
Faaz terbangun dari tidurnya semalam, Faaz kesulitan saat ingin memejamkan mata. bahkan ia menghabiskan malam nya hanya untuk merebahkan diri di atas sofa kamarnya.
Sebelumnya Faaz ingin sekali untuk berpindah tempat ke kamar Natasha, namun Natasha sudah meminta Faaz untuk menemani Rayna di kamarnya. Faaz membuka mata, Ia melihat Rayna yang masih terlentang tidur di atas Ranjangnya. ia melirik kan matanya, memusatkan pandangannya ke sekeliling kamar tersebut.
Di atas meja Ada satu buah nampan berisikan Dua gelas susu, satu piring Roti dan satu piring Nasi goreng dan satu toples buah segar yang sudah di potong rapi. Dia melihat ada satu pucuk surat tulisan tangan Natasha, di dalam surat tersebut Natasha berkata..
"Sarapan Lah dengan nyaman bersama Rayna, jadikan dia begitu berharga untuk hidupmu Faaz. Aku yakin Rayna sosok wanita yang baik, Maaf Aku harus kunci kalian berdua dari luar" ~ tertanda, Natasha.
Faaz begitu sangat terkejut dengan ketulusan dan rencana yang dibuat oleh istri tercintanya itu. Natasha memang sosok wanita yang sangat sempurna untuknya, Faaz mengerti jika Natasha berbuat seperti itu semata ingin memberikan kebahagiaan kepada Rayna.
"Mengapa kau melakukan ini Nat," Gumam Faaz, Faaz merogoh saku celananya bermaksud ingin mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Natasha. Namun sayang sekali, Ia tak mendapati ponsel miliknya di dalam saku celana
itu.
"Natasha pasti mengambilnya." Ucap Faaz.
"Faaz.." Panggil Rayna, Faaz menghampiri Rayna tanpa menjawab apapun.
"Kamu masih disini?." Tanya Rayna, "Pegang tanganku Faaz" Pinta Rayna.
"Aku akan sarapan dulu, perutku lapar. jika kau ingin sarapan, ikutlah dengan ku." Tutur Faaz, Ia menunjukan wajah yang sangat ketus saat berbicara dengan Rayna. Rayna hanya terdiam karena ia merasa tidak bisa menggerakan tubuhnya.
"Faaz.." Dengan suara yang sangat manja Rayna memanggil nama Suaminya, "Faaazzzz." Panggil Rayna kembali, Faaz segera menggendong Rayna dari atas kasur itu dan mendudukkan tubuh Rayna di atas kursi roda miliknya.
"Natasha mengunciku disini, dan Ia memberikan sarapan untuk kita." Faaz berujar, Rayna seakan tak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Natasha.
"Palingan dia lagi cari muka, dia pasti mikirnya biar kamu makin sayang sama dia." Jawab Rayna.
"Dia wanita yang baik, dan kau harus bisa menerimanya. Aku mohon berpikirlah positif kepada dia." Ucap Faaz, Rayna kesal dengan jawaban yang Faaz berikan.
"Aku tidak lapar, kau saja yang makan!" seru Rayna.
"Baiklah, Kebetulan Aku sangat lapar sekali." Ucap Faaz, Ia benar-benar memakan habis makanan yang diberikan Natasha. sebenarnya Rayna juga merasa sangat lapar, Namun Ia enggan memakan makan yang telah disajikan oleh Natasha.
"Faaz," Faaz menolehkan pandangannya ke arah Rayna yang terdengar memanggilnya.
"kenapa?, " Tanya Faaz, "Kau lapar?," Tanya Faaz kembali.
"Tidak, Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu?."
"Bertanya apa?," Tanya Faaz, Membalikan pertanyaan yang Rayna berikan.
"Begini, Mengapa kau mempertahankan kehidupan ku setelah kau tahu jika Aku dekat dengan kematian ku?." Tanya Rayna, Faaz menilik wajah Rayna seakan menatapnya dengan lekat.
