TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. (Akan segera berakhir)


__ADS_3

Keesokan harinya Alea dan Faaz sedang dalam perjalanan untuk menuju Rumah sakit, Faaz menemani Alea untuk kontrol kehamilannya. Faaz begitu sangat memperhatikan Alea, ia sangat menyayangi adiknya itu.


"Nanti di rumah sakit Alea kasih tahu keluhan Alea iya, " Ucap Faaz kepada adiknya itu.


"Alea boleh jujur gak? " Tanya Alea.


"Boleh, " Jawab Faaz sembari fokus menatap jalan di depan nya, Alea terlihat menundukkan kepalanya. Alea meneteskan air matanya, "hei.. hei kenapa menangis? Apa Ada yang menyakiti Alea? Siapa? Kasih tau kakak! " Ucap Faaz penuh kelembutan.


"Tidak, tidak ada Kak! "


"Lalu?, mengapa Alea menangis? " Tanya Faaz kembali.


"Sebenarnya Alea terjatuh," Jawab Alea.


"Kenapa Alea tidak bilang kepada Kaka semalam,?" Wajah Faaz begitu sangat terkejut, Faaz benar-benar takut hal buruk terjadi kepada bayi yang sedang Alea kandung.


"Alea semalam mendengar bisikan-bisikan itu lagi" Ujar Alea, ia memberitahu apa yang telah ia alami.


"Sayang, bisakah kau mengucap Asma Tuhan. Saat kau mendengar hal itu, aku meminta lah perlindungan kepada Tuhan" Faaz berucap dengan nada yang sangat lembut, dan Alea merasa nyaman saat mendengarnya.


"Alea selalu mencoba tetapi terkadang Alea lupa" Sahut Alea, Alea berbicara dengan wajah yang polos.


"Ya sudah nanti kau harus selalu mengingatnya, kunci perlindungan di manapun kita berada adalah Asma Tuhan. Itu artinya kita percaya bahwa kita dijaga oleh nya, tidak ada yang berani menganggu jika kita percaya bahwa Tuhan selalu menjaga kita" Tutur kata Faaz memang selalu menyejukkan hati Alea, Alea menyandarkan kepala nya di bahu Faaz. Faaz mengusap lembut pipi adiknya. Hatinya seakan iba melihat nasib Alea, selama perjalanan Faaz membacakan ayat-ayat suci dengan lantunan yang sangat merdu.


Sampailah mereka di tempat tujuan, Faaz juga memberitahu Alea bahwa Noni akan melakukan operasi. Sebelumnya Faaz tidak ingin memberitahu nya karena takut Alea merasa Khawatir dengan keadaan Noni, Namun Alea pun mengerti dan berpikir dengan Positif, ia percaya bahwa Noni akan baik-baik saja.


Alea sedang menunggu antrian untuk masuk kedalam ruangan dokter, banyak sekali ibu hamil yang menunggu seperti Alea. Salah satu dari pasien itu menoleh dan tersenyum saat menatap Alea, Alea pun memberikan senyuman nya itu.


Ia bertanya, "Anak pertama? " Alea tersenyum dan menjawab dengan anggukan.


"Kalau lahir perempuan pasti cantik seperti ibunya, kalau lahir laki-laki pasti tampan seperti ayahnya. " Ujar perempuan itu.


Alea menjawab, "Dia kakak saya, " Ucapan Alea terdengar sangat polos.


"Oh kakak nya, saya pikir suami nya" Sahut perempuan itu.


"Kekasih saya meninggal saat akan menikahi saya, tapi saya bahagia karena mereka semua selalu menjaga saya dan Anak saya" Faaz terkejut mendengar jawaban Alea, bisa saja Alea berbicara dengan mengiyakan bahwa Faaz suaminya. Namun Alea terkesan sangat dewasa, ia tidak mau berbohong dan menutupi kesalahannya.


"Beruntunglah Nak, anak yang sedang kau kandung. Ia memiliki ibu yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, panjang umur selalu saya doakan untuk kamu dan anak kamu" Ucapnya sembari tersenyum.


"Terimakasih bu, semoga ibu juga selalu dalam keadaan sehat" Jawab Alea.


Seorang perawat pun memanggil nama Alea, "Nona Alea, " Alea pun masuk bersama Faaz.


Dokter yang menangani Alea adalah dokter yang sama saat menangani kehamilan Natasha terdahulu, jadi Faaz sudah sangat mengenalnya.


