TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. PERTENGKARAN KEMBALI.


__ADS_3

Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Rayna dengan menanyakan banyak hal mengenai Faaz dan Natasha, Bagi Rayna terdapat kejanggalan dari setiap jawaban yang fizzy uraikan mengenai Natasha. Tak hanya itu, Rayna juga bertanya mengenai Aaleesya yang memanggil Natasha dengan sebutan Mama.


"Mengapa kau bertanya mengenai Natasha?" tanya Fizzy, Rayna terdiam.


"Dan mengenai Aalesya memanggil dia dengan sebutan Mama mungkin, Natasha adalah orang yang merawat Aaleesya ketika sakit, dan dia sangat berjasa akan itu Ray!" ungkap Fizzy penuh dengan penekanan.


"A ku ha nya in gin ta hu ten tang Na ta sa" Ucapnya saat itu, Fizzy terlihat sudah kebahisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Rayna.


"Sudahlah, Aku sudah menjelaskan semuanya dan kau harus mengerti."


"Kau perlu istirahat, Aku akan mengantarkanmu ke kamar dan akan memanggil Faaz untuk segera pergi kekamarmu"


"Tidak ada hal Aneh yang terjadi saat kau tidak ada, hanya kebohongan Faaz mengenai kematianmu saja" Ucap Fizzy sembari mendorong kursi roda yang diduduki Rayna.


('Aku harus segera menghubungi Faaz, Ada hal aneh yang membuatku bingung dengan kedatangan Rayna kekamarku, dan siapa yang membantunya menaiki kursi roda. karena sebelum aku pergi kekamar setelah bertemu  Faaz didapur, Rayna sedang terbaring tertidur dikamar miliknya dan aku melihat sendiri dengan mata kepalaku sendiri, Ahhhh bingungnya aku" - batin Fizzy)


(' Aku akan mencari tahu tentang hubungan kalian Faaz dan Natasha, maliq tidak akan mungkin berbohong kepadaku! - batin Rayna)


*****


Didalam kamar Natasha, Faaz sedang memadukan kasih bersama istrinya tersebut. Ada hal yang membuat Natasha sebelumnya menolak dengan kehadiran Faaz dikamarnya. Natasha merasa semakin berdosa kala ia bersama Faaz walaupun untuk menunaikan kewajiban sebagai suami istrinya itu. Natasha merasa tidak enak dengan keadaan Rayna yang tertidur seorang diri.


"Nat, " Panggil Faaz.


"Iya." Jawab singkat Natasha.


"Aku mencintaimu" Bisik Faaz kembali, Natasha meneteskan air matanya.


"Nat, LIhatlah aku. mengapa kau menangis?"


"Apa salah aku mencintaimu?"


"Tidak, Aku hanya merasa bersalah. Kau meninggalkan Rayna seorang diri dan malah tertidur disini bersamaku"


"Lalu?"


"Lalu apa Nat?" Tanya Faaz, Faaz berdecak kagum melihat sifat Natasha yang merasa berdosa akan apa yang sudah mereka lakukan.


"Nat, Aku mencintaimu."


"Kau juga mencintai Rayna?"


"JIka tidak, Maka lepaskan Aku dan lepaskan Rayna!" Ucapnya.


"mengapa seperti itu?"


"Karena kau tidak adil kepada kami!" Ungkapnya.


"Nat, mengertilah!. Ku mohon" Ucap Faaz, sembari memegang dagu Natasha, Faaz kembali mencium Natasha.


"Aku rindu padamu Nat,"  Faaz kembali mencium Natasha, kini Faaz sudah menindih tubuh mungil Natasha.


"Faaz.." panggil Natasha lirih, bayangan wajah Rayna terlihat jelas dipelupuk matanya.


"Apa sakit?" Tanya Faaz, Natasha menggelengkan kepalanya.


"Jika membuatmu tak nyaman beritahu aku!" Ucap Faaz kembali, mereka melakukan nya dengan sangat pelan. Faaz merasakan sensasi yang berbeda saat melakukan hubungan suami istri bersama Natasha, Semakin lama Faaz semakin merasakan sensasi yang sangat menggairahkan hingga Faaz menempelkan sticker kepemilikan, tepat berada dileher jenjang Natasha.


