TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Tempat Indah dan kenangannya.


__ADS_3

ROMA , ITALIA


“maafkan papa sayang, papa merindukan kalian." ucap seorang lelaki tua renta yang duduk di kursi roda, dia memandang foto keluarga rido dan may yang terpajang di kamar utama nya.


 


“Papa, Yof janji nanti jika yofie sudah tidak sibuk dan mendapatkan uang yang cukup. yofie akan mengantarkan papa untuk bertemu kaka” seru Yofie, Ia mencoba menghibur papa nya yang sangat merindukan anak tertuanya.


 


“Yofie sudah Malu Pah, jika berbicara masalah Uang kepada Kaka ataupun Zain, Papa mengartikan. Maafkan Yofie jika Papa hidup susah dengan Yofie.” Ungkap Yofie sembari memeluk Papanya, Ia mengusap keringat yang menetes diatas dahi Papanya.


 


“Papa mengerti sayang, Terima kasih sayang,” Ucapnya ia membalas pelukan Anaknya itu, “Papa tidak merasa hidup susah denganmu. Hanya saja, papa sangat merindukan kaka tertua mu dan kemarin zain meminta maaf karena tidak bisa mengantarkan papa kesana” Ucapnya kembali, sebenarnya bisa aja Hendra ikut tinggal bersama Rido, bahkan Rido memintanya untuk tinggal bersama nya tapi Yofie menolak karena terlalu banyak menerima bantuan dari Rido dan Anak-anaknya.


 


“Zain sedang mengurus kan kepindahan Ayana ke australia karena, kaka meminta Ayana untuk melanjutkan sekolah kedokterannya di sana” Sahut Yofie, Ia memijat lembut pungguk Ayahnya itu.


 


“apa papa juga boleh menetap disana bersama Rido dan Ayana, Papa ingin dekat dengan nya” Ungkap Hendra sembari bertanya kepada Yofie.


 


“Papa,  kak rido sakit, aaleeyaa sakit, dan aku tidak ingin merepotkan Faaz dan lainnya kuharap papa mengerti.” pinta yofie kepada papanya itu sembari mengatupkan kedua tangannya, Hendra menatap Yofie dengan penuh harap.


 


“suamiku,” Panggil Sherly, Ia menghampiri suaminya dan Anaknya itu, “anak dan menantu kita sudah janji akan mengajak kita untuk menghabiskan libur akhir tahun disana dan ku harap kau bersabar, Yofie dan Shaloom tidak mungkin mengingkari janjinya. percayalah!.” Ucap Sherly seraya menenangkan suaminya itu.


 


“Papih kita akan ke rumah papa Rido kan?.” tanya Edward, ia masih sangat belia. dia anak dari yofie dan shalom. umurnya sekarang 17 tahun dan kebetulan dia sudah masuk universitas favorite di italia karena kepintarannya dan anak perempuan Mereka yang bernama shahila sudah menikah dan memiliki anak mereka tinggal di spanyol bersama keluarga kecil nya, Lalu anak yofie dari pernikahan pertamanya tinggal di indonesia bersama ibunya dan kabarnya dia sudah melangsungkan pernikahan bulan kemarin dan Yofie tak bisa menghadiri perrnikahannya.


 


“iya sayang, kau pasti sangat merindukan papa mu?.” tanya yofie kepada anak bungsunya itu.


 


“Jelas papih tetapi aku lebih merindukan almarhum mama, mama pasti senang jika aku kesana ?.” seru Edward sembari menatap foto yang berada didinding kamar kakeknya itu.


 


“siapapun pasti merindukan mama mu, dia wanita hebat buat kami.” Shaloom datang sembari menatap foto May, Matanya sudah berkaca-kaca, “iya kan papa, mama?” tanya shaloom kepada kedua mertuanya.


 


“dia wanita yang cantik, wanita yang baik yang pernah aku kenal” ungkap shaloom, Ia meneteskan air mata nya. Shaloom tak kuasa menahan air matanya yang telah ia bendung kala mengungkapkan perasaannya, ia menangis memeluk Sherly. dia mengingat betul masa-masa indah jika mereka sedang melepas rindu apalagi saat Hendra dan Yofie mengalami kebangkrutan. Rido dan May lah yang membantu mereka hingga mereka bangkit kembali. Saat itu Hendra dan Yofie memutuskan untuk melepaskan semua bisnis haramnya, club malam dan tempat spa yang mereka punya pun semua di tutup hingga mereka mengalami kebangkrutan.


