
Keesokan harinya, Alea sudah bisa pulang ke rumah. Alea sedang menunggu kedatangan Faaz, Maliq menggendong bayi mungil itu dan Noni sedang mengepang rambut Alea. ia sangat cantik sekali, Fizzy benar-benar sangat bahagia melihat rona wajah adiknya itu.
"Alea, " Panggil Fizzy dengan pelan.
"Iya Kak," sahutnya sembari melirik kearah wajah sang Kakak,
"Bolehkah Kakak memeluk mu? " tanya Fizzy.
Alea tersenyum mendengar perkataan kakaknya itu, Ia pun segera menghampiri Fizzy dan memeluk kakaknya itu. Fizzy menangis di dalam pelukan nya, "Kakak bahagia sekali melihat mu, Alea jangan pernah berpikir lagi bahwa kakak adalah kakak yang tidak baik untuk mu iya? " Ucapnya, Ia menatap Alea dengan hangat, air mata berkilauan di matanya, Ia seakan ingin menumpahkan semuanya.
"Kakak kenapa menangis?, demi Tuhan Alea tidak pernah berpikir lagi seperti itu, malah Alea bahagia bisa menjadi adik dari kakak" Ungkap nya, Ia menyeka air mata Kakaknya itu, "Kakak harus sabar iya, Alea doain semoga Anak kakak menjadi penolong untuk Kakak nanti di surga. mungkin dia sedang berada di dalam gendongan Mama, mungkin saja dia menjadi bidadari di sana" Ujar Alea kembali, Fizzy menganggukkan kembali kepalanya dengan pelan. ia pun kembali memeluk adiknya lebih erat dan membenamkan wajah nya di dalam dada Alea.
Eya.. Eya .. Eya..
tangisan bayi perempuan itu terdengar sangat nyaring, Alea segera memberikan susu Asi untuknya. namun sayang, Air susu Asi Alea sama sekali tidak keluar. Ia terlihat sekali sangat mengkhawatirkan anaknya itu, "Baby, sabar iya nanti Uncle belikan susu formula dulu" Ucap Alea.
"Biar kakak yang menyusuinya terlebih dahulu Lea" Ucap Fizzy, Karena Asi nya sudah dapat keluar. bahkan Asi Fizzy sangat melimpah ruah, Alea memberikan anaknya kepada Fizzy. namun saat Fizzy menggendong bayi tersebut, dia seakan berhenti menangis.
"Hallo cantik," Bayi mungil itu menatap lekat wajah Fizzy, Alea menatap haru pemandangan itu.
"Kamu mau di gendong Mama Fizzy iya Nak," Ucap Alea sembari menatap wajah kakaknya.
Fizzy menimpali kalimat Alea, "Iya nih, mau digendong Mama Lea. bolehkan?" Tanya Fizzy.
"Boleh dong Mam," Sahut Alea.
"Lucu sekali kalian," Faaz yang baru saja datang terharu melihat kedekatan kedua saudarinya itu, Faaz mengecup kening Alea dan juga Fizzy. Ia juga tak lupa mengusap ujung kepala mereka, Faaz memang sangat menyayangi mereka.
"Ayo, mau pulang sekarang kan?" Tanya Faaz, "Kakak Damar sama Kakak Esya sudah menunggu kalian" Ucapnya di iringi senyuman.
"Sayang, nanti disana jangan nyusahin Mama Lea iya, Anak cantik...anak Mama Fizzy, sama Mama Lea kan ya" Ucap Fizzy, Ia mengecup anak perempuannya.
"Kamu udah kasih nama anak ini Lea?" Tanya Aliq, Alea menggelengkan kepalanya.
"Bolehkah Kakak Aliq memberikan list nama?' Tanya Aliq.
"Boleh dong, anak itu kan anak kalian semua, Anak Kak Faaz, anak Kak Aliq dan juga anak Maliq jadi List aja biar nanti Lea pilih yang cocok" Ucapnya.
"Ya udah kalau gitu, kakak kasih Nama Tecca atau Hessa" ucap Aliq.