"Arrrghhhh" erang Faaz dengan kuat, dia mengecup kening Natasha, dan setelah mereka selesai melakukannya Faaz kembali mengecup kening juga bibir manis milik Natasha.


("Rayna Maafkan aku kembali, Maafkan Aku. Sampai dimana hari Anak ku tiba, Aku janji akan melepaskan Faaz untuk mu. Aku titip Aaleesya dan juga Anak ku kepadamu - batin Natasha bergumam)


selesai mereka melakukan hubungan layak nya suami Istri, Faaz meminta Natasha untuk memeluknya hingga Faaz tertidur dan Natasha melakukan keinginan suami nya sebagai bentuk bakti istri kepada sang Suami. hati Natasha bergejolak karena merasa bersalah dengan kondisi Rayna yang di tinggal Faaz sendirian, Apalagi seharian Ini Natasha sudah banyak menghabiskan waktu bersama Faaz dan Faaz membiarkan Rayna di urus oleh pelayan baru nya.


TOK TOK TOK...


" FAAZ,NATASHA " panggil Fizzy pelan seraya mengetuk pintu kamar milik mereka, Fizzy sengaja menghampiri Faaz karena sedari tadi Faaz sama sekali tidak membalas pesan nya.


"Apa mereka tertidur setelah bergulat?" gumamnya.


"Haaaaahhhh, Aku bingung, jika Aku menerobos masuk, Aku takut seperti waktu itu!" gerutunya.


"dan mungkin ketiga kalinya Aku melihat pemandangan yang membuatku berkhayal yang tidak-tidak" gerutunya kembali. Fizzy mencoba menghubungi telepon seluler milik Faaz Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Fizzy mencoba kembali menghubungi ponsel Natasha dan setelah beberapa kali Fizzy mencoba menghubunginya Natasha menerima panggilan dari Fizzy tersebut.


"Haloo" Sapa Natasha, dibalik ponselnya.


"Apa Faaz masih didalam kamarmu?" Tanya Fizzy.


"Iya,  sepertinya dia sudah tertidur dengan pulas." Jawab Natasha, "Apa ada masalah?." Tanya Natasha,


"Buka dulu pintunya, Aku harus masuk dan berbicara penting!" serunya sembari berbicara dengan nada yang pelan, "Baiklah Tunggu sebentar." jawab Natasha.


Ceklek....


"Natasha," Fizzy mendorong tubuh Natasha dan segera masuk kedalam kamarnya, Fizzy berjalan mendekati Faaz yang sedang tertidur diranjang milik Natasha.


"Faaz.. Faaz.." Panggilnya sembari mengoyak-ngoyak tubuh Faaz, Faaz terlihat sedang kelelahan itu tertidur dengan pulas.


"Fizzy, Ada apa?, Mengapa kau terlihat sangat khawatir?" Tanya Natasha saat melihat raut wajah Fizzy yang gusar.


"Bangunkan Faaz Nat, setelah itu aku akan menceritakannya" Ucap Fizzy, Natasha segera membangunkan Faaz. Faaz terbangun dan Memeluk Natasha.


"Faaz, Lihatlah saudaramu melihat tingkahmu" Ucap Natasha, Natasha tersenyum menatap kearah Fizzy.


"Faaz, bangun!, sungguh ini sangat Darurat!!!" Ucapnya penuh dengan penekanan.


"Ada Apa Fizzy, Kau selalu saja mengganggu kami!" Wajah Faaz berubah kesal kala mendengar suara Fizzy yang mencoba membangunkannya.


"Faaz, Rayna tadi datang kekamarku!!!" Seru Fizzy, Faaz dan Natasha begitu terkejut mendengar apa yang Fizzy ucapkan.


"Apa?, Bagaimana bisa?" Tanya Faaz dengan heran.


