TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Keadaan Alea.


__ADS_3

Dokter Hans sudah datang, Rido menyambutnya dengan sangat ramah.


"Selamat siang Dokter" Sapa Rido.


"Selamat siang Tuan Rido, terimakasih sudah mengijinkan saya datang malam ini." Ujar nya, "Noni menghubungi saya, Noni adalah anak semata wayang saya" Ujar nya kembali.


"Anda benar-benar sangat beruntung memiliki anak secerdas Noni, dia dengan sangat percaya diri menjelaskan setiap pertanyaan hingga keluhan yang ada di dalam keluarga saya. dan saya sangat beruntung bertemu dengannya" Puji Rido terhadap Noni membuat Dokter Hans tersenyum, Ia merasa bangga dengan anak perempuannya yang mungkin selama ini kurang dekat dengan nya dan Noni mampu membuktikan bahwa dirinya berkualitas.


"Terimakasih atas pujiannya." Ucap Dokter Hans, Dokter Hans dan Rido memang sudah lama menjadi teman. semenjak Alea kecil, Dokter Hans lah yang menangani kesehatan mentalnya jadi Dokter Hans sangat tahu betul bagaimana kondisi Alea.


mereka pun berbincang mengenai keadaan Alea, Rido merasa sangat terpukul atas keadaan yang menimpa anaknya.


"Tuan Rido, saya hanya berharap anda kuat. karena, Alea sangat membutuhkan anda sebagai penopang batin nya" Ujar Dokter Hans, "Saya sangat yakin Alea akan sembuh!, " Ujar nya kembali.


"Terimakasih Dok, Insha Allah saya akan belajar lagi dan lagi untuk sabar dan Ikhlas. Alea anak yang baik dan juga pintar, saya sangat yakin Alea akan berusaha untuk sembuh" Ucap Rido penuh dengan tatapan iba, Rido tahu ini memang tidaklah mudah untuk Alea.


Bahkan di dalam kehidupan Alea, hanya obat lah yang menjadi penyempurna kehidupannya saat itu. Alea sering menolak, "Papa aku capek, mengapa hanya aku yang selalu memakan obat ini". setidaknya berbuat pasrah hingga mengobati sudah, namun kini Rido akan lebih pasrah dengan ketentuan Allah.


Baginya kesembuhan Alea sekarang adalah bonus, namun keyakinan kepada Allah pun harus tetap di tegakan dan di lakukan karena prinsip hidup Rido yang selama ini menjadi penegak teguh adalah yakin jika apapun yang Allah berikan adalah bernilai Rezeki maka, baginya kekurangan dan kelemahan anaknya adalah rezeki yang Allah berikan untuk nya.


"Dokter, apa penyakit itu akan membahayakan orang-orang di rumah ini?, " Tanya Rido, "Jika iya, saya tidak ingin lagi mengurung nya. namun, Saya takut kelak Alea membahayakan Cucu-cucu saya dan orang-orang yang berada di rumah ini. Apakah Saya harus mengurungnya atau mengasingkannya. maksud saya, saya rela hanya tinggal berdua bersama Alea" Rido menunjukan luka cakaran di belakang punggungnya, Faaz dan yang lainnya tak mengetahui keadaan itu karena Rido takut jika Faaz malah mengurung Alea kembali seperti Zain yang saat itu mengurung Alea karena perintah dari Faaz.


"Banyak pasien skizofrenia jadi dikucilkan, dibuang bahkan tak jarang dipasung agar tidak mengganggu orang lain. Padahal jika mereka melakukan terapi pengobatan sedari dini, mungkin fungsi kecerdasan dan kognitifnya bisa kembali normal. Skizofrenia itu gangguan jiwa berat dimana seseorang dapat mengalami halusinasi, paham dan sebagainya yang tidak sesuai realita. Penyakit ini disebabkan karena hiper dopamin di otak. Kelebihan Dopamin akan menciptakan racun buat neuron, sel saraf di otak. Kalau tidak diobati segera maka akan menyebabkan kematian sel otak," jelasnya, "Namun, bukan itu cara untuk mengobatinya."


"Bagaimana jika Alea menyakiti yang lainnya?, " Tanya Rido.