"Jawab Faaz!." Ucap Rayna penuh dengan penekanan.
"Karena saat itu, Aku berusaha melupakan kesalahan mu dan mencoba menanamkan cinta ku. namun batin ku bergejolak, dan batin ku tak menerima itu." Jawab Faaz.
"Aku tidak bisa melupakan Masalah yang menyangkut dirimu, bagaimanapun Aku melupakan, hatiku sakit dan Aku tak bisa merasa tenang." Jawab Faaz kembali, "Lalu, Saat kau tersadar kau malah semakin membuatku merasa sakit."
"Kau berbicara apa Faaz?, Kapan Aku menyakitimu?." Tanya Rayna.
"Tunggu sebentar, Aku akan memberikanmu sesuatu." Ucap Faaz, Ia beranjak dan menyeret langkahnya dengan pelan. Ia membuka rak kecil yang berada di ujung kamarnya, terlihat beberapa lembar berkas ia ambil. Ia juga mengambil sesuatu dari kotak cincin di dalam lemari kecil di ujung kanan kamar miliknya dan Ia segera menghampiri Rayna.
"Apa itu Faaz?." Tanya Rayna, Rayna terlihat merasa kebingungan.
"Ini adalah berkas penting mengenai pengkhianatan mu." Ujar Faaz
Ia pun segera memberikan berkas itu, "Lihatlah dan bacalah dengan seksama." Ucap Faaz.
"Hasil Tes DNA atas nama By, Ny Rayna" Rayna membaca halaman kertas pertama, terlihat jelas lembar kertas itu adalah bukti Tes DNA yang di lakukan Faaz terhadap Aaleesya.
"Apa maksudmu Faaz?, Aaleesya anak mu dan juga anak ku." Tolak Rayna seraya membanting kan berkas yang sedang ia baca.
"Tes ini membuktikan jika Aaleesya adalah bukan anak biologis ku." Ungkap Faaz, "Kau tak bisa mengelak nya Ray." Ungkap Faaz kembali, Air mata Rayna mengalir dengan sangat deras.
"Tidak Faaz, Tidak!!!" Tolak Rayna sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau boleh menolaknya, namun Aku yakin hati mu tau mengenai kebenaran ini." Ucap Faaz, "Dan ini, Kau menyimpan ini dibalik pakaian mu." Ia menunjukan sebuah foto, foto Rayna sedang bersama seseorang yang terlihat memakai kaca mata.
__ADS_1
"Dia Aidil, Dia sahabatku. dia temanku, Supirku yang selalu mengantarku kemanapun. dan Aku pernah menyuruhnya beberapa kali untuk menjemputmu," Jelas Faaz, Rayna terkejut mendengar apa yang Faaz katakan.
"Mengapa kau mengkhianati ku?." Tanya Faaz, Rayna menundukkan kepalanya, sembari menangis Ia mengingat dengan jelas apa yang pernah Ia lakukan di belakang Faaz.
"Apa Aku hina hingga kau lakukan seperti itu?," Tanya Faaz kembali.
"Tidak Faaz, Ti...dak." Rayna menangis saat mencoba menukas pertanyaan yang Faaz berikan.
"Lalu?, Apa yang membuat kau mengkhianati cintaku. Aku yang begitu sangat tulus mencintaimu!!!." Ungkap Faaz, "Kau tak oerlu khawatir Rayna!!, Aku akan tetap menganggap Aaleesya adalah jiwaku. dia permata hatiku, dan kau tak boleh membuatku jauh dengannya!!" Ucap Faaz penuh dengan penekanan.
"Aku sudah mencintai Aidil sebelum Aku mencintai mu!!." Ungkap Rayna, Ia berucap sembari memejamkan matanya. mungkin pengakuan ini lah yang sangat Faaz tunggu.