 


“Semoga kau tenang disisi tuhan anak ku, mama papa dan semua sangat merindukanmu. kami akan selalu mengingat mu Anakku.” ungkap Sherly seraya mengangkat kedua tangannya. oh iya sebelum may meninggal, Hendra dan Sherly sempat menjadi mualaf dan belajar mengaji bersama May. awalnya Hendra memang tidak memiliki kepercayaan apapun terhadap doa dan tuhan tetapi qaddarullah sekarang mereka menjadi lebih baik dan lebih taat dari sebelumnya setelah memeluk agama muslim.


 


.


.


.


.


.


 


SYDNEY , AUSTRALIA


 


 


“Aku senang ed, sampai jumpa akhir tahun iya.” seru MaliQ yang sedang menutup pembicaraan nya melalui ponsel yang sedang ia pegang.


 


“siapa yang menelpon?.” tanya Alea dengan wajah yang sangat ketus.


 


 “Edward.” jawab maliQ dengan sangat singkat.


 


“gw lagi nanya lo baik-baik iya, tapi lo malah jawab singkat. dasar lo nyari masalah mulu” jawab Alea dengan mata yang didongkakan saat memandang maliQ.


 


“lo kalo nanya yang bener, raut wajah lo bikin gw sumpek tau ?." jawab MaliQh dengan melengos meninggalkan Alea.


 


“DASAR PEMBUAT ONAR!!!!“ UCAP MALIQ KEMBALI MEMBUAT ALEA MERASA KESAL SAAT MENDENGAR PERKATAAN MALIQ.


 


 


“ASAL LO TAU YA MALIQ, gw benci sama lo maliQ!!!” Teriaknya penuh dengan penekanan, “lo lebih sayang sama orang lain dibandingin gw, Kakak lu” teriak Alea kembali dengan frustasi sembari mendengus kesal melihat adiknya yang sebelumnya lebih membela Ayana dan Natasha.


 

__ADS_1


 


***FLASHBACK***


 


saat itu Alea kembali menyakiti hati Natasha dengan perkataan nya dan Alea mengancam Natasha akan membuatnya dipecat oleh Faaz jika berani mendekati Rido dan anggota yang lainnya. Menurut Alea


, Natasha terlalu mencari muka terhadap majikannya. Namun sebenarnya, Rido lah yang senang jika mendengar Natasha bercerita tentang masa-masa dia berada di indonesia. Rido memang merindukan indonesia tetapi Faaz tidak mengijinkan papa untuk tinggal disana walaupun hanya sementara dikarenakan pekerjaan Faaz yang lebih banyak di Australia . natasha merasa sangat sakit mendengar ancaman Alea, saat itu MaliQ mendengarnya dan terjadi adu mulut bersama kakaknya itu, walaupun Natasha berbicara tidak terjadi apa-apa MaliQh tidak gampang mempercayainya mengingat Alea memang selalu membuat onar dengan siapapun.


Flashback Off


 


“kamu kenapa ?” Tanya Mael kepada Alea.


 


“GW JUGA BENCI SAMA LO!!!” ALEA BERBICARA SEMBARI MENUNJUK WAJAH MAEL, JARINYA DITUNJUKAN TEPAT DI DEPAN HIDUNGNYA.


 


 


( dasar wanita aneh , dari dulu gak ada yang dia sayang kecuali mama may , hmm Alea alea cantik-cantik ko kaya yang gila sih - batin Mael saat melihat alea bertingkah aneh


 


 


******


 


“Natasha” panggil MaliQ.


“iya Tuan MaliQ” jawabnya singkat seraya menundukan kepalanya , natasha seperti ketakutan alea melihatnya sedang berbicara dengan anggota rumah.


 


“kamu mau kemana, apa aaleesya sudah tidur siang ?” tanya MaliQ.


