
Senjata api itu pun jatuh ke atas rerumputan. Kedua kaki yang lemah kini sudah tidak mampu lagi menahan bobot tubuh dan Naura berakhir terjatuh terduduk lemas di atas rerumputan. Napas perempuan cantik itu tersengal. Mulutnya terbuka mengeluarkan helaan napas kasar. Keringat mengucur dan berpeluh memenuhi dahi dan di tambah lagi dengan aliran darah yang memenuhi sistem kerja jantung hingga berkali - kali lebih cepat tak normal. Dan kedua tangan yang masih bergetar itu pun tidak mampu lagi untuk meremas rerumputan, di karenakan sisa tenaga yang tidak lagi terkumpul. Di hadapan para bodyguard yang bersimbah darah tak bernyawa, Ya, kali ini Naura sedang di serbu dengan rasa takut hingga menggetarkan sekujur tubuh.
Memang, ini bukanlah pertama kalinya Naura melihat mayat yang bersimbah darah ada di depan matanya di karenakan profesi yang di tekuni pastilah menghantarkan gadis itu bolak - balik menemukan hal yang lebih menyeramkan seperti yang ada di depan matanya. Namun, ini pertama kalinya bagi Naura menembak seseorang dengan tangannya sendiri.
Ya, Naura juga sebenarnya memiliki ketrampilan menembak yang mumpuni. Tapi, dokter cantik itu belum pernah menembak manusia yang sesungguhnya.
"Naura!" Teriak Julian dengan berlari menghampiri perempuan kesayangannya lalu memeluk erat.
"Lian, aku sudah menembaknya." dengan irama bergetar dan suara yang ketakutan Naura menyuarakan ketakutan hati.
" Iya, sayang. Dia itu jatuh karena bidikanmu langsung mengenai kepalanya." Julian berusaha untuk menenangkan.
Tak berselang lama, di lantai atas tepatnya di dalam ruangan kamar Garry suara tembakan tiga kali terdengar hingga menghentakkan tubuh Naura. Hingga perempuan cantik itu kini semakin membenamkan wajah pucatnya ke dada bidang Julian. Ya, mencari tempat ternyaman untuk berlindung di dalam pelukan kekasih hati.
Coat yang Julian kenakan pun dengan cepat ia lepaskan dari tubuh, lalu mengenakannya pada tubuh Naura yang bergetar. Kedua tangan Julian pun kembali memeluk erat dengan bibir yang menempel di puncak kepala.Menenangkan Naura yang masih bergetar dengan hujaman sentuhan bibir yang penuh rasa sayang.
"Jangan takut! Semuanya sudah berakhir.Ada aku di sini, sayang!"
***
Langkah kedua kaki terhenti. Suara tembakan yang tersampai pada kedua telinga yang menghantarkan sinyal ketakutan yang menerjang jiwa. Sekujur tubuhnya yang bergetar sempat tersentak. Otak cerdas yang tadi terfokus berlari hingga ingin mencari bantuan kini buyar akan kecemasan yang melanda jiwanya.
"Kak Naura... Kak Naura, bagaimana?" suara Berlin bergetar ketika suara hatinya keluar dari bibirnya yang bergetar tergigit oleh barisan rapi gigi putihnya.
Dor...dor...dor...
Tiga suara tembakan yang berturut-turut, semakin membuat Berlin gemetar ketakutan. Otak cerdasnya tidak mampu bekerja dengan baik. Perempuan cantik yang berlari hampir menuju ke arah pintu gerbang itu berakhir berjongkok dan meringkuk dalam ketakutannya.
Berlin kini pun pasrah jika dirinya akan kembali tertangkap oleh bodyguardnya Garry. Berlin juga pasrah jika nantinya ia akan di salahkan oleh para Kakaknya karena tidak bisa menyelamatkan Naura.
__ADS_1
Di benak Berlin, suara tembakan itu berasal dari Garry dan orang - orangnya, yang mengeroyok Naura seorang diri hingga melayangkan nyawa Kakak iparnya itu.
Maka dari itu, Berlin pun harus segera menyerahkan diri untuk bisa bertemu dengan Naura terlebih dahulu yang sudah di siksa.Ya, pemikiran putus asa dari Berlin yang sudah pasrah pada keadaan.