Fizzy memulai menceritakan apa yang telah terjadi, Hingga menceritakan kecurigaan mengenai keadaan Rayna yang membuatnya heran karena, dapat menemui Fizzy dikamarnya. Faaz terdiam, Kakinya tak berhenti bergerak.


wajahnya tampak lurus kedepan, sesekali ia menghirup udara dalam-dalam. Natasha terlihat cemas kala mendengar Fizzy berbicara, Ia menahan Air matanya.


"Aku bingung Faaz, mengapa dia bisa tahu tentang kalian dengan sangat detail?." Tanya Fizzy.


"Aku akan menemui Rayna dan menjelaskannya!" Ucap Faaz.


"Tidak Faaz, Kumohon!!!"


"mengapa tidak Nat?"


"Aku tidak ingin dia terluka!, dan lebih baik Aku saja yang pergi" Seru Natasha.


"Nat, kau tak perlu mengorbankan dirimu. Kamu tidak bersalah, Aku lah yang harus bertanggung jawab dengan semua ini. Aku yang salah!" sembari memegang kedua pundak Natasha, Faaz mencoba menenangkan Natasha.


"Tapi mengapa kamu yang harus menanggung semuannya Nat?"

__ADS_1


"Ingatlah mengenai kandunganmu, dan itu tanggung jawab Faaz juga kami!" Seru Fizzy yang menghampiri Natasha sembari mengusap air matanya, Fizzy terlihat sangat bersedih kala menatap wajah polos saudara iparnya.


"Aku merasa Aku ini Egois Fizzy, seharusnya Aku melepaskan Faaz saat tahu keadaan Rayna dan mengenai Anak ini. ia akan tumbuh dengan sendirinya dan kebahagiaanku sekarang tergantung kepada Aleesya, Aleesya pasti bingung jika mengetahui masalah ini" Ungkap Natasha.


"Aku merasa egois, karena telah memikirkan diri sendiri!" Ungkap Natasha kembali, wajahnya merunduk layu, matanya membendung air mata kesedihan.


"Nat, bukan Hal yang egois jika kamu mencintai diri sendiri, karena menurutku memperhatikan diri sendiri adalah prioritas utama untuk mencapai kebahagiaan dan jika kita sudah bahagia, kita akan memberikan kebahagiaan kepada orang disekitar kita" Ungkap Fizzy.


"Fizzy tapi aku bersalah, semenjak Tuan Maliq memberitahuku mengenai ini, Aku selalu tak ingin mendengarnya. Aku mencoba tidak ingin mengetehuinya karena, Aku terlalu takut kehilangan Faaz."


"Aku tahu MaliQ tidak berbohong, MaliQ memberikan bukti rekaman saat menghampiri Rayna. Namun, Aku memilih tidak mempercayainya."


"Aku bersalah Fizzy, jika saja waktu itu Aku menceritakan dan mengetahui Faaz berbohong kepada kalian dan memberitahukan nya kepada Papa. aku tidak akan terjebak sejauh ini" Ucapnya sembari menangis tersedu-sedu.


"Aku bersalah Fizzy, Aku salah!!!" Ucapnya seraya memfrustasikan dirinya sendiri, ia menjatuhkan badannya kelantai, matanya tak henti mengeluarkan buliran Air mata.


"Cukup Nat, Kau tak bersalah."


"Jika saat itu kau melakukan hal yang sama, Aku tetap tidak akan melepaskanmu!"


"Aku benar-benar mencintaimu Nat" Ungkap Faaz. Faaz membangunkan badan Natasha, memeluknya dan menghapus air matanya. Faaz terlihat seperti sedang berpikir keras, Ia merasa sangat marah, Matanya memerah menahan Amarah tersebut.


"Aku tidak ingin menjadi wanita penggoda Faaz."


"Bagaimana perasaab Rayna jika tahu akulah wanita yang menggoda suaminya." gumam Natasha kembali.


"Lupakanlah, Tugas mu memastikan jika anak yang sedang didalam kandungan mu itu lahir dengan selamat." Ucao Faaz, Natasha memeluk dan membenamkan wajahnya di dalam pelukan Faaz.


