aku sangat bersyukur karena, satu masalah ku telah hilang" Ujar Noni kembali sembari tertawa kecil, "Aku bersyukur akhirnya kau bisa memaafkan ku!"


"Noni, bolehkah aku bertanya sesuatu hal?" Tanya Maliq.


"Boleh, bertanya lah Maliq, kau tak perlu merasa sungkan kepada ku" Balasnya.


"Mengapa kau bisa melakukan ini? dan mengapa kau mau membuat kak Alea sembuh! jika alasan nya karena kau psikolog atau kau melihat Alea seperti ibu mu, bagi ku itu alasan yang sangat klasik!" Ucap Maliq tanpa jeda,"Dan apakah Kakak ku akan benar-benar sembuh?" Tanya nya kembali.


Noni terlihat terdiam saat mendengar pertanyaan Maliq, Ia membuang nafas nya dengan berat.


"Noni, kau bilang bahwa kakak ku tidak gila. dia hanya terlalu terbebani masalah di kehidupannya, otak nya sedang tidak sinkron, dan saat kau bilang itu, kau seperti sedang berdebat dengan Dokter Hans!"


"Di Satu sisi Dokter Hans bilang, jika Kak Lea sudah mengalami gangguan kejiwaan yang sangat parah. namun, setelah kau berdua dengan Alea, Kau seakan membantah kegilaan Kakak ku!, Apa yang belum kau jelaskan?" Tanya Maliq kembali.


Saat malam itu, malam dimana Noni berbincang mengenai masa lalu nya. Maliq dan Rido berpamitan untuk masuk kedalam kamar masing-masing, Noni meminta untuk tidur di dalam kamar Alea. tentunya bersama dengan Alea, dan Adzan subuh pun berkumandang, Maliq berniat untuk membangunkan Noni untuk mengajaknya solat berjamaah, Namun Maliq melihat pemandangan yang tidak di sengaja.


Alea dan Noni sedang bersembahyang bersama, bahkan Alea masih ingat dengan gerakan solat tersebut. Maliq begitu aneh melihat Alea yang begitu sangat cepat sadar, dan bagi Maliq. Noni seakan memiliki jimat untuk menyembuhkan nya.


Dan saat Pagi datang, Maliq kembali ingin membangunkan Noni. Ia berniat untuk mengajaknya sarapan bersama, namun saat itu Maliq mendengar jika Noni sedang menghubungi Dokter Hans, dia berucap jika Alea tidak Gila dan Hans harus menarik surat hasil diagnosa tersebut.


"Maliq begitu sangat penasaran dengan perdebatan diantara Daddy dan aku saat pagi itu?" Tanya Noni.


"Jelas, tadi aku ingin menanyakan hal tersebut kepada mu!, tapi waktu nya sangat tidak tepat." jawab Maliq.


"Saat itu, Aku terbangun. dan melihat Alea duduk di atas ranjang miliknya sembari menekuk kan kakinya"


"Lalu?' Tanya Maliq.


"Lalu, Aku bertanya. kau sedang apa Alea? dan dia menjawab, Aku sedang termenung.Aku capek! Aku lelah."  Noni mencoba menceritakan apa yang telah terjadi, sebelum Noni mecoba memberikan terapi untuk psikis Alea.


"Aku kembali bertanya, apa yang membuat mu lelah? dia menjawab, mereka mengira aku gila, maka dari itu Aku menunjukan kegilaan ku! namun sebenarnya Aku menyadari hal itu, dan saat bisikan-bisikan itu membisik di telingaku, rasa nya kepala ku pecah, lalu dokter memberiku segudang obat yang dapat menenangkan ku! Aku tak membutuhkan nya, Aku hanya butuh telinga serta bahu yang dapat membuatku merasa di dengar dan merasa ringan untuk bersandar, lalu Aku butuh mereka yang membuat ku dekat dengan Tuhan ku, tidak menganggap kegilaan ku adalah suatu kelemahan melainkan kelebihan ku" Maliq menggelengkan kepalanya,


"Apa lagi yang kakak ku ucapkan?" Tanya Maliq.


