TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
kegundahan May


__ADS_3

Ting Tong.. (Suara bel berbunyi)


Aku segera menuju pintu utama Rumahku. "Ceklek" Suara pintu yang kubuka terdengar dengan jelas.


"Assallamualaikum" Sapa seorang wanita cantik yang berada dihadapanku.


"Waalaikum salam, maaf apa ada yang bisa saya bantu Nona?" Tanyaku, dia tersenyum dengan sangat hangat.


"Saya Adeeva, teman Bisnis Tuan Rido. Senang bisa bertemu dengan anda, anda Pasti Nona May" Ucapnya.


(Ya Tuhan ku, Rido bilang kalau Adeeva itu seperti lelaki. Dia sangat cantik melebihi Aku! - batinku)


"Oh, silahkan Masuk Nona Adeeva."


"Terimakasih Nona, benar apa kata semua orang dikantor. Nona May memang sangatlah baik dan juga Ramah" Ucapnya, Aku pun tersenyum dan segera mempersilahkannya masuk.


('Dikantor?, mengapa dia berucap mereka memujiku!, Apa Rido membawanya kekantor. - gumamku dalam hati.)


"Maaf Nona Adeeva, Tetapi suami saya sedang pergi menjemput adik nya, Apa sudah ada janji?." Tanyaku sembari mempersilahkan nya duduk.


"Tidak Nona, sebenarnya sepengetahuan Tuan Rido. saya sedang didalam perjalanan menuju Indonesia."


(Lalu, mengapa dia kemari dan seolah ingin memberikan Kejutan kepada suamiku - gerutuku kembali didalam hati.)


"Saya tidak membuang waktu anda kan Nona?" Tanya nya, Aku hanya tersenyum sembari kebingungan. Wajah ku tersirat berjuta pertanyaan tentang sosok Adeeva tersebut, entahlah perasaanku merasa ada Hal aneh yang sedang terjadi diantara Rido dan Dia.


"Ti..tidak Nona, saya akan ambilkan air untuk anda minum Nona adeeva" Pamit ku padanya, Dia pun hanya menganggukan kepalanya.


Aku membawakan dua gelas Air teh hangat tanpa Gula, Aku berbincang dengannya. Ia bercerita mengenai Kedekatannya bersama Risa dan juga Rido. Dia juga terlihat seperti menyukai Rido suamiku, Namun aku tidak ingin terlalu lama menakuti hatiku dengan berpikiran seperti itu.


"Jadi Nona Deva kenal dengan Mama dan Papa mertuaku juga?" Tanyaku.


"Iya, dengan Richard juga aku kenal Nona." Jawabnya sembari meminum teh yang sudah aku suguhkan.


"Aku senang sekali bisa bertemu dengan mereka kembali" Ucapnya, Aku tesenyum dengan sangat terpaksa.


"Nona deva, Apa anda Lapar?" Tanya ku.


"Tidak Nona May, Maaf jika sudah membuang waktumu Nona." Ucapnya.


"Tidak, Sebentar saya harus menghubungi Suami saya dlu Nona"


"Biar saya saja yang menghubunginya Nona." Seru Adeeva yang segera menghubungi Rido melalui ponsel miliknya.


.


.


.


"dia sedang berada didalam perjalanan Nona" ucapnya.


(Apa?, mengapa dia tidak membiarkanku menghubungi suamiku - batinku)


*****


Rido POV.


Aku memang sedang merencanakan sesuatu, Adeeva Sulivan namanya, dia gadis yang sangat baik dimataku. Dia adalah temanku dan Risa sewaktu kami tinggal Di Turki bersama Papa dan Mama, lebih tepatnya sudah seperti Saudara kami. Aku sudah menganggapnya seperti Risa Almarhum Adik ku. Dia wanita yang sangat ramah, dia juga sangat Pintar. Shaloom dan Yofie juga sempat mengenal sosoknya, Namun saat itu Shaloom begitu sangat tidak menyukai Adeeva.


Kami memang sudah lama sekali tidak bertemu bahkan saat Aku dan May menikah, Adeeva sama sekali tidak mengetahuinya.


Pertemuan kami kembali, memang tidak sengaja. Karena saat itu Aku dan Dhan akan menemui client yang sangat penting.


"Dhan, Pukul berapa kita bertemy dengan Tuan Rudolf?" Tanyaku pada Dhan.


"Pukul 2 siang Tuan, Tetapi Assisten nya mengabari jika Adiknya lah yang akan menemui kita" Tutur Dhan, Aku berpikir jika Tuan Rudolf sama sekali tidak memiliki Adik.