"Buat dia senyaman mungkin di rumah ini Tuan Rido, jangan bebankan masalah apapun dulu dengan nya. maksud saya, jangan dulu ingatkan permasalahan yang sedang menimpanya." Jelas Dokter Hans, "jika bukan orang-orang di rumah ini, lantas siapa lagi yang akan merangkulnya," Sambung Dokter Hans membuat Rido meneteskan air mata, saat ini Rido memang tak banyak bicara. Rido lebih banyak berdiam diri, ketakutan di dalam dirinya lah yang membuat nya terdiam. ia takut jika anaknya melukai orang-orang tak berdosa, walaupun Ia ikhlas menerima cobaan ini namun jika terjadi sesuatu lagi yang membahayakan orang di sekitarnya, ia tak mau menerima.


Mereka sedang berbincang dengan hangat, Maliq datang tanpa di duga bahkan Maliq. keluar kamar Alea hanya seorang diri, dan Rido pun bertanya kepada Maliq mengenai apa yang terjadi di kamar kakaknya itu.


"Maliq, mengapa kau tersenyum? dan mengapa kau meninggalkan Noni seorang diri?" Tanya Rido.


"Noni yang meminta ku keluar Papa," Jawab Maliq, "Halo Dokter Hans, apa kabar?, " Tanya Maliq sembari mencium punggung tangannya, Maliq memang anak yang sangat sopan karena sedari kecil Rido selalu meminta anak-anak nya untuk berprilaku sopan kepada yang lebih tua.


"Maksud mu bagaimana Nak?, " Tanya Rido, Maliq pun duduk di samping Rido dan mulai menceritakannya. Rido dan Hans pun dengan semangat mendengarkan apa yang akan Maliq ceritakan.


"Begini Pap... tadi Kak Lea memanggil-manggil nama Papa dan Mama lalu Kak Lea juga seperti orang yang terlihat kacau bahkan selalu mengucap kalimat " Tidak Maliq," atau "Tidak Kakak", lalu setelah itu....."


Flashback di Mulai...


Noni mendekatkan dirinya tepat di dekat ranjang Alea, "Noni.. " Panggil Maliq seraya memintanya untuk tidak mendekat kepada Alea, Noni pun tak mendengar keinginan Maliq saat itu.


"Berhenti berpikir Alea itu berbahaya! " Ucap Noni sembari mendokakkan mata nya kearah Maliq.


Alea membuka matanya, "Siapa kamu?, " Tanya Alea, Noni pun menjawab dengan senyuman.


"Halo, Aku Noni.. bolehkah aku berteman dengan kamu?" Alea menganggukkan kepalanya, Alea senang dengan senyuman itu. "Oh iya, kamu namanya siapa? bolehkan Noni tau?, " Tanya Noni.


"Nama ku siapa?, lelaki itu siapa? " Alea bertanya kepada Noni siapa lelaki yang sedang bersamanya, saat itu Maliq ingin menyadarkan Alea bahwa dia adalah Maliq namun, Noni menukas ucapan Maliq dengan tangannya seraya menandakan untuk Maliq berdiam diri.


"Kamu tidak tahu nama mu?, " Tanya Noni, Alea mengangguk, "Lalu siapa namamu?, " Tanya Noni kembali.


"Alea" Dengan sadar Alea menjawab pertanyaan Noni, "Itu Maliq kan?, " Tanya Alea kembali.


"Syukurlah, kau mengingat nama-nama itu!, " Ucap Noni, "Baiklah sekarang kita berteman iya! " Ujar nya kembali, Alea mengangguk pelan.


"Alea bolehkah aku bertanya?, " Tanya Noni, "Namun, jika kamu merasa tidak ingin menjawab tidak apa-apa. lain kali saja Aku bertanya!, " Ucap Noni.


"Boleh, tapi aku tidak mau lelaki itu melihat ku!, " Ucap Alea, "Aku tidak tahu siapa dia, dia bukan teman ku!," Gumam Alea, ia seperti berada di bawah alam sadar yang sama namun sedang bertolak belakang,


Alea berteriak, "Aahhhh ... suara itu, bisikan itu" Ucap Alea sembari ketakutan.


Noni memeluknya, Alea terlihat nyaman berada di dalam pelukan Noni. Maliq meneteskan air matanya, "Kak Lea, Maafkan Maiq kak" Ucapnya dalam hati.


setelah di rasa Alea sudah memiliki ketenangan, Noni kembali melepaskan pelukan Alea.


"Apa kau dengar bisikan itu?, " Tanya Alea, Noni tidak mendengar namun, Noni sedang meminta kepercayaan Alea untuk Noni bisa mendekatinya.


