TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Ungkapan Hati Alea


__ADS_3

Semua sedang di urus dengan baik oleh Zain dan Richard karena Maliq dan Noni harus menemani Alea dan juga Rido.


Terlihat dengan jelas, Qabil seperti meninggal dalam keadaan yang sangat baik. Wajahnya bercahaya, senyum nya pun sangat tampan.


Ia seakan sudah menerima dengan ikhlas kepergiaan dirinya, Fizzy duduk di kursi ruang tunggu. Aliq memeluk istrinya, dan Alea sedang menerima perawatan karena tak kunjung sadar dari pingsan nya.


Ayana dan Mael menemani Faaz untuk menemui Natasha, mereka berniat untuk memberitahu kabar kematian Qabil.


Pintu ruangan Natasha pun terbuka, Faaz berjalan dengan langkah kaki yang terlihat berat. Ia menatap wajah istrinya, bibir nya terasa kelu. Ia tak mampu memberitahu kabar tersebut, "kenapa dengan mu suamiku? Apa hal buruk sedang terjadi? " Tanya Natasha.


Semua terdiam tanpa bicara, Ayana menghampiri Natasha. Ia memeluk tubuh kakak iparnya dan menangis tersedu-sedu, "Qabil kak! " Lirihnya dalam tangisan.


"Ada apa dengan nya?," Natasha menatap wajah Ayana, "Ayana! Katakanlah!, Ada apa?"


Mael pun tertunduk, "Mael?" Tanya Natasha, ia pun menoleh kearah suaminya, "Suamiku! " Panggil nya kembali.


"Mael kau mendengar ku kan? " Tanya nya kembali, "Mengapa dengan kalian?, apa telinga kalian terganggu!, ada apa? " Mereka masih terdiam dan terdiam tanpa menjawab pertanyaan yang Natasha berikan, Ayana pun masih menundukkan kepalanya, air mata yang sedari tadi menetes itu pun keluar tanpa henti.


Mael duduk di sofa dengan tatapan yang kosong, Faaz menekuk kan kepalanya hingga tertumpu di atas lutut.


"Baiklah jika kalian tidak mendengar pertanyaan ku!, aku akan mencari tahu sendiri ruangan Qabil" Ucap Natasha. saat ia akan beranjak dari tempat tidur nya, Ayana kembali memeluk tubuh Natasha.


"Qabil meninggal Kak!" Ucap Ayana sembari menangis, tangisan keras hingga Isak kan dari bibirnya terdengar sangat merasakan kehilangan.


Kepergiaan Qabil menyisakan luka yang teramat dalam, Qabil memang sangatlah baik. Bagi mereka, Ia bagaikan kertas putih tanpa coretan pena.


Natasha terkejut mendengar kabar itu, air matanya terjatuh menyeluruh. Tatapan kosong pun terlihat dari matanya seakan ia merasa tidak percaya akan kabar itu, "Qabil.. " Lirih Natasha memanggil namanya, Helaan nafasnya pun terdengar berat.


"Mengapa dia meninggalkan kita secepat ini! " Ucap Ayana yang masih memeluk Natasha dengan erat.


Tangisan histeris terdengar dari bibir Natasha, "Faaz mengapa dia meninggal secepat ini? "


"Dia sudah menyelamatkan kami!, dia benar-benar pahlawan untuk kami! " Ucap Natasha, "Antar kan aku untuk melihat nya!, aku mohon!! " Pinta Natasha,


Faaz memeluk Natasha dan Ayana, Faaz pun tak kuasa menahan air matanya. Ia menangis dan sangat terlihat merasa kehilangan, "Maafkan Aku, aku tak mampu menyelamatkan nya!, " Ucap Faaz seraya merasa sangat terpukul dengan kepergiaan Qabil, Faaz merasa sangat tidak berguna karena Qabil lah yang menyelamatkan Adik, istri serta anak yang berada di dalam kandungan Natasha.


Zain datang menghampiri Faaz ke dalam ruangan Natasha untuk mengabari jika jenazah Qabil sudah bisa dibawa pulang, bahkan Alea yang sedari tadi merasa sangat Shock kini sudah berada di samping jenazah Qabil.


Faaz merasa tidak mampu untuk menatap wajah adiknya, wajah memelas Alea selalu terbayang di dalam pelupuk mata Faaz.


"Faaz Aku ingin pulang sekarang! " Natasha memohon untuk pulang bersama mereka, "Aku mohon, mintalah pada dokter agar aku bisa pulang bersama kalian" Paksa Natasha saat itu.


