TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. PENJELASAN KONDISI RAYNA


__ADS_3

Faaz berlari menghampiri Rayna, sepertinya Faaz memang tidak bisa menutupi rasa khawatir terhadap Rayna. Natasha merasa senang melihat Faaz yang terlihat masih memiliki rasa peduli kepada istri pertamanya, "Syukurlah, Faaz masih menjadi lelaki yang masih memperdulikan istrinya. Aku tak ingin menjadi penyebab Faaz berdosa, Tuhan... tolong jaga Kak Rayna" Gumam Natasha di dalam hatinya.


"Kak Nat, Mau lihat Kak Rayna?." tanya Alea sembari tersenyum, "Kalau mau kesana, biar Alea jaga Aaleesya." ucap Alea.


"Tidak Alea, Aku akan memutuskan untuk tidak menunjukan batang hidungku di depan Kak Rayna. Aku tak ingin menjadi penyebab Anfal kak Rayna, Kesehatannya sangat penting bagi kita semua." Ungkap Natasha, "Aaleesya juga berhak mendapat kasih sayang darinya." Ungkap Natasha kembali.


"Kak Natasha, " Lirih Alea memanggilnya, Ia pun segera memeluk tubuh Natasha.


"Entah bagaimana jadinya jika Aku menjadi kamu Kak, mungkin Aku bisa Gila." Ujar Alea, "Kau benar-benar wanita kuat." Puji Alea membuat Natasha tersenyum sempurna.


"Jika saja Aku tidak mendapat kasih sayang dari kalian, mungkin Aku tidak bisa seperti ini. kalian yang menjadikan Aku kuat." Tutur Natasha.


"Nat, Qabil hanya bisa berdoa. semoga kamu dan Kak Faaz bisa melalui ini semua, Qabil berdoa semoga saja Kak Rayna berubah menjadi baik bahkan lebih baik dari sebelumnya" Ungkap Qabil.


"Makasih sepupuku, jika saja ibuku dan Ayahmu masih hidup. kita akan menjadi keluarga yang sempurna." Ujar Natasha, matanya terlihat berkaca-kaca. Alea memeluk Natasha, Qabil pun mendekap kedua nya.


"Mama peri, aunty lea dan Uncle mengapa menangis?." Tanya Aaleesya keheranan.


"Mmmhh.. Kami tidak menangis Sayang." Ucap Alea, "Iyakan?." Mata Alea berkedip seakan membuat kebohongan di depan Aaleesya.


"Aunty lea kata Mama peri kita tidak boleh berbohong," ucap Anak kecil itu sembari mencubit pipi Alea.


"Anak pintar sudah bisa iya bikin Aunty nya malu." Ucap Qabil, " Ayo ikutlah dengan Uncle, kita temui Uncle Maliq dikamarnya." Ajak Qabil sembari menggendong Aaleesya.


"Tunggu Uncle, " Ia memaksa untuk lepas dari gendongan Qabil, dan memintanya untuk menurunkan tubuhnya. ia menghampiri Natasha, dengan senyuman cantik di wajahnya Ia pun berkata, "Mama peri, Esya sayang Mama peri." Tangannya mengusap lembut pipi Natasha yang terlihat menyimpan sisa air matanya, "Jangan menangis lagi iya, Ade bayi nanti sedih dan Esya juga sedih." Ucap Aleesya dengan penuh kejujuran, Rasa sayang tersirat dalam tatapan lekatnya.


"Sayang, Kamu benar-benar menggemaskan. jadi Mama aja nih yang di peluk begitu." protes Alea kepada keponakan kesayangannya itu.


"Baiklah, Esya juga sayang aunty Lea" Sembari memeluk Alea dengan erat dan beberapakali Aaleesya mendaratkan ciuman di pipi halus milik Alea.


"Terimakasih Gadis pintar." Ucap Alea sembari mencium kening Aaleesya, Qabil pun segera menggendong Aaleesya untuk mengajaknya bertemu dengan Maliq.


