TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Sidang Untuk Alea dan Merasa bersalah


__ADS_3

"Mbak tolong ajak aaleesya ke kamarnya untuk segera tidur dan sebelumnya ajak dia mandi dengan air hangat" pinta Faaz kepada natasha


"Baik Tuan" Jawab Natasha sembari menundukan pandangannya, Faaz yang sudah berjalan di depan natasha menghentikan langkah kaki nya. Lalu, membalikan badan dan menatap Natasha yang masih terdiam menunduk.


"Nama kamu siapa?, maaf saya lupa ?" Tanya Faaz dengan nada yang tegas menambah rasa tegang di wajah Natasha.


"Saya Natasha Tuan" jawab Natasha dengan tetap menundukan pandangan.


"Baiklah, apa kamu tidak keberatan saya panggil kamu Nata Atau tasya?" Tanya Faaz karena menurutnya terasa canggung jika dia memanggil gadis itu dengan sebutan Mbak atau ibu, Natasha memang masih sangat belia untuk mengasuh tetapi dengan apa yang dilakukan nya sangatlah hebat menurut papa Rido yang memberitahukan Faaz.


"oh iya sekali lagi sebelum kamu pergi untuk membawa anak ku tidur, tolong pastikan bahwa dia sudah meminum obatnya" ucap Faaz yang segera berjalan meninggalkan Natasha.


''Perasaan aku belum menjawab apa yang bisa dia pakai untuk memanggil ku, haaaah sudahlah lupakan" gumam natasha sembari melengos menghampiri Aaleesya.


****


Malam itu suasana sedang Hening, Faaz sedang menunggu kedatangan Fizzy. Faaz berniat untuk menanyakan perihal permasalahan yang terjadi Antara Maliq dan Alea, Kedua adik nya yang selalu saja tidak Akur. Maliq sudah berada dihadapan Faaz duduk dengan Posisi menundukan kepala, Faaz menatap lurus kearah Maliq dan Maliq merasa canggung melihat tatapan itu.


"Faaz, ada apa kau menyuruhku kesini?" Tanya Fizzy, "dan untuk Apa dia disini menunduk seperti itu" sembari menunjuk kearah Maliq.


"kau melakukan ulah apa lagi maiQ, ampun deh " ucap nya kembali sembari menatap tajam kearah maiQ , lalu fizzy duduk disamping saudara kembarnya.


tidak lama kemudian mael datang bersama Alea, karena sebelumnya Faaz meminta Mael untuk pergii memanggil Alea dan memeriksa keadaan papa nya.


"Apa papa sudah tidur?." Tanya nya kepada Mael, Faaz melirik juga kearah Alea dengan tatapan tajam dan memintanya duduk, "duduk kau disamping adik mu!!!" pinta Faaz, Alea menuruti keinginan Kakanya itu dengan wajah yang terlihat takut, Alea terdiam tanpa bersuara.


"Papa mu sudah tidur dan sebelumnya papa Rido memintaku untuk melakukan panggilan video bersama mama juga papa ku jadi aku terlambat memanggil dia untuk mu " Mael mencoba menjelaskan namun Faaz menatap kearah Mael dan mengerutkan dahinya berharap Mael menghentikan celotehannya dan jika Faaz sudah seperti ini siapapun tak berani membantahnya, Mael terdiam duduk disamping Fizzy.


"Apa yang kau lakukan kemarin ?." tanya Faaz kepada Alea dengan  tegas membuat Alea sangat ketakutan.


''Kau tak perlu menangis dihadapanku, aku sudah beberapa kali bilang jika kau tak ingn mengikuti aturan rumah ini silahkan pergi dan jangan pernah kembali !!!" Faaz mengatur nafas nya seperti nya Faaz memang sudah sangat kesal dengan apa yang dilakukan adik-adiknya itu.


"Aku minta maaf kak, aku janji tak akan mengulanginya kembali" ucap Alea seraya menundukan pandangannya. dia tak mampu menatap mata kaka nya itu, baginya Alea sudah sangat keterlaluan.


"Alea, kami sangat menyayangimu. kakak tau kamu itu gaul tetapi jika prilaku mu dimasukan ke sosial media kau bukan hanya mempermalukan diri sendiri tetapi kau telah mencoret wajah papa juga alm mama." seru Faaz dengan lembut kepada adiknya, dia memang terlihat cuek tetapi sebenarnya dia tahu apapun yang dilakukan adiknya.


"Maksud kamu apa Faaz?, mengapa aku tak tahu?" Tanya Fizzy sembari mengerutkan dahinya, Fizzy menoleh kearah adiknya Maliq dan memberikan kode supaya Maliqh memberitahunya. maliqh pun mulai bercerita apa yang ia ketahui.


