Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Masalah Alvaro


__ADS_3

"Julian belum datang?" Bara mengalihkan pembicaraan.


"Lagi di jalan, Om. Mungkin sebentar lagi sampai." lagi - lagi Saga menjadi keponakan yang terbijak dari suasana mencengkam di VVIP room Lion Club.


Alvaro membanting tubuhnya di atas sofa empuk. Kepalanya lalu bersandar pada sandaran sofa melepaskan beban pikiran yang di pikul sejak meninggalkan kediaman tempat tinggalnya.


"Kenapa Alvaro? Masalah pekerjaan?" tanya Bara yang begitu penasaran.


"Aku rasa bukan, Om. Sepertinya masalah rumah." Saga menerka - nerka dan sangat memahami watak Kakak sepupunya itu.


"Kau bertengkar dengan Marsha, Al?" Bara memberanikan diri bertanya setelah singa jantan itu melepaskannya dari cengkraman kasarnya.


"Urusanku, tak usah di ikut campurkan!" Jawab Alvaro masih dengan nada yang arrogant.


"Kita keluarga, kan? Harusnya hubungan kita bisa kembali lengket seperti dulu lagi." Bara membujuk Alvaro untuk kembali mau terbuka.


Alvaro melirik ke arah Bara sejenak. Tatapannya memincing tajam dengan penuh kebencian, lalu berubah menjadi lemah penuh keputusasaan.


"Aku pusing! Sejak siang tadi, Marsha agak berbeda. Istriku menjadi uring - uringan. Enggak di bujuk salah, di bujuk juga salah! Sampai tadi aku mau pergi pun nada bicaranya masih ketus denganku." jawab Alvaro yang akhirnya mengakui frustasi diri yang sejak tadi membuatnya badmood.


"Apa sebelumnya kalian ada bertengkar? Atau ada pembahasan yang tak mengenakan di hatinya?" tanya Bara lebih lanjut.


Sejenak Alvaro kembali menelaah kalimat yang keluar dari bibir Bara. Otak Alvaro langsung bekerja dan memutar memori ingatan untuk mencari kesalahan apa yang Alvaro perbuat hingga membuat Marsha itu marah kepadanya.


"Ah....!" Alvaro berseru panjang akan sesuatu yang terlintas di ingatannya. "Siang tadi Marsha membuatkan puding moccha dan meminta aku untuk mencicipinya. Lalu aku bilang rasanya kemanisan dan dia tidak terima dengan penilaian ku. Setelah itu Marsha langsung marah dan tak mengijinkan aku untuk menyentuh lagi sisa puding yang ia buat."

__ADS_1


Sontak Bara dan Saga menghela nafas kasar secara bersamaan. Kedua lelaki yang berbeda profesi itu, sampai bingung untuk mengekspresikan dirinya sendiri. Antara ingin tertawa dan bercampur iba.


"Alvaro! Alvaro!" Bara menggeleng - gelengkan kepalanya. "Apapun masakannya, baik dan buruknya hasil masakan istrimu itu seharusnya kau menghargai perjuangannya dalam membuatkan suatu masakan untukmu. Kau seharusnya memberikan dia pujian. Dan bukannya kritikan pedas. Aku yakin, kau pasti menghina hasil masakan Marsha dengan lidah kejammu itu. Harusnya kau bisa pahami jika Marsha yang notabenenya tidak memiliki skill memasak."


Jiwa Alvaro sempat terhenyak saat mendengar komentar dari Bara atas pengakuannya yang penuh dengan kejujuran. Lelaki tampan itu sejenak terdiam dan mengakui kesalahan di dalam diri akan perbuatannya yang tak di sengaja. Alvaro lepas kontrol hingga melukai hati perempuan kesayangannya.


"Benar yang Om Bara katakan! Viona saja langsung memarahiku, setiap kali aku bilang masakannya tidak enak. Perempuan itu suka di puji, Kak Al!" Saga menimpali sembari tangannya menepuk lembut bahu Alvaro yang duduk saling bersebelahan.


