
MAY POV (COMEBACK)
"Sayang, Istriku" Panggil Rido, Aku yang sedang menyusui MaliQ. menjawabnya dengan suara yang pelan.
"Iya sayang, Aku sedang menyusui MaliQ" Ucapku, Namun sepertinya Rido memang tidak mendengar Aku menyahut panggillan darinya. Rido memanggilku sembari melangkah menghampiriku.
"Sayang lihatlah, Dhan mengirimkan Fotonya bersama calon istrinya." Ucap Rido
"Kirain aku Apaan" Jawabku seraya menertawakan tingkahnya yang seperti anak kecil. Aku melihat rona wajah bahagia didasar wajah suamiku, Rido tersenyum saat menunjukan foto Dhan bersama Fahriye.
"seninle mutlu hissediyorum, çok derinden teşekkür ediyorum çünkü seninle birleşti. ve umarım ölüm ayrılana kadar birlikte olacağız." (Tulis Dhan, di sosial medianya)
"Ini sih bukan mengirim pribadi untuk kamu sayang, kamu lihat di sosial mediannya!" Ucapku, Rido menatap terus layar ponselnya, Ia terlihat sangat senang melihat wajah Dhan yang terlihat bahagia.
"Maksudku, Dhan mengirimkan nya di sosial media miliknya sayang" Aku tertawa hingga terpingkal menatap wajahnya, Rido terlihat seperti Anak kecil yang baru saja menatap lukisan gunung yang mendapat Nilai besar.
"Dhan aku sangat senang melihatmu" Gumamnya sembari menatap layar ponselnya kembali.
"Sayang, Aku senang sekali melihat kebahagiaan Dhan, dia benar-benar pantas mendapatkan wanita yang benar-benar mencintainya" Gumamnya.
"Dhan pernah bercerita, dia sangat menyesal karena telah mengecewakan Rani" Ungkap Rido.
"Dhan merasa menyesal?" Tanyaku.
"Iya, Dia sangat-sangat menyesal"
"Rani juga bilang, Dhan meminta maaf kepada Rani dan meminta Ricard menjaganya" Ucapku, Rido tersenyum.
"Jodoh siapa yang Tahu, Hanya Tuhan lah yang maha mengetahui" Gumamku, Aku menidurkan Maliq yang sudah kenyang menyusu kepadaku, Aku duduk dipangkuan Rido. Rido memeluk ku dengan sangat erat.
"Faaz, Fizzy dan Alea kemana?" Tanyaku, Aku memainkan Rambut suamiku dengan. Aku mencium keningnya berulang-ulang.
"Faaz dan Alea sepertinya tertidur karena, sedari tadi mereka sudah sangat kelelahan bermain" Jawab Rido, Rido memeluk ku kembali dan mengendus-ngendus Aroma yang tersirat dari tubuhku.
"Fizzy?" Tanyaku,
"Ia sedang bersama Shaloom dan Yofie" Jawabnya.
"Aku sangat suka bau tubuhmu, wangi sekali" Pujinya kepadaku, Aku tersenyum mendengar ucapannya.
"Tapi aku lebih senang jika mengendus Aroma tubuhmu, saat tertidur pulas" Ucapnya kembali,
"Oh Iya, Sayang, Apa Kamu ngerti apa yang Dhan ucapkan?" Tanyaku, Aku terlihat polos menanyakan apa yang Dhan tuliskan.
"Iya Sayang, Aku sempat belajar disana dan aku juga suka dengan Istanbul" Ucapnya.
"Lalu Apa itu artinya?" Tanyaku kembali, Rido kembali mengendus-ngendus aroma tubuhku. dia juha mencium keningku, Ia menatap wajahku dan mengusap lembut pipiku.
"Sayang,hentikan" Seruku, Rido terus-menerus mengendus dan mencium Aroma tubuhku dan Aku merasa sangat kegelian.
"denganmu aku merasakan bahagia, Aku mengucap syukur yang sangat dalam karena telah dipersatukan denganmu. dan Aku berharap kita akan bersama, hingga maut memisahkan. " Seru Rido, Aku tersenyum dengan sangat bahagia.
