Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Drama di pagi hari


__ADS_3

Pagi harinya Anin bangun lebih cepat dari Kevin untuk menyiapkan segala kebutuhan Kevin. Setelah menyiapkan sarapan untuk Kevin, Anin kembali lagi ke kamarnya untuk membangungkan sang Suami yang masih meringkuk di dalam selimut.


"Mas bangung udah siang loh?" Anin duduk di tepi ranjang dan menguncang tubuh Suamianya agar terbangun.


"Hmmmm." Kevin hanya bergumam dan kembali merapatkan selimutnya.


"Mas nga masuk kerja?" tanya Anin masih mengungcang tubuh sang Suami.


"Sebentar lagi Sayang" Kevin membalikkan tubuhnya menghadap sang Istri yang sedang duduk di sampingnya. "Lagian Aku kan bos, jadi tidak akan ada yang marah." Kevin tersenyum dengan bangga.


"Justru karena mas Kevin bos, harusnya mas itu jadi contoh bagi para karyawan bukan malah datang terlambat seperti ini" gerutu Anin memanyungkan bibirnya.


"Itu bibirnya kenapa di manyung-manyugin minta di cium ya?" goda Kevin. "Apa ingin melanjutkan kegaiatan semalam?" Kevin menyeringai namun belum juga bangun dari tidurnya.


Wajah Anin terasa panas dan mungkin saja sudah memerah seperti kepiting rebus, apa lagi saat mengingat kegiatan mereka semalam, Anin tidak menyangka Kevin akan menyerangnya dengan begitu ganas, bahkan Kevin tidak membuatnya beristirahat semalaman.


"Ais mas Kevin mesum ih, cempat bangun entar makanannya dingin lagi" Anin bangkit dari duduknya tidak ingin dekat-dekat dengan sang Suami, Anin takut Kevin akan meyerangnya lagi.


"Kiss dulu dong" Kevin memanyungkan bibirnya. "Kalau nga mau yaudah, Aku lanjut tidurnya ni" ancam Kevin kembali menarik selimut.


Anin mendegus kesal dan memutar bola mata jengah melihat kelakuan suaminya yang sangat berbeda dengan wajahnya yang terlihat dingin dan juga cuek. Orang-orang akan tertipu jika melihat wajah suaminya yang terlihat dingin namun kekakanak-kanakan dan manja padanya.


"Baiklah hanya menciumanya saja" batin Anin.


Cup


Anin mengecup bibir Kevin, namun prediksinya salah besar, bukannya melepaskan ciuman Anin, Kevin malah menarik tengguk Anin, agar Kevin dapat memperdalam ciumannya, lama kelamaan yang hanya sekedar ciuman kini berubah menjadi lu*atan bahkan Anin sampai terbuai dengan perlakuan lembuat Kevin. Tangan Kevin tak tinggal diam merabah setiap inci tubub Anin, membuat Anin mengeliat.


"Massss" Anin mendorong tubuh kekar Kevin saat Ia hampir kehabisan nafas akibat ulah sang Suamin. "Mas Kevin mau mebunuhku ya?" garutu Anin dan melangkahkan kakinya menjauhi Kevin.


Kevin hanya meleparkan senyumannya dan berjalan dengan santainya masuk kedalam kamar mandi.


Tiga puluh menit telah berlalu, akhirnya Kevin selesai mengganti baju, sisa jas dan juga dasi yang belum terpasang di tubuhnya, dan Kevin ingin Sang istrilah yang memakaikannya.


Anin dengan senang hati memakainkan jas dan juga dasi Suaminya. "Mas menunduklah! Aku tidak bisa memakaikan dasinya" perintah Anin, karena Anin kesusahan memasang dasi untuk Kevin, karena badan Kevin kelewat tinggi bagi Anin yang hanya sebatas pundak.

__ADS_1


Kevin hanya menurut saja perintah sang Istri dan tatapan Kevin tak pernah lepas dari sang istri yang masih polos tanpa balutan make up, bahkan belum mandi, namun di mata Kevin masih terlihat cantik.


"Kamu sangat cantik sayang" Kevin mengecup kening Anin.


"Gombal tau nga" ucap Anin. "Mas!"


"Hemmm" sahut Kevin yang sedang sibuk melihat pesan masuk dari Ans yang tak lain adalah soal kerjaan.


"Aku mau kerumah ibu, boleh ya?" Anin memainkan ujung dasi Kevin seperti anak yang meminta jajan pada ayahnya.


"Nanti ya sayang, Aku banyak pekerjaan." jawab Kevin mengelus puncuk kepala Anin dengan lembut.


