
Kami sedang menunggu kedatangan Papa dan yang lainnya, Aku menggendong Maliq, Rido menggendong Alea. Mobil yang dikendarai Papa sudah masuk di halaman rumah kami. Aku melihat Raut wajah yang bergembira terselip di wajah mereka.
"Papa, Ayah" Aku memeluk keduanya, "Anak ku," Jawab Papa dan Ayah bersamaan. Akupun melihat ibu dan Mama memeluk Rido.
"Sayang, Cucu Opah" Papa mengambil alih Alea yang sedang dalam gendongan Rido, Dan Ayah mengambil alih Maliq yang sedang dalam gendonganku.
"Sayang, Ibu sangat merindukanmu" Pelukan ibu menghangatkan ku, Aku beralih memeluk tubuh Mama.
"Mama merindukanmu juga sayang" timpal Mama, Aku tersenyum dan mempersilahkan mereka untuk duduk dan beristirahat sembari berbincang santai bersama. sudah 3 bulan kami tidak bisa bertemu, bahkan saat aku melahirkan Maliq, mereka tidak bisa datang untuk menemani kami. mungkin karena kesibukan diantara mereka yang membuat waktunya sangat tersita. Apalagi Papa dan Ayah yang memulai bisnis baru mereka.
"Zul, bawa masuk aja semuanya" pintaku kepada Zul, Zul adalah orang yang kami percaya untuk membantu kami dirumah.
"baik, Nyonya" kami masuk kedalam Rumah, Mama dan ibu saling merangkulku dan mencium Pipiku.
"Faaz,Fizzy kemana sayang?" Tanya Ayah.
"mereka masih tidur siang. kalau dibangunin mereka suka rewel Ayah."
"Ayana juga tidur?" Tanya Papa.
"Ini Ayana Opah." ucap Shaloom yang datang untuk menyapa mereka. mereka terlihat senang dengan kedatangan Shaloom dan yofie.
"Om Gust, Om wan. apa kabar?" Tanya Shalom dan Yofie secara bersamaan.
"Baik, sayang." jawab Papa, Shaloom dan Yofie mencium punggung tangan Mereka semua, mereka juga mencium punggung tangan ibu dan juga Mama. dan sepertinya Mama juga sudah memaafkan Shaloom.
"kalian Apa kabar?" Tanya Mama.
"Alhamdulilah baik Tante."
"Seneng banget bisa melihat kalian bersama disini, oh iya kalian juga bareng aja ke Acara Nikahannya Dhan." Ajak Ibu, Yang di ikuti anggukan dari Mama. aku melihat Shaloom yang merasa canggung berada disekitar kami. mungkin rasa malu dan banyaknya pertanyaan yang menggelayut di dalam benak Shaloom.
"Iya Tante, Om sepertinya kami juga ikut bareng kalian" Seru Yofie.
"Gak apa-apa kan Tante,Om?" tanya Shaloom.
"Gak apa-apa dong, lagian kamu pergi sendiri sama bareng kami sama aja sampainya kesana" Ucap Mama, Mama terlihat mencoba bersikap ramah terhadap Shaloom. mereka berbincang dengan santai bersama, Ada saja hal lucu yang selalu dibahas oleh mereka yang mengundang gelak tawa ku.
"Jadi Tante berdua, merasakan kepanikan yang sama saat May mau melahirkan kemarin. walaupun kami sedang jauh bersama mereka" Seru Ibu, kami ikut tertawa melihat mimik wajah yang ibu pasangkan, kami tak henti tertawa mendengar cerita dari mereka.
"Apalagi Om, Yof'Shaloom. Om lagi dikantor, dan saat itu Rido menghubungi Om." Papa mencoba memperagakan gerakan saat mendapat telpon dari Rido.
"Alea sama Omah dulu iya." ucap Papa.
"Haloo Papa, Pa, Rido kebingungan. May akan melahirkan dan lagi-lagi Rido merasa gugup" ucap Papa yang membuat lelucon dengan memperagakan gaya bicara anaknya.
"Lalu om?"
"Om ketawa Yof!, Om langsung ketawa namun, Tetap saja dalam hati om merasa khawatir dengan keadaan May" Seru Papa, Wajah Rido terlihat memerah. Aku pun tak henti menertawakan tingkah Papa saat ini.
"Rido, kata Om kan." Papa mengernyitkan dahinya, Tangannya memegang ponsel dan menyimpannya ditelinga. ia seperti menahan tawa nya saat itu.