"Baiklah Dhan, Kabari saja aku. Aku akan pulang dulu kerumah untuk makan siang bersama Istri dan Anak-anak ku" Jawabku, Aku pun segera pergi meninggalkan Dhan yang sedang sibuk memeriksa beberapa sisa laporan.


Saat Makan siang selesai. Aku yang sudah menerima panggilan di ponselku bergegas untuk segera menghampiri Client yang akan Aku temui siang ini.


"Baik Dhan, Aku akan segera kesana" Ucapku sembari mengakhiri panggilan di ponselku.


"Sayang, bisakah tidak pulang sampai malam hari ini?" Tanya May sembari memeluk ku.


"InshaAllah sayang" Jawabku singkat.


"Memangnya ada apa?" Tanyaku kembali.


"Faaz, Alea dan Fizzy tadi ingin ikut dengan Fahriye kerumah Babanya, jadi aku mengijinkannya. Aku kasihan jika Fahriye harus mengantarkan mereka kesini" Ucap May, Aku menggelengkan kepalaku.


"Kenapa kau menggelengkan kepalamu?" Tanya May, aku tersenyum melihat wajahnya yang terlihat kebingungan.

__ADS_1


"Aku memikirkam bagaimana Fahriye disana dengan ketiga Anak kita?" Ucapku padanya, decihku terdengar keras membuatnya menggelengkan kepalanya.


"Aku tak mengerti mengapa mereka sangat dekat dengan begitu cepat dengan Fahriye" Gumamnya seraya berpikir dan mengangkat Alisnya. "Aku pikir sih, Fahriye memiliki sifat keibuan, dia sangat sabar sekali". Gumamnya kembali.


"Sudah iya sayang, Aku harus segera menemui Clientku. Dhan sudah disana menungguku" Aku mencium keningnya dan mencium Ayana yang sedang didalam gendongannya itu.


"Ayana sayang, Sabar iya Daddy mu sedang sibuk. Kau tak boleh merepotkan Mama mu dirumah" Gumamku sembari mencium kening Ayana, Aku masuk kedalam mobilku. Segera ku injak pedal gas mobil ku, Dan ku lajukan dengan kecepatan rendah.


QUICLY RESTO


Sesampainya di Restoran, Aku segera menghampiri Dhan yang sudah duduk bersama dengan clientku. Aku segera menyapanya dan saat ia menoleh aku tak menyangka jika dia adalah orang yang sangat aku kenal, dan sudah lama sekali aku mencarinya.


"Selamat Siang, Maaf terlambat" Sapaku padanya, Dhan mempersilahkan ku duduk, dia menoleh kearahku.


"Rido." Sapanya.


"Maaf benarkah kamu Rido?" Tanyanya dengan kegirangan.


"Deva, ya ampun" Jawabku.


"Silahkan duduk Do, sumpah kamu kok makin Tampan Saja"


"Ah bisa aja!" Jawabku sembari tersenyum.


"Tuan Dhan, mengapa kau tidak bilang jika client besarku ini adalah orang Indonesia. Aku kan jadi tidak repot berbahasa turki sedari tadi" Gerutunya kala itu, Dhan pun tertawa kecil melihat keramahan Adeeva.


"Saya kira Anda benar-benar orang sini Nona" Ungkap Dhan, aku pun tertawa kecil melihat Dhan yang terlihat gugup.


"NahLoh, sekarang udah jadi cewe dev?" Godaku padanya.


"Iya Nih, semenjak susah cari Jodoh." Jawabnya seraya melontarkan kalimat candaan kepada ku dan Dhan.


"Gimana nih?, Kak Rudolf itu kaka ku." Ucapnya.


"Tapi setahu ku kamu Anak tunggal dev" Ucapku, ia terlihat tersenyum dan matanya berbinar.


"Dia Kaka angkatku Do," Jawabnya sembari memegang tanganku yang ku letakan diatas meja resto tempat kami duduk, matanya terlihat menatap ku lekat.


"Eh Maaf, gimana nih jadinya?" Tanyaku, Aku sedikit terganggu dengan sikapnya saat itu. Bayangan May pun muncul di dalam benak ku, Aku merasa darahku mengalir dengan deras.


Kami segera membicarakan persoalan inti kami saat itu, Dan syukurlah adeeva mau menandatangani kontrak kerja sama ini. Bagiku perusahaan Rudolf menjanjikan keuntungan yang lumayan berkah untuk para pekerja baru kami dan Aku juga melihat kinerja kerja mereka sangatlah bagus.