"Aku mendengar namun, Telinga ku sakit jadi tidak terdengar jelas. apa yang dia katakan?, " Tanya Noni.


"Mereka bilang, Aku tidak boleh hidup disini!! " Jawab Alea, Ia memeluk lututnya seraya sedang merasakan ketakutan. tangan dan bibirnya gemetar.


"Mereka? " Tanya Noni pelan,


"Iya Mereka!, Mereka tak terlihat namun suaranya sangat jelas!, mama berdiri di sana dan selalu tersenyum" Noni meneteskan air matanya saat mendengar Alea bercerita, "Aku takut, "


"Aku takut, Jika suara-suara itu berbisik di telinga ku dan rasanya sangat panas! " Ucap nya kembali.


"Kau mengingat Mama?, Mama siapa?" Tanya Noni, Noni merasa sebenarnya pembicaraan ini tidak nyambung namun tekad pertama Noni adalah ingin dekat dengan Alea dan Noni berusaha mempercayai apa yang menjadi halusinasi Alea.


"Apa.kau mengingat nama mama mu? " Tanya Noni, Alea malah menatap wajah Noni dan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Oke Baiklah, jika nanti mereka berbicara lagi!, Alea bisa kan menolak keinginan mereka? " Tanya Noni, seketika Alea menghentikan tawa nya.


Ia pun menatap Noni kembali, lalu Alea mengangguk pelan, "Alea pinter, Noni senang berteman dengan Alea" Ucap Noni, membuat Alea tersenyum.


Alea kembali menilik wajah Maliq, ia seakan mengenal siapa Maliq. "Kau, " Alea menunjuk wajah Maliq dengan menggunakan satu tangannya.


"Kau Qabil, kekasihku kan?!, " Tanya Alea, Ia beranjak dan memeluk Qabil.


"Qabil, Aku merindukan mu!!, kau tadi menemui ku dan memeluk ku!, apa itu mimpi?," Tanya Alea, Maliq mengangguk walaupun sebenarnya hati nya tak bisa menerima. Alea memeluk nya dengan erat, ia mengendus bau tubuh Maliq.


"Kau Maliq adik ku, adik yang selalu aku sayangi" Ujarnya kembali, Alea memegang pipi Maliq menggunakan kedua tangannya.


"Mengapa dengan wajahmu Maliq? " Halusinasi Alea kini seakan melihat wajah Maliq yang penuh luka pukulan, "Haaaa siapa yang memukul mu Maliq? " Tanya Alea kembali.


Ia menilik-nilik wajah Maliq, dan ia kembali merasa takut. "Maliq, Kakak takut!," Ungkap Alea, "Temani kakak Maliq, ayo nanti Mama datang membawa Cookies kesukaan kita" Ungkap nya kembali, Maliq memeluk Alea. ia menangis tersedu-sedu melihat keadaan Kakaknya, Alea mengingatkan Maliq saat beberapa tahun yang lalu, saat mereka kecil.


Alea selalu meminta Maliq menemaninya, namun saat itu Maliq memilih meninggalkannya dan menjaga Ayana. Maliq sadar, permasalahan itu pun menjadi tekanan pada hidup Kakaknya dan Maliq merasa sangat berdosa kepada kakaknya itu.


"Kak Lea, Kakak mau Maliq temani? " Tanya Maliq, Alea mengangguk pelan.


"Baiklah, Maliq temani Kaka disini." Ujar Maliq, Alea tetap memeluk adiknya itu.


terasa sekali jantung Alea berdegup lebih cepat dari biasanya, "Mama, Maliq mohon.. bilang pada Tuhan, sembuhkan Kak Lea mah" ucapnya di dalam hati.


Alea menoleh kearah Noni, "Noni, dengar mereka berbicara lagi" Adu nya kepada Noni, ia melepaskan pelukan Maliq. ia berjalan lagi, kali ini Alea seperti sedang berada di atas kapal, ia menceritakan jika ia bertekad untuk bunuh diri bukan untuk mencari tahu siapa yang akan menyelamatkannya, "suara itu memintaku untuk masuk kedalam air!, dan saat itu Mama menolongku" Ujar nya.


"Iya, Aku pembunuhnya Noni.. aku yang telah membuat Mama mati.. dan Maliq kau benar" Noni memeluk Alea, "Noni kau siapa, mengapa kau memeluk ku!, " Ungkapnya.