"Ia berucap, jika ia ingin menyelesaikan kegilaan ini. dia berucap jika semua ini dapat terselesaikan. dan maliq disitu aku berpikir dia hanya orang yang sedang berusaha melalui masa-masa stress nya dan Kakak mu tidak gila. Awalnya Daddy mengira Aku mengkhayal karena Daddy tahu kondisi Lea sama persis dengan ibu ku, disitulah awal perdebatan ku dengan Daddy, namun Aku mencoba merekam pembicaraan kami dan Aku mengirimnya"


"Aku tahu dia tidak Gila, karena dia masih percaya dengan Tuhan. dia masih mengadu kepada Tuhan, dan itu yang membuat Aku yakin Alea akan baik-baik saja"


"Lalu, Apa Dokter Hans percaya?" Tanya Maliq,


"Iya dia percaya, maka nya Daddy meminta ku membuat Alea untuk relax dan menyuruh ku membuat Alea percaya agar dia melepaskan beban di hati dan pikirnya. Alea tidak tahu rencana Aku dan Daddy tadi, dan aku bersyukur metode itu berhasil" Ucap nya, "sebenarnya Alea tipikal orang yang ekstrovert, tapi dia tidak mampu mengendalikan emosinya. dia ingin sekali menceritakan permasalahan nya, namun sayang nya selama dia hidup disini tidak ada satupun yang mau mendengarkan keluhan nya, walaupun Papa dan mama mu mampu mendengarnya, namun Alea enggan membagikan kisah pilu nya terhadap mereka."


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk ke depan nya?" Tanya Maliq.


"Membuat Alea terbuka, membuat nya senyaman mungkin. dan memberikannya rasa kasih sayang serta menganggap dirinya sangat berkualitas" jawab Noni, Maliq mengangguk pelan. Ia seakan mengerti maksud dari perbincangan ini.


"Dan sekarang, sebisa mungkin kami akan mengurangi obat-obatan untuk Alea, jadi stop berpikiran Alea gila dengan mengerti perasaannya, mengajaknya bicara dari hati ke hati akan membuatnya lebih tenang" jelas nya kembali, Maliq mengerti akan penjelasan Noni.


"Kau dan Dokter Hans memang sangatlah hebat, Aku bangga bisa mengenal mu!" Puji Maliq membuat Noni tersenyum.


Noni menatap langit biru seraya tersenyum dan berbicara 'aku semakin yakin jika Daddy ku adalah Dokter yang sangat Hebat!!!" gumam Noni, Maliq menghela nafasnya dengan ringan tanda ia merasa lega saat mendengar penjelasan dari Noni.

__ADS_1


"Maliq sekarang giliran ku bertanya? " Tanya Noni.


"Boleh?, Apa yang akan kau tanyakan?" Tanya Maliq..


"Tapi ini sedikit membuat mu kesal, namun jika kau tak ingin menjawab! aku tak akan memaksa mu! " Ungkap Noni.


"Tanyakan saja, sebisa mungkin aku akan menjawabnya Noni" Gumam Maliq kembali.


"Baiklah, " jawab Noni, namun beberapa menit kemudian Noni hanya terdiam dan tak menanyakan apapun. Maliq pun merasa aneh dengan sikapnya.


"Noni, apa kamu baik-baik saja? " Tanya Maliq.


"Iya Aku baik-baik saja, hanya aku takut menyinggung kamu dan pertanyaan ku sedikit mengarah ke arah pribadi kamu" Ungkap Noni kembali,


"Sudahlah tanya kan saja, kau tak usah bimbang Noni"


"Hmmp baiklah, " Noni menghela nafasnya, ia menatap wajah Maliq, Maliq pun terlihat seperti mengerutkan dahinya.


"Maliq, saat aku berada di rumah sakit aku tak sengaja mendengar ungkapan hati mu dan saat itu kau berbicara sembari menangis" Terdengar jelas sekali Noni berusaha menyampaikan kalimat tersebut dengan sangat hati-hati.


Maliq meluruskan pandangannya, "Tak perlu di lanjutkan iya Maliq, maaf jika membuat mu tersinggung" Ucap Noni kembali.


"Tidak, katakanlah apa yang membuat mu penasaran Noni" Sahut Maliq yang masih menatap lurus ke depan.


"Benarkah? apa kau benar-benar tidak merasa tersinggung? " Tanya Noni kembali.


"Tidak, Aku juga sudah mengira jika kau akan bertanya mengenai permasalahan ku" Ucap Maliq seraya tersenyum sembari menatap wajah Noni, "Atau mungkin, jika kau tak bertanya. aku sendiri yang akan menceritakan nya" Ucap Maliq kembali.


"Syukurlah, aku merasa sangat lega" Sahut Noni.


"Ya sudah, silahkan jika mau bertanya" Ucap Maliq.


