
Hari Pernikahan Maliq pun akan segera di laksanakan, Maliq sudah memakai Jas putih. Ia terlihat sangat tampan, di dalam ruangan pengantin itu Maliq menatap penuh kaca. Kaca yang menunjukkan tubuh kurusnya itu terlihat jelas, ia Maliq memang sudah sangat kurus. Tubuh Atletisnya seakan menghilang dan semua keluarga yang tidak mengetahui keadaan nya berpikir jika Maliq lelah mengurus skripsi kedokterannya dan juga lelah menyiapkan acara pernikahannya.
Azri, melihat wajah Maliq yang sangat pucat.
"Maliq, sini biar Kak Azri beri sedikit bedak. Biar gak terlihat pucat." Ucap Azri, Maliq pun tersenyum dengan sangat manis dan Azri segera mengaplikasikan sedikit polesan bedak di wajah tampan Maliq.
"kak Azri aku Grogi! " Ucap Maliq.
"Iya pasti dong, kamu kan baru pertama kali menikah." Ucap Azri.
"Aku bukan grogi karena hal itu Kak, aku takut maut datang dihari ini untuk ku." Ucap Maliq dari dalam hatinya, "aku taku meninggalkan Noni dengan sebuah Luka" Ucapnya kembali di dalam hati.
Ayana datang menghampiri Maliq, ia memegang wajah Maliq menggunakan kedua tangannya.
"Sungguh tampan sekali dirimu Maliq," Puji Ayana untuk Maliq, Maliq tersenyum.
"Maliq, aku berdoa. Semoga kau dan Noni bahagia selamanya, Aku juga berdoa semoga kau selalu dalam lindungan Tuhan." Ayana berbicara sembari membendung air mata nya, sebenarnya 2 hari yang lalu Ayana bermimpi bahwa Maliq datang menggunakan kaus putih. Ia bilang jika dirinya akan mengajak Ayana untuk pergi ke suatu tempat, namun Ayana menolak dan saat melihat punggung Maliq dari belakang yang sedang berjalan itu, Ayana melihat sosok orang-orang yang sudah meninggalkan dirinya.
May, Zain, Qabil bahkan Wan dan Gusti ada di sana.
Ayana merasa memiliki sebuah firasat buruk pada Maliq. Akan tetapi, Ayana segera menepis firasat yang menggelayut di dalam benaknya itu.
"Kau kenapa Ayana? " Tanya Maliq.
"Tidak, Aku hanya merasa bahagia karena kau terlihat bahagia! " Ucap Ayana sembari tersenyum.
"Oh iya bagaimana kandungan mu? "
"Baik, dia sudah sangat aktif bahkan dia memiliki jenis kelamin yang sama dengan mu dan Mael" Sahut Ayana.
"Aku senang mendengarnya, kamu harus jaga kesehatan" Ucap Maliq, tak terasa darah segar mengalir dari hidung Maliq. Ayana terlihat gusar dan segera membawakan sehelai tissue.
"Maliq, ada apa dengan mu? " Tanya Ayana.
"Tidak ada, akhir-akhir ini aku sering mengalami hal ini. Mungkin kurang asupan vitamin C, sudahlah kau tak perlu khawatir Ayana! " Tandas Maliq membuat Ayana semakin berpikir yang tak wajar, Ayana merasa takut hingga menatap wajah Maliq dengan tatapan penuh tanda tanya.
Ayana meneteskan air matanya, "Jujurlah padaku Maliq!, " Ucap Ayana, "kau sedang menutupi sesuatu kan? " Tanya Ayana sembari menangis, wajah canggung itu terlihat di dasar raut wajahnya. Maliq memang terlihat menutupi sesuatu, Maliq tersenyum untuk menutupinya.
"Aku tidak apa-apa Ayana, " Ucap Maliq mencoba meyakinkan Ayana.