*******


Di dalam kamar luas itu, Semua anggota keluarga sudah berkumpul hingga Zain dan Rani pun berada di dalam kamar Rayna. Sesaat setelah pembicaraannya bersama Faaz, Rayna terlihat sangat terguncang. Ia terus menerus berteriak hingga membuat Rido dan Zain menghampiri kedalam kamarnya, Saat Mereka membuka kamar Rayna, mereka melihat Rayna sudah terjatuh dari kursi roda nya tak hanya itu Rayna terlihat melukai kepalanya dengan membenturkan kepala miliknya ke dinding kamar tersebut hingga membuat kepalanya terluka.


Faaz terdiam menatap pilu wajah istrinya, rasa bersalah pun muncul namun, Bagi Faaz ia sudah menjatuhkan talak terhadap Rayna dan Talak tersebut ia ucapkan dalam keadaan sadar.


"Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Rido, Dokter Ambar menjelaskan mengenai kondisi Rayna.


"Mengalami koma mungkin adalah saat-sat paling kritis dalam hidup mereka, Berada di ambang batas antara hidup dan mati dalam waktu yang cukup lama memberinya satu pengalaman yang mengenaskan bagi otak dan jiwanya"


"Lalu Mengapa Rayna berteriak seperti tadi Dokter?," Tanya Zain.


"Saat ini Rayna sedang dalam menyempurnakan jiwa nya karena baru saja tersadar dalam komanya, Jiwanya kritis hingga sekarang ia mengalami Depresi." Terang Dokter Ambar.


"Ia merasa terguncang, Ia merasa tertekan. terbukti Jantungnya tidak stabil, mungkin Ia merasa sudah pergi jauh ke alam bawah sadarnya." Terang dokter kembali,


"Apa bisa sembuh dok?" Tanya Aliq, wajahnya terlihat sangat mengkhawatirkan sang Kaka, "Apa kaka saya depresi seperti dahulu, saat belum menikah." Tanya Aliq kembali.


"Depresi dapat diartikan sebagai sebuah kondisi gangguan psikologis dengan ciri adanya perasaan sedih atau kekosongan mendalam. Orang yang depresi biasanya merasa bahwa mereka seolah masuk ke dalam lubang yang dalam, gelap, dan sulit untuk keluar dari sana. Dan tadi sepertinya Rayna seperti itu." Terang Dokter kembali, "Tuan Faaz bisa membuat janji kembali dengan dokter Shawn, Jika boleh saya yang akan membuatkan janji nya besok" Ucap Dokter Ambar kembali, Dokter Ambar adalah dokter Yang merawat Rayna. Jika bersama Dokter Ambar Rayna merasa nyaman, bahkan saat melahirkan Dokter Ambar menemani dokter yang bertugas menjalankan operasi Kelahiran Aaleesya.

__ADS_1


"besok saya Akan melakukan Mri dan Ct scan kembali." Ucap Dokter Ambar, "Melalui pemindaian ini, gambaran kondisi otak bisa dilihat secara jelas, termasuk batang otak. Pemeriksaan melalui MRI dan CT scan memang harus dilakukan kembali." Ucap dokter Ambar.


"Baiklah dok, " Richard tersenyum.


"Saya tidak begitu mengkhawatirkan Rayna, Karena saya tahu Dokter hebat seperti anda sedang berada disini." Pujinya kepada Richard.


"Kau juga hebat, Kau begitu sangat memperhatikan Pasien-pasien mu. Aku bangga memiliki dokter sepertimu." Ucap Richard.


"Rayna sudah seperti adik ku dok, " Ungkap Dokter Ambar,


"Tuan Rido sepertinya Rayna mengalami penekanan di detak jantungnya, Rayna memang terlihat sudah sehat namun Kondisi jantungnya belum memompa dengan sempurna. mungkin karena ia terlalu lama memakai alat saat ia dalam kondisi koma" Ungkap Dokter Ambar kembali


"Apa Dia bisa hidup normal kembali?" Tanya Aliq.


