Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Harapan Ans


__ADS_3

Kevin yang baru saja pulang dari Bali bersama Ans, segera menuju rumah sakit untuk menemui Istrinya yang sudah sadar.


Ini baru pertama Kalinya Ans melihat senyuman Kevin setelah sebulan kematian Anaknya. Kevin melangkahkan kakinya begitu cepat melewati lorong rumah sakit, Ia begitu tidak sabar untuk menemu Istrinya.


Namun senyumnya hilang saat melihat ibu mertuanya berdiri di depan pintu, itu artinya Kevin tidak semudah itu bisa menemui istrinya. Ya Kevin bahkan terakhir kali melihat wajah Istrinya sebulan yang lalu, saat Anin baru saja di pindahkan keruang perawatan, setelah Itu Kevin tidak pernah lagi bertemu dengan Anin. Karena mertuanya selalu menghalanginya untuk menemui anak semata wayangnya.


"Bu biarkan Aku masuk, Aku ingin melihat keadaan Anin" ucap Kevin berusaha masuk tanpa menggunakan kekerasan, karena Ia takut jika menyakiti mertuanya itu akan semakin membuat Anin membencinya.


"Apa Kamu tidak mengerti juga perkataanku? sudah berapa kali Saya bilang, jangan temui putri saya lagi, sudah cukup bagimu untuk menyakitinya." ucap ibu Sandra masih berdiri di depan pintu ruangan Anin.


"Tapi Anin masih Istriku bu, dan Aku ingin menemuinya, Aku mendapat kabar bahwa Dia sudah sadar." Kevin berusaha membujuk ibu mertuanya, agar mengijinkannya masuk.


"Apa Kamu masih mengangapnya Istrimu setelah apa yang Kamu lakukan padanya? kalian bukan lagi suami Istri, bukankah surat perjanjian itu sudah jelas, jika anakmu lahir, itu artinya kalian tidak punya hubungan apa-apa lagi." ucap ibu Sandra berusaha mencegah Kevin masuk, dan itu adalah permintaan Anin setelah Ia sadar.


flashback on


Anin yang baru sadar dari komanya, langsung teringat dengan baby yang ada dalam kandungannya, Anin meraba pertunya dan Ia merasa Aneh dengan perutnya.


"Kemana anakku? kenapa perutku sudah rata?" Batin Anin.


Anin menatap ibunya yang sedang duduk di samping brankar mengengam tangannya. "Ibu di mana Anakku?" tanya Anin lirih.


Ibu Sandra diam saja, tak sanggup mengatakan apa yang terjadi pada putrinya. "Ibu jawab Aku?" Anin menguncang tubuh ibunya walau Ia merasa masih lemah.


"An...anakmu...." ibu Sandra mengusap air mata yang membasahi pipinya.


Anin yang melihat kesedihan di mata ibunya, sudah dapat menebak apa yang terjadi pada anaknya. "Itu tidak mungkin ibu, Anakku masih hidup kan? ibu hanya ingin memberiku kejutan kan?" Anin mulai manangis histeris.


Sandra memeluk tubuh anaknya yang begetar hebat. "Tenangkan dirimu nak, yang harus Kamu pikirkan sekarang adalah kesehatanmu bukan yang lain" Sandra menenangkan putrinya, dan berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh, karena Ia tahu kesedihannya akan semakin membuat putrinya bersedih.


Ibu Sandra melepaskan pelukannya pada Anin, dan mengambil ponselnya di atas nakas. "Aku akan menghubungi Kevin bahwa Kamu sudah sadar, bagaimanapun Dia adalah Suamimu" Sandra mencari no ponsel Kevin dan akan menelfonnya. Bagaimanapun Kevin masih suami Anin. Ia masih berhak atas putrinya, walau Ia sangat kecewa pada menantunya itu dan tidak pernah membiarkan Kevin menjenguk Istrinya.

__ADS_1


Anin merebut ponsel tersebut dari tagan ibunya. "Jangan beri tahu Dia bahwa Aku sudah sadar, Aku tidak ingin melihatnya, Aku tidak sanggup untuk itu, lagi pula Aku bukan lagi Istrinya." ucap Anin sesegukan.


"Apa maksudmu nak?" tanya Sandra.