"Halo Alea, gimana kabarnya? " Tanya Dokter.


"Baik Dok,"


Faaz menyela, "semalam dia jatuh dan perut bagian bawahnya katanya sakit, " Ucap Faaz sembari menatap Alea.


Alea pun segera berbaring, Dokter melihat keadaan bayi Alea melalui mesin USG. Bayinya cukup kuat, dia sudah sangat sempurna dan ternyata kehamilan Alea sudah mau memasuki usia 7 bulan. Kurang lebih 2 bulan lagi Alea akan melahirkan, Dokter menjelaskan bahwa posisi janin sangat lah dalam keadaan baik.


Alea sangat senang mendengar kabar bahagia itu, bahkan sang jabang bayi sangatlah aktif dan Dokter masih saja menduga jika bayi tersebut adalah bayi perempuan.


"Dokter tapi Alea bisa melahirkan dengan normal kan? " Tanya Alea.


"Iya, kita sama-sama berjuang iya. Alea jangan sampai stress dan ingat harus banyak makan, kalau bisa banyakin makanan berserat" Ucap sang Dokter di iringi senyuman manis, Alea sangat senang jika berkonsultasi dengan dokter yang dipilihkan Natasha untuknya. Dia adalah dokter yang sangat ramah untuk Faaz dan Natasha, bahkan saat Natasha melahirkan ia selalu menyemangati Faaz bahwa Damar dan Natasha akan baik-baik saja.


"Aduh ini kayanya pasti agak beda satu atau dua minggu nih lahirannya sama Fizzy" Ucap Dokter itu.


"Gak apa-apa deh kalau pun harus bareng, soalnya kan biar nanti rayain ulang tahun nya bisa barengan gitu kan seru Dok! "Celetuk Alea.


"Iya, betul biar gak boros makanan" Timpal Faaz seraya melakukan canda terhadap Alea dan Dokter kandungan itu, "Ya sudah, kalau memang sudah cukup. Kami pamitan dok, " Ucap Faaz.


"Tapi Alea gak usah makan obat atau apa gitu?, " Lanjut Faaz kembali.


"Oh Gak usah Tuan Faaz, Alea sehat banyakin makan, jangan stress dan ingat jangan dulu makan pedes" Tutur Dokter sembari tersenyum manis.


"Siap Dok! " Ucap Faaz sembari tersenyum.

__ADS_1


Sebelum mereka pulang, Alea meminta Faaz untuk menemaninya menemui Noni. Faaz menuruti keinginan adiknya itu, Faaz merangkul Alea, Faaz merasa bahagia melihat wajah Alea yang terlihat sangat sumringah itu.


"Sayang, jangan lama-lama iya. Ayana hari ini akan Graduation, kalau kita gak dateng kan kasian Ayana" Ucap Faaz.


"Siap Kak, Aku juga udah janji kok sama Ayana untuk datang ke acara wisudanya"


Alea mengetuk pintu kamar Noni, Maliq pun membukakan pintu kamar milik Noni.


"Alea sayang, " Sapa Noni dengan senyuman cantik terpancar di wajahnya.


"Noni, kamu cepet sehat iya. Aku rindu banget ditemenin kamu" Ujar Alea.


"Iya pasti, maaf iya kemarin aku sempet berbohong sama kamu" Ucap Noni.


"Ih gak apa-apa aku ngerti kok" Ujar Alea, "kedepannya nanti kamu jangan banyak mie Instan apalagi pedes-pedes gitu, jadikan lambungnya sakit" Alea dan Noni memang saling memperhatikan satu sama lain.


"Gimana keponakan aku, dia sehat kan? " Tanya Noni, Alea tersenyum. Rona bahagia memang sudah sangat lekat terlihat diwajahnya, Alea memeluk Noni.


"Dia sangat sehat dan kamu tahu, dua bulan lagi aku akan segera bertemu dengannya" Ucap Alea, wajahnya terlihat berbinar.


Noni menarik tangan Alea, "Ah, syukurlah aku ikut senang. Pokoknya nanti Aunty Noni akan selalu menemani kamu Baby" Ucap Noni sembari setengah berbisik di dekat perut Alea, Faaz dan Maliq tertawa kecil melihat tingkah Noni.


"Kak, Bentar lagi bakalan ada yang sold out loh" Celetuk Alea.


"Oh iya, udah resmi gitu iya? " Sindiran Faaz membuat Maliq merasa malu, wajahnya terlihat memerah.


