
Malam hari Di Apartemen Aliq..
Aliq sedang membaca sebuah Novel, Novel tersebut berjudul.. "Teman hidupku yang mengubah hidupku" tersimpan nama penulis di sana, Karya seseorang yang sangat berarti bagi hidup Fizzy. Yaitu Mama mertuanya, Rido sengaja menghadiahi buku tersebut kepada Aliq dan Aliq sangat menyukainya.
Aliq duduk di atas ranjang, Ia menyelimuti setengah badannya menggunakan selimut tebal tersebut, Aliq membaca setiap halaman dengan sangat serius.
"Aku baru tahu, Mama May memiliki sebuah Novel yang bagus seperti ini." Gumam Aliq. Fizzy sendiri, sedang melakukan Rutinitas sebelum tidurnya. yaitu, berdandan ala-ala dan membuat aroma tubuhnya seharum mungkin.
"Kamu lagi baca karya Mama iya? " Tanya Fizzy.
"Iya, Mama kamu bener-bener bikin suasana hati Aku sejuk." Puji Aliq, Fizzy menoleh sembari tersenyum.
"Loh kok senyum nya gitu?, " Tanya Aliq sedikit menggoda Fizzy.
"Enggak!, Aku tuh kayanya salah terus iya dimata kamu!! " Ungkap Fizzy, Aliq beranjak dan menyimpan buku tersebut. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat istrinya berdandan dengan sangat cantik.
"Kamu salah, Aku yang benerin." Ucap Aliq sembari berdiri dibelakang tubuh Fizzy, menatap Fizzy melalui kaca dihadapannya.
"Mulai deh bikin Aku melayang," Batin Fizzy kala itu.
"Kamu tahu Mama sejago itu bikin Novel? " Tanya Aliq.
"Entahlah Aku sebenarnya tidak tahu jika Mama dulu seorang penulis dan penyair yang hebat." Jawab Fizzy, "kenapa sih?, " Tanya Fizzy, Fizzy berdiri menyetarakan tubuhnya dengan tubuh Aliq.
"dulu Mama itu emang selalu pegang laptop, Aku dan Faaz main dan Maliq selalu di pangkuan Mama." Helaan Nafas Fizzy terdengar berhembus, "Bahkan, kadang kita semua berebut. berebut pelukannya disaat Mama memiliki waktu senggang." Ucap Fizzy.
"Kamu tahu Mama lagi nulis? atau lagi kerja aja mikirnya? " Tanya Aliq kembali, Aliq seperti penasaran mengenai kehidupan Fizzy bersama ibunya semasa kecil.
"Mama itu gak pernah banggain dirinya, bahwa dia seperti ini seperti itu. dan kalau aku tanya Mama sedang apa?, Mama selalu menjawab kalau dia lagi bantuin Papa." Fizzy berjalan menuju sofa yang berada di dalam kamar tersebut, Ia duduk sembari menyandarkan tubuhnya keatas bahu sofa.
"Mama itu, Selalu bilang Mama bantuin Papa. kalian harus baik iya, kalian harus gini, harus gitu." Ucap Fizzy, "Mama gak pernah ngeluh ngurus kita semua, ditambah Ayana dan juga Mael yang sering juga ngerepotin Mama. kadang Qabil juga berebut kasih sayang Mama." Ungkap Fizzy.
"kenapa sih Liq? kok Aneh." Tanya Fizzy, Aliq hanya terdiam.
"Aku kagum aja sama Sosok Mama May," ucap Aliq, "Terlebih lagi, Aku kagum sama Mama dan Papa kamu." Ucap Aliq kembali.
"Kalau itu mah, siapa sih yang gak kagum. pernikahan Mama sama Papa itu nyaris sempurna." Jawab Fizzy, "Kamu baca deh sampai Ending!" Ucap Fizzy.
"Malah Aku udah baca 2kali muter-muter" ucap Aliq, "Dan jujur Novel Mama membuat ku menangis!," Ucap Aliq kembali.
