TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Extra Part (SemiEnd)


__ADS_3

18 Tahun Kemudian....


Hal yang menjadi beban dalam kehidupan Faaz adalah kehilangan keponakannya itu, selama 18 tahun ini, Faaz sudah mencoba merelakannya. namun, tetap saja Faaz tidak bisa melupakan kejadian itu.


Dalam benak Faaz selalu hadir, "Bagaimana dirinya saat ini, saat ini usia nya sudah masuk ke 10. Apakah dia masih hidup dan jika dia masih hidup, dimana dia saat ini?" Tanya Faaz terus menerus, Faaz tak pernah berhenti mengingat sosok bayi mungil itu. bahkan Faaz selalu menerka-nerka wajah bayi itu, "Mungkinkah mirip dengan Alea, atau mirip dengan Qabil? "


Saat ini Faaz sedang menyusul keberadaan Alea, mengajak keluarga kecilnya bersama-sama untuk menemui adik yang sangat ia sayangi. Alea sudah lama tidak dapat pulang Ke Australia, Alea lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengurus Perusahaan yang sudah di turunkan kepada Qabil. dan Alea berniat menggantikan posisi Qabil sebagai Direktur Utama PT, Asic Group yang berada di Negara Turkey. karena, semenjak Alea menggantikan posisi Fizzy di dalam perusahaannya itu. Alea menjadi sosok Wanita yang mengutamakan sebuah jenjang karir dan perusahaannya.


Alea sendiri rela bertemu dengan Tessa hanya dalam waktu 3 bulan sekali, entah apa alasannya yang jelas Tessa dan Alea tidak sedekat Tessa dan Fizzy.


Terkadang Alea merasakan kehampaan, pernah sewaktu itu. Alea pergi menemui Tessa dan mengajaknya untuk menetap dan tinggal di negara yang membesarkan Papanya yaitu Qabil, Namun saat itu Tessa menolak. Tessa tak ingin berjauhan dengan Damar dan Hardin, dan yang sebenarnya terjadi adalah Tessa selalu merasa tidak nyaman jika tidak bersama Fizzy.


Faaz selalu mengingatkannya, bahwa Fizzy dan Tessa seperti Qabil dan May. sewaktu dulu, Qabil lebih dekat dengan May dibandingkan dengan Fahriye.


Dan Alea mencoba memahami, namun tetap saja terkadang Alea merasa kesal dengan sikap yang diberikan oleh Tessa kepadanya.


Faaz sedang berada di depan Taman, ia sedang menatap indahnya pemandangan di Istanbul. Faaz. kembali memikirkan anak Alea yang sudah sepuluh tahun menghilang, dan saat itu seorang anak perempuan mendekatinya.


"Paman, " sapa seorang anak perempuan dengan menggunakan bahasa Turkey yang sangat pasih.


"Iya Nak, " Sahut Faaz, "Apa ada yang bisa Paman bantu? " Tanya anak itu.


"Bisakah mengambilkan topi ku? " tanya nya,


"Topi mu?, " Tanya Faaz, "Dimana sayang? "


Ia mengangguk lalu, Jari telunjuknya menunjuk sebuah Topi yang tersimpan di atas pohon tinggi.


Ia sedikit menangis, "Ada anak lelaki yang melemparnya, lalu dia berlari dan tidak bertanggung jawab atas perbuatannya" Sahut Faaz.


Anak gadis itu mungkin seusia Tessa, gadis cantik yang memiliki bola mata yang sangat bulat.


Gadis itu mirip sekali dengan wajah Ibunya, "Baiklah, Paman akan ambilkan." Ucap Faaz, ia memanjat pohon itu dengan sangat kesusahan. akan tetapi, Faaz tetap berusaha membawakan Topi kupluk gadis tersebut


Brughh..


suara tubuh Faaz yang turun dari atas pohon yang berjarak 1 meter itu.


"Terimakasih Paman, " Ucap gadis itu, gadis itu tersenyum riang.