"Aku teman mu!, kita berteman.." Saat Noni memeluk Alea, Noni meminta Maliq meniggalkan mereka dan kepergiaan Maliq pun tanpa Alea sadari.


Maliq memilih untuk diam di luar pintu kamar Alea dengan waktu yang sangat lama, Maliq mendengarkan setiap detail pembicaraan mereka, bahkan saat ini Maliq mendengarkan setiap cerita Alea. Noni membuat Alea bercerita dengan nyaman di dalam pelukan Noni, dan Alea berucap sangat menyayangi keluarga nya, bahkan Ia pun menyebut nama Natasha.


"Alea dengarkan Aku, jika suatu saat nanti kau mendengar suara atau bisikan itu. Kau harus bisa melawannya, satu hal yang harus kau tanamkan adalah rumah ini, keluarga ini sangat kau cintai!! " Gumam Noni,


"Oh iya, kau ingin aku datang setiap hari?, " Tanya Noni, "atau Aku menginap dengan mu disini?, " Tanya Noni kembali.


"Iya, Aku ingin berbincang dengan mu setiap hari" Gumam Alea, Noni tersenyum.


"Ya sudah, baiklah Noni akan mengikuti keinginan Alea karena Noni adalah teman dan sahabat untuk Alea" Sambung Noni kembali, Noni pun memberikan obat untuk Alea agar Alea merasa tenang dan saat Alea menerima obat dari tangan Noni, Alea sama sekali tidak menolaknya bahkan obat itu di minum melalui tangannya sendiri.


Dalam hati Maliq bergumam, "Mengapa Kak Alea sejinak itu bersama Noni, Noni benar-benar bisa membawa Alea menjadi baik sama seperti yang Natasha lakukan. Syukurlah aku berharap ini menjadi Awal yang baik untuk kesehatan Kak Alea" Maliq pun segera meninggalkan kamar Alea


FLASHBACK BERAKHIR**


"Iya Papa, Aku senang melihat nya" Sahut Maliq.


"Syukurlah jika Nonia membawa hal positif untuk Alea, saya pun senang mendengarnya" Gumam Dokter Hans,


Noni datang membawa senyuman, mungkin kalimat itu sangat pantas untuk diberikan kepada Noni. Rido merasa senang saat mendengar cerita yang Maliq berikan, baginya ini adalah hal positif yang diberikan untuk Alea dan demi kemajuan kesehatan Alea, Rido meminta bantuan dengan sangat sopan kepada Dokter Hans untuk mengijinkan Noni mengurus Alea.


"Dok, Maaf sebelumnya apa Noni bisa membantu saya dalam mengurus Alea. karena biasanya Alea selalu berbincang dengan Menantu saya yang sedang dalam pemulihan" Pinta Rido sembari mengatupkan kedua tangannya,


"Saya tergantung Nonia Tuan Rido, saya senang jika memang kedekatan diantaranya bisa membantu. Noni juga sudah memiliki pengalaman dalam mengurus pasien Skizofrenia." Ucap Dokter Hans.


"Aku rasa Noni akan senang dalam menyambut permintaan Papa, " Gumam Maliq.


"Noni mau Om Rido dan Noni akan sangat senang jika membantu Om Rido." Ucap Noni yang begitu saja datang menghampiri mereka.


"Terimakasih Noni, Om tidak akan melupakan jasa-jasa yang Noni berikan" Sambung Rido penuh senyuman.


"Dad, apa kabar?, " Tanya Noni, Rido dan Maliq sangat heran karena melihat sikap cuek dari Dokter Hans kepada Noni.


"Baik, Congratulation Noni. Daddy bangga sama kamu" Ucap Dokter Hans, mata Noni membendung air matanya. Maliq melihat ada suatu permasalahan diantara mereka, karena sebelum nya Noni berucap jika dirinya sama sekali tidak dekat dengan sosok sang Ayah.


"Aku baru denger kalau Daddy bilang bangga sama Aku" Batin Noni bergumam, Noni memeluk ayah nya di hadapan Rido dan Maliq, terlihat sekali jika Noni sangat merindukan sosok Ayahnya.


"Sudah," Dokter Hans melepaskan pelukan Noni, "Tuan Rido bisakah saya melihat Alea? " Tanya Dokter Hans, Rido pun mengiyakan pertanyaan dari Dokter Hans untuk menemani nya menemui Alea.