"Tapi aku tidak bisa. Sama saja dengan aku tidak jujur dengan hasil masakannya. Karena skill memasak Marsha itu tidak akan pernah berkembang jika aku bermulut manis dan mengatakan jika hasil masakannya itu bagus." Alvaro agak menyanggah di karenakan dirinya tidak bisa menerima masukan dari kedua lelaki itu.


"Memang benar yang kau katakan. Maksudku, kau itu menilainya dari kata - katamu yang agak di perhalus sedikit. Jangan langsung berkata kejam karena perempuan tak akan suka." Bara kembali memberikan saran.


"Aku rasa.... aku sudah cukup halus tadi saat berbicara dengannya. Mungkin Marsha lagi datang bulan saja, makanya jadi lebih sensitif." Alvaro memilih untuk keras kepala.


"Selamat berpuasa selama seminggu, Bro!" Ejek Saga dengan mengulas senyuman mengejek.


...***...


Julian baru saja sampai di pintu masuk Lion Club tempat lelaki itu akan bertemu dengan para saudaranya. Petugas keamanan menyambut ramah kedatangan Julian di karenakan lelaki itu sudah di kenal sebagai salah satu tamu VVIP sama seperti para saudaranya.


Musik elektronik music dance mengalun energik bercampur sensual dan menghibur para tamu club malam itu. Lantai dansa sesak akan para pengunjung yang menari dengan diri sudah dalam pengaruh alkohol. Menari secara se - energik mungkin mengikuti irama musik guna melepaskan beban yang ada di dalam diri.


Julian membelah lautan manusia yang di bawah pengaruh alkohol itu. Sejujurnya Julian sendiri tidak begitu menyukai tempat yang tidak sehat menurutnya pribadi. Namun, suasana dengan hiruk - pikuk musik yang mengalun mampu melepaskan beban stres yang menyangkut di pikiran dokter tampan itu. Pun Julian tak sesering berkunjung seperti kedua saudaranya, Alvaro dan Saga.


"Lepaskan aku! Aku tak mengenalmu!"

__ADS_1


Perhatian Julian tercuri oleh seorang perempuan yang berontak dari lelaki yang terus merangkulnya. Perempuan itu setengah sadar. Bisa dikatakan mabuk di karenakan beberapa gelas cokctail telah habis di tengguknya.


Ingin rasanya Julian tak ingin ikut campur dan acuh dalam situasi yang biasa dia temui pada club malam seperti ini. Namun, hati nuraninya tergerak ingin membantu di karenakan tidak tega akan ketidakberdayaan perempuan itu untuk menolak sentuhan lelaki yang di akui asing bagi perempuan itu.


Hati Julian tergerak saat langkahnya yang semakin mendekat menatap jelas wajah perempuan yang tak asing bagi dirinya. Perempuan itu adalah perempuan yang tadi tak sengaja tertabrak olehnya saat di bandara.


"Lepaskan aku! Aku bisa mengadukan perbuatanmu kepada Ayahku agar menyuntik mati dirimu! Atau mengambil organ - organ tubuhmu!" Rancau perempuan itu mengancam kepada lelaki yang menggodanya.


"Adukan saja pada Ayahmu! Tapi, tunggu aku menikmati tubuh putrinya dulu." Lelaki itu tidak takut pada ancaman perempuan itu Dan lelaki itu malah tertawa seolah-olah ancaman dari perempuan itu terdengar seperti lelucon yang menggelitik jiwa.


Tangan lelaki itu semakin bebas ingin menjelajah liar di tubuh perempuan yang semakin tak berdaya itu. Gerakan tangan kurang ajar lelaki yang ingin meremas bagian sensitif atas perempuan itu di cengkram kasar oleh Julian yang datang tepat waktu.


"Tanganmu jangan kurang ajar, Bro! Mau aku patahkan?" Julian mengancam dengan semakin menguatkan cengkraman tangannya.


"Siapa kau berani ikut campur? Hah!" Dengan sekuat tenaga lelaki itu melepaskan cengkraman tangan dari Julian.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2