"Aku Akan menghajarmu MaliQ, KAU lah yang membuat masalah ini semakin keruh!!!!!" Ancamnya sembari mengepalkan tangannya, Wajahnya memerah kembali, bayangan wajah adik bungsunya terlintas didalam benaknya. sepertinya Kali ini Faaz tidak bisa menahan kesalnya.


.


.


.


.


Tepat didalam kamar miliknya, MaliQ terlihat sedang memikirkan kekesalannya terhadap Kaka nya itu, "Aku Akan menghancurkanmu Faaz, Aku benci denganmu. kaulah yang selalu mereka banggakan, hingga kesalahan besar saja mereka tak ingin melihatnya!!! Aku membencimu Faaz, jika saja Aku tidak menyayangi Papa, mungkin Aku sudah membunuhmu, Tidak. Aku tidak akan membuatmu Mati percuma. Aku akan membuatmu merasa susah Lalu mati dengan kesusahanmu" Umpat Maliq, tangannya mengepal, wajahnya memerah.


('Tidak Nak, Itu kakamu - Bisikan suara MamaNya seakan terdengar jelas, Namun ia sama sekali tak ingin menggubrisnya)


"Tidak, Dia bukan Kakaku. dia sudah mengambil dengan jelas cinta pertamaku. Aku tak pernah menyukai wanita hingga seperti ini. dia wanitaku Namun, Faaz merampasnya dari hatiku" Gumam Maliq, menggerutu kesal.


Maliq terdiam, duduk diatas kursi yang menghadap kearah Ranjangnya, matanya memandang lurus seakan sosok Natasha hadir dihadapannya. Maliq mengimajinasikan dirinya sedang bersama Natasha, menikmati ranjang hangat berdua.


"Natasha, Aku sangat mencintaimu" Kalimat itulah yang selalu ia ucapkan,


Dalam bayangan Maliq, Maliq sedang mencumbu tubuh Natasha, setiap lekukan tubuhnya tak ingin Ia lewati dengan percuma. "Maliq, Oh" erang Natasha selalu terdengar membisik ditelinganya. semakin lama semakin Asyik dengan imajinasinya mengenai Natasha.


"Natasha, Kau cintaku, Kau sayangku" Serunya sembari memejamkan matanya, menghirup nafasnya dalam-dalam.


Dor.... dor.. door (Suara pintu di ketuk dengan keras)


"Siapa sih ganggu gw Aja"


Dor.... dor.. door (Suara pintu di ketuk dengan keras kembali). Maliq berjalan, melangkahkan kakinya dengan malas, ia menggerutu kesal karena, mengganggap orang yang sedang ingin menemui nya mengganggu aktivitas nya yang kala ini sedang berimajinasi bersama Natasha.


"Ceklek"


"Bruuugh" Maliq terjatuh, tersungkur karena mendapat pukulan keras dari Faaz.


"Kau ingin Apa Maliq? tidak puaskah kau mengacaukan perasaan Papa dan orang-orang dirumah?"  Faaz menghampiri Maliq kembali, dan berkali-kali menghantamkan pukulan, pukulan itu membekas hingga mengeluarkan darah segar dan luka lebam pun muncul.


"Bughhh, " suara Maliq terjatuh kembali.


"Apa kau tahu, Masa mudaku? hanya untuk mengurus perusahaan dan menggantikan posisi Papa untuk mengurus semua Adik-adik ku? Apa itu tidak cukup MaliQ?"  "Bugh"


"Aku sudah kehilangan kesabaran dengan tingkah lakumu MaliQ" Buggh, Suarapukulan kembali terdengar.


"Aku membencimu, kau sudah merenggut segalanya dariku!!!!" Jawab Maliq.


"Apa kau tak mengerti?, berapa kali lagi aku harus menjelaskan" Seru Faaz.