"Aku melihat di ponsel teman ku karena sosial mediaku di block olehnya, lalu temanku memberitahukan kepadaku dan aku menegurnya. aku mengancam nya akan memberitahu kaka tapi itu hanya ancaman saja tetapi kaka faaz sudah tahu duluan dan dua hari yang lalu aku dan alea berantem, papa melerai kami lalu..." Maliq menghentikan perkataan nya karena Alea menginjak kaki Maliq, Ia yang meringis kesakitan tak kuasa menahan rasa sakitnya itu.


"aAwrghhh... mengapa kau menginjak ku" seru maliq yang meringis kesakitan.


"LALU APA ?? AYO KATAKAN ??" Tanya Fizzy dengan menajamkan matanya, sepertinya bola mata fizzy akan keluar dari tempat asalnya.


"lalu dia mendorong papa hingga jatuh, untung ada pengasuh itu dia yang menyelamatkan papa dan dia mengantar papa ke kamar lalu menenangkan papa yang sedang merasa kaget itu setelah itu mereka melanjutkan perkelahian nya di taman ini " Ucap Faaz dengan sangat tegas, jelas dan lugas membuat maliQ dan Alea memnunduk karena merasa malu juga takut.


"kalian maksudnya apa kaya gitu hah ?? Faaz kamu gak bisa diem aja dong, apa dia akan membuat papa kita mati jantungan kaya dulu saat kau dan Maliq berantem dikarenakan maliQ membela Ayana." tanya Fizzy yang berdiri dan mendekap kedua tangannya didada lalu menghela nafas yang sangat berat karena menahan amarahnya.


"Dan seperti kemarin aku juga sangat kesal dengan tingkah Alea kak, selama Ayana kemarin disini Alea selalu saja membuat Ayana menangis, bahkan foto mama yang terpampang dikamar Ayana diambil olehnya." ungkap Maliqh


"Faaz apa yang akan kamu lakukan Alea sudah cukup membuat kita selalu marah." Tanya Fizzy, seolah Ia tak ingin mengampuni sikap Alea.


"Alea, kaka ingin bertanya kepadamu ? apa yang kau inginkan dan mengapa sikap mu jadi seperti ini ?" tanya Faaz, Faaz memandang wajah Alea lalu memandang kearah fizzy dan menggerakan matanya kearah kursi kosong disamping Mael , tanda Faaz meminta Fizzy agar duduk dengan tenang.


"Alea, lihatlah Qabil. dia mengalami trauma yang sangat berat saat ibu dan ayahnya meninggalkan selamannya. dia mampu untuk bangkit dari traumanya demi kehidupannya. kakak mohon tidak ada kutukan atas dirimu semua sudah tertulis di tangan tuhan. kita tidak bisa mengubah apapun." seru Faaz sembari berjalan menghampiri adiknya itu.


"kaka tidak pernah memaksa jika kau belum bisa memakai hijab tapi tolonglah kenakan pakaian tertutup, kaka tidak pernah memaksa kau harus menjadi apa yang kaka inginkan tetapi cobalah kau berbuat baik kepada saudara mu sendiri. Buang lah semua trauma pada dirimu ?" ungkap Faaz kembali sembari memeluk adik perempuannya itu.

__ADS_1


"Maafkan aku kak, Aku tak tahu mengapa aku sering melakukan hal konyol diluar batas seperti itu" ucap Alea seraya menangis di pelukan kakak tertuanya itu.


"baiklah, hukuman tetap hukuman kaka sudah memaafkanmu tetapi kaka akan menonaktifkan semua kartu kredit mu juga debit mu selama sebulan. kaka juga akan menarik kunci mobil mu selama satu bulan. kaka akan memberikan uang saku hanya secukupnya saja dan kamu tidak mendapatkan pembelaan dari siapapun termasuk dari Papa! mengerti ?." Tanya Faaz kembali.


"kaka kumohon jangan seperti itu" pinta Alea seraya memohon kepada kaka nya itu.


"dan kau harus menjauhi teman-teman sosialitamu !!."  seru Fizzy yang berlalu meninggalkan kakak dan juga adiknya.


"Fizzy ....... " panggil Faaz tetapi fizzy tak ingin membalikan badan karena amarah nya sudah memuncak untuk adik-adiknya itu, Faaz menatap Maliq lalu faaz menarik tangan maliQ.


"dan kalian harus saling meminta maaf !! ayo ??" Faaz mendekap kedua tangannya di dada bidangnya itu, dia menatap kedua mata adiknya dengan mata yang tajam.