Lalu Rido mengantarkan Dokter Hans untuk menemui Alea.


Maliq menggeser kan tubuhnya dan berucap, "Thanks Iya, " Ucap Maliq, Noni tersenyum. jantung nya seakan berdegup kencang saat melihat Maliq menatap nya penuh kehangatan.


Bibir Noni bergetar, "Untuk Apa?, " Tanya nya, "Aku rasa sekarang kau sudah mulai jinak Tuan kejam?, awas nanti mulai suka loh!! " Gumam nya, Maliq menggelengkan kepalanya dan mendecih di hadapan wajah Noni.


"Kaya nya sih enggak deh, habis nya cewe Aneh bukan tipe Aku!." Sahut Maliq seraya meninggalkan Noni, Noni tersenyum.


"Lihat saja nanti, kau akan menyukaiku Tuan Kejam!! " Ucap Noni di dalam hatinya.


**


Natasha sudah di pindahkan ke dalam ruang rawat inap, Suster pun sudah memberitahu Faaz mengenai kepindahan Natasha.

__ADS_1


"Suster, apa suami saya sudah datang?." Tanya Natasha.


"Belum Nyonya, tetapi kami sudah mengabari pihak keluarga Anda terutama suami anda." Jawab Suster yang sedang menjaga Natasha, "Nyonya Natasha, saya harus mengecek pasien lain dahulu. jika ada sesuatu yang anda perlukan, anda bisa memijit tombol merah disini" Sambungnya, Natasha pun mengiyakan apa yang suster ucapkan.


"Terimakasih Suster" Ucap Natasha, Natasha merasa penasaran dengan keadaan anaknya. bahkan kini pikirannya pun tertuju pada Aaleesya, dia sangat merindukan sosok malaikat kecil yang selalu menghiburnya.


"Aaleesya, kau sedang apa? Mama peri sangat merindukan mu, Mama ingin memeluk mu nak!, " Ucap Natasha, air matanya pun jatuh. Ia juga memikirkan bagaimana nasib Qabil, walaupun Faaz belum memberitahu mengenai kondisi Qabil, namun Ia merasa jika hal buruk sedang terjadi kepadanya.


"Apa Qabil baik-baik saja!, bagaimana pernikahan mereka? apa semuanya batal?, " Gumam Natasha.


"Ya Tuhan, Aku mohon. lindungilah semua Anggota keluarga ku, terutama Papa dan juga Papa mertua ku. jauhilah mereka dari marabahaya macam apapun!! " Sepertinya semua sedang merasa tertekan, "Aku ingin segera pulang, mengapa firasat ku sangat tidak enak. ada apa dengan orang-orang yang aku sayang!, " Gumam nya kembali.


"Sayang, " Sapa Faaz yang sudah datang dan berdiri di hadapan Natasha, "Mengapa dengan mu?, mengapa kau menangis?." Tanya Faaz.


"Aku merindukan semua nya Faaz, Aaleesya, Alea, Papa Jimmy, Papa Rido dan semua!!, Aku merasa tidak betah!" Tutur Natasha penuh dengan penekanan.


"Sayang, saat kau pulih. aku akan segera membawa mu pulang" Sahut Faaz.


"Kapan aku pulih Faaz?," Tanya nya kembali,


"Secepatnya!, jika kau sabar dan bertekad segera pulih, Tuhan pasti segera memberikan kesehatan padamu! " Jawab Faaz, Natasha bersandar tepat di dada Faaz. Faaz mengusap lembut pipinya, "Lihat lah ini Damar anak kita! " Faaz memberikan sebuah video yang menunjukan Damar didalam video tersebut.


"Sungguh dia anak yang kuat kan! " Ujar Faaz, Natasha kembali meneteskan air matanya, "Kau harus kuat, esok pagi kau bisa menggendong Damar dan memberikannya Asi." Ucap Faaz kembali, Natasha terlihat sangat bahagia.


"Dokter mengijinkan ku untuk menemui nya?, " Tanya Natasha, Faaz menganggukkan kepalanya. Natasha kembali melihat video tersebut, "Nak, kelak kau akan melindungi kami. melindungi Kakak perempuan mu dan kau akan menjadi lelaki yang baik seperti Papa dan juga Kakek mu!!, Mama harap kau selalu kuat Nak!, " Tutur Natasha, Faaz mencium keningnya.