"Aku sudah berapa kali menjelaskan padamu Maliq, Aku juga sudah meminta Maaf kepadamu. dan Lagi-lagi kau membuat masalah denganku"


"Kau bisa menolaknya, Kau bisa ceritakan padaku mengenai Rayna!!!" Jawab Maliq, Faaz menarik kaos putih yang dipakai oleh Maliq dengan menggunakan kedua tangannya, Nafas Faaz terdengar menggebu.


"Kau, Tak tahu posisiku saat itu Maliq!!!" Seru Faaz, Faaz melempar tubuh adiknya kembali kelantai dan ingin memukulnya kembali.


"Hentikan Faaz, Hentikan. Papa Mohon" Rido berdiri tegap, Ia memegang dadanya yang mungkin terasa sakit.


"Hentikan, Papa mohon" Ucapnya berulang-ulang, Faaz berlari memeluk Papanya, maliq yang tidak mampu untuk berdiri hanya meringis kesakitan merasakan bekas pukulan yang dilayangkan oleh tangan Kaka kandungnya sendiri.


"Sudah berapa kali Papa bilang, jika kau ingin membalas dendam mu kepada Kakamu. berikan saja kepada Papa, Papa lah yang bersalah" Ucap Rido, Rido terlihat sangatlah kecewa dengan sikap Anak-anaknya. "Dan untukmu Faaz, jika kau marah dengan adikmu, tak usah kau memukulnya, Pukul saja Papa, Pukul Papa Nak"


"Papa, Maafkan Kaka" Faaz memeluk Papanya dengan Erat.


"Papa, ia datang untuk menghasut Rayna." Faaz menghela nafasnya dengan berat, Rido terlihat menangis, Air matanya tak henti mengalir, membasahi pipinya.


"Aku lah yang bersalah disini" Ucap Natasha,


"Aku sudah melarangmu berbuat seperti ini Faaz, mengapa kau melakukannya."


"Bukan dengan kekerasan lah kita menyelesaikan masalah, Aku mohon hentikan semua ini"


"Aku tidak akan bersama dengan siapapun, termasuk denganmu Faaz"


"Kembalilah dengan Rayna, dan lupakan Aku" kelopak matanya terkulai lemas mengisyaratkan kekecewaan yang sangat dalam.


"Papa, Ayo kita kekamar" Ajak Natasha. Rido menuruti ajakan menantunya,.


"Faaz, Aku sudah bilang. Ajak Maliq untuk berbicara. tidak semua kekerasan akan menyelesaikan permasalahan"


"pergilah, tenangkan dirimu Faaz " seru Fizzy kembali, Faaz meninggalkan Fizzy dan juga Maliq.


"MaliQ, diamlah. Kaka akan membawakan es untuk mengompres luka lebam mu" Ucapnya.


"Tak perlu, Kau pergi saja. tak usah memperdulikan Aku!!!' ketusnya, Fizzy menarik Nafasnya dan membuangnya kesembarang Arah.


"Kau, jika Mama masih hidup. Mama pasti akan sangat kecewa dengan kata-kata mu barusan" Gerutu Fizzy.


"Dasar, menyebalkan!!" gerutunya kembali, sembari pergi untuk mengambil es.


*****


"Papa, Maafkan Natasha, Maafkan Natasha karena tidak berhasil membujuk Faaz" Ucap Natasha.


"Papa, Minum obatnya. lalu istirahat kembali," Ucap nya kembali, Rido menyeka sisa Air matanya.

__ADS_1


"May, Lihatlah aku tidak mampu mengurus Anak-anak dengan Baik Tanpa dirimu" Gumam Rido  sembari menatap lekat lukisan wajah istrinya.


"Istriku, Ajaklah aku bersamamu. Aku merindukanmu" Gumamnya kembali.


"Papa, Ku mohon. istirahatlah dengan baik. besok Papa akan menjadi wali Nikah putrri pertama Papa, Apa Papa tidak senang?" Tanya Natasha. Natasha memberikan obat dan Rido meminunya, Rido tersenyum dengan sangat manis kepada Natasha. walaupun Natasha tahu jika senyuman itu adalah senyuman paksaan karena, Natasha tahu jika Papa mertuannya sedang merasakan kecewa yang sangat dalam.


