
"Boleh aku bertanya lagi? Satu kali lagi," pinta Kiran dengan berbisik lembut.
"Hmm," Bara berdehem cepat, seolah malas untuk berkata panjang.
"Kenapa kau tidak tinggal di Apartemenmu? Dan kau malah membawa Arkana mansionmu?" Dengan nada yang sama dan rasa penasaran yang sama, Kiran kembali bertanya.
"Karena aku tidak mau, jika kalian menginjak tempat kotor yang sudah tercemar oleh perempuan murahan seperti mereka. Istri dan anakku harus menempati tempat yang ternyaman dan bersih dari hal yang menjijikkan." ujar Bara dengan penuh kejujuran.
Bara tidak bisa menahan lagi. Suasana yang mendukung membuat bibirnya menempel di bibir Kiran. Mengecup lembut penuh dengan perasaan tanpa ada penekanan.
Kiran tersihir, kelopak matanya tertutup terpejam rapat dengan hati yang memilih untuk menikmati kelembutan bibir Bara.
Dan kecupan itu berubah menjadi *******. Bibir Bara ******* bibir bawah Kiran dengan kelembutan yang sama. Dengan perasaan yang sama. Secara bergantian, atas dan bawah Bara ******* bibir Kiran.
Dia saat bibir Bara semakin lembut ******* bibir Kiran, jantung perempuan cantik itu sepenuhnya meleleh oleh kehangatan bibir Bara yang memabukkan. Memberikan candu hingga membuat jiwa Kiran terbang melayang.
Kiran sudah benar-benar jatuh pada Bara. Kali ini, perempuan cantik itu tidak bisa lagi menyangkal di dalam hati.
Bara melepaskan bibir Kiran. Mengijinkan perempuan kesayangannya itu untuk puas memenuhi paru - paru dengan sepuasnya.
"Kiran...." bisik Bara dengan ibu jarinya membelai lembut bibir bawah Kiran yang basah akan saliva mereka. "Apa boleh aku menginap di sini? Bolehkah aku tidur bersamamu?" lanjut Bara bertanya penuh harap.
...***...
Arkana terlelap. Kedua tangannya terbentang bebas. Pun kedua kakinya juga ikut - ikutan terbuka bebas. Dadanya naik turun akan irama napas yang teratur. Bayi tampan berusia 8 bulan itu tertidur pulas dengan posisi di tengah, di apit oleh kedua orang tuanya yang tersenyum - senyum memandangi.
Ucapan Bara yang meminta untuk menginap dan tidur bersama di Apartemen Kiran hanyalah sebatas tidur di atas ranjang dengan Arkana yang berada di tengah. Keinginan dari Bara yang sudah terpendam lama dan tak sabar ingin di realisasikan.
Telunjuk Bara membelai lembut pipi gembul Arkana. Menjamah permukaan lembut kulit Arkana yang begitu lembut hingga membuatnya betah berlama-lama untuk membelainya. Susah beralih hingga begitu enggan untuk beralih.
"Jangan ganggu Arkana tidur, Bar. Jika dia terbangun dia akan membuat kita begadang nantinya." Kiran berbisik lembut dengan nada yang begitu berhati-hati agar tidak mengusik ketenangan Arkana.
Deg.
"Kita? Kiran tadi bilang kita?" batin Bara tersentak.
__ADS_1
Telunjuk Bara berhenti bergerak. Tatapan kedua matanya langsung terarahkan pada Kiran yang mengulas senyuman tipis namun begitu manis.
Dalam beberapa detik Bara tak berkedip menatap Kiran. Sebuah kata sederhana yang terucap dari bibir Kiran yang mampu menghantarkan senyar kehangatan di hati laki - laki tampan berlesung pipi itu. Hatinya mengembang hingga terselimuti perasaan sayang.
Kita, satu kata sederhana namun memiliki arti yang luas. Satu kata berjuta makna, yang dapat merangkul seseorang dalam sebuah perasaan yang hangat.
"Bisakah kau ceritakan kebiasaan Arkana yang tidak aku ketahui?" tanya Bara ingin tahu.
"Arkana itu sangat suka cuaca yang dingin. Bayi ini tahan di ruangan yang ber - Ac. Arkana menyukai biskuit dan sangat rakus jika sedang menyusu kepadaku." Kiran langsung memberitahukan tanpa ragu.