"Nona Berlin...?" sapa seorang pria dengan deruan langkah yang memburu menghampiri.
"Bunuh aku!" Ucap Berlin pasrah dengan acuh tak menatap seseorang yang menghampiri dirinya.
Dalam ringkukkanya wajah cantik putri bungsu Alvarendra itu telah basah akan buliran air mata yang mengalir deras. Otaknya tak mau lagi memerintah untuk mengenali suara bariton yang tadi menyapa. Ya, terdengar familiar namun suasana hati yang sedang kacau malah menduga suara itu berasal dari musuhnya.
"Nona Berlin?" seseorang itu menyentuh bahu Berlin.
"Bunuh aku!" Teriak Berlin frustasi dengan masih acuh dan tubuh Berlin kini semakin berguncang akan isakan tangisan yang semakin kencang.
"Nona Berlin. Lihatlah, ini saya!" Kedua tangan seseorang itu mencengkram kuat bahu Berlin, lalu mengguncangnya untuk menyadarkan Berlin
"Bunuh aku! Bunuh saja aku!" Lagi - lagi Berlin berteriak dan berucap dengan perintah yang sama dengan tangisannya yang kini pecah.
Berlin tersentak. Sejenak, tangisannya terhenti. Otaknya langsung bekerja ketika kedua telinga di penuhi oleh nama seseorang yang mencengkram bahunya agak kuat.
"Ini aku, Berlin." ucap lembut seseorang yang benar-benar bernama Rafael.
"Kak Rafael."
Tangisan Berlin kembali pecah. Dengan cepat dan tanpa meragu, Berlin langsung memeluk Rafael, memeluknya dengan erat dan membenamkan wajahnya di dada bidang Rafael.Kemeja putih yang Rafael kenakan pun basah akan deraian air mata dari Berlin yang mengalir deras.
"Jangan takut lagi, Berlin! Aku di sini bersama denganmu!" Tangan Rafael menepuk - nepuk dengan lembut bahu Berlin.
"Kak Naura telah mati." ucap Berlin dalam tangisannya di dada Rafael. "Mereka, pasti sudah membunuh Kak Naura." sambungnya kemudian.
__ADS_1
"Nona Naura selamat. Karena Tuan Julian yang sudah menyelamatkannya." ucap Rafael menjelaskan keadaan Naura.
Mendengar ucapan dari Rafael, seketika tangisan dari Berlin pun langsung terhenti. Wajahnya yang terbenam sejenak menarik diri dari dada Rafael lalu menengadah ke atas untuk bisa menatap wajah dingin dari Rafael.
"Kak Julian?" tanya Berlin dengan gurat kerut di dahinya.
"Aku datang kesini tidak mungkin datang seorang diri, Berlin. Sudah pasti Tuan muda Alvaro, Julian dan Bara akan turun tangan langsung untuk menyelamatkan kalian berdua." ujung bibir Rafael sedikit tertarik setelah menjelaskan kehadirannya. Bibir merah mudahnya mulai menipis dan mengulas senyuman untuk menenangkan hati perempuan cantik yang ada di dalam pelukannya.
"Ta- tapi suara tembakan tadi-"
"Aku juga tidak tahu pasti, asal suara tembakan itu darimana saja." Rafael menyela cepat. "Tapi aku sudah mendengar kabar dari ketiga Tuan muda bahwa Garry dan orang - orangnya sudah berhasil di lumpuhkan."
"Bagaimana dengan si om - om tua itu?" tanya Berlin yang penasaran.
"Tuan muda Alvaro bilang, kepala si om - om tua itu sudah di pecahkan oleh tangannya sendiri." Rafael menyahuti dalam ketenangannya.
"Lalu? Bagaimana dengan keadaan Kak Marsha?" tanya Berlin ingin mengetahui keadaan Kakak Iparnya juga.
"Nyonya Marsha dan janinnya selamat, Berlin. Saat ini, Nyonya muda Marsha sedang dalam tahap pemulihan di rumah sakit."
"Akh, syukurlah. Aku bisa lega mengetahui semuanya selamat."
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
__ADS_1
Makasih...
Bersambung....