"Siapa yang melemparkan topi mu? "


"Anak lelaki yang turun di mobil yang sama dengan Paman," Sahutnya.


"Damar, " Raut Wajah Faaz berubah kesal, Damar memang sangat jahil. bahkan kejahilannya sangat mirip dengan Richard kata Rido, Faaz menggelengkan kepalanya pelan.


"Maafkan dia ya Cantik, dia Damar. anak bungsu Paman, " Ucap Faaz sembari memberikan senyuman.


"Tidak apa-apa Paman, aku tahu dia anak yang baik sebenarnya" Ucap Nya kembali.


Dia gadis yang sangat manis, gaun berwarna merah muda itu sangat cantik saat di pakai olehnya.


"Terimakasih Nak, terimakasih karena kau sudah bersikap dewasa." Ucap Faaz, "Oh iya siapa nama mu? " Tanya Faaz.


"Zalina Paman," Jawabnya sembari tersenyum.


"Dimana rumah mu?, apa tidak jauh dari sini? " Tanya Faaz kembali.


Ia menunjukkan jarinya, rumah megah berwarna cat putih itu berdiri megah di hadapan Rumah Alea. Faaz tahu, jika dulu rumah tersebut adalah tanah kosong yang sebenarnya sempat akan dimiliki olehnya.


Namun, kini tanah kosong itu sudah tersimpan sebuah rumah megah di atasnya.


"Zalina, " panggil seorang lelaki dari dalam rumah tersebut, Faaz memicingkan kedua matanya. Sinar matahari seakan menutup sebagian wajah lelaki itu, Faaz mencoba mengingat wajah lelaki itu.


Lelaki itu menatap wajah Faaz lalu, Tersenyum dengan sangat ramah. Faaz pun membalas senyumannya.


"Rasanya aku pernah melihat wajah lelaki itu, tapi dimana? " Tanya Faaz di dalam hati,


"Iya Papa, sebentar. " Sahut Zalina dengan pelan.


Zalina tersenyum dengan sangat manis, senyuman itu mengingatkannya kembali pada sosok wanita yang sudah melahirkannya, "Paman sekali lagi aku ucapkan terimakasih dan maaf, Papaku sudah memanggil. Aku pamit dulu Paman, " Ucap Zalina dengan raut wajah yang sangat sumringah.


Lelaki itu bernama Jerry, dia tetangga baru Alea dan beberapa bulan terakhir Jerry selalu mengajak Alea untuk berbincang. Walaupun Alea terkadang seakan risih kepadanya, sepertinya Jerry menyukai Alea.


Faaz kembali menilik wajah itu, namun sayang sekali, Faaz tak mampu mengingat dimana ia melihat sosok wajah itu.


Cekitttt..... (Suara Rem Mobil terdengar mengerem mendadak.)


Suara Mobil terhenti tepat di hadapan Faaz.


"Kakak, " Panggil Alea yang segera keluar dari dalam mobil tersebut.


"Maaf Lea lama, tadi ada Meeting mendadak. oh Iya, Kak Natasha mana? " Tanya nya.


"Kakak mu sudah beristirahat di dalam, " Faaz merangkul Alea sembari melangkah bersama ke dalam rumah megah miliknya.


"Oh iya, Papa dan Tessa gak ikut? " Tanya Alea.


"Enggak, Papa gak bisa ninggalin Maliq. Noni ada kerjaan, dia psikolog yang sangat hebat sekarang." Jawab Faaz.


Helaan Nafas Alea sangat terdengar, ia terlihat sangat lelah. tanpa Faaz ketahui, perusahaan yang sedang Alea kelola terancam bangkrut karena Alea sempat tertipu oleh orang yang sangat ia percaya.


Dan mengenai kisah cinta Alea, Alea tetap berpegang teguh pada pendiriannya. ia tetap akan menjadi Single Mother untuk Tessa, walaupun Tessa selalu mengacuhkan dirinya sebagai ibu. Tessa menganggap bahwa Alea tidak menyayanginya, dan Tessa selalu merasa jika Alea terlalu mementingkan perusahaan yang menjadi ladangnya bernafas.