Noni tertawa kecil, saat melihat maliq berbicara. "Saat itu.. aku sedikit mengira jika di dalam ruangan yang sedang kau tunggu itu adalah istri mu. lalu aku merasa jika kau sangat terluka mengetahui istri mu terbaring lemah"


"Namun kali ini aku sudah mengetahui nya jika dia adalah Kakak ipar mu, dan aku tak mengerti mengapa kau bilang jika kau tak akan pernah berharap kembali memiliki nya. apa hubungan mu sangat dekat dengan Kakak ipar mu?"


Noni menundukkan kepalanya seakan ia malu karena telah bertanya mengenai hal pribadi Maliq, "Maaf jika aku terlalu berlebihan Maliq, Aku tak sengaja menguping ungkapan mu saat itu. Maafkan Aku!!" Maliq pun mendengarkan setiap kalimat yang Noni sampaikan, hembusan nafasnya terdengar jelas seakan Maliq merasa berat untuk menceritakannya.


Maliq masih menunduk, "Aku mencintai Kakak ipar ku! " Ungkap Maliq, Noni segera menolehkan pandangan nya ke arah wajah Maliq, Ia merasa terkejut dengan apa yang Maliq ucapkan.


"Kau, mencintai kakak ipar mu? bagaimana bisa? " Tanya Noni seakan merasa tak percaya.


"Kau sempat menjalin kasih dengan nya? " Tanya Noni.


"Tidak," Sembari mengangkat kedua bahu miliknya, Ia menjawab nya dengan singkat.


"Lalu?, " Noni seakan merasa penasaran dengan perjalanan kisah cinta Maliq, Maliq tersenyum saat akan menceritakannya.


"Dia datang membawa sejuta kedamaian, memberikan jiwa yang sehat untuk keponakan ku, memberikan hawa segar untuk Papa dan dia juga yang membuat Alea lebih tenang. dia segalanya bagi kami, aku mencoba mendekatinya. namun saat itu dia selalu menghindari ku."


"Alasan nya? " Tanya Noni.


"Dia merasa tidak pantas, karena dia hanya seorang pengasuh Aaleesya."


"Lalu mengapa dia bisa menikah dengan Kak Faaz? " Tanya Noni.


"Karena Papa yang memaksanya, karena Aaleesya selalu meminta seorang ibu kepada Papa dan saat itu aku belum mengetahui rencana Papa dan Kak Faaz untuk mengajak Natasha menikah dengan Kak Faaz" Ungkap Maliq.


"Malam pun menjadi saksi, kita semua berkumpul dan Kak Faaz memberi kabar pernikahan nya akan dilaksanakan satu minggu lagi, aku merasa heran saat mendengar itu. aku terpukul tapi aku sama sekali tidak berdaya! "


"Aku berusaha menggagalkan nya bahkan saat itu Alea yang belum bisa menerimanya, berusaha membantu ku! " Ucap Maliq.


"Mungkin mereka sudah memiliki garis untuk berjodoh, dan beberapa bulan kemudian aku menjadi sosok yang tempramen bahkan saat pertemuan kita di pesta, amarah ku pada Kakak ku sedang memuncak! " Ucap Maliq kembali.


"Bulan ke bulan pun berlalu, Aku mengetahui Natasha hamil anak Kak Faaz. aku semakin terpukul hingga masalah Kak Rayna muncul dan aku sedikit memanfaatkan nya, hanya untuk membawa kembali cintaku."


"Namun, Natasha semakin dekat dengan kakak ku walaupun pada awalnya aku tahu jika pernikahan mereka hanya sebatas keinginan Papa dan Aaleesya. tapi lama kelamaan mereka menjadi sosok suami istri sungguhan" Ungkap Maliq seraya bersedih.


"Apa kamu pernah jujur kepada Kak Faaz?, " Tanya Noni.


"Sebelumnya tidak, tapi setelah itu aku mencoba jujur akan perasaan ku!, lalu Kak Fizzy dan Papa mencoba memberi pengertian kepada ku! " Ucap Maliq, "Dan aku berusaha untuk menerima kenyataan itu, aku berusaha untuk melupakan nya! " Ucap Maliq kembali membuat Noni merasa tersentuh.


"Karena bagiku, saat melihat orang yang paling berharga untuk ku kehilangan cahaya nya, aku berharap seseorang bisa mengubah kemurungan nya menjadi keceriaan. Saat aku menyadari tidak ada yang bisa melakukannya lagi, aku akan sangat merasa putus asa."