"Aku, Tifanny." Ucap Maliq, "Atau Aileen," Ucap Maliq kembali
"Kalau kak Faaz?" Tanya Alea.
"Kak Faaz setuju sama Papa, kakak mau kasih nama Zheline, dan nama dari Aliq juga bagus. tapi semua juga bagus sih" Ucap Faaz.
"Ya udah, Alea mau kasih Nama Zhelinee Tyfani Tecca aja deh" celetuk Alea, "Panggilan nya bagus tuh kalau Tecca" Timpalnya, entah sebuah firasat atau apa. Alea memberi nama panggilan yang sudah disiapkan oleh Fizzy dan Aliq. Aliq dan Fizzy terlihat mengangguk bersama, "Anggap aja kalau ini anak perempuan Kak Aliq sama Kak Fizzy iya, mungkin nanti Alea kerja dikantor Kak Faaz dan anak ini akan lebih banyak sama Kakak juga" Susulnya.
"Kalau anak Kakak dinamain apa?" Tanya Alea,
"Hardin Haidar" Jawab Fizzy singkat,
"Artinya apa?" Tanya Alea.
"Artinya, Hardin itu sih sebenarnya nama tokoh Favorite Mama may dulu, kalau Haidar, nama yang diberikan Papa Harry dan Papa Rido, mereka sepakat memberikan nama itu.
"Haidar artinya, Pemberani, jadi dia harus menjadi lelaki pemberani" Timpal Aliq.
"Waw, Amazing sekali." Ucap Noni sembari tersenyum.
"Kalau kamu nanti anak kita mau dinamain apa?" Tanya Maliq.
"Entahlah, nikah aja belum" Ceplos Noni membuat semua tertawa.
__ADS_1
"Tuh makanya, buruan lamar" Celetuk Aliq dibalas senyuman kecil di bibir Maliq.
"Nanti akan ada saat nya kok Kak Aliq, aku mau fokus dulu sama Koas Maliq." Jawab Maliq, "karena satu syarat menikahi Noni itu adalah Maliq harus segera banggain Papa dan Kak Faaz dulu, kata Noni" Lanjut Maliq sembari menatap wajah Noni, wajah Noni terlihat memerah.
"Kakak sudah bangga kok sama Maiq, " Ucap Faaz, "Tapi kakak bahagia jika Noni mengajak Maliq ke jalan yang lebih baik, karena sekolah Maliq sempat terganggu dan saat bersama kamu, dia bersemangat kembali. makasih Noni" Ucap Faaz seraya tersenyum manis.
"Ya sudah Ayo kita pulang, Papa dan yang lainnya sudah menunggu kita" Ajak Faaz, Faaz menatap Fizzy, Ia mengangkat wajah Fizzy menggunakan kedua tangannya. lalu berucap, "Besok kabari aku, besok aku akan menjemput mu kesini" Fizzy mengangguk, dan Faaz segera memeluk nya.
^^^
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, matahari pun sudah mulai menyengatkan sinar nya. Rayna terbangun dari tidur panjangnya semalam, Ia menggeliatkan badan nya, terlihat sekali wajah cantiknya itu menikmati tidur yang sangat pulas. ia mencari ponsel miliknya itu, ia beranjak dan menghampiri tas tersebut.
Ia menatap layar ponsel rahasia miliknya itu. "Nona saya sudah berhasil melenyapkan bayi itu," Ucap Remi di dalam pesan yang ia kirimkan.
Lalu, Rayna tertawa terbahak-bahak. "Rayna, Aku tidak akan memaafkanmu" Ia menirukan gaya bahasa dari Alea.
"Aku tidak peduli dengan apapun yang kau katakan, Alea bodoh!!!" Ia mengumpat dengan keras, umpatan tersebut di iringi tawa yang cukup keras. Ia seakan merasakan kebahagiaan. ia berjoget ria, bernyanyi dengan nada yang cukup ancur, sisa-sisa mabuk semalam masih terasa pusing di kepalanya, namun rasa bahagia karena telah berhasil melenyapkan anak itu membuatnya cukup bahagia.