"Lea, kapan tanah kosong itu di bangun?" Tanya Faaz, Faaz sudah lama sekali tidak menginjak Negara ini. selain kesibukan nya, Faaz juga selalu menanyakan kabar Alea melalui panggilan video pada ponselnya atau tidak, Alea yang pulang untuk menemui mereka di Australia.


Namun, akhir-akhir ini Alea sudah sangat jarang pulang. bahkan, hanya menanyakan kabar Tessa saja Alea sangat jarang sekali menanyakannya. semua karena rasa kecewa yang selalu diberikan Tessa pada Alea, Tessa selalu membandingkan Alea dengan Fizzy dan Tessa selalu menyangka bahwa Alea tidak menyayanginya sebagai anak satu-satunya.


Alea menjawab, "Bangunan megah itu sudah 10 Tahun berdiri Kak, "


"Oh, kamu mengenal Zalina? " Tanya Faaz.


"Iya, dia gadis yang sangat manis. usianya sama dengan Tessa, dia juga memiliki nasib yang sama. ibunya sudah meninggalkan dirinya 8 tahun yang lalu, dan kini dia hidup bersama Ayahnya." Alea menjelaskan keadaan Zalina, "Dia selalu menemani ku disini, mengajak ku meminum kopi dan saat aku merasa akan anak ku, rasa rindu ku kepada Tessa terobati karena ada nya dia."


"Apa kau mengenal ayah dari Zalina? " tanya Faaz, Faaz sangat berharap jika Alea membuka hatinya kembali, membuka lagi cintanya untuk kehidupan yang masih dapat ia lalui.


Alea menganggukkan kepalanya, "Iya, aku cukup mengenalnya. dia baik, sopan dan penyayang" Tutur Alea dengan lembut.


"Kakak harap kau bisa dekat dengan nya kalau begitu! " Ucap Faaz.


"Dekat? kami dekat jika sebagai tetangga." Sahutnya kembali.


"Aunty Lea... " Damar memanggilnya dengan cukup keras, "Damar kangen sama Aunty, " Ucapnya kembali sembari memeluk tubuh Alea.


"Damar, kamu sangat tinggi sekali." Alea menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"bahkan, Damar sudah sangat tampan bukan? " tanya Damar, Damar memiliki sikap yang sangat baik namun sangat jahil. dia selalu memberikan keceriaan di dalam rumah, dan menjadi musuh terbesar Tessa karena Damar selalu berbuat jahil kepada adik sepupunya itu.


Dan mengenai Hardin, Hardin sangat cool. dia sendiri sedang berjuang untuk masuk kedalam Fakultas hukum begitupun dengan Tessa, Hardin dan Tessa memang hampir memiliki banyak kesamaan.


Lalu, Kelland. Kelland sendiri sudah menetap lama di Belanda bersama Ayah dan ibunya yaitu Mael dan Ayana, namun sesekali Kelland selalu meminta Ayahnya untuk mengantarkannya dan tinggal bersama Nenek dan kakeknya di Australia. Kelland sendiri sangat mengagumi sosok Esya, gadis yang lebih tua dari usiannya.


Dan Aaleesya, Alias Esya.. Esya menjadi seorang model, berjalan melenggangkan tubuhnya di atas Catwalk sama seperti ibunya yaitu Rayna.


Dan Faaz sendiri sudah menceritakan siapa Aidil dan Rayna, Esya menerimanya dengan sangat bijak. bahkan Esya sendiri selalu datang bergiliran, terkadang Esya diam dan menginap di rumah Aidil, terkadang menginap di rumah Faaz dan terkadang menginap di rumah Rayna. karena Rayna sendiri sudah menghirup udara bebas selama 4 tahun ke belakang. Namun, Esya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tinggal di Apartemen nya sendiri namun Esya tidak pernah bisa menahan hasrat rindunya kepada Natasha jika Esya sedang berjauhan dengannya.