"Lihatlah mata ku Maliq, " Namun Maliq seakan tak ingin membalas tatapan adik sepupunya, "Kau berbohong!!! " Ucap Ayana penuh penekanan, Ayana segera melangkah dan pergi meninggalkan Maliq. Ia terlihat kecewa karena Maliq tak ingin bercerita mengenai kondisinya, Ayana sempat mendengar percakapan Maliq dan Mael melalui telepon. Namun saat itu Mael seperti sedang menutupi sesuatu, dan beralasan Maliq sedang merasa risau karena acara pernikahannya.
Namun, rasa curiga Ayana terhadap Maliq begitu sangat besar. Ayana mengira jika sesuatu yang buruk memang sedang terjadi, Ayana berjalan sembari meneteskan air matanya.
Mungkin orang-orang dirumahnya bisa saja tidak merasa ada hal aneh dari Maliq, tetapi Ayana adalah seorang dokter dan dia tau keadaan semua pasiennya, ia dapat menilai jika Maliq sedang sakit cukup keras.
Beberapa saat kemudian, akad pernikahan mereka akan segera dimulai.
Noni berjalan menghampiri Maliq, Maliq yang sudah duduk di meja akad itu melihat betapa cantiknya noni memakai gaun putih dan Make Up yang terkesan natural. Wajah cantik nya sangat mempesona, namun matanya sembab seakan Noni sudah menghabiskan malamnya bersama tangisan.
Alea, Ayana, Fizzy dan Natasha terlihat memakai gaun putih yang sama. Dan semua laki-laki pun memakai jas abu dengan selipan buka di atas saku jas tersebut, raut wajah bahagia terpancar dari dasar raut wajah mereka. Apalagi Rido, ia tak henti memberikan sebuah senyuman yang sangat manis.
Sang penghulu sudah berada di hadapan Maliq, begitupun dengan kedua saksi. Tangan Maliq seakan bergetar hebat, jantung nya berdegup kencang. Ia benar-benar merasa sangat gugup, dan Maliq tak henti memandang wajah Noni. Noni pun duduk di samping Maliq dan akad akan segera di mulai.
Seorang penghulu yang juga menjadi wali dari Noni menjabat tangan Maliq, ia segera mengikrarkan janji suci atas Maliq dan Noni.
Maliq berucap dengan nada yang sangat lemah, "Saya terima Nikahnya, Nonia Agnesia Hans dengan Mas kawin tersebut Tunai" Mata Maliq mulai berkunang-kunang namun Maliq tetap berusaha untuk kuat di hadapan mereka.
Kalimat, "Sah! " Itu pun terdengar dengan jelas. Mereka sudah resmi menikah dan saat Maliq akan menandatangi surat-surat pernikahannya, rasa sakit yang sangat berat di kepalanya terasa kembali. Namun, lagi dan lagi Maliq kembali mencoba menahannya dan berhasil menahan rasa sakit itu.
Noni berbisik, "Sayang, kita ke rumah sakit iya? " Pinta Noni, namun Maliq menggelengkan kepalanya.
"Sayang, Aku mohon" Maliq tetap berusaha untuk kuat, Acara pun berjalan dengan lancar. Walaupun sebenarnya Maliq seakan melihat beberepa bayangan yang ada di satu-satu orang, seakan satu orang itu berada 3 bayangan. Ia merasa pusing namun, ia kembali menahan rasa sakit itu.
Dentuman musik pun seakan menambah suasana gembira di dalam pesta pernikahan Maliq dan Noni, Rido pun seakan melakukan nostalgia dalam bernyanyi. Ia menyanyikan lagu yang menjadi lagu Favorit dirinya dan May, Maliq menatap ke sekeliling dirinya. Ia berusaha terus menerus menahan rasa sakit itu, ia duduk dan enggan berdansa.