"Om ketawa dulu aja deh mendingan, biar ceritanya enak." seru Zain yang sama-sama menertawakan tingkah Papa, Ayah yang juga tak henti menertawakan wajah Papa yang terlihat menggoda Rido.
"begini" Papa menghela nafasnya, dan Papa terlihat menahan kembali tawa yang sepertinya ingin sekali ia ledakan, "kamu ini, waktu bikin nya aja gak telepon Papa, bahkan kamu tidak menceritakan berapa kali kamu membuat adonan untuk membuat anak yang ke 4. lah sekarang giliran lahiran aja kamu usel-usel Papa".
" Pap udah dong, Rido malu nih" Tukasnya, Rido terpekik mendengar gelak tawa kami.
"Udah gitu iya, Dia kan hanya diam dan menjawab baiklah Pap aku minta doanya. " Timpal Ayah mengejek Rido.
"Rido menelpon Ayah kan setelah itu, padahal sebenarnya kami sedang bersama dan saat itu Rido juga mengeluh hal yang sama. dia merasa cemas walaupun dia sudah menemani May melahirkan untuk ke tigq kalinya"
"Ayah jawab apa?" Tanyaku.
"Ayah jawab hal yang sama, dan saat itu suamimu sepertinya kebingungan, Mungkin dia bertanya, "kenapa jawabannya sama!, Ya mungkin seperti itu." Ucap Ayah, wajah Rido terlihat memerah.
__ADS_1
"Saat itu Rido menangis, untung saja Rido di temani Carry dan bibi ester"
"Jadi gimana mau buat yang kelima gak?" Goda Mama, Mama mengedipkan matanya.
"Aduh nanti lagi deh Mam" Tukasku sembari menutup bibirku, memakai sebelah tanganku.
"Banyak anak, Banyak rezeki Mam!" seru Rido.
"Yaudah bikin yang ke lima noh" goda Ibu, sembari mencubit lenganku.
"Udah bu, barusan" Jawab Rido polos, di ikuti gelak tawa mereka semua. Aku yang mendengarnya merasa sangat malu.
"Rido..." lirihku memanggilnya, Aku menepuk lengan bawahnya, dan mungkin wajahku kini sudah berubah menjadi berwarna merah tomat. mereka tak henti mentertawakan jawaban polos yang rido ucapkan.
"Om Gusti, Apa boleh aku berbicara dengan om Gusti?" Tanya Shaloom.
"Ini mengenai Daddy ku" Seru Shaloom melanjutkan kalimat pertanyaannya.
"Boleh Nak, Kita bicara disana iya" Ucap Papa, Namun Shaloom menolak.
"Gak apa-apa Disini aja Om, kalian kan keluarga ku juga. lagian gak usah ada yang ditutup-tutupi" Tukas Shaloom.
"Gimana Kak?" Tanya Papa kepada Rido.
"kalau emang keinginan Shaloom, Ya Gak apa-apa pap"
"Ada apa ini gus?" Tanya Ayah.
"mengenai Jose" jawab Papa singkat.
"Ada apa dengan Jose?" Tanya Ayah.
"Aku akan menceritakannya." ucap Papa, Kami tak ingin menimpali percakapan ini antara mereka. karena, sebenarnya akupun belum mengerti dengan keadaan Om jose saat ini.
"Shaloom, Kau pasti ingin mengetahui permasalah antara kami, dengan daddy mu!" Tanya Papa, Papa mendekat dan duduk disamping Shaloom.
"Tidak, Daddy mu sepertinya masih hidup. Namun, Ia tak pernah kembali. kami sudah mencarinya dan kami sudah memaafkan kesalahannya." Ucap Papa.
"Apa yang Daddyku perbuat kepada keluarga yang sudah baik kepadaku?"
"Om Gus, Daddy orang baik. Apa Om gus yakin yang melakukan kesalahan adalah Daddyku." Tanya Shaloom dengan heran.
"Iya sayang, beliau sudah mengakui kesalahannya. Namun setelah itu dia menghilang."
"Bagaimana ceritanya om, dan mengapa Om, Rido, May tidak menceritakan kepada Yofie. jadi yofie bisa memberitahuku!" Ucap Shaloom.
"Shaloom, Ini Masalah yang rumit dan aku tidak ingin membuka Aib orang meskipun kepada kamu. karena, sebelumnya Om jose meminta kami untuk tidak menceritakannya kepadamu" Ungkap Rido, Shaloom terlihat menelan kekecewaan.