"Lah, Kok bisa?." Fizzy merasa heran dengan Aliq, baginya Aliq adalah sosok seseorang yang tidak menyukai sebuah buku.
"disini ada kalimat, menulis lah dengan cinta dan membaca lah dengan rasa bahagia" Ucap Aliq, Fizzy Semakin heran.
"kamu tahu detail?, Aku aja anaknya gak setahu itu! " seru Fizzy sembari tertawa kecil.
"Kamu.cantik kalau ketawa gini!, Ah Aliq munafik loh. kenapa gak pepet aja sih, dia sekarang istri lo Liq." Batin Aliq bergumam, "Ah, gak.. gak biar aja istri lo yang kasih pendahuluan!! " Gumam Batin Aliq yang lainnya, Fizzy berceloteh bebas. Ia menceritakan masa-masa kecilnya yang sangat lucu kepada Aliq, bahkan Aliq bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. cerita Mama May, yang ia tuangkan di dalam sebuah novel memang lah merubah sisi pandangan Aliq mengenai pernikahan, awalnya Aliq hanya berpikir menikah hanyalah menikah. namun, setelah membaca buku tersebut Aliq mengerti arti dari pernikahan.
Pernikahan yang berujung kesetiaan, menerima satu sama lain, saling menghargai dan menerima semua segala kondisi. May memang menuangkan semua cerita mengenai kehidupannya bersama Rido di dalam buku tersebut, tak hanya itu May pun mengarahkan setiap pembacanya kearah yang baik.
"Fizzy, " Aliq menyela kalimat yang sedang Fizzy ucapkan, dengan menggunakan jari telunjuk tangannya Aliq menghentikan Fizzy yang sedang berbicara.
"Aku mau kamu kaya Mama kamu! " Ungkap Aliq, "Kamu pasti bisa! " Ucapnya kembali.
"Maksud kamu? " Tanya Fizzy heran, jantungnya berdegup kencang kala Aliq menatapnya lekat.
"Kamu pasti tahukan? kamu pasti ngerti maksudku! " Gumam Aliq, Fizzy begitu terkesima melihat tatapan Aliq. tatapan penuh harap, tatapan penuh cinta dan Fizzy pernah melihat tatapan itu saat 5 tahun ke belakang dimana cinta itu muncul dengan tiba-tiba.
"Aku tak mengerti Aliq, Aku takut." Ucap Fizzy, Aliq mendelik kesal mendengar jawaban yang Fizzy berikan kepadanya, "Ah Fizzy, Aku kan lagi mau nyoba Romantis. dasar Aneh!!" Umpat Aliq. membuat Fizzy kesal.
"Kamu tuh kebiasaan Aliq, Kamu yang Aneh tau!!" Balas Fizzy, Fizzy kesal karena Aliq selalu membuatnya melayang lalu menjatuhkannya.
"Loh kenapa kamu yang jadi kesel!, kamu tuh yang sebenernya bikin kesel" Gerutu Aliq, Fizzy tak mau membalas lagi kalimat yang Aliq ucapkan. dia hanya mampu mengerucutkan bibirnya, hingga membuat Aliq gemas akan sikapnya.
"Tetep aja kaya dulu! " keluh Aliq,
__ADS_1
"Kamu tuh, kadang So cool tapi jiwa komedian nya masih aja tetep ada!! " Ucap Fizzy penuh penekanan, "Kesel, sebel! " Fizzy keluar dari kamarnya dan berjalan menuju balkon Apartemen nya.
Langit malam begitu penuh dengan bintang-bintang, anginnya pun terasa dingin menelusup kedalam tulang. Fizzy melebarkan tangannya, Ia merasakan Angin yang sejuk walaupun perasaannya sedang terasa kesal kepada suaminya.
"Arrhhhhh" Ia menghirup udara malam tersebut, Piyama panjang yang ia pakai pun tertembus angin malam itu.