"Sejauh ini perkembangan nya cukup signifikan, bahkan dia sudah membaik namun Ia tidak bisa mendapatkan tekanan di dalam dirinya." jelas Dokter Ambar, "Sebisa mungkin berilah dia ruang untuk menghirup udara segar tanpa dilibatkan masalah, khususnya untuk mu Tuan Faaz." Ucap Dokter Ambar membuat Faaz menundukkan kepalanya, Rasanya ia memang merasa bersalah. jika saja ia mendengar Apa yang Natasha ucapkan mengenai kesembuhan Rayna, mungkin rasa bersalah itu tidak akan membekas di dalam relung hatinya.


"Tuan, Saya sudah berikan obat di dalam Cairan infusnya. dan nanti saya akan menempatkan Suster Karin untuk membantu memberikan obat kepada Rayna, Saya harapkan kalian membantu kesembuhan Rayna." Ucap Dokter Ambar.


"Baik Dok, " Jawab Rido, "Dokter terimakasih, sudah berkenan datang." Ucap Rido kembali sembari tersenyum. Dokter Ambar berpamitan, Aliq dan Fizzy pun mengantarkannya hingga ia masuk kedalam mobil miliknya.


"Kakak, Bisakah Papa berbicara denganmu Empat mata?," Tanya Rido, Faaz mengangguk pelan. Rido mengajaknya untuk berbicara di dalam ruang kerja milik Faaz.


"Apa yang kau ucapkan kepada Rayna?." Tanya Rido.


"Rayna yang memulai Pah, " jawab Faaz, Ia tak mampu menatap mata sang Papa.


"Kau tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita, Jangankan membentaknya. untuk sekedar tak menggubris pertanyaannya saja sudah membuat hatinya terluka." Tutur Rido, "Muliakan Lah hati seorang wanita Apalagi hati seorang istri dan kini kau memiliki kedua istri yang benar-benar harus kau jaga hatinya." Tutur Rido kembali, Ia menasihati anak tertuanya itu penuh dengan kelembutan.


"Aku sudah menceraikannya, Aku sudah memberinya talak dan itu dalam keadaan sadar Pah!." kalimat itu membuat resah hati Rido, Ia seperti merasakan sakit hati Rayna. Iya, Rido memang memiliki hati yang sangat lembut. Ia sangat takut membuat hati wanita terluka, "Maafkan Aku Pah." Ucap Faaz.


"Rayna memaksa ku mengatakan hal itu, Rayna menekan ku. Rayna meminta ku untuk menceraikan Natasha, dan membuang Natasha dan janin yang dikandungnya jauh-jauh dengan memberinya segudang harta. Rayna berharap Natasha tak mengganggu ku." Jelas Faaz sembari menangis dihadapan Papanya itu.


"Aku tidak bisa berlaku Adil, dan kini Aku merasa cintaku pada Rayna sudah sirna Papa." Ungkap Faaz.


"Ada rasa menyesal menikahinya Pah!!" Ucap Faaz penuh dengan penekanan.


"Faaz jangan buat dirimu menjadi lelaki yang tidak memiliki prinsip." Ucap Rido, "Jika saja kau jujur saat itu, Papa tidak akan merasa bersalah kepada Rayna dan juga Natasha." Ujar Rido.


"Faaz Aku pun pernah merasa menyesal saat Aku berada didalam pernikahan ku dan ibumu." Ungkap Rido, "Aku menyesal karena pernah membuatnya menangis, Aku menyesal karena tidak jujur mengenai penyakit yang Aku derita saat itu." Ungkap Rido kembali, "Semua menjadi Rumit karena ulah mu, dan sekarang kau tidak bisa lari dari masalah ini."