"Lalu, Saat itu Papa Harry tak pernah menyetujui hubungan kami!!." Rayna menangis tersedu-sedu, "Aku tak bisa melupakannya, Aku sudah mencoba melupakannya. namun hubungan kami semakin intens saat Aku memulai hubungan denganmu." Ucap Rayna.
"Dan saat itu, kau begitu baik. kau selalu menjamin kebutuhan ku tanpa memberikan kebutuhan hasrat ku" Faaz tertegun mendengar pengakuan Rayna, Baginya kejujuran ini sangatlah penting.
"Dan Aku tidak bisa melepaskan mu begitu saja, karena saat itu. Papa tidak memberiku kebutuhan yang baik, Papa selalu membuatku merasa menjadi anak yang terbuang. dan Papa lebih menyayangi Aliq dibandingkan Aku!!!." Rayna menangis, menutup seluruh wajahnya menggunakan kedua tangannya. Ia menangis dengan sangat tertekan, wajahnya menyimpan sebuah rahasia yang selama ini Faaz tidak ketahui.
"Maafkan Aku Faaz, Aku memulai semua dengan kebohongan. Kamu memang terlalu sempurna untuk ku" Ucap Rayna, Faaz menatapnya dengan lekat. Faaz merasa iba melihat kondisi Rayna yang terlihat tertekan.
"Saat itu mengapa kau tidak jujur!, Kau malah memaksa memajukan hari pernikahan kita. dan ternyata dibalik rencana itu kau memang sedang menutupi kehamilan mu!" Cerocos Faaz, Rayna mencoba menerima semua yang Faaz ucapkan.
"Hanya kebenaran bisa menghadapi ketidakadilan. Kebenaran atau cinta." Ucap Faaz, "Kini Aku tahu, kesalahanku hanyalah satu. mencintai mu dengan melanggar sebuah Aturan yang telah disepakati oleh Ku dan Mama." Ucap Faaz.
"Bahkan Aku harus menerima kebohongan mu karena Aku membohongi Mama ku dan juga Papa." Ucap Faaz, Faaz mengingat betul kebohongan-kebohongan yang Ia ucapkan kepada Mama nya. Ia mencoba menarik nafasnya, wajah May terlintas di dalam benaknya.
"Mama Maafkan Faaz, Faaz tak mendengar apa yang Mama ucapkan." batin Faaz.
"Lupakanlah Aku!, Aku mohon Ray. percayalah kau akan mendapatkan kebahagiaan saat sudah tak bersama ku" Gumam Faaz sembari membelakangi Rayna.
"Rayna, Dengarlah mungkin hatiku begitu kecil dan mungkin hampir tak terlihat. Namun, Bagaimana kamu bisa menempatkan kesedihan besar itu di dalamnya?." Cerca Faaz kembali, "Karena hati ku yang kecil itu tulus padamu!!."
"Aku tetap tidak bisa menerima kau meninggalkan ku Faaz, Aku mohon!!!." Seru Rayna penuh dengan permohonan, Ia mengatupkan kedua tangannya.
"Orang yang kamu pikir bodoh dan tidak penting adalah seseorang yang datang dari Tuhan, yang mungkin mempelajari kebahagiaan dari kesedihan dan pengetahuan dari kegelapan." Ucap Faaz, "Namun Sayang, Kau terlalu bodoh jika tetap ingin bersama orang bodoh sepertiku." Ucap Faaz kembali.
"Kebohongan yang kau buat sudah membuat mataku terbuka lebar, Dan kau pula yang membuatku sadar jika cintamu memang tidak pernah ada untukku. lalu untuk apa kau meminta ku mempertahankan ini, setelah sekian lama Aku sakit menyimpan luka sendirian!." Ungkap Faaz, Rayna terdiam sepi tanpa sepatah katapun. Ia hanya mampu menangis saat mendengar apa yang Faaz ucapkan. Namun, Ia tetap tak ingin Faaz meninggalkannya dalam keadaan tak berdaya.