"Papa, Mama. Fizzy ingin banget kumpul sama Papa sama Mama. sekarang Fizzy udah jadi seorang istri dan Papa sukses banget nikahin Fizzy," Gumamnya sembari menatap rasi bintang di atas langit, "Pernikahan Fizzy adalah doa dari Papa, kebahagiaan Fizzy juga adalah doa dari kalian. Fizzy bangga banget bisa lahir dari Rahim Mama, Fizzy bangga dapet aliran darah yang deras dari Papa. dan sekarang Fizzy bangga banget bisa jadi istri dari orang yang Fizzy cinta walaupun dia agak nyebelin! " senyumnya terpampang di wajah cantik Fizzy, Ia masih tetap melebarkan tangannya. merasakan angin yang sangat membuat badannya segar.
Aliq datang dan memeluknya dari belakang, "Aku gak nyebelin, Aku cuma lagi nyoba bikin kamu benci aku! " Bisik Aliq ditelinga Fizzy, Fizzy merasa jika dirinya sedang berada diantara haluannya.
"Sekarang, Aku akan menjadikan kamu orang yang Aku cintai,." Bisik nya kembali, Fizzy pelan-pelan membuka mata, Ia juga menghirup aroma tubuh seseorang yang sedang memeluknya.
"Tuhan, Apakah ini nyata!" Gumamnya di dalam hati, Ia kembali memejamkan matanya. berharap jika ungkapan Aliq tak berhenti terdengar di telinganya, Namun Aliq memang sangat senang berbuat jahil kepada istrinya tersebut.
"Aliq, Kau nyata kan? " Aliq pura-pura tak mendengar, Aliq tersenyum melihat wajah istrinya yang sangat polos. Aliq melepaskan pelukannya, Ia mengalihkan badannya tepat di hadapan istrinya, Ia meniup mata Fizzy.
"Aliq, " Sembari mengucek matanya, Ia memanggil nama Aliq dengan menggunakan nada yang sangat manja. Aliq memberanikan diri mencium bibir Fizzy, Ia mendaratkan sebuah ciuman di bibir polos istrinya. Fizzy pun terlihat sangat terkejut dengan apa yang Aliq lakukan, Fizzy membalas setiap ciuman yang Aliq berikan. bibir merekapun saling bersahutan.
setelah Ia merasa puas karena telah memiliki bibir yang sangat manis itu, Ia membawa Fizzy masuk kedalam kamar dan di dalam kamar tersebut Aliq berusaha menjadi suami yang menafkahi batin istri yang sangat ia cintai.
setelah beberapa waktu kemudian, Aliq memeluk. Fizzy dari belakang. Aliq terlihat sangat puas dengan apa yang Fizzy lakukan, "Sakit! " Ucap Fizzy.
"Maaf? " Ucap Aliq, "Makasih, "Ucap Aliq kembali.
Fizzy tersenyum, perasaannya sangat senang. Ia pun membalas ucapan terimakasih yang Aliq ucapkan, "Aku yang harusnya berterimakasih, karena kamu udah bikin pernikahan kita bernilai ibadah! " Ucap Fizzy.
"kamu yang buat, bukan Aku. kamu udah buktiin bisa bawa hati Aku lagi!" Gumam Aliq, Fizzy tersenyum sembari menggigit telunjuknya.
"Pada Akhirnya, Dia memang lelaki yang Aku inginkan. dia memang lelaki yang juga Tuhan berikan! " Batin Fizzy merasa senang.
Merekapun tertidur dengan sangat pulas, Fizzy tak segan tertidur di dalam pelukan Aliq dan Aliq pun tertidur dengan memeluk tubuh istrinya. Cinta yang May tebarkan membuat Aliq mengerti akan kewajiban sebagai seorang suami, dan Aliq mengerti akan hak yang seharusnya di berikan untuk Istri.
"Mama senang, Mama senang karena putri Mama kini sudah dewasa! berikan cucu yang banyak untuk Mama ya Nak!" Terselip kalimat itu di dalam mimpi Fizzy, Dan terlihat May tersenyum sangat cantik menggunakan pakaian putih dan Memakai. hijab serta Niqab.