Faaz mengangguk pelan, Faaz pun meminta Mael untuk mengabari Dokter yang merawat Natasha agar dapat memberikan ijin untuk Natasha bisa pulang bersama nya.


Dan setelah beberapa menit berlalu, Mael pun memberi kabar bahwa Dokter mengijinkan Natasha untuk pulang. Dokter juga memberikan secarik surat kontrol pasca Nifas untuk Natasha, Natasha segera berganti pakaian dan duduk di atas kursi roda.


Mael mendorong kursi roda tersebut, mereka bersama beriringan berjalan menuju ruang jenazah.


"Saudara ku.. walaupun kau dan aku baru saja bertemu, aku merasakan rasa kasih sayang mu kepada ku seperti saudara yang telah lama bersama!" Gumam Natasha di dalam hati, air mata nya tak kunjung surut. Air mata kesedihan terus menerus mengalir membasahi pipi Natasha.


Mereka sudah sampai di depan ruang jenazah, Rido duduk di kursi tepat di hadapan ruang jenazah itu. Ia sadar akan kehadiran Natasha di sana, Rido segera menghampiri menantu kesayangan nya itu.


"Anak ku!," Panggil Rido.


"Papah," Natasha memeluk Rido, ia menangis terisak di dalam pelukan Papa mertua nya.


Fizzy juga bergantian memeluk Natasha dengan erat, Isak tangis pun menyelimuti ruang jenazah itu.


namun tidak dengan Alea. Air mata itu seakan habis tak bersisa, ia hanya menatap jenazah Qabil yang terbujur kaku dihadapan nya.


"Maliq.. " Bisik Noni di telinga Maliq, Noni memperhatikan Natasha yang terlihat sangat cantik.


Maliq menoleh, "Itu yang namanya Kak Natasha? " Tanya Noni, Ia pun mengangguk pelan tanda mengiyakan pertanyaan Noni.


"Dia benar-benar sangat terpukul! " Ucap Noni kembali,


"Jelas saja Noni, Qabil adalah sepupu Natasha. Dan jika saja kau tahu, mereka baru saja bertemu." Jawab Maliq.


"Maksud mu? " Bisik Noni kembali.


"Nanti aku ceritakan!, " Jawab Maliq.


Faaz kembali mendorong kursi roda yang sedang Natasha tumpangi, Faaz mendorong nya agar Natasha bisa mendekati Alea dan Qabil.


Alea sadar akan kedatangan Natasha, Alea terlihat segera memeluk Natasha. "Kak Nat! " Ucap Alea sembari menangis terisak-isak, "Qabil meninggalkan ku kak! " Rancu nya meracau kembali.


Tangisan itu seakan terbangun kembali, "Kau tahu, hari ini seharusnya kami terbang ke Turkey untuk berbulan madu! Tapi dia malah meninggalkan ku"


"Alea,.. Sudah" Ucap Natasha sembari mengusap lembut punggung Alea.


"Aku yakin dia sudah tenang di sisi Tuhan!, ikhlaskan dia sayang" Tutur Natasha sembari menangis tersedu-sedu.


"Ringankan langkahnya, aku yakin Qabil merasa beruntung karena telah di cintai oleh kamu! " Tutur nya kembali.


Alea kembali memeluk tubuh kakak iparnya, bahkan kini Faaz juga memeluk tubuh mereka bersamaan. Semua pun menangis melihat kesedihan diantara mereka.

__ADS_1


"Ayo kita pulang," Ucap Zain, Petugas sudah membawa Qabil memakai peti besi dan memasukan nya kedalam mobil jenazah. Alea memaksa ingin ikut bersama Qabil di dalam mobil tersebut, dan saat itu Zain dan Noni pun menemani Alea di dalam mobil tersebut.


Di dalam perjalanan, Alea kembali berceloteh. Ia mengungkapkan segala rasa nya kepada Qabil, Zain yang mendengar ocehan Alea pun merasa sangat iba ketika mendengar nya.


Zain teringat saat-saat kehilangan istri tercintanya, mungkin saat ini perasaan Alea sama seperti perasaan nya 23 tahun yang lalu.


"Qabil tahukah dirimu?, Ketika aku merasa seseorang sangat mencintaiku, Semuanya terasa indah saat itu bahkan setiap jam yang kita habiskan bersama, kenangan itu akan tinggal selamanya di dalam hatiku" Tuturnya sembari memeluk peti besi yang berisikan tubuh Qabil.


