Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Episode 2: Gejolak Nafsu


__ADS_3

"Loh, Vin! Kenapa gue harus tidur di luar? Kita, kan, udah resmi nikah? Maksud lo apaan, nih?!" Doni menyuarakan protesnya terhadap perlakuan Viana yang tidak biasa.


Padahal seharusnya ini adalah malam paling indah untuk mereka berdua. Menikmati malam pertama untuk bercumbu dan bercengkerama dalam keadaan sadar.


"Pernikahan kita cuma karena terpaksa! Ini nggak betulan," tandas Viana dari dalam kamar.


"Ng-nggak betulan?! Apaan, sih, maksud lo? Nggak paham gue. Serius gue nggak paham. Bisa lebih diperjelas nggak?" Doni menggedor-gedor pintu.


Tak lama kemudian, Viana membuka pintu kamarnya dan menemui Doni.


"Apa lo lihat-lihat?" Viana mendelik tajam karena tatapan Doni. "Nafsu lo sama gue?" tanyanya sambil tersenyum miring. Lantas, Doni mengalihkan pandangannya dari Viana yang tengah mengenakan kain sangat tipis yang mana memperlihatkan lekukan-lekukan tubuhnya.


"Eh, jelasin sama gue maksud lo apaan tadi?"


"Maksud gue, ya, kita nikah ini karena terpaksa. Gue sama sekali nggak hamil, kok," ucap Viana enteng.


Doni membisu. Sejenak ia mencoba mencerna kembali kalimat Viana. Berapa kali pun ia mencoba mencerna kalimat perempuan itu, maksudnya juga tetap sama. Tak ada kesimpulan lain yang ia dapatkan bahwa yang dimaksud Viana adalah mereka terpaksa menikah.


"Lha, terus?! Maksud lo apaan ngaku-ngaku lo hamil sampai nangis-nangis di hadapan gue?" Doni memijat pelipisnya. Ia beringsut mundur dan membanting pantat di atas sofa.


Sambil bertengger di kusen pintu, Viana menjawab, "Biar bisa nikah sama lo."


Doni mendengkus kasar, ia menatap perempuan yang telah resmi menjadi istrinya itu dengan kecewa. "Nggak ngerti gue sama jalan pikiran lo, Vi. Lo pikir nikah itu bisa dipermainkan kayak gini?"


"Justru karena pernikahan itu nggak bisa dipermainkan, gue bikin taktik biar lo mau nikahin gue. Mana mungkin, kan, elo mau nikah sama temen SMA elo sendiri?"


Doni menatap Viana tajam. "Gue bakal telepon papa--"


Doni yang akan bangkit, lantas terhenti karena mendengar suara rekaman. Ya, Viana sempat merekam percakapannya dengan Doni waktu itu, ketika sang perempuan mengaku hamil dan ingin Doni bertanggung jawab.


Sekali lagi, Doni memijat pelipisnya dengan kasar. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "BANGSAT!" teriaknya sekuat tenaga.


Doni kalut karena dirinya begitu mudah terjebak oleh Viana. Sementara itu, Viana tersenyum miring, senang melihat Doni bertampang susah seperti saat ini.


"Apa sebenarnya mau lo sama gue? Kenapa lo tega sama temen lo sendiri? Nggak habis pikir gue sama lo, Vi!"


Doni melangkahkan kaki, mendekat ke arah Viana. Beberapa meter dari sang perempuan, Doni berdiri.


"Apa mau gue? Banyak mau gue, Don. Tapi ... untuk sementara ini, elo harus jadi budak gue dulu."


"Apa? Budak? Gue ini suami elo, Vi! Bukan budak lo!"


Perempuan berlesung pipit itu hanya tersenyum miring menanggapi balasan Doni.


"Lo bego banget, deh, Don. Nggak nyangka gue elo bisa kena tipu juga sama gue--"


Dengan begitu lugas, Doni melesat dan menggapai leher Viana. Lelaki itu mencengkeramnya dengan kasar. Ia dekatkan wajahnya di depan wajah Viana. Sang perempuan sesekali terbatuk karena cengkeraman Doni. Ia berontak dan mencoba melepaskan tangan Doni dari lehernya.

__ADS_1


"Jahat lo, Vi!"


Setelah itu, Doni melepaskan tangannya dari leher Viana.


"Sekali lagi elo main kasar sama gue, gue nggak akan segan-segan cerita ke semua orang kalau sebenarnya elo hamilin gue di luar nikah."


"Terserah lo. Gue capek."


Doni akhirnya pasrah, lalu membaringkan tubuhnya di sofa memanjang. Ia memikirkan banyak hal. Ia sendiri pun telah berpikir kalau dirinya begitu bodoh karena bisa termakan oleh sandiwara Viana.


"Gue bakalan sebut beberapa peraturan yang nggak boleh elo langgar." Viana mondar-mandir di ruang tamu. Sedangkan Doni memejamkan mata, tetapi ia fokus mendengarkan sang perempuan.


"Pertama. Elo nggak boleh nyentuh gue. Apa punĀ  alasannya, elo nggak boleh nyentuh gue sedikit pun. Apalagi pake nafsu. Jijik gue sama playboy kadal kayak lo." Viana lalu menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Doni. "Lo ngerti? Paham nggak lo?"


Doni tak merespons. Ia tutup matanya dengan lengan yang disatukan.


"Eh, gue ngomong sama lo, ya! Lo jawab paham atau nggak?" ulang Viana.


"Terserah lo!"


"Oke. Gue anggap elo paham apa yang gue sebutkan tadi." Viana kembali berjalan mondar-mandir. "Kedua. Elo harus setor duit gaji elo ke gue setiap bulan."