"Eh, jangan dulu pulang dong!" Seru Deva.


"Udah larut deh kayanya dev, soalnya istriku tadi minta jemputin Anak-anak dirumah mertuannya Dhan" Jawabku, dia melongo saat mendengar kalimat yang keluar dari bibirku.


"Bentar, Istri?. Anak?" Tanyanya sembari terlihat sangat terkejut.


"Oh iya Lupa dev, Aku udah nikah. Udah mau 4 tahun." Jawabku.


"Udah punya anak berapa Do?" Tanyanyq singkat.


"Empat dev" Jawabku polos, ia terlihat seperti sedang kecewa.


"Iya dulu ada pengganggu tuh Si shaloom, sekarang lebih berat Lagi" Ceplosnya membuat Dhan dan Aku tertawa menggelitik


"Masih Aja iya suka nyeleneh gitu" Gumamku.


"Iya Dong lagian kamu gak pernah ngasih kesempatan deh, Aku dulu sering banget curhat sama Risa" Ucapnya.


"Aku kira kamu gak suka Laki dev" Godaku sembari tertawa kecil.


"Ye, laki yang gw suka kan cuma Elu do" Ucapnya sembari tertawa kecil.


"Oups!!!" Ia mendekap mulutnya kembali.


"Yaudah sana deh lo pulang Do, maafin iya gw bercandanya emang suka kelewatan" Aku pun segera berpamitan pulang dan Tak lupa untuk menjemput Anak-anak ku yang sedari tadi sudah menungguku untuk menjemputnya.


Hari demi hari Aku mulai dekat kembali dengan Deva, Aku masih menganggapnya sebagai Adik ku dan Aku berniat untuk menjodohkan nya bersama Zain.


Aku juga bercerita tentang keadaan Zain yang sudah memiliki Anak, buah cintanya bersama Letycia. Dan Adeeva sama sekali tidak merasa keberatan.


Sebaliknya Adeeva pun bercerita mengenai permasalahan sebelumnya dengan Mantan suaminya, Deva juga bercerita dengan sangat detail mengenai hubungannya bersama Rudolf dan istrinya. Dia memang sosok orang yang Humble dan Jujur, Dan Yang sangat aku sukai adalah Kemandiriannya sebagai Anak perempuan.


Aku merasa bersalah karena tidak menceritakan keberadaan Adeeva kepada May, itu memang aku buat dengan sengaja. aku berniat ingin membuat May merasa cemburu, karenq Akhir-akhir ini banyak sekali perbedaan pendapat diantara kami.


Iya, May sekarang terlalu sibuk dengan Anak-anak dirumah. Bahkan dia selalu mengeluh jika Aku memberikan Candaan mengenai Anak yang nantinya bertambah kembali. Ia seperti menolak dengan kehadiran buah hati kami selanjutnya, dan Aku juga merasa jika kamu sekarang sedang berada ditahap saling menjauh. Saat Aku sedang berada diluar kotapun May sama sekali tidak pernah mengabariku, bahkan saat Aku dirumahpun May tidak seperhatian Dulu. Beberapa kali aku melihatnya menerima dan saling memberikan kabar dengan Zain Adik ku, Walaupun hanya menanyakan kabar mengenai Ayana namun, mereka terlihat begitu sangat dekat.


Hhmmmmm, aku berdehem saat Adeeva melihat Foto Zain yang Aku berikan. "Gantengkan Ade ku?." Pertanyaanku membuatnya terkejut.


"Aduh, Gimana Iya?"


"Masih gantengan Elu do" Jawabnya.

__ADS_1


"Ah bisa aja" Jawabku saat itu.


"Gw gak ngerti deh, setahu gw kan Risa doang ade lu"


"Panjang ceritanya, yang jelas dia Ade satu Ayah?" Jawabku, Dhan masih fokus dengan laptop dihadapannya.


"Eh do kapan dong lu kenalin gw sama Istri lu?" Tanya Deva.


"Nanti deh saat lu ketemu Zain juga, atau gini deh kamu main Aja ke rumah" Ucapku.


"Emang boleh?" Tanyanya manja, Aku sempat berpikir jika aku mulai tertarik dengan sikapnya itu, Namun bayangan May selalu saja muncul dan itu membuatky semakin sadar jika aku memang sangatlah mencintai May.


('Astagfirullah- batinku)


"Do, kenapa? Gw cantik iya pake kerudung gini."


"Gw inget banget tuh waktu lo sama Risa nyuruh gw pake kerudung" Ucapnya sembari tertawa, Aku senang dengan tawa itu. Tawa kami saat bersama Risa.