"Dia sendiri yang menyuruhku menandatangani surat perjanjian perceraian itu, bahwa jika anak yang ada di dalam kandunganku lahir, maka hari itu juga kami bukan siapa-siapa lagi. Aku tidak ingin melihatnya, Aku ingin pergi jauh dari kehidupannya" Anin kembali memeluk ibunya.


flashback off


Kevin yang berhasil mendorong tubuh mertuanya namun tidak begitu keras, segera memegang gagang pintu untuk membukannya. "Jika Kamu memang mencintai Anin maka jangan menemuinya." ucap ibu sandra berhasil membuat Kevin menghentikan aksinya.


"Apa maksud Ibu?" tanya Kevin.


"Dia tidak ingin menemuimu untuk saat ini, dan jika Kamu memaksakan diri, itu akan membuatnya kembali terluka" ucap Ibu Sandra.


Kevin menghela nafas kasar, Ia sangat merindukan Istrinya, namun Ia juga takut jika menemui Anin, itu akan membuat Anin semakin terluka seperti apa yang di katakan mertuanya barusan.


Kevin melepaskan genggamannya pada gagang pintu, tanpa kata Ia melangkahkan kakinya meninggalkan dan menjauh dari ruangan tersebut, dan sepanjang perjalanan Ia terus menyalahkan dirinya atas semua kejadian ini.


Setelah mengantar Kevin pulang, Ans juga pulang kekontrakannya, Ia merasa begitu lelah selama perjalanan beberapa hari, harus bolak-balik jakarta dan Bali karena Tuannya selalu ingin mengunjungi istrinya, walau berkali-kali Ia gagal.


Ans mengembangkan senyumnya saat membuka pintu dan melihat sang pujaan hati menyambutnya dengan senyuman.


"Apa begini rasanya jika Kita mempunyai Istri? walau terasa lelah, jika melihat senyuman sang pujaan hati saat pulang kerja, lelah itu menguap begitu saja." batin Ans


Walau mereka serumah, mereka tidak pernah melakukan sesuatu yang melanggar norma-norma agama ya, Ans tahu batasannya sebagai seorang Pria, dan Ia tidak ingin merusak wanita yang sangat Ia cintai itu.


"Kelihatannya Kamu sangat lelah, duduklah dulu ! Aku akan membuatkanmu minum" ucap Tari dan melangkahkan kakinya menuju dapur.


Ans mendudukkan tubuhnya di sofa, mengikuti instruksi Tari, Ans melonggarkan dasinya yang serasa mencekiknya seharian ini.


"Bagaimana keadaan Anin?" tanya Tari meletakkan jus jeruk yang telah di buatnya di hadapan Ans.

__ADS_1


"Jangankan Aku, Tuan Kevin saja tidak tahu bagaimana keadaan Istrinya." Ans menyesap minuman jeruk yang di sajikan Tari untknya.


"Kok bisa?" tanya Tari penasaran.


"Anin tidak ingin bertemu dengan Tuan Kevin, dan ibunya seperti bodyguard saja." gerutu Ans.


"Aku jadi kasian dengan Tuanmu itu." lirih Tari


"Apa Kamu mengetahui sesuatu?" tanya Ans penasaran.


"Sebenarnya ini semua bukan murni kesalahan Tuan Kevin, Aku sudah memeriksa surat perjanjian perceraian mereka, dan tidak ada yang salah dalam perjanjian tersebut, bahkan isi surat perjanjian itu sangat menguntungkan Anin, tapi Aku juga tidak mengerti kenapa Anin begitu marah pada Tuanmu" jelas Tari masih menerka-nerka kenapa Anin bisa semarah itu pada Kevin.


"Tuh kan, Aku juga sudah menduga itu, Tuan Kevin tidak mungkin melakukan itu pada nona Anin, Dia kan sangat mencintainya melebihi cintanya pada Anna." Ans terdiam seperti memikirkan sesuatu. "Apa Kamu mau membantuku menjelaskan semua kesalahpahaman ini pada Nona Anin? Dia kan temanmu" sebuah ide muncul di kepala Ans untuk menyatukan mereka kembali.


"Kamu kan pengacara Jadi Kamu pasti tahu bagaiman menjelaskan semua ini pada Nona Anin, mungkin Dia hanya tidak mengerti beberapa poin dan salah pengartikan surat perjanjian itu. Lagi pula nona Anin kan temanmu" lanjut Ans antusias, Ia seperti mendapat harapan, karena kini Tari juga berpihak padanya. Jadi tidak akan ada yang menghalanginya untuk menyatukan mereka kembali.


"Bagaimana.............


-


-


-


-


-


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.

__ADS_1


__ADS_2