(Back to story)


"Iya, Iya Damar sangat tampan. ketampanan Damar itu melebihi Papa, Damar sangat tampan" pujian Alea itu membuat Damar membusungkan dadanya. tubuh Atletis, mata bulat berwarna coklat dan wajah yang terlihat seperti orang bule itu membuat setiap wanita jatuh hati.

__ADS_1


Sikap dingin yang di wariskan sang ayah pun melekat di dalam dirinya, terkadang banyak sekali wanita patah hati karena sikap dinginnya itu..


"Damar udah punya pacar? " tanya Alea.


Damar menggelengkan kepalanya, "Kalau Damar pacaran, Kak Esya suka marah" Ucapnya.


"Kenapa? " Tanya Alea, Faaz mendengarkan pembicaraan diantara Tante dan keponakannya itu.


Damar memicingkan kepalanya, lalu mendelik seakan memberikan kode untuk Alea melihat kearah Faaz.


"Oh, di suruh Papa, " jawab Alea dengan keras.


"Tapi Aunty juga gak usah keras-keras menanggapi kode dari Damar Nya" Celetuk Damar malah membuat Faaz tak berhenti tertawa.


Alea menatap wajah Kakaknya itu, "Kakak istirahat aja dulu, Lea mau berbincang sama Damar! " Ucap Alea, Faaz mengerti jika adiknya itu akan mengorek habis informasi mengenai Anak perempuannya.


"Baiklah, tolong bilang sama Bibi Suri biar buatin kebab kesukaan Kakak. kakak mau makan malam hanya dengan itu saja, " Alea mengangguk lalu tersenyum dan Faaz pun segera pergi meninggalkan Alea dan anak bungsunya itu.


Sebelum Faaz melangkahkan kakinya untuk masuk, Faaz mengusap ujung kepala Damar. Lalu berbicara setengah mengancam, "Lain kali, jangan buat seorang gadis merasa kesal. Papa tidak mau kau menjadi lelaki tak bertanggung jawab!, " Ucapan Faaz sedikit mengandung kalimat penekanan, karena mengetahui kejahilan anak lelaki nya itu.


Damar menelan ludahnya dengan kasar, "Iya Pah, " Jawabnya dengan raut wajah menegang.


Alea mengajak Damar untuk duduk di belakang rumah, pemandangan yang sangat indah dengan View langsung menghadap laut mati itu menjadikan suasana semakin betah.


ini adalah rumah lama May dan Rido yang berada di Turkey, sebenarnya rumah ini akan menjadi rumah keluarga kecil Alea dan Qabil namun, nasib berkata lain. Alea justru harus tinggal bersama dengan kenangan yang sudah terbawa mati, Namun Alea tetap bahagia karena bisa mengingat satu persatu kenangan yang sangat indah baginya.


"Damar, bisakah kau menceritakan mengenai Tessa?" Tanya Alea, Raut wajahnya sangat sendu. ia seakan menyimpan begitu banyak luka, bahkan duka yang ia sembunyikan sangatlah banyak.


"Tessa? "


"Iya, Apa Tessa memiliki kekasih? " Tanya Alea, Alea tahu jika gadis seusia Tessa sudah mulai mengetahui dan ingin mencoba rasanya jatuh cinta.


"Dia dekat dengan seseorang bernama Fredy, Fredy sendiri adalah anak dari teman Papa." ucapnya, "Apa Tessa tidak bercerita kepada Aunty? " Tanya nya kembali.


Alea menggelengkan kepalanya, "Tidak sama sekali, bahkan pesan singkat yang selalu Aunty kirimkan tidak pernah ia baca. centang dua di dalam pesan itu pun tak pernah biru, lalu Aunty tak pernah bisa melihat segala aktifitas nya melalui sosial media." Keluh Alea, air matanya menetes.


"Apa Aunty Fizzy mengetahuinya? " Tanya Damar, "Aku rasa tidak, Aunty! " jawab Damar kembali, ia terlihat sangat yakin.


"Mengapa kau terlihat sangat yakin Damar?"