 


“sudah tuan, maaf tuan MaliQ saya harus menyiapkan obat untuk tuan Rido” jawab Natasha, secara tidak langsung Natasha berpamitan namun Maliq menarik tangannya. Ia pun berbicara dan memandang wajah Natasha dengan lekat, “Nat” Natasha merasa jantungnya berdegup dengan kencang, tatapan MaliQ sama percis dengan Tatapan Faaz kepadanya.


 


“Kamu tak perlu mendengar ancaman dari Alea, dan jika kaka tau Alea berbuat seperti itu kepadamu aku pastikan kaka menghukum Alea. Natasha, Aku mohon jangan kau terlalu mengalah dengannya kau bukan pelayannya melainkan pengasuh keponakanku. dia tak berhak mencaci maki mu tanpa kau melakukan kesalahan” Tutur MaliQ, Ia terus menata mata MaliQ yang sedang berbicara kepadanya, “kau dengar ??” Tanya MaliQ sembari mengenggam tangannya, Natasha terdiam mendengar apa yang di ucapkan oleh Maliq.


 


 


Natasha menghela nafasnya dengan berat, ia menundukkan pandangannya saat tersadar sedang menatap MaliQ lekat, “saya membutuhkan pekerjaan ini untuk keluarga saya tuan, jika saya dipecat saya harus mencari pekerjaan kemana lagi”, Air matanya mengalir, Ia tak mampu menyembunyikan beban kehidupannya yang sudah lama ia pikul.


 


 


“aku pastikan Alea tidak akan membuatmu terhina, apalagi sampai kau kehilangan pekerjaanmu.” MaliQ lagi dan lagi menggenggam lengan Natasha, Matanya pun saling bertatapan. Natasha merasa nyaman saat mendengar ucapan MaliQ.


”aku JANJI KEPADAMU!” Ungkap maliQ dengan sangat tegas, membuat Natasha semakin gugup. maliQ juga mengusap air mata Natasha dengan sangat lembut, kini mata mereka saling beradu pandangan kembali membuat keduanya menatap penuh harap dan MaliQ merasakan hal berbeda saat natasha menatapa nya. mereka tak tahu jika Faaz sedang menikmati pemandangan itu.


 


”Natasha, apa obat papa ku sudah kau berikan?. maaf jika sudah merepotkanmu. besok dan seterusnya aku akan meminta abrar yang memberikan obat papa kembali” ucap Faaz mengagetkan natasha juga maliQ.


 


”maaf..tuan saya...” seru natasha dengan mengalihkan pandangannya dan menyeka sisa air mata di mata indahnya, lalu MaliQ mencoba memotong kalimat yang akan Natasha Ucapka seolah maliQ membela natasha dihadapan kakanya.


 


”maaf kak, tadi aku yang mengajaknya berbicara terlalu lama, aku pamit dulu. aku harus bertemu dengan seseorang“ ucap adiknya dengan sangat gugup, Faaz hanya menganggukan kepalanya lalu meninggalkan Natasha yang sedang mematung dihadapannya.


 


 


“Natasha,” Panggil Faaz seraya membalikkan badannya, Natasha pun menatap ke arahnya. “Tolong jaga Aaleesya dan Papa, Aku akan keluar sebentar” Ucap Faaz, Ia pun segera pergi meninggalkan Natasha. ia berniat untuk pergi ke tempat Mama nya dimakam kan.


 


 


# ISLAMIC BURIAL grown.


 


"MAMA, KAKA datang mam. tahukah hari ini adalah hari dimana aku tahu bahwa aaleesya sudah mulai membaik. flek di dalam paru-paru nya sudah berkurang Mam.” Faaz mengusap lembut Nisah bertuliskan Nama Mamanya. “dia tidak merasa kan sesak nafas sesering dahulu dan apakah mama tahu setiap hari sejak kepergian mama, papa selalu duduk menatap wajah mama, aku belajar artinya mencintai dengan tulus saat melihat papa memandang mu walau hanya foto mu yang berada dihadapannya itu. ku harap mama tenang disana" Ucap  Faaz  kembali saat berada di depan makam ibunya, Faaz setiap minggu memang selalu pergi ke makam ibunya untuk mengganti bunga yang sudah layu dan menggantinya dengan yang baru. jika Faaz tidak bisa melakukan itu faaz selalu meminta abrar yang menggantikannya dan itu adalah permintaan papanya.