"Aku minta maaf kak" Ucap MaliQ kepada Alea.


kaka ,, dasar bermuka dua ..cih!!!!!! - batin Alea.


"aku juga maiQ" ucap Alea seperti terpaksa meminta maaf.


"baiklah keputusan kaka sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat dan untuk mu MaliQ kaka memending untuk membelikan mu mobil yang kau mau, kau bisa memakai mobil Alea untuk sementara" ucap Faaz dengan tegas.


"baik kak " seru MaliQ dengan nada yang lemas.


"kalian boleh kembali dan tidurlah dengan nyanyak" ucap Faaz sembari mempersilahkan adik-adiknya untuk pergi dari hadapannya.


keesokan harinya.....


Sore itu Faaz lebih dulu pulang dari kantornya karena Faaz benar-benar harus menerima laporan kesehatan ayahnya dari Om richard kesayangannya ituom richard memang bertugas di jerman dia masih sama seperti dahulu tetapi untuk keseluruhan Medical check up ayahnya dia selalu mempercayakan kepada om nya itu .


"Apakah omku sudah datang dari Jerman ?" Tanya Faaz kepada Abrar, (Abrar adalah orang yang dipercaya Faaz dalam menjaga rumah nya, Abrar juga yang menjaga dan memberikan obat untuk papa rido selain itu abrar adalah salah satu mata Faaz jika sedang tidak berada di lingkungan rumah).


"Lalu mengapa kau tak memberitahu ku mengenai ini?." Tanya Faaz seperti kesal karena Abrar tak menghubunginya saat Rido mengeluhkan sakit.


"Maafkan saya tuan, Tuan Rido yang meminta saya untuk tak memberitahu Tuan" Abrar bericara sembari menundukan kepalanya, Abrar merasa takut jika Faaz marah kepadanya.


"Iya sudah lupakan, jika lain kali Papa meminta mu seperti itu kau tak perlu mendengarkannya" pinta Faaz, Faaz berlalu meninggalkan Abrar yang terdiam di depan pintu utama rumah. Faaz menghampiri ayahnya yang sedang duduk di kursi tepat dibelakang rumah.


"Tuan tarik nafasnya lalu buang, setelah itu Tuan pejamkan mata dan bayangkan Hal-hal yang sangat indah yang pernah tuan lalui. jernihkan semua pikiran Tuan hingga membuatnya ringan kembali lalu tuan tarik lagi udara melalui hidung dan buang dengan pelan" ucap Natasha yang sedang mencoba membuat tuannya rileks.


Faaz melihat semua yang sedang natasha lakukan, karena menurutnya ini hal yang sangat positife yang seharusnya papa nya lakukan setipa pagi ataupun sore hari. Faaz melihat anaknya begitu tenang didalam gendongan Natasha yang memakai samping itu.


"Siapa sebenarnya wanita ini? mengapa dia sangat memperlakukan Papa dengan sangat baik. apa sebenarnya tujuan dia masuk kedalam keluarga ku", Faaz menatap lekat wajah Natasha, "haaaahhhhh sudahlah mengapa aku memikirkan hal buruk setelah dia melakukan banyak hal baik dirumah ini" - batin Faaz bergumam


Faaz mendekatkan tubuhnya dengan berjalan menghampiri papanya, natasha menyadari kehadiran Faaz lalu Faaz meminta natasha bungkam karena Faaz senang menatap wajah ayahnya yang sangat terlihat segar itu. Faaz memilih diam dibelakang Papa nya dan Natasha merasa canggung saat Faaz berdiam diri menatap kearahnya.


"Tasha ?? saya sudah cukup bukan ?" Tanya Papa Rido.


"Emmm...sudah tuan" ucap Natasha.


"Saya merasakan kesegaran di otak saya dan mata terlihat lebih fress, terima kasih ya nak kau memang anak yang baik" puji Rido kepada Natasha, Natasha masih terlihat canggung karena Faaz tetap meluruskan pandangan terhadapnya. Natasha mengira Bahwa Faaz marah saat Natasha memberikan perintah kepada papanya justru sebaliknya Faaz begitu sangat senang akan Hal itu.


"Mengapa tak kau lanjutkan?." Tanya Faaz, Rido menoleh kearah suara anaknya itu dan tersenyum manis dengan khasnya itu.


"Kau sudah pulang nak ?" Tanya Rido.


"Natasha mengajak ku menjernihkan otak, dan itu sangat bermanfaat untuk Papa bukan? " Seru Rido dengan tersenyum manis kearah anak nya itu.