Keesokan harinya Natasha sedang menyiapkan sarapan untuk anggota keluarga lainnya, Alea dan Ayana datang bersamaan. Alea begitu sangat bersikap manja kepada Natasha, Ia tak segan memeluk Natasha yang sedang merasa kerepotan.
"Kak Nat, tau gak. semalem Aku mimpi ketemu Mama" Gumam Alea, Natasha tersenyum sembari masih tetap memasak.
"Nyonya biar saya saja" Ucap Ester, Natasha menolaknya.
"Tidak Bi, Biar saja." Tolak Natasha, "Kamu duduk iya, nanti aku bikinin Omlet keju" Ucap Natasha, Alea pun duduk bersampingan dengan Ayana.
"Kak lea ketemu Mama?, " Tanya Ayana.
"Iya, Mama cantik banget. Aku dan Kak Fizzy memeluknya" Ucap Alea, Natasha dan Ayana mendengarkan cerita Alea. tak lama kemudian Rido datang, Rido mencium satu persatu anak kesayangannya semua.
"Qabil kemana?, Faaz belum kebawah juga?" Tanya Rido.
"Qabil malam tadi pergi bersama Mael, dia mau ke brisbane. katanya nyari tempat buat Aunty rani kan dia mau pindah bulan depan" Tutur Alea,
"Oh Iya, Papa juga kemaren denger dari Uncle mu" gumam Rido, "Lalu, Faaz kemana? " Tanya Rido.
"Faaz lagi ajak Kak Rayna biar bisa sarapan bareng kita" Jawab Natasha, Jimmy pun datang dan duduk di atas kursi roda tepat di samping Rido. mereka menyantap sarapan tanpa menunggu Faaz datang, tak lama kemudian Faaz datang sembari mendorong kursi roda Rayna.
"Kak Ray, Ini udah aku siapin makanannya." Natasha mengambil sebuah piring dan meletakan satu buah omlet dan kentang rebus di atas piring tersebut.
"Terimakasih Nat, Kamu memang sangat baik. kepadaku" Gumamnya, berpura-pura seakan akur dengan Natasha. Ia pun terlihat tersenyum palsu, Faaz sebenarnya sudah tahu bagaimana keadaan di sana. namun Faaz sengaja berpura-pura mempercayai apa yang Rayna lakukan.
"Kak Ray gak terkena sambar petir atau apakan?" Tanya Ayana.
"Enggak!, Aku gak kenapa-kenapa kok! " Ucap Rayna, Ia menjawab pertanyaan Ayana dengan senyuman terpaksa yang terlihat di dasar wajahnya.
"Gak lagi buat rencana aneh kan? " Tanya Alea singkat.
"Alea? " Panggil Natasha kepada Alea, membuat Rayna tertunduk saat mendengar apa yang Alea ucapkan.
__ADS_1
"Maaf, " Ucap Alea, "habisnya Aneh sih! " Gumam Alea.
"Rayna udah ngerti kalau Natasha dan Aku sudah menikah, Dan Rayna sudah menerimanya" Ungkap Faaz, "Iya kan? " Tanya Faaz kembali sembari memasang wajah meyakinkan Rayna.
"Ii.. iya" Jawabnya singkat.
"Syukurlah, Papa senang mendengarnya" Ucap Rido.
"Terimakasih Nak Ray, " Ucap Jimmy.
"Iya Om, Iya Papa" Senyuman terpaksa terlihat kembali di raut wajah cantik Rayna. Natasha hanya terdiam menatap wajah Rayna dengan tatapan sendu, rasanya ingin sekali mengadu apa yang pernah Rayna katakan kepada nya. Namun, Ia tak mau membuat Faaz berjauhan dengan Rayna karena, Natasha tak tahu sama sekali jika Faaz pun mengetahui apa yang Rayna katakan.
"Natasha, mengapa diam saja? " Tanya Rido.