"Qabil dan ingatkah ketika aku bersedih?


Kau selalu ada untuk ku, menyeka air mataku bahkan kau mencoba menenangkan hati ku! "


"Dan ketika aku merasa sangat senang, kau juga akan ikut merasakan nya bahkan, kau menunjukan pada ku perasaan senang mu"


"Bagaimana mungkin Qabil aku bisa melewati musim panas dan musim gugur tanpa mu, tanpa kita saling memiliki, tanpa saling bertatap muka seperti dulu"


"Aku tahu Tuhan telah mentakdirkan perasaan kita menyatu, tapi mengapa kau meninggalkan ku terlebih dahulu? "


Zain mendengar setiap kalimat yang Alea ucapkan sembari menahan isak tangisnya, namun isak tangis itu pun tak bisa ditutupi oleh Alea, ia menangis sembari berbicara dan Zain tak henti mengusap lembut punggung keponakannya itu.


"Sayang!, menangis lah. Habiskan air mata mu lalu ikhlaskan kepergiaan nya." Sembari meneteskan air mata, Zain mencoba menenangkan Alea.


"Iya menangis lah Alea, menangis lah... keluarkan air mata mu bahkan, hingga kau tak mampu untuk meneteskan nya kembali! " Timpal Noni, tangan nya terlihat menggenggam tangan Alea.


"Uncle, Noni tahukah kalian? ketika aku merasa kesepian, dia selalu ada untuk menenangkan ku, Dan aku tau bahwa dia mencintaiku" Ujar Alea, "Tahun-tahun itu berlalu dengan kebahagiaan, dia tetap sama dan tidak pernah sedikit pun berubah, dia selalu memperlakukan ku wanita spesial! " Tutur Alea kembali.


"Tapi kini dia mulai menjauh dan Aku ditinggalkan sendirian olehnya, dia meninggalkan ku sendiri Uncle! " Lirih Alea kembali sembari menepuk pelan peti besi itu.


Alea menyeka air matanya, "Tapi Qabil, dengarlah... aku akan tetap menunggu sampai suatu hari kita bersama kembali dan aku yakin kamu akan berkata aku akan selalu mencintaimu kembali"


"Seperti kalimat-kalimat sebelumnya yang selalu aku dengar keluar dari dalam bibir mu! " Tangisan itu pecah kembali, sembari bersandar di bahu Uncle nya itu. Ia menumpahkan semua sisa air mata yang kini membasahi kembali pipinya,


"Alea, aku pernah merasakannya, bahkan lebih dari apa yang kau rasakan!"


"Aku harus mengurus Ayana tanpa sosok seorang istri!, dan apakah kau tahu saat dia meninggalkan ku, Aku sedang merasa sangat mencintainya"


"Dan inilah alasan mengapa Uncle atau Papa mu tidak menikah lagi!"


"Apa alasan nya Uncle? " Tanya Alea.


"Alasan nya adalah Uncle serta Papa mu ingin kembali memberikan rasa cinta kepada mereka yang pernah kami cintai, Uncle ingin memberikan rasa seperti saat dia mencintai Uncle dahulu."


"Karena sejatinya, Ketika seseorang saling mencintai, semua rasa itu akan terasa indah dan benar kata mu setiap jam yang kita habiskan bersama, akan selalu tinggal di dalam hati." ucap Zain kembali, "Tapi tidak ada salahnya kita berusaha untuk mengikhlaskan nya, Qabil akan semakin bahagia jika seperti itu" Ucap nya kembali.


"Apa Qabil akan menunggu ku? Apa aku wajar seperti anak kecil yang kehilangan barang kesayangannya dan meratapi nya sembari menangis seperti ini? " Tanya Alea kembali.


"Mereka bertanya, mengapa wanita menjadi manusia yang sering sekali menangis? " Ucap Zain, "Tuhan pun menjawab, karena Aku menciptakan seorang wanita sebagai mahluk yang istimewa."


"Walau air mata nya seringkali menetes, aku kuatkan bahu nya untuk menjaga anak-anaknya, dan Tuhan pun berkata, bahkan aku lembut kan hatinya untuk memberikan rasa nyaman"


"dan mengapa wanita sering menangis? Karena aku memberikan hati yang mulia untuknya agar ia dapat merasakan Cinta yang sangat besar" Ucapnya kembali.


"Jadi, tidak mengapa kau menangisi kepergiaan Qabil, namun kau harus bisa mencari cara agar dapat mengikhlaskan nya" Ucapnya kembali.