"Sayang, Aku mencintaimu" Ucapku, Aku mengecup bibirnya Nakal. Rido terlihat sangat menikmati ciuman Nakal dariku."
"Kamu kenapa Nakal, Papa Mama sebentar lagi datang!" Ucap Rido, Ia menyingkapkan Rambutku yang terurai. karena jika aku menyusui anak ku, Aku selalu menutup pintu rapat dan membuka hijabku.
"Mau berapa kali lagi sih kamu ungkapin kalimat yang membuatku semakin sayang sama kamu"
"Kalimat yang mana sayang?" Tanya Rido heran.
"Kalimat yang tadi!"
"oh, Kalimat tadi!" Jawabnya polos, Aku melihatnya tersenyum Nakal sembari memandangku.
"Kenapa?"
"Kok malah ketawa sih!!!" Tanyaku penuh dengan penekanan.
"Kamu tanya Arti kalimat yang Dhan tulis kan?" Tanya Rido, Rido membalikan kembali pertanyaannya. Aku menganggukan kepalaku, walaupun sebenarnya aku sangat kebingungan.
"Lalu?" Tanyaku padanya.
"Itu Artinya!!" Jawab Rido sembari tertaa menggelitik.
"Rido!!!!!!!!'
"Loh salah Aku dimana?, Kamu tanya aku kan, Ya aku jawab"
"Tau gitu, Aku gak Akan senakal itu cium-cium kamu"
"Jadi kamu baper sama kalimat Aku!" Aku mengerucutkan bibirku, Aku merasa malu karena ciuman Nakal yang Aku berikan padanya.
"Sayangku kenapa mesti marah, seharusnya kamu sudah tau harapan itu selalu ada didalam benak ku" Serunya.
"Aku tidak marah!" jawabku, Aku beranjak dari pangkuannya. Aku berdiri mematung membelakangi tubuhnya yang sedang duduk diatas sofa di dalam kamarku.
"Lalu, mengapa kau terlihat sangat pucat"
__ADS_1
"Aku malu" Jawabku lirih,
"Malu kenapa?" Tanya Rido, Rido mengalungkan tangannya seraya memeluk ku dari belakang.
"Entahlah, Akhir-akhir ini. Aku selalu merasa cemas!" wajahku melemas, Rido membalikan badanku. dia memegang daguku, menatap mataku dengan tatapan lembutnya dan menciumku kembali.
"Mengapa kau cemas, bicaralah. Apa aku yang membuatmu cemas?."
"Aku mencemaskan semuanya, Aku mencemaskanmu dan juga Anak-anak" Ucapku, Dia terlihat menghela nafas.
"Apa yang harus kau cemaskan sayang, Aku dan Anak-anak baik-baik saja"
"Aku mencemaskan kesehatanmu selalu" Ucap ku, Aku merundukan pandanganku, Aku tak mampu menatap matanya yang terlihat layu.
"Aku baik-baik saja sayang, percayalah" Ungkapnya.
"Aku takut jika Aku meninggalkanmu, Atau kau meninggalkanku"
"Aku masih disini, Aku dan kamu pasti bisa gedein Anak-anak bersama" Ucapnya menenangkanku.
"Aku mau, Aku ingin, Aku pingin" Ucapnya.
"Mau apa?" Tanyaku polos, Dia tersenyum saat menatap wajah polosku.
"Ini yang ingin, dia memaksa imajinasiku. " Tunjuknya, dengan melirik area vitalnya.
"Kalau hamil lagi gimana, Kamu gak bolehin aku pake alat penunda kehamilan"
"kenapa mesti ditunda" Ucapnya
"karena, Maliq masih kecil dan lihatlah Alea, Faaz, Fizzy. mereka kekurangan perhatian dariku"
"Lalu kamu mau protes sama Tuhan?" Tanyanya.
"keras banget!" gerutuku, Aku mencium bibirnya kembali.
"kok belum pegang udah tau keras!" Ucapnya.
"Pegang Apa?" Tanyaku kembali.