 


 


“Mama, ini bunga LiLy kesukaan mama. kata papa mama selalu menyukainya dan papa menitip salam untukmu” sembari menyimpan bunga dan mengusap lembut Nisan kembali, Faaz sebenarnya menanggung beban yang sangat berat di pundak nya selain Faaz memastikan papa dan anaknya baik-baik saja, Faaz juga diam-diam selalu memperhatikan adik-adiknya.


 


“tempat yang indah bukan” seru lelaki berkaca mata yang menghampiri Faaz, Faaz terkejut dengan suara lelaki itu. dia adalah Zain, om kesayangan mereka. Zain memang sering sekali menghampiri tempat tersebut selain menghampiri dan berdoa di makam May, Zain juga menghampiri Letycia karena semenjak May meninggal dunia Ayana memintanya untuk memindahkan makam ibunya, semata-mata untuk disandingakan bersama makam mama kesayangannya yang telah mengasuh nya sewaktu kecil.


 


“Uncle zain,” teriak Faaz kegirangan, Ia memeluk Unclenya itu. “kapan uncle datang dan kau Ayana kaka sangat merindukanmu ?.” ungkap Faaz sembari mencubit hidup sepupunya itu dengan sangat gemas. Faaz sangat menyayangi Ayana seperti adik kandungnya sendiri, Ayana juga selalu manja jika berdekatan dengan Faaz.

__ADS_1


 


“kemarin Ayana sempat kesini lalu papa bilang jika kaka sedang berada di istanbu. dan beberapa hari kemudian daddy menjemputku dan aku harus segera pulang karena ada berkas yang membutuhkan aku menandatanganinya” ucap ayana sembari melingkarkan tangannya di pinggang Faaz.


 


 


“yasudah kitakan sudah bertemu, oh iya kamu jadi kan melanjutkan sekolah disini berama maiQ ?" tanya Faaz , kepada Ayana, Zain sedang berdoA di tengah makam Letycia dan May. Faaz lebih memilih meninggalkan Unclenya yang sedang berdoa itu dan berjalan bersama Ayana meninggalkan Zain yang sedang fokus berdoa.


 


 


“jadi kok kak, daddy juga akan tinggal sementara disini tetapi bukan di sydney ?” Tutur Ayana simanja itu.


 


“dimana memangnya ?” Tanya Faaz sembari berjalan merangkul adik sepupunya itu.


 


 


“di Brisbane, daddy ada keperluan disana dan sepertinya aku lebih memilih tinggal bersama kaka dan papa di sydney karena lebih dekat juga ke kampus” ucap ayana dengan nada manjanya.


 


“baiklah aaleesya pasti sangat senang jika tau aunty kesayangannya akan tinggal bersama kembali dirumah, daddy masih berdoa kita tunggu saja disana yuk” Ajak Faaz sembari menunjuk bangku kosong dekat taman.


 


ZAIN berjongkok di tengah makam May juga Letycia, Zain menitikan air mata sembari melihat kearah nisan mereka secara bergantian. dalam hatinya zain berdoa .....


 


 


( sayang aku datang, kau pasti sudah bertemu dengan kaka ipar. aku janji akan membesarkan Ayana juga anak-anak kaka ipar dengan kasih sayang ku dan tidak membeda-bedakan siapapun dan sayang dengarlah sampaikan pada kaka ipar, aku juga kak rido sangat merindukannya. kuharap kalian selalu bahagia melihat kami disini ~ ALFATIHAH )


begitulah kurang lebih doa yang selalu dipanjatkan zain setiap kali dia datang kemakam, Zaiin juga selalu bercerita tentang perkembangan anak-anak nya itu. zain selalu menjadi paman yang baik untuk mereka walaupun terkadang Alea selalu berbuat tidak baik kepada Ayana tetapi zain selalu memakluminya dan tak pernah memarahi Alea.


 


Zain menghampiri Ayana dan Faaz yang sedang berbincang dengan Hangat, Ayana selalu tertawa saat berbicara dengan Kaka nya itu. Ayana juga selalu terbuka mengenai apapun kepada Faaz.