"Yakin saja," Jawab Damar dengan singkat.


"Apa Tessa pernah menceritakan kekesalannya pada Aunty kepadamu? " Tanya Alea kembali.


"Tidak pernah Aunty, bahkan saat itu Tessa terlihat seakan baik-baik saja menceritakan kerinduannya pada Aunty."


"Tessa menceritakannya pada siapa? " Tanya Alea dengan raut wajah yang sangat terkejut.


"Pada semua orang di Rumah, dan Tessa hanya bilang kalau dia ingin sekali Aunty seperti Mama, Aunty Fizzy dan Aunty Noni. berkumpul di Australia, Tessa gak betah disini katanya" Jawaban Damar seakan menjelaskan keadaan Tessa sebenarnya.


Damar menarik tangan Alea, "Aunty, Damar mengerti keadaan Aunty. Damar harap Aunty sabar iya" Ucapnya kembali.


Alea mengangguk pelan, "Makasih iya, Ya udah deh.. Aunty ke kamar duluan iya. Aunty mandi setelah itu siapin makan malem buat Papa dan Mama mu juga kamu, " Alea berbicara sembari beranjak dari duduknya.


"Assalamualaikum, " Ucap Zalina.


"Waalaikum salam, " Sahut Alea dan Damar bersamaan.


Ia membawakan sebuket bunga indah, "Aunty, aku tadi memetiknya di taman. Ini untuk Aunty, tadi sempat menunggu Aunty di sana. Namun, seseorang pria mengganggu ku dan menumpahkan semua bunga yang ada di dalam keranjang ini dan tadi aku kembali memetiknya, ini semua untuk Aunty" Mata Alea berair, matanya membendung air mata. Jika saja sosok Tessa memperlakukannya seperti itu, ia begitu sangat kagum dengan sosok gadis bersuara pelan ini, bahkan suaranya sangat khas dan sikapnya sangat sopan.


"Mmm..., " Damar menggaruk-garuk kan kepalanya menggunakan tangan kanannya, matanya merasa bersalah.


"Maaf Nona, " Ucap Damar, "Maafkan aku, aku mengakui kesalahan ku!, " Ucap Damar dengan nada yang sangat pelan, walaupun Damar terkesan nakal dan bengal. Namun, Faaz dan Natasha selalu mengajarkan Damar agar berusaha mengakui kesalahannya lalu meminta maaf atas kesalahan yang telah di lakukan olehnya dan saat ini Damar sedang berbesar hati untuk mengakui kesalahannya lalu meminta maaf kepada Zalina.


"Apa yang dilakukan keponakan ku sayang? Percayalah dia orang baik, maafkan dia ya Zalina! " Pinta Alea sembari mendekati Zalina, lalu Alea memegang wajah Zalina menggunakan kedua tangannya.


"Damar, dengar Aunty. Lain kali Damar harus bisa menghilangkan sifat jahil Damar, dan Damar harus bisa menghargai wanita. " Damar menganggukkan kepalanya, Ia benar-benar merasa sangat bersalah. Damar tak menduga bahwa sosok gadis yang di jahili olehnya memiliki sikap yang sangat baik.


"Baik Aunty, " Jawab Damar singkat.


^^


Makan malam pun sedang di laksanakan oleh Faaz, Alea, Natasha dan Damar.


"Jujur saja, Aku merindukan Esya" Ucap Alea


"Iya, Esya sekarang sulit di ajak kemana-kemana Lea. Dia udah punya dunia sendiri, tapi Esya masih sangat manja kepada ku" Ujar Natasha.


"Iya, dia selalu melupakan ku kalau sudah bersama Natasha." Tambah Faaz dengan wajah yang sedikit cemberut.


"Entahlah Papa selalu bertengkar dengan Mama jika Mama sedang memeluk kak Esya, " Gerutu kecil Damar membuat Natasha dan Faaz saling menatap satu sama lain., "Semacam ada rasa cemburu Aunty, " Gerutunya kembali.