"Ehh, iya lah cantik pake kerudung" Ucapku.


"Apa do? Boleh ngomong sekali lagi aja" Pintanya kembali.


"Iya kamu cantik kalau pake kerudung," Jawabku kembali.


"Ya ampun lu bikin gw malu Ah" Keluhnya saat itu dengan wajah yang merah merona.


"Do, Beneran lu punya Istri?" Tanya Deva.


"Iya, Ini fotonya" Aku menyodorkan Ponselku ketangannya, dia menatap lekat wajah May dan Keempat anak ku.


"Cantik banget, gak nyangka deh ko udah punya Anak 4 aja" Gumamnya kembali, Aku pun tersenyum dengan sangat hangat.


"Coba aja gw jadi istri elu." Gerutunya itu.


"Ah, dia cinta pertama Rido dev. jadi gimana iya, rasanya Rido juga gak percaya bisa bareng sama dia" Ucapku.


"gila, seorang Rido bisa jatuh cinta."


"lah bisa Aja, emangnya gak pernah nyimak apa kalau Ido suka cerita Sama Risa" jawabku.


"pura-pura gak nyimak Aja do, padahal Hati gw sakit" gumamnya sembari menatapku lekat.


.


.


.


.


.


("Ya Tuhanku, jauhkanlah Aku dari godaan semacam ini- batin ku bergumam)


Sesampainya Di rumah, Aku melihat May sedang menggendong Anak ku. dia juga sedang bercengkramah dengan Fahriye istri dari Dhan, Aku ingat jika dia sangat menyukai kebab dan saat aku pulang dari pertemuanku dengan Adeeva untuk beberapa kali nya, Aku berniat membawakan Kebab itu kerumah untuk May makan. tak lupa aku dan Dhan pun membawakan untuk Fahriye dan pengasuh yang membantu May dirumah.


Aku melihat Dhan dan Fahriye sedang berbahagia karena Dhan mengetahui kabar kehamilan Fahriye, Aku berniat untuk menggoda May istriku. karena beberapa hari kemarin May dan Aku sering sekali berbeda pendapat.


dia terlihat sedang membereskan makanan yang tersisa di atas piring kecil yang masih ada dihadapannya. "Sayang.." Panggil ku lirih, dia melirik kearah ku, Aku pun tersenyum dengan Ramah saat itu begitupun dengannya yang membalas senyuman dengan sangat cantik.


"Aku sangat jatuh cinta melihat senyuman itu." gumamku.


"Kenapa?" Tanya nya dengan sedikit menoleh kearahku dan tetap mengunyah sisa makanan yang akan ia habiskan itu.


Aku tersenyum kembali, dan mulai berpindah tempat untuk duduk disampingnya, aku melingkari tanganku dipinggang kecilnya, Aku mencium pipinya dengan gemas. "kamu cantik sekali, sepertinya Aura ibu Hamil melekat kembali diwajahmu" Ucapku saat itu membuat jantungnya tak berhenti berdegup dengan kencang. Ia melepaskan tanganku yang sedang memeluknya dari belakang.


Uhuk..uhuk (suara batuk karena tersedak makanan)


"Pelan dong sayang makannya" Gumamku sembari melangkah mengambilkan segelas air untuk nya.


"Gak bisa, kamu sih banyak banget ngajak aku ngobrol" Jawabnya ketus saat itu sembari meneguk kembali air mineral yang sempat Aku berikan.


"Bentar, perasaan aku baru bicara 2 kalimat deh." Gumamnya kembali, Aku mengangkat sebelah alisku, dahiku mengernyit tanda aku sedang kesal dengan kalimat yang ia bicarakan.


"Udah deh Rido gausah bahas anak-anak mulu ah, Emangnya anak 4 gak cukup?" Gerutunya kesal kepada ku.


"Untuk sekarang, Aku masih takut punya anak lagi. Apalagi masa pemulihan pasca melahirkan kemarin cukyp sangat lama." Keluhnya kembali.


Aku menatap nya kembali, Aku menaruh rasa kecewa saat mendengar keluhan yang Ia ucapkan kepada ku, Aku mengambil segelas air dan duduk kembali untuk meneguk air tersebut "Alhamdulilah Gak jadi panas, Haus banget ini" Gumamku, tak lama kemudian Aku melengoskan badan tanpa berpamitan kepada nya.


Astagfirullah, kenapa sih May. kenapa denganmu! - gerutuku sembari masuk kedalam kamar, aku segera membersihkan diri dan melakukan sembahyang Agar hatiku merasakan ketenangan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2