"Senja terlalu buru-buru berlalu, padahal aku baru hendak mewarnai langit untukmu dengan warna-warna rinduku yang selalu biru." Batin Rayna.
"Aku harap kau menerima keinginanku, Aku harap kau berbesar hati menerima ini semua." Ucap Faaz
"Aku belum bisa menerima semua ini," jawab Rayna, "Aku benar-benar sangat mencintaimu Faaz, Aku mohon."
"Aku tidak ingin Kau sakit hati dengan sikap ku yang dingin, karena saat seseorang merasa sakit hati terhadap sikapmu, khususnya Aku. Aku sudah tidak bisa menempatkan dirimu dihatiku." Ungjap Faaz
"Aku harap kau memaafkan ku Faaz,"
*****
"Nat, " Panggil Maliq.
"Iya Tuan Maliq, " Jawab Natasha.
"berhentilah memanggilku dengan sebutan Tuan, Aku adik mu sekarang." Gumam Maliq, "Dan berhentilah memandangku dengan tatapan sinis seperti itu, Apalagi menunduk seperti itu. Aku bukan musuh mu, Aku adikmu Nat"
"Maaf, Ada apa Maliq?," Tanya Natasha.
"Aku akan tinggal di Apartemen dan mungkin akan sangat jarang sekali aku berada disini." Ujar Maliq.
"Lalu?," Tanya Natasha singkat.
"Aku ingin sekali memberikan ini," Maliq memberikan sebuah gelang milik May, "Itu milik Mama, Dan Aku harap kau mau memakainya." Ucap Maliq.
"Tidak Maliq, Maaf Aku tidak bisa menerimanya." Ucap Natasha sembari menundukkan pandangannya.
"Kau takut Kak Faaz Marah?," Tanya Maliq.
"bukan hanya itu, menerima barang dari lelaki lain dan saat itu suami ku tidak mengetahuinya Aku akan berdosa." Tutur Natasha.
__ADS_1
"hoarrr" Suara nafas Maliq terdengar jelas, Ia menghembuskan nafasnya dan tersenyum tipis dihadapan Natasha. Maliq benar-benar mengagumi sosok Natasha karena Ia memang benar-benar wanita yang sangat baik.
"Tenang saja, Aku sudah memberi tahu Kak Faaz. jika Aku ingin memberikan ini kepadamu." Natasha tetap menolak, Ia takut jika ini hanyalah sebuah jebakan yang akan maliq lakukan.
"Maaf Maliq, Aku tetap tidak bisa menerimanya" Tolak Natasha, Maliq tetap menunjukan senyuman khas nya itu.
"Terima saja, Faaz sudah tahu mengenai ini. bahkan Maliq memberikannya ke tangan Faaz dan Faaz meminta Maliq untuk memberikannya padamu langsung" Ujar Rido, Ia menghampiri Maliq dan Natasha yang terlihat sedang berbincang.
"Papa, Aku hanya mencoba menghargai suami ku." Ucap Natasha.
"Papa Tahu, Terimalah." Ucap Rido, Natasha pun mengambil gelang itu dari tangan Maliq.
"Terimakasih Maliq." Ucap Natasha,
"Mama pernah bilang, berikan gelang ini untuk wanita yang sangat kau cinta dan sayangu selain Mama dan kakak-kakak mu. dan Aku sempat mencintaimu. dan ini milikmu." Natasha terkejut dengan Ungkapan yang Maliq ucapkan dihadapan Rido.
"Tenang saja, itu kan sempat. dan Aku harap kau menerimanya dan menyimpannya dengan baik. amanatnya, berikan kepada Anak perempuanmu. kelak ia akan menikah, dan berikan ini sebagai hadiah terindah dari Nenek nya yang sangat cantik " Ungkap Maliq kembali.
"Terimakasih Maliq, Terimakasih Papa." Ucap Natasha, "Natasha pamit Papa, Mau antar Alea ke tempat Kak Azri." Ucap Natasha kembali sembari berpamitan. Ia tersenyum dan mereka membalas senyuman yang Natasha berikan.