Beberapa tamu undangan pun sadar saat melihat raut wajah Maliq, Maliq sangat pucat. Keringan dingin itu pun keluar membasahi dahi Maliq, bahkan ia tak segan meremas tangan Noni. Noni benar-benar merasa khawatir, sebenarnya Noni akan membatalkan pesta tersebut dan hanya akan ada sebuah akad saja di sana. Namun, Maliq menolaknya. Ia mengingat pernikahan gagal Alea dan resepsi yang dibatalkan saat pernikahan Ayana dan Mael, Maliq tidak ingin mengecewakan semua anggota keluarganya apalagi mereka pasti akan bertanya mengapa hanya ada akad dan mengapa mereka harus membatalkan acara resepsi tersebut.
Dan... Brukkk... Suara keras seakan tubuh terjatuh.
__ADS_1
"Maliq,, " Teriak Noni dengan sangat kencang.
Mael, Faaz dan Aliq segera membantu Maliq. Maliq sedikit tak sadarkan diri, matanya menutup rapat namun telinganya masih mampu mendengar. Lalu hidungnya pun mengeluarkan banyak darah, Noni masih memakai gaun pengantin. Ia memegang tangan Maliq dan Maliq pun seakan tak ingin melepaskan pegangan tangannya.
"Ada apa dengan nya? Akhir-akhir ini dia sering sekali mengeluarkan darah dari hidungnya, " Ucap Rido yang sangat mengkhawatirkan Maliq.
"Papah, " Panggil Ayana, ia menangis di dalam pelukan Rido. Semua tamu begitu sangat terkejut dan segera berpamitan untuk pulang, "Aku sudah menduga hal buruk sedang terjadi kepadanya Papa." Ujar Ayana kembali.
"Sayang, tenanglah. Maliq akan baik-baik saja, kau tenang ia" Ayana pun beralih memeluk Rani.
"Ayana tidak mau Maliq kenapa-kenapa Mami!' Ucapnya lirih
***
Dan sesampainya di Rumah sakit, Dokter sudah menjelaskan kondisi Maliq saat ini. Sel-sel kanker di dalam otaknya sangat cepat menyebar dan itu membuat kondisi Maliq sangat lemah, apalagi Maliq sudah tidak dapat melakukan sesi Kemoterapi. Faaz begitu sangat terkejut dengan apa yang dokter katakan mengenai kondisi fisik adiknya, dan saat ini Maliq sedang dalam pemeriksaan.
"Aaaaaaarrrrghhhhh!, " Teriak Faaz sembari memukul tembok rumah sakit, Aliq mencoba menenangkannya.
"Apa salahku? Apa salah keluarga ku? Semenjak Mama tidak ada, mengapa keluarga ku tertimpa banyak konflik. Mama... Maliq Mam! " Keluh Faaz sembari menangis terisak, "Mengapa tidak ada jeda kebahagiaan untuk keluarga ku ini Tuhan, " Ucap Faaz kembali.
"Faaz, Faaz... Sssssh" Ucap Mael sembari memeluk sepupunya itu, "Sabar Faaz, semua ujian ini diberikan Tuhan kepada kita,"
"Dan aku yakin, semua akan bisa melaluinya. Aku mohon kuatlah Faaz, kau bagaikan sebuah benteng untuk kita. Iya kan Mael? " Timpal Aliq.
"Iya betul, aku mohon Faaz. Kuatlah, Maliq akan baik-baik saja! " ucap Mael, Faaz melihat Noni yang duduk sembari menundukkan kepalanya. Noni menangis, tersimpan luka yang sangat dalam di hari pernikahannya. Entah bagaimana Noni bisa melaluinya, ia terlihat sangat tegar walaupun tangisan itu terdengar.
"Noni, " Panggil Faaz, Noni menaikan kepalanya. Ia menatap kakak iparnya itu, dan segera berlari untuk memeluk kakak iparnya.
"Maafkan Noni kak, Noni tahu Maliq sakit itu seminggu yang lalu. bahkan hasil CT SCAN itu keluar 3 hari yang lalu, " Ucap Noni.