"Udah dong kak, kasian tuh Maliq muka nya merah" Ucap Noni setengah menyindir.


"Kalau begitu, kakak sangat bahagia mendengarnya. Kakak berdoa agar kalian secepatnya berjodoh iya," Ucap Faaz.


"Amiin.. " Ucap Maliq dan Noni bersamaan, Noni semakin tersipu malu karena mengucap kan kata itu bersamaan dengan Maliq.


"Eh Iya, Kakak gak bisa lama nih. Soalnya Ayana hari ini kan Graduation" Maliq terkejut mendengar Ayana akan wisuda hari ini, Noni menatap Maliq.


"Pergilah, kasihan Ayana. Sampaikan salam ku untuknya, dan kalau perlu belikan Ayana hadiah" Ucap Noni terselip senyuman yang sangat indah,


"Aku akan menemuinya sebentar, setelah itu aku kembali lagi kesini" Ucap Maliq.


Noni memang sosok wanita yang selama ini di idam-idamkan oleh Maliq, Ia mampu membuat Maliq jatuh cinta kepadanya. Mungkin karena Noni adalah sosok yang sangat tulus seperti sosok Natasha, itu sebabnya Maliq sangat mencintai Noni.


Mereka pergi bersama-sama untuk menghadiri acara wisuda Ayana, Acara berlangsung sangat lama. Ayana tak lepas memandangi tempat duduk VVIP yang sudah dipesan olehnya untuk anggota keluarga yang menghadiri acara Graduation nya itu.


Semua sudah datang, tanpa terkecuali Natasha dan Jimmy yang juga ikut menyaksikan acara miliknya itu. Ayana meneteskan air matanya, seakan ada harapan jika Zain pun menyaksikan kesuksesannya.


Sebenarnya menjadi seorang dokter sebenarnya bukan impian utama Ayana, namun Ayana ingin menyempurnakan keinginan Zain dan Ayana berniat ingin menjadi orang yang dapat menyembuhkan penyakit May ataupun Rido. Ayana menjadi seorang Dokter spesialis Jantung dan Paru, ia memiliki niat yang mulia, Ia ingin sekali merawat May dan Rido.


Selama Ayana menjalani proses magang (Koas), Sosok Zain selalu memperhatikannya, ia pun pernah berucap dengan keyakinannya bahwa Ayana akan lulus dan mendapat gelar Dokter terbaik di Australia.


Dan benar salah satu Dosen yang membimbing Ayana mengumumkan, bahwa Ayana Zaine Hendrawan adalah Dokter spesialis muda terbaik dengan nilai yang sangat memuaskan. Semua bersorak dan bertepuk tangan untuk kesuksesan Ayana, tak sedikit orang meneteskan air matanya saat melihat Ayana berjalan menyusuri tangga panggung itu.


Sebuah sambutan Rektor Universitas kedokteran itu memberikan amanah untuk Ayana, Amanah sebagai Dokter yang sudah berjuang keras dalam mencapai gelar tersebut.


Rektor Universitas itu pun terlihat mengucapkan kalimat dengan nada yang sangat bersedih, ia tahu betul bagaimana keadaan Ayana yang baru saja ditinggalkan oleh Zain.


"Nona Ayana adalah Dokter spesialis yang sangat hebat, Ia mampu menyelesaikan Studi S3 dalam jangka waktu 1,8 tahun dan saya bangga. Diusia muda ia dapat dan mampu mewujudkan keinginan Sang Ayah yang telah berpulang, dua minggu yang lalu" Tutur Rektor Universitas saat berbicara dalam kalimat sambutan untuk Ayana, Ayana dipakaikan sebuah medali dan sang Rektor universitas beserta jajarannya memberikan ucapan selamat serta pelukan kebahagiaan untuk Ayana.


Ayana berbicara di atas panggung, di hadapan semua wisudawan/i yang bersamaan menggelar acara wisuda bersama Ayana.


Dalam kalimatnya ia mengucapkan rasa syukur dan mengucapkan rasa terimakasih untuk semua jajaran Universitas, Ayana menatap lekat kearah keluarganya yang menyaksikan hari bahagianya itu.


"Untuk Daddy, yang sudah jauh di sana. Ayana bangga, dan bahagia karena Daddy Ayana bisa seperti ini, Daddy selalu bilang. Jadi Dokter Lah Ayana, Daddy titip Papa Ido, Mama May dan Kake Hen kalau sakit atau keluarga lainnya" Air matanya terbendung, ia seakan tak ingin menjatuhkannya.