"enggak, enggak ah. Aku deh yang salah!" Ucapnya, dia terlihat seperti kecewa.
"Pindahin maliq ke Box, dan Apa Zain sudah mengabari?" Tanyaku kepadanya.
"Mereka akan mencari dulu hadiah untuk anak-anak, Zain masih sedang menunggu kedatangan Papa dan Ayah" Ucapnya sembari mengangkat MaliQ dan menidurkannya kembali di dalam box milik Maliq.
Dia memeluk ku, menciumi tengkuk leherku, Aku tak kuasa menahan gejolaknya. Aku juga menyadari jika dia dan Aku sudah lama tak melakukannya karena tepat satu minggu lagi Maliq berusia dua bulan. dan selama pasca Aku melahirkan, Aku benar-benar tidak selalu tidur bersamanya.
"Udah kaya diawal lagi" gumamnya.
"Baiklah Tuan Rido, Aku akan mandi." Seru ku.
"Silahkan Nyonya besar, Tuan juga ikut" Godanya membuatku ingin tertawa.
setelah selesai mandi, Aku dan Rido duduk diatas sofa kamarku bersama. Maliq tak hentinya menangis karena ingin segera meminum Asi dariku.
"Sebentar Nak, Ibumu sedang meminum air hangat. Nanti Air Asinya hambar" gumamnya sembari menggendong MaliQ.
"Aku datang " Ucapku sembari menghampiri bayi kecil serta bayi besar yang sangat aku cintai.
"beri susu saja dulu bayi mungil ini, kalau Papanya sudah kenyang" Godanya kembali, entahlah jika dia bersama ku. dia selalu terlihat Agresif dan aku selalu tertawa melihat tingkahnya. Aku segera memberinya Asi. Rido memainkan ponselnya dan terlihat sedang membalas beberapa pesan masuk.
"Aku sudah meminta william yang mengurus, beritahu saja will" gumamnya sembari terlihat jarinya mengetikan kalimat yang ia ucapkan.
"kenapa?" Tanyaku penasaran.
"entahlah Aku tak mengerti apa yang membuat Jorce bingung"
"William?" tanyaku kembali.
"tidak ada yang seperti Dhan, dia selalu bisa menghandle semuanya" Ungkapnya.
"Tapi Aku suka kejujuran Will dan Jorce" Ungkapnya kembali. Will dan Jorce adalah teman dekat Rido, Aku baru mengenalnya setelah tinggal bersama di Australia.
mereka adalah orang-orang yang dipercaya Rido dalam mengurus perusahaan Asic group yang berada di Australia, jika Rido sedang berlibur atau tidak bisa kekantor. mereka lah yang menjadi kepercayaan Rido.
Drrrtt/.... Drrrrtttt....
"Dhan, melakukan Panggilan video." Ucapnya seraya memberitahuku.
"Angkat saja" titahku padanya. Rido menekan tombol hijau dilayar ponsel miliknya.
"Assallamualaikum" sapa Dhan di balik layar ponselnya.
"Waalaikum salam" Jawab Rido sembari tersenyum menatap Layar ponsel miliknya.
"Tuan muda, Maaf karena telah lancang menghubungi mu" Ucap Dhan.
"Tidak, Dhan malah Aku senang"
__ADS_1
"syukurlah, Saya ingin mengenalkan Tuan Muda, dan Nona Muda kepada calon istri saya"
"Sebentar, Aku akan menyuruh istriku memakai hijab terlebih dahulu," Ucapnya, Rido segera mengisyaratkan Aku agar segera memakai hijab, Aku memindahkan Maliq diatas pangkuan Rido, aku memakai hijabku dan segera menyapa Dhan.
"Hallo Dhan, Assallamualaikum" sapaku.
"Waalaikum salam, Nona Apa kabar?" Tanya Dhan kepadaku, Aku memegang ponsel Rido. dan kami menatap layar ponsel bersama.
"Baik Dhan, Lihatlah keponakanmu tampan bukan?" Ucapku sembari menunjukan wajah Maliq.
"Iya Nona, dia tampan seperti Tuan muda saat kecil," Ujar nya, Dhan tersenyum dan terlihat sangat merindukan Rido.