Alea mendengarkan apa yang sedang Zain ucapkan, sedikitnya perbincangan mereka membuat perasaan nya sedikit lebih tenang.


"Mengapa dengan otak ku!, mengapa aku merasa jika Qabil ingin aku pergi bersamanya!, Tidak.. Tidak!! " Ucap Alea dari dalam hatinya, sembari menggelengkan kepalanya dengan pelan ia seakan mencoba menukas keinginan dalam dirinya.


Mereka pun sudah sampai di kediaman rumah mereka, petugas sudah menurunkan peti jenazah Qabil. isak tangis pun kembali terdengar, bahkan semua pelayan yang bekerja di dalam rumah Rido pun ikut menyambut kedatangan Jenazah itu.


Zain dan Noni pun memapah tubuh Alea, air mata Alea kembali keluar dari dalam mata nya. tak hanya itu, lutut nya kembali melemah, angin pun seolah menusuk ke dalam tulang nya, bulu kuduk seakan berdiri dan sekujur tubuh Alea terasa sangat dingin dan menggigil.


"Uncle" panggil Alea dengan pelan, ia menghentikan langkah yang sedari tadi terseret dengan pelan, "Noni! " Panggilnya kepada Noni sesaat memanggil Zain.


Zain pun ikut berhenti dan bertanya, "Kau merasa pusing?, " Tanya nya, Alea mengangguk pelan.


"Uncle Zain, mungkin Alea belum makan! " Ucap Noni.


Zain menatap lekat wajah Alea, "Uncle gendong kamu iya? " Ucap Zain kembali, namun Alea menolak "Tidak perlu Uncle, aku hanya merasa sesak! " Ucap nya memberitahu Zain.


Mungkin, ia merasa sesak karena harus terus menerus mencoba menerima keadaan meninggalnya Qabil.


"Aku belum yakin Qabil meninggal Uncle!" Ucapnya kembali.


"Dia masih hidup kan Noni?! " Tanya Alea kepada Noni, Noni menyembunyikan air matanya. ia begitu sangat iba melihat keadaan ini, apalagi Alea yang merupakan pasien nya sedang berusaha menerima kenyataan yang ada pada dirinya itu.


"Noni, mengapa ini gelap sekali? " sembari melihat keatas Alea bertanya, "Apakah Tuhan juga akan mengambil diriku? " Tanya Alea kembali.


"Sayang, kau harus istirahat! biar Uncle antar kan kau ke kamar mu." Ujar Zain, "Nanti Noni akan menemani mu! " Ujar Zain kembali.


Zain dan Noni mengantarkan Alea untuk beristirahat ke dalam kamarnya, di dalam kamar Alea berbaring di atas tempat tidur miliknya hingga ia menekuk kan tubuh nya, pandangan nya kembali kosong, air mata nya pun terus mengalir.


Noni mengusap lembut kepala Alea, "Alea, tarik nafas mu dan buang perlahan. Kau bisa kan? " Tanya Noni, Alea mengangguk pelan.


Maliq datang bersama Ayana, mereka begitu sangat senang melihat Alea yang terlihat lebih tegar walaupun mereka tahu, di dalam hatinya Alea menyimpan duka yang amat dalam.

__ADS_1


Maliq sedikitnya merasa lega, ia pun segera berpamitan kepada Ayana, "Ayana, temani Noni untuk menjaga Alea iya. Aku akan membantu proses pemandian jenazah Qabil" Bisik nya, Ayana pun mengangguk pelan.


Ayana merebahkan dirinya di samping Alea, ia menatap wajah Alea yang sedari tadi meneteskan air matanya tanpa henti.


Dalam hati Ayana, "Dulu aku menginginkan perpisahan diantara kalian, bahkan Aku bersumpah untuk meminta kepada Tuhan agar kalian di pisahkan. Maafkan Aku Kak Alea, aku tak tahu hal ini bisa terjadi sesuai harapan ku dahulu. Maafkan aku Kak Lea, kini aku menyesal karena telah bersumpah seperti itu. Ternyata hati ku lebih sakit, saat melihat kesedihan mu ini." Tangis Ayana terhentak dan ia memeluk Alea, wajah nya tenggelam di dalam dekapan Alea.


Alea tahu kesedihan Ayana, Alea membiarkan Ayana tetap menangis di dalam pelukan nya.


"Qabil orang yang baik Noni, bahkan dulu bukan hanya akulah yang ingin mendapatkan kasih sayang nya."