"Ya, kau benar. Sewaktu Arkana bersama denganku, aku menyaksikan sendiri jika anak kita itu sangat kuat menyusu." Bara menimpali ucapan Kiran dan membenarkan sesuai fakta yang ia ketahui.
"Mbak Dewi bilang kau merawat sendiri Arkana jika sedang berada di rumah. Apakah benar?" tanya Kiran ingin memastikan.
"Ya dan aku mekakukanya agar nantinya aku terbiasa dan bisa membantumu jika kau sedang kerepotan."
Blush.
Rona merah langsung merayap ke pipi Kiran. Pernyataan Bara yang terdengar tulus melelehkan hati Kiran hingga membuat perempuan cantik itu tersipu malu hingga salah tingkah.
"La- lalu... lalu suara tangisan Arkana dari sambung telepon itu, apa?" tanya Kiran yang sempat tergagap.
Bara tersenyum. "Tak aku sangka, kau itu begitu naif semenjak menjadi seorang Ibu."
"M- maksudmu?" Kiran bangkit dari posisinya yang merebah.
"Suara tangisan itu hanya sebuah rekaman. Tak aku sangka kau langsung percaya. Lagi pula, mana mungkin aku menyakiti anakku sendiri." sambil mengulas senyuman Bara menjawab rasa penasaran dari Kiran.
"Kau jahat Bara!" Ucap Kiran yang di selimuti oleh rasa kesal memukul lengan Bara dengan cukup kuat.
"Kalau aku tak senekat itu, ceritanya itu akan berbeda dari yang sekarang. Karena mengejarmu aku harus butuh taktik yang cerdas, Kiran. Karena kau sendiri cukup cerdas melarikan diri dariku." Bara mengakui betapa sulitnya mencari - cari Kiran selama pelariannya.
Kiran kembali merebahkan tubuhnya setelah merasa canggung setelah mendapatkan sindiran dari Bara. Kiran salah tingkah, tangannya menarik bed cover yang bercorak hitam dan juga merah untuk menutupi tubuhnya hingga ke bahu.
"Lebih baik kita tidur. Besok banyak rutinitas padat yang akan kau lalui," titah Kiran dengan nada yang melemah.
__ADS_1
"Kiran, bisakah kau tidak terjun lagi ke dunia entertainment?" Bara mengajak Kiran untuk kembali berbincang.
"Kenapa?" tanya Kiran ingin tahu.
"Aku hanya tidak suka jika kau di perhatikan oleh orang lain. Lebih tepatnya mata lelaki lain. Rasanya aku ingin sekali mencolok mata liar mereka yang melihat keindahan tubuhmu dengan besi panas!" Geraman kemarahan Bara dengan bayangan keji yang berputar di dalam pikirannya.
"Tidurlah! Aku sudah mengantuk!" Pinta Kiran yang langsung memejamkan kedua matanya.
...***...
Senyuman terulas di wajah Kiran ketika terbangun mendapati Bara dan Arkana yang masih tertidur pulas. Pemandangan baru di pagi hari yang mampu menghantarkan senyar hangat di hati Kiran.
Kedamaian pagi yang begitu di idam - idamkan oleh Kiran sejak Arkana terlahir ke dunia.
"Menggemaskan," lirih Kiran samar - samar.
Perempuan cantik itu turun dari ranjang tidurnya dengan gerakan yang hati - hati. Tak ingin membuat kedua laki - laki yang Kiran cintai terbangun dari tidurnya.
Kedua kaki langsung mengenakan sandal minnie mouse sesampainya memijaki lantai. Lalu menuju ke arah kamar mandi untuk sejenak mencuci muka.
Tak begitu lama Kiran berada di dalam kamar mandi. Perempuan cantik itu keluar dari kamar mandi, lalu melangkahkan kedua
kakinya untuk keluar dari ruangan kamar tidur. Karena pagi ini ada yang berbeda dari seorang Kiran Aurelia Geovan. Bagaikan seorang istri yang sedang mengurus kebutuhan suami tercintanya. Perempuan cantik itu menuju ke ruangan dapur dengan hati yang sudah tidak sabar, ingin menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan juga Bara.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.