"Shaloom, Tapi sepertinya kau harus tahu. dan untuk keberadaan daddy mu. Om Akan segera mencari tahu."
"Bagaimana om ceritakanlah, Aku ingin mengetahuinya" Tanya Shaloom.
"Saat itu, Daddy mu mengalami kebangkrutan. Aku dan Rido berniat menolongnya dan ingin membantu perusahaan miliknya berdiri kembali. Namun Ia menolak, dengan Alasan Nilai kebangkrutannya diambang kehancuran dan sudah tidak diperbaiki, Lalu.." Papa menatap kearahku, dan kearah Rido.
"Lalu, May dan Rido meminta ku untuk memperkerjakan Jose di dalam perusahaanku. Apalagi perusahaan di inggris sangat membutuhkan orang yang dapat aku percaya. karena Juno, orang kepercayaanku meninggal karena serangan jantung. Aku mengiyakan permintaan mereka, Namun sebelum itu aku mencabut surat kontrak kerja sama dengan jose terlebih dahulu."
"Tapi Apakah saat itu, Perusahaan Om mengalami kerugian atas peristiwa kebangkrutan perusahaan Daddy?" Tanya Shaloom.
"Iya, Jelas sekali. Namun Aku tahu siapa dibalik dalang peristiwa itu?, Aku tidak perlu menyebutkan siapa orang itu." Ucap Papa.
"Awalnya perusahaan kami Normal, Normal saja."
"Saat itu, Aku mulai mengecek beberapa file dan disana terpampang jelas Ada penyalahgunaan dana hingga triliunan dollars ku hilang"
"Apa Daddy benar-benar melakukannya?"
__ADS_1
"Daddy mu terlibat, hutang besar kepada Mapia besar dunia!"
"Dia memakai uang perusahaan kami untuk membungkam mapia itu." timpal Rido,
"Daddy ku dimana sekarang?"
"Kami sama sekali tidak mengetahuinya, Papa hendra juga membantu kami untuk melakukan penyelidikan keberadaan Daddy mu" Ungkap Papa.
"Apa masalah ini sudah lama?" Tanya Ayah.
"Saat kelahiran Alea!" Ucap Papa menoleh kearah Ayah.
"Maafkan saya wan, Saya ingin menceritakan semua itu tapi Saat itu kami benar-benar memfokuskan diri untuk menyelamatkan Rido dan Juga May."
"Tidak apa-apa gus, kamu juga pasti sedang sangat kalut" UCap Ayah.
"Daddy, " Tangis Shaloom pecah, ia menutup wajahnya memakai kedua tangannya. Aku menghampirinya dan memeluk tubuh Shaloom.
"Masalah ini sudah hampir 2 tahun dan Aku baru mengetahuinya. May, pantas saja Daddy tidak pernah mengunjungiku. Aku berpikir jika Daddy memang sudah membuangku."
"Kak Shaloom, Itu alasannya Aku mengambil Hak Asuh Sahila"
"Maafkan Daddy ku, Hukum saja Aku jika begitu" Pinta shaloom, Aku menyeka air matanya dan menatapnya dengan lekat.
"Kak, kami sama sekali tidak ingin menghukum siapapun. bahkan, Papa dan semuanya ingin membantu om Jose keluar dari masalahnya" Ungkapku, Aku memeluk kembali tubuh Shaloom, Aku mencoba menenangkannya.
"Kak, Sabar dan selalu ingat Tuhan. iya!" Ucapku.
"Masih banyak masalah yang sangat besar diluar sana, bukan hanya kita yang memiliki masalah. sekaramg aku hanya berharap Kak Shaloom bisa menjadi Shaloom yang dewasa" Ucapku kembali.
"Terimakasih May, kau memang saudara yang baik untuk ku."
"Om, Tante, Rido Aku minta Maaf atas Namaku dan juga Atas nama Daddy ku. Aku berharap kalian memaafkan kesalahan kami!" Mama menatapnya, Papa juga manatap kearah Shaloom.
"Sini peluk Tante, kamu janji iya. Akan selalu menjadi Shaloom yang baik. berubah dan merubah diri sendiri itu memang sulit, Namun jika kita mau mencobannya Tuham Akan membantu kita." Shaloom mendekat dan memeluk Mama, Shaloom menangis tersedu-sedu didalam dekapan Mama. Kami yang ikut menyaksikan turut serta bersedih mengingat apa yang telah Shaloom lalui.
"Aku bersyukur masih di kelilingi orang-orang baik seperti kalian" Ungkap Shaloom.
__ADS_1