Faaz terkejut, ia mengerutkan dahinya.
"Maliq yang meminta kami untuk tidak memberitahu kalian semua, " Ucap Mael, "Dan Maliq pun baru mengetahui hal ini setelah kanker nya menyebar" Ucap Mael kembali.
Faaz menggelengkan kepalanya, "Bagaimana mungkin Maliq tak mengetahuinya?, aku rasa ia sudah mengetahuinya. Namun, ia sengaja menutupi rasa sakitnya" Ujar Faaz.
Dokter memanggil nama Noni, Dokter memintanya masuk kedalam ruangan karena Maliq ingin bertemu dengan Noni. Sebelum masuk kedalam ruangan Maliq, Noni menghapus sisa air matanya terlebih dahulu. Noni berjalan dengan langkah yang sangat berat, ia kembali melirik ke arah Faaz berdiri dan berlari memeluk kembali kakak iparnya.
"Noni gak tega lihat wajah Maliq Kak, " Ucap Noni, Faaz menggelengkan kepalanya.
"Pergilah, kasihan dia." Ucap Faaz,
"Temui dia Noni, dia pasti menunggu mu." Timpal Aliq, Noni melepaskan pelukan di tubuh Faaz. Ia menyeka kembali air mata nya, Noni pun menegakkan tubuhnya kembali dan berusaha untuk kuat di hadapan Maliq.
Ceklek.. Pintu di buka oleh Noni, Maliq sudah memberikan senyuman yang sangat indah untuknya.
"Maliq, " Noni membuka pintu itu di iringin senyuman yang sangat canti, gaun pengantin pun masih melekat di dalam tubuhnya, menutupi lekukan tubuh yang sangat indah. Maliq bahagia melihat istrinya yang sangat cantik itu.
"Istriku! " Senyumannya seakan menutupi rasa duka untuk Noni, "Maafkan aku.. "
"Ssssshhhhhh!, " Ucap Noni.
"Karena ku, acara kita tidak berjalan lancar" Ucap Maliq.
"Tidak sayang, Acara kita cukup meriah. Nanti kita lanjutkan kalau kamu sudah sehat iya? " Ucap Noni sembari tersenyum.
"Kakak pasti sudah mengetahuinya?" Tanya Maliq, Noni mengangguk. ia menahan tangisannya di hadapan kekasih yang kini sudah menjadi suaminya.
"Kamu janji iya, tidak akan merasa membebani pkiran mereka lagi?" ucap Noni, Maliq mengangguk sembari tersenyum,
__ADS_1
"Bawel banget sih!" Ledek Maliq untuk Noni membuat Noni mengingat, masa-masa dulu bersamn Maliq. ia tak menyangka bahwa lelaki kejam dan ketus ini sekarang sudah resmi menjadi suaminya.
Flashback dimulai,
"Bawel sekali!!, membuatku pusing saja!, " Gumam Maliq.
"Aku bawel!!, Iya karena aku wanita, daripada dirimu menjadi lelaki yang sangat kejam. tidak mau menghargai wanita, kau bukan lelaki tapi wanita berparas pria!!, " Umpatnya sembari tertawa terbahak-bahak.
"Hah!!, Wanita?, wanita aneh dengan tawa yang keluar seperti itu dasar aneh!!" Sahut Maliq kembali membalas umpatan Noni, "Kau wanita harus lebih memperhatikan gaya bicara dan tertawa mu!!, Wanita super duper aneh!! " Umpat nya kembali.
"kenapa kau diam?, " Tanya Maliq karena melihat Noni terdiam tak bersuara, namun matanya membendung kesedihan.
"Tidak, Lanjutkan perjalanan mu!" Ucap Noni.
"Maaf jika perkataan ku membuat mu sakit hati." Ucap Maliq.
"Tidak!!, Aku tidak merasa sakit. dasar bawel!! " Ketus Noni kembali.
Flashback Off...