"Ya Tuhan, mengapa seperti itu iya." Ucap Alea.


"Karena jika mereka sudah berdua, mereka lupa dengan kita para lelaki." Celetuk Damar.


Alea meminta Faaz untuk melakukan Video Call bersama Esya, Faaz pun segera melakukan Video Call, ternyata Esya sedang berada di rumah Rido dan Esya terlihat sangat cantik. Tubuhnya mirip Rayna masih muda, namun senyumannya dan Wajahnya malah mirip Natasha.


"Halo Aunty Lea.. " Sapa Esya di sana.


"Halo, Sayang.. Apa kabar? " Tanya Alea.


"Baik, sangat baik. "


"Aunty rindu Esya dan semua nya, " Ucap Alea.


"Iya makanya, Aunty kesini dong"


Esya sedang bersama dengan Rido dan yang lainnya, Esya menunjukkan semua wajah mereka. Terlihat Tessa sedang tertidur di pangkuan Aliq. Maksudnya kepala Tessa berada di pangkuan Aliq, lalu Aliq menyapa Alea, "Lea... " Panggil Aliq.


"Hay Kak Aliq, Apa kabarmu? "


"Baik Lea, Liat anak manja ini sedang tertidur, " Ucap Aliq, "Dia rindu pada mu katanya, " susul Aliq.


"Nanti aku pulang kak, aku masih banyak urusan" Jawab Alea, "Salam kan rindu ku pada nya iya kak!," Susul Alea.


"Sayang, " Kini Rido yang menyapa nya, Rido sudah sangat Tua. Keriput di matanya sudah sangat terlihat, ia sudah tak mampu berjalan lama. Tetapi, Rido bahagia karena dapat melihat cucu-cucu nya tumbuh dewasa.


"Papa, I Love You! " Ucap Lea, matanya berair. Ia sangat merindukan sang ayah, ia memberikan kecupan pada bibirnya.


"Love you to sayang, Papa Rindu Alea." Ucapnya.


Mereka berbincang cukup lama, bahkan Alea juga berbincang dengan Maliq dan juga Fizzy. Maliq sangat tampan sekali, kulit putihnya terlihat sangat jelas namun Ia masih tetap tidak mampu berjalan.


Telepon nya terputus, mungkin karena Sinyal yang sangat jelek. Mereka masih berada di belakang rumah, makan malam sembari menikmati suasana dingin Istanbul. Istanbul sendiri memiliki cuaca yang sangat dingin, temperatur nya saja 19°C.


Tak lama kemudian, Alea dikejutkan dengan kedatangan Jerry dan Zalina. Mereka diantarkan oleh Bibi Suri (pelayan setia Alea selama 10 tahun ke belakang,).


"Nyonya, ada Tuan Jerry dan Nona Zalina." Ucap Bibi Suri.


Faaz terkejut dengan nama lelaki itu, ia menoleh menatapnya. Lalu bayangan gambar mengenai sosok Jerry terlintas di dalam pikir nya, Jerry tersenyum manis dan memberikan tangannya untuk berjabat. Lalu, mereka berjabat tangan dan berkenalan.


"Jerry, " Ucapnya bernada pelan,


"Oh, Saya Faaz." Sahutnya, "Silahkan duduk, kami baru selesai makan malam." Ucap Faaz kembali


"Terimakasih Tuan, Saya senang karena sudah di ijinkan untuk masuk." Ucapnya dengan sopan, "Zalina ingin bertemu Nyonya Alea, "


"Hay Zalina, sini duduk." Ajak Alea dengan ramah, Zalina tersenyum lalu duduk di samping Damar dan Alea.

__ADS_1


Faaz berbincang dengan Jerry, Jerry membicarakan setiap bisnis-bisnis yang sedang di jalankan olehnya. Jerry cukup ramah dan baik, ia juga sopan dan terlihat berwibawa.


Namun, Faaz tetap memikirkan siapa Jerry ini. Apakah sosok nya sama dengan Jerry pada 18 tahun yang lalu, apalagi Jerry memiliki anak gadis yang seusia dengan anak dari adiknya.