Rido merangkul bahu Faaz berharap Faaz mau mendengarkan Nasihatnya, “Ada beberapa tahap untuk engkau menceraikan Rayna, Dan Papa mohon kau harus mengerti.” ucap Rido.


”Aku harus bagaimana Pah?” Tanya Faaz.


”Ada beberapa hal yang mungkin Papa bisa beritahu kepadamu,” ucap Rido, ”satu, Mempertimbangkan maslahat dalam menjatuhkannya, setelah memikirkannya dengan penuh kesadaran dan mengambil pandangan dua penengah dari kedua belah pihak.“ Ujar Rido, Faaz mendengarkan setiap ucapan Papanya.


“dua, Talak tidak boleh dijatuhkan dengan maksud menyakiti istri, sebab menimbulkan madharat kepada orang lain dilarang oleh syariat Islam.“ ucap Rido kembali, “dan ketiga, harus ada saksi saat kau mentalaknya.”


“Kau tidak bisa seenaknya seperti itu.” ucap Rido, “pernikahan itu ikatan yang sangat suci, Papa tidak mau kau melanggar semuanya.”


"Tapi setidaknya Pernikahan Papa dan Mama memang benar-benar dilandasi cinta yang suci." Ucap Faaz.

__ADS_1


"Kau dulu yang ingin menikah dengannya, Papa tak memaksa mu menikahinya." Ujar Rido, "Dia pilihan mu, kau tak bisa menalak nya tanpa alasan yang jelas. Kau harus menghargai Papa Harry" Ujar Rido kembali


"Apa Aku harus menjelaskan semua pada Papa?, Apa tidak cukup mengenai Aidil dan dia terdahulu Papa." Tanya Faaz, "Aku salah memang sangat salah, mataku tertutup oleh cintaku padanya. Namun kini Aku sudah tidak bisa menutupi semuanya Pah." Ucap Faaz.


"Aku sadar sekarang karena diawal pernikahan Rayna sudah menipuku" Ucap Faaz kembali, Rido tertegun menatap wajah sang Anak tertuanya.


"Dan cinta yang diberikan Natasha untuk ku, menyadarkan ku akan ketulusan dan Aku merasa sangat berharga di matanya." Ungkap Faaz, "Tidak saat Aku dengan Rayna, dulu Aku menerima semua kebohongan Rayna dan menutupinya dengan cinta. Aku lelah Pah." Curahan hatinya kini keluar dengan bebas di iringi air mata nya bercucuran, Faaz memang sudah tidak bisa menutupi setiap kesalahan demi kesalahan istrinya itu.


"Papa, sudah tidak bisa berkata apa-apa Kak." Ucap Rido, "Papa hanya menyayangkan sikap mu pada Rayna, Kau membentaknya. kau membuatnya tertekan setelah kau memberinya harapan kehidupan." Ucap Rido kembali.


"Maafkan Aku Pah, Aku sudah tidak ingin melanjutkan pernikahan ini. Aku tidak ingin menyakiti keduanya." Ucap Faaz.


"Dan pada Akhirnya, Sebagai lelaki! Aku harus memilih salah satu dari keduanya," Faaz mengambil nafas dalam-dalam, Ia menatap wajah Rido. air matanya terlihat menyeluruh.


"Aku harus memilih Natasha, " Jawab Faaz, "Faaz gak bisa Bersikap Adil Pah, " Jawab Faaz kembali.


"Tidak Adil untuknya jika seperti ini Faaz." Ucap Natasha, Ia menghampiri Faaz dan Ayah mertuanya.


"Jika seperti ini Aku mundur, Aku akan pulang bersama Papa jimmy dan hidup bersama Papa kembali tanpa adanya rasa saling menyakiti." Ucap Natasha.


"Natasha," Rido terkejut mendengar apa yang Natasha ucapkan.