"Natasha, Apa kau mencintai Faaz?" Tanya Rido, Natasha terkejut dengan pertanyaan yang diberikan Rido.


"Iya Papa, Aku sangat mencintainya!" Ungkap Natasha.


"Apa kau tahu jika Faaz juga sudah mencintaimu?" Tanya Rido kembali.


"Iya Papa, Dia berulang kali mengungkapkannya" Seru Natasha, Natasha meneteskan Air matanya.


"Apa kau rela dimadu olehnya?" Tanya Rido kembali.


"Aku hanya bisa mencoba untuk mampu menerimanya, Namun jika itu menyakiti salah satu dari kami. Aku lebih baik mundur. dan jika Kak Rayna memang menolaknya aku akan mencoba menerima penolakan itu" Seru Natasha, Rido menatap lekat wajah menantunya.


"Apa kau tahu mengenai Rayna?' Tanya Rido kembali.


"Yang aku tahu mereka sangat saling mencintai, dan Aku hadir diantara cinta mereka, Aku akan melepaskan Faaz Papa, Kumohon ijinkan Aku." Ucap Natasha.


"Apa kamu yakin dengan perasaanmu saat ini?, Kau terlihat seperti tertekan Natasha?" Natasha menundukan kepalanya.


"Apa kau yakin Nak?, Pikirkanlah mengenai Anak yang sedang kau kandung. kau terlihat sangat tertekan karena kesalahan ku."


"Papa tidak tahu jika Rayna, Masih hidup jadi ini bukan kesalahan papa, dan Tolong berhentilah menyalahkan diri Papa sendiri"


"Papa, Aku yakin dengan pilihan hatiku. Aku tak ingin menyakiti siapapun dan itu juga yang sering Papaku ucapkan mengenai Papa Rido. Papa berucap jika Papa Rido tidak pernah menyakiti siapapun, bahkan saat Papaku membuat kesalahan yang sangat besar Papa memaafkannya, dan Aku sudah memaafkan siapapun yang terlibat dengan pernikahan pelik ini. dan Aku tidak ingin menyakiti siapapun" Ungkapnya


"Papa, dulu ada seorang wanita yang pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat hatiku tenang, kalimat itu sering sekali Aku ingat." Ucap Natasha, Rido terlihat mendengarkan kalimat demi kalimat yang Natasha keluarkan.


"Papa, setiap manusia tidak selalu ditakdirkan untuk saling memiliki. tetapi, setiap manusia hanya ditakdirkan untuk dititipi" Natasha menyeka air matanya, mengingat betul saat ia sedang berusia 10 tahun, saat ia harus benar-benar kehilangan Mamanya.


"dan Papa, dia juga berucap. jika kamu mencintai ibumu karena Allah, Cintamu tidak akan pernah mati. sama hal nya dengan Aku mencintai Faaz karena Allah meskipun Aku tidak memilikinya  namun, doaku selalu akan ku sematkan dan mungkin Allah akan selalu menghidupkan Faaz didalam hatiku walaupun raga nya bukan milik ku" Seru Natasha.


"Kau tahu darimana kalimat itu?' Tanya Papa dengan heran.


"Natasha, Apa kau pernah bertemu dengan May sebelumnya?" Tanya Papa kembali, Natasha menundukan pandangannya. Matanya tak henti mengeluarkan Air mata kesedihan.


"Papa," Panggilnya lirih.


"Natasha, May pernah bercerita. jika bertemu dengan Anak perempuan di dalam mesjid yang ada di dekat Rumah sakit di indonesia. Dia ingin menjadikannya Anak asuhnya, namun, saat itu Aku menolak karena, anak itu berucap memiliki orang tua."


"Saat itu, Aku juga sedang berada dirumah sakit yang sama karena Papaku koma" Seru Rido,


"May terus mencarimu,


"Apa itu kau?" Tanya Rido.


"Natasha, bicaralah." Pinta Rido. Natasha menangis tersedu-sedu.


"Itu Aku, "


"Apa kau kesini memang sengaja?"