Faaz seakan penasaran dengan kisah Jerry ini, Faaz kembali menerka-nerka apakah Jerry adalah Jerry yang sama atau bukan.


Perbincangan pun selesai, Jerry berpamitan.


Zalina terlihat sangat akrab dengan Alea, Ia tak segan memeluk Alea dan mengecup pipi kanan Alea saat akan berpamitan.


Jerry melangkah, namun kembali menoleh kearah Alea.


"Nyonya maafkan Zalina yang selalu mengganggu Nyonya, "


"Tidak apa-apa Tuan Jerry, saya senang jika sedang bersama Zalina. Entah mengapa perasaan saya selalu nyaman sedang berada di dekatnya, Apalagi Zalina selalu bersikap sangat manis kepada saya" Penuturan Alea membuat Zalina semakin mengagumi sosok Alea, Zalina pun memeluk Alea.


Mendekapnya dan memeluk Alea dengan erat, "Terimakasih Aunty, Aku senang mengenal Aunty. Rasanya aku bisa


Dekat dengan Ibu ku." Ucap Zalina.


"sayang, " Alea menyeka air mata Zalina.


Memeluk nya kembali, dan mencium keningnya.


"Ibu mu sudah tenang di surga, berdoalah semoga kalian bisa bertemu nanti di sana" Ujar Alea sembari memegang wajah Zalina menggunakan kedua tangannya.


"Iya Aunty, terimakasih karena Aunty sudah bersikap baik kepada ku." Ujar nya.


Mereka pun berpamitan, Alea baru tersadar jika Wajah Zalina mirip sekali dengan nya dan mirip juga dengan May sewaktu muda.


"Aku melihat wajah Mama di dalam wajah Zalina, "


"Iya aku pun melihatnya seperti itu, " Timpal Natasha.


"Mama sangat cantik terlihat, " Ujar Nya kembali.


"Iya, mirip sekali dengan wajah Mama May, " Faaz pun menimpali.


Di dalam kamar, Faaz melamun kan kembali sosok Jerry. Faaz pun menghubungi Aliq, dan menceritakan semuanya.


Aliq sendiri penasaran dengan sosok Jerry dan Aliq berpikir akan segera menyusul Faaz untuk melihat sosok Jerry itu. Kebetulan, Rido dan yang lainnya akan memberikan sebuah kejutan untuk Alea.


3 Hari kemudian,,


"Surprise!, " Teriak mereka di hadapan Alea, Alea sungguh terkejut dengan kehadiran mereka semua.


Maliq, Noni, Hardin, Fizzy, Aliq, Tessa, dan Rido. Mereka semua sudah berada di depan rumah Alea, "Kenapa gak ngabarin sih? " Tanya Alea, "Kalau gitu kan Mama bisa jemput Tessa, " Ucapnya sembari memeluk satu persatu semua orang yang datang.


"Kakek yang minta Ma, " Jawab Tessa singkat, Tessa pun masuk kedalam rumah tanpa mengecup dan memeluk Alea.


"Tessa, " Panggil Fizzy, Tessa menoleh namun tetap berjalan tanpa henti.


"Maafkan anak mu iya Lea, " Ucap Fizzy.


"Gak apa-apa kak!, lagian Tessa berhak kesal sama aku kok, " Ucap Alea.


"Esya kok gak ikut? " Tanya Alea.


"Esya lagi ada pemotretan, dia di antar Rayna." Sahut Fizzy.


Perbincangan hangat itupun terjadi, Faaz mengajak Aliq berbicara di taman. Lalu, Faaz menceritakan keadaan Tetangga Alea yang bernama Jerry itu kembali dan Faaz memberitahu bahwa Jerry memiliki anak yang seusia sama dengan Hardin dan Tessa.


"Remy sangat sulit di hubungi, tapi aku sudah menghubungi Ary dan Ary bersedia datang." Ucap Aliq.


