
"Apa?! Hamil?! Kok bisa?! E-emangnya kapan gue pernah anu sama lo?!"
Doni membelalak kaget setelah mendengar penjelasan dari Viana bahwa perempuan dengan lesung pipit itu ternyata telah hamil di luar nikah. Namun, Doni tidak menyangka bahwa Viana benar-benar hamil, juga lebih tak menyangka lagi ia melakukan hal tersebut dengan Viana--temannya sendiri.
"Tunggu dulu, Vi. T-tunggu dulu. Gue ngerasa ada yang aneh di sini, nih. Gue nggak yakin kalau gue nyentuh elo malem itu," jelas Doni terbata-bata.
"Jadi, elo tega nggak ngakuin kalau di dalam perut gue ini anak elo?" Viana bertatap sendu. Sedikit lagi ia meneteskan air mata. "Lo jahat, Don. Lo jahat banget. Padahal, malam itu elo sendiri yang maksa gue buat buka baju. Terus elo juga yang maksa nyium-nyium gue." Akhirnya tumpah air mata Viana. Nelangsa ia rasa ketika Doni ternyata tak percaya pernah menyetubuhinya.
"B-bukan gitu maksud gue, Vi. Bukan gitu. Serius, deh. Gue bener-bener nggak inget kalau kita--"
"Lo nggak percaya sama gue? Lo nggak percaya? Kalau lo bener-bener nggak percaya sama gue, gue bakalan lapor ke orang tua lo."
Doni terhenyak bukan main. Jika sampai orang tuanya tahu, maka tak ada lagi kesempatannya untuk memimpin perusahaan ayahnya. Pasalnya, Doni dijanjikan untuk menjadi penerus sang ayah di perusahaan advertising milik sang ayah.
"Iya, gue bakalan bilang ke bokap lo. Gue bakalan ceritain juga kalau selama ini elo selalu main cewek dan ngabis-ngabisin duit bokap lo dengan hal nggak guna!"
Doni menelan saliva. Ia benar-benar terpojokkan oleh Viana atas masalah ini. Menurutnya, Viana juga tidak mungkin berbohong karena merasa bahwa perempuan itu selalu berkata jujur. Ya, tidak ada untungnya Viana bohong menurut Doni. Oleh karenanya, ia tidak yakin ingin meminta bukti lebih jauh lagi soal kehamilan Viana tersebut. Jika sampai betul, maka tamatlah riwayatnya. Doni bisa-bisa menjadi gelandangan karena diusir oleh sang ayah karena telah memalukan nama keluarga.
"Bajingan lo, Don!"
Viana mencoba pergi dengan segala kecewa yang dia dapatkan atas tidak adanya pengakuan dari Doni. Namun, dengan sangat cepat Doni meraih lengan Viana dan menahan perempuan itu.
"Gue akan nikahin elo," ucapnya dengan yakin.
Viana semringah dan bergeming sejenak setelah mendengar pernyataan Doni.
"S-serius?" tanya Viana dengan pelan. Ia menundukkan wajahnya dengan sendu.
__ADS_1
"Iya. Gue janji akan nikahi elo."
Doni menarik Viana lebih dekat padanya, lalu membenamkan perempuan itu di dadanya yang bidang.
"Maafin gue, ya. Gue udah mengotori persahabatan kita. Gue ... bener-bener bajingan. Maafin gue, Vi." Air mata Doni tumpah seketika.
Memang, Doni dan Viana telah berteman sejak lama. Bahkan, mereka bersekolah di SMA yang sama, yaitu SMA Harapan Nusa. Oleh sebabnya, mereka begitu akrab layaknya seorang kakak dan adik. Namun, ada juga orang-orang yang melihat mereka seolah-olah sepasang insan yang menjalin kasih.
Viana membalas pelukan Doni dengan erat. Taman ini menjadi saksi bisu akan janji Doni untuk menikahi Viana.
Viana kemudian mengantongi sebuah ponsel ke saku sweter berwarna putih yang ia kenakan. Tanpa dilihat oleh Doni, Viana menyunggingkan sebuah senyum yang aneh.
--------
Setelah acara akad nikah selesai dilaksanakan, kini saatnya kedua mempelai beserta keluarga untuk menyambut satu per satu tangan tamu undangan. Banyak sekali teman Viana dan Doni yang datang.
"Don. Wah, selamat, ya! Semoga elo dan istri elo, sakinah!" ucap Vino--salah satu teman Doni biasa nongkrong di club malam.
Vino lalu mendekatkan mulutnya ke telinga kiri Doni, lalu berbisik, "Nggak mau. Gue masih mau menikmati banyak cewek."
"Sialan lo, Vin. Curang banget lo." Doni meremas tangan Vino dengan sedikit gertakkan di gigi.
Setelah para tamu undangan tak lagi tersisa di kediaman Doni, tempat berlangsungnya acara perkawinannya dengan Viana, Doni masuk ke kamar diikuti oleh Viana di belakangnya.
"Doni! Sini bentar." Sang ayah memanggil Doni.
"Eh, duluan ke kamar, ya," pintanya pada Viana yang kini telah resmi menjadi istrinya.
__ADS_1
Viana mengangguk setuju dan mulai melangkah masuk ke kamar yang telah dihias sedemikian rupa untuk melakukan malam pertama mereka.
"Kenapa, Pa?" tanya Doni setelah sampai di hadapan sang ayah.
"Pelan-pelan aja, ya. Nggak usah buru-buru. Burungmu nggak akan lepas," canda sang ayah sambil cekikikan.
"Yang serius, dong, Pa!" Doni memiringkan senyum.
"Gini. Ini rumah udah jadi milik kamu, ya. Papa pindah ke rumah yang baru sama mama."
"Iya, Nak. Kalian nikmati, ya, masa-masa bulan madu kalian." Senyum sang ibu merekah. Ia bahagia melihat anaknya telah tumbuh dewasa dan siap membuatkannya cucu.
"Iya, Ma, iya."
"Sampaikan salam kami ke istri kamu, ya."
Doni manggut-manggut setelah bersalaman dengan kedua orang tuanya. Kini, saatnya ia menikmati indahnya sebuah hubungan.
Ketika Doni ingin masuk ke kamarnya, pintu dikunci dari dalam.
"Viana! Buka pintunya!" teriaknya sambil berusaha memutar-mutar kenop pintu.
"Elo tidur di luar!" tandas Viana dengan nada yang ditekan, seketika membuat Doni tak sanggup berkomentar.
------
__ADS_1
Nantikan lanjutannya ....