Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Foto


__ADS_3

Ans menghampiri Tari saat melihatnya keluar dari kamarnya. "Apa yang dilakukan temanmu sehingga Tuan Kevin berubah?" Ans menyandarkan tubuhnya di meja makan.


"Lihatlah, gara-gara temanmu itu, Aku harus mengerjakan banyak hal, membatalkan semua jadwal padat Tuan Kevin hari ini, hanya untuk menemani temanmu belanja" gerutu Ans


Tari mengembangkan senyumnya melihat wajah Kesal teman satu rumahnya "Ternyata Anin sangat pintar mengambil hati Tuan mu itu, Aku benar-benar sakul padanya" puji Tari dengan tawa yang begitu renyah.


"Tuanku tidak akan jatuh cinta pada temanmu, Tuan Kevin hanya melakukan tanggung jawabnya sampai waktunya tiba" Ans senum sinis.


"Apa maksudmu hah?," kini emosi Tari mulai meledak.


"Apa Kamu belum mengerti juga?"


"Aku bersumpah Tuanmu itu akan jatuh cinta pada temanku melebihi dari siapapun, namun saat itu tiba, temanku tidak akan ada lagi disisinya" Tari menendang kaki panjang Ans, dan berlalu pergi, jika tidak, akan dipastikan perdebatan nya akan berlangsung lama.


...****************...


Kevin mengandeng tangan Anin memasuki sebuah mall terkenal di kota itu,


Tring....


Kevin melepaskan ngenggaman tangannya saat mendegar notif masuk pada benda pipihnya. "Masuklah dulu, Aku akan menyulmu nanti !" perintah Kevin dan berjalan menjauhi Anin, sementara Anin menuruti peritah Kevin.


"Sayang Kamu sedang apa?" pesan Anna.


"Aku sedang menemani kerabat dekat Oma" balas Kevin.


"Siapa Dia, yang sangat beruntung ditemani oleh pacarku" balas Anna dengan emoji cemberut.


"Hanya kerabat, tidak lebih" jawab Kevin.


"Baiklah, jaga kesehatan, dan juga hati ya" balas Anna di sertai emoji senyum yang begitu manis.


Setelah berbalas pesan dengan Anna, Kevin mencari keberadaan Anin, dan mendapatkannya di area bermain anak-anak.


Kevin mengembangkan senyumnya, hatinya menghangat melihat segerombolan anak-anak tengah bermain dengan gembira.


"Kira-kira anak Kita berjenis kelamin Apa ya?" tanya Kevin membuat Anin mengalihkan pandangannya pada segerombolan anak-anak.


"Aku juga tidak tahu, tapi apapun jenis kelaminnya Aku akan menyayanginya" jawab Anin masih dengan senyumannya.


"Apa Kamu mau kita melakukan USG, untuk mengetahui jenis kelamin baby kita?" tanya Kevin semangat.

__ADS_1


"Tidak, Aku ingin ini menjadi kejutan untukku" jawab Anin.


"Tentu saja untukku juga" ucap Kevin tak mau kalah.


Kevin kembali mengengam tangan Anin berjalan melewati beberapa toko, dan memasuki toko mainan anak-anak.


Anin melepaskan gengaman tangan Kevin dan melangkahkan kakinya mencari hadiah untuk Jack.


"Lihatlah, Ini keren bukan?" tanya Kevin dengan binar bahagia "Pasti baby Kita akan terlihat keren jika menaikinya" lanjut Kevin masih meperhatikan mobil-mobilan yang begitu besar.


"Mas Kevin kan belum tahu jenis kelamin baby nya, belum tentu juga laki-laki, apa mas Kevin menginginkan anak laki-laki?" tanya Anin menghampiri Kevin yang masih memperhatikan mobil-mobilan tersebut.


"Yang Aku harapkan anak Kita itu lahir dengan aman dan sehat, itu saja," jawab Kevin.


"Hmmm.." Anin mengangukkan kepalanya dan mengedarkan pandangannya mencari sesuatu.


"Mas Kevin lihatlah !" Kevin mengalihkan pandangannya mengikuti arah telunjuk Anin. "Cantik bukan? bisa digunakan untuk laki-laki maupun perempuan" Anin menghampiri kuda-kudaan berwana nude.


"Apa Kamu ingin membelinya sekarang?" tanya Kevin.


"Tidak, sekarang Kita membelikan hadiah dulu untuk jack" Anin baru ingat tujuannya datang ke mall ini.