”ayo sayang uncle sudah selesai, kebetulan tadi dari airport uncle memakai taxi dan apakah uncle boleh menumpang dengan mu sampai kerumah itupun jika kau tak akan kembali ke kantor?.” tanya Zain kepada Faaz.


 


”uncle, aku tak mungkin membiarkan uncle memakai taxi kembali. jika lain kali uncle datang ke Australia dan tidak memberitahuku maka aku akan membungkam mulutku untuk tak berbicara kepada uncle” Ancam Faaz dengan menajamkan kedua bola matanya, Zain tertawa melihat tingkah dan mendengar ancaman dari keponakannya itu.


 


”baiklah maafkan uncle ya sayang ,” ucap Zain.


 


 


”Ayo uncle, papa pasti sudah menunggu karena tadi aku Ayaana menghubungi papa melalui sambungan video. dan aku tak jadi memberikan nya kejutan kecil ini” ucap Faaz sembari mencubit pipi Ayana, Ayana yang sangat manja hanya tersenyum mendapat perlakuan dari kaka sepupunya.


 


mereka pun akhirnya pulang bersama menuju rumah Rido, didalam perjalanan Zain mendengarkan semua kejadian dirumah selama Faaz pergi, uncle hanya dapat memahami apapun yang Alea dan maliQ lakukan bahkan Ayana sempat mengadu tentang apa yang dilakukan Alea kepadanya. zain yang sudah sangat bijaksana hanya memberikan nasihat agar Faaz dapat menjadi kaka yang bijaksana dengan apa yang Alea perbuat.


 


 


”kamu memang sangat kesal dengan apa yang alea lakukan bahkan ayana sempat menangis saat pulang namun uncle selalu menekankan dia sangat membutuhkan kita , kita tak boleh menghakiminya dan menurut uncle kamu sudah menjadi kaka yang baik untuk adik-adik mu dan jika papa mu saja bisa bijaksana dalam menghadapinya mengapa kita tidak " nasihat uncle zain , Faaz selalu bertukar pikiran dengan uncle zain baginya uncle zain bisa menjadi papa rido disaat Faaz merasa sedang tidak bisa beradu pikiran dengan papanya karena takut menambah beban papa ridonya .


 


 


"dulu aku dan uncle zain pernah melakukan kesalahan tetapi papamu tak pernah menghukum kami dengan apa yang membuat kami malah menjadi manusia yang keras , papa mu menghukum kami dengan hati yang lapang lalu kami merasa malu dan menganggap bahwa kesalahan kami itu adalah kesalahan yang berat dan akhirnya kami tak ingin melakukaknnya lagi , papamu orang yang baik dan bijaksana dan kau harus seperti papamu sayang " ucap uncle zain kembali sembari menyeka air matanya .


 


 


"tetapi kenapa dengan Kaka Alea, dia selalu saja mengangguku, dan jika tak ada MaliQ dia selalu mencubit tanganku dan mengusirku untuk pergi dari rumah papa. kalau aku makan dia selalu mengambil makananku dan kemarin dia kembali seperti itu , bukan hanya aku sekarang yang merasakan kejahilannya bahkan pengasuh yang baik hati itu juga selalu dibuat merana olehnya dan maliQ kemarin sempat bercerita saat menelpon ku"  Tutur Ayana seraya mengadu kepada kakanya itu, Faaz begitu terkejut dengan apa yang Ayana bicarakan.


 


"Memangnya dia berbuat apa kepada Natasha ? ":tanya Faaz, Faaz terlihat keheranan saat mendengar Alea mengganggu Natasha.


 


"Dia mengancam kak Natasha akan memecatnya jika berani mengambil hati kaka dan seisi rumah itu, bahkan aku pun memang sangat menyukainya karena dia baik sekali. dan sangat memperhatikan bayi imut ku (aaleesya) " ucap Ayana ,


 


"kaka pastikan dia tak akan berani membuat kamu ataupun Natasha menderita, percayalah sayang " janji Faaz kepada adiknya sepupunya.


 


 


( makan tuh alea , aku udah cukup sabar iya menahan amarahku dan sekarang aku gak akan diem mendapat perlakuan kasar darimu - gumam ayana dalam hatinya )


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2