"Kenapa tersenyum sembari menatap ku seperti itu?" Tanya Maliq, Noni tetap tersenyum dan mengangkat kedua bahunya yang bergetar.
"Sayang, kenapa?" Tanya Maliq kembali dengan manja.
"Tidak, aku mengingat dulu bagaimana kita bertemu." Ucap Noni.
Maliq tertawa kecil, "Di sana kita seperti musuh," Ujar Maliq.
"Iya lalu saat di dalam mobil, kau seperti supir ku dan kau marah" Sela Noni.
"Iya begitulah jodoh tidak tahu bagaimana kita akan bertemu" Ucap Maliq, Maliq ingin sekali mengangkat tangannya, namun tangannya terasa kaku begitupun dengan kakinya.
dalam hati Maliq, "Mengapa dengan ku? mengapa kaki ku sakit sekali?" Tanya Maliq.
"Kenapa sayang?" Tanya Noni.
"Tidak sayang, aku tidak apa-apa?' Ucap Maliq< "Kamu cantik sekali, aku mencintaimu?" Maliq sengaja mengalihkan pembicarannya itu. namun, Noni sudah tau dengan keadaan suaminya itu. ia sengaja berpura-pura tidak mengetahui hal itu.
sebelumnya Dokter berucap, "Maliq mengalami kelumpuhan di dalam sel otot-ototnya, Maliq tidak akan bisa menggerakan tangan dan kakinya dengan normal dan itu disebabkan karena jaringan sel kanker di dalam otaknya sudah menyebar" Dan saat ini Maliq memang sudah tidak bisa menggerakan tangannya dengan normal begitupun dengan otot kakinya.
Noni mendengar penjelasan singkat Dokter tadi kepada Faaz, "Tumor ganas pada otak atau kanker otak cenderung tumbuh lebih cepat dan menyebar ke bagian tubuh lain, serta dapat muncul kembali walaupun sudah diangkat. dan Tuan Maliq, sudah tahap stadium 4. dan ini merupakan stadium paling akhir."
Dokter pun menjelaskan bahwa pada stadium awal, semua pasien tidak merasakan apapun gejala sakit, bahkan sakit itu seperti pusing pada umumnya. Pada stadium 1, jika dilihat di bawah mikroskop, sel tumor masih tampak normal dan pertumbuhannya sangat lambat. Stadium 2 juga ditunjukkan dengan pertumbuhan sel tumor yang lambat, namun sel tumor mulai tampak tidak normal dan bila diangkat cenderung tumbuh kembali. Sedangkan pada stadium 3, sel tumor tidak lagi menyerupai sel normal dan perkembangannya aktif. Sementara pada stadium 4, sel tumor sudah sangat berbeda dengan sel normal dan tumbuh secara cepat.dan wajar saja jika Maliq akan merasakan drop yang sangat cepat pada kondisinya, dan itu berawal karena ia tak menyadari bahwa ia sedang sakit keras karena diawal perjumpaan nya dia merasa tidak sakit apa-apa.
Noni merasa sedih, saat melihat Maliq berusaha untuk menggerakan tangannya. dan Maliq memang tipikal orang yang selalu bekerja keras. bagi nya ini hanya sakit biasa, ia menganggap sakit ini adalah teguran baginya.
"Sayang, hentikan... " Ucap Noni.
"Hentikan apa sayang, aku hanya ingin berusaha membelai wajah cantik mu" Ucap nya, Noni menangis kembali.
"No,,, No... sayang" Maliq sedikit menggelengkan kepalanya, gerakan kepalanya pun terlihat sangat pelan.
"Jangan menangis," Bibir Maliq bergetar menahan tangisan yang terlintas itu, Maliq benar-benar merasakan kesdihannya, ia tak mengira nasib pernikahan bersama wanita yang sempat mengubah kehiduoannya berakhir di dalam pelaminan tragis.