"Nona, Tuan kenalkan dia Fahriye, Calon istriku"
"hai, salam kenal. calonmu cantik sekali Dhan" Ucapku memuji calon istri Dhan.
"Semoga kalian bahagia iya Dhan, Aku dan May sangat senang mendengar kau akan menikah!" Sahut Rido.
"Terimakasih Nona, Nona sangat cantik, kami berharap Tuan dan Nona bisa ikut menghadiri upacara pernikahan kami. " Ucapnya, dia memujiku dengan sangat sopan. kami berbincang dan tentunya Rido melepas Rindunya dengan sesekali mengeluarkan suara gelak tawanya bersama Dhan. beberapa saat kemudian Dhan meminta ijin kepada Rido untuk menyudahi percakapannya.
"Tuan, terimakasih., Maaf sudah mengganggu waktu Anda dan Juga Nona" Ucapnya, kami pun segera menyudahi percakapan diantara kami.
"Baiklah Dhan, Sampai bertemu disana" Gumam Rido.
"Iya Dhan, Kami pasti datang dan akan menjadi wali darimu" sahutku. (Panggilan video terputus)
**
"Sayang, " Aku menoleh mendengarnya memanggilku.
"Apa Hadiah untuk Dhan aku berikan saja sekarang" ucapnya.
"Gimana Papa Aja" Jawabku singkat.
"Yaudah sekarang aja iya, tapi masih banyak pilihan ini"
"Kasih aja pilihannya dulu" Jawabku singkat
"Tapi, kalau Dhan dan Fahriye tidak mau menerimanya bagaimana?" Tanya Rido, Rido segera membuka layar laptopnya.
"Kita harus memaksanya, Dhan pasti terima kok sayang" Seru ku. Rido segera memberikan Gambar berupa email kepada Dhan, dan segera menghubungi Dhan untuk segera memilihnya.
******
Bandar Udara Kingsford (BANDAR UDARA SYDNEY)
"Zain" Panggil Papa Gus,
"Om, Gimana kabarnya?" Tanya zain, sembari berpelukan.
"Ayah, Sehat?" Tanya Zain kepada Ayah,m sembari memeluk tubuh Ayah.
"Alhamdulilah kami sehat, "
"Pesawat pribadi kami sedang mengalami kerusakan, jadi kami harus pergi dengan pesawat umum yang sudah dijadwalkan. " Ucap Papa Gus.
"Yang penting udah selamat Om," Ucap Zain, Zain mendekat kearah Ibu dan Mama dan segera memeluknya. "Ibu, Tante Apa kabar?" Tanya Zain.
"Baik Alhamdulilah, KIta jangan langsung kerumah iya" Ucap Mama.
"Makan dulu, dan mencari beberapa hadiah untuk semua Cucu-cucu kita" pinta Ibu.
"Baiklah Ibu, Zain pasti antar kemanapun." Serunya, mereka segera memasuki mobil yang terparkir dihadapan mereka.
"Zain, Ayana sedang bersama May dan Rido juga kan?" Tanya Papa
"Iya Om, Mereka menjadi orang tua untuk Anak ku dengan sangat baik dan Aku sangat senang melihatnya" Ungkap Zain.
"Zain Kau harus selalu semangat untuk kebahagiaan Ayana, jangan Khawatir Ayana juga termasuk Cucu kita" Ucap Mama.
"Terimakasih Tante, Terimakasih sekali. Zain sangat bersyukur untuk itu' Ungkap Zain kembali, Zain kembali memfokuskan diri mengemudi dengan baik.
"Apa yofie sudah pulang?" Tanya Mama.
"Belum, Shaloom dan Yofie masih disana"
"Bagaimana Nanti Papa akan menjelaskannya pada Shaloom Mah" Tanya Papa kepada mama.
.
.
.
.
Hai readerku, jangan lupa Vote ceritaku iya dan mampir kecerita-cerita lainnya.
"Are NOt The same" dan "BUKAN MauKU"
__ADS_1
semoga kalian sehat selalu dan selalu bahagia, KISSMUACCH..