"Dan Untuk Papa, Maliq juga Mael.. Makasih udah kasih Ayana semangat terus, tanpa Papa mungkin Ayana gak akan sampai semangat seperti ini. Karena sewaktu Ayana sidang, Papa dan semua rela menutupi keadaan Papa karena untuk melihat Ayana tidak merasa khawatir, Ayana mengerti itu Pah! " Ucap Ayana.


"Dan untuk semua anggota keluarga lainnya termasuk Papa dan Mama mertua Ayana, Ayana ucapkan terimakasih karena udah sayang sama Ayana" Air matanya pun mengalir dengan deras, sepertinya Ayana memang tidak dapat menahan air mata itu.


"Daddy, ur The best Daddy In the World" Tangisannya terisak, semua menatap haru wajah Ayana.


"Ayana akan selalu mencintai Daddy, sampai kapanpun dan dimana pun. Thanks you for Everything, Ayana cinta Daddy" Ia berlari memeluk Rido dan Yofie, ia benar-benar memeluk mereka dengan erat, tangisan nya pecah begitupun dengan Rido dan Yofie.


Kini hanya mereka yang menjadi pelindung Ayana selain Mael suaminya atau sepupunya yang lain, apalagi wajah Rido dan Yofie yang sekilas mirip dengan Zain membuat Ayana seakan melihat sosok Daddy nya.

__ADS_1


Setelah itu, semua anggota keluarga memberikan selamat satu persatu kepada Ayana. Rani dan Richard memeluk Ayana bergantian serta mengecup kening menantunya itu, mereka sangat bangga kepada Ayana melebihi rasa bangga nya terhadap Mael.


Jelas saja, Mael baru melakukan wisuda S2 nya sebulan yang lalu dan Ayana begitu jenius, dia sudah melakukan wisuda S3 nya hari ini namun walaupun begitu Ayana tetap menghormati Mael sebagai suaminya.


"Aku bangga banget sama kamu! " Ucap Mael sembari memeluk Ayana.


"Makasih, malu loh disini banyak orang liat" Ucap Ayana sembari melirik kan matanya, menunjukkan keadaan sekeliling mereka.


Mael berbisik nakal, "kalau gitu kita nanti langsung ke kamar kalau pulang" Ayana menepuk pelan lengan Mael, Ayana tahu bahwa Maliq dan Faaz sedang memperhatikan adik sepupu kesayangannya itu.


Sesampainya di dalam Rumah Rido, mereka sudah menyiapkan acara kecil-kecilan untuk merayakan kesuksesan Ayana.


Mereka bernyanyi bersama menikmati suasana hati yang terasa sangat bahagia, Ayana pun berdansa bersama Mael, Fizzy dengan Aliq, Faaz dengan Natasha dan Maliq mengajak Alea untuk berdansa bersamanya.


Maliq berbisik, "Maliq menyayangi Kakak, Kakak harus ingat itu!! Sampai kapan pun, dan di manapun, " Alea tersenyum mendengar kalimat itu, Maliq begitu sangat manis memperlakukan kakaknya. Maliq akan selalu menebus kesalahan apapun yang pernah ia lakukan kepada Alea.


Rido bernyanyi dengan suara nya yang masih terdengar sangat merdu di telinga, ia merasakan seakan May tetap bersama dengan nya.


Semua menikmati pesta kecil itu, menari riang, bernyanyi dan menikmati makanan ala-ala barbeque itu.


Munculah sosok Rayna yang memaksa untuk masuk, ia memaksa Abrar untuk membukakan pintu untuknya. Ia mengancam akan berteriak dan mempermalukan dirinya di depan pagar rumah megah milik Rido itu.


Abrar tahu sifat Rayna, ia pasti akan melakukan nya saat melakukan sebuah ancaman. Abrar mengijinkannya untuk masuk dan mengikuti langkahnya, semua merasa terkejut dengan kehadiran Rayna.


Rayna berdiri menatap semua mata Anggota keluarga Rido, nafasnya terlihat tersengal seakan merasa berat untuk berhadapan dengan semua anggota keluarga mantan suaminya.


"Maaf sebelumnya"


Ayana menyela, "Untuk apa kau kemari hah? " Tatapan sarkas Ayana tujukan kepada Rayna, Alea pun melakukan hal yang sama.