Faaz terdiam dan terus menatap Natasha, kali ini Faaz bukan menatap tajam tetapi menatap dengan tatapan kagum kepadanya dan Rido mulai menyadarkan anak nya itu karena melihat natasha merasa canggung saat Faaz menatapnya seperti itu.

__ADS_1


"Faaz..... KING FAAZ ????" panggil papa menyadarkan Faaz, dan kembali berbicara kepadanya .


"Apa kau marah dengan apa yang dilakukan Natasha ?." tanya Rido .


"Tidak, pah hanya saja" Faaz terlihat salah tingkah, "emm apa kau bisa menidurkan dulu anak ku yang tertidur terlelap di gendonganmu, dan aku tidak menyukai itu. dia akan merasa kan sempit dan gerakannya nanti kurang baik untuk perkembangannya, hanya itu pap" Ungkap Faaz yang menyembunyikan rasa kagumnya itu, dia merasa Malu jika harus memuji Natasha.


"Maafkan saya tuan, saya pamit untuk menidurkan nona kecil dan akan segera kembali dengan membawakan buah segar untuk Tuan Rido" seru Natasha sembari meninggalkan tuannya itu.


(apa yang kau lakukan natasha, kau sudah membuat tuan Faaz marah .. yatuhan maafkan aku - gumam natasha dalam hatinya)


"apa aku terlalu keras dengan pengasuh itu? ya ampun kenapa aku menjadi lelaki kejam seperti ini" - gerutu Faaz di samping papanya itu.


"Dia anak yang baik, menurut carry dia sangat lah polos. papa meminta Abrar mencari tahu tentang keluarga nya dan Abrar menemukan info bahwa dia tinggal bersama ibu tirinya dan setiap hari dia selalu bekerja setelah sepulang kuliah, dia juga kuliah mendapatkan beasiswa. betapa malang nasibnya dia harus melupakan beasiswa nya itu" Ungkap Rido seraya memberitahu info yang ia dapat.


"Papa aku kesini ingin melihat keadaan mu dan mengapa papa malah memberikan info yang tidak penting untuk ku" Dahi Faaz mengernyit kesal, "ayo sekarang jelaskan mengapa papa tadi merasakan pusing dan meminta Abrar untuk tidak memberi tahuku ??" Tanya Faaz kepada papanya itu.


"Anak papa yang tampan, papa hanya tidak ingin kau merasa khawatir. dan itu hanya pusing biasa. percayalah anak ku?" jawab Rido sembari menggenggam tangan Faaz, Faaz membalas dengan pelukan hangat untuk Papanya itu.


"Papa, jika terjadi sesuatu kepada mu. aku tak akan memaafkan diriku sendiri!" Wajahnya kini saling bertatapan, "kumohon papa jangan pernah membuatku merasa bersalah terus, aku ingin papa selalu baik-baik saja. aku dan adik-adik sangat membutuhkan papa. ku mohon percayalah!!! " Tutur Faaz dengan Lembut sembari menyeka air matanya.


"Maafkan papa, papa sudah salah kepadamu Faaz. papa janji tidak akan mengulanginya kembali." ucap Rido mencoba meyakinkan Faaz.


( Faaz , om sudah menyimpan di ruanganmu. om sedang menunggu aba-aba darimu jika semua sudah siap om akan mengajak semua keluar untuk memberikan surprise itu ) - pesan Om Richard .


.


.


.


.


.


ditempat lain Mael dan Alea sedang meyiapkan surprise kecil untuk papa nya itu di taman luas belakang rumah. taman ini banyak sekali kenangan bersama mama nya, Alea menangis sembari menyiapkan semuanya. Alea mencoba melupakan setiap masalalu bersama orang-orang yang dicintainya, Ia selalu mengutuk keras akan dirinya.


saat itu alea berjongkok menutup matanya dan menangis. Mael mencoba menenangkannya.


"Kau tak perlu mengutuk dirimu terus menerus Lea ,comeon bangkit !! " Ucap Mael.


"Sudahlah lupakan saja, aku tidak apa-apa!! tak perlu membuat drama disore hari" Ucap Alea seakan menyembunyikan kesedihannya.


"aku akan membawa ponselku , sebentar saja " ujar ALea , Ia memang seperti itu dia selalu tak ingin menunjukan kesedihannya dihadapan siapapun.


" masih saja sama anak itu hmmm " - gerutu Mael


.


.


.


.


*note : foto papa rido yang sudah tua masih gagah kan , mirip sekali dengan Faaz bukan ??


__ADS_1


__ADS_2