"Tidak Papa, aku tidak sengaja kesini"


"Saat aku melihat foto yang dipajang, Aku lihat itu adalah ibu peri yang membantuku"


"Aku bertemu dengannya kembali saat sudah berusia 17 tahun, Mama May sudah lupa denganku Namun, aku sama sekali tidak melupakan wajahnya" Ungkap Natasha.


"Dan ia lagi-lagi membantuku" Ungkap Natasha kembali.


"Saat itu aku sedang kesusahan dengan biaya rumah sakit yang harus aku tanggung seorang diri, Papa masuk rumah sakit karena syaraf Kakinya terjepit dan membuatnya kesusahan berjalan, dan itu membutuhkan uangf untuk membawa Papa pulang, karena saat itu Aku sama sekali tidak memiliki apapun untuk membayar rumah sakit"


"Dan Mama May memberikan ini" Natasha mengeluarkan liontin yang ia pakai, liotin yang May berikan untuk Ia jual,.


"Aku menggadainya dan Aku tebus kembali, Aku berniat suatu saat jika Aku bertemu kembali dengan Mama May, Aku akan mengembalikannya"


#Flashback On#


"Maaf tante," Ucap natasha, yang tak sengaja mendorong tubuh May hingga terjatuh. Natasha hilang keseimbangan karena lantai mesjid yang terkesan licin.


"Tidak apa-apa Nak?" Ucap May, Natasha terlihat menatap lekat wajah May dan mengingat dengan seksama wajah cantik nya.


"Kamu kenapa Nak?, Apa kita pernah bertemu?" Tanya May, Natasha menggelengkan kepalanya, Ia memang berbohong karena takut merepotkan May kembali.


"Kenapa wajahmu sangat kebingungan Nak"


"Tidak, Tante, eh bu" Jawab Natasha.


"Natasha, " Panggil Reysa, Adik tiri Natasha. May menatap wajah Reysa Namun reysa tak berniat menyapa May yang berdiri mematung berhadapan dengan Natasha.


"ELu disini, nyokap bilang cepatan cari uang buat bawa bokap lo balik!!, makin nanti makin mahal tuh biaya kamar"


"oh iya, elu udah kan solatnya, tuh ibu yang disana butuh lo angkatin box cateringnya. gw mau balik cape!" Ucap Reysa, Natasha terdiam melihat tingkah laku saudara tirinya.


""Nak, kenapa kamu menangis?" tanya May, May melihat Natasha menyeka Air matanya.


"Tidak bu, Maaf jika sudah membuat ibu susah"


"Tidak, Maaf saya gak bawa uang cash, ijinkan saya membantu kamu. Jual saja ini mungkin cukup untuk membawa Ayahmu pulang" Seru May.


"Tidak, Bu. terimakasih" Ucap Natasha yang berusaha menolak bantuan yang akan May berikan.


"Tidak boleh menbolak, Ibu ikhlas kok Nak" Ucap May. Natasha menerima bantuan yan May berikan dan May pamit kembali untuk masuk kedalam Mobil,


#FLashback OFF#


"Mama May saat itu selesai melakukan sembahyang bersama, malah Mama May sembahyang tepat dihadapanku" Ucap Natasha.


"dan saat itu, Aku selalu mendengarkan cerita Papa, Papa memberikan Foto dengan wajah yang sama. bahkan Foto Mama Lira yang sedang dipeluk Oleh Mama May masih tersimpan Rapih dikotak milik Mama lira" Seru Natash.


"Ini jalan dari tuhan Natasha, mengapa kau tidak menyadarinya"


"Mama May, pernah menceritakan ini kepadaku."


"Aku bertemu dengan gadis yang shalihah, mungkin seusia Maliq, entah seusia Qabil. dia terlihat sangat baik dan sembahyangnya juga terlihat khusyu. Aku ingin memiliki menantu sepertinya" Ungkap May saat itu, "Mungkin May sedang menceritakan dirimu". Gumam Rido kembali.


"Menceritakan Apa Pa?" Tanya Maliq yang datang dengan tiba-tiba.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2