"Apa kau ingin mengakui semua kesalahan mu kepada kami? " Sahut Alea, "Apa kau akan mengakui perbuatan mu karena telah membuat ku hancur" Emosi Alea terlihat tidak stabil, Maliq memeluknya dan memerintahkan Abrar untuk mengusir mantan Kakak iparnya, bahkan Aliq pun ikut turun tangan agar Kakaknya segera pergi dari dalam rumah itu.


Namun, Rayna seakan menolak keinginan Maliq. Rido menundukkan kepalanya, ia membuang wajah nya seakan tak ingin menatap wajah menantu yang dulu sangat ia sayangi.


"Aku kesini hanya ingin berdamai"


"Kami sudah memaafkan mu Ray, tapi kami mohon. Kau tak perlu menunjukkan batang hidungmu di hadapan kami" Ujar Faaz.


"Tidak, kalian masih tetap keluarga ku bukan? " Tanya Rayna memelas, "bukankah jika memang kita sebuah keluarga, kita tidak akan berpisah! " Ucap Rayna.


Kalimat yang di ucapkan Rayna membuat mereka semakin kesal, apa arti sebuah keluarga setelah beberapa masalah yang dibuat olehnya itu.


"Tidak malu kah kau mengucapkan kalimat sebuah keluarga? Tidak malu kah dirimu Rayna? " Tanya Shaloom, Shaloom benar-benar ingin meluapkan amarahnya. Setelah ia tahu betul apa yang di lakukan oleh Rayna kepada keluarganya.


"Aku dulu memiliki sikap yang sama, tapi tidak sejahat dan sepicik dirimu!! " Ucapnya dengan sarkas.


"Apa kau memiliki hati? Perasaan? Atau kau memang bukan manusia, lihat Alea.. Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan kepadanya? "


"Aku dulu pernah melakukan hal yang jahat, tapi tidak seperti dirimu!!, " Gerutu Shaloom.


Sorot mata yang sangat tajam dari Shaloom tujukan untuk Rayna, semua hanya dapat menyaksikan emosi Shaloom. Rayna terlihat sangat takut, tak semudah itu memaafkan dan membuka pintu kembali untuk Rayna setelah beberapa masalah menerpa keluarga Rido, dan semua atas perlakuan Rayna.


Faaz pun mengetahui betul bahwa Rayna masih sangat menyimpan dendam, selama ini ia tahu jika Rayna selalu memperhatikan keadaan rumahnya dari luar bahkan beberapa kali Faaz memergoki Rayna meminta bantuan kepada Aidil kembali, namun kini Aidil sudah tidak ingin mencampuri urusan Rayna.


Dan mungkin kedatangannya merupakan siasat baru agar Rayna bisa kembali tinggal bersama dengan Faaz dan keluarganya.


"Tidak Aunty..."


"Stop Rayna!! " Pinta Rani, Shaloom menatap wajah Rani. Rani tak kalah tersulut emosi setelah melihat wajah Rayna yang selama ini belum sempat bertemu lagi dengannya, "kau hanya akan membuat keluarga kami Ricuh, Kembalilah, tak usah kau mengganggu ketenangan kami!! " Ucap Rani.


"Aku.... " Rayna menangis meminta maaf kepada mereka, namun mereka sepertinya enggan memberikan maaf kepadanya.


"Kami sudah memaafkan mu, tapi kami mohon pergilah dan jangan lagi mengganggu kami" Ucap Yofie, Aliq hanya terdiam menatap keadaan kakaknya. Aliq pun merasa malu dengan permasalahan yang selalu di buat oleh kakaknya itu.


Mereka semua dapat melihat jika Rayna tidak tulus bahkan, yang di duga oleh Faaz dan Aidil benar adanya ia memiliki siasat busuk untuk tetap membalas dendam kepada Rido dan kali ini Rencana sudah bukan rencana kecil.


"Rayna, " Panggil Rido, Rayna melirik.


"Terimakasih, jika benar kau sudah berubah. Papa sudah memaafkan mu dan Papa percaya jika kamu sudah mau berubah" Ucap Rido, Rayna berpamitan kepada Rido. Tiada suasana haru ataupun suasana menyedihkan dari diri Rayna, tetapi mereka mencoba percaya dengan apa yang Rayna lakukan.


"Terimakasih Faaz, Terimakasih karena sudah mau memaafkan Aku" Ucap Rayna, Ia pun berlalu pergi meninggalkan kediaman Rido dan May.

__ADS_1


__ADS_2