"Na... Na... Na... Alea kau akan hancur jika mengetahui ini" Ucap Rayna, namun saat itu Rayna lupa jika Aliq masih menyimpan alat perekam di dalam Apartemen tersebut dan rencana Rayna sudah dapat di pastikan terbongkar.
Rayna masih menari dan bernyanyi dengan riang, melepaskan beban yang selama ini selalu membisik di telinganya, "satu lagi, aku akan menghancurkan mu Natasha, aku akan membuat mu pergi selama-lamanya dari kehidupan Faaz, Hahahah" Iya tertawa dan sangat merasa bahagia. "Oh iya, aku juga akan membuat Damar mu itu pergi bersama ibu nya, bersama perebut suami orang!!!!" Rayna benar-benar sangat jahat, ia selalu memiliki cara agar membuat dirinya merasa senang.
Entah harus bagaimana lagi cara nya menyadarkan sisi gelap Rayna, bahkan jika ada seribu kebaikan pun tak akan membuat Rayna berhenti melakukan kejahatan. Jiwa nya sudah sangat kelam, semua karena hasutan ibu kandungnya terdahulu.
"Aku senang!!!!, Aku senang!!!" Ia segera menghubungi Remy dan salah satu orang yang menjadi kepercayaan dirinya, ponsel itu tersambung dan Remy menerima panggilan tersebut.
"Haloo...." Sapa Rayna, Ia menyapa Remy sembari terdengar suara tegukaan di tenggorokannya, Ia pun terdengan mengecap-ngecap rasa Wine itu, "Gimana? Kalian gak merasa berdosa kan?" Tanya Rayna tanpa wajah tanpa dosa.
"Tidak Nyonya, kami sudah melenyapkannya." Jawab Remy.
"Mana Ary?' Tanya Rayna.
"Saya masih disini Nyonya," Jawab Ary yang seketika itu merebut ponsel di tangan Remy.
"Ya sudah, Buang ponsel beserta kartunya dan Ambil uang untuk kalian berdua di tempat yang sudah aku sediakan. oh iya jangan lupa, lupakan aku!!!'" Ucap Rayna,
"Gawat, Aliq merekam semua pembicaraan ku. dia pasti akan segera mendengar dan mengetahui hal itu" Gumam Rayna yang merasa sangat ketakutan, Ia segera membereskan barang-barang yang akan ia bawa, Ia seakan terburu-buru saat mengemas barang miliknya.
"OH May God!" gerutunya sembari melangkahkan kakinya itu.
Dalam hatinya bergumam, "Ray, bodoh sekali dirimu!!!'
30 menit kemudian, Rayna sudah bersiap untuk kabur. ia tak lupa membawa kembali ponsel yang sempat ia buang dan ia segera pergi untuk menghilangkan sebuah jejak. saat ia menuju Lobby, Ia melihat seseorang yang sangat ia curigai. ia terdiam dan mencari cara untuk keluar, ia pun meminta petugas Apartemen untuk membawakan kopernya dan Rayna berjalan melalui pintu belakang.
Petugas itu diberikan segepok uang hanya untuk membuat mulutnya bungkam, lalu Rayna pergi menggunakan Taxi dan di dalam taxi, jantung Rayna seakan berdegup sangat kencang. ia pun terlihat kebingungan untuk pergi dar negara tersebut.
"Kalau aku lewat jalur udara, mereka akan tahu kemana aku pergi" Ucap Rayna dalam hati.
"Arggghhhhhh" Teriaknya dengan kencang, supir taxi itu meraa kaget lalu bertanya mengapa dengan Rayna dan Rayna hanya bercerita jika dirinya sedang merasa kesal terhadap suaminya, ia selalu di siksa dan selalu mendapat hinaan. supir taxi itu merasa iba dan segera memberikan Rayna bantuan. Rayna pergi ke sebuah daerah terpencil untuk mencoba menenangkan dirinya disana. namun, rencana supir taxi itu tak sesuai keinginannya, Rayna pun meminta supir taxi itu untuk mengantarkannya kesebuah dermaga dan Rayna kabur melalui jalur Laut.