Setelah menemukan hadia yang pas untuk Jack, Kevin mengajak Anin berbelanja keperluan Anin seperti baju dan juga tas, karena Kevin mengingat saat Anin mengeluh pada Dilan, bahwa pakaiannya mulai tidak muat.


Kevin yang sedari tadi menemani Anin memilih pakaian segera angkat bicara. "Bungkus semua pakaian yang telah disentuh Istri Saya" ucap Kevin membuat Anin tertegung, apa lagi saat Kevin mengakuinya sebagai istri didepan orang lain, lagi-lagi rasanya Ia ingin berharap lebih pada Pria dihadapannya. Entah kapan perasaan itu muncul, namun Ia tidak bisa menyangkalnya bahwa kini Ia mencintai Suaminya.


"Tapi mas..."


"Sudah, Aku tahu Kamu mengigngikan semuanya"


Setelah membayar dan mengambil barang belanjaannya, keduanya meninggalkan toko tesebut, tidak sengaja mereka melewati sebuah tempat foto yang sangat lucu menurut Anin.


"Mas Kevin" panggil Anin menghentikan langkahnya tepat di didepan tempat foto tersebut.


"Kenapa? apa Kamu ingin sesatu yang lain?" tanya Kevin


"Hmmm.." Anin ragu untuk mengutarakan keinginnya, takut Kevin menolaknya. Namun Ia sangat ingin, etah, mungkin karena hormon kehamillannya.


"Katakanlah !"


Aku ingin berfoto di tempat itu" Anin menunjuk kedalam tempat foto "Sekali saja, hanya foto, tidak di cetak juga nga apa-apa yang penting Kita foto" pinta Anin.

__ADS_1


Kevin diam saja mendengar permintaan Anin dan detik berikutnya Kevin menarik tangan Anin memasuki ruangan tersebut dan melakukan sesi foto.


Wajah Anin begitu berseri-seri karena sangat bahagia, akhirnya keinginannya terkabulkan walaupun foto tersebut tidak di cetak ataupun di ambil.


Mereka kembali berjalan-jalan menikmati waktu kebersamaan mereka, Kavin merasa begitu bahagia bisa menghabiskan waktu bersama wanita yang sedang Ia gengam tangannya dengan erat seakan-akan wanita itu akan pergi, siapa lagi jika bukan wanita yang berstatus menjadi Istrinya.


"Mas Kita istirahat dulu ya, Aku capek" Anin mendudukkan tubuhnya disebuah pembatas setinggi lutut di dalam mall tersebut.


Kevin ikut mendudukkan tubuhnya di samping Anin karena juga merasa lelah. Kevin terus memperhatikan tingkah Anin di sampingnya hingga Ia berdiri dan jongkok didepan Anin, memegang kaki Anin yang terlihat memerah setelah mengeluarkan sepatunya.


"Apa ini sangat perih?" Kevin menyentuh kaki Anin yang terlihat merah dengan lembut.


"Hmmm...." Anin hanya mengangguk.


"Tidak usah pakai sepatu itu lagi," ucap Kevin melempar sepatu Anin kedalam tempat sampah yang tidak jauh dair tempat mereka istirahat.


"Mas kevin kenapa sepatunya dibuang,? itu sepatu masih baru dan belum rusak" Anin cemberut.


"Kamu lebih sayang sepatu mu atau kakimu?" tanya Kevin mulai terdengar dingin.


"Eh....it...."


Tiba-tiba Tubuh Anin melayang di udara, karena takut Anin mengalungkan tangannya di leher Kevin agar tidak terjatuh. Kevin melangkahkan kakinya dengan mengendong tubuh Anin secara horizontal memasuki sebuah toko sepatu.


Memilih beberapa sepatu yang menurutnya aman bagi kaki Istrinya dan memasangkan pada kaki Anin secara bergatian hingga beberaoa pasang.


"Bagaimana? apa itu terasa nyaman?" tanya Kevin setelah memakaikan sepatu terakhir pada Anin.


Anin lagi-lagi hanya mengangukkan kepalanya.


"Bungkus semuanya !" perintah Kevin dan membimbing Anin untuk berdiri.


"Mas.." Anin menatap Kevin dengan tatapan memelas agar tidak terlalu berlebihan.


"Aku tidak menerima penolakan" ucap Kevin datar membuat Anin kembali cemberut. Inggin rasanya Kevin mencubit dan mencium pipi Istrinya yang semakin hari semakin cubi. Namun dirinya tidak mempunyai cukup keberanian melakukan itu semua.


"Kita........


-


-

__ADS_1


-


TBC


__ADS_2