"Tidak apa-apa Pah, Aku hanya merasa pusing"
"Sayang, hari ini kita cek Up bayimu iya" ajak Faaz, Natasha hanya menganggukkan kepalanya, tanda ia menyetujui ajakan Faaz.
"Aku merasa lega karena Rayna dan Natasha terlihat sangat Akur, Aku memiliki rencana untuk kalian" Ucap Faaz.
"Apa itu? " Tanya Alea, Ia seolah menarap tak suka saat memandang kaka Ipar pertamanya,.
"Bagaimana kalau aku menyewa therapist handal untuk membuat Rayna berjalan, dan tugas Natasha hanya menyaksikannya. dan kamu juga bertugas untuk memperhatikan Rayna" Ucap Faaz.
"Tidak!! " Ucap Alea dan Ayana berbarengan, mereka pun saling menatap sama lain.
"Loh, Tidak kenapa? " Tanya Rido, "Lagian biar kaka ipar mu bisa saling dekat satu sama lain" Ucap Rido.
"Tidak!, Lea gak setuju!! " Tukas Alea, "Aku tidak mau terjadi yang tidak-tidak kepada Kak Natasha" Timpal Alea kembali.
"Iya Ayana juga gak setuju Papa! " Timpal Ayana, "Benar sekali yang di katakan Kak Alea, " Timpal nya kembali.
"Gak setuju nya dari mana? " Tanya Faaz, "Kenapa kalian selalu berpikir negatif kepada ku" Sela Rayna.
"Memang Kak Rayna selalu saja mengganggu Kak Nat kan! " Ketus Ayana sembari mendelik kan mata nya.
"Alea gak mau iya, nanti Kak Natasha malah kelelahan karena ngurus Kak Rayna!!" Ucap Alea.
"Iya Lagian, Kakak kan Mampu sewa perawat 10 orang juga untuk merawat Kak Rayna. gak harus kak Natasha!, pokoknya Ayana dan Kak Lea gak setuju. Titik" Tandas Ayana membuat Rayna merasa terpekik. mereka lebih memilih melindungi seorang Natasha, Natasha yang baru saja mereka kenal.
"Gak Intinya enggak! " Tolak Alea kembali, "Gak usah macem-macem deh kak!!!" Gumam Alea kembali, Faaz tersenyum tipis saat melihat rasa perhatian adik-adiknya untuk Natasha.
"Alea, Ayana. justru itu loh yang ingin sekali aku lakukan! " Ujar Natasha, "Aku ingin sekali melakukan pendekatan dengan Kak Rayna dan sepertinya Kak Ray juga sama denganku! " Ujar Natasha kembali, Ia memberikan senyuman tipis kepada Rayna. Rayna membalasnya dengan senyuman kembali.
"Kak Ray, kau bisa mencari muka kepada setiap orang di rumah ini dengan berpura-pura baik kepadaku!! baiklah Aku pun akan melakukan itu, Aku harus melindungi diriku serta anak ku dari rencana busuk mu, Aku akan menjadi Natasha yang kuat!! " Gumam Natasha di dalam hatinya sembari menatap wajah Rayna lekat.
.
.
.
.
"Kau mulai membunyikan genderang perang Natasha, lihat saja apa yang akan Aku lakukan untuk mu!!! Aku tetap Ratu di rumah Ini dan kau hanya seorang pelayan, Kau Hanya Pelayan.!!! Dasar Tidak Tau Diri!!!!, " Gumam Rayna di dalam hatinya secara sarkas, Rayna menatap wajah Natasha, tatapan nya sangat Tajam dan Natasha terlihat sadar akan tatapan sarkas dari Rayna itu.
.
.
.
Quotes :
Hidup adalah sebuah tantangan, maka hadapilah. Hidup adalah sebuah nyanyian, maka nyanyikan lah. Hidup adalah sebuah mimpi, maka sadarilah. Hidup adalah sebuah permainan, maka mainkanlah. dan jika Hidup adalah cinta, maka nikmatilah. ~ Natasha Baharudin
__ADS_1