"Papa, Aku tak tahu jika Rayna masih hidup. tapi saat ini Aku tahu dan menyaksikan ia mempertaruhkan jiwa nya untuk tetap hidup di samping Faaz." Ucap Natasha berderai Air mata, "Aku tidak bisa bersikap Egois, Aku tidak ingin menjadi benalu di dalam kehidupan Kak Rayna Papa." Ungkap Natasha, Rido memeluk Natasha. Ia melihat sosok May ada pada Natasha.


"Aaleesya membutuhkan kalian, Aaleesya membutuhkan ibu kandungnya dan juga Ayahnnya." Ucap Natasha, "Setidaknya, lihatlah Aaleesya sebelum kau melihat ku atau Rayna." Ucap Natasha kembali.


"Dia tidak membutuhkan Rayna, Aaleesya membutuhkanmu. bahkan Ibu yang melahirkannya berkata menyesal karena telah melahirkannya ke dunia, Karena telah berjuang hingga ia koma." Ucap Faaz, "Hal itu adalah alasan mengapa Aku ingin meninggalkan Rayna" Ucap Faaz kembali.


"Bahkan Ia merasa menyesal karena sudah memberikan kehidupan kepada Anaknya." Decih kesal Faaz mengingat Ucapan Rayna saat itu.


"Faaz, Aku mohon. jangan buat Aaleesya berdosa karena ia tidak tahu ibu kandungnya siapa. dekatkan dia dengan Kak Rayna, Aku mohon." Natasha mengatupkan kedua tangannya dihadapan Faaz, "Rayna berkata demikian karena merasa kecewa dan tertekan." Ucap Natasha kembali.


"Tidak Nat, Sudah terlambat. Aku sudah menalak nya, Dan itu sudah sah karena Aku dalam keadaan sadar." Ujar Faaz.


"Aku merasa berdosa, Aku merasa menjadi perusak hubungan kalian Faaz." Ucap Natasha, "Papa, Tolong beritahu Faaz. Suruh dia merangkul Rayna, membuatnya sembuh dan mengerti mengenai pernikahan kami." Ucap Natasha kembali, Ia merajuk kepada Papa mertuanya berharap Rido mau membujuk Faaz.


"Jika tidak mau, biarkan Aku pergi." Ancam Natasha, "Biarkan Aku pergi." Ancam Natasha kembali., Faaz menatap wajah Natasha, berharap Natasha menarik kembali perkataannya.


"Papa sudah tidak mampu berkata apapun, Papa merasa bersalah kepadamu dan juga Rayna." Rido pergi meninggalkan mereka dengan untaian Kalimat yang membuatnya bersedih, Faaz duduk di atas sofa, menyenderkan setengah badannya dengan sangat lemas.


"Kau harus memikirkan keinginan ku, Ingat Faaz Bagiku kesabaran tak mengenal batas. jika saja kau bisa sedikit sabar seperti Papa mu, kau akan merubah keras menjadi lunak." Ucap Natasha seraya meninggalkan suaminya, Natasha hanya ingin membuat Rayna sembuh Total terlebih dahulu. karena baginya, Rayna berhak memiliki kehidupan yang layak seperti sebelumnya.


"AaaarrrrrRrrghhh." Teriak Faaz, Ia mengucek wajahnya dengan sangat frustasi bahkan sesekali tangannya mengepal keras.


"Faaz Temui Rayna, Ia bertanya keberadaan mu sedari tadi." Seru Zain yang datang menghampiri Faaz, Faaz beranjak dari duduknya. Ia mengambil nafas nya dengan berat, rasanya kepalanya akan pecah saat kini Ia menghadapi permasalahan yang begitu rumit. Zain mencoba menguatkannya, Faaz pun memeluk Uncle Nya dengan sangat nyaman.


"Aku cape Uncle, " Ucap Faaz


"Kau lelaki, Kau harus bisa bertanggung jawab dengan apa yang sudah kau lakukan." Tutur Zain, "Pergilah temui istrimu, Ia sedang menunggu mu." Ucap Zain kembali,


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2