Rayna kembali memberikan segepok uang kepada lelaki tua itu, dia berjanji tidak akan membongkar kemana Rayna pergi jika seseorang mengetahui dirinya mengantarkan Rayna, Rayna pun mengatakan hal yang sangat jujur yang sedang terjadi kepada nya saat ini kepada lelaki tua, pengemudi taxi itu.
Rayna membuang semua ponselnya dan sebelumnya Rayna mengambil uang cash dan meminta Lelaki tua itu utnuk meminjamkan sebuah kartu Atm untuk nya menyimpan uang, sungguh Rayna melakukannya dengan Apik sekali namun tetap saja Rayna tidak akan merasa tenang.
"Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi, Ahhhhhhh" Teriaknya dengan kencang, "Tidak mungkin, Faaz dan Aliq tidaka akan mengetahuinya," Gerutunya kembali.
"Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh,,, Kau bodoH Rayna, Kau bodoh!!!, Sangat bodoh!!!!" Teriaknya dengan geram.
Masalah ini sudah terjadi dan Rayna sudah melakukan hal yang sangat Fatal.
"Tidak mungkin, aku yakin... Faaz tidak akan mungkin mengetahuinya, tidak... Aliq tidak akan memberitahu Faaz, dia pasti hanya akan menegur ku!!!' Gumamnya kembali.
^^^
__ADS_1
Aliq sama sekali belum mengetahui apa yang telah terjadi, bahkan Aliq nyaris lupa bahwa dirinya masih menyimpan sebuah Chips itu. Aliq masih dalam keadaan sibuk, karena hari ini ia terus menerus menemani Fizzy, dan sesekali Aliq memfokuskan dirinya untuk menghubungi beberapa orang yang di tunjuk Aliq mencari tahu wanita yang membawa kabur bayi Alea.
Fizzy memeluk anaknya itu, menyusuinya dengan penuh kelembutan. Ia melihat wajah Aliq yang terlihat sangat lelah, "Sayang, bisakah beristirahat sebentar?, " Tanya Fizzy yang mengeluhkan kondisi Aliq yang terlihat sangat lelah, "Sedari tadi kau terlihat sangat sibuk dengan ponsel mu! " Keluh Fizzy kembali.
"Sayang, aku kan sedang mencari tahu keberadaan anak Alea" Sahut Aliq.
"Iya tapi kan kamu dari tadi itu loh gak ada rebahan-rebahan nya, kamu dari tadi fokus terus telpon sana, telpon sini dan lihat mata kamu udah lelah banget, aku gak loh iya kamu sakit! " Ujar Fizzy kembali membuat Aliq merasa di perhatikan, Aliq menghampiri istrinya itu. ia mengecup lembut kening Fizzy dan mengecup kening Hardin.
"Sayang, nanti sudah besar jagain Tecca iya" Ucap Aliq, "Dia itu kembaran mu, yang mungkin mulai sekarang kau akan menganggapnya seorang sepupu" Sambung Aliq sembari mengusap lembut ujung kepala anaknya itu.
"Hmmm... Aku harap Hardin bisa menjaga Tecca seperti Maliq menjaga Ayana" Ucap Fizzy.
"Iya, semoga saja seperti itu sayang dan harus seperti itu" Ucap Aliq dengan tegas, Aliq merebahkan dirinya di atas kasur pasien yang menjadi tempat tidur Alea sebelumnya. ia tertidur dengan pulas, di dalam tidurnya ia bermimpi melihat Rayna mendorong tubuh Alea cukup keras dan terlihat jika Fizzy dan Natasha ingin menolong Alea namun saat itu Aliq lah yang menolong Alea dan terlihat sekali bahwa Aliq mengepalkan tangannya dan ingin memukul Rayna.
Dan seketika itu Aliq pun terbangun dari mimpi kelam nya, terdengar sekali nafas Aliq tersengal hebat. Fizzy merasa Khawatir melihat keadaan suaminya, Fizzy pun mencoba bertanya mengenai keadaan Aliq.
"Kenapa sayang? " Tanya Fizzy.
"Aku bermimpi buruk!, " Jawab Aliq.
"Kamu terlalu memikirkan masalah hilangnya anak Alea sayang! " Ucap Fizzy.