"Aku pergi sendiri saja mas, lagi pula ibu masih ada kok di kota ini" Anin menatap Kevin dengan tatapan penuh harap membuat Kevin tidak tega menolak permintaan sang istri.


"Baiklah, Kamu boleh pergi tapi di antar supir ya, Aku tidak bisa mengantarmu karena ada urusan mendadak dari kantor. Weekend nanti Aku akan mengajakmu bertemu dengan kak Rara dan jack" janji Kevin.


Ya Kevin akrab dengan jack yang kini berusia hampir empat tahun, kerena Kevin sering mengunjugi Kak Rara walau awalnya tidak mudah karena selalu mendapatkan perlakukan dingin. Namun lama kelamaan kak Rara bisa menerima Kevin kembali setelah Kevin menjelaskan semuanya, bahkan Ibu Anin juga sudah mengetahui semuanya dan menyerahkan keputusanya pada Anin.


"Janji?" Anin melayangkan jari kelingkingnya untuk mengikat janji dengan Kevin.


"Janji sayang" dengan senyuman Kevin menautkan jari mereka dan mengikat janji.


Bukannya sarapan, Kevin, Elvan dan bibi Ajeng malah menunggu kedatangan Anin untuk makan bersama. Kevin mengembangkan senyumnya saat melihat sang pujaan hati menuruni anak tangga dan memhampirnya di meja makan.


"Loh kok nga ada yang makan?" tanya Anin memerhatikan makanan yang ada di atas meja yang belum tersentuh sekalipun.


"Kak Kevin tuh, menyuruh Aku sama ibu untuk menunggu kak Anin, padahal Aku suda sangat lapar" jujur Elvan tanpa tedeng aling-aling.


Kevin yang merasa kesal karena Elvan tidak bisa di ajak kerja sama segera menendang kaki Elvan di bawah meja. "Lihatlah kak, Kak Kevin bahkan menedang kakiku" adu Elvan pada Anin.


"Bohong itu, orang kaki Aku nga pindah-pindah dari tadi" pembelaan Kevin.


"Mas jangan kayak anak kecil deh" tegur Anin sembari menyiapkan makanan di piring Kevin. sementara Elvan senyum penuh kemenangan melihat Kevin kalah hanya karena seorang wanita.


Sedangkan Ajeng hanya geleng-geleng kepala melihat adik kakak itu yang selalu betengkar jika sedang bertemu dan hanya berbaikan beberapa menit saja.

__ADS_1


"Nga usah di urusin bayinya Dia sudah gede, mending Kamu makan saja" timpal Ajeng yang melihat kelakuan Kevin yang begitu manja dan posesif pada Anin.


"Iya bi" Anin mengembangkan senyumnya dan ikut duduk dengan mereka.


Sarapan mereka di selingin dengan canda tawa antar Kevin dan juga Elvan.


Setelah sarapan Anin mengantar Kevin bekerja sampai depan rumah. "Jangan cape-cape ya, nanti pulangnya Aku jemput" pesan Kevin yang khawatir dengan Anin, Kevin takut Anin kelelahan, karena Kevin tahu betul sifat Anin yang tidak bisa diam. Apa lagi Anin akan memenui ibunya, otomatis Anin akan membantu ibunya di warung.


"Iya mas" jawab Anin.


"Aku pergi dulu ya" Kevin mengecup kening Anin dan mengacak-acak rambutnya.


"Hati-hati mas" Anin menyalami Kevin dan mencium punggung tangan Kevin dengan khusuk.


Setelah lepas dari Elvan, kini Kevin harus mendengar ledekan dan juga gurauan satu orang lagi, yang sedari tadi memperhatikan interaksinya dengan sang Istri, siapa lagi jika bukan sang sekretaris bawel yang bernama Ans.


"Hem Ada yang lagi kasmaran ni?" Ans memecah keheningan di dalam mobil.


Kevin menghiraukan perkataan Ans dan fokus memejamkan matanya, Kevin sedang memikirkan bagaimana caranya untuk menyembuhkan penyakit Anin. Walau penyakit Anin belum terbilang serius dan masih gejala-gejala ringan, tapi Kevin takut Anin akan menyakiti dirinya saat sedang stres atau tertekan.


"Tuan, wajah Anda sangat besinar dan berseri-seri, apa Tuan sudah mendapat jatah ya?" goda Ans.


"Diamlah Ans" bentak Kevin.


"Nih orang kenapa? yang Aku lihat saat bersama nona Anin Dia sangat bahagia, dan sekarang Dia murung dan terlihat banyak pikiran. Apa jangan-jangan Kevin mengidap penyakit Bipolar? makanya Dia menyuruhkku mencari tahu tentang cara penangannya." batin Ans menerka-nerka.


-


-


-


-


-

__ADS_1


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.


__ADS_2