"Aku menangis karena merasa tidak tega melihat mu," Ucap Noni, Ia pun memeluk tubuh Maliq. dengung alat itu membuat keheningan terganggu. Noni mencium kilas bibir suaminya, "Aku mencintai mu Maliq, aku sangat mencintai mu. karena kau hidupku kembali berwarna, Aku mohon hiduplah dengan damai bersama ku" Cerocos Noni itu membuat Maliq semakin bersemangat untuk hidup.
"Sayang," Panggil Maliq, "Hapus air matamu, jangan buat pipi mu basah karena sakit ku yang kamu anggap duka hingga mengeluarkan tangisan seperti ini!, aku tidak apa-apa sayang" Ucap Maliq berbisik pelan di telinga Noni, isakan pada tangis Noni itu terdengar sedikit memelan.
"Aku takut kehilangan mu Maliq!!!" Ucap Noni penuh dengan penekanan.
"Aku tidak akan kemana-kemana sayang, aku masih disini. gaun ini sangat cantik saat dipakai oleh mu, kau membuatku selalu merasa merasa sempurna sayang" Maliq kembali mengalihkan pembicaraannya.
Ia mencoba mengangkat tangannya dengan pelan, "Aku bisa, lihat." Ucapnya sembari tersenyum manis, Noni membalas senyuman itu.
Di luar sana, ada sosok lelaki yang sangat terpukul mendengar keadaan anak bungsunya. Rido selalu menangis jika mendengar keadaan anaknya yang sedang sakit.. Apalagi kali ini Maliq dalam keadaan sakit yang sangat parah, Rido menangis sembari membungkuk. ia pun beranjak dan mencari tempat untuk melakukan ibadah, mengambil air wudu dan meminta sebuah keajaiban kepada yang maha kuasa.
dalam batin nya, "May, Anak bungsu mu sedang berjuang menahan rasa sakit. Aku tidak tega melihat wajah nya itu, Aku tidak ingin menatap wajahnya itu. aku tak bisa menatap rasa sakitnya, rasanya seluruh badan ku remuk melihat nya."
Rido kembali membatin, merasakan rasa sakit anak bungsunya. sebuah penyakit kanker otak itu bukanlah penyakit biasa baginya. dia tahu betul bagaimana rasa sakit itu, Rido pun segera berdoa dan meminta keajaiban kepada Tuhan.
Setelah beberapa lama, ia kembali dan meminta untuk masuk. Ia ingin bertemu dengan Maliq dan setelah ia masuk. Maliq sedang tertidur, terbayang masa-masa kecil Maliq di dalam benak Rido.
"Anak ku," Panggil Rido lirih sembari berjalan mendekat kearah Maliq, Noni menundukkan kepalanya. saat Rido mendekat, Ia memeluk menantu nya itu dan mencoba menguatkan Noni.
Awal pernikahan yang sangat tragis untuk Noni, Ia harus menikmati malam pertama di dalam ruangan dingin rumah sakit bersama suami yang sangat ia cintai. namun, Noni sudah merasa ikhlas dan hanya berharap agar Tuhan memberikan sebuah keajaiban untuk Maliq.
Suara May terdengar jelas di telinga Rido, "MAliq anak yang sangat kuat, ingatkah jika dirinya pernah terjatuh dari pohon yang sangat tinggi. saat itu semua orang memberikan julukan si anak Kuat, dia pasti kuat. dia anak mu, berikan dia belaian cinta serta doa dari mu, Tuhan akan mengabulkan semua doa mu. percayalah sayang,," Rido pun segera mendekat dan mengusap ujung kepala Maliq, Ia mengusap nya dan berharap kekuatan doa meleburkan seluruh rasa sakit yang hinggap di dalam tubuh Maliq.
"Kuatlah Nak, Papa yakin Maliq akan kuat" Ucapnya, Noni mengangguk pelan.
.
.
.
Hay, Thor masih kasih Extra Part sampai akhir bulan iya... selamat membaca...
__ADS_1