"Aku selalu merasa putus asa saat melihat raut wajah Kakak ku! "

__ADS_1


"Ini alasan ku melepaskan dan merelakan Natasha untuk Kakak ku, dan aku merasa Kak Faaz mencintai Natasha melebihi cinta ku pada Natasha"


"Aku melihat Kak Faaz selalu murung, namun saat Kak Faaz bersama Natasha dia selalu menunjukan wajah ceria nya"


"Dan itu sesuatu hal yang membuat ku merasa jika kebahagiaan mereka berdua sangat lah berharga dan Aku menyadari itu semua." Ungkap Maliq dengan nada kalimat yang terdengar sangat tulus.


"Lagipula, Aku udah punya gantinya kok! " Celetuk Maliq, "Tuhan mendengar segala doaku, dan bagi ku sosok wanita itu seperti Natasha bahkan sikap dewasanya melebihi sikap Natasha" Jelas Maliq kembali membuat Noni sedikit terkejut.


"Hahh? maksud kamu? U.. udah punya gantinya Kak Natasha Maliq? " Tanya Noni seraya terbata-bata.


"Iya, " Jawab Maliq singkat.


"Dan jika saja kamu tahu, aku merasa jika kamu mampu menggantikan Natasha untuk ku" Gumam Maliq di dalam hatinya.


"Syukurlah, " Sahut Noni, sorot matanya terlihat sangat kecewa.


"Noni.... sabar Non... pastilah pria tampan kaya Maliq gak mungkin, gak punya stok wanita" Guman Noni di dalam hatinya.


"Noni? " Panggil Maliq, "Apa ada masalah? " Tanya Maliq kembali.


"Tidak, Maliq.. aku ingin sekali bertemu dengan nya! "


"Nanti juga pulang, kau akan tahu betapa baik nya sosok Natasha! dan saat itu dia lah yang selalu menentang kami jika kami membuat Alea terkurung di kamarnya"


"Sungguh dia membuat ku penasaran Maliq" Ucap Noni,


"Tuan Maliq... " Ester datang menghampiri,


"Iya bibi, ada apa? "


"Tuan Faaz menghubungi anda sedari tadi melalui ponsel anda, namun anda tidak menjawab nya"


"Ya ampun, ponsel ku di kamar bi. apa yang kakak ucapkan?, "


Sembari memberikan telepon rumah yang dibawa nya, Ester memberikan telepon tersebut kepada Maliq. "Tuan Faaz meminta anda segera menghubunginya."


"Oh baiklah, "


"Mari Tuan, " Ucap Ester seraya meninggalkan Maliq.


Maliq menekan nomor ponsel milik Faaz..


Tut...


Tut...


Tut...


"Halo Kak" sapa Maliq.


"Maliq, bisakah kau datang ke rumah sakit? Qabil dalam kondisi kritis, tapi ingat kau tak perlu berbicara pada Papa ataupun Alea untuk sementara ini" Ucap Faaz di balik ponsel miliknya.


"Aku sudah menghubungi Uncle Zain, dia sedang menuju kesini. aku meminta kau mengajak Noni, aku ingin meminta tolong lagi kepadanya jika dokter membutuhkan darah untuk Qabil" Cerocos Faaz membuat Maliq terdiam, menurut Maliq masalah baru akan muncul kembali.


"Maliq apakah kau mendengar ku?" Tanya Faaz


"Maliq, Halo! "


"Maliq?" Faaz memanggil nama Maliq berulang kali.


"Iya Kakak," Sahut Maliq, "Maliq dengar. Baiklah Maliq akan segera ke Rumah sakit" Ujar Maliq.


"Baiklah, aku menunggu mu! " Ucap Faaz, Ia pun segera menutup panggilan tersebut. Maliq terdiam, pandangan nya kosong.


"Maliq kau kenapa?, Apa sedang terjadi sesuatu?" Tatapan nya tetap kosong.


Noni melambaikan tangannya, berusaha menyadarkan Maliq. "Maliq, yang sedang terjadi? katakanlah!!!" Ucap Noni yang kini tak sungkan mengoyahkan tubuh Maliq.


"Ikut aku ke Rumah sakit! Qabil dalam kondisi sangat serius! " Ucap Maliq.


"Maksudmu?"


"Sudah ikut saja, lagipula siapa tahu Qabil membutuhkan darah mu dan ku harap kau masih mau memberika pertolongan mu untuk nya"


"Baiklah, ayo kita berangkat" Ajak Noni, mereka pun segera berangkat menuju Rumah sakit.

__ADS_1


.


.


__ADS_2