Noni tak mengerti apa yang Alea ucapkan, "Alea, istirahatlah sebentar. Aku dan Ayana akan selalu menemani mu di sini" Sela Noni.


Alea seakan tak ingin menggubris permintaan Noni, ia pun melanjutkan kalimat yang sempat terhenti. "Ayana, Maaf jika dulu aku dan Qabil membuat mu sakit hati. Maafkan atas segala kesalahan ku dan juga kesalahan Qabil, Qabil menyayangi dirimu seperti dia menyayangi yang lain nya tapi bukan maksud Qabil menolak perasaan mu, dia hanya tak ingin mengecewakan mu di kemudian hari! " Tutur Alea kembali, Ayana mengangguk pelan. Tangisan di dalam bibirnya terdengar seakan merintih lirih.


"Aku sudah tahu Kak lea, dan aku sudah melihat bahwa kebahagiaan Qabil ada padamu, dan kebahagiaan mu ada padanya. Maaf jika dulu aku sempat seperti anak kecil, Aku minta maaf" Pelukan nya semakin erat terasa, Alea hanya mengalirkan air mata tanpa berekspresi apapun.


Angin pun menderu dengan kencang, Alea yakin Qabil masih berada di dekatnya. Alea merasakan kehadiran Qabil, wangi tubuhnya, belaian di rambutnya Alea sangat merasakannya.


"Jika saja kau tahu, kehilangan sosok mu adalah kesakitan ku setelah kehilangan Mama ku. Qabil aku tak tahu bagaimana lagi aku harus menjalani hari tanpa adanya kamu, dan benar apa kata nenek mu dulu. Aku terlalu menggantungkan diriku padamu, nenek mu dulu berucap bahwa dia sangat bahagia jika kelak kita menikah, tapu harapan nenek, harapan ku dan juga harapan kita kini sirna!, kau sudah meninggalkan aku selamanya, namun Aku berharap cinta mu akan selalu hadir" Ucap Alea dari dalam hatinya.


"Entahlah, aku tak mengerti mengapa rasanya hatiku sangat terluka melihat kesedihan ini. Walaupun aku dan Alea baru saja bertemu, rasanya perasaan ini terasa besar. Aku menyayangi Alea seperti kakak ku sendiri, Alea juga sosok yang sangat baik dan aku janji akan selalu menemani Alea" Ungkap Noni di dalam hatinya, Noni merasa iba dengan keadaan Alea.


Setelah ia mengetahui masa-masa kelam Alea, ia semakin merasa iba apalagi dengan terjadinya meninggalnya Qabil, Noni semakin merasa kasihan kepada Alea.


Dan yang sangat dapat di pastikan, kesehatan jiwa serta mental Alea akan semakin terganggu dengan kondisi ini. Apalagi permasalahan Alea sangatlah bertubi-tubi, Noni semakin yakin untuk menemani serta membuat Alea merasa tidak sendiri.


"Alea, " Natasha datang, walaupun jalan nya masih sedikit susah karena Natasha belum merasa pulih. Ia tetap ingin mendampingi Alea.


"Kakak" Alea beranjak dan segera memeluk kakak iparnya, "Maafkan Qabil ya Kak!, maaf jika Qabil pernah menyakiti hati Kakak! " Ucap Alea.


"Dia orang yang baik, aku merasa menyesal baru mengetahui bahwa aku memiliki sepupu yang baik sepertinya." Ungkap Natasha.


"Dengar Alea, Qabil pasti bahagia jika kau mau tersenyum dan mengikhlaskan nya. Ringankan langkah Qabil, kau sangat mencintainya kan dan dia pun sangat mencintai mu." Tutur Natasha,


Ia membendung air matanya, "kau dan Qabil adalah adalah pasangan yang di pilih Tuhan untuk selalu saling menguatkan, dan kini Tuhan meminta mu untuk tetap kuat." Ungkap Natasha.


Alea menangis kembali, memeluk Natasha dengan erat. Natasha pun membalas pelukan erat dari adik iparnya, "Aku yakin kau pasti sangat kuat!! " Ucap Natasha kembali.


Natasha melihat sosok Noni, Noni tersenyum melihat kedekatan diantara Natasha dan Alea.


"halo, apakah kamu Noni? " Tanya Natasha, Noni pun menyambut Natasha dengan senyuman kembali.


"Faaz sudah bercerita tentang mu!, kau memang sangat cantik dan juga baik. Terlihat sekali aura kebaikan itu terpancar di dasar wajahmu! " Puji Natasha.