"Faaz, Aku ingin melakukan Panggilan video bersama Alea. Esya pasti sedang bersama nya!!" Faaz terdiam saat mendengar permintaan Natasha, Ia juga terlihat sangat frustasi.


"Faaz, Apakah terjadi sesuatu kepada Alea?, " Tanya Natasha, "Faaz, Ku mohon jawablah!" Ucap Natasha kembali.


"Sayang,." Belum sempat menjawab pertanyaan dari Natasha, pintu kamar inap milik Natasha diketuk kembali dan sepertinya seseorang sedang ingin menemui Natasha.


Tok ..


Tok..


Tok


Faaz pun membuka pintu tersebut, "Surprise!!! " Ayana dan Mael terlihat datang membawakan karangan bunga berukuran besar.


"Aku merindukan mu Kak Nat, " Ayana segera memeluk Natasha, Natasha juga terlihat senang saat melihat kedatangan Ayana.


"Kalian kesini berdua? " Tanya Natasha.


"Tidak!! " Jawab Ayana dan Mael bersamaan.


"Lalu?" Tanya Natasha kembali, Natasha seperti sedang merasa penasaran.


"Tebak dong!, " Ayana mengedipkan sebelah matanya, Natasha merasa penasaran.


"Ayana!!!, " Ucap Natasha seraya memohon kepada Ayana.


Bayangan kecil terlihat dari balik dinding kamarnya, "Mama peri.... " Aleesya berlari dan memanggilnya.


"Ayana, kau membawa malaikat kecilku!!, Terimakasih Tuhan, kau mendengar doa ku." Tutur Natasha kembali, Ayana tersenyum karena melihat rona wajah Natasha yang terlihat bahagia.


"Mama aku merindukan mu!," Ucap Nya sembari memeluk Natasha.


Natasha membalas pelukan Aaleesya, "Mama juga merindukan mu, kamu tidak nakal kan sayang?, " Tanya Natasha kepada Aaleesya.


"Tidak, Mama Rayna bilang.. Aku tidak boleh nakal, dan dia bilang katanya Aku harus banyak berdoa kepada Tuhan agar Tuhan menyelamatkan Adik dan Mama peri" Ucap Aaleesya dengan wajah polos membuat semua merasa kebingungan.


"Sayang?, kau tadi memanggil Mama siapa?, " Tanya Ayana.


"Mama Rayna, " jawab nya,


"Mama Rayna?, " Tanya Ayana, Ia memang sempat memergoki Aaleesya berbincang bersama Rayna namun saat itu, Ayana sedang merasa sibuk dan tidak terlalu memikirkan nya.


"Dia memanggil nya Mama, " Ucap Natasha, perasaannya semakin bahagia karena dulu jika Natasha memaksa Aleesya untuk dekat dengan Rayna, Aaleesya selalu menolak dan kini Aaleesya dengan nyaman nya memanggil Rayna dengan sebutan Mama.


"Sayang, Apa Mama Rayna tidak membuat mu kesal?, " Tanya Ayana.


"Ayana.." Mata Natasha terlihat tak menyukai pertanyaan Ayana, Ayana pun meminta maaf segera kepada Natasha.


"Maaf kak!, " Ucap Ayana, matanya sayu terlihat.


"Mama Rayna baik, tapi kata Mama Rayna. Mama ku ada dua, dan katanya dua-dua nya sangat menyayangi ku" Sambung Aaleesya membuat Natasha semakin bahagia.


"Mama Rayna siapa nya aku Mama peri? " Tanya Aleesya polos


"Mama Ray, Mama Esya." Jawab Natasha, "Dan Mama peri juga Mama Esya" Timpal Natasha kembali dengan senyuman.

__ADS_1


"Aku harus menghubungi Kak Rayna, seperti nya kejadian ini membuatnya sadar dan mau memaafkan ku serta berdamai bersama ku" Gumam Natasha di dalam hatinya.


"Banyak yang aku pelajari dari setiap kisah ku sendiri, menangis karena kehilangan, kecewa karena tak dihargai, hingga terluka karena di khianati. Bahkan semua itu cukup untuk memberiku pandangan dimana aku bisa melihat bahwa sosok yang baik tak selamanya berbuat baik, dan sosok orang jahat pun tak selamanya berbuat jahat" Gumam Natasha kembali, "Dan aky yakin Kak Rayna masih memiliki sisi baik walaupun orang sedang memandangnya dengan kejahatan yang di lakukan nya"


__ADS_2