Dengan lugas Doni bangkit dari posisi berbaring. "Apa?! Enak aja lo! Gue yang kerja, elo yang enak. Ogah gue. Kalau mau duit, elo kerja aja sendiri."


"Serius nggak mau? Elo nggak setuju dengan peraturan gue?" Viana menegaskan dengan senyum yang terkesan mengerikan.


"Seperempat?!"


"Setengah aja kalau gitu."


"Tiga perempat." Viana memutuskan.


Lelaki tersebut menggaruk kepala, tampak sangat gusar dengan peraturan-peraturan tak menyenangkan yang dibuat oleh Viana.


"Lanjut. Peraturan ketiga, elo harus selalu menyiapkan makanan buat gue. Gue nggak boleh masak. Kalau nggak mau masak, elo tinggal beliin gue di luar."


"Heh! Enak banget hidup lo, Vi! Gue capek kerja, terus bikinin elo makanan, terus kasih elo gaji gue. Semena-mena lo!"


"Lo nggak mau, Don? Kalau emang nggak mau, ngomong aja. Gue bisa batalkan semua peraturannya, tapi lo bakal--"


"Sialan! Iya, iya. Gue mau." Doni merengkuh dirinya, menyatukan dagu dengan lututnya di atas sofa.


Masih saja dirinya tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Viana. Padahal, hubungan mereka selalu baik-baik saja. Ya, bagi Doni, hubungan pertemanan mereka tidak ada masalah. Bahkan, Viana selalu ada buat Doni jika ia membutuhkan bantuan.


"Gue masih nggak habis pikir, deh. Kenapa elo bisa berubah jadi gini, Vi? Elo bukan Viana yang gue kenal." Doni menyuarakan keanehan yang ia rasa.


"Sayang banget, elo udah tertipu dengan tampang polos gue."

__ADS_1


"Vi. Jujur aja, deh, sama gue. Sebenarnya gue salah apaan sama lo sehingga elo ngelakuin hal ini sama gue? Ayolah, kita, kan, temen, Vi." Doni memelas, menghadapkan wajahnya kepada Viana.


Sedangkan, Viana terdiam akibat perkataan Doni. Kesempatan itu, tak mau Doni abaikan sehingga bangkit dan menggapai kedua pipi Viana. Ia belai perempuan tersebut.


"Kenapa? Lo kenapa sebenarnya?"


Namun, tidak mempan sebab ketika Doni akan berhasil mencumbunya, Viana mendorong tubuh Doni hingga terempas di sofa.


"Percuma lo ngerayu-rayu gue, Don. Elo nggak bakalan tahu kenapa gue sampai sebenci ini sama lo."


"Benci?! Jadi, selama ini elo benci sama gue? Bukan seharusnya elo--"


"Lo pikir aja sendiri! Lo pikir sendiri apa yang bikin gue begitu benci sama lo. Nggak sudi gue disentuh sama lo."


Doni seketika tertawa renyah mendengar pernyataan Viana.


"Kenapa lo ketawa?"


"Lo lucu, deh, Vi. Kalau pada akhirnya kita nikah kayak sekarang ini, itu artinya elo nggak benci sama gue."


"Justru, gue mau hancurin elo dari pernikahan ini." Senyum Viana kembali mengembang.


-------


Pukul 01.30 dini hari, mata Doni belum juga terpejam. Sesekali ia melihat ke arah pintu kamar tempat Viana tidur. Lelaki tersebut ingin menyelinap masuk, tetapi mana mungkin kamar tersebut tidak dikunci. Meski begitu, Doni punya kunci cadangan yang kemudian ia ambil di laci meja di ruang tamu.


Doni semringah setelah menemukan kunci cadangan tersebut. Ia mengendap-endap. Setelah sampai di depan pintu, ditempelkannya telinga guna mendengar suara Viana, memastikan apakah perempuan kejam tersebut telah pulas atau tidak.


Meski begitu, Doni tidak yakin karena mana mungkin dirinya bisa memastikan hanya dengan mendengar dari balik pintu. Ia nekat, lalu membuka pintu kamar tersebut sedikit demi sedikit. Diintipnya sejenak. Setelah begitu yakin, Doni membuka pintu tersebut lebar-lebar dan mulai masuk.


Ia mencari sebuah ponsel yang menurut Viana berisi rekaman percakapan mereka. Jika rekaman itu terhapus, Doni akan bisa terbebas dari jerat Viana.


Doni sibuk membuka laci satu per satu, tak juga ia temukan. Saking fokusnya, ia tidak memperhatikan Viana yang ternyata telah bangkit dari tidurnya.


"Mau ngapain lo?!" teriak Viana cukup keras sehingga membuat Doni terhenyak.


Dengan segera Doni berlari dan membungkam mulut sang perempuan. Tubuh keduanya terhempas di atas ranjang dengan posisi Viana berada di bawah dan Doni di atasnya. Terlebih lagi, bibir Doni melekat di bibir Viana. Cukup lama mereka terdiam karena menyadari bibir mereka saling bertautan.


Degup jantung sang lelaki berontak. Keinginannya menyeruak-ruak untuk melumat bibir Viana. Tak ada pilihan lain karena Doni tidak kuat menahan gejolak yang tumbuh di benaknya. Ia lanjutkan peristiwa itu dengan melumat bibir Viana sambil menahan kedua tangan sang perempuan ke samping.


Viana melawan, berusaha mengatup bibirnya. Meski begitu, mulut Doni turun ke leher jenjang Viana, menjilatinya dengan penuh nafsu.


Tak berselang lama, tangan kanan Viana terlepas dari cengkeraman Doni sehingga sang perempuan mampu menampar pipi lelaki tersebut dengan cukup keras hingga tersingkir dari ranjang.


"Lo mau memperkosa gue?! Bajingan!"


------

__ADS_1


__ADS_2