Noni menjabat tangan Natasha, "Aku noni kak, senang sekali bisa bertemu dengan Kak Natasha" Ucap Noni.


"Kak Faaz dan Kak Natasha sangat berlebih memujiku, aku malu loh kak"


"Panggil Natasha saja, kita seperti nya seumuran" Ucap Natasha sembari tersenyum dengan cantik, "Oh iya Noni, terimakasih karena kamu sempat membantu menyelamatkan Qabil. kamu juga mau membantu kami untuk menemani Alea, terimakasih Noni".


"Ya ampun, pantas saja semua menyayangi kak Natasha, kak Natasha sangatlah baik dan juga ramah." Jawab Noni dengan di iringi senyuman, "Noni bahagia bisa merasakan rasanya berkumpul dengan keluarga, terimakasih kak Natasha sudah menerima ku disini" Ucap Noni kembali, Natasha dan Noni terlihat berpelukan.


"Pantas saja jika Maliq menyukai serta mengagumi nya, Kak Natasha memang baik, sosoknya terlihat sangat tulus." Ucap Noni di dalam hatinya, "Hmmm sepertinya saingan ku memang berat, " Ucap Noni di dalam hatinya kembali.


Mereka berbincang sembari menemani Alea yang terlihat sedang tertidur, Noni menceritakan bahwa keadaan Alea akan baik-baik saja. Noni juga sangat beruntung karena pekerjaan nya akan terasa ringan, karena Alea di kelilingi orang-orang yang sangat tulus menyayanginya.


Noni dan Natasha terlihat sangat akrab, Alea yang sedari tadi tertidur dengan menyandarkan kepalanya di pangkuan Natasha terlihat sangatlah merasa tenang.


Ayana pun ikut berbincang, kekuatan dari dalam hati Natasha sepertinya memang membuat Alea merasa tenang, karena terlihat Alea sangat nyaman hingga dapat tertidur di pangkuan Natasha.


Beberapa jam kemudian, Maliq yang tadi sebelumnya berpamitan kepada Ayana untuk membantu memandikan jenazah Qabil segera menghampiri Alea dan memberitahu bahwa wajah Qabil akan segera di tutup oleh kain kafan dan segera akan dimasukan kedalam peti jenazah.


Maliq merasa canggung saat melihat kedekatan diantara Noni dan Natasha, tatapan Maliq kepada Natasha pun terlihat masih menyimpan rasa.


"Maaf mengganggu!, "


"Ada apa Maliq? Apa ada sesuatu? " Tanya Ayana.


"Ti.. tidak, apa Kak Lea bisa di bangunkan sebentar? " Tanya Maliq tanpa melepaskan pandangan nya untuk Natasha, walaupun Natasha tidak menatap nya.


"Apa ini sangat penting? " Tanya Noni, Maliq terlihat semakin merasa canggung saat Noni.


Bertanya dan menatap wajah Maliq dengan tatapan sinis nya, Noni terlihat seakan merasa cemburu.


"Semua sudah beres, dan kami akan segera menutup wajah Qabil. Papa meminta Kak lea untuk melihat wajah terakhir Qabil" Ucap Maliq.


Noni pun segera membangunkan Alea, "Lea,, Lea,, " Alea terbangun, saat ia membuka matanya. Ia segera memeluk tubuh Natasha, ia meronta dan menangis seolah mengingat Qabil.


Maliq tak kuasa melihat keadaan Alea, Maliq memberanikan diri untuk menarik lengan Alea dan memeluknya.


"Lihatlah dulu wajah Qabil kak, Ayo biar aku gendong kakak! " Ucap Maliq, Alea kembali menangis. Lutut nya yang sedari tadi lemah semakin melemah,


Kini, Alea sudah duduk di hadapan jenazah calon suaminya. Ia mencoba untuk tidak meneteskan kembali air matanya, walaupun air mata itu seakan sudah tak mampu ia bendung kembali.


Rido duduk di samping anaknya, Alea bersandar di dada bidang milik Papanya itu. "Ikhlaskan Qabil sayang, " Pinta Rido, Alea tak menjawab dan hanya menatap lekat wajah Qabil.

__ADS_1


"Qabil sudah tenang, lihatlah dia pergi seakan membawa senyuman" Ucap Rido kembali, Alea masih menatap wajah Qabil dengan lekat.


"Papa, tutup saja secepatnya. Alea akan mencoba mengikhlaskan kepergiaan nya! " Ungkap Alea yang berbicara sembari memejamkan matanya, air matanya jatuh menyeluruh kembali.


__ADS_2