.
.
.
.
Tepatnya sudah di dalam Mobil milik Alea, Alea mengeraskan suara Cap Audio yang berada didalam mobil. Ia bernyanyi dengan suara yang sangat indah, Ia juga mengekspresikan setiap gerakan di dalam lantunan musik itu.
"Anak ku nendang-nendang loh liat Aunty nya kaya gini." Ucap Natasha, "Alea, Volume nya kurangin dong" Pinta Natasha.
"Hah, Apa?." Alea bertanya dan Natasha memberikan kode sebagai seseorang yang meminta Audio untuk dikecilkan,
"Oh oke, Oke." Ucap Alea, Ia mengecilkan Volume tersebut, tak sengaja ponsel miliknya ikut jatuh ke bawah kolong kursi mobil miliknya. Ia berusaha membawa Ponselnya tanpa menghentikan laju mobilnya, Ia juga mencoba menyeimbangkan tubuhnya.
"Alea....." Teriak Natasha.
"aaaaaahhhrrrrggg" Alea menekan Rem mobil dengan sebelah kakinya, Ia terlihat menabrak seorang wanita dan Alea mencoba keluar dari mobilnya guna bertanggung jawab akan apa yang sudah ia lakukan.
"Maaf bu." Ucap Alea, Natasha pun ikut keluar dari dalam mobilnya.
"Ibu tidak apa-apa kan?." Tanya Natasha, seorang Ibu-ibu yang merupakan Korban itu menoleh kearah Natasha.
"Natasha, Kau kah ini." Ucap seorang ibu tua itu, "Kau sedang hamil?." Tanya Si ibu itu, Natasha terkejut melihatnya. Ia seolah percaya jika dia bertemu dengan sosok Ibu tua itu.
"Tidak Mungkin!!!." Dalam batin Natasha.
"Natasha, Kau mengenalnya?" Tanya Alea heran, "Ibu tidak apa-apa kan?". Tanya Alea kembalu sembari mencoba membangunkan tubuh ibu tersebut.
"Tidak Nak, Hanya saja saya sedang bingung dengan tempat tinggal yang harus saya tempati saat ini." Ucap Ibu tersebut.
"Natasha, Kau tidak ingin memeluk ibu mu!" Ucap Ibu tersebut yang merupakan ibu tiri Natasha, Yang tinggal di Indonesia. Natasha bingung dengan keberadaannya di negara Australia, Entah ada rencana Apa? Natasha pun tidak tahu. yang Ia khawatirkan adalah, Ia akan menyakiti Ayah nya kembali bahkan Ia akan memanfaatkan kekayaan suaminya.
"Alea, Ayo berikan ibu ini Uang untuk berobat dan kita lanjutkan perjalanannya." Pinta Natasha, Alea merasa heran dengan apa yang Natasha ucapkan.
"Kak Nat, Dia sedang terluka. kita antar saja ke rumah sakit. lalu dia tadi bilang, dia tidak memiliki tempat tinggal kan?." Ucap Alea.
"Alea, kita sudah sangat kesulitan. ayolah aku tidak bisa berlama-lama di sini. kasihan Aleesya jika terlalu lama Aku tinggalkan." Ucap Natasha, Alea semakin heran melihat Natasha yang sedikit ketakutan.
"Kak Nat, " Lirih Alea sembari menatap matanya, Mata Natasha seolah tak ingin jika ibu tersebut ikut bersamanya. Natasha masuk kembali kedalam mobil dan mengambilkan Beberapa lembar uang untuk diberikan kepada ibu tersebut.
"Ayo Alea, Kita pergi dari sini." Ajak Natasha kepada Alea. Alea pun segera mengikuti permintaan kaka Iparnya.
"Kak Natasha kenapa Aneh sekali sih!. " Gumam Alea
.
.
__ADS_1