"Syukurlah kamu masih menyimpan nomor ponsel mereka, " Ucap Faaz, yang sedikit terdengar lega.


Ponsel Aliq terdengar berdering...


(Ary Is Calling)


Aliq pun menerima panggilan tersebut, "Halo, "


"Halo Tuan," Balas Ary di balik ponsel miliknya.


"Tuan Aliq, saya sudah berada di Istanbul. Saya juga bersama dengan Remy, " Ucap nya.


"Syukurlah, aku akan berikan alamatnya melalui pesan. Nanti kau diam saja dulu di luar, setelah Orang itu keluar kau pastikan apa dia yang bernama Jerry atau bukan! " Pinta Aliq.


"Baik Tuan, kali ini kami akan bekerja dengan jujur kepada Tuan Aliq dan Tuan Faaz. Saya akan segera meluncur ke sana, " Ucap Ary, Ary pun segera menutup perbincangan bersama Aliq.


"Dia bersama Remy, " Ucap Aliq.


"Haaa, Syukurlah."


"Jika benar dia adalah Jerry yang kita cari, kita sudah sangat salah menuduh Aidil dan Ashley." Ucap Aliq kembali, Faaz pun mengangguk pelan.


"Permisi Paman, "Ucap Zalina.


"Halo, Zalina. Apa ada yang bisa Paman bantu? "


"Aku mau memetik bunga yang berada di belakang Paman," Ucap Zalina.


"Pasti bunga itu untuk Aunty Lea kan? " Tanya Faaz.


"Benar Paman, " Jawabnya sembari tersenyum.


"Oh iya Zalina, kenalkan ini Paman Aliq. Kakak ipar dari Aunty Lea."


"Halo Paman, " Zalina memberikan salam serta menarik tangan Aliq dan mengecup punggung tangannya, Lalu tersenyum dengan sangat manis.


Aliq begitu terkesima saat menatap wajah Zalina, "dia benar-benar mirip dengan Mama May dan Alea, " Ucapnya dalam hati, "senyumnya juga seperti Qabil, " Susul nya kembali.


"Halo, kamu sangat cantik dan sangat sopan" Pujian Aliq dibalas senyuman oleh Zalina, "Terimakasih Paman, Zalina jadi malu, " Ucapnya membalas pujian Aliq.


Zalina terlihat sedang memperhatikan keadaan rumah Alea, "Pantas saja rumah Aunty ramai, " Ucap Zalina.


"Zalina, Ada Tessa dan hardin juga. Mereka seusia mu" Ucap Faaz.


"Tessa anak nya Aunty Lea, " Sela Zalina.


"Iya, "


"Waah, aku ingin sekali berkenalan dengannya."


"Ya sudah ajak Ayahmu malam ini ke rumah iya, Paman dan Aunty Lea akan mengadakan acara makan malam. Iya semacam Acara Barbeque di malam hari, " Ucap Faaz.


"Baiklah Paman, terimakasih ajakan nya. Aku pastikan akan datang bersama Papa, " Ucap Zalina, ia pun segera memetik bunga-bunga segar untuk diberikan kepada Alea.


"Paman, boleh kah aku menitipkan ini untuk Aunty Lea." Tanya Zalina.


"boleh sayang, " Ucap Faaz, Zalina pun menitipkannya pada Faaz lalu. Zalina takut bunga tersebut layu sebelum diberikan pada Alea.


Zalina pun berpamitan untuk masuk kedalam rumah mengh bercat putih itu.


"Faaz, lihatlah kau benar. dia mewarisi senyuman Qabil. bahkan wajahnya sangat mirip dengan Alea, Aku rasa Jerry yang kau maksud memang Jerry 18 tahun yang lalu. " Aliq berbicara dengan suara berbisik, Faaz tersenyum menanggapi kalimat yang Aliq berikan.


"Benar Aliq, semoga saja seperti itu!, " ucapnya kembali.


"Mama, Aku harap ini semua benar.. " Faaz bergumam dalam hati,

__ADS_1


__ADS_2