"Mungkin saja, tapi apakah mungkin Rayna terlibat kembali peristiwa ini! " Ucap Aliq.
"Rayna kan sudah bertaubat, lagi pula dia juga sudah terlihat sangat perhatian dan baik sekali" Ucap Fizzy.
"Tapi firasat ku berkata lain sayang! " Ucap Aliq yang terlihat sangat yakin itu.
"Sayang, sudahlah. kau lapar? biar kita pesan makanan! " Ucap Fizzy.
"Tidak sayang, Aku ingin menemui Rayna. aku akan menghubungi Noni dan Maliq agar menemani mu disini" Ucap Aliq
"Tidak perlu, kasihan mereka dari kemarin menemani kami disini" Ucap Fizzy, Aliq berpamitan kepada Fizzy namun di tengah langkah kakinya menuju mobil itu Aliq menerima panggilan dari Faaz. Faaz menghubunginya melalui pesan suara, Aliq pun segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo" Sapa Faaz.
"Halo Faaz? " Sapa Aliq balik.
"Bisakah kita bertemu, di Cafe Scar, " Ucap Faaz.
"Okay, baiklah." Ucap Aliq, Ia pun segera menancapkan pedal gas dan segera menemui Faaz.
sesampainya di sana, Aliq melihat Faaz sedang bersama Edwin. orang yang dipercaya Faaz untuk mengikuti Aidil, dan Grey yang dipercaya Faaz untuk mengikuti Rayna.
Edwin berucap jika Aidil benar-benar tidak terlibat, bahkan Aidil terlihat sedang bersama wanita barunya di salah satu Hotel berbintang lima. setelah di telusuri melalui Alamat ponselnya, Aidil benar-benar sudah melakukan non Kontak bersama Rayna.
Berbeda dengan Rayna, Ia terlihat mencurigakan. bahkan Grey menangkap seorang supir taxi yang membawa Rayna pergi dari Apartemen tersebut, Aliq mengingat jika dirinya memiliki Chips yang masih sangat berguna itu.
Aliq pun membuka rekaman pada Chips tersebut, chips itu memang terhubung pada ponsel Aliq dan apapun aktifitas suara di seluruh ruangan Apartemen itu dapat terdengar jelas olehnya.
Aliq merasa terkejut saat mendengar pembicaraan Rayna bersama seseorang melalui ponselnya, bahkan Aliq mendengar jika Rayna sedang mengumpat abis nama Alea dan Rido.
dan segala rencana yang akan ia buat pun terbongkar oleh Aliq, Faaz benar-benar merasa marah. ia mengepalkan tangannya, raut wajah marah itu terkuras hebat di dasar wajah nya, otot lehernya benar-benar menegang.
"Aliq, benar apa yang kita curigai. Rayna lah dalang di balik ini semua!! " Ucap Faaz sembari membelot kan matanya, Aliq benar-benar sangat malu.
"Aku pernah bilang, kau tak perlu memikirkan nasib Aaleesya dan jika perlu kau lupakan saja jika Rayna adalah ibu dari Aaleesya!, " Imbuh Aliq itu terlihat menahan amarah, "Seharusnya dia sudah mendekam di balik jeruji saat Qabil meninggal, kau memang terlalu baik Faaz!! " Ucapnya kembali.
"Rayna sudah sangat keterlaluan, bagaimana mungkin kita menjelaskan hal ini kepada Papa! " Ucap Aliq kembali.
"Tidak, mereka tidak perlu tau! " Ucap Faaz.
"Kalau begitu, cari Rayna Ed, Grey dan lenyap kan kakak ku! " Ucap Aliq bernada tegas.
__ADS_1
"Tidak Aliq, Cari Rayna dan bawa untuk kita! " Tandas Faaz, Edwin dan Grey pun menyanggupi permintaan mereka.
"Kau akan mati di tanganku! " Ucap Aliq, Aliq merasa sangat marah dan malu saat mengetahui kelakuan kakaknya, Rayna Bak serigala berbulu domba. ia meminta maaf palsu kepada mereka dan Rayna kembali membuat ulah hingga